Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+
Warning : Typo, OOC, OC, headcanon author, interpretasi sejarah dengan referensi seadanya. Very, very self-indulgent hehe.
Chapter 19: ○年○月○日(part 2)
Mereka semua punya misi spesial hari ini— dan seperti yang lainnya, misi ini juga mendapat perlakuan serius yang sama.
Awalnya hanya kebetulan saja.
Kalau bukan sedang jadi ketua utama, tak ada toudanshi yang bisa mengakses hologram. Maka Konnosuke mereka biasanya mendapat sogokan abura-age dan memberi akses terbatas untuk beberapa waktu.
Dan begitulah cara Midare dan Gokotai memperhatikan sebuah tanggal pada sebuah hologram kecil pada data diri sangg saniwa.
Setelah bertanya pada Konnosuke yang kemudian menjelaskan, sambil memperlihatkan hologram kalender dengan alur waktu asli sang saniwa, Midare segera berseru.
"Ayo kita rayakan ulang tahun aruji-sama!"
"Tapi tinggal 3 hari lagi kan? Apa waktunya cukup buat cari hadiah?"
"Bikin pesta saja, hitung-hitung hadiah dari kita semua kan?"
Dari para tantou, ide itu mulai mengalir mulut ke mulut di antara para toudanshi. Tentu saja selama orang yang dibicarakan tidak ada di tempat.
"Kita butuh dia keluar dari honmaru. Tapi bukan misi."
Yamanbagiri Kunihiro memberikan beberapa patah kata pada Midare sang event organizer yang menanyakan pendapat agar pesta kejutan mereka dapat berjalan lancar. Mereka tidak ingin pemeran utamanya pulang babak belur. Tidak lucu.
Midare tiba-tiba mendapat ide dan segera pergi mencari Kashuu.
"Distraksi? Hmmm…"
Mengalihkan perhatian dari dedaunan yang ia sapu, Kashuu berpikir sebentar setelah Midare selesai berbicara. Diam yang diberikan bukan sebuah penolakan, karena ada kilat tertarik dari mata sang uchigatana.
"Yaah, akan kucoba." Jawab Kashuu. "Tapi bukannya dia ada kerjaan pagi itu?"
"Eh? Kupikir jadwalnya hari itu kosong?"
"Uguisumaru yang akan bantu dia hari itu. Coba tanya saja?"
Sebuah rencana matang sudah selesai Midare buat dalam otaknya saat mendengar hal itu. Sekarang ia hanya perlu menyampaikan ini kepada seluruh penghuni honmaru tanpa didengar sang saniwa…
.
.
Kashuu mengedipkan sebelah mata dan menyerahkan tumpukan barang pada Midare, sebelum berlalu lagi.
"Kashuu sudah menguncinya di permandian air panas! Ayo ke persiapan terakhir!"
"Lebih tepatnya, Kashuu tidak akan membiarkannya keluar sampai memastikan dia pakai— apa itu namanya, masker? Paling lama kita punya 15 menit..."
Bagian pertama rencana yang dibuat Midare sudah selesai; menahan sang saniwa selama mungkin di ruang penempaan adalah hal yang sangat mudah. Hilir mudik seluruh isi honmaru dengan mudah dilakukan tanpa perlu dilihat sang saniwa. Dan saat Kashuu membawanya keluar ke kota, misi mereka hari itu resmi dimulai hingga kedua orang tadi kembali lagi saat langit sore mulai terlihat.
"Itu semua apa?" Mutsunokami mengernyit ke arah barang-barang yang diberi Kashuu.
"Oh, ini? Kashuu berhasil mengecohnya untuk membeli yang akan dia pakai nanti." Midare terkikik kegirangan. Isi lemari saniwa mereka tak banyak variasinya. Hari ini akan jadi pengecualian. Ini hari yang spesial, pemeran utama mereka juga harus lebih spesial lagi!
Karena itulah Midare siap menyibukkan diri, pergi ke sana kemari bersama Imanotsurugi memeriksa persiapan mereka.
"Yang di dapur bagaimana?"
"Aman!"
"Bagus! Habis ruang makan selesai dihias, langsung dipindahkan saja!"
"Halaman! Jangan sampai kelihatan aruji-sama nanti!"
"Tenang saja~"
"Anu… Apa ada yang lihat para harimauku…"
.
.
Kashuu merasa harus memberikan pujian pada para tantou.
Tak hanya saat pergi misi di malam hari, mereka juga membantu para toudanshi lain berusaha menyiapkan pesta tanpa diketahui saniwa mereka sampai titik ini.
"Sibuk banget ya kita hari ini."
….atau mungkin tidak? Tak masalah, tinggal sebentar lagi.
"Hei, jangan gerak-gerak."
Kashuu mulai menata rambut perempuan yang duduk di depannya— Midare sangat menekan poin ini. Dia mahir dengan benda bernama cat kuku, tapi menata rambut? Sebenarnya tidak, tapi hari ini dia mendapat peran untuk mendistraksi sang saniwa, jadi ia lakukan saja sebisanya.
Memelototi sang saniwa agar tidak menggerakkan jemari tangannya yang sudah susah payah ia hias termasuk menambah waktu persiapan mereka, kan?
"Tidak mengerjakan laporan memang yang terbaik, haha!" Sang saniwa menahan tawa keras, bahunya yang bergerak sudah ditepuk lagi oleh Kashuu. "Tapi pegal setelah jalan lama itu…"
"Kau? Sudah setiap hari pergi misi masih bisa pegal?"
"Ya bisa saja lah."
Kali ini Kashuu mengalihkan perhatiannya pada wajah sang saniwa, membuat perempuan itu berpikir bagaimana Kashuu bisa lebih mahir menggunakan lipstik daripada dirinya sendiri.
Uchigatana itu mendengus, "aku tahu di alur waktumu berasal, kegiatan yang butuh kerja berat tubuh manusia tidak banyak…"
"Aah, nggak ada hubungannya dengan hal seperti itu kok."
"Lalu?"
"Hanya saja kalau dibandingkan dengan pekerjaanku yang dulu…"
"Kau mau kembali ke sana?"
Sang saniwa menatap Kashuu.
"Mungkin." Kata-kata yang keluar terdengar ringan. "Tapi tidak sekarang. Lagipula, di sini bersama kalian itu..."
Kali ini Kashuu mendengar suara tawa kecil.
"Ah, sudahlah." Sang saniwa lanjut berbicara, "Kashuu benar-benar jago dalam hal ini ya."
"Yaah, aku suka konsep yang kalian sebut," uchigatana itu memberi gestur menunjuk dari atas sampai ujung kaki, "mempercantik diri?"
"Jadi seharusnya aku yang berterima kasih sudah diberikan wujud seperti ini."
"Ooho, begitu."
"Oke, putar badan. Kubantu ikat obi itu."
Sang saniwa menghela napas. Akhirnya selesai juga dia dikurung dalam kamarnya sampai selesai dirias sedemikian rupa oleh Kashuu.
"Tahu tidak, terakhir kali aku pakai kain mewah seperti ini waktu seijin shiki. Ampun deh, aku sudah tua."
"Hah. Kalau kau tua aku apa?"
Sang saniwa seakan baru teringat bahwa sebenarnya seluruh isi honmaru umurnya lebih tua ribuan tahun dari dirinya.
Omong-omong tentang para penghuni honmaru hari ini...
"Beneran deh, hari ini kau mau aku melakukan apa sih sampai dandan begini?"
Kashuu memijit kening.
"... Apa ini efek samping sering berganti alur waktu dan jarang memeriksa kalender?"
"Aah?"
.
.
Sangat aneh melihat suasana honmaru yang sepi.
Biasanya meski sudah malam seperti ini pun, ada saja suara dan kegiatan yang sedang dilakukan. Kini cahaya lentera hanya memperlihatkan kosongnya lorong yang dilewati Kashuu dan sang saniwa. Tak ada suasana mencekam yang ia rasakan, sehingga sang saniwa masih bisa berjalan santai dan bersenandung mengikuti Kashuu.
"Ayolah, aku benar-benar penasaran…"
Mereka berhenti di depan pintu aula ruang makan. Ia benar-benar penasaran apa yang sebenarnya sedang berlangsung. Kashuu masih menatapnya dengan aneh dan tidak menjawab pertanyaan darinya tadi.
"Kau lihat saja sendiri ah." Jawab Kashuu sambil menggeser pintu.
Sebuah letupan keras dan hujan kertas warna-warni menyambut sang saniwa bersama puluhan suara yang antusias.
"Selamat ulang tahun, aruji!"
Sang saniwa membeku sesaat. Insting pertamanya adalah meraih kipas di pinggang, sebelum mengingat ia sedang memakai pakaian baru. Kemudian ia melihat wajah-wajah penuh tawa, barulah bahunya menjadi rileks lagi. Sepertinya ia lupa menutup mulutnya yang menganga, ia dapat melihat Kashuu tertawa ke arahnya.
"Ini…?"
"Ayo, ayo, pemeran utama pesta kita harus duduk di sini."
Iwatooshi mengarahkannya ke arah meja paling kanan. Mutsu memberikan zabuton paling empuk yang mereka punya sebelum membiarkan sang saniwa duduk.
"Tunggu dulu, dari mana kalian tahu ulang tahunku?"
"Konnosuke~" Midare memberikan jawaban singkat. Tangannya sedang memegang— sang saniwa tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan mic, tapi tantou itu sudah memberikan aura pembawa acara penuh antusias. "Yang bantu bawa makanan sudah di sini semua? Sebentar lagi pesta untuk ulang tahun aruji-sama akan kita mulai!"
Sang saniwa memperhatikan seisi ruangan. Semua hal hari ini mulai masuk akal. Meja rendah dan zabuton mengelilingi pinggir ruangan sehingga bagian tengah kosong. Seluruh sudut ruangan bersih dan dihias seperti mau tahun baru. Jumlah masakan yang dibuat berlimpah ruah. Skala banyak seperti ini sebagai kejutan, berhasil dilakukan tanpa dilihat olehnya.
"Apa berhasil?"
"Tentu saja, lihat wajahnya! Tsurumaru muncul dari dalam kulkas saja tidak akan membuat aruji menganga seperti itu.
"Hei, hei, apa maksudnya itu?"
Yamatonokami mengambil tempat duduk disamping Kashuu.
"...Dia benar-benar tidak ingat?"
Kashuu mendengus, "sampai menit terakhir."
"Bagus dong?"
Mereka benar-benar berpesta hari itu.
Setelah makanan penutup mulai dikeluarkan, Jirou dan Iwatooshi sudah mulai berlomba minum sake sebagai pertunjukkan mereka. Hari itu tak ada pembicaraan tentang pekerjaan atau apa pun berkas yang harus dilakukan Hasebe dan Kasen Kanesada, keduanya sukses disuruh melakukan karaoke bersama sang saniwa— lengkap dengan tarian yang diperlukan sampai sang saniwa tertawa kencang dan nyaris tersedak.
"Terima kasih banyak." ujar sang saniwa di sela-sela tawanya, mic di tangan nyaris terjatuh. "Terima kasih, untuk hari ini!"
Hari itu, riuh rendah seruan dan tepuk tangan mengalir hingga tengah malam.
.
.
Selalu ada tipe orang yang melakukan kebalikan dari yang sedang khalayak ramai lakukan.
"Tak terbiasa dengan keramaian?"
Yang dipanggil oleh sang saniwa tampak tak terkejut melihat perempuan berada di area kolam honmaru. Yamanbagiri Kunihiro hanya tak menyangka sang saniwa akan mengikutinya keluar dari ruang makan secepat ini. Uchigatana itu menoleh sedikit, tudung kain tak terpakai di kepala.
"Ookurikara saja sedang minum-minum di dalam lho." Sang saniwa lanjut berbicara meski tak mendapat jawaban.
"Butuh udara segar." Gumam balik sang uchigatana.
"Ooh."
Setelah seharian ini tak melihat banyak penghuni honmaru, sang saniwa menyadari sesuatu. Ia tahu Yamanbagiri Kunihiro ingin melakukan sesuatu tapi tak tahu bagaimana harus memulai. Tapi ia biarkan sang uchigatana membuka dan menutup genggaman tangan beberapa kali. Karena hari ini hari spesialnya, ia merasa tak perlu menjahilinya. Sang saniwa menunggu.
Yamanbagiri Kunihiro berbalik ke arahnya dan mengulurkan sesuatu.
"Oh?"
"...Midare baru tahu tentang ulang tahunmu 3 hari yang lalu, jadi semuanya membuat pesta kejutan itu sebagai hadiahmu."
"Haha, begitu ternyata."
Sang saniwa juga mengulurkan tangan, merasakan suatu tekstur besi dari genggaman sang uchigatana yang kemudian terbuka. Sang saniwa mengerjapkan mata.
"Kalung?"
Sebuah kerang berwarna gading diapit dua jenis kerang lain, berkilau karena sebuah lapisan khusus dalam pencahayaan seadanya. Jenis rantai yang dipakai tampak seperti kalung lain yang biasa ia lihat pada jamannya. Bukan sebuah benda yang dapat dibeli pada alur waktu tempat mereka sekarang.
Yamanbagiri Kunihiro menahan tangannya untuk memakai kain tudung, tak jadi menyembunyikan wajah yang sediki bersemu merah.
"Aku minta sedikit bantuan dari ruang tempa—"
Yamanbagiri Kunihiro tak sempat menyelesaikan kalimat. Ia nyaris berteriak saat menangkap sang saniwa yang melemparkan diri ke arahnya. Kedua tangan mengalungkan diri di leher uchigatana itu, wajah tersembunyi di bahunya.
Toudanshi itu memberikan helaan napas, senyuman tak dapat ia tahan. Kata-kata yang dikeluarkan sang saniwa teredam, tapi Yamanbagiri Kunihiro tahu apa yang diucapkan.
Ia ingin membalas seperti ini, 'terima kasih juga sudah hadir di dunia ini dan bertemu dengan kami'.
Tapi tanpa dikatakan pun, aruji mereka semua sudah tahu itu.
.
.
.
