Pertandingan semakin menegangkan. Bangku-bangku penonton yang tadinya kosong, kini terisi dengan cepat. Semua pasang mata tertuju pada lapangan. Hasil skor yang tercetak dipapan tak dihiraukan semua orang, mereka lebih tertarik untuk mengamati pertandingan antara kidal melawan para senpai.

Eijun berhasil mengalahkan tim lawan dengan tidak mengizinkan mereka mendapatkan satu hit pun. Orang-orang bepikir bahwa tahun pertama dapat membalikkan skor dengan gaya permainan mereka sekarang, namun ada yang tidak setuju tentang pernyataan tersebut menilai satu pemain hebat saja takkan bisa membawa tim menuju kemenangan. Akhirnya penonton mulai bergumul tentang tim siapa yang lebih baik; meski tahu bahwa sebenarnya tak ada gunanya memperdebatkan hal tersebut.

Sekarang, mari kita lihat keadaan dibangku istirahat milik para senpai yang saat ini dipenuhi oleh para pemain yang mengarahkan tatapan pada bangku istirahat milik lawan dengan pandangan membunuh yang bahkan lebih seram dibanding sebelumnya.

Sudah cukup dengan lemparan cepat, kini mereka dihadapkan oleh tahun pertama yang bahkan tak diketahui darimana asal-usulnya. Sepertinya intra squad kali ini benar-benar mengesankan bagi para senpai.

"Aku melihatnya dari bangku dan lemparannya benar-benar tak biasa, benar kan Zono?"

Zono mendongak untuk bertemu dengan senpai kelas tiga yang menatapnya kasihan. Dilemparan ketiga, Zono tak dapat melakukan kontak dengan bola yang mengharuskan dia mendapat 'out' dari wasit.

Kini dia berpikir bahwa harapannya untuk memasuki string pertama hilang dalam sekejap. Tentu pelatih akan menganggap dirinya sebagai orang yang lemah yang dengan mudah dikalahkan oleh adik kelasnya sendiri yang bahkan baru saja lulus dari SMP. Dia merasa frustasi.

"Aku mengira tidak ada yang spesial darinya, dia mengeluarkan bola lurus biasa dan aku melewatinya. Pada saat itu, aku berpikir itu adalah suatu keberuntungan, namun lemparan terakhir itu…." Zono menggantung perkataannya yang membuat semua anggota penasaran. "Apa?"

"Aku sangat yakin bahwa bola itu bukanlah bola lurus biasa, melainkan bola yang bergerak?"

"Mengapa kau bertanya kepada kami?" Zono tak menjawab. Dia sendiri tak dapat mengingat apa yang terjadi didalam lapangan sebelumnya, pitch apa yang dilemparkan maupun teknik yang digunakan, Zono tak dapat mengatakannya dengan jelas.

Suasana bangku istirahat menjadi hening, semuanya berpikir mengenai kidal diatas mound. Mereka tak peduli dengan hasil akhir, toh mereka sadar bahwa pengalaman mereka lebih banyak dibandingkan dengan tahun pertama.

"Bolanya bergerak secara tak menentu, itu yang membuatnya sulit untuk dipukul." Semua anggota berbalik menghadap sudut ruangan, memperlihatkan seorang pemuda tanpa ekspresi menggosok bola bisbol nya menggunakan lap putih ditangannya; Zono bingung apa maksud dari perkataan kakak kelasnya yang satu ini.

"Apa maksudmu, Chris-senpai?" Tanya Ono, teman seangkatnya.

"Jika kalian memperhatikannya dengan teliti, hasilnya akan—maksudku dia adalah pelempar yang berbahaya." Balas pemuda bernama Chris.

"Hei, kau mau kemana, Chris?" Tanba bertanya melihat temannya yang mulai bangkit dengan membawa tas yang tersampir dibahu kirinya, bersiap meninggalkan bangku istirahat.

Chris menoleh, "Ayahku memanggil untuk menjalani rehab sekarang, jadi aku akan pergi atau ayahku akan menungguku terlalu lama."

"Oh baiklah," Seluruh anggota mengamati pemuda blasteran itu yang kian lama menjauh dari pandangan. Mereka tahu keadaan yang dialami oleh Chris dan merasa tak tega jika dia harus menonton dari bangku pemain sementara yang lain bertanding dilapangan.

Di sisi lain, keadaan para tahun pertama tak perlu dipertanyakan lagi. Kita semua tahu bahwa gaya permainan mereka semakin meningkat, dengan si pitcher yang selalu meneriakkan kata-kata semangat kepada tim membuatnya lebih kuat. Sayangnya mereka sama sekali belum mencetak skor dari tim senpai.

"Tanba-senpai benar-benar kuat," Ucap Kanemaru yang baru saja kembali ke bangku pemain setelah gagal memukul lemparan dari pitcher lawan.

"Dia adalah Ace tim, tentu saja kuat." Timpal Takatsu yang mulai bersiap untuk giliran batting.

"Tch, Ace diperbolehkan untuk mengikuti pertandingan ini ya."

Eijun yang mendengar keluhan hanya menggeleng, setidaknya ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Melihat kobaran semangat yang dipancarkan dari timnya itu sudah tampak memuaskan bagi Eijun. Tapi dia juga mempunyai kesadaran bahwa untuk tahun pertama masuk ke string pertama tidaklah mudah–lupakan tentang Furuya—sebab dia sendiri juga tak tahu pasti apa yang dibutuhkan Kataoka untuk koshien yang akan datang.

Eijun memang memiliki banyak waktu yang dihabiskan bersama sang pelatih; makan bersama, mandi bersama, atau bahkan tidur bersama sudah mereka lakukan untuk menunjukkan bahwa hubungan mereka merupakan sahabat sejati. Meski banyak hal yang dulu dilakukan bersama-sama, Eijun tak pernah sekalipun mengetahui selera milik pria bermarga Kataoka itu.

Dia makan apapun yang dihidangkan, bahkan pie gosong yang Eijun buat pun dia makan; Eijun tak tahu dia harus senang atau sedih saat melihatnya dengan lahap memakan pie buatannya dan mengatakan bahwa makanan itu enak. Kataoka juga tak mempunyai tipe pasangan apa untuk hidupnya, itu menjelaskan mengapa dia masih lajang sampai saat ini. Bahkan ada yang mengatakan Kataoka aseksual atau semacamnya.

Tak ada yang dapat menjelaskan selera dari pelatih Seidou Kouko ini. Apalagi dengan usia yang sudah 35 tahun itu, semakin sulit untuk menjelaskan apa yang dia pikirkan.

"Berpikir terlalu keras dapat membuat otakmu meledak, Bakamura."

"Berhentilah menyebutku bodoh Miyuki Kazuya!" Teriak Eijun tepat pada telinga Miyuki. Si empu hanya meringis meski dalam hati bertanya-tanya apakah telinganya masih bisa berfungsi atau tidak; sementara Eijun terkikik senang atas ekspresi yang diberikan oleh catcher.

"Hahahaha Wajahmu benar-benar mirip orang bodoh, Kazuya."

.

.

.

"Maaf, kau menyebutku apa tadi?" Tanya Miyuki memastikan pendengarannya baik-baik saja.

Butiran keringat mulai mengucur dari pelipis Eijun, entah mengapa suasana disekitarnya menjadi sangat dingin. "A-Apa yang kau maksud Miyuki K-Kazuya? Aku mengatakan bahwa wajahmu sangat mirip d-dengan orang bodoh, t-tidak ada yang lain. H-Hahahaha" Eijun mengutuk dirinya yang gugup dibawah pandangan Miyuki.

Miyuki mengernyit, merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan. Tapi dia tidak dapat bertanya lebih lanjut sebab wasit sudah meneriakkan pergantian posisi. Dengan pelindung catchernya, dia berjalan keluar tempat istirahat melewati Eijun yang masih memberikan ekspresi aneh yang tak dapat dipahami Miyuki


Akhirnya pertandingan berakhir dengan skor 14-3 yang tentu dimenangkan oleh tim senpai. Eijun hanya mengizinkan tim lawan untuk mencetak 1 run saja, tapi dengan cepat mengembalikan fokusnya sehingga tak mempengaruhi permainan lebih lanjut. Sayangnya, Kataoka mengganti dirinya di inning ke 8 menjadikan tim hancur berantakan.

"Jika saja pelatih tidak mengganti Sawamura saat itu, tahun pertama pasti dapat mencetak skor lebih banyak lagi, kan Masuko-san?" Tanya pemuda bersurai hijau yang dibalas anggukan oleh senpai disampingnya.

"Tapi home run mu tadi itu luar biasa." Kuramochi mengingat home run yang ada di pertandingan siang tadi. Di inning ke 6, Masuko memukul lemparan fastball Eijun dan satu-satunya orang yang dapat mendapatkan skor dari si kidal.

Ia mengangguk mendapatkan balasan yang berupa tulisan dikertas bertuliskan 'Terima Kasih'.

"Aku yakin saat ini dia sedang menangis dikamar. Kyaha" Kuramochi membayangkan betapa serunya dia dapat mengejek kidal tertentu yang dia duga sedang menangis lebay dikamarnya. Pasti menyenangkan.

Kuramochi menyeringai ketika pintu nomor 5 mulai tampak. Dalam pikirannya sudah terdapat berbagai ejekan yang akan dia lontarkan nantinya. Membuka pintu kamar dengan hati-hati, lalu mengintip sedikit apa yang sedang dilakukan Eijun dikamar.

Secara reflek dia langsung mengeluarkan tendangan dipunggung, tak peduli dengan akibat patah tulang yang dialami brunette esok hari.

"Apa-apaan Kuramochi-senpai?!" Pemuda yang sedang asik menonton televisi ditemani puding yang tidak diketahui siapa pemiliknya itu terkejut dengan aksi tiba-tiba dari sang senpai. Eijun merasa bahwa dia harus pergi ke dokter terapi sekarang, punggungnya benar-benar sakit. "L-Lepaskan aku"

Kuramochi mencekik leher Eijun dengan kuat, tak lupa untuk bergulat dengan tubuhnya. Bergulat dengan kidal satu ini memang menyenangkan, tubuhnya lentur sehingga Kuramochi tidak khawatir tentang cedera. "Kenapa kau malah bersantai-santai, Bakamura?" Geram Kuramochi.

"Apa maksudmu Kuramochi-senpai?" Berjuang untuk melepaskan shortstop namun sia-sia, tenaganya tak sekuat itu. Alhasil, Eijun hanya dapat pasrah dengan apa yang dilakukan senpai bersurai hijau ini kepadanya.

Bersambung...


Maaf apabila ada yang tyapo dan kata-kata yang kurang dimengerti. Tetap dukuang terus ya!

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!