Zoro kini tengah berada di kamarnya adiknya dengan alasan ngadem. AC kamarnya sudah lama rusak tapi ayahnya tak mau memperbaikinya sebab Zoro sepertinya bangun lebih awal tanpa AC.

Perona sedang bersantai di kasurnya menjelajahi laman sosialnya, sementara Zoro yang hanya ngungsi itu berada di lantai yang dingin, hanya dengan satu bantal untuk menyangga kepalanya, bantal itu saja dia bawa dari kamarnya sendiri.

"Perona..." Zoro membuka pertanyaan.

"Apaan Kak?"

"Ngg... gajadi dah."

"Apaan sih ga jelas."

"Perona"

"Iya napa?"

"Anu... itu... gajadi."

"APAAN SIH NGOMONG YANG BENER!" Perona mematikan HP nya dan mengalihkan perhatiannya ke Zoro, mau baku hantam dengan kakaknya rasanya.

"GA USAH TERIAK-TERIAK GUE LAGI MIKIR!"

Hening. Lalu,

"Itu... kalo... lo mau... mau... gah! Udah gajadi!"

"KALO MAU NGEMENG DISELESEIN SAT!"

"KALOLOPENGENCIUMSESEORANGBANGETTUKENAPA? Agh!" Zoro lalu meguburkan mukanya di bawah bantal yang tadi ia gunakan untuk menyangga kepalanya guna menyembunyikan semburat merah yang ia rasa mulai muncul di wajahnya. Sungguh tindakan yang bodoh, dia malah terbentur lantai yang keras.

"Hah? Cium?... Horohorohorohorohorohorohorohoro! AYAH! KAKAK TERNYATA BISA SUKA SAMA ORANG!" Perona segera kehilangan keinginan untuk menghajar kakaknya itu setelah tahu ternyata Kakak bodohnya itu ternyata sedang suka sama seseorang. Kasihan sekali, otaknya yang selama ini hanya digunakan untuk fotosintesis sekarang perlu membuat ruang baru untuk sesuatu yang namanya cinta.

"Diem goblog! Siapa yang suka sama orang?!" Zoro mengangkat bantalnya dari mukanya supaya suara kejengkelannya terdengar jelas.

"Ciyeeeee siapa niiiiiiiihhhh???" Perona kini mengubah posisinya agar kepalanya menghadap kakak lumutnya itu dan menjulurkan tangannya agar dia bisa mencolek pipi kakaknya itu.

"GA ADA!"

"Hilih! Kili kimi mii ciim sisiiring bingit iti kinipi"

"Nyesel gue ngomong sama elo."

"Ayolah kak, siapaaaaaaaa?"

Zoro berpikir sejenak, tapi memutuskan untuk tidak memberitahu Perona sama sekali. Gila, dia bisa dicengin sehidup semati dia. Apalagi dia sendiri masih gak mau ngaku dia mau cium si alis keriting itu.

Tapi buktinya, tadi sore dia cium si alis keriting itu, dalam. Memikirkan kejadian sore itu tadi pikiran Zoro kalang kabut dan ia mencoba keras untuk melupakan sosok pirang di kepalanya.

"Ga ada."

"Iih siapaaaaaaaa?"

"Ga ada."

"Tauk ah Kakak gitu!"

"Kakak gitu kakak gitu, orang gue ga suka sama orang kok!"

"Boong! Siapa ihh!"

"Ga ada"

"Ga usah denial gitu lah Kak. Sapa tau orangnya juga suka, orang kakak ya ngga buluk-buluk amat."

"Ga ada gue suka ama orang adekku termanis tersayang di jagad bumi ini."

"Kodein gitu dah! Kasih bunga apa apa gitu."

"Hih bunga. Kek dia mau aja."

"Cieeeeeeee, siapaaa niiiihhh?" Skakmat! Kakaknya itu bener-bener suka sama orang horohoro!

"GA ADA! GUA GA SUKA SAMA SAPA-SAPA!"

"Iya ga suka, cuma mau cium aja."

"!"

Muka Zoro yang sudah memerah dari tadi makin merah sekarang. Belajar dari kesalahan menggunakan bantal sanggaan kepala, ia sekarang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

"Udah lah Kak, daripada denial gitu mending kejar aja orangnya."

"..."

"Siapa sih lagian? Jangan-jangan Kak Nami, yang manajer klub kendo itu? Apa Tashigi yang satu klub sama Kakak? Apa jan-jangan Hiyori, murid baru?"

"Hah? Hiyori bisa sampe sono gimana ceritanya?" Zoro bingung, kenapa Hiyori bisa sampe dibawa-bawa? Kenal saja tidak.

"Kan sama-sama ijo rambutnya. Sapa tahu kakak mau mempertahankan warisan rambut hijau. Horohorohorohoro" Perona kembali tertawa dengan tawa khasnya yang... aneh? Jujur, kalau Perona bukan adiknya, dia tidak akan tahan mendengar tawa itu.

"Sialan. Ngga ada pokoknya!"

"Gaahh! Siapa sih beritahu gak! Kepo nih"

"LAH MAKSA!"

"BERITAHU!"

"NGGAK!"

"TUH KAN! CUMA BILANG NGGA, PASTI ADA!" BERITAHU!"

"MAKSUDNYA NGGA ADA!"

"AKU BILANGIN AYAH KAKAK KAPAN HARI MINUM-MINUM SAMA TEMEN-TEMEN!"

"Shhhhhhhhh! Berisik goblog!"

"Makanya beritahu!"

"Hnn... dia... pirang..."

"Siapa pirang? Emang ada? Aku tahu gak?"

"Ga tau, mana gue tau lo tau sapa."

"Emmm, udah ah beritahu aja!"

"Nggak!"

"Hmmm... pirang... pirang... pirang... Hah! Yang kemaren itu yang berantem sama kakak!"

"!"

"BENER KAN!"

"Gila apa dia cowok!"

"Cinta itu ngga kenal gender kakakku paling goblog di seantero dunia. Tapi Kakak gila, Kakak sukanya sama cassanova sekolah! Mana mungkin dia suka balik sama Kakak! Kakak gak punya class gini, kek manusia purba. Lagian, dia itu budak cewek banget. Kalo sama cowok kan bengis banget itu orang!"

"Gua ga suka sama dia anjing! Lagian lu keknya cuma mau ngolok-olok gua dah!"

"Yeeeuuu jan pundung gituu lah Kak. Aku bantuin deh ngejarnya~"

"Siapa yang mau ngejar?! Gue ga suka dia!"

"Eh~ Kakak ngga mau bisa ci-um dia?~"

Zoro bisa merasakan telinganya makin panas. Dadanya sesak dan jantungnya berdebar makin cepat ketika dia mendengar Perona mengatakan kata cium.

Arghh! Dia benci alis melingkar itu! Kenapa dia bisa membuatnya merasa seperti ini?! Sebelum bertemu dengannya, Zoro tak pernah merasakan hal ini. Dadanya tak pernah sesak, mulutnya tak pernah terasa kering, perutnya tak pernah serasa dipenuhi kupu-kupu. Kenapa setelah bertemu alis keriting itu, dia malah seperti orang 'sakit'? Sebelum bertemu alis keriting itu, tak ada di kamus seorang Roronoa Zoro yang namanya sakit.

Tapi yang lebih membuatnya kesal, dia sendiri tidak membenci 'sakit' ini. Di antara 'sakit' itu, tubuhnya merasakan sedikit euforia dibalik manik mata mereka yang kadang saling memandang satu sama lain ketika mereka sedang bersama. Dadanya yang sesak itu malah terasa seperti perasaan hangat yang menyeruak di seluruh ruang dadanya, memeluknya dengan lembut.

Zoro menghela nafasnya, memandang Perona, lalu berkata,

"E-emang kalo cowok kayak dia itu sukanya apa?"

Perona tersenyum lebar.

"Horohorohoro! Ajak ngedate dong Kak!"