ROYALTY
by Gyoulight
.
.
.
.
A CHANBAEK FANFICTION
GENRE: Romance, Drama (?)
RATING: T (?)
.
.
.
.
Chanyeol tidak pernah menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari sekedar makhluk bernama manusia. Potret dengan nama pemberian dari dua orang yang ia sebut sebagai ayah dan ibu. Kemudian dititipkan takdir berliku yang sama dengan manusia lainnya. Bedanya, Chanyeol punya sedikit kuasa untuk mengendalikan keberuntungan. Memoles kekurangan yang ia miliki, kemudian menutupinya lengkap, seperti cat di dinding.
Semua orang berjalan ke puncak. Mencoba mengambil kursi tertinggi kemudian mengendalikan segala yang menghalangi. Chanyeol sepenuhnya percaya─layak ayahnya─dengan memiliki posisi yang penting hidupnya, ia akan selalu dipenuhi berkah. Namun dibalik hal yang ia ciptakan, ia rasanya seperti tengah menghalau angin. Karena setinggi apapun pohon yang manusia tanam, angin akan selalu pandai menggugurkan daunnya.
Harga diri dan kekuasaan, kedua hal yang sama pentingnya dalam hidup Chanyeol. Namun entah bagaimana semua itu berubah dalam semalam. Seperti melupakan jati diri, Chanyeol berlarian di tengah gelap. Melupakan mobilnya yang terparkir jauh di sana, nyaris lupa jika pintunya ditutup dengan benar. Tidak ada yang terpikirkan kini selain kedua kakinya yang berlomba mencapai garis akhir. Tidak ada tujuan lain selain menemukan kediaman Baekhyun yang sepi.
Hatinya harap cemas. Dadanya meribut ingin lebih dahulu sampai. Chanyeol sendiri sibuk berdoa pada Tuhan yang ia lupakan. Pada penciptanya yang sesungguhnya berada di atas segala-galanya. Ia harusnya mengakui, jika hanya penciptanyalah yang dapat memberikan apapun yang ia pinta.
Desau angin terasa melengking di telinga. Perut yang sakit ia lupakan dalam pelarian. Memasuki salah satu gedung apartemen, jemarinya gemetar menekan tombol pintu lift. Bunyi ribut bel sudah ia usahakan. Baekhyun adalah alasan ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sosok itu celaka.
Dan betapa leganya ia mendapati sosok itu masih lengkap dengan balutan seragam kerja. Masih halus kedipan jernih itu memandangnya. Sebuah lega dan rasa syukur kini membawanya memeluk sosok itu ke dalam dekapan. Mendengar detakan sempurna jantungnya, yang kemudian sebuah nafas berhembus di dekat telinga. Baekhyun benar baik-baik saja.
Chanyeol mengeratkan pelukan, memohon kembali pada takdir yang lain. Berharap Baekhyun akan selalu dapat ditemukannya, tidak pergi kemanapun meski ia dibenci. Sungguh, ia tidak ingin melepaskan sosok yang didekapnya itu secepat ini.
Kedua manik yang masih memandangnya lalu sibuk menyuarakan sepi. Bertanya keras soal 'mengapa' saat ia menjauh perlahan pergi. Namun Chanyeol tengah bertekad hendak pergi mencari jejak pria yang ia temukan terakhir kali. Ponselnya yang tertinggal di penginapan pun sebab mengapa ia perlu benda itu kini. Langkahnya lalu diayun lebar-lebar. Keluar dari lift ia langsung mengambil jalan besar. Berharap menemukan sebuah taxi, namun segalanya seakan membuatnya tidak berdaya. Ia tidak menemukan satupun kendaraan yang lewat.
Tidak punya pilihan, pria bersurai hitam itu akhirnya melenggang panjang menyapu tepian aspal. Matanya tak lupa awas, ingin mencurigai banyak sudut. Siapa tahu ia menemukan penguntit itu bersembunyi di sekitar.
Sebuah mobil kemudian melewatinya. Membuatnya menoleh sebentar. Hendak mengambil tumpangan jika pemiliknya berkenan. Namun mobil tua dengan dengung musik tua itu seakan tuli untuk mendengar. Jadi ia memutuskan untuk berhenti berharap, berlari mengabaikan satu mobil lagi─yang melaju kencang dari arah belakang.
Faktor keberuntungan memang tidak selalu berpihak pada orang yang sama. Rupanya, Tuhan tidak ingin ia menemukan sesuatu yang baik malam ini. Mobil terakhir itu melaju dengan cepat, sementara ia menemukan pelarian Baekhyun jauh disana. Pemuda itu seperti hendak memanggilnya dan terlalu terlambat bagi Chanyeol untuk berlari mencegah. Takdir sepenuhnya lebih dahulu duduk di atas kursi kuasa, lebih dahulu menuliskan cerita sesuai ingin. Dan malam ini, Chanyeol jelas melihat tubuh itu terpental jatuh ke atas aspal.
Chanyeol mengejar sisa jarak yang mengikis. Ia tidak peduli dengan raungan mobil hitam yang buru-buru menjauh sebelum ia datang. Mesin besar itu melesat cepat, menyisakan dirinya yang mendekap Baekhyun di pangkuan. Kemudian ia memilih untuk membiarkan Baekhyun tidak bicara. Nafas pemuda malang itu bukan lagi terputus-putus, begitu lemah jemari itu mencengkram lengannya. Chanyeol kehilangan harapan, menitikkan air mata seakan menjual harga dirinya pada sang pembesar.
"B-baek, Baek, kumohon─" hanya kata itu yang mampu Chanyeol racaukan. Tanpa suara ia berbisik, memperdengarkan tangisnya, meski kedua manik indah yang baru sempat ia puja itu tertutup. Melupakannya yang tenggelam dalam panik seorang diri.
Suara ambulan kemudian membelah malam. Memporak-porandakan kesadaran Chanyeol yang separuh terbang entah kemana. Masih mengulang dalam ingatan, bagaimana reka sosok yang kini berbaring di hadapannya itu terhantam. Mobil hitam yang menabraknya tentu dengan cepat hilang tanpa jejak.
Tidak ada yang terpikirkan oleh Chanyeol selain menggenggam sosok itu sepanjang waktu. Menyambut para unit gawat darurat di lorong dengan tidak bertenaga, sampai darah membasuh semua lengannya. Mengering bersama langkah mereka yang memandu Baekhyun masuk ke dalam ruang operasi.
Syok dengan cepat membunuh Chanyeol yang bajingan. Sisi kemanusiaannya bangkit setelah menipu berbagai cara untuk menyingkirkan Baekhyun. Rasa egoisnya lenyap tergantikan dengan beban yang menumpuk di dada. Di lantai yang dingin Chanyeol tenggelam dalam heningnya sendiri. Merosot duduk, tidak bisa berpikir jernih meski dua orang polisi berjongkok menanyai kesaksiannya.
Kepala Chanyeol terus berputar. Tatapan Baekhyun terakhir kali kian mengganggunya. Terlebih bagaimana pemuda itu berlariaan mencarinya yang pergi. Begitu mudah pemuda itu meruntuhkan sisi jahatnya. Hanya dengan melihatnya begitu tidak berdaya, rupanya Chanyeol bukanlah apa-apa.
"Apa anda melihat nomor pelat pelaku?"
Pandangan Chanyeol memburam. Darah di sekitar rahangnya menggantung bersama dengan jemari yang gemetar. Para penyelidik yang menanyainya mulai sangsi dengan kondisi dirinya. Ia mungkin begitu nampak terpukul sampai pria-pria Eropa itu menghembuskan nafas menyerah.
Dan dengan berat hati Chanyeol memutuskan untuk bercerita esok hari. "Dimana aku bisa menghubungi?"
Seorang penyelidik kemudian memberinya sepotong kartu nama. Dengan kepala berputar ia menerima kertas kecil itu dalam genggaman. Tak lama sampai pria-pria itu pamit dengan penuh hormat. Meninggalkannya seorang diri dengan pakaian penuh darah kering.
e)(o
Malam mencekam yang awalnya pulih dalam 7 jam kini terasa berminggu-minggu lambatnya. Chanyeol tanpa kata membuka pintu setelah merasa dirinya lebih baik. Ia pun segera mendapati sosok Baekhyun terbaring lemah dengan perban di kepala. Menyintas tidurnya yang panjang setelah beberapa jam bertarung di meja operasi.
Raut damai itu mengingatkannya akan sosok mendiang ibu yang tak sempat ia genggam tangannya pada detik terakhir. Mengingatkan saat-saat terakhir yang tidak ia pahami, kemudian mendengar bahwa ibunya pergi untuk selamanya. Chanyeol masih ingat benar bagaimana ia menangis di pelukan sang ayah saat mesin-mesin yang tersambung dengan ibunya berbunyi nyaring. Seolah ingin berbicara bahwa yang mereka tangani telah memilih pergi untuk selama-lamanya.
Maka Chanyeol menggenggam jemari kecil Baekhyun yang pucat. Dirinya merasa penuh salah ketika menarik tangan itu menuju wajah dinginnya. Chanyeol merasa ia penuh salah setelah melibatkan Baekhyun sedemikian rupa dengan akar masalahnya. Bagaimana pun Baekhyun adalah adiknya. Posisi yang sama dengan Sehun dan Jongin meski segalanya terasa tidak masuk akal.
Chanyeol sempat merasa ketakutan. Ia tanpa lelah menunggu Baekhyun membuka mata. Namun dirinya merasa tidak pantas berada disana. Bukankah terasa salah jika ia terus berada disana tanpa memberitahu Wendy atau Kris yang seharusnya tahu masalah ini dengan baik? Atau mungkin ayahnya?
Untuk beberapa alasan jemari Chanyeol menelusuri pipi halus itu. Mempertanyakan sesuatu pada dirinya sendiri, mengapa ia begitu ingin berlari untuk sosok itu terakhir kali? Mengapa ia begitu mengkhawatirkan sosok itu setelah menghajar pria asing? Apa yang sebenarnya terjadi?
Penyesalan yang sama terus mengulang dalam pikirannya. Mengiang bersama bening yang membasahi pelupuk. Ia pun tidak sempat percaya bahwa ia menangis. Begitu rapuh memandangi bayangan Baekhyun yang lemah tidak berdaya.
"Kali ini aku berjanji akan menghilang darimu," mohonnya menyesal. Sebuah kecupan terakhir ia tinggalkan di dahi itu. Mengantar kepergiannya, dalam luka sesal yang tidak akan pernah kering.
e)(o
Kris berlarian mengitari penginapannya sendiri. Kakinya yang panjang memasuki berbagai ruang yang ia ciptakan. Dapur, pemandian, lalu tempat umum lainnya sudah pernah ia periksa. Terakhir kali ia membongkar kamar yang berada di ujung kamarnya. Mencari tanda-tanda keberadaan orang yang dicarinya tapi semua hal disana sudah kembali tertata rapi. Tanpa jejak yang berarti.
Ia dirundung emosi karena tidak menemukan Chanyeol disana. Ia terlalu lama bekerja. Terlalu berleha-leha dengan semua ketenangan dirinya. Mendapati cerita Wendy yang begitu akurat siang ini membuat terkaannya semakin jelas. Chanyeol telah merencanakan ini jauh sebelum ia kembali ke Seoul.
Maka yang dilakukannya adalah mendial banyak nomor di dalam ponselnya. Memerintahkan berbagai pihak untuk mencari dan menuntaskan segala hal. Tak lupa ia mengabarkan perkembangan buruk yang ia lalui pada Ketua Park di Seoul.
Lalu tiba pada panggilan Wendy yang datang tanpa kenal waktu. Gadis itu menangis tak tertahankan dalam sambungan telpon. Meruntuhkan banyak hal dalam dirinya. Membendungnya dalam perasaan sesal yang tidak tertolong.
"Brian kecelakaan, aku pikir kalian pergi hari ini."
Beban di pundak Kris terasa meningkat berat dua kali lipat. Bayangan terburuk yang saat itu pernah terpikirkan olehnya kini datang menghampiri. Ia serasa karang yang dihantam ombak. Merasa tidak ada guna menaruh sesal. Andai ia pergi dengan Baekhyun malam ini, mungkin semua hal buruk yang dialami pemuda itu tidak akan pernah terjadi.
e)(o
Sebuah dentingan mesin menjadi pertama kali yang Baekhyun dengar. Hangat sebuah jemari yang menggenggamnya kembali menyisihkan bayangan kabur. Ia teringat dengan salah satu nama yang secara acak melintas dalam pikirannya. Satu cahaya mengisi retina. Bayangan Chanyeol adalah yang pertama kali ia lihat. Senyum pria itu datang menyambut. Binar mata yang bening mengaburkan kedipannya yang lain. Ia tentu masih ingat dengan sepotong kalimat malam itu.
"Kali ini aku berjanji akan menghilang darimu,"
Perlahan bayangan Chanyeol memburam. Mendadak Baekhyun mendapatkan nafasnya tercekat di tenggorokan. Sesak nafasnya memburuk, menyakiti dadanya yang seolah ditekan sebuah benda tumpul. Bayangan Chanyeol kian lama kian menghilang begitu saja. Lenyap seperti terakhir kalinya.
Baekhyun terlanjur panik. Jemarinya terangkat ingin meraih sisa buraman yang menghilang. Namun beberapa suara tak kalah keras memanggil namanya. Suara pelarian langkah kaki beberapa orang menghampiri dengan tidak sabar. Kini keramaian memenuhi tempatnya berada.
Seseorang memaksa membuka kelopak matanya, menyinari dengan lampu senter yang menyilaukan. Kesadaran Baekhyun tak lama kembali setelahnya. Mendapatkan nafasnya mulai beraturan di dalam masker oksigen yang entah sejak kapan sudah menutupi sebagian wajah.
Sosok Kris dan juga Wendy mendekat. Meracaukan namanya berulang kali seakan dirinya akan lenyap begitu saja. Genggaman Wendy begitu erat di jemari. Tangisan gadis itu bahkan terlalu kuat untuk ia dengar. Baekhyun berkedip kembali. Mencari sosok yang baru saja hilang dari bayangannya. Sosok Chanyeol, yang tidak terlihat dimanapun.
"Baek, kau mendengarku?" suara Kris menggema. Namun alat indranya begitu abai dengan segala hal. Ia tidak begitu peduli dengan pandangan mereka yang begitu khawatir menyaksikannya tergolek tak berdaya.
Namun kini ia merasakan kepalanya berdenyut. Punggungnya terasa kebas, dan segala hal terasa begitu ganjil. Entah mengapa ia bisa berada di tempat ini.
"C-chan-yeol," tanpa sengaja ia bergumam. Matanya kembali menyapu sekeliling, tapi semua itu belum juga cukup untuk menemukan sosok yang dicarinya.
Kris yang mendengar itu kini mengambil langkah mengejar dokter yang hendak pergi. Celaka baginya jika pria itu dengar. Ia tentu tidak akan pernah bertemu Chanyeol kembali jika Kris marah.
"Sudah dua hari kau tidak bangun," Wendy dengan mulut cerewetnya kini mengganggu gendang telinga. Gadis itu kembali merajuk, ingin memukulnya kalau saja kepalanya tidak diperban.
Bagaimana kalau Chanyeol sudah pergi?
Baekhyun berusaha beranjak. Mendapati dirinya tak sadar selama dua hari membuatnya resah sendiri. Ia lalu membuka masker oksigennya. Menghirup udara yang lewat susah payah. Lantas mendapat makian dari Wendy setelahnya.
"Berengsek, kau mau mati?!" Cepat-cepat gadis itu memasangkan masker oksigennya kembali di wajah. Mendorongnya agar patuh berbaring pada bantal. Susah payah gadis itu menahannya pergi. "Aku sudah kerepotan membuatmu makan tiga kali sehari. Kau tidak boleh mati!"
Gadis itu kembali menangis. Sampai pada Kris yang kembali membawa raut datar bercampur banyak rasa. Suasana kemudian hening, diisi dengan tangisan Wendy yang tidak bisa dibendung. Dan Baekhyun tahu jika temannya itu adalah sosok yang cengeng di balik sisi kuatnya. Maka Kris mengusak kepala gadis itu, menenangkannya seperti anak kecil yang kehilangan boneka.
Lalu entah, mengapa Kris banyak diam setelah itu. Seperti tengah menyembunyikan sesuatu yang penting. Yang tidak mungkin pula bisa ia ketahui.
Namun sekali lagi ia teringat akan Chanyeol. Ia terus bertanya mengapa pria itu tidak ada di sisinya. Tidak seperti kemarin dimana ia dengan jelas mendengar semua perkataan pria itu. Bahkan tangisannya masih membekas di benak Baekhyun. Sederet sesal menggerogoti, andai ia bisa terbangun saat itu.
Termakan waktu, ada jeda yang panjang ketika siang mencapai horizon. Wendy pergi untuk pulang, sementara Kris pelan-pelan mengambil duduk di sampingnya. Baekhyun mencoba duduk. Bersandar dengan baik di ranjangnya, siap untuk beberapa jawaban jika Kris ingin bertanya.
"Ada sesuatu yang harus kita bicarakan," bukanya dengan raut kosong, hampir tidak terbaca suasana hati pria itu. "Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Lidah Baekhyun mendadak kelu. Pria itu begitu cepat mengetahui keganjilan dirinya. Tentu begitu, karena Kris selalu pandai membaca. "Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, Kris. Kau tahu aku selalu berbicara persoalanku."
"Tidak, kau tidak lagi melakukannya." Kris menggeleng. Mendapati rautnya meragu sendiri. "Dengan siapa kau bertemu selama ini pun kau tidak pernah cerita padaku."
Namun sebersit perasaan tidak suka dengan mudahnya muncul pada diri Kris. Padahal Baekhyun tidak pernah merasa jika Kris mencampuri urusannya selama ini. Ia sadar betul bahwa pria itu memang selalu menjadi tempat ia membuka cerita. Berbeda halnya kini, ia mungkin saja jenuh karena terlalu sering bergantung pada Kris.
"Apa aku harus bercerita soal itu juga?"
"Aku mengkhawatirkanmu." Kris menekannya lagi. Ini kali kedua ia mengatakan kalimat itu setelah diabaikan.
"Alasanmu terdengar aneh, Kris. Kau seakan mengambil kendali diriku." Baekhyun mencoba mengeluarkan isi hatinya. Ia tidak tahu bahwa ia bisa melakukan ini begitu tega. Tapi dengan begini bukankah akan menjadi baik? Mereka bisa saling mengintrospeksi diri nantinya.
Tapi sayangnya, Kris berbalik marah soal itu. Kris sedikit tersinggung. Entah karena emosi yang dari mana datangnya. "Aku melakukan itu karena aku ingin melindungimu. Dan lihat sekarang apa yang terjadi saat kau tidak bercerita padaku."
Kris lalu sadar jika ia sedikit keterlaluan. Ia buru-buru mengambil jemari Baekhyun yang bebas. Mencoba memohon tentang segala hal yang dikhawatirkannya. "Kumohon, jauhi pria bernama Chanyeol itu."
Baekhyun terdiam lama mendengarnya. Hatinya tiba-tiba saja terluka ketika nama Chanyeol ditempatkan pada hal yang tidak menyenangkan. Walaupun ia tahu jika Chanyeol adalah pria yang pernah menyakitinya, ia sadar benar bahwa pria itu bukanlah orang yang berbahaya. Chanyeol tidak akan mungkin membuatnya celaka.
"Chanyeol tidak membahayakanku."
"Dia membahayakanmu," koreksi Kris tegas. Pria itu kini berlaku seperti sudah lama mengenal Chanyeol. Dan itu mengganggu Baekhyun, entah mengapa.
"Atas dasar apa kau menuduhnya begini?"
Kris mengerutu, "Hari itu dan kali ini pula, semua pasti karena pria itu. Aku tahu persis siapa Chanyeol."
"Dia yang membawaku kemari," ujar Baekhyun tidak terima. Ia pun segera membuang jemari Kris dari jemarinya. "Chanyeol tidak seperti itu!"
Mendengar ketegasannya, Kris lalu berubah mematung dalam jeda yang panjang. Pria itu menyernyit, terlalu lama menyelidikinya dengan sorot tajam matanya. Hilang sudah raut penuh kasih sayang pria itu. "Apa yang sudah Chanyeol lakukan padamu?"
"Kris─"
Kris beranjak kemudian. Meninggalkannya begitu saja tanpa meluruskan segala hal.
e)(o
Pagi yang cerah di sepanjang kota Seoul dihiasi bunga musim semi. Lagu-lagu sentimental lantas diputar, mengiringi kedatangan Chanyeol lewat taxi yang ditumpanginya. Kaca mata pria itu lalu dibuka, jemarinya membuka sekali lagi kaca jendela untuk mendapatkan udara segar. Ponsel dalam genggamannya lalu bergetar untuk sebuah pesan. Namun Chanyeol sama sekali terlihat tidak berminat.
Sampai di lobi depan kantornya, pria dengan rambut hitamnya itu menelpon seseorang untuk mengirim kopernya pulang. Dengan cepat ia disambut oleh beberapa pegawai. Tersenyum ramah seperti baru melihatnya dari sekian banyak tahun terlewati.
Chanyeol kembali memasang kaca matanya. Mengabaikan salam banyak karyawan di lantai bawah lalu menaiki lift. Tidak perlu baginya merespon hal-hal seperti itu. Sebab hal itu tak lebih dari selalu biasa dicernanya sendiri.
Sebenarnya ia cukup lega karena bisa kembali ke Seoul. Hal baik lainnya adalah ia tidak perlu lagi direpotkan masalah sarapan karena ia memiliki pelayan rumah yang selalu bisa menyediakannya makanan setiap hari. Ia pun tidak akan pusing masalah selera makan. Kini ia bisa makan nasi sebanyak yang ia mau, tidak menggigit roti atau olahan tepung lainnya.
Saat pintu lift terbuka ia dengan jelas mendapati Junmyeon berdiri di dalam sana. Cukup tercengang pria itu karena ia tidak pernah memberitahukan kepulangannya yang mendadak.
"Anda tidak bilang─" cicitnya kehabisan gaya. Hampir menghilangkan aksen formalnya di depan Manager Kim. Yang kemudian pria paruh baya itu buru-buru pamit dengan berkas di tangannya.
"Ada sesuatu yang harus aku sampaikan." Chanyeol buru-buru masuk ke dalam lift. Menekan tombolnya sendiri, sementara sekertarisnya masih mematung dengan balutan tidak percaya. "Aku butuh rapat dengan semua kepala siang ini. Terutama manager umum. Kita bisa memulainya sebelum akhir tahun."
Junmyeon yang belum kembali dari keterkejutan, nyatanya masih tercengang, belum sadar juga dengan kehadiran bosnya di depan mata. "Tunggu, bukannya kau bilang kau akan berlayar selama tiga pekan ke New York?" Lepas sudah kalimat santainya.
Chanyeol beralih menatap arlojinya bosan. Ia sebenarnya tidak suka jika Junmyeon mengalihkan pembicaraannya dikala serius. Ini soal proyek penting mereka, apa lebih penting membahas kepulangannya yang mendadak ini terlebih dahulu?
"Dimana Sehun?"
Junmyeon yang belum juga sadar dari ketercengangannya kini memiringkan kepala. Heran atas situasi dirinya yang kini bisa tiba-tiba peduli dengan adiknya. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Sehun?"
Mendengar pertanyaan itu, ia jadi teringat dengan insiden tabrak lari yang dialami Baekhyun lima hari yang lalu. Setelah ia memberi kesaksian hari itu, polisi sama sekali tidak menemukan sesuatu yang aneh. Mereka terus mengatakan kasus tabrak lari biasa. Sementara pelakunya mungkin saja wisatawan asing yang menyewa mobil sepertinya. Namun yang menjadi pertanyaan, pelakunya benar-benar menghilang begitu saja. Tanpa jejak, sehingga menaruh curiga pada pemikiran Chanyeol yang lain. Lalu pria yang ditemukannya di sekitar restoran Diez Buenos itu kini terus mengganggu. Entah mereka hanya kebetulan saja atau memang berhubungan. Poinnya, Chanyeol harus segera mencari tahu.
"Aku butuh informasi," maka jawabnya.
"Kau punya masalah?"
Chanyeol lalu mendapati liftnya sampai pada lantai dimana ruang kerjanya berada. Tapi ia hendak menyuruh Junmyeon turun terlebih dahulu. Setelah mendengar suara Jongin di telpon tua malam itu, pemikirannya selalu beralih pada dua saudaranya yang aneh. Bukan apa-apa, hanya saja si kembar itu bisa melakukan apa saja di luar nalarnya─persis seperti sisi dirinya yang gelap. Jika Junmyeon semudah itu mencuri informasi tentang Baekhyun bagaimana dengan Jongin dan Sehun? Tentu lebih mudah jawabannya jika mereka memutuskan untuk bekerja sama.
"Sehun mungkin punya masalah, ini akan menjadi skandal kelimanya."
"Apa?!" Junmyeon kembali tercengang. Ia belum juga sepenuhnya keluar dari pintu lift.
"Kirimkan aku lokasi Sehun dan Jongin, aku perlu bicara dengan mereka," perintah Chanyeol yang kemudian berniat menekan tombol lift. Ingin bergerak cepat sebelum kesibukannya dimulai.
"Mobilku," perintah pria itu lagi. Lantas Junmyeon mau tak mau memberinya sebuah kunci. Melemparnya dengan cepat sebelum pintu lift kembali menutup.
Chanyeol dengan cepat menyambar pintu mobilnya di basement. Menghidupkan mesin dengan cekatan, meski ia mengetahui mobilnya sudah lama terparkir disana. Kedinginan, tidak terawat meski Junmyeon kadang membawanya sesekali selama ia tidak ada. Ia pun akhirnya melesat ke badan jalan, mengabaikan mesin mobilnya yang belum siap dengan panas ketukan mesin.
Tak lama Junmyeon mengirimkan titik lokasi yang dimintanya beberapa menit yang lalu. Sambil memelankan kemudinya, Chanyeol kemudian meletakkan ponselnya di dekat layar GPS. Mengatur beberapa tahapan sebelum titik dalam sebuah pesan tersebut berpindah pada layar GPS mobilnya.
Suara aktif kini menggema kecil. Sebuah jalur merah beserta menit tempuh mengarahkan Chanyeol untuk mengambil jalan pintas. Menghindari kemacetan, atau jalan memutar yang terlalu menghabiskan waktu. Chanyeol harus cepat jika tidak ingin kehilangan jejak Sehun.
Lantas sesampainya ia pada tepian sungai Han, dimana jalan ditutup, pejalan kaki terusir, mobil-mobil diarahkan untuk mengambil jalan memutar, ada sebuah palang yang mengatakan bahwa mereka tengah mengadakan syuting. Sampai pada Chanyeol yang berdecih. Ia menginjak pedal gas kuat-kuat, terlanjur kesal lalu menabrak palang mereka. Masa bodoh dengan beberapa teriakan dari staf mereka yang meribut di pinggir jalan.
Roda berdecit, bantingan pintu ditutup. Chanyeol turun dari sana, masih dengan kaca mata yang bertengger di hidung. Segera matanya awas mencari keberadaan Sehun yang tengah bersantai dengan beberapa persiapan. Staf yang mengejar Chanyeol lalu urung bersuara ketika mengetahui dirinya datang. Tahu benar jika Chanyeol tidak butuh alasan untuk semua pemberontakan mengenai adiknya sendiri.
Maka Chanyeol mendekat pada Sehun. Menarik kerah pakaian pria pucat itu di depan kameramen dan sutradara yang tengah melakukan stand by. Nyaris semua orang berteriak ketika ia melayangkan pukulan di wajah Sehun yang belum sempat mengenali dirinya.
Sehun bersungut marah, tangannya terkepal ingin melayangkan pukulan versinya sebagai balasan. Namun sebuah tarikan pada kerah pakaiannya kembali membawanya pergi. Tubuhnya kini terseret menjauh dari sana.
"Apa yang kau lakukan?!" Pria publik figur itu kini keberatan. Merampalkan sumpah serapah yang tidak pantas. Untung saja tidak ada yang mendengar. Bisa-bisa citra Sehun menjadi semakin buruk karena hal tersebut.
Chanyeol tak bicara, hanya melempar Sehun masuk ke dalam mobilnya. Membanting tiap pintu, lalu menguncinya setelah ia masuk.
Sehun gemetar, ia tidak pernah menemukan Chanyeol yang marah-marah seperti ini. Meski ia kesal, ia sama sekali tidak bisa berkutik jika dihadapkan dengan kemarahan serius kakaknya. "Aku ada syuting! Bagaimana mungkin kau memukulku di hadapan semua orang?!"
Melirik pipi Sehun yang lebam, Chanyeol berubah masa bodoh. Kalau ia tidak memukul wajah pucat itu mana mungkin adiknya patuh duduk di sebelahnya seperti sekarang. Semakin jengkel rasanya menemukan wajah itu menatapnya garang.
"Dimana Jongin?" tanya Chanyeol kini.
Sehun berdecih. Untuk pertanyaan yang sudah pasti seperti itu ia menjadi tidak minat menjawab. Kesal sekali rasanya ia diseret seperti tahanan jeruji besi yang kabur di hadapan semua orang. "Tentu saja berjudi, hanya kita yang─ya! Apa yang kau lakukan dengan benda itu, sialan?!"
Sebuah revolver menempel cepat pada pelipis Sehun. Chanyeol pun tidak kalah main-main ketika ia ingin mendapatkan senjata api itu sebelum pulang dari Barcelona. Untuk menakut-nakuti adiknya saja sebenarnya, kalau bisa ia juga ingin membalas dendam pada Kris soal waktu itu. "Dimana kau selama dua minggu terakhir?"
"Aku sibuk," jawab Sehun frustasi berlebih. Sungguh kesal dirinya dihadapakan pada posisi terjepit seperti ini.
"Kalian yang menyuruh mereka?" Chanyeol kembali bertanya. Masih awas matanya menatap gerak-gerik Sehun yang mahir berbohong.
"Apanya?!"
Chanyeol kembali berteriak marah. "Kalian menyuruh seseorang untuk membunuhnya?!"
"Siapa yang kau maksud─membunuhnya? Ada apa ini?!" Sehun tak kalah berteriak. Ia ketakutan setengah mati menahan dinginnya moncong pistol itu menempel di pelipis.
"Jangan pura-pura bodoh. Sejak awal kau memang selalu ingin melenyapkannya." Chanyeol semakin menekan moncong pistolnya. Tidak ada kata takut jika ia salah menarik pelatuk benda itu. Tidak akan terbayangkan akibatnya jika terjadi. Ia bisa saja dipenjara sekaligus menelan umpatan ayahnya seumur hidup. "Kalian bahkan menabraknya dengan mobil. Bajingan!"
Sehun melirik lewat ekor matanya. Alisnya menukik tajam ingin mengetahui maksud tuduhan kakaknya. "Aku sama sekali tidak mengerti maksud perkataanmu. Siapa yang aku tabrak? Siapa yang aku bunuh? Bicaralah yang benar, sialan!"
"Hubungi Jongin," Chanyeol berakhir melempar ponselnya pada Sehun. Tahu benar jika Jongin tidak akan pernah menerima panggilan atau kedatangannya. Mungkin akan bagus jika Sehun sendiri yang bertanggung jawab dengan keberadaan kembarannya itu.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Oke, kita lanjut.
Setelah semua chap. selesai, FF ini kemungkinan akan jadi karya terakhirku. Aku akan sibuk diwaktu mendatang, kalau sempat menulis aku pasti balik. Thank you untuk semua review yang masuk. Kalian adalah yang terbaik.
Sampai jumpa~
