A/N: Nggak ada catatan yang terlalu penting, tiap update mungkin bakal menghapus beberapa review Guest yang nggak guna, gitu aja.

...

...

...

Chapter 10:

"Shinra Tensei!"

Beberapa Jutsu elemen yang dilancarkan oleh Naruto pun tak bisa menyerang Nagato, dia menggunakan sebuah teknik yang bisa melindungi dirinya dari beberapa Justu yang dilemparkan oleh Shinobi lain, Naruto tersenyum melihat perkembangan dari Nagato, dia tak menyesal kembali ke masa lalu.

"Bagus!" Naruto menatap Nagato dengan kedua mata merahnya. Kedua matanya berputar kencang saat Nagato berlari mendekatinya. "Genjutsu: Tsukuyomi!"

Tubuh Nagato terhenti, ia mendadak berkeringat dingin saat melihat kedua mata merah Naruto. Tubuhnya merinding saat menatap mata yang menurutnya sangat menakutkan itu, dia pun membuat sebuah segel tangan dan berteriak, "Kai!" Nagato pun mulai mengatur mentalnya lagi. Kali ini, dia mengangkat tangannya. "Bansho Tenin!"

Tubuh Naruto seolah di tarik oleh sesuatu, pemuda itu segera menghilang menggunakan Hiraishin yang telah dia pelajari, dia saat ini berdiri dibelakang Nagato dengan sebuah kunai biasa yang dipegangnya. "Teknik yang bagus." Naruto menempelkan ujung kunainya pada leher Nagato.

"Ya sensei, terima kasih pujiannya."

Kedua mata merah Naruto menatap kebawah, dia melihat Nagato yang juga membawa sebuah kunai dengan ujungnya yang mengarah ke perutnya. "Sparring yang bagus, aku suka dengan reflekmu."

"Terima kasih."

Naruto berjalan ke sebuah pohon yang dibawahnya ada dua orang gadis yang sedang menunggu keduanya selesai Sparring. "Bagaimana dengan kalian? Mikoto? Kushina?"

Mikoto membuka suaranya. "Sharinganku mulai berkembang, aku tak tahu apa nanti bisa stabil atau tidak, Naruto ajari aku Mangekyou."

Naruto mengibaskan tangannya. "Ya, nanti akan aku ajari jika sudah siap." Naruto pun menatap Kushina. "Lalu Kushina?" Gadis itu diam tak mendengarkan membuat Naruto menghela napas pasrah melihatnya. "Tolong Kushina, jangan memikirkan kejadian semalam."

"Eh, apa?! A-apa yang kau katakan?!" Kushina terkejut, sementara Mikoto menatap tajam Naruto. "A-apanya yang mengingat kejadian tadi malam?! Kau duluan yang menyerang!" Mikoto semakin menajamkan kedua matanya, sharingan miliknya langsung aktif saat itu juga.

"Ngapain kalian berdua?"

"Bibir sialan." Naruto berkeringat dingin, dia menatap Kushina untuk meminta tolong padanya. "Kami hanya sparring saat itu, yah untuk merenggangkan otot saja kok."

"Heee, sparring kah?" Mikoto mengambil sebuah kunai dari kantong ninja miliknya. "Benarkah itu Kushina?" Kushina mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya sudah merah merona saat ini. "Sparring ya? Kau! Guru mesum!"

Teriakan seorang pria menggema di lapangan itu. Nagato hanya bisa tersenyum tak enak melihat sosok gurunya yang disiksa oleh tunangannya.

"Se-semoga kau baik-baik saja, sensei."

...

..

...

Keduanya saat ini berada di kedai Dango, Naruto dan Kushina berpisah dengan Mikoto yang pergi ke tempat Klannya berada, lalu Nagato yang ke rumah yang diberikan oleh Jiraiya. Naruto sendiri mengajak gadis Jinchuriki itu ke sebuah kedai yang tak jauh dari apartemen miliknya.

Siang ini setelah melakukan latihan rutin, mereka berdua melakukan kencan. Naruto terkadang memanjakan Kushina ataupun Mikoto jika ada kesempatan akhir-akhir ini, atau setelah dia pergi misi dengan salah satu dari ketiga Sannin itu.

Kedekatannya dengan Orochimaru sendiri seperti seorang sahabat, Orochimaru di zaman ini terlihat tak mencurigakan sama sekali, seolah dia tak membuat sebuah penelitian yang membuat Naruto kesal. "Jadi Kushina, kau sudah bisa menggunakan rantai chakra?"

"Sedikit, masih butuh beberapa tahun hingga aku bisa mengendalikan semuanya." Kushina berujar sembari memakan sebuah Dango. "Kurama juga membantu sih, tapi dia mungkin hanya memberikan saran saja."

Perlu diketahui, Kurama sudah menunjukkan eksistensi dirinya kepada Kushina, dia mulai berteman dengan gadis itu atas saran yang diberikan Naruto. Karena Kurama sendiri partner Naruto dulunya, dan mereka berpisah saat melompat ke masa lalu akibat ulah dewa kematian.

"Kau tak akan terus bergantung pada Chakra Kurama, dia hanya memberikanmu Chakra lebih jika kau kehabisan Chakra ditubuhmu, ataupun dia bisa menyembuhkan dirimu. Mungkin jika dia ada di tubuhku, aku akan melapisi tubuhnya dengan Susano'o," ujar Naruto di akhiri dengan tawa.

Kushina juga tertawa kecil membayangkan Naruto melapisi tubuh Kurama dengan Susano'o. "Naru, ini sudah beberapa bulan semenjak kau datang kesini."

"..."

"Dan kita sudah berhubungan badan saat umurku tepat lima belas tahun."

"Kau...menyesal?"

Kushina menggelengkan kepalanya saat itu juga, dia tersenyum menatap Naruto. "Tidak, aku malah senang memberikan hal yang berharga ini padamu." Tangan Kushina bergerak menggapai tangan Naruto, gadis itu menautkan jemarinya pada jari-jari Naruto. "Terlebih, aku merasa sangat dilindungi olehmu."

"Sudah menjadi tugasku melindungimu Kushina, kau dan Mikoto adalah orang yang berahrga bagiku."

Kushina kembali memberikan senyuman manisnya pada Naruto. "Terima kasih."

Naruto dan Kushina kembali melanjutkan acara mereka untuk makan siang di kedai tersebut, keduanya berbincang tentang beberapa hal termasuk Kushina yang bertemu salah satu anggota Klannya yang masih tersisia. Kushina tak menyangka jika para Uzumaki akan menyebar keluar desa Uzu setelah penyerangan yang dilakukan oleh ketiga desa besar.

Di lain sisi, Naruto ingin membalas apa yang telah dilakukan oleh ketiga desa besar itu pada desa kelahiran Ibunya, tapi dia mengurungkannya, karena akan menimbulkan perang besar berkepanjangan, saat ini saja kelima desa besar sedang genjatan senjata, kecuali saat dia serta timnya yang diberikan misi lalu di hadang oleh dua pemimpin desa besar serta pemimpin dari Ame.

"Naruto, seumpamanya kau menjadi Hokage, apa yang akan kau lakukan nantinya? Apa kau akan mengutamakan Klan atau Desa?"

Naruto terlihat berpikir sejenak, dia mengingat kembali bagaimana dirinya menjadi Hokage saat masih hidup di dunianya dahulu, dan sekarang dia bersama Orochimaru menjadi kandidat kuat untuk menerima topi kepemimpinan dari Hiruzen.

"Desa adalah prioritas utama, mungkin aku harus ke makam Hokage pendahulu sebelum menjadi pemimpin desa."

"Kenapa kau memprioritaskan Desa? Lalu Klanmu?"

"Memberikan tugas Klan pada Mikoto mungkin ide yang bagus, selain aku bisa mengatur desa, aku juga bisa memimpin Klan Uchiha dibelakang Mikoto." Naruto memberikan jeda pada penjelasannya, dia meminum teh hangat yang telah disediakan. "Aku ingin kita juga membangun Klan Uzumaki disini."

"Kau ingin aku menikahi Nagato?!"

Naruto menggelengkan kepalanya. "Bukan itu maksudku, tapi aku menginginkan dimana jika anak kita perempuan, maka akan aku jodohkan dengan Nagato."

Kushina menatap Naruto malas. "Perjodohan huh?"

"Apa itu salah?" Kushina menggelengkan kepalanya. "Jadi tak masalah jika anak kita perempuan nanti dan menikah dengan Nagato."

"Naruto, kita belum menikah, dan sudah merencanakan perjodohan anak kita."

Naruto menyeringai. "Bisa saja kau hamil beberapa bulan kemudian, kita kadang bermain tanpa pengaman."

Kushina menundukkan kepalanya, wajahnya kali ini sudah merona. "A-apa yang kau katakan?!"

Naruto berdiri, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Kushina. "Aku tak masalah jika kita punya anak diluar pernikahan, Kushina-chan."

"Bo-bodoh!"

...

...

Beberapa saat kemudian, kedua sejoli itu diganggu oleh Jiraiya serta Tsunade yang kebetulan datang ke tempat tersebut. Jiraiya meminta penjelasan tentang Nagato yang saat ini dibawah bimbingan Naruto, terlebih kekuatan mata yang dimiliki oleh Nagato sangatlah langka.

"Namanya Rinnengan, kemampuan dari mata itu sangat mengerikan. Kita sendiri harus melindungi Nagato dari Ninja suruhan Danzo, si mata satu itu masih mengincar beberapa Ninja berbakat untuk direkrutnya." Jiraiya mengangguk memgerti, dia juga harus melindungi ketiga muridnya dari Danzo. "Tsunade, bagaimana status Kushina setelah terakhir kali kau melatihnya."

"Dia bisa menngontrol chakra miliknya, jika Bijuu di dalamnya aku kurang tahu sih. Beberapa pelatihan medis juga sudah kuberikan pada Kushina, dia bisa menjadi Ninja Medis nantinya saat menjalankan sebuah misi atau ada sebuah perang." Tsunade menjeda penjelasannya beberapa saat, dia memakan Dango serta meminum teh yang sudah disediakan. "Teknik dariku juga sudah kuberikan padanya, teknik ini khusus untuk Ninja berbakat seperti Kushina."

"Seperti titik di dahimu?"

Tsunade mengangguk. "Ya seperti milikku. Tunggu, bagaimana kau tahu?"

"Tak sengaja terlihat seperti dada besarmu itu."

Detik selanjutnya, Naruto babak belur dihajar dua wanita.

...

..

...

"Uhh, sudah berapa kali aku dihajar oleh perempuan karena keceplosan?" Naruto meringis merasakan sakit karena luka lebam. "Aw! Kushina-chan agak pelan dong."

"Membicarakan dada di depan umum adalah hal tabu, Naruto." Kushina langsung menarik tangan Naruto, dan meletakkannya pada dadanya. "Tapi jika kita di apartemen sendirian seperti ini tak masalah bagiku, ufufufufu."

"Kushina-san...,"

"Ya? Ingin lebih?" Kushina langsung memukul pipi Naruto. "Nanti malam saja ya?" Dia beranjak dari tempatnya setelah mengobati luka lebam di wajah Naruto, Kushina pergi ke dapur untuk memasak sesuatu. "Aku harus memasak untuk makan malam kita nanti."

"Baik..." Naruto langsung menidurkan tubuhnya di atas sofa.

Dia saat ini memikirkan sesuatu, pandangan Naruto menerawang ke depan, kedua mata hitamnya seolah tak yakin dengan alur yang dia buat saat ini, dia memang ingin perubahan yang mendasar saat ini. Mengubah seluruh alur cerita yang dibuat oleh Zetsu Hitam, mungkin menggagalkan pembantaian Uchiha oleh Itachi akan sangat bagus, atau menyelamatkan salah satu rekan dari gurunya dulu.

Dia yang seharusnya menjadi Hokage ketujuh malah menjadi Hokage keempat, dia yang seharusnya satu Klan dengan Ibunya malah satu Klan dengan Ibu Sasuke. Tapi dia beruntung bisa dicintai oleh Kushina bukan sebagai anak, tapi sebagai seorang lelaki yang melindungi wanitanya.

"Ah, pantat Kushina memang empuk-aduh! Kushi-cha!?"

"Jangan mengatakan hal aneh-aneh, dasar bego!"

Di dunia ini, Kushina adalah Tsundere.

...

..

.

Tbc.