"..."

Matahari bersinar begitu terang. Burung-burung berkicau menyambut pagi hari tapi mengapa pagi seindah ini Naruto malah berfirasat buruk?

Iya, firasatnya buruk.

Jam baru menunjuk pukul 07.11 tapi seorang perempuan yang seharusnya tersenyum dengan menyajikan sarapan tak ada di dalam rumah ini.

Hinata tak mungkin pergi tanpa pamit.

Hinata tak mungkin meninggalkan Naruto sendiri.

Hinata tak mungkin kabur dari rumah.

Jadi, dimana Hinata?

Naruto berjalan dari dapur menuju kamar Hinata di sebelah kamarnya dan ia baru saja menyadari pintu kamar Hinata terbuka.

Hinata tak mungkin sengaja tak menutup pintu kamar di saat dia tak berada di dalamnya.

Hinata tak pernah lupa menutup pintu kamar.

Ia tak bisa merasakan hawa keberadaan Hinata dari sini.

Mengapa Naruto berpikir sebanyak ini?

Apakah ia bersikap berlebihan?

Tapi tetap saja ia tak merasa tenang dengan tak melihat Hinata.

"Hm dimana Hinata?"

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

CREATURE

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Creature by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 10

.

.

"Hoaaaaammm!" nyenyak sekali tidur membuat sadarnya menghadirkan senyuman tipis. Tangannya ia angkat untuk diregangkan tapi tak bisa karena terhalang.

Deg!

Mata Hinata terbuka.

Ia mencoba mendudukkan diri tapi tak bisa karena ada kaca di atasnya memaksanya tetap berbaring.

"Apa ini?!" jantung Hinata menggila karena panik. Ia bisa melihat langit melalui kaca bening ini tapi mengapa ia seperti ada di peti mati? Ketika ia menghadap ke dua sisinya ia melihat bunga-bunga putih menghiasi pinggir peti tempatnya berbaring.

Apa yang terjadi?! Kenapa ia di sini?!"

Brackk

Braxkk

"Tolong!" Hinata memukul-mukul kaca di atasnya tapi tak bisa terbuka. Rasanya sangat panas di sini, tak ada oksigen masuk sedikitpun.

"Jadi, yang harus kita lakukan adalah menunggu Pangeran datang." Hinata menoleh ketika ia mendengar suara. Ada beberapa orang kerdil seperti kurcaci mendekati tempatnya berbaring.

"Tolongg!"

"Aa Konohamaru-niisan, gadis itu sudah bangun." Mengapa mereka hanya menonton Hinata yang meminta tolong?

"Pangeran belum datang, jadi kau belum boleh membuka matamu." Hinata tak paham. Apa maksud ucapannya?

"Permainan putri salju ini sangat menyenangkan hehe." Singkatnya, suatu malam mereka melihat gadis berambut panjang dengan mata yang indah. Wajahnya terlihat lembut sekali cocok untuk memerankan kisah putri salju yang baru saja selesai mereka baca.

"Tapi bukankah dia harus memakan apel beracun?" mata Hinata terbelak kaget.

"Ah iya, ini apelnya."

"Mereka bercanda." Hinata menatap ngeri sebuah apel merah darah yang kurcaci kecil tadi sodorkan ke kawannya yang lain.

Hinata masih tak paham apa yang terjadi tapi sepertinya mereka tengah mendramai kisah putri salju dan ia adalah sang putri saljunya tapi pastinya ia tak akan mau memakan apel itu. Ia harus kabur.

Ketika peti ini di buka.

Ceklik

"Kyaaaaahh! Lepas!" bagaimana mungkin?!

BAGAIMANA MUNGKINN?

Hinata terperanjat sangat kaget ketika ia berencana kabur dengan mudah tapi ketika pintu peti dibuka keenam kurcaci tadi menahan tubuhnya agar tetap diam dengan mudah. Bagaimana mungkin badan kecil yang hanya mencapai lututnya punya tenaga sekuat ini?

"Aaa makan apelnya. Kau akan bangun ketika pangeran datang dan menciummu."

"Tapi nii-san. Kita belum menemukan pangeran yang sesuai."

"Kyaaaaaaahhh!"

Apa yang harus ia lakukan sekarang?!

"Aku akan makan sendiri!" pekik Hinata memutar otaknya secepat mungkin.

"Putri salju memakan apelnya sendiri ketika diberi oleh penyihir." Semuanya terdiam dan berpikir.

"Itu benar." Baiklah, Hinata tak bisa kabur tapi setidaknya ia tak keracunan apel. Ia harus merasa beruntung karenanya.

Hinata menelan ludah ketika ia menerima apel mengerikan yang disodorkan dalam posisi duduk.

Ia mendekatkan apel itu ke bibirnya karena ketujuh kurcaci tadi terus melihatnya.

Mau tak mau ia menggigit.

"Uhuk huk!" apel terlepas dari tangannya ketika ia terbatuk dan langsung saja ia terbaring tak sadarkan diri.

"Tapi dia tak menggigit apelnya?" salah satu yang ada di belakang Hinata menatap heran. Gadis ini menggigit udara. Mengapa dia pingsan?

"..."

.

.

.

"Kurcaci tolol! Akan kujadikan kalian kurcaci panggang." Selain menculik Hinata, berani sekali membuat dirinya kesusahan. Harusnya Naruto bisa tiba di tempat mereka dengan mudah tapi mereka memasang penghalang membuatnya kesusahan untuk masuk.

.

.

"Gawat gawat Nii-san!" mata Hinata ia buka sedikit untuk mengintip para kurcaci yang setia berdiri mengelilingi peti mati tempat ia berbaring. Syukur karena berpura-pura pingsan mereka membiarkan peti mati ini terbuka.

"Rubah! Ada rubah mencoba memasuki kawasan kita!" mereka terlihat panik.

"Itu pasti rubah yang dikirim oleh sang penyihir." Apakah mereka hidup di dunia dongeng? Mengapa seperti menjiwai sekali apa yang tengah mereka mainkan?

"Kita harus menjaga putri salju! Keluarkan senjata kita!"

.

.

Bracckk!

Pelindung halimunan pecah ketika Naruto berhasil masuk ke daerah yang ia incar sedari tadi.

"KONOHAMARU!"

.

.

"Naruto?" mengapa Hinata seperti mendengar suara Naruto mengema dari kejauhan? Mungkinkah itu dia? Atau ia salah dengar?

"Cepat!" mengapa mereka pergi? Hinata mendudukkan diri dan melihat kurcaci-kurcaci itu berlari menuju rumah lumayan jauh di depan tapi masih bisa ia lihat dari sini.

.

.

Braccckk!

Semua terdiam. Mereka masuk melalui pintu masuk tapi rubah yang mereka singgung tadi masuk dengan membolongi dinding bagian belakang rumah petak mereka.

"BERANI SEKALI KALIAN MENCULIK HINATA!" kurcaci itu memasang kuda-kuda menyerang.

"Aku sudah bilang dunia manusia tak bisa disamakan dengan dunia halusinasi kalian."

"Serang dia!"

Alis Naruto berkerut hebat. Berani sekali mereka mengabaikan kata-katanya dan melanjutkan permainan bodoh mereka.

.

.

.

"Naruto hentikan!" ternyata benar. Hinata mengekori para kurcaci tadi dan ia menemukan Naruto di sana dengan mereka berlutut dan sang bos mengantung di tangan Naruto.

"Kau baik-baik saja?" Naruto melepaskan kurcaci tadi dan langsung berfokus pada Hinata.

"Aku baik-baik saja. Siapa mereka?" jawab dan tanya Hinata ingin tahu. Naruto tampaknya kenal dengan tujuh kurcaci tadi.

"Mereka anak-anak kecil dari dunia buku." Jelas Naruto. "mereka berubah-ubah wujud untuk memerankan buku yang mereka baca tapi sudah kuingatkan tak boleh menculik." Alis Naruto berkerut hebat melihat para kurcaci yang babak belur di depannya. Jangankan Hinata, Naruto saja pernah mereka culik untuk memerankan seorang anak raja yang tak akan pernah menjadi raja dan harus menikah dengan seorang putri tunggal.

"Akan kuhajar mereka lagi." Rasanya sangat geram jika ia harus melepaskan mereka. Ia lega karena Hinata baik-baik saja tapi ia tetap merasa kesal.

"Jangan. Mereka hanya bermain. Tak apa." Lagipula Hinata baik-baik saja. Naruto tak harus marah. Hinata tak tega pada wajah meminta dikasihani anak-anak tadi.

"Mereka membuatku khawatir!" suara Naruto naik seoktaf tanpa ia sadari. "Jantungku seperti akan meledak karena aku tak bisa berhenti memikirkan apa kau baik-baik saja atau tidak."

"Tolong jangan marah." Membiarkan Naruto marah dan menghajar anak-anak tadi bukan ide yang bagus. Lebih baik menyudahi hal ini karena tak ada yang terluka.

Naruto berjalan mondar-mandir. Mengapa kalimat Hinata membuatnya mencoba menahan amarah? Tapi rasanya sulit sekali untuk tak marah. Ia harus melampiaskan amarahnya.

Priaanngg

Vas pecah karena Naruto menghajarnya. Kasur kecil patah karena ia menginjaknya untuk melampiaskan emosi.

"Kembali ke wujud kalian." Tanpa ba-bi-bu yang merasa diperintah langsung melaksanakan. Kini wujud mereka di dalam rumah setinggi tubuh Naruto terlihat seperti anak-anak kecil berusia 13an.

Alis Naruto berkerut. Kesal menatap wajah minta dikasihani tujuh manusia itu dan wajah memelas Hinata.

"Pergi sebelum kuhajar." Naruto mengangkat satu tangannya seolah ingin menghajar dan yang merasa takut langsung berhamburan keluar.

Naruto menghela nafas panjang. Ia masih sangat kesal! IA INGIN MEMUKUL SESEORANG!

"Terima kasih."

"..."

"..." mengapa emosinya menghilang?

Mengapa ia berhenti bernafas?

Mengapa otaknya berhenti berpikir?

Mengapa ia membeku?

Mengapa Hinata memeluknya?

Mengapa rasanya hangat dan menenangkan?

"Kamu menyelamatkanku. Terima kasih." Pelukan bisa meredakan amarah, itu yang Hinata tahu. Ia mencoba menenangkan Naruto yang masih tampak sangat marah.

Melampiaskan rasa khawatir. Naruto melingkarkan kedua tangan di pinggang Hinata dan mengangkat tubuh kecil itu, memeluknya erat. Rasanya sangat menenangkan. Rasa khawatir dan kesalnya perlahan menghilang digantikan perasaan nyaman. Ia tak pernah tahu bahwa lega terasa senyaman ini.

"Jangan khawatir." Hinata membelai lembut punggung Naruto ketika dia menyandarkan wajahnya ke pundak Hinata. Hinata terlihat ringan sekali diangkatnya. Naruto benar-benar sangat kuat dan selalu melindungi Hinata. Dia sangat baik karena mau mengkhawatirkan Hinata. "Aku tak apa-apa." Hinata tanpa sadar mengangkat kedua sudut bibir. Naruto terlihat sangat manja sekali, rasanya lucu. Seperti ada bunga-bunga kecil di dalam perutnya. Ia menyukai perasaan ini.

.

.

Hangat

Hangat

Hangat

Nyaman

Semakin lama memeluk Hinata membuat Naruto merasa semakin nyaman. Tapi mengapa ia ingin lebih?

"Apa kau sudah merasa tenang?" Hinata tersenyum ketika Naruto melepas dan menatapnya.

Deg!

Kali ini giliran Hinata yang membeku. Naruto menarik satu tangannya dan diakhiri dengan menempelkan bibirnya ke bibir Hinata.

Dia melingkarkan tangannya yang lain ke pinggang Hinata, menarik badannya mendekat dan mulai menggigit lembut bibir mungil itu.

Hinata menahan nafas. Ia bisa merasakan Naruto mengecup bibirnya sebelum kembali melingkarkan tangan ke pinggang Hinata dan memeluknya erat.

"Aku tak khawatir lagi." Naruto mengembungkan satu pipi ketika dagunya ia letak di bahu Hinata. Ia tak khawatir lagi tapi mengapa ia merasa ia tak seharusnya berhenti?

"..."

"Aku sangat khawatir tadi. Anak-anak itu gila." Sadarkah Naruto, Hinata tak mendengarkan apapun karena masih membeku?

"..."

"Dulu, mereka membiusku. Aku takut mereka menyakitimu."

.

.

.

To be continue

Maaafffff

Maaaaapp bangat menghilang

Maaap juga kalau ga bagus tapi semoga bisa mengisi waktu luang

Makasih!