Taehyung menatap kosong altar tempat ibunya di semayamkan untuk terakhir kalinya, tidak terlalu banyak yang datang karena memang ibunya bukan seorang yang memilki banyak kenalan dan kerabatpun tidak punya lagi. Tentu saja, ia juga sudah memblokir siapapun dari keluarga Kim yang berani datang, hanya sekertaris atau yang saat ini menjadi mantan sekretaris tuan Kim yang di ijinkannya karena Taehyung cukup berterima kasih kepada pria paruh baya itu yang membantu Taehyung membawa jasad ibunya dari cengkraman ayah tirinya yang brengsek, sekaligus memberitahu kejadian lengkap bagaimana ibunya bisa merenggang nyawa di meja operasi. Semua seperti dugaan Taehyung, tuan Kim memaksa dokter melakukan operasi saat kondisi ibunya drop yang tentunya membuat konplikasi berujung maut. Taehyung sesekali mengusap peti ibunya yang esok paginya akan di kremasi, pikirannya kosong tidak tahu arah karena selama ini ia hanya tahu menjalani hidup demi ibunya namun setelah ibunya meninggal seolah harapannya juga ikut layu. Wajah pucatnya sudah lelah mengeluarkan air mata hanya tersisa isakan kecil yang berkali-kali mengatakan maaf dan nama ibunya. Beberapa orang yang melayat cukup prihatin dan berbisik-bisik mengenai kondisi Taehyung yang menyedihkan karena setelah ini ia hidup sebatang kara tanpa penopang lagi. Di saat bersamaan sepasang mata bening berkaca-kaca itu melihat sosok Taehyung dari kejauhan, tangannya memegang erat buket bunga yang rencananya akan ia taruh di atas peti tempat ibu Taehyung di semayamkan. Perasaan Jungkook campur aduk sekarang, antara sedih, kasihan dan juga marah mendengar bisik-bisik beberapa pelayat yang membicarakan Taehyung.
"Tuan..biar aku saja yang memberikan bunga dan salam hormat jika anda masih ragu" ujar pelayan yang menemani Jungkook, ia pikir majikannya itu masih ragu-ragu dan sebenarnya tidak sanggup untuk menghadapi wanita itu sendiri tetapi Jungkook mengisyaratkan pelayan itu untuk membawanya lebih dekat ke area altar dan tempat Taehyung berdiri. Taehyung yang sedari tadi menunduk dengan mata kosong, tidak terlalu memperdulikan siapa yang datang dan memberikan salam hormat terakhir kali kepada ibunya, menoleh kaget ketika Jungkook mengejutkannya "Maaf hyung...aku turut berdukacita atas kehilanganmu" bisik Jungkook amat pelan sambil menyodorkan bungket bunga yang di pegangnya. Jungkook hanya menunduk sedih dan tidak berani melihat wajah Taehyung karena ia pasti akan kembali menangis frustasi jika melihat lelaki yang di cintai nya itu putus asa saat ini. Tanpa di duga, Taehyung langsung berhamburan memeluk tubuh ringkih Jungkook dan kembali menangis pilu, seluruh pertahanannya hancur begitu melihat sosok lelaki manis yang mengisi hari-harinya selama hampir 1 tahun ini. Jungkook ikut memeluk erat lelaki rapuh yang di cintainya.
"Ma..maafkan aku..hyung..maaf" isak Jungkook terbata-bata terus mengatakan maaf kepada Taehyung karena saat inilah terakhir kali ia bisa mengatakannya karena setelah ini ia akan melepas Taehyung untuk memilih jalan hidupnya sendiri, Jungkook sadar jika ia terus memegang erat Taehyung seperti keinginannya hanya membuat dirinya sama dengan wanita itu. Taehyung tidak mengerti mengapa Jungkook terus meminta maaf kepadanya, yang menjadi fokusnya saat ini hanyalah ia butuh seseorang untuk menopang dirinya.
"Terima kasih atas semuanya ibu, maafkan aku yang masih tidak bisa menjadi anak yang membanggakanmu..kuharap ibu bisa beristirahat dengan tenang sekarang" bisik Taehyung lirih sambil mengusap peti mati ibunya terakhir kali sebelum di bawa ke ruang kremasi. Jungkook lalu memengang tangan lelaki itu sambil menatap kosong peti yang sedikit demi sedikit terbakar, setelah ini lembaran baru di kehidupan Taehyung dan Jungkook mulai berjalan.
*
"Hiks..aku..me-memang tidak berguna..hiks..maafkan..aku..hiks..Tae" rancau Jimin yang terus-menerus menangis dan memohon maaf kepada sahabatnya itu, ia terlambat mengetahui kabar ibu Taehyung yang sudah meninggal seminggu lalu. Jimin saat itu masih belum stabil dan terlalu larut dalam rasa depressinya sehingga tidak sadar jika sahabatnya itu mengalami hal yang lebih menyakitkan. Taehyung menuang kembali gelas soju miliknya dan Jimin, saat ini mereka minum-minum di apartemen kecil tempat mereka pindah baru-baru ini. Kematian ibunya menimbulkan luka yang cukup dalam bagi Taehyung, ia langsung memutuskan hubungan dengan keluarga Kim dan berhenti jadi dokter di rumah sakit. Awalnya Taehyung masih berencana untuk bekerja di sana kira-kira sampai ia mendapat pekerjaan baru tetapi kepindahan Jungkook tiba-tiba membuatnya terpukul kembali. Lelaki manis yang berjanji menjadi penopang baginya itu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan sama sekali bahkan hingga sekarang tidak memberikan kabar apapun saat ia berusaha mengkontaknya berkali-kali. Beruntung kondisi Jimin akhirnya membaik jadi Taehyung kekurangan sedikit beban di pundaknya, hanya saja ia masih sering menerawang jauh tentang hidupnya dan masa depan yang ia inginkan, begitu juga dengan Jimin. Mereka bagaikan perahu terombang-ambing di laut lepas tanpa arah. Jika dulu mungkin Taehyung bisa mengambil langkah untuk menjadi pelukis dan photographer saat dirinya memiliki kebebasan seperti sekarang namun nyatanya saat ini ia malah bingung harus memulai darimana.
"Hiks..mulai h-hari
ini..hiks..kita..bersama..hiks" rancau Jimin makin menjadi, mukanya sudah mulai memerah dan kesadarannya sudah mulai kabur akibat banyaknya botol Soju yang ia habiskan dalam satu waktu. Taehyung hanya menghela nafas lelah dan mulai bangkit menopang Jimin menuju kamarnya. Setelah itu tubuh mereka bersama tepar di kasur kecil dengan bau alkohol yang menyeruk dari tubuh mereka berdua yang sama-sama kacau tetapi untuk saat ini mereka tidak perduli karena hanya dengan cara ini mereka bisa lari sedikit dari kenyataan dan mimpi indah dalam larutnya malam.
*
Angin sepoi-sepoi menerpa Taehyung di tengah padang pasir yang berbatasan langsung dengan laut. Taehyung melihat sekeliling yang terasa gersang dengan hanya beberapa pohon kelapa yang melambai dan bebatuan besar. Sejauh mata memandang hanya ada dirinya di tempat sunyi dan tenang ini, rasanya cukup menyejukkan bagi jiwanya yang merasa lelah dengan kecemasan menghantui pikiran Taehyung dari hari ke hari, menghabiskan waktu di tempat seperti ini yang rasanya ia butuhkan saat ini.
"Hyung..ini aku" sapa seorang anak kecil manis yang entah datang darimana, menarik ujung baju Taehyung. Anak dengan mata berseri jernih, pipi kemerahan dan gigi kelinci yang timbul di sela-sela bibir tipisnya, sosok yang menarik perhatian Taehyung karena kecantikannya.
"Kau darimana?kenapa bisa ada di sini?" tanya Taehyung retoris sambil mengusap rambut lembut anak tersebut. Anak itu hanya menggeleng imut dan kembali menatap dalam ke arah Taehyung, "Aku tinggal dekat sini..hyung yang mengajakku main kemari" polos anak tersebut, Taehyung agak heran dengan sosok yang di katakan hyung oleh anak ini karena selain dirinya, ia tidak menemukan sosok siapapun. Apakah anak ini tersesat?tapi aneh sekali bisa sampai sejauh ini serta Taehyung tidak menemukan rumah sejauh matanya memandang.
"Kau tersesat manis..mari kita pulang ke rumahmu hmm, aku akan mengantarmu" ucap Taehyung lembut mengandeng tangan mungil anak tersebut.
"Tapi aku masih ingin di sini hyung..kita bermain saja yah, aku benci harus mendengarkan ibu berteriak di rumah sekarang!" keluh anak itu dengan muka memelas, entah mengapa sekilas kepala Taehyung berdengung tajam saat mendengarnya seolah di sebelah kupingnya ada seorang wanita memaki dengan nada tinggi kepada pria yang di sebut suaminya.
"Hyung kenapa pucat begitu?apa kau sakit?" khwatir anak itu menggenggam erat tangan Taehyung. setelah beberapa gelengan, kepala Taehyung kembali seperti semula "ah..tidak, aku hanya sedikit pusing manis" senyum Taehyung lemah tidak ingin membuat anak sekecil itu merasa khwatir karena dirinya. Anehnya, anak tersebut tersenyum lebar tetapi dengan sorot sedih di matanya, "hyung kali ini biar aku yang melindungimu yah..Koko, mencintaimu hyung" bisik anak kecil itu setelahnya mencium pipi Taehyung manis. Taehyung terpaku dengan perlakuan anak manis tersebut sampai ia tidak sadar jika anak itu mulai mundur dan menjauh dari jangkauannya.
"Koko..Koko.. Jungkook!" teriak Taehyung spontan saat berusaha menggapai bayangan anak manis tersebut yang ternyata hanyalah mimpinya. Taehyung melihat sekelilingnya di ruangan yang kacau akibat botol Soju dan bekas makanan yang berserakan, juga Jimin yang masih terlelap setelah mabuk parah. Taehyung mengusap wajahnya kasar, ia kembali di hempas kenyataan yang saat ini ia alami, mimpi itu terasa amat nyata dan Taehyung seperti pernah mengalaminya dulu, tetapi Jungkook? apakah ia memang pernah bertemu dengannya saat kecil dulu. Sakit kepala tiba-tiba datang dan menusuk ketika Taehyung berusaha berpikir keras dan menyusup ke memori lamanya. Taehyung memutuskan untuk bangkit dan membersihkan kekacauan di apartemennya, berpikir terlalu keras tidak akan mendapatkan jalan keluar juga malah membuat kepalanya mau pecah. Saat Taehyung hendak keluar untuk membuang sampah tepat sekali seseorang tukang pos memberikan sebuah surat padanya. Taehyung agak menyeritkan alisnya karena jaman modern seperti ini tetapi masih saja ada orang menggunakan surat untuk berkomunikasi padahal menggunakan pesan atau telepon lebih mudah dan praktis. Taehyung membolak-balik surat tersebut, tidak memiliki nama penerima tetapi ada alamat yang tertera di bagian bawah kiri.
"Busan?Aneh sekali.."gungam Taehyung karena setahunya tidak ada orang yang di kenal atau berhubungan dengannya dari Busan bahkan rasanya ia tidak pernah ke sana sama sekali. Taehyung mengangkat bahunya cuek dan mulai membuka dalam surat tersebut, yang ternyata bukan hanya berisi kertas surat tetapi juga sebuah kalung kerang kecil yang berwarna biru dengan tali merah. Taehyung menaruh kalung itu di sisi meja dan mulai membuka kertas surat coklat dan terlihat sedikit lapuk itu. Taehyung membaca pelan-pelan isi dari surat tersebut, namun semakin ia membaca untaian kata-kata semakin terkejut dan membulatkan matanya.
"Ini..tidak mungkin kan?Jeon Jungkook.." gungam Taehyung yang masih terpaku memegangi surat itu erat.
Dimanapun kau berada, kita akan selalu terhubung hyung
tbc
