Disclaimer:
Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Cover belongs to its respective owners.
Don't like the pairing, don't read!
For more stories and informations, check my profile.
#stayathome
xxxxxxx
"Kau datang juga, Uchiha," Toneri Otsutsuki, mengenakan pakaian khas Jepang berwarna putih kebesarannya dengan latar belakang gudang besar yang kosong, menyeringai arogan pada pria tampan di hadapannya. Sang pria yang dimaksud mengenakan jubah panjang dan celana serba hitam, tampak sendirian dan tak membawa apa-apa kecuali satu koper besar berwarna hitam. Sementara itu Toneri sendiri berdiri bersama anak buahnya yang berjumlah kurang-lebih 50 orang dengan pakaian serba putih yang nyaris serupa. "Apa itu lima juta dolar yang kumaksud?"
"Periksalah sendiri!" Sasuke membalas dengan nada menantang. Toneri mengedikkan kepalanya pada salah seorang anak buahnya. Dia maju dan mengecek isi koper Sasuke yang sudah dilemparkan ke lantai. Setelah beberapa menit, ia mengangguk. Toneri tersenyum puas kali ini. "Dimana anakku?"
"Sabarlah dulu, Uchiha. Kau akan menemuinya saat permainan kita sudah selesai…" kata sang pria bermarga Otsutsuki lambat-lambat.
"Permainan apa yang kau maksud? Dimana Sumire, putriku?!" bentak Sasuke murka.
Toneri hanya tertawa lalu menepukkan tangannya. Dua orang bertubuh kekar dengan rambut pirang panjang mendadak maju dan memegangi dua sisi tubuh Sasuke.
"Hey, apa in… ugh!"
Salah seorang dari mereka telah menghantam tubuh Sasuke dengan keras. Toneri tertawa lagi.
"Kau pikir bisa begitu saja meloloskan diri dari sini? Tentu saja tidak semudah itu!"
Pukulan demi pukulan kemudian mulai menghujani tubuh Sasuke. Lelaki Uchiha itu berusaha memberontak dan salah satu dari mereka sempat terjerembab oleh pukulan balasan, tapi lebih banyak lagi yang datang mengeroyok sehingga kini ia kewalahan dan lantas dihajar beramai-ramai.
"Aku tak menyangka bahwa seseorang yang telah melenyapkan Itachi ternyata sebodoh ini!" Toneri tergelak melihat adegan sadis di depannya. "Kalian semua bersiaplah!" kali ini suara lelaki muda itu meninggi dengan tatapan menggila. "Habisi dia!"
xxxxxxx
"Waktunya makan."
Mitsuki Otsutsuki memasuki ruangan dengan diikuti beberapa anak buahnya, yang semuanya menggunakan pakaian khas klan Otsutsuki yang bernuansa putih dengan tangan membawa nampan berisi makanan. Menu yang diberikan tampak sangat sederhana untuk keempat penghuni penjara yang gelap itu. Sumire, Tenten, Sai, dan Temari, masih mengenakan pakaian saat mereka berusaha meloloskan diri, terlihat sedang duduk di lantai dengan rantai tebal yang mengekang kaki mereka sementara kedua tangan mereka diborgol.
Mitsuki dan para anak buahnya lantas mengeluarkan kunci dan mulai membuka borgol salah satu tangan mereka agar bisa digunakan untuk menyuap makanan. Yang lain mengarahkan pistol pada mereka agar tidak ada yang berusaha meloloskan diri dalam kesempatan itu.
"Aku alergi cumi-cumi," kata Sumire saat melihat menu makanannya.
"Apa itu urusanku?" sergah Mitsuki dengan nada acuh.
"Aku bisa mati jika kau memaksaku memakan ini."
"Dan pastinya Tuan Sasuke Uchiha tidak ingin putrinya meninggal, bukan?" sela Sai."Apa tidak ada telur atau semacamnya?"
"Kau tidak bisa memerintahku," mata Mitsuki terarah tajam pada Sai, lalu kembali tertuju pada Sumire. "Makan saja nasinya kalau kau begitu khawatir pada kesehatanmu."
"Makan nasi putih tanpa lauk? Apa ini?" pekik Sumire. "Aku tak pernah makan seperti ini!"
"Oh ya, Nona Besar, maafkan saya yang lancang ini, tapi kita tidak sedang berada di restoran bintang lima sekarang. Makan saja jatahmu tanpa banyak bicara," sindir Mitsuki sarkastik.
"Aku tak mau makan!" Sumire memalingkan mukanya.
"Ya sudah, berarti malam ini kau kelaparan, gadis tak tahu bersyukur," Mitsuki menendang nampan Sumire dengan kakinya hingga makanannya berhamburan.
"Kau sendiri apa tidak pernah bersyukur?! Membuang-buang makanan begitu saja sementara ada banyak orang kelaparan di luar sana!" cetus Temari.
"Oh, wanita Sabaku ini bisa bicara juga rupanya? Bagaimana kalau mulutmu yang pintar itu diam sebentar?" Mitsuki akhirnya mengeluarkan pistolnya. "Kesabaranku hampir habis oleh semua kebodohan ini!"
"Tembak saja aku! Tembak! Setelah itu adikku akan membinasakanmu dengan cara yang tak pernah terpikirkan oleh otak kecilmu itu!"
"DIAM!"
"Kalau tidak, apa?!"
"Hentikan, jang…"
Dor!
xxxxxxx
"Apa itu?"
Toneri menoleh ketika mendengar suara tembakan. Hening sejenak, lalu tiba-tiba salah seorang anak buahnya tumbang ke lantai.
"Ap. .?"
Di belakang sang anak buah, dengan pistol hitam berasap, tampaklah seorang pria berambut merah berbalut pakaian serba hitam.
"Sabaku? Bagaiman…?"
"Serbu!"
Selanjutnya yang terdengar adalah suara pekikan semangat dan tembakan yang bersahut-sahutan. Toneri segera berlindung di balik sebuah kontainer. Ia melirik ke arah Sasuke namun yang ia lihat hanyalah sekumpulan anak buahnya yang telah bertumbangan di lantai.
"Sial!" umpat Toneri pelan, lalu berteriak. "Apa kau ingin putrimu lenyap, Uchiha?!"
Terdengar suara tawa yang lebih bengis yang dipastikan adalah milik sang keturunan klan berlambang kipas itu.
"Tak usah khawatirkan putriku, Otsutsuki! Khawatirkanlah dirimu sendiri dan fakta bahwa gedung ini sudah aku kepung!"
"Kurang ajar!" Toneri mengeluarkan ponsel miliknya yang tadinya ia simpan dari balik bajunya lalu menekan speed dial. "Mitsuki, aku perlu…"
Dor!
Toneri menunduk saat sebuah tembakan nyaris mengenai kepalanya, ponselnya terpental sampai ke luar jangkauannya. Saat ia menoleh ke arah asal tembakan, Sasuke dengan mata nyalang telah mengarahkan pistol hitamnya padanya. Toneri ganti mengeluarkan pistol peraknya dan mereka segera terlibat baku-tembak.
"Bagaimana senjatamu bisa lolos dari pengecekan?" tanya Toneri di sela-sela duel sengit mereka.
"Oh, aku memang tidak membawa senjata saat itu. Terima kasih pada Sabaku atas delivery service-nya," ungkap Sasuke.
Dor!
Toneri bersembunyi di balik dinding hingga tembakan Sasuke meleset.
"Aku akan melenyapkan putrimu, Uchiha!" ancamnya.
"Coba saja kalau bisa! Justru kaulah yang akan lenyap sebentar lagi!" jawab Sasuke sambil tertawa. "Kau pikir aku sebodoh itu sampai menyanggupi persyaratan tololmu itu?!"
"Bagaimana kau bisa mengepung tempat ini? Aku sudah menempatkan pasukan…!"
"Oh, pasukan amatiran di luar sana itu? Aku heran berapa kau membayar mereka sehingga kami bisa membereskan semuanya dalam waktu kurang dari lima menit saja!" ejek Sasuke seraya terkekeh.
"Kau…!"
Dor!
"Ugh!"
Tangan Toneri yang memegang pistol tertembak. Ia segera mengeluarkan pistol lainnya dengan tangan yang satu lagi tapi Sasuke telah berada di depannya dan memukul wajahnya dengan sangat keras. Terdengar bunyi "krak" dan hidungnya sakit sekali, sepertinya patah. Toneri hendak bangun namun Sasuke telah memitingnya.
"Dimana anakku?"
Toneri tertawa keras, "Dia akan mati!"
Bug!
"Katakan dimana dia sekarang atau…"
Dor!
"Mitsu…?"
Toneri hendak tersenyum namun kemudian menyadari bahwa pistol Mitsuki terarah kepadanya, bukan pada Sasuke. Dan rasa panas apa ini…?
Toneri menunduk dan menganga saat menyadari ada noda merah yang terus menyebar di permukaan pakaiannya yang putih bersih.
"Mitsu… kenapa…? Aku ini kakakmu!" teriak Toneri penuh kemarahan. Ia tak menyangka adiknya sendiri mengkhianatinya.
"Kita memang punya ayah yang sama tapi aku masih ingat betul apa yang terjadi dua belas tahun yang lalu saat kau melenyapkan ibuku," mata Mitsuki berkilat marah. "Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, Toneri!"
"Dia telah bergabung dengan FBI sejak lulus sekolah dan menjadi agen ganda yang sangat andal," Sai muncul di belakangnya. "Salah satu yang terbaik."
"Kau… uugh… " Toneri memuntahkan cairan berwarna merah dan Mitsuki mengacungkan pistol ke mukanya.
"Waktumu sudah habis, Toneri."
"Benarkah?" Toneri justru menyeringai. Tangannya menyelinap ke balik bajunya dan dalam hitungan detik tiba-tiba terdengar suara ledakan yang hebat.
BAM!
Semuanya terkaget-kaget dan dalam sekejap api telah mengepung mereka.
"Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini tapi kau memaksaku," kekeh Toneri. "Kau ingin membunuhku? Bagaimana kalau kita pergi bersama?"
"Sialan!"
Mitsuki sudah hendak menekan pelatuknya tapi Sai menghalanginya.
"Jangan! Kalau begitu, apa bedanya kau dengan dia? Biarkan pihak berwenang yang mengurusnya!"
Toneri hanya tertawa melihat Mitsuki menggeram, sementara itu Sumire yang baru memasuki ruangan berlari ke arah Sasuke.
"Papa!"
"Anakku!" Sasuke memeluk Sumire dan menciumi wajahnya penuh sayang. "Ayo cepat pergi! Gudang ini akan segera terbakar!"
"Kak, kau baik-baik saja?" Gaara menghampiri mereka dan mengerling pada Temari.
"Aku baik, ayo cepat keluar!"
Gaara mengangguk lalu berseru pada semuanya, "Urusan kita sudah selesai disini! Cepat keluar! Keluar!"
Terdengar teriakan di seantero ruangan mencoba menyampaikan pesan dari Gaara. Semua orang kini berlarian ke arah pintu keluar.
"Ayo, Pa!" Sumire menggandeng tangan Sasuke untuk menuju arah yang sama, tapi…
"Awas!"
xxxxxxx
SEPULUH TAHUN KEMUDIAN…
"Selamat atas pernikahannya…" orang-orang berpakaian mewah bergantian menyalami kedua mempelai yang baru saja melangsungkan prosesi perkawinan. Keduanya berambut gelap dimana sang mempelai pria memakai tuksedo berwarna putih sementara sang mempelai wanita mengenakan gaun megar bak putri raja yang juga berwarna putih, lengkap dengan tiaranya. Suasana di sekitar mereka adalah pesta kebun yang meriah dengan dekorasi bernuansa putih dan merah.
"Selamat, Sumire. Ah, apa tidak ada lagi yang bisa meyakinkanmu untuk meninggalkan si kulit pucat ini?" ucap Sasori Akasuna setengah bercanda. Ia mengenakan setelan jas resmi berwarna merah marun. Meski usianya sudah menginjak kepala empat, namun ia masih tampak seperti pemuda tampan berusia 20 tahunan.
"Kau bisa mencoba peruntunganmu dengan ibuku, tapi… yah… itupun kalau kau bisa membuatnya move-on," Sumire menghela napas, memandangi seorang wanita berambut gelap yang juga mengenakan gaun berwarna putih namun hanya duduk sendirian dengan murung di antara para tamu undangan yang bersuka-cita.
"Tidak, aku tak yakin bisa melakukannya. Memang ibumu sangat cantik, tapi bagaimana aku bisa membuatnya melupakan seorang Sasuke Uchiha? Itu tidak mungkin," Sasori mengangkat tangannya seolah tanda menyerah lalu mendesah. "Padahal sudah sepuluh tahun…"
"Hei, apa kau akan terus berbicang di situ?" celoteh seorang wanita di belakang Sasori sedikit kesal dan ia pun tersadar.
"Baiklah, sepertinya aku harus terus bergerak sebelum ada masalah. Semoga bahagia. Kau juga, Sai."
Sang mempelai pria mengangguk tanda mendengar dan usai bersalaman, mereka kembali menyapa tamu lainnya.
Beberapa jam kemudian, pesta tersebut usai dan Sumire, masih mengenakan pakaian pengantinnya, menghampiri ibunya yang masih duduk sendirian di tempatnya yang tadi.
"Mama…"
Hinata, yang kini memotong rambutnya hingga sebahu dengan poni yang rapi, menoleh dan memaksakan senyum.
"Ya, Sayang?"
Sumire duduk di kursi sebelahnya.
"Kenapa duduk sendirian saja?" tanya Sumire hati-hati.
"Kau tahu, ayahmu pasti akan sangat bangga kalau melihatmu hari ini," Hinata mengalihkan topik dengan mata berkaca-kaca. "Lihat dirimu. Lulus dari universitas dengan gelar cumlaude, berhasil mengelola perusahaan Uchiha dengan sukses, dan menikah dengan pujaan hatimu. Dia pasti sangat bangga. Semua impiannya untuk dirimu menjadi kenyataan."
"Ma, apa Mama merindukan Papa?"
"Sangat," Hinata akhirnya meneteskan air matanya. "Setiap waktu."
"Ini sudah sepuluh tahun…"
"Lalu?" Hinata memalingkan wajah cantiknya yang seakan tak lekang oleh waktu. "Mama tahu kisah ini terlambat, Mama menyia-nyiakan begitu banyak waktu untuk tidak mencintainya. Padahal dia sudah begitu banyak berkorban, tapi Mama malah membencinya selama lima belas tahun."
"Bukankah… dulu Papa sudah berbuat…"
Hinata menempelkan jarinya ke bibir Sumire sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, "Papamu bukan malaikat, dia sudah melakukan banyak hal yang mungkin tidak baik. Dan Mama baru tahu bahwa malam itu terjadi pembantaian klan Uchiha, dia sangat kalut. Mama kebetulan berada di dekatnya dan papamu melampiaskannya pada Mama. Mama tak membenarkan apa yang ia lakukan tapi setidaknya kini tahu mengapa," Hinata mengusap air matanya dengan saputangan berlambang klan Uchiha. "Dia sudah membayarnya dengan menjaga kita selama lima belas tahun bahkan meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri."
"Tapi bukan berarti kita tidak bisa move-on, bukan? Aku yakin Papa ingin Mama bahagia lagi. Mungkin Sasori…"
"Dimana Sai?" potong Hinata.
"Ma…"
"Sumire, kau bisa pergi dengan suamimu. Mama… akan kembali ke rumah sakit…"
"Tapi bukankah ini hari libur? Aku dan Sai akan pergi ke Maldives, bagaimana kalau Mama ikut?"
Hinata tertawa kecil, "Dan mengganggu bulan madu kalian? Tidak… Mama juga pernah muda. Biarkan Mama kembali ke rumah sakit…"
"Baiklah, Sai masih bicara dengan seorang temannya. Tunggu sebentar, kami akan mengantarkan Mama ke rumah sakit."
xxxxxxxx
"Selamat. Aku tidak menyangka kau akan menikah dengan dia, dari semua perempuan yang ada di dunia ini."
Sai tersenyum tipis mendengar ucapan pria setengah baya di hadapannya yang berambut gelap berkuncir dengan jubah hitam panjang yang berkibar ditiup angin. Lokasi pertemuan mereka saat ini adalah rooftop dari tempat yang sudah disewanya untuk melangsungkan pernikahan tadi siang.
"Terima kasih sudah hadir. Aku tahu ini tak mudah bagimu. Tapi apa kau tetap tak akan menunjukkan dirimu pada dunia?" tanya pemuda berkulit putih itu.
"Untuk apa? Tujuanku sudah tercapai. Aku akan hidup dalam kesenyapan," jawab sang lawan bicara diplomatis. Matanya yang gelap tampak sedikit sendu. "Tapi terima kasih sudah menjaga mereka untukku, Sai."
"Tidak usah terlalu formal…"
"Kau sudah banyak berkorban demi klan kita, bahkan mengubah identitasmu, keluar dari pekerjaan impianmu, dan sampai sekarang pun masih begitu berdedikasi… sangat luar biasa, Sepupu."
"Dan kau? Sasuke benar-benar menyangka kau lenyap dalam ledakan itu."
Dia terkekeh.
"Kuharap kau akan terus waspada. Kita tak pernah tahu…"
"Aku tahu."
Pria itu berbalik, "Baiklah, aku pergi dulu."
"Itachi…"
Laki-laki yang jubah hitamnya berlambangkan awan merah itu berhenti.
"Hati-hati."
xxxxxxx
"Hinata, kenapa malam-malam begini masih bertugas, bukankah ini adalah hari pernikahan putrimu?"
Hinata yang baru saja menjejakkan kaki di koridor rumah sakit tersenyum pada pria berambut pirang terang yang menyapanya.
"Aku harus mengurus pasienku, Nick," jawab Hinata pada rekan sejawatnya yang luar biasa tampan itu. Mata biru dokter di depannya menyipit tanda tak percaya. Hinata tergelak lemah. "Aku serius!"
"Ah ya, pasien spesialmu itu?"
"Nick…"
"Aku tidak cemburu, aku sudah menikah, lihat?" sang dokter pria menunjukkan cincin kawinnya yang berwarna keperakan. "Tapi apa kau harus mengeceknya setiap waktu?"
"Nick…" Hinata kembali merajuk.
"Maaf mengatakan ini, tapi pasien kesayanganmu itu sudah tak ada harapan, Hinata… Kau ini seorang dokter yang cerdas, pasti sudah lama tahu hal ini…"
"Pernah mendengar kalimat 'jangan menyerah'?" Hinata melipat tangannya. "Kalau kau menyerah mendapatkan istrimu dulu, apa dia akan menunggumu di rumah malam ini dan melahirkan anak-anakmu?"
Nick berdecak, "Jangan bawa-bawa Nyonya Anderson… aku hanya ingin kau…"
"Cukup. Aku harus bekerja. Sampai nanti, Dr. Anderson."
Nick menghela napas, "Semoga beruntung, Dr. Uchiha."
Hinata berjalan sejenak menyusuri koridor rumah sakit yang sepi lalu membuka sebuah pintu menuju ruangan yang sepertinya VIP kalau dilihat dari tempat tidurnya yang hanya satu dan mewahnya fasilitas di dalamnya.
"Selamat malam, apa kabarmu hari ini?" Hinata mendekati ranjang dengan mata berkaca-kaca, tempat seorang pasien tampak tertidur dengan berbagai peralatan terpasang di tubuhnya, termasuk selang oksigen. "Sasuke, kapan kau akan bangun?"
Tak ada tanda-tanda kehidupan. Hinata meneteskan air mata.
"Putri kita hari ini menikah, Sasuke. Dia sangat cantik. Aku yakin kau akan sangat bangga melihatnya," Hinata bermonolog sendiri. Air matanya terus bercucuran. "Terima kasih telah melindungi putri kita dari tusukan Toneri, meski itu berujung pada hilangnya kesadaranmu selama sepuluh tahun. Terima kasih telah berjuang untuk kami selama lima belas tahun. Terima kasih, Sasuke. Kau adalah… ayah yang baik," Hinata terisak-isak. "Aku merindukanmu. Aku mencintaimu."
Hinata mengecup dahi Sasuke dengan sayang, namun tak ada balasan apapun, meski sudah ditunggu selama beberapa menit.
Tentu saja.
Selalu seperti ini sejak sepuluh tahun yang lalu. Tak ada perubahan.
Tak lama kemudian pager Hinata berbunyi. Ia membacanya lalu mendesah.
"Aku pergi dulu, tapi akan segera kembali. Sampai jumpa, Sayang."
Hinata pun berlalu dan menutup pintu, tanpa menyadari bahwa salah satu jari Sasuke bergerak dengan airmata yang menetes dari matanya yang tertutup.
Namun setelah itu semuanya kembali seperti sebelumnya, terdiam, dalam penantian yang mungkin tak akan berujung.
THE END
Author's Note:
Thank you for reading and supporting this fanfiction untill the very end.
Visit my blog (rosalythe dot blogspot dot com) for my latest updates and projects.
All rights reserved. This story or any portion thereof may not be reproduced or used in any manner whatsoever without the permission of the author.
Love you all :)
