Haihai~ karena keterlambatan update. Aku jadi update pagi" nih ^^ hehe
Enjoy ya!
Sorry for typo-
The 2nd Meeting
Chapter 11
.
.
"Se-Sehun…"
Sesaat setelah lamunan Sehun berakhir, sosok Luhan muncul di hadapannya. "Ha-hai, Luhan…" hanya sapaan canggung yang keluar dari mulut Sehun. Keduanya terdiam dan hanya menatap satu sama lain. Cukup lama hingga mereka sadar dan saling memalingkan pandangan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Luhan.
"Ten…tu… kau baru ingin makan?"
"Hm…" angguk Luhan.
"Kalau begitu, nikmati makananmu. Aku permisi…" ucap Sehun lalu pergi begitu saja dari hadapan Luhan.
Masuk ke mobilnya, Sehun berkali-kali membenturkan dahinya ke kemudi. 'Mengapa aku lakukan itu? Sial!' sesalnya. Rasanya ingin ia kembali dan memeluk Luhan, tapi itu tidak mungkin. Sehun melihat Luhan keluar dari kafe dengan terburu-buru, sosok kecil itu lalu menghilang ditelan keramaian.
"Mianhae…" lirih Sehun. Setelah itu, ia memutar kemudinya dan bergegas kembali ke kantor.
..
..
Sehun sampai di kantor dengan mood yang lebih buruk dari ia berangkat. Para karyawannya bahkan bertanya-tanya dengan keadaan pimpinan mereka itu. Biasanya Sehun hanya menampilkan wajah dingin dan seriusnya, tapi sekarang 'kekacauan' terpancar jelas dari wajahnya. Sampai di depan ruangan, sekretarisnya segera menghampiri dengan terburu-buru. "Presdir, Nona Bae–"
"–dimana dia sekarang? Kau sudah mengajaknya berkeliling?" tanya Sehun.
"Mengenai itu…"
Sehun menghentikan langkahnya lalu menoleh pada sekretarisnya, "wae?"
"…tadi Presdir Bae memberitahu bahwa hari ini mereka memiliki urusan mendesak sehingga meminta mengunduran Nona Bae bergabung ke perusahaan."
"Sampai kapan?"
"Tiga hari lagi, Presdir Bae bilang begitu."
Sehun mengangguk, "baiklah." Setelah mengatakan itu, Sehun segera masuk ke ruangannya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan matanya erat-erat, rasanya ada kelegaan karena tidak harus bertemu wanita itu. Ia melirik berkas-berkas di mejanya, sejak kapan berkas-berkas tertumpuk di mejanya seperti ini? Sebelumnya Sehun tidak akan pernah membiarkan berkas apapun di mejanya terlantar begitu saja, ia pasti selalu menyelesaikannya dengan cepat. Namun, saat ini ia sedang tidak ingin melakukan apapun. Kepalanya dipenuhi Luhan dan juga perjanjiannya dengan Presdir The Bigest Company tersebut.
..
[Flashback On]
"Jadi Sehun-ssi… kedatanganku kali ini karena ingin meminta bantuanmu…"
Sehun tersenyum, "tentu saja, Presdir. Saya akan membantu semaksimal mungkin."
"Pertama, mengenai rumor yang baru-baru ini beredar–"
"–jangan khawatir Presdir Bae. Saya akan mengatasinya setelah ini." ucap Sehun cepat. Ia merasa tidak enak karena harus terlibat rumor, terlebih dengan putrinya.
"Justru itu Sehun-ssi… bisakah kita biarkan saja rumor itu?"
"Maksud Anda?" tanya Sehun bingung.
"Kali ini akan sulit mengatasinya karena kalian sama-sama baru kembali dari Hawaii."
"Tapi kami tidak–"
"Aku tahu, kalian tidak bersama. Tapi ini hanya akan memperburuk keadaan, sudah ada foto kalian berada di pantai yang sama." sela Presdir Bae. Sehun terdiam, ia bahkan tidak tahu jika putri Presdir Bae berada di tempat yang sama dengannya. "Setelah seminggu, kalian bisa membuat pengumuman bahwa hubungan kalian berakhir."
"Ne?" tanya Sehun tidak percaya.
"Bukankah ini tidak merugikanmu? Lagipula kita dikenal memiliki hubungan yang baik, bukan begitu Sehun-ssi?" tanya Presdir Bae.
"Tapi…" Suara Sehun menghilang, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Atau… kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Presdir Bae lagi. Sehun masih tidak merespon, ia bahkan tidak yakin dengan status hubungannya dengan Luhan.
"Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku kan, Sehun-ssi? Pikirkan apa yang akan terjadi pada perusahaanmu jika hubungan kita merenggang karena hal sepele ini." ucap pria paruh baya itu dengan nada sedikit mengancam.
Sehun tetap tidak menjawab, ia perlu mendengar yang kedua, jika tadi adalah yang pertama. "Lalu, permintaan kedua Anda, Presdir?"
Presdir Bae tersenyum, "jika yang pertama disepakati, maka aku akan memintamu untuk membimbing Putriku, Joohyun, sebelum ia mengambil alih jabatan wakil di perusahaan. Jika ia melakukan pelatihan di perusahaan, akan ada banyak mata yang mengamati. Bisa saja mereka membantu dan memanfaatkan keadaan."
Sehun memikirkannya dalam-dalam, apa hanya ini satu-satunya cara? Perusahaannya memang bergantung besar pada perusahaan mereka. "Hanya itu caranya, Presdir?"
"Itu sudah yang terbia. Aku tidak pernah menyarankan hal buruk bagi perusahaan kita, bukan?"
Sehun menghela napasnya diam-diam, "kalau begitu, sepakat."
[Flashback Off]
.
.
[Butik Lu&B]
"Lu!"
"Luhan!"
Baekhyun terus berlari berusaha menyusul Luhan, tapi yang dikejar sama sekali tidak meresponnya. "Luhanniee! Tunggu!" Langkah kaki Baekhyun mulai melambat ketika melihat wanita yang berlari itu memasuki ruang kerjanya. Tak lama kemudian, Baekhyun ikut masuk ke ruangan Luhan.
"Lu…" Baekhyun terkejut melihat betapa kacaunya wajah Luhan saat ini. Wajah wanita itu terlihat pucat dengan air mata yang membasahi pipinya. "Lu! Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun saat sudah berada di hadapan Luhan.
"Baek…"
"Katakan padaku, ada apa?" seru Baekhyun.
"Aku…" Luhan menarik napasnya dengan susah payah, "…aku bertemu Sehun…"
Baekhyun membulatkan matanya, sedikit terkejut dan bertanya-tanya. "Lalu?"
"Dia tidak mengatakan apapun…" mata Luhan terlihat begitu menyedihkan saat mengatakannya. Ia terlihat begitu syok. "Baek… beritahu aku, apa maksudnya ini? Apa dia menghindariku lagi? Atau… berita kemarin adalah benar?"
"Lu…"
"Baek…" Luhan meraih lengan sahabatnya itu dan meremasnya tanpa tenaga. "A-aku tidak sanggup… dadaku sesak setiap kali memikirkan kemungkinannya. Eotteokhae…"
"Lu–"
"–atau…" Luhan menatap Baekhyun nanar, "…apa aku harus mendatanginya dan meminta penjelasan? Tapi, aku takut… bagaimana jika ia benar-benar meninggalkanku–"
"Luhan! Tenanglah! Kendalikan dirmu!" Bentak Baekhyun.
Luhan menggeleng, "tidak bisa… rasanya terlalu menyiksa… bahkan ini lebih menyakitkan daripada aku harus tenggelam di laut–"
Baekhyun segera membawa Luhan kepelukannya, ia mengusap punggung Luhan dengan lembut. "Lu, tenangkan dirimu… jangan seperti ini, lebih baik kau marah saja! Umpat pria itu! Kalau kau mau, aku bisa menyeret pria itu kemari dan luapkan emosimu padanya. Jangan begini…"
"Sepertinya aku salah sudah memutuskan untuk kembali…"
"Tidak! Kau tidak salah, kau mencintainya Luhan! Tidak ada yang salah dengan mencintainya." Baekhyun mencoba memberi pengertian.
Tangis Luhan pecah, ia sudah tidak kuat lagi menahan rasa sesak di dadanya. "Aku mencintainya Baek… apa yang harus aku lakukan…" Baekhyun benar-benar mengumpat Sehun dalam hatinya sebelum menenangkan Luhan kembali.
Dari balik pintu, di luar ruangan, ternyata Chanyeol tidak sengaja mendengar percakapan kedua wanita tersebut. Awalnya ia ingin melihat keadaan Luhan, namun ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu. Setelah hanya terdengar suara tangisan, Chanyeol segera pergi dari sana dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Sehun.
"Ya! Dimana kau?!" tanya Chanyeol sedikit membentak. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah khawatir saat mendengar jawaban dari Sehun. "Gwaenchanha?"
"…"
"Kita perlu bicara…"
"…"
"Kau berniat untuk memperbaiki hubungan kalian atau mengulang kejadian yang sama?"
"…"
Chanyeol mendesah kesal, "…berhenti mengatakan hal tidak jelas. Kau perlu bicara dengan Luhan, Oh Sehun! Kalau kau ingin menyelesaikannya sendiri, jangan terlalu lama mengulur waktu. Atau kau akan menyesal!" Setelah mengakhiri panggilan, Chanyeol kembali ke ruang kerja Baekhyun.
.
.
[Kantor Sehun]
"…berhenti mengatakan hal tidak jelas. Kau perlu bicara dengan Luhan, Oh Sehun! Kalau kau ingin menyelesaikannya sendiri, jangan terlalu lama mengulur waktu. Atau kau akan menyesal!"
"Hyung!–" Sebelum Sehun menanyakan keadaan Luhan, Chanyeol sudah terlebih dahulu memutuskan panggilan.
"Aghh! Aku bisa gila!" keluh Sehun. Ia menyedekapkan kedua tangannya di dada lalu memejamkan matanya. Ia mencoba membuat keputusan sambil menghitung berapa kali kepalanya berdenyut sakit.
"…Atau kau akan menyesal!"
"….Atau kau akan menyesal!"
Kata-kata Chanyeol benar-benar membuat Sehun gusar. Ia tidak mau kehilangan Luhan, namun di sisi lain ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada wanita itu. Bukankah ia akan menjadi egois jika memberitahu Luhan kebenarannya? Setelah membuat Luhan terluka, apa ia masih pantas untuk meminta pengertian darinya?
"….Atau kau akan menyesal!"
Sehun bangkit dari kursinya, 'persetan dengan itu semua! Aku tidak mau menyesal kedua kalinya!' Setelah itu, Sehun bergegas menuju ke butik Luhan.
..
Sesampainya di butik, Sehun segera menghubungi Luhan.
"Lu–"
"Akhirnya kau menghubungi juga, berengsek! Dimana kau? Jangan sampai aku menyeretmu kemari!"
Jantung Sehun berdebar lebih cepat, suara Baekhyun yang begitu emosi membuatnya yakin bahwa terjadi sesuatu pada Luhan. "A-aku di depan butik, dimana Luhan?"
"Masuk saja ke dalam, pegawai kami akan mengantarmu."
Setelah memantapkan hatinya, Sehun segera keluar dari mobil dan masuk ke butik.
..
[Kantor Luhan]
Luhan menatap Baekhyun dengan tatapan khawatirnya, "kenapa kau menyuruhnya kemari!"
"Kau perlu biacara padanya, Luhan. Aku tidak menyuruhnya, tapi ia sendiri yang kemari. Jadi pria itu benar-benar berniat untuk menjelaskannya padamu."
"Aku takut…"
Baekhyun berlutut di hadapan Luhan sambil menggenggam tangan sahabatnya yang masih bergetar itu. "Lu… aku tidak bisa mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi setidaknya kau harus berani menghadapinya. Bagaimanapun nanti, aku janji akan bersamamu." Luhan menatap Baekhyun ragu, namun anggukkan Baekhyun membuatnya sedikit yakin. Setelah itu, Luhan menganggukkan kepalanya. "Kalau perlu, aku akan bersembunyi di sini. Jadi kalau dia macam-macam, aku akan membunuhnya."
Luhan menggeleng, "gwaenchanha… aku akan menyelesaikannya."
Baekhyun tersenyum, "fighting!" Luhan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Saat Baekhyun keluar ruangan Luhan, Sehun baru saja sampai diantar salah satu pegawainya. Tidak menyapanya, Baekhyun hanya melirik Sehun sekilas lalu pergi dari sana.
Pintu terbuka, Luhan dengan otomatis menoleh. Matanya bertatapan dengan mata seseorang yang sangat ia kenal, namun sorot mata itu terlihat begitu berbeda. Apa ini? Apa kabar buruk akan mendatanginya? Pikir Luhan.
"Luhan…"
Luhan masih diam di tempatnya, ia bahkan tidak bergerak sedikitpun. Pria itu bergerak mendekati Luhan, sedekat mungkin, dan kini ia sampai di hadapan Luhan.
"Mianhae…" ucap Sehun. Hati Luhan mencelos, kenapa ia harus mendengar kata maaf dari pria itu? Apa yang akan ia katakan selanjutnya? "…aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya…" lanjut Sehun.
Luhan berdiri dari kursinya dan hampir kehilangan keseimbangannya, "k-kau tidak perlu menjelaskannya jika tidak bisa…" ucapnya tanpa menatap pada Sehun.
Sebelum Luhan pergi, Sehun berhasil menahan tangan Luhan. "Tunggu, tapi aku tidak bisa kehilanganmu lagi…"
Luhan berbalik, "apa maksudmu, Oh Sehun?"
"Mungkin setelah itu aku akan menjadi pria yang egois. Aku masih menginginkanmu meski akan menyakitimu lagi…" Luhan terdiam, ia masih menunggu perkataan Sehun selanjutnya meski ia benar-benar takut untuk mendengarnya.
"Mengenai yang kemarin…" akhirnya Sehun pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana ia harus menyepakati perjanjian itu dan berakhir dengan menyakiti Luhan karena ketakutannya.
Selama mendengar penjelasan Sehun, Luhan merasa lega. Ini aneh, perasaan takutnya meluap begitu saja saat mendengar Sehun menginginkannya. Kenyataannya, ia tidak terlalu mempermasalahkan perjanjian yang Sehun sebutkan.
"Jadi…" ucapan Sehun tertahan, setelah ia menjelaskannya, Luhan tak sedikitpun merespon.
"Kau benar-benar buruk, Oh Sehun…" kalimat pertama yang Luhan keluarkan membuat Sehun sedikit tersentak. "Kau… nappeun neo!" tatapan Luhan terlihat kesal.
Sehun menunduk, "mianhae…"
"Seharusnya kau menjelaskannya padaku lebih cepat! Aku jadi berpikir yang tidak-tidak, bodoh!" kesal Luhan.
Sehun terdiam, ada apa ini? Luhan terdengar marah padanya, tapi ini tidak seburuk yang ia pikirkan. Reaksi jenis apa ini?
"Aku mencintaimu, Oh Sehun. Seharusnya kau bisa melihat itu!"
Sehun masih bergeming, apa ia salah dengar? Seharusnya Luhan memakinya lagi, kan? Mengapa wanita itu mengungkapkan perasaannya? Sehun benar-benar dibuat bingung.
"Ya! Apa hanya aku yang mencintaimu disini?" Luhan menghempas tangan Sehun lalu berbalik hendak pergi. Namun Sehun dengan refleks menahannya.
"A-aku…" dada Sehun kembang-kempis, ia kesulitan untuk mengeluarkan kata-katanya. "Apa aku boleh mengatakan hal yang sama meski sudah menyakitimu? Apa kau benar baik-baik saja?"
Luhan menatap Sehun, "…lalu, jika aku memintamu untuk membatalkan perjanjian itu? Kau mau?"
Sehun kelabakan, bukannya ia tidak mau, hanya saja posisinya sangat sulit. "I-itu…"
Luhan tersenyum kecut, "lihat, kau tidak bisa kan?"
"Bukan begitu, aku–" ucapan Sehun terputus saat Luhan melingkarkan kedua tangannya melewati tubuhnya. Luhan memeluknya dengan penuh hati-hati.
"Aku rasa, aku harus menerima itu… karena aku mencintai pria yang tidak biasa." Ucap Luhan sambil menyembunyikan wajahnya ke dada bindang Sehun. "Jadi aku mohon buat aku yakin bahwa keputusanku tidak salah, Sehun…" lirihnya.
Sehun memegang kedua pundak Luhan lalu memncoba mencari pandangan wanita itu. Lalu dengan perlahan ia memajukan wajahnya dan mendaratkan ciuman lembut di dahi Luhan. "Aku mencintaimu, Luhan…"
Tiga kata itu sukses membuat jantung Luhan berdebar tak karuan. Sudut bibirnya hampir terangkat dan matanya berkaca-kaca. Entah kenapa ia mendengar kalimat itu sangat berbeda dari yang dahulu.
"…tidak…" lanjut Sehun, "…aku sangat mencintaimu, Luhan. Maka dari itu, menikahlah denganku!" Ucap Sehun sambil menatap Luhan tegas. Mata Luhan membulat besar, mulutnyapun terbuka lebar, ia benar-benar terkejut dengan lamaran Sehun yang mendadak dan tidak disangka-sangka.
"K-kau bercanda?"
Sehun merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Ia membukanya di hadapan Luhan, "aku serius, Luhan. Ketika Chanyeol hyung mengatakan bahwa aku akan menyesal jika kehilanganmu, aku sadar, aku benar-benar kacau tanpamu. Juga… jika aku tidak bisa berkencan denganmu, lebih baik aku menikahimu. Jadi, ini keputusanku." Sehun berlutut di hadapan Luhan masih sambil menggenggam tangan wanita itu. "Luhan… maukah kau menikah denganku?"
Luhan bisa melihat kesungguhan di mata Sehun. Ia menatap cincin berkilau itu dengan mata berkaca-kaca. "Sehun…" Sehun mendongak, menatap Luhan. Tanpa diduga, jawaban Luhan membuatnya benar-benar terkejut.
.
.
Keesokan paginya, kehebohanpun terjadi. Chanyeol dan Jongin segera mengunjungi apartemen pria yang paling muda itu setelah mendengar kabar mengejutkan.
"Ya! Maknae! Neo michoseo?!" teriak Chanyeol.
"Kau benar-benar gila, Oh Sehun! Lihat akibatnya!" Jongin terpingkal sampai air matanya keluar.
Sehun menatap kedua hyung-nya itu datar, "kalian kemari untuk mengejekku?"
"Tidak-tidak, bukan itu…" Jongin kembali tertawa, ia benar-benar tidak tahan, setiap ingin berbicara selalu berakhir dengan tawa.
"Lagipula Sehun-ah, kau pikir melamar wanita itu tidak perlu persiapan? Kalian memang pernah menjalin hubungan, tapi melamar setelah kalian bertengkar itu bodoh sekali!" ucap Chanyeol, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya itu.
Jongin berhasil mengendalikan tawanya, lalu ia mengambil napasnya beberapa kali. "Aku tahu kau tidak mau kehilangan Luhan, tapi bukan berarti kau harus langsung melamarnya."
BRAK!
Sehun membanting berkasnya dan membuat kedua hyung-nya terdiam. Ia menatap keduanya kesal, "aku tahu itu, hyung! Tapi aku bersungguh-sungguh. Lalu apa yang harus aku lakukan?" Sehun menutup mengusap wajahnya. Ia terlihat sangat frustasi.
"Apa yang dikatakan Luhan setelah kau melamarnya?" tanya Chanyeol.
Sehun mengangkat wajahnya, lalu menatap kedua hyung-nya. "Sekarang bukan saat yang tepat."
Jongin menjentikkan jarinya. "Luhan memang pintar, itu kenapa aku ingin menjadikannya adikku." Celetuknya.
Chanyeol menyikut perut Jongin kuat hingga membuatnya mengaduh. "Aku rasa itu memang benar, kau sedang dalam perjanjian dengan investormu, kan? Luhan juga sudah mengizinkanmu dengan itu."
"Tapi aku menyakitinya, hyung. Aku tidak tahu bagaimana harus menebusnya."
Chanyeol tersenyum, ia merasa Sehun sudah bisa memikirkan perasaan orang lain. "Kami hanya bisa mendoakanmu. Bersemangatlah." Ucapnya sambil menepuk pundak Sehun.
..
..
Sementara itu di apartemen Luhan…
"KAU MENOLAKNYA?!" teriak Baekhyun dan Kyungsoo serempak.
Luhan mengusap-usap kedua telinganya, "aku bisa tuli!" kesalnya.
"Ya! Luhan! Kau gila?! Kenapa ditolak?" teriak Baekhyun.
"Aku bukan menolaknya, Baek. Hanya… ini bukan saat yang tepat. Aku senang jika Sehun benar-benar sudah menemukan perasaannya, tapi dia masih berada di saat sulit." Jelas Luhan.
"Bagus Lu. Kau memang harus menolaknya, pria seperti itu benar-benar tidak bisa dipercaya. Kita lihat saja kelanjutannya nanti, apakah dia masih bersamamu." Sinis Kyungsoo. Saat ia mendapat kabar pertengkaran Sehun dan Luhan hingga keduanya berbaikan, Kyungsoo mulai tidak percaya pada Sehun. Saat mendengar Sehun melamar Luhan, ia hanya bisa tertawa.
"Kyungi-ya!" Baekhyun melotot pada Kyungsoo. Wanita yang dipelototi hanya balas mencibir.
"Apa menurut kalian, Sehun akan sedih? Apa dia berpikir aku tidak mencintainya?" tanya Luhan.
Baekhyun menggeleng, "jika ia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan mengerti. Aku akui dia memang terlalu gegabah, tapi saat aku melihatnya begitu putus asa sebelum menemuimu, sepertinya haya itu cara yang ia pikirkan untuk membuatmu bertahan. Apalagi, penjelasannya adalah sesuatu yang sulit dipercaya." Jelas Baekhyun.
"Lu, kau benar-benar membiarkan Sehun-ssi berpura-pura untuk menjalin hubungan dengan wanita kaya itu?" tanya Kyungsoo.
Luhan menoleh pada Kyungsoo lalu mengangguk, "hm…"
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Kyungsoo lagi.
Luhan tersenyum tipis, "bohong jika aku bilang baik-baik saja, kan?"
Baekhyun dan Kyungsoo saling berpandangan lalu memeluk Luhan dengan erat. "Kau benar-benar berjuang, saranghae uri Luhanniee~" ucap Baekhyun. Mata Luhan mulai berkaca-kaca, ia tersenyum, bersyukur memiliki sahabat yang selalu ada seperti mereka.
.
.
Beberapa hari kemudian, putri Presdir Bae–Joohyun, datang ke kantor Sehun sebagai karyawan pelatihan. Namun, tidak ada yang tahu mengenai hal itu kecuali sekretaris dan asistennya. Para karyawan lainnya hanya tahu bahwa Joohyun adalah kekasih pimpinan mereka meski tidak pernah terkonfirmasi.
Waktu sudah memasuki jam makan siang, Sehun keluar dari ruangannya setelah mengirimkan pesan pada Luhan. Sesaat ia keluar dari pintu, Joohyun baru akan masuk ke ruangannya.
"Ah, Presdir, apa Anda pergi untuk makan siang?" tanya Joohyun.
"Ne," jawab Sehun. "Kau juga, nikmati makan siangmu." Ucap Sehun lalu buru-buru pergi.
"Presdir,"
Sehun berbalik, "ne?"
Joohyun mendekat pada Sehun lalu membisikkan sesuatu, "bukankah lebih baik siang ini kita makan bersama?" usulnya.
"Maaf, aku tidak bisa."
Joohyun meraih lengan Sehun dan merangkulnya, membuat banyak mata curi pandang ke arah mereka. "Maksud saya… bukankah tidak baik jika karyawan melihat bahwa Anda adalah pria yang meninggalkan kekasihnya di jam makan siang?"
Sehun melihat ke sekelilingnya, para karyawannya lantas kelabakan dan kembali ke kegiatan mereka masing-masing. Sehun menghela napasnya, sepertinya ia merasa sudah masuk ke lubang yang dalam. "Aku tahu…" Sehun melepaskan rangkulan Joohyun dari tangannya, "…tapi ini masih di kantor, bersikaplah profesional. Kita perlu makan siang di kantin?" tanya Sehun dingin.
Joohyun diam-diam tersenyum menang, "tidak, lebih baik kita pergi ke suatu tempat. Aku punya rekomendasi tempat makan yang enak."
"Kalau begitu cepat, aku punya banyak pekerjaan setelah ini." Ucap Sehun.
Mengikuti arahan yang diberikan Joohyun, Sehun sedikit curiga karena merasa familiar dengan jalannya. Setelah sampai, benar saja, mereka tiba di sebuah kafe yang jauh dari kantor dan dekat dengan butik Luhan. Atau lebih tepatnya adalah kafe tempatnya biasa kunjungi.
"Bagaimana kau tahu tempat ini?" tanya Sehun dingin.
Joohyun tersenyum, "tentu saja dari internet, tempat ini sangat hebat. Apa kau pernah kemari, Sehun?" tanyanya sambil kembali merangkul Sehun, wanita itu bahkan menyandarkan kepalanya ke lengan Sehun.
Sehun melonggarkan dasinya, "entahlah, mungkin tidak… bisa kau lepaskan? Aku gerah." ucapnya datar sambil menarik tangannya.
"Uhh… padahal ini sudah di luar kantor." Rajuk Joohyun.
Sehun menoleh pada wanita itu, "kita bahkan hanya berpura-pura. Jangan berlebihan, Nona." Ucap Sehun lalu melangkah mendahului si wanita.
Joohyun menatap kesal pada punggung Sehun, "tidak pernah kemari ya? Tampaknya kau sangat kenal tempat ini, ya kan, Oh Sehun?" gumamnya.
Joohyun benar-benar merepotkan, pikir Sehun. Sejak tadi, wanita itu bertingkah seolah-olah mereka benar-benar pasangan, padahal mereka tahu kebenarannya. Apa-apaan ini? Pikir Sehun.
Kling!
Suara pitu dibuka membuat Sehun menoleh karena muak melihat wanita di hadapannya. Tiba-tiba tubuhnya membeku, ia melihat Luhan datang bersama Baekhyun, bahkan Kyungsoo juga. Mata mereka bertemu, namun dengan cepat Luhan mengalihkan pandangannya. Sehun hanya bisa menatap sosok Luhan yang masuk sambil berbicara pada Baekhyun dan Kyungsoo.
"Sehun, kau baik-baik saja?" tanya Joohyun.
"Ah, aku lupa. Aku harus memeriksa dokumen yang terlambat." Sehun bangkit dari kursinya. "Kita kembali,"
"Pura-pura? Yang benar saja, sampai makan siang bersama? Sepertinya Luhan sudah diperdaya!" Tiba-tiba Kyungsoo melewati Sehun dan Joohyun. Tatapannya benar-benar menusuk pada Sehun.
"Hei!" Tanpa diduga Joohyun menarik pundak Kyungsoo. "Kau ada masalah dengan kekasihku?!"
Kyungsoo mengerutkan dahinya, "maaf, nuguseyo?"
"Kau–"
"Tadi kau menyindir kekasihku, kan?!" ujar Joohyun.
Kyungsoo tertawa, "oh, dia kekasihmu? Maaf, aku tidak tahu." Lalu ia tersenyum dan detik kemudian wajahnya berubah mengejek, "padahal aku tidak bermaksud, kenapa kau marah? Merasa tersinggung?" Kyungsoo semakin berani. Tamu-tamu lain mulai berbisik dan menatap ke arah mereka.
"Ya!" bisik Sehun ketus pada Joohyun. Wanita ini benar-benar merepotkan, pikir Sehun.
"Kau, dasar–" tangan Joohyun terangkat, Kyungsoo tidak takut, ia malah dengan berani menantangnya.
Saat tangan itu akan menyapa pipi Kyungsoo, tangan Joohyun terlebih dahulu ditahan seseorang. "Jangan mengganggu wanitaku, Nona." Entah dari mana, Jongin sudah ada di antara mereka. Tidak hanya Kyungsoo yang terkejut, tapi Sehun juga terkejut dengan kemunculan hyung-nya di sana. Jongin menghempas tangan Joohyun dan menarik Kyungsoo menjauh.
"Kita pergi!" Sehun menarik tangan Joohyun agar keluar dari kafe.
"Apa yang kau lakukan?!" ketus Kyungsoo yang risih dirangkul oleh Jongin.
"Menyelamatkanmu, Nona manis," jawab Jongin sambil tersenyum menggoda. Kemudian ia berkata dengan serius, "hentikan, jangan memperkeruh situasi."
Sementara itu, Luhan hanya bisa menatap sedih pada Sehun yang menggandeng wanita lain. Ia baru menyadarinya, ternyata rasanya sesakit ini.
"Lu, kau baik?" tanya Baekhyun sambil menatap sahabatnya khawatir.
Luhan tersenyum lalu mengangguk, "hm… ayo makan, aku lapar. Bagaimana kalau makan di kantor?"
Baekhyun mengangguk, "hm, take away saja."
..
..
Sehun menancapkan gasnya kuat-kuat hingga membuat Joohyun protes, tapi ia tidak peduli.
"Ya! Oh Sehun!" teriak Joohyun.
Kemudian Sehun menepikan mobilnya dan menginjak remnya mendadak, "turun…" ucapnya dingin.
"Mwo?!"
Sehun menoleh dan menatap tajam wanita di sebelahnya, "turun kataku! Kau tidak tuli, kan?"
"Kau–"
"Turun sekarang!" suara Sehun meninggi. Tanpa protes lagi, Joohyun segera turun dari mobil dengan tersungut-sungut. Setelah memastikan wanita merepotkan itu keluar, Sehun memutar kemudinya. Ia memutar balik agar bisa kembali ke kafe tadi.
Tidak menemukan Luhan di kafe, Sehun langsung bergegas ke butik. Ia yakin, mereka ada di sana karena kejadian tak mengenakkan tadi, mungkin mereka makan siang di kantor.
"Se…hun?" Luhan terlihat terkejut saat mendapati Sehun berada di ruangannya. Benar dugaan Sehun, Luhan dan yang lainnya sedang makan bersama, termasuk Jongin.
Sehun masuk begitu saja dan menyodorkan tangannya pada Luhan. "Bisa…" Sehun mencoba mengontrol napasnya setelah berlari. "…ikut aku?"
Luhan megerjapkan matanya, lalu mengangguk, "hm…" ia tidak menyambut tangan Sehun. Namun, ia memimpin pria itu agar mengikutinya.
..
"Ada apa?" tanya Luhan setelah keduanya sampai di atap gedung, wajahnya terlihat biasa saja.
"Lu… ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku terpaksa–"
Luhan tersenyum, "aku mengerti…"
Sehun tidak puas dengan jawaban Luhan, ia mendengar pengakuan Luhan yang baik-baik saja, tapi ia tidak merasa begitu. "Luhan…" Sehun melangkah mendekati wanita itu.
"Hm?"
"Ini terdengar aneh, tapi… bisakah kau marah padaku?" pinta Sehun.
Luhan terkekeh, "kau ini, apa yang perlu dimarahi?"
Sehun menatap Luhan lekat-lekat, ia mencoba menemukan sesuatu yang mengganjal dari sikap Luhan.
"W-wae?" tanya Luhan sambil tersenyum.
"Berhenti tersenyum, kau baik-baik saja?" tanya Sehun.
Luhan mengangguk, ia mencoba tertawa, "aku baik Sehun. Lagipula, aku sadar konsekuensi keputusanku waktu itu."
Sehun semakin mendekat lalu perlahan membawa Luhan ke dekapannya. Ia mengusap belakang kepala wanita itu dengan lembut. "Gomawo… mianhae…"
Tangan Luhan terangkat, ia ingin menenangkan Sehun, tapi tangannya tidak sanggup mencapai tubuh pria itu. Alhasil, Luhan membiarkan tangannya tidak membalas pelukan Sehun. Luhan hanya bisa mengangguk, "gwaenchanha…" ucapnya.
Sehun melepaskan pelukannya lalu menatap Luhan, tangannya berpindah ke sisi wajah wanita itu dan mengusapnya lembut. Luhan memang tersenyum saat ini, tapi terasa palsu bagi Sehun. "Kau tidak baik-baik saja, kan?" tanya Sehun lagi.
Luhan menatap sebal pada Sehun, "aku baik-baik saja, Sehun. Kenapa kau tidak percaya?"
"Kalau begitu…" Sehun menarik pinggang Luhan mendekat padanya, lalu memajukan wajahnya perlahan. Mmata Luhan membulat, Sehun bisa merasakan tubuh wanita itu menegang. Sampai kedua bibir mereka hampir bersentuhan, Luhan memalingkan wajahnya.
Dengan cepat Luhan memeluk Sehun untuk menyembunyikan wajahnya. "Kau ini, pencari kesempatan sekali!" gerutunya.
"Benarkah?"
"Hm, menyebalkan!"
Cukup lama mereka dalam posisi berpelukan, angin siang hari berembus panas dan membuat mereka memutusakan untuk kembali. Setelah berpamitan, Sehun kembali ke kantornya.
.
.
to be continued-
.
.
Senengnya ternyata masih ada penghuni platform ini :" hihi. Makasiya buat kalian yang masih nungguin cerita ini ;) aku berusaha buat terus update tiap minggu! ^^
..
Balasan review
#nanima999: ternyata bukan aku doang yg kangen ya hihihi. Oke, harap bersabar ya ;) aku baik" aja kok :D
#sisisima: tapi tetep dukung hunhan ya ;)
#dinidini67: oke pantau terus ya! Semangat selaluu~ ^^
#Lee KyuRah: lanjut dong pasti! Hehehe, hwaiting! ^^
#chan22: Sehun udh aku omelin juga tuh .-.
#xxizy: samasamaa ^^ untung sadar ya udh update kkkk. Semangat!
..
Waahh terharu, banyak juga yang bertahan di cerita ini. Makasi udh sempetin review yaa ^^ tunggu kelanjutannya minggu depan-
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
