Setelah jembatan Kannabi terlewati, rombongan masih harus menembus jalan dalam hutan sekitar dua jam baru sampai di sebuah desa dengan nama yang sama dengan jembatan sebelumnya. Desa itu mirip Konoha, berada di tengah-tengah hutan tapi jauh lebih luas namun tidak sepadat Konoha. Jalannya besar-besar sehingga bisa dilewati dua gerobak ukuran besar bersamaan. Deretan toko-toko, penginapan dan pasar adalah wajah pertama Kota Kannabi yang dilihat oleh rombongan. Ketika tiba di alun-alun desa, pemimpin rombongan mengucapkan terima kasih pada tim, khususnya Kakashi atas pengawalan yang diberikan. Anak-anak, yang menyukai Shiba dan Yukino bergumul mengucapkan terima kasih. Naruto menatap dari kejauhan tanpa emosi sebelum seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun mendekat dan menjulurkan kalung bunga buatan tangan. Naruto ingat anak itu, dia adalah anak tersesat di kemudian hari setelah serangan bandit. Shiba yang alergi serbuk bunga sama sekali tidak membantu dan Kakashi menggunakan anjing ninja untuk melacak baunya. Naruto pertama kali menemukannya. Dengan wajah polos memetik bunga tanpa tahu seisi rombongan dibuat kalang kabut olehnya.
Naruto memandang hadiah itu cukup lama hingga anak laki-laki itu bergetar di bawah tatapan dinginnya. Dengan senyum kecil yang hanya sekelebat mata, Naruto meminta anak itu untuk memasangnya ke lengan kanannya.
Kakashi memilih sebuah penginapan yang menurutnya bagus dengan tanda tersedia onsen di depan pintu masuk. Sepasang laki-laki perempuan di meja resepsionis menyambut kedatangan ninja Konoha dan menjelaskan beberapa fasilitas dan model kamar yang disediakan oleh penginapan. Kakashi mengambil yang paling besar, dengan dua ruang terpisah. Jounin elit menyuruh ketiga muridnya untuk menaruh perbekalan dan beristirahat sementara Kakashi ingin melihat-lihat desa.
Kamarnya tidak buruk. Untuk penginapan yang kata resepsionis merupakan penginapan tertua di desa, desainnya lebih baru dan sejauh Naruto menilai, semua terawat dengan baik serta memberi kesan nyaman. Shiba langsung menjatuhkan diri di atas tatami yang disambut sindiran pedas oleh Yukino, keduanya lalu berargumen satu sama lain sedangkan Naruto melangkah menuju jendela melihat taman buatan dengan kolam dan pohon dipangkas rapi.
Yukino tidak ikut para anak laki-laki ke onsen. Setelah berganti kimono yang disediakan penginapan dia pergi untuk bertemu anak-anak rombongan tadi. Rupanya dia berjanji akan mengeliingi desa bersama-sama. Naruto dan Shiba berdua pergi ke onsen untuk laki-laki. Si pirang lantas pergi ke pancuran dan membersihkan diri sebelum pergi ke kolam air panas. Dia melipat handuk yang sudah dipanasi dan menaruhnya di atas kepala. Masuk ke dalam onsen dan menikmati kenikmatan air panas seperti orang-orang tua.
Hari itu tidak begitu ramai, tetapi ada pengunjung lain dan percakapan berbagai hal menusuk dalam telinganya.
"Oi Naruto," Shiba ikut bergabung mengambil tempat duduk di sampingnya. Hubungan kedua anak laki-laki itu maju dalam tahap mengejutkan, meski Naruto yakin dia tidak memberi kesan baik sebagai seorang teman, rupanya Shiba mengesampingkan itu dan frekuensi mereka meningkat. Shiba bahkan tidak ragu membicarakan urusan pribadinya dengan Naruto.
Naruto tidak mengharapkan apapun dari Shiba, tapi dia juga menyadari menjaga formasi tim adalah sesuatu yang penting. Meski dia kuat, Naruto lebih suka untuk tidak menarik perhatian.
"Apa kamu tahu jika Jembatan Kannabi ini dulunya adalah zona perang di masa perang ketiga? Aku dengar sensei memulai julukan sebagai Kakashi si sharingan di sini. Salah satu rekannya dari Uchiha memberikan mata itu padanya."
Aku tahu semua tentang Kakashi dan sebagian besar dunia ini. "Ya… aku pernah dengar desas-desusnya juga. Dia termasuk lulusan muda berbakat sehingga di usia sekitar 13 sudah dikirim ke medan perang."
"Perang ya…. Apakah kalau kita hidup di zaman itu, kita bertiga akan dikirim ke sana?"
"Mungkin hanya sebagai tim pembawa barang-barang kebutuhan perang."
"Tapi kamu jenius dan berbakat, kamu pasti akan langsung dinaikkan ke chunin dan ikut perang."
Naruto tidak mengatakan apapun. Keduanya diam. Lalu Shiba mengangkat kedua telapak tangannya ke depan wajah dan memandangi keduanya cukup lama. Naruto juga ikut memandang kedua telapak tangan rekan timnya. Seakan disana ada sesuatu yang tersembunyi dan menarik rasa ingin tahu begitu dalam.
"Aku benci perang," kata Shiba. "Banyak orang-orang klan kami yang tewas ketika perang ketiga meletus. Kakak tertua ayahku mati di perang ketiga… padahal dia masih berusia empat belas."
"Apa menurutmu ada kedamaian di dunia ini?" tanya Naruto. "Waktu aku membunuh bandit siang tadi, bandit itu cerita jika dia membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Aku membunuhnya dan mungkin kini keluarganya juga ikut mati. Kalaupun bertahan dia akan dendam pada ninja dan konflik baru akan muncul.
"Kurasa perang muncul dari sana. Ketika konflik satu selesai konflik jauh lebih besar muncul dan pergesekan semakin besar itulah yang melahirkan pergolakan antar kelompok, negara. Selama ada pentengkaran semacam tadi… perang bisa terjadi kapanpun."
Tiba-tiba saja Naruto merasa tubuhnya ditarik dan menemukan Shiba merangkul dengan sebelah tangan. "Hei kamu masih 9 kan? Kamu terlalu berlebihan dalam melihat dunia. Tapi harus aku akui kamu ada benarnya disana. Kalau aku, ingin mengumpulkan uang cukup banyak dan membangun keluargaku sendiri. Keluar dari nama Inuzuka ini dan mungkin pindah dari Konoha. Tinggal di ibukota juga tidak buruk, membuka bisnis kecil-kecilan misalnya."
"Jadi kamu memang benar ingin mencari uang?"
"Aku sudah bilang kalau ninja juga butuh uang," kata Shiba. "Pokoknya kita melakukan yang terbaik dan membuat kehidupan kecil yang nyaman untuk diri sendiri atau keluargamu. Aku sih bukan orang-orang hebat yang bisa mengubah dunia, tapi mungkin kamu bisa Naruto?"
"Kenapa kamu berpikir begitu?
"Karena kamu kuat, kamu pasti akan jadi ninja yang hebat kelak," Shiba nyengir, meski terkesan bercanda Naruto yang sudah dua bulan bersama anak Inuzuka sebagai rekan tim dan juga teman tahu kata-kata anak laki-laki itu bukan omong kosong belaka. Itu kejujuran murni.
"Aku tidak mau terlalu mencolok seperti itu. Asalkan hidup santai itu sudah cukup."
"Wah kalau begitu kita sama bukan?"
Mereka lalu tertawa, dan beberapa saat kemudian Kakashi muncul dengan cara berpakaian paling aneh menurut kedua anak laki-laki itu. entah alasan apa, masker dalam bentuk handuk dibalut sedemikian rupa menutupi separuh wajah si Jounin.
"Kakashi sensei kenapa kamu menutup mukamu bahkan di pemandian?"
"Eh? Apa itu tidak boleh?" tanya Kakashi dengan nada ceria.
"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu disana bukan?" tanya Shiba dengan tatapan selidik dan seringai nakal.
"Tidak. Tapi kalau kalian ingin mau aku tidak keberatan."
Ketika Kakashi akan membuka penutup wajahnya. Tiba-tiba saja ada sekumpulan anak-anak yang ribut dan membuat ombak kecil di pemandian. "Nah aku sudah selesai."
Shiba mengerang dan Naruto tertawa untuk dirinya sendiri.
.
Itachi tidak paham logika 'tidak mencolok' pemimpin, ketika setiap anggota Akatsuki diharuskan memakai jubah hitam dengan aksen awan merah. Wajah-wajah buron sudah cukup membuat mereka terkenal, tidak perlu adanya kostum yang akan semakin membuat mereka teridentifikasi. Tapi bukan tempatnya Itachi mengeluh atau memberi masukan. Apalagi setelah empat tahun bergabung dan nyatanya Akatsuki tetap bisa bergerak seperti biasa.
Kedua sosok berjubah awan merah melewati jembatan Kannabi dengan santai tanpa terburu-buru waktu. Target mereka tidak akan pergi sampai besok, setidaknya jika informasi yang dibawakan Sasori akurat.
"Kita akan jadi tim pertama yang berhasil menangkap bijuu diantara yang lain, Itachi-san."
Laki-laki lain adalah Hoshikage Kisame. Tidak lebih buruk dari Itachi yang sudah membantai keluarganya sendiri. Buron dari Kirigakure itu juga punya sejarahnya. Bahkan semua anggota Akatsuki punya sejarah masing-masing yang membuat harga kepala mereka mahal. "Ini bukan ajang siapa yang mendapat duluan Kisame. Lagipula seingat ku Kakuzu juga sudah menemukan lokasi Nanabi berada."
"Khu-khu-khu, memang, tapi zombie itu baru saja membunuh partner nya lagi…. Kurasa leader tidak akan mengambil resiko bendahara kita berburu bijuu sendirian."
Itachi tidak mengatakan apa-apa. Langkahnya terhenti di tengah jembatan dan memandangi ufuk merah yang sebentar lagi berpadu dalam langit malam.
"Kuharap Jinchūriki ini bisa memberi hiburan kita berdua… atau kali ini kamu yang ingin maju duluan?"
"Kamu saja. Jika kamu bisa menangkapnya, kegagalan Rokubi bisa membuat Leader senang."
"Hei, Utakata menjadi Anbu bukan sekedar status monster, dia cucu dari Mizukage ketiga dan punya bakat yang diakui orang-orang," tapi melihat Itachi tidak mengatakan apa-apa, membuat Kisame mengkerut. "Yah aku memang salah waktu itu sih…"
Itachi menggeleng, "Kali ini aku akan ikut campur kalau kamu gegabah, lagi."
"Khe-khe-khe akhirnya aku bisa melihat kejeniusan Uchiha yang di segani itu."
Itachi tidak mengatakan apapun dia berjalan terus diikuti Kisame dari belakang.
.
"Begitulah," Kakashi duduk memandang ketiga muridnya satu persatu. Gulungan rahasia berisi informasi persahabatan dua kage ada di atas meja. Setelah serangkaian makan malam menyenangkan penuh cerita, tiba-tiba suasana naik menjadi tegang. Ini pertama kali bagi ketiga genin tahu misi tersembunyi yang diberikan Hokage secara langsung. "Meski ini bisa disebut misi peringkat A, tapi tujuan utama misi ini adalah meyakinkan Iwagakure kalau kita benar-benar ingin menjalin hubungan kerja sama dengan mereka. menampilkan pengantar gulungan adalah tim genin akan memberi kesan jika kita percaya itu."
Sejarah panjang dua desa yang saling bermusuhan di setiap perang lalu luka-luka dari masa lalu yang masih membekas. Meski ketiga anak-anak itu belum lahir sewaktu perang, cerita dari orang tua dan sekolah tentang apa yang terjadi selama pertikaian Iwa-Konoha sudah cukup menyimpulkan beragam emosi ketiga muridnya. Kakashi juga bisa dikatakan punya dendam pribadi dengan Iwa, tapi dia lebih banyak memakan garam dan spesialis Anbu. Menjaga emosi sangatlah penting.
"Tapi apa kita percaya dengan Iwa sensei? Bagaimana jika terjadi penyergapan?" tanya Shiba.
Itu poin bagus yang diucapkan Shiba.
"Memang benar, kita bisa ditipu dan Iwa menyiapkan sepasukan ninja untuk mengepung kita," kata Kakashi. "Tapi Iwa bukan desa bodoh, mereka juga sama dengan Konoha yang pernah merasakan perang di beberapa generasi dan tahu resiko besar jika menyerang tim dari desa ninja lain, apalagi berasal dari desa besar seperti Konoha. Meski sudah tiga belas tahun sejak perang terakhir, negara membutuhkan waktu untuk membangun kembali kekuatan."
"Tapi tidak ada yang tahu selama 13 tahun itu Iwa seperti apa. Bisa jadi mereka sudah mengumpulkan kekuatan melihat kesempatan musuh lengah," kata Shiba. Kini terlihat jelas jika anak itu juga punya cerita sendiri tentang Iwagakure. Naruto sejak tadi diam, dia bisa merasakan anak laki-laki lain sedang menahan emosi. Yukino tidak menunjukkan emosi dalam, tapi dia juga terlihat tidak menyukai prospek bertemu mantan musuh dalam perang.
"Iwa orang-orang keras kepala seperti batu," kata Naruto. "Jika mereka ingin mengencingi Konoha, sudah dari dulu mereka akan melakukannya tanpa membuang-buang waktu dengan diplomasi rahasia seperti ini. Tapi jika ini salah satu tipuan mereka… kita cuma bisa melawan. Kita kuat. Kita tim paling solid. Iwa atau bukan, kita akan berhasil dalam misi ini."
Ketiga orang di dalam ruang itu masing-masing memandang si pirang. Naruto tetap memasang wajah serius lalu dengan santai menuang teh ke dalam gelas. Shiba dan Yukino berpandang-pandang mendengar kalimat motivasi dari orang yang paling tidak disangka sedangkan Kakashi dalam hati, tersenyum melihat matahari kecil belum menunjukkan tanda-tanda akan terbenam.
Benar, mereka tim kuat dan paling solid.
