Previous
Sehun beranjak dari ruang rapat tersebut diikuti Luhan dengan lirikan mata Sehun yang mengajak seketarisnya untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Sesampainya diruangan sang direktur, Luhan bingung kenapa suaminya jadi emosian.
"Sajangnim, anda baik – baik saja?" Luhan bertanya karena sedari tadi Sehun hanya diam dan memasang wajah kesalnya
"Hm" hanya gumaman saja yang diberikan oleh Sehun dan hal itu membuat Luhan semakin khawatir dengan suaminya
"Kau kenapa Hun? Jangan pendam sendiri masalahmu" Luhan tidak bisa untuk tidak peduli dan menghilangkan rasa hormatnya pada sanga atasan yang merupakan suaminya sendiri
"Aku hanya emosi Lu, setiap ada rapat denganku. Maka semuanya akan sama seperti yang kau lihat tadi dimana partner bisnisku selalu mempromosikan putrinya padaku seolah aku tertarik dengan mereka dan jika aku tertarik maka akan menjadi keuntungan besar untuk mereka merampas seluruh kekayaanku melalui putrinya"
Luhan duduk dipangkuan sang suami dan merasa kasihan dengan suaminya yang selalu mendapat masalah jika rapat, tapi bagaimana pun banyak orang jahat berwajah malaikat untuk mengambil keuntungan bagi mereka.
"Jangan dipikirkan, kau bisa gila Sehun. Mending kau pikirkan masa depan kita"
"Hah?"
"Ya, masa depan kita dengan anak – anak kita. Apa kau sudah memiliki nama yang tepat untuk anak kita?" Luhan bertanya antusias sekaligus untuk menghilangkan pikiran suaminya yang masih tertuju pada masalah rapat barusan
"Hm, kita cari bersama Lu" Sehun membuka ponselnya dan mulai mencari nama yang tepat dari internet dan sesuai dengan aturan – aturan dari Korea dalam memberikan nama pada anaknya. Luhan juga antusias membantu suaminya untuk mencari nama anak mereka dibandingkan melihat suaminya seperti orang yang putus asa dalam menjalani hidup
..
..
..
#Sukinanda - #I-Love-You
..
..
..
Main Cast : HunHan
Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita
..
..
..
Luhan keluar dari ruangan Sehun dengan hati senang karena setidaknya suaminya tidak stres karena memikirkan rapat sebelumnya, seharusnya dirinya yang marah karena partner bisnis suaminya dengan kurang ajarnya memamerkan anaknya didepan suaminya dengan kurang ajar tapi Sehun lebih stres dibandingkan dengan dirinya.
Maka dari itu, dirinya menghibur Sehun sang suami dengan membahas masa depan mereka dan nama untuk anak – anak mereka yang mungkin akan mereka buat tahun depan. Walaupun terlalu cepat untuk mencari nama anak sekarang, setidaknya hal itu bisa membuat suaminya melepaskan rasa stresnya karena masalah yang menimpahnya.
Setelah keluar dari ruangan Sehun, dirinya kembali bekerja untuk mengerjakan berkas yang tertunda akibat menenangkan suaminya terlebih dahulu baru bisa hatinya bekerja dengan tenang.
CLECK
"Lu, tolong buatkan kopi" Sehun membuka pintunya dan langsung mengatakan pada Luhan yang notabane seketarisnya saat ini dan untuk kedepannya
"Baik sajangnim" Luhan menurut dan pergi kedapur sesuai dengan yang diajarkan oleh Maiyan untuk menyiapkan kopi atau minuman sesuai dengan permintaan atasan mereka
Setelah selesai membuat teh manis, Luhan mengantarkan minuman tersebut pada atasannya yang mungkin ingin melepas stresnya dengan minum kopi namun itu adalah kebiasaan buruk sehingga dirinya memberikan teh manis sebagai minuman untuk menambah energi.
TOK TOK TOK
"Masuk" suara dingin dan datar menjawab dari dalam, dirinya harus terbiasa dengan sikap Sehun yang berbanding terbalik jika sedang bersamanya sebagai istri dengan dirinya yang sedang bekerja sebagai seketaris
"Ini minumannya" Luhan meletakkan dengan sopan diatas meja atasannya
"Kenapa teh manis, tadi saya pesan kopi?" Sehun terkejut karena pesanannya berubah, dirinya tahu jelas untuk membedakan mana kopi dan mana teh manis
"Sajangnimku yang tampan, tidak baik minum kopi untuk menghilangkan rasa stresmu. Untuk hari ini lebih baik teh manis saja karena tubuhmu pasti lelah karena banyak kerjaan"
"Baiklah"
Sehun memilih pasrah saja dibandingkan dengan mereka bertengkar karena tragedi kopi dan teh manis dimana mereka baru saja memilih hidup bersama. Luhan tersenyum puas karena tujuan mulianya sudah berjalan dengan baik dan dirinya cukup sedih dengan suaminya entah udah berapa lama mengkonsumsi kopi jika sedang merasa stres dan banyak pikiran.
"Hah... Ini Lu tolong bawa kedapur" Sehun memberikan gelasnya yang sudah selesai diminum dengan sekali teguk, biasanya seorang seketaris tidak pernah menunggu atasannya untuk menghabiskan minuman yang dibawa tersebut namun karena Luhan hanya seorang seketaris baru sehingga banyak yang belum diketahui atau mungkin karena terbiasa sebagai istri dari direktur Oh Sehun sehingga menunggunya untuk menghabiskan minuman tersebut
"Baiklah, saya permisi dulu sajangnim" Luhan keluar dari ruangan tersebut dengan sopan sesuai dengan yang diajarkan oleh Maiyan, sebenarnya dirinya yang memaksa Maiyan untuk mengajarinya dari awal layaknya anak baru yang tidak kenal sama sekali dengan atasannya
Luhan beranjak kedapur untuk meletakkan gelas kotor tersebut dan langsung balik ketempatnya untuk melanjutkan kerjaannya yang masih belum siap, walaupun ini hari pertama namun tugasnya tidak akan berkurang justru bertambah karena yang dikerjakan Hyomin masih ada yang belum beres.
..
..
..
Sore harinya Sehun yang sudah selesai dengan semua kerjaannya langsung menghampiri meja Luhan yang berada tepat didepan ruangannya dan melihat Luhan yang masih bekerja namun terkesan menawan ketika sedang fokus bekerja.
"Lu..."
"Iya Sajangnim?" Luhan mengalihkan perhatiannya dari berkas yang dikerjakannya kearah atasannya yang berdiri disebelahnya
"Ayo pulang"
Luhan mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari atasannya tersebut dan melirik jam yang ada dikomputernya, dan terkejut karena sudah pukul lima sore.
"Baik, sebentar sajangnim" Luhan merapikan kerjaannya dan mematikan komputernya sesuai dengan yang diajarkan oleh Maiyan tadi pagi
Sehun hanya diam sambil memperhatikan istrinya yang merapikan semua berkas diatas meja, dirinya tidak menyangka jika Luhan mampu bekerja dengan baik padahal banyakan anak direktur seperti Luhan tahunya hanya shopping dan menghabiskan kredit card yang diberikan oleh orang tuanya namun berbeda dengan Luhan yang serba bisa dan itu membuatnya semakin tertarik dimata Sehun.
"Sudah, ayo" Luhan menggandeng tangan suaminya, karena jam bekerja sudah habis maka tidak ada keraguan untuknya menggandeng tangan Sehun atau bahkan menciumnya dilobi
Setelah sampai mobil Sehun menjalankan mobilnya untuk keluar dari kawasan perusahaannya menuju rumah mereka tempati sejak menikah. Didalam mobil Luhan menghabiskan waktunya dengan menyanyi mengikuti music yang diputar.
"Lu, kita makan dirumah atau diluar?" Sehun bingung karena Luhan bekerja dari pagi hingga sore dan jikalau Luhan ingin memasak maka akan menambah beban saja yang sudah didapat dari kantor ditambah menjadi ibu rumah tangga
Luhan terdiam karena dirinya juga bingung, dirinya bisa memilih dua – duanya tetapi untuk suaminya dirinya ingin yang terbaik karena makan makanan diluar tidak baik untuk kesehatan karena kita tidak tahu minyak yang digunakan seperti apa.
"Aku mau masak saja, tetapi itu pun jika suamiku yang tampan bisa menunggunya dengan baik"
"Bukan aku tidak bisa menunggunya Lu, aku merasa kasihan saja padamu karena sudah mendapat beban dari kantor tambah urusan rumah tangga" itu lah alasan Sehun kenapa Luhan tidak diijinkannya untuk bekerja apalagi menjadi seketarisnya, dengan kata lain jika dirinya lembut maka Luhan yang statusnya sebagai seketaris harus menemaninya untuk membantu beberapa pekerjaan
"Aku tahu niat baikmu sayang, tapi itu sudah menjadi kewajibanku. Dan masalah makan malam diluar itu tidak baik untuk kesehatan, dan aku tidak mau kau kenapa – kenapa"
Sehun tersenyum mendengar nada khawatir dari istrinya, dirinya merasa sangat beruntung karena bisa memiliki Luhan seutuhnya untuk dirinya saja. Namun lebih bersyukur lagi Luhannya sudah melupakan masa lalu dan hanya akan mengukir masa depan mereka yang indah kelak.
"Mungkin aku akan mencari seketaris baru saja, aku tidak mau kau kelelahan. Tolong pahami suamimu ini Lu"
Sehun mengatakannya dengan tegas berharap Luhan tidak membantahnya atau mungkin melawannya hanya karena keputusan yang dia ambil, tentu saja dirinya tidak ingin sang istri kelelahan dan mengabaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan ucapan Luhan bahwa sang istri tidak ingin dirinya jatuh sakit karena makan junk food.
"Baiklah" Luhan mengangguk pasrah, jika itu kemauan suaminya untuk kebaikan bersama maka dirinya tidak bisa menolak dan hati kecilnya mengatakan apa yang dikatakan suaminya ada benarnya juga karena bisa – bisa dirinya kelelahan karena harus mengerjakan semuanya dengan cepat setiap harinya
"Ah... Aku kemarin baru chating dengan Suho" Luhan teringat jika dirinya dan Suho cukup menghabiskan waktu untuk berchating sambil menanyakan kabar masing – masing
"Hm, lalu?" Sehun menjawab malas karena istrinya menyebut nama laki – laki lain didepannya
"Hei, jangan begitu kenapa. Kau seperti tidak suka jika aku menyebut nama laki – laki lain didepanmu" Luhan mencibir suaminya yang cemburu jika dirinya menyebut nama laki – laki lain yang merupakan teman lama mereka semasa senior high school
"Memang" Sehun menjawab dengan lesu, jujur saja dirinya cemburu pada Suho yang menjadi topi bahasan Luhannya. Suho itu ganteng, baik, kaya walaupun dirinya masih lebih tampan daripada sang sahabat tapi tetap saja dirinya tidak suka jika Luhannya menyebut nama laki – laki lain didepannya termasuk sahabatnya yang sangat sempurna untuk jadi suami idaman yang sering diejeknya pendek
"Tidak perlu cemburu, aku tidak akan menduakanmu" Luhan menjawab sambil tertawa melihat tingkah polos suaminya yang sedang merajuk padanya
"Awas ya Lu kalau sempat menduakanku" Sehun meminta Luhan berjanji agar tidak menduakan dirinya kelak, tidak ada yang tahu masa depan mereka kelak entah bagaimana maka dari itu Sehun meminta Luhan untuk berjanji akan hal tersebut
"Iya, kau juga ya. Awas kalau tergoda dengan wanita manapun" Luhan tidak kalah sengit dengan Sehun untuk meminta berjanji agar tidak bermain dengan wanita lain dibelakangnya
"Hei, untuk apa aku berjanji. Bukankah kau sendiri sudah tahu jawabannya. Mungkin mataku bisa terpesona tapi penisku tidak menerima kehadiran wanita tersebut"
"Hahaha... Aku lupa" Luhan tertawa karena baru teringat jika penis suaminya tidak bisa bangun walaupun kalian menggodanya habis – habisan
"Kan, aku lupa jadinya bicara samamu. Suho katanya sudah resain dari perusahaan yang lama, mungkin dia bisa menjadi seketarismu mengingat jabatannya merupakan seorang seketaris" Luhan memarahi suaminya karena membuatnya hampir lupa dengan apa yang ingin dikatakannya, jika saja Suho bekerja dengan suaminya maka tidak akan menjadi masalah besar mengingat mereka sangat akrab dengan Suho ditambah Suho sudah seperti orang tua mereka untuk memberikan kekuatan dan amanat
"Benarkah?" Sehun terkejut namun senang jika Suho sang sahabat sudah resain dari kerjaan yang lama sehingga dirinya bisa menawarkan menjadi seketaris untuk sang sahabat yang selalu menemani mereka bagaikan orang tua
"Hm, tapi awas saja ya" Luhan mengancam namun dalam hatinya dirinya ingin tertawa karena niat jahilnya mengerjai sang suami yang sangat jarang bisa dibully
"Awas apa?" Sehun mentap Luhan dengan polosnya untuk meminta penjelasan atas perkataan sang istri cantiknya
"Awas kalau kau menjadi gay karena menyukai Suh Hahaha..." Luhan tertawa habis – habisan karena suaminya masuk kedalam jebakannya
"YAK! Tentu saja aku tidak seperti itu, penisku saja tidak bisa bangun digoda wanita apalagi pria" Sehun memarahi istrinya yang membullynya dengan sadis, tapi ada sedikit senangnya karena Luhannya sudah seperti biasa yang suka menjahili orang lain disaat tertentu
"Mana kita tahu, tapi aku tidak keberatan jika itu Suho"
"Awas saja kau LU"
"Hahaha..."
Sisa perjalanan dihabiskan sambil saling menggoda dan tertawa bersama, seandainya Luhan membuka hatinya sejak lama untuk Sehun maka mungkin saja sekarang dirinya bisa mengandung anak – anak mereka yang seperti Sehun tampan atau mungkin seperti dirinya cantik.
..
..
..
Setelah selesai makan malam dengan sederhana, Luhan dan Sehun masuk kedalam kamar mereka untuk saling melepas rindu karena kebiasaan mereka selalu menghabiskan waktu bersama jika sedang berdua.
"Aku telepon selingkuhanmu ya" Luhan mengambil ponselnya untuk menelepon Suho yang dijadikannya sebagai bahan candaan selingkuhan suaminya, Sehun hanya diam saja karena menjawab ejekan Luhan sama saja cari ribut yang tiada ujung batasnya
"Hallo, Suho" Luhan menyapa pertama ketika sambungan teleponnya dijawab oleh yang diteleponnya
"Hallo, ada apa Lu?." Suho cukup bingung karena tidak biasanya Luhan langsung menelepon karena kebiasaan Luhan adalah selalu mengirim pesan sepenting apapun masalahnya
"Suho, kemarin kau bilang kau sudah resain bukan?" Luhan bertanya sambil menatap suaminya yang memainkan handphonenya karena bingung tidak ada kerjaan yang bisa dikerjakan
"Hm, iya. Ada apa Lu?." Bukannya tambah mengerti justru Suho semakin bingung karena Luhan bertanya pada hal yang sama padanya
"Aku ada solusi untukmu, bagaimana kalau kau menggantikan diriku sebagai seketaris untuk Sehun" Luhan langsung to the point karena melihat wajah Sehun sudah pasti suaminya tidak suka jika dirinya berbicara terlalu lama dengan laki – laki lain termasuk Suho sahabat mereka
"Benarkah? Lalu dirimu?." Suho senang namun disatu sisi dirinya tidak ingin merebut pekerjaan orang lain yang merupakan sahabatnya
"Aku resain, suamiku tidak membiarkan aku bekerja Suho ya"
"Baiklah, kapan aku bisa interviewnya?." Suho senang karena Tuhan memberikan jalan untuknya mendapatkan pekerjaan yang baru dan lebih layak dari sebelumnya
"Bentar aku tanya Sehun dulu"
Luhan menjauhkan ponselnya dari telinga kemudian menutupnya dengan telapak tangannya agar Suho tidak mendengar perbincangan mereka "Sehun, kapan selingkuhanmu bisa interview?"
"Besok sudah bisa bekerja" Sehun menjawab sekilas tanpa mengalihkan perhatiannya dari handphone miliknya, dirinya cukup risih dengan sebutan selingkuhan padahal dirinya pria sejati
"Ok" Luhan tersenyum senang mendengar jawaban sang suami dan langsung mengarahkan handphone ketelinganya untuk berbicara dengan Suho yang menanti jawaban darinya
"Hallo Suho ya" Luhan menyapa duluan sebelum melanjutkan ucapannya, dirinya takut berbicara panjang lebar tetapi orang yang disebrang sana tidak mendengarnya
"Ya Lu, ada apa."
"Mulai besok kau sudah bisa bekerja dikantornya, kau tahu alamatnya kan?"
"Tahu, terima kasih Lu."
"Hm sama – sama, bye"
"Bye."
Luhan memeluk suaminya setelah meletakkan ponselnya diatas nakas, dengan nakal Luhan menggigit leher putih Sehun yang sudah menjadi kemerahan akibat ulahnya.
"ARGH..." Sehun terkejut karena Luhan menggigitnya secara tiba – tiba padahal dirinya tidak ada menggangu sang istri
"Gomawo sudah rela menungguku untuk selama ini" Luhan tidak bisa menahan rasa senangnya akibat memiliki suami yang sudah tampan namun sangat penyayang seperti Sehun
"Aduh.. Lu... Kalau mau terima kasih apa perlu sambil mengigit" Sehun mencibir istrinya yang menjadi agresif hanya untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya
"Perlu dong.. karena kita akan melakukan..." Luhan mendekati suaminya dan berbisik tepat ditelinga sang suami "Sesuatu yang menyenangkan malam ini"
Luhan langsung menerjang suaminya dengan memberikan ciuman terdahsyat yang dia milik sedangkan sang suami yang diperlakukan secara kasar cukup terkejut namun senang jika Luhannya menjadi agresif seperti saat ini karena dirinya ingin Luhan yang memberikan tubuhnya dengan sama – sama bernafsu bukan hanya sepihak.
"AH..." Sehun mendesah karena tidak menyangka jika Luhannya bertambah nakal, ketika mereka berciuman dengan nikmatnya tangan sang istri turun dan meremas penisnya dengan kuat namun tidak sampai menyakiti miliknya
Mendengar desahan suaminya, dengan cepat Luhan melepaskan ciuman mereka dan fokus pada penis suaminya. Dengan satu gerakan Luhan berhasil membalikkan badan suaminya hingga sang suami membelakangi dirinya, dan dirinya hanya ingin memberikan sedikit pertunjukan yang memuaskan sang suami.
Dengan gesit Luhan meremas selangkangan sang suami dari arah belakang dengan tangan yang dimasukkan diantara paha Sehun yang ngangkang.
"OUH..." Sehun tidak menyangka jika dirinya terbakar birahi walaupun penisnya masih berada dalam sangkar
Tidak ingin kalah dari sang istri, Sehun langsung membalikkan situasi dengan dirinya sebagai penguasa yang akan memberikan kepuasaan sedangkan Luhan hanya tersenyum mesum saja untuk menikmati adegan selanjutnya. Pasangan suami istri yang umur pernikahannya baru seumur jagung bercinta hingga pagi menjemput mereka.
~TBC~
