Daylight Daybook
Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu
Fiksi ini ditulis oleh himmedelweiss dengan mengambil prompt "Style swap"
(Words count: 672)
Warning : Giyuushino! Canon!AR
No commercial profit taken.
.
Di suatu waktu, matahari datang setelah bulan pergi bersama kakak yang dicintainya.
Shinobu kebingungan. Rasa-rasanya, malam itu Shinobu masih memarahi Kanae sang kakak karena sifatnya yang terlalu baik pada siapa saja, tak terkecuali iblis. Tiba-tiba saja, Kanae meninggalkannya dan Kanao dengan air mata dan senyum tipis. Iblis bermata pelangi itu yang merenggut Kanae dari mereka.
Selanjutnya, Shinobu tidak tahu apa-apa lagi. Seperti sudah diprogram, Shinobu pergi ke mana dia diminta. Gadis berambut hitam dengan ujung violet itu membeku dengan pikiran melayang jauh. Dia diam saja saat para Kakushi membawa tubuh Kanae pergi dari Wisma Kupu-kupu. Ketika diminta untuk datang ke Markas Pusat Pemburu Iblis bersama Kanao, dia diam saja meski tetap mendengarkan Oyakata-sama dan para Pilar mengucapkan belasungkawa. Bahkan di momen tubuh Kanae habis dilalap api dalam proses kremasi, Shinobu hanya menggenggam tangan Kanao, bergeming mengimitasi patung.
Shinobu pulang untuk merapikan barang-barang mendiang kakaknya. Berbagai macam benda seperti pigura foto, jepit rambut, dan haori motif kupu-kupu mengundang sekilas kerinduan. Kanao berdiri di dekat pintu, terlihat sedang melempar sebuah koin yang juga merupakan peninggalan Kanae.
"Onee-san," panggil Kanao. Tampaknya dia sudah menemukan jawaban dari lemparan koinnya. "Bolehkah aku memiliki salah satu jepit kupu-kupu milik Kanae-nee?"
Tidak ada alasan bagi Shinobu untuk menolak. Shinobu pun paham, bahwa meski Kanao bukanlah adik kandung mereka, Kanao begitu menghargai perasaan Shinobu dan juga ingin mengenang Kanae dengan cara apa saja.
Shinobu memasangkan salah satu jepit milik Kanae pada rambut Kanao yang diikat ke samping. Jepit yang satunya masih tergeletak di atas tempat tidur Kanae, bersebelahan dengan haori yang telah terlipat rapi. Shinobu menanggalkan haori miliknya dan menggantinya dengan kepunyaan sang kakak. Mengetahui ada cermin di dekatnya, Shinobu memutuskan untuk melihat dan tersenyum sambil memperbaiki gestur tubuhnya. Hampir mirip Kanae, menurut pendapat pribadinya.
"Kanao-chan." Shinobu masih mempertahankan senyumnya. "Ayo, kita keluar."
Di waktu itulah, Shinobu-lah yang sudah mati, bukan Kanae.
xxx
.
Agak lama setelah Shinobu dan para Kakushi membawa Kamado Tanjirou dan dua temannya—oh, Shinobu tidak melupakan adiknya Tanjirou yang bernama Nezuko, tenang saja—untuk dirawat di Wisma Kupu-kupu, Pilar Air datang.
"Jarang sekali kami menerima tamu di sini. Selamat datang, Tomioka-san," sambut Shinobu ceria.
Dua cangkir teh yang mengepulkan uap panas menemani Shinobu dan Giyuu. Giyuu meniupnya pelan sebelum meminum teh yang Shinobu seduh sendiri. "Rasanya enak."
"Sungguh jarang mendengarkan pujian darimu, Tomioka-san," tanggap Shinobu. Bibirnya mengulas senyum. "Kalau Tomioka-san mencari Kamado-kun dan teman-temannya, mereka sedang dalam masa pemulihan. Mereka baik-baik saja."
"Hm. Terima kasih sudah memberitahu hal itu padaku."
"Tomioka-san sangat berubah sejak bertemu dengan Kamado-kun, ya? Dia memang pemuda yang sangat luar biasa."
"Harusnya aku yang mengatakan itu padamu."
"Eh? Apa?" Shinobu bertanya dengan mata menyipit ramah. "Aku tidak pernah berubah."
"Kita sudah lama saling mengenal untuk bisa kautipu seperti selama belakangan ini."
Shinobu menyelimuti cangkir dengan sepasang telapak tangannya. Tanpa sadar, Shinobu menggigit bibirnya sendiri. "Hmm? Apa yang kaukatakan, Tomioka-san? Apa kau masih marah padaku soal di Gunung Natagumo?"
"Kau tidak perlu menipu dirimu sendiri dengan meniru kakakmu." Giyuu sama sekali tak mengubah ekspresinya sejak memasuki Wisma Kupu-kupu. "Aku paham bagaimana rasanya kehilangan sesuatu."
"Tomioka-san, kau bersikap sangat aneh. Ah tidak tidak, sejak awal Tomioka-san memang aneh," elak Shinobu.
"Kau memakai haori, senyum, dan kebaikan hati miliknya." Shinobu tahu Giyuu sedang membicarakan Kanae. "Mau sampai kapan kau berpura-pura?"
Apakah Pilar yang lain juga berpikir sama seperti Giyuu? Shinobu jadi bertanya-tanya. "Jadi aku tertangkap basah, ya? Hmm hmm hmm, aku memang tidak bisa meremehkan seorang Pilar Air, fufufu."
"Kochou—"
"Shinobu sudah lama mati," potong Shinobu sembari menggamit haori milik Kanae kesayangannnya.
"Kau tidak mati, Kochou." Giyuu memberi respons dengan suara berat. "Kau tidak meniru pola rambutnya. Jauh di dalam dirimu, kau sangat marah pada iblis, berbeda jauh dengan apa yang dia rasakan. Yang terpenting ... kau masih seorang Kochou Shinobu yang luar biasa. Berhentilah menirunya dan kembalilah pada dirimu yang dulu."
"Aku tidak bisa." Untuk yang kesekian kalinya, Shinobu tersenyum cerah seolah tak ada apa-apa. "Terima kasih untuk perhatianmu, Tomioka-san."
Shinobu tak berdusta. Shinobu memang sudah mati sejak empat tahun lalu, namun Shinobu merasa senang karena ada yang seseorang yang begitu memperhatikannya.
FIN!
A/N: A-Alohaaaa ... ketemu Edel dengan fic yang kali ini agak ... bittersweet? Eh, ga juga sih /apa
Curhat sedikit. Pas liat prompt style swap ini, sebenarnya Edel langsung keingat soal Shinobu yang memakai haori Kanae, tapi memutuskan untuk diam-diam aja dulu. Sampai mendekati hari H dan belum ada yang ngambil prompt ini, Edel memilih menuliskannya dengan sangat ... tidak jelas, wkwk. (Edel entah kenapa jadi keingat fic dulu, cough cough)
Sekian deh. Ditunggu ya, kemasoan tim Daylight Daybook yang lain! XD
