Sebuah mobil sedan hitam terparkir di halaman panti asuhan, seketika menarik Kira untuk mempercepat langkahnya. Pikirannya bekerja, mencari tahu siapa pemilik kendaraan ini. Berbagai dugaan muncul seperti mantan anak panti asuhan atau mungkin donatur. Hanya saja, kenapa mereka harus berkunjung malam-malam begini?
Sosok yang muncul dari pintu kemudi sudah memberikan petunjuk bagi pemuda itu. Namun, Kira malah sangat terkejut mengenalinya. Ia baru bertemu dengan pria jangkung berambut klimis itu di pusat perbelanjaan. Kalau tak salah, pria itu adalah pelayan pribadi dari…
"Selamat malam," Sosok bersuit hitam itu menyapa Kira lebih dulu. Kira tertegun berhadapan dengannya, sampai-sampai ia cukup lama untuk menyampaikan sapaan balik.
"S-selamat malam,"
Pria itu sepertinya juga mengingat sosok pemuda pendek di depannya. Senyum tipis mengembang, seketika memunculkan guratan keriput di sekitar matanya.
"Anda… teman Nona Lacus... yang tadi di pusat perbelanjaan itu ya?"
Kira terlihat kikuk. Ia mengangguk-angguk sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Mungkinkah ia ada di sini?" Tanya Kira sambil melihat sepintas ke rumah.
"Ya, nona Lacus mengadakan kunjungan ke sini," Jawab sang pelayan formal. Kira menautkan alis. Tak pernah terpikir olehnya kalau bisa bertemu lagi dengan sosok Lacus di tempat tinggalnya ini.
"Apakah anda juga berniat mengadakan kunjungan ke sini…" Pertanyaan sang pelayan mengalihkan pikiran Kira. Pemuda itu tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Saya tinggal di sini…"
Kedua mata sipitnya sedikit membuka karena kaget. Beberapa saat kemudian, ia manggut-manggut. Air mukanya kembali berubah tenang.
"Kalau begitu mohon bantuannya," Pelayan itu membungkuk dalam, seolah mempersilakan Kira untuk memasuki panti asuhan. Kira membalas sapaan itu lalu melenggang ke pondok. Dari luar, cahaya lampu masih menerangi ruangan, pertanda kalau penghuninya belum ada yang terlelap. Mungkin karena ada pengunjung sehingga sang ibu asuh membiarkan anak-anaknya bermain walau waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Kira membuka pintu pondok. Hal pertama yang Kira temukan adalah keriuhan bocah-bocah penghuni panti asuhan. Sosok-sosok berbaju tidur itu terlihat mengerubungi seorang gadis berambut pink. Canda tawa terdengar menandakan kalau suasana terasa menyenangkan dengan kehadiran gadis itu. Kira mematung di depan pintu, memperhatikan gadis itu sampai sosok Caridad mendatanginya.
"Ah, Kira… sudah pulang,"
"Ya," Kira menjawab singkat. Caridad yakin kalau anaknya itu pasti kebingungan dengan tamu yang berkunjung ke panti asuhan malam-malam begini.
"Oh, panti asuhan kita kedatangan pengunjung… namanya Lacus…" Jelas Caridad "Ia tiba di sini sekitar dua jam lalu,"
"Dua jam lalu…?" Suara Kira agak tertahan karena masih tak percaya. Waktunya persis setelah ia bertemu dengan Lacus di pusat perbelanjaan.
"Sorenya memang mereka membuat janji kunjungan. Yah...walau sudah malam, mereka tetap memaksa untuk ke sini. Anak-anak juga sebenarnya belum merasa lelah, jadi aku membiarkannya berkunjung," Caridad tersenyum sambil berkacak pinggang. "Lagipula dia membawa banyak sekali hadiah untuk anak-anak,"
"Hadiah?" Kira teringat pada momen pertemuan mereka di pusat perbelanjaan. Sang putri memang terlihat sedang belanja banyak barang. Jangan-jangan barang yang ia beli…
"Kira… kau Kira Yamato ya?" Kini suara bak bidadari itu yang memanggilnya. Kira dan Caridad mendapati sosok Lacus mendekat dengan senyum manis. Sorot mata gadis itu tertuju pada Kira, seketika membuat Caridad heran.
"Loh, kalian saling kenal?" Caridad memandang Kira dan Lacus bergantian. Gadis berpenampilan kasual itu terkikik geli sementara Kira memalingkan muka.
"Kami sekelas, bibi…" Jawab Lacus sambil melirik Kira. Pemuda itu tetap menolak bertatapan dengan sang tuan putri.
"Ah, benarkah?!" Caridad terkejut. Lacus memang tidak memakai seragam sekolah. Penampilannya saat itu sangat sederhana dengan sweater merah serta celana jeans. Wajar saja kalau sang pemilik panti asuhan tidak sadar kalau Lacus berasal dari sekolah yang sama dengan Kira.
"Kenapa tidak menyapa duluan, Kira…" Tegur Caridad. Kira memang terlampau dingin pada teman sebayanya. Jarang sekali Caridad melihat Kira membawa teman-teman sekolahnya berkunjung ke sini. Mungkin hanya Cagalli saja satu-satunya teman Kira yang ia kenal.
"Mungkin kalian berdua mau mengobrol. Bibi tinggal ya..." Caridad ingin mengusir kecanggungan di antara keduanya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan mereka, berharap Kira mau lebih terbuka pada teman selain Cagalli.
Saat wanita itu pergi, hawa kecanggungan semakin kental. Kira masih memalingkan muka sementara Lacus berusaha membuka obrolan dengan pemuda dingin itu.
"Ternyata kau ke sini…" Kira yang akhirnya membuka percakapan. Ia beralih menundukkan mukanya, masih tetap menolak bertatapan dengan gadis di sampingnya.
"Ya…" Lacus tersenyum. "Maaf kunjunganku agak kemalaman…" Ujar Lacus sambil melirik arlojinya. "Untung saja bibi Caridad masih mengijinkan aku datang. Padahal panti asuhan pada umumnya tidak akan menerima kunjungan malam-malam begini,"
Kira hanya manggut-manggut, selebihnya ia membiarkan keheningan menguasai mereka. Lacus yang masih mendapati respon dingin dari Kira malah terus berusaha mengajak ngobrol.
"Kau tidak bersama temanmu itu…Cagalli?" Lacus memperhatikan sekitar Kira. Sejak tadi ia memang terlihat sendirian. Padahal di pusat perbelanjaan tadi ia bersama dengan seorang gadis.
"Dia sudah kembali ke rumah,"
"Oh, aku pikir kalian berdua saudara kandung loh," Lacus tergelak. Kira terus memasang raut serius. Ia pun menggeleng pelan.
"Tidak. Kami hanya berteman sejak kecil,"
Lacus manggut-manggut. Ia berekspresi polos sambil memegang dagunya. Tak lama kemudian, gadis itu kembali menunjukkan senyum ramahnya.
"Jadi, kau tinggal di sini ya…" Lacus menggumam. Mata emeraldnya mengedari ruangan. Pondok ini terlihat amat sederhana dan tidak terlalu luas. Jauh sekali perbandingannya dengan panti asuhan lain. Anak-anaknya juga tak terlalu banyak. Namun, entah kenapa, suasana di sini terasa lebih hangat. Ditambah lagi, sang pemilik panti asuhan adalah sosok yang amat ramah.
"Kenapa?" Kira menilik komentar itu. Lacus langsung salah tingkah mendapati sorotan tajam pemuda itu.
"Tidak, di sini menyenangkan. Kau memiliki keluarga yang luar biasa," Ungkap Lacus. Kira tak merespon cukup lama. Ia hanya menunduk canggung lalu mengangguk.
"Terima kasih,"
Seorang anak mendatangi Kira sambil membawa boneka dari hadiah pemberian Lacus. Ditunjukkannya boneka teddy bear itu pada sang pemuda berambut coklat itu. Kira berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak itu. Dalam sekejap, sikap pemuda itu langsung berubah drastis. Ia menunjukkan wajah ramah dan sorotan lembutnya pada seorang anak gadis yang masih berusia enam tahun itu.
"Boneka teddy dari kakak Lacus,"
"Lucu ya," Kira berkomentar sambil melihat boneka beruang coklat itu. Kemudian, ia kembali menatap sang anak lembut.
"Sudah bilang terima kasih pada kakak Lacus?"
Gadis itu hanya mengangguk. Sikap pemalunya memang amat menggemaskan. Lacus yang menyaksikan percakapan mereka berdua tak bisa menahan senyum lebarnya. Sementara itu, Kira membiarkan sang anak mendatangi si tuan putri pemberi hadiah ini.
"Lacus, kalau aku minta hadiah lagi apa akan diberikan?"
"Hush! Tidak boleh begitu," Kira melarang. Namun, Lacus tertawa pelan sambil mengelus ujung kepala anak itu.
"Tentu saja, Sara,"
"Hore!" Seru sang anak "Kalau baju baru, bagaimana?"
"Sara!" Tegur Kira. Sorot matanya tegas. Sang gadis kecil langsung menunduk takut.
"Tak masalah, Kira," Lacus yang malah menegur sikap pemuda itu. Sang gadis baik hati itu beralih pada anak kecil yang kini berada dalam rangkulannya.
"Tentu. Kak Lacus akan berikan hadiah lagi kalau berkunjung ke sini,"
"Janji?"
Lacus mengangguk pasti. Raut wajah anak itu pun sumringah. Dihaturkannya terima kasih pada sosok bak ibu peri itu. Lacus kembali mengusap ujung kepala gadis itu. Menggemaskan sekali. Andai saja ia memiliki seorang adik perempuan. Pasti Lacus akan menjadi sosok kakak yang selalu memanjakannya.
Sang anak bernama Sara itu kini meninggalkan mereka sambil memeluk boneka Teddy bearnya. Kira hanya berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala sementara Lacus tersenyum gemas melihat tingkah polah anak itu.
"Maaf ya, dia memang agak manja," Ujar Kira.
"Tidak apa-apa. Anak kecil selalu ingin diberikan hadiah," Sahut Lacus. "Hmmm…" Gadis itu tiba-tiba saja menilik Kira seperti orang kebingungan. Kira pun seketika salah tingkah.
"K-Kenapa…?"
"Aku baru ingat! Aku membeli hadiah-hadiah untuk anak-anak di sini. Sebenarnya masih ada sisa. Kusimpan di mobil. Kalau kau mau akan ku ambilkan," Ujar Lacus ceria. Muka Kira seketika berubah merah seperti kepiting rebus.
"T-tidak perlu! Aku bukan anak kecil lagi,"
"Tapi kau anggota panti asuhan. Jadi harus dapat hadiah,"
"T-tidak!" Belum selesai Kira bicara, Lacus keburu meninggalkannya, berlari keluar pondok. Kira mengacak-acak rambutnya. Pipi pemuda itu masih merah padam. Ia tak menyangka Lacus benar-benar akan memberinya hadiah. Padahal awalnya ia mengira gadis itu tengah bergurau.
Tak sampai lima menit, sosok Lacus sudah kembali ke pondok dengan menggenggam sebuah hadiah. Kertas pink yang dilapisi oleh pita merah membungkus kado itu. Warnanya sangat mencolok dan memalukan bagi seorang pemuda berusia enam belas tahun.
"Ini yang rasanya paling cocok untukmu," Lacus dengan polosnya memberikan kado itu pada Kira. Pemuda itu tak langsung menerima. Ia meniliknya dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menerimanya. Tangan Kira gemetar saat kado itu berpindah padanya.
"T-Terima… kasih…"
"Semoga kau suka," Senyum Lacus lebih terkesan puas karena berhasil membuat air muka pemuda es di sekolahnya berubah malu-malu.
Setelah momen itu, Lacus dan Kira pun bergabung dengan anak-anak panti asuhan. Mereka bermain dan bercengkrama. Sekitar setengah jam kemudian, tiba saatnya Lacus untuk pamit. Seluruh anak panti asuhan, Kira, serta Caridad berkerumun mengantarkan kepergian sang putri. Lacus berdiri berdampingan dengan Markio, menghadapi sosok Kira yang berdampingan dengan Caridad.
"Terima kasih atas kunjungannya, nona Lacus," Ucap wanita berbalut jaket rajut itu. Lacus membungkuk sopan sebagai respon. Senyum formal tercetak di bibirnya.
"Saya juga mengucapkan terima kasih sudah boleh berkunjung ke sini. Maaf kalau mengganggu waktu istirahat anda dan penghuni panti asuhan,"
"Tidak masalah, nona. Anak-anak sangat senang bermain dengan anda. Lalu…" Caridad melirik Kira "Saya juga senang ternyata anda adalah teman sekelas Kira,"
"Ya, saya senang sekaligus kaget, bibi. Dia tak pernah bercerita mengenai kehidupannya," Lacus menyindir. Kira langsung menunduk saat mendapati hujaman pandangan dari dua wanita di dekatnya.
"Dia memang agak pemalu,"
"Sudah, ibu…" Erang Kira. Caridad menyembunyikan kikihan di balik telapak tangannya.
"Boleh aku berkunjung ke sini lagi?" Sorot mata Lacus mengarah pada Kira. Pemuda itu terdiam sesaat. Entah kenapa, jantungnya mulai berpacu dengan kecepatan tinggi.
"Kalau itu...tak ada yang melarangmu,"
"Baiklah, besok aku ke sini lagi…"
"Eh!?"
Lacus tergelak. Rasanya ia mulai menemukan kesenangan tersendiri saat meledek pemuda yang terkenal paling pendiam di kelas. Bibi Caridad hanya tersenyum memperhatikan mereka.
"Kalian cepat akrab ya," Komentar wanita itu. "Biasa hanya Cagalli yang bisa menggoda Kira,"
"Ibu…" Kira kembali menegur.
"Dia anak yang baik, bibi," Komentar Lacus campuran antara pujian dan ledekan. Kedua wanita itu pun sama-sama tertawa.
"Baik, bibi. Saya pamit dulu, terima kasih," Lacus membungkuk sopan. Setelah itu, ia melambai semangat pada anak-anak yang berkerumun di belakang Kira dan Caridad.
"Sampai jumpa," Ucapan Caridad melepas kepergian Lacus dan sopir pribadinya. Mereka berdua pun menuju ke mobil. Markio memasuki kursi kemudi, sementara Lacus duduk di belakang. Kaca pintu mobil terbuka, mengekspos sosok sang putri. Saat mobil sedan itu melaju, terlihat Lacus yang terus melambaikan tangannya pada mereka. Pada akhirnya, wujud kendaraan hitam itu pun menghilang ditelan kegelapan malam.
Para penghuni panti asuhan membubarkan diri mereka. Bibi Caridad membimbing anak-anak ke kamar. Kira juga kembali ke kamarnya yang terpisah dari anak-anak lain. Sampai di sana, ia menemukan kado pemberian Lacus tergeletak di atas tempat tidur.
Kira meraih benda itu sembari menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Bunyi derak benda kayu itu ia acuhkan karena fokus pada benda dalam genggamannya. Wajah Kira datar. Tangannya membolak-balik wujud kado itu untuk menebak isi di dalamnya. Ukurannya tidak terlalu besar. Bentuknya agak pipih. Lalu teksturnya agak keras. Kalau boleh menebak, Kira yakin isinya pasti sebuah buku.
Dirobeknya kertas pembungkus serta pita yang berwarna mencolok. Tak butuh waktu lama, isi dari kado itu pun terekspos. Tepat seperti dugaan Kira, sebuah buku. Covernya berupa gambar seorang anak laki-laki berambut kuning dan berbusana serba hijau yang tengah berdiri di atas sebuah benda bulat, menghadapi bintang-bintang dan bulan.
Kira mengeja judul buku yang tampak seperti cerita anak-anak itu.
The Little Prince.
"Ini yang rasanya paling cocok untukmu,"
Kira berdecak lalu membalik posisi tidurnya jadi menyamping. Kedua matanya masih menatap buku itu. Semakin dipandang, terbentuklah seguret senyum miring pada bibir Kira.
"Aku tak tertarik pada buku cerita,"
