LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Minggu tenang sebelum ujian akhir semester diadakan. Keempat sekawan itu sedang asik menghabiskan waktu bersama di sebuah Cafe. Dimana lagi kalau bukan cafe tempat Chanyeol bekerja, Baekhyun yang merekomendasikan. Sebenarnya ia sekalian mau melihat Chanyeol, sejak pulang dari Bandara sikapnya tiba-tiba berubah. Pria itu jadi sedikit aneh, terkesan menjaga jarak darinya.
Dua pelayan datang dengan nampan yang penuh makanan.
"Oh, bukankah dia pria yang ada di lukisanmu?" Wendy yang baru menyadarisalah satu wajah pelayan itu memekik heboh.
Chanyeol yang merasa dibicarakan mengangkat wajahnya.
"Ah iya, kenalkan namanya Richard dia tetanggaku" ujar Baekhyun memperkenalkan. Manik sipitnya saling bertemu pandang dengan netra bulat milik Chanyeol.
Si tinggi memutus lebih dulu kontak matanya, kemudian membungkukkan tubuh "Halo, aku tetangga sekaligus teman Brian"
"Hai, aku Wendy" gadis itu berujar sambil mengulurkan tangannya. Dan disambut baik oleh Chanyeol .
"Aku Vernon" pria dengan mata coklat terang itu ikut mengulurkan tangan.
"Richard kenapa tak pernah membalas pesanku? " Krystal yang duduk tepat disamping Baekhyun tiba-tiba menyahut.
"Huh?" Chanyeol mengurutkan alis bingung.
"Aku mengirim pesan kemarin, kenapa tidak membalasnya?" tanyanya sekali lagi
"Kalian saling mengenal?" kali ini Baekhyun angkat bicara, merasa penasaran dengan interaksi kedua manusia berbeda gender tersebut. Matanya mengarah kepada Chanyeol menuntut sebuah penjelasan.
Tapi Krystal lebih dulu menyahut "Ya, kami sudah bertemu beberapa waktu lalu dan sempat berkenalan juga"
"Ah, jadi begitu" Baekhyun menganggukkan kepala mengerti.
"Jadi.. Kenapa?" Krystal masih bersikukuh menanyakan pertanyaan yang sama pada Chanyeol.
"Hmm, aku sibuk" Chanyeol beralasan.
"Sibuk apa?"
"Ada sesuatu yang harus kukerjakan" Mulut Krystal sudah terbuka ingin bertanya lagi, tapi Chanyeol buru-buru melanjutkan kalimatnya "dan kurasa aku tak harus memberitahukan padamu apa itu."
Krystal segera menutup mulutnya rapat, tapi beberapa saat kemudian ia kembali bersuara "Aku mengerti, Kau bisa membalas pesanku kapan saja. Tapi jangan mengabaikannya"
"Baiklah" Sebenarnya Chanyeol malas menanggapi, tapi mengingat gadis itu adalah teman Baekhyun Chanyeol turuti saja. "Kalau begitu aku permisi, silahkan nikmati pesanan kalian"
Keempat orang disana menganggukkan kepala serentak. Setelah bayangan Chanyeol benar menghilang Wendy langsung memekik "Wah! Dia benar-benar tampan! Aku sampai tidak berkedip melihatnya"
"Ya! Putri es kau tidak berniat mengencaninya kan?" Vernon yang sejak tadi menyimak perbincangan Krystal dan Chanyeol bertanya.
"Tentu saja aku akan mengajaknya berkencan. Dia terlihat menarik untuk dijadikan pasangan saat malam natal nanti" Krystal mengibaskan rambutnya sejenak dengan gaya angkuh andalannya "Pasti kami akan menjadi pasangan yang sangat serasi, tampan dan cantik. Sempurna" Vernon memutar bola mata malas karena penuturan si gadis.
"Brian, jika aku berkencan dengannya tidak apa kan?" Krystal menolehkan kepalanya kearah samping, menatap Baekhyun dengan penuh binar.
"Kenapa minta izin padaku? Aku bukan ibunya" ujar Baekhyun tanpa minat, kemudian beralih menyedot minuman miliknya dimeja. Tak ingin menanggapi serius pertanyaan sahabatnya.
Sementara itu Chanyeol kembali ke dapur dengan tenang. Kai yang melihat temannya datang segera menyambutnya dengan sebuah pernyataan "Tidak biasanya kau mengabaikan si manis"
Pria bertelinga peri itu menoleh "Aku tidak mengabaikannya"
"Aku tidak buta, aku bisa melihat tingkahmu tidak seperti biasa. Kau biasanya akan lebih dulu menyapanya dengan heboh dan menemaninya kapanpun ia datang kemari"
"Dia bersama teman-temannya Kai, mana mungkin aku ikut bergabung"
"Bukankah saat dia mengajak pacarnya kau tanpa sungkan juga ikut bergabung?" Chanyeol bergeming, kemudian menarik nafas dalam untuk dihembuskan perlahan. Melihat reaksinya itu, Kai melanjutkan "Pasti terjadi sesuatu, benar?"
Chanyeol menatap manik si pria berkulit tan disampingnya "Entahlah aku hanya merasa menjadi orang yang begitu egois." Kai melihat wajah Chanyeol dengan heran "Egois?"
"Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan orang lain, karena memperjuangkan kebahagiaanku sendiri"
"Apa maksudnya?" Kai mengkerut bingung, tidak begitu paham dengan perkataan pria yang menjadi lawan bicaranya ini.
Chanyeol beranjak, ingin kembali melakukan pekerjaanya "Lupakan saja" kemudian pergi meninggalkan Kai dengan sebuah tepukan dibahu.
...
Memasuki awal bulan Desember, pekan ujian yang melelahkan terlewati begitu saja. Semuanya berjalan normal, Sehun selalu rutin menghubunginya bahkan ayahnya tiga hari lalu juga sempat menelpon. Hanya saja si jangkung tetangga sebelahnya itu semakin jarang ia temui.
Hampir seminggu ini Baekhyun tak pernah melihat sosoknya. Mungkin karena ia yang terlalu sibuk dengan ujiannya. Tak pernah keluar dari apartemen kacuali untuk pergi ke kampus, tak juga mengunjungi cafe tempat Chanyeol bekerja. Tapi biasanya tetangga jangkungnya itu akan selalu datang untuk mengajak sarapan bersama.
Niat hati hari ini Baekhyun ingin pergi jalan-jalan, sekalian membeli beberapa oleh-oleh untuk ia bawa pulang ke Korea nanti. Ia berencana berangkat sejak pukul 1 siang tadi, tapi hingga pukul 6 sore belum berangkat juga. Sebenarnya pria manis itu menunggu Chanyeol. Ia ingin mengajak Chanyeol ikut serta, tapi pria itu sedari pagi tak menjawab panggilan maupun membalas pesannya. Baekhyun juga sudah mendatangi apartemennya, tapi disana kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan. Padahal seharusnya pria Park itu libur hari ini.
Dengan berat hati, terpaksa Baekhyun pergi sendiri, lagipula hari mulai larut. Ia tak ingin mendapat omelan dari adiknya jika ketahuan keluyuran malam-malam.
Pria itu pergi ke salah satu pusat perbelanjaan kota London. Suasana natal kental terasa, beberapa ornamen berbau natal telah terpasang di seluruh sudut bangunan. Terlihat cantik, menarik perhatian Baekhyun untuk mengamatinya. Setelah puas menghabiskan sebagian uangnya dan melihat-lihat, ia beranjak pulang. Berjalan seorang diri dengan tangan yang menenteng berbagai paper bag dengan logo yang berbeda-beda.
Ditengah keheningannya menyusuri lobi tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Baekhyun menoleh, mencari darimana sumber suara itu berasal. Dan, disana ia bisa melihat Krystal tengah berjalan bersama seorang pria yang ia hafal luar kepala. Chanyeol.
Pandangan Baekhyun seketika terfokus pada tautan tangan Keduanya. Tangan Krystal melingkar begitu nyaman pada lengan yang lebih tinggi.
Kini maniknya ia alihkan pada netra bulat milik Chanyeol. Wajah pria jangkung itu nampak datar, Baekhyun tak dapat menangkap ekspresi apapun didalamnya.
"Brian," gadis itu kembali memanggil namanya, terdengar begitu bersemangat. "aku tidak menyangka bertemu denganmu disini. Apa yang kau lakukan? Kau sendirian? "
"Hai, Aku baru membeli beberapa barang. Sebenarnya aku berniat mengajak seseorang tadi, tapi ternyata dia sedang sibuk dengan orang lain. Yah, jadi aku hanya sendiri sekarang" jawab Baekhyun berusaha terlihat biasa saja. Tapi dikalimat akhir matanya melirik kearah Chanyeol. "Apa yang kalian lakukan?"
"Kami hanya sekedar jalan-jalan dan berbelanja. Apa kau sudah membeli ornamen natal? Kami mau membelinya. Bagaimana kalau kau ikut?"
"Sebenarnya aku sudah membeli semuanya dan akan pulang sekarang. Kalian pergi sendiri saja, lagipula aku tidak mau mengganggu orang yang sedang berkencan" ujar Baekhyun sambil menyematkan sebuah senyum kecut diakhir.
"Kami tidak berkencan" Chanyeol yang sedari tadi diam menyahut cepat. Tautan tangannya sudah ia lepas sejak tadi.
Baekhyun memandangnya dingin, "Lalu?" ia tak mengerti kenapa jadi kesal begini. Mungkin karena Chanyeol mengabaikan panggilannya dan malah pergi dengan orang lain.
"Dia yang memintaku menemaninya."
"Kau bisa membalas pesanku jika memang memiliki janji lain" Nadanya mengalun tanpa emosi, sedang dalam hati mati-matian menahan agar tak meneriaki Chanyeol.
"Kau mengirimiku pesan?"
"Lupakan" sedari tadi Krystal tak berani bersuara, ia juga nampak bingung dengan apa yang sedang terjadi. Kenapa suasana mendadak menjadi tegang begini.
"Krystal maafkan aku, aku tidak bisa ikut. Aku harus segera pulang. Kau pergi saja dengannya aku duluan" Tidak tahu kalimat apa yang baiknya harus ia katakan, jadi Baekhyun memutuskan pamit. Pergi meninggalkan dua orang itu yang bahkan belum sempat merespon kalimatnya.
...
Baekhyun melangkahkan kaki dengan gontai, moodnya benar-benar buruk. Jadi karena itu Chanyeol tidak mengangkat telponnya? Apa karena Krystal pria itu menjaga jarak dengannya? Baekhyun tersenyum getir. Jadi Krystal kali ini benar-benar serius ingin mengencani tetangga tiangnya itu?
Lagipula kenapa juga ia peduli, Chanyeol bukan siapa-siapa, hanya orang asing. Ya, orang asing yang selalu ada disaat ia membutuhkannya. Orang asing yang akhir-akhir ini selalu menginvasi otak dan hatinya. Sadarlah Byun Baekhyun, semua sikap Chanyeol selama ini hanya sebagai bentuk kepedulian sesama teman, tidak lebih. Dan pria itu normal, tidak menyimpang sepertimu. Jadi buang jauh-jauh perasaan konyolmu itu.
Baekhyun membuang nafas panjang, tak terasa kakinya sudah melangkah cukup jauh. Padahal ia berencana naik taxi, tapi malah berakhir di sebuah halte bus.
Terlalu asik melamun Baekhyun tak menyadari ada sosok lain yang kini duduk disampingnya. Diam mengamati, memandangi bagaimana tatapan kosongnya dan wajahnya yang tertekuk dengan bibir yang mengerucut lucu.
Chanyeol sudah mengikutinya sejak beberapa menit Baekhyun pergi meninggalkannya bersama Krystal. Memperhatikan bagaimana kakinya melangkah dengan gontai. Sesekali menendang kerikil yang menghalangi jalannya, dan berkali-kali menghela nafas.
Jujur saja Chanyeol tak menyangka akan bertemu Baekhyun. Saat pertama melihat sosoknya tadi ia begitu terkejut, sampai tak bisa mengatakan sepatah katapun. Tubuhnya rasanya kaku secara tiba-tiba, sekitar seminggu lebih ia tak melihatnya. Chanyeol terlalu rindu, tapi selalu menahan diri untuk tak menemui Baekhyun. Dan saat sipit itu memandang tautan tangannya dengan tatapan dingin, rasanya wajahnya memucat, Chanyeol seperti sedang tertangkap basah berselingkuh.
"Kau bisa kerasukan jika terlalu lama melamun" Pria bersurai perak itu tersentak, menolehkan kepala kesamping dan mendapati Chanyeol duduk nyaman disana. "Sejak kapan kau disini?"
"Sejak kau duduk dengan wajah lusuh dan bibir berkerut" Dengan cepat Baekhyun membuang muka, kembali mengarahkan pandangannya kejalan. Merasa malu.
Chanyeol melanjutkan "Kau marah padaku?" Baekhyun meliriknya sekilas.
"Untuk apa aku marah padamu?" jawab lelaki manis itu ketus. Chanyeol tersenyum tipis mendengarnya. Benar, untuk apa Baekhyun marah padanya. Sepertinya Chanyeol saja yang terlalu percaya diri. Mengira bahwa pria cantik disampingnya ini cemburu melihatnya bersama Krystal tadi.
"Maaf karena tidak menjawab pesanmu, ponselku ketinggalan."
"Hmm, tidak masalah" Jawab Baekhyun tak minat. "Kenapa kau disini? Mana Krystal? " tanya yang lebih pendek.
"Dia pergi, dia bilang memiliki janji lain" Chanyeol beralasan, sebenarnya ia yang meninggalkannya. Beralasan memiliki janji yang ia lupakan.
Tak lama kemudian bus yang mereka tunggu tiba, dengan segera dua adam itu menaikinya.
Baekhyun duduk disamping kaca, kursi disebelahnya kosong tapi Chanyeol lebih memilih untuk berdiri. "Kau tidak duduk?"
"Tidak"
Baekhyun mengernyit, sebenarnya banyak kursi kosong kalau Chanyeol memang tak ingin duduk disebelahnya. Tapi pria kelebihan kalsium itu malah memilih berdiri disamping kursi yang Baekhyun duduki, aneh sekali pikirnya.
"Ya sudah kalau begitu" Tak mau ambil pusing, Baekhyun segera meletakkan belanjaannya di kursi samping. Kemudian mengalihkan maniknya kearah jendela, memilih menyibukkan diri dengan memandangi jalanan London.
Sebenarnya pria manis itu ingin fokus menatap pemandangan diluar, tapi bayangan Chanyeol yang memantul di kaca itu mengacaukannya. Pria itu sejak tadi menatapnya dalam diam, dan itu membuat Baekhyun jadi salah tingkah sendiri. Ia tak berani untuk sekedar melirik atau menolehkan kepalanya. Beruntung ponselnya tiba-tiba berdering, dengan cepat ia mengangkatnya.
"Eoh, Sehunie"
"Hyung, kau dimana? Kau baik kan? "
"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku Baik tentu saja, bagaimana denganmu?"
"Syukurlah kalau begitu, aku juga baik. Bukankah kemarin hari terakhir ujianmu?"
"Ya, kemarin hari terakhir"
"Jadi kapan kau pulang?"
"Aku belum menentukannya, mungkin minggu depan"
"Jangan terlalu lama, aku sudah tidak sabar melihatmu lagi dirumah"
"Aku juga tidak sabar, tapi aku perlu mempersiapkan diri dan mental untuk bertemu ayah dan ibu" Sehun terkekeh disebrang sana mendengar penuturan berlebihan yang baekhyun ucapkan.
"Jangan tertawa, bertemu dengan mereka lagi setelah waktu yang lama itu benar-benar mendebarkan asal kau tahu"
"Jangan berlebihan, bagaimanapun mereka masih orangtua mu."
"Ya, aku tahu"
"Aku menyayangimu hyung, ayah juga ibu juga jadi cepatlah kembali"
"Aku juga menyayangimu, sampaikan salamku pada mereka berdua"
"Tentu, baiklah kalau begitu ku akhiri. Ayah memanggilku"
"Baiklah," Dan panggilan akhirnya terputus
Chanyeol menatap lekat pria didepannya, wajah yang tadinya nampak murung kini berubah ceria lagi karena sebuah panggilan dari seseorang. Mendengar dari pembicaraannya Chanyeol menyimpulkan jika hari pertunangan Baekhyun mungkin sudah ditentukan. Dan mereka akan segera melakukan pertemuan keluarga. Miris sekali nasibnya, baru menyukai seseorang sudah mau ditinggal menikah saja.
Setelah turun dari bus dua orang itu masih dilingkupi keheningan. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Lebih tepatnya Baekhyun enggan bersuara, dan Chanyeol yang sibuk dengan segala pemikiran di otaknya. Sebenarnya Chanyeol sempat menawarkan diri membawakan belanjaan Baekhyun, tapi ditolak mentah-mentah dan ia tak bisa berkutik kali ini.
Beberapa pintu lagi sebelum mereka berdua sampai di apartemen, akhirnya Chanyeol memberanikan diri membuka pembicaraan.
"Baek"
"Hmm?" Baekhyun menyahut dengan sebuah gumaman, tanpa mau repot mengalihkan pandangannya kearah yang lebih tinggi.
"Kau ingat masih memiliki hutang padaku?"
"Hutang?" Kali ini kalimat Chanyeol berhasil menarik perhatiannya "Ah itu, aku mengingatnya"
"Sepertinya aku mau menagihnya sekarang"
"Apa yang kau inginkan? Kau mau kutraktir makan malam?"
"Tidak, aku tak menginginkan sesuatu seperti itu. Aku hanya akan meminta waktumu selama 24 jam penuh." Baekhyun mengangkat satu alisnya, "Maksudmu?"
"Jadi selama seharian penuh kau adalah milikku. Aku bebas memintamu melakukan apapun"
"Apa ini semacam aku akan menjadi pesuruhmu begitu?"
"Sebenarnya bukan pesuruh, tapi anggap saja seperti itu"
"Aku tidak mau"
"Kau sudah berjanji mengabulkan apapun keinginanku"
"Tapi bukan berarti a-" belum sempat kalimatnya tersampaikan Chanyeol lebih dulu memotong "Tidak ada penolakan, janji tetaplah janji. Lagipula hanya sehari, itu bukan waktu yang lama dan setelahnya kau bebas"
Baekhyun membuang nafas kasar, dan Chanyeol menganggap itu sebagai sebuah persetujuan. "Besok pagi temui aku di St. Paul's cathedral "
...
..
.
TBC
Hari ini seneng banget ㅠㅡㅠ setelah sekian lama Chanyeol muncul. Akhirnya liat EXO as group lagi, walaupun gk ada D.O sama xiumin tp tetep seneng. Apalagi chanbaek menggemparkan dgn cincin couple nya :'))
Makasih buat semua yg masih ngikutin fic ini dan special thank's juga buat ChanBaek09 Nitha Gaemgyu Cleeterena
