"Mulutmu akan putus jika kau terus tersenyum seperti itu."

"Ah!" belum sempat menjawab, yang disinggung malah dikagetkan oleh butiran-butiran salju putih yang tiba-tiba turun dari atas langit. "Salju!" pekiknya senang tapi juga terkejut. Semenjak berada di tempat sini, ia tak pernah tahu bulan apa ini ataupun jam berapa sekarang. Yang ia tahu hanyalah pagi, siang dan malam. Beberapa hari ini cuaca memang menjadi lebih dingin tapi ia tak menyangka salju akan turun di cuaca yang cukup cerah ini.

Naruto menatap ke arah langit. Salju turun mengenai wajah dan tubuhnya di balik pakaian. Ia tak pernah tahu bahwa melihat salju rasanya sebahagia ini.

Naruto kemudian menoleh ke arah Hinata yang masih menatap ke arah langit, masih lengkap dengan senyuman di bibirnya. Mungkinkah yang membuatnya bahagia bukan salju melainkan gadis ini?

"Aku merasa senang sekali sang Hime kembali ke sini." Hinata tak bisa menahan senyuman lebar ketika ia menatap Naruto, mengatakan betapa bahagia dirinya membayangkan seperti apa pertemuan Toneri dan gadis itu. Ia mengharapkan yang terbaik untuk mereka.

"Aku juga senang." Hinata menatap Naruto penuh dengan tanda tanya.

"Apa yang membuatmu senang?" tanyanya ingin tahu apa maksud dari tatapan mata Naruto.

"Seumur hidupku, pernah sekali aku tak bisa hidup dengan tenang. Apakah kau tahu kapan?" Hinata terkekeh kecil mendengar pertanyaan itu. Ia tahu jawabannya.

"Itu sudah lama sekali, pasti waktu kecil disaat anjing kesayanganmu mati, bukan?" jawab Hinata yakin tapi Naruto menggeleng kecil.

"Bukan."

"Bukan?" tanya Hinata memastikan. Ia ingat sekali kejadian itu dimana Naruto menangis berhari-hari dan tak napsu makan.

"Saat kau menghilang, Hinata..."

.

.

.

"Aku tak menyangka salju di tahun ini akan datang lebih cepat." gadis yang duduk di samping Toneri menoleh ke arah yang sama dengan Toneri, ke arah langit dimana salju mulai turun.

Tapi dia kemudian menatap Toneri dan tak lama, dia menunduk.

"Apa kau tahu? Aku tak pernah suka salju." Meski begitu, Toneri tak mau berhenti menatap salju yang turun dari atas langit.

"Aku tahu..." batin sang Hime berkata tapi bibirnya bertanya. "Kenapa kamu tak menyukainya?" ia ingat rajanya ini selalu bilang bahwa dia tak menyukai salju setiap kali salju pertama turun tapi dia tak pernah mengatakan alasannya.

"Karena perasaanku selalu tak enak setiap kali aku melihat salju turun." Toneri menatap sang Hime yang juga menatapnya. "Setiap kali aku melihat salju turun, aku berpikir mungkin aku akan terluka, mungkin aku akan terjatuh seperti salju ini. Mereka begitu lembut dan pasrah." Kalimat itu membuat sang Hime memainkan jari-jarinya. Ia benar-benar tak tahu harus berbicara seperti apa. Ia merasa tak seharusnya berada sini tapi sudah terlanjur.

"Apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu merasa lebih baik?" Toneri tersenyum tapi entah apa arti senyuman itu dan kemudian dia mengangguk sebelum menjawab.

"Ada..." sang Hime menatap dengan tatapan ingin tahu, menunggu apa yang akan dikatakan Toneri.

"Aku ingin mengakhirinya." Hime tak mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan dengan nada pelan itu. Ia menatap penuh tanda tanya.

"Bantu aku mengakhirinya." Toneri memperjelas kalimatnya barusan tapi tampaknya gadis yang masih berpikir keras ini benar-benar tak paham pada apa maksud dari ucapannya begitu juga apa maksud dari senyum di bibirnya.

"Maaf tapi aku tak paham, apa maksudmu?" senyuman Toneri entah mengapa membuat dirinya merasa tak nyaman, memikirkan mungkinkah apa yang ingin Toneri katakan adalah soal dirinya?

"Aku tahu...-

-kau bukan Hinata,-

-Hime..."

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

Portal : Diffrent

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Portal : Diffrent by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 11

.

.

"Saat kau menghilang, aku merasa sangat tersiksa sekali. Aku selalu melihat seseorang yang begitu mirip denganmu tapi dia bukan Hinata yang aku kenal." Hinata memilih diam dan mendengarkan apa yang akan Naruto katakan karena ia masih tak begitu yakin kemana arah pembicaraan ini.

"Sejak kau menghilang, aku selalu berusaha untuk bertemu denganmu, aku sangat takut sekali, aku ingin tahu keadaanmu dan karena itu aku sangat yakin kalau aku takut kehilanganmu." Naruto mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, mungkin pengakuan ini seharusnya ia lakukan sebelum Hinata sempat membuatnya takut setengah mati.

"Aku tak ingin kehilanganmu, Hinata." udara begitu dingin dan semakin dingin, tapi pancaran hangat dari mata Naruto membuat Hinata merasa hangat. Ia tak tahu harus merespon seperti apa kepada teman baiknya ini tapi di satu sisi, ia merasa gugup. Apakah perasaannya sama seperti Naruto? Ia juga takut kehilangan lelaki ini.

"Aku tak ingin merasakan perasaan takut ini lagi karena kau menghilang dari" kalimat Naruto disela oleh Hinata yang tiba-tiba menabrakkan dirinya membuat Naruto termundur satu langkah. Hinata memeluk Naruto dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya ke bidang dada Naruto untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipi yang terasa panas.

"Kau membuatku malu, Naru Baka..."

.

.

.

"Yang Mulia" sang Hime spontan berdiri ketika Toneri berdiri dan berjalan menjauh darinya dua langkah.

"Apa alasanmu kembali ke sini?" Toneri memutar badan menghadap sang Hime. Harusnya ia merasa senang tapi entah mengapa ia merasa takut. Ia tak merasa bisa mengakui betapa ia merindukan gadis ini ataupun betapa khawatir dirinya.

"Katakan apa maumu." Kalimat itu terdengar seperti perintah di telinga sang Hime hingga membuatnya memutuskan kontak matanya dengan Toneri. Ia tak tahu apa maunya kembali ke sini, tapi ia ingin mengeluarkan apa yang menjanggal di dadanya.

"Aku tidak mau minta maaf pada apa yang telah aku lakukan, jika aku menyakitimu. Aku juga tak ingin kamu memaafkanku ataupun mencoba mengerti." Ia bahkan tak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang ia rasakan. Sampai sekarang ia masih tak yakin soal apa maunya ataupun soal perasaannya.

"Aku tak mengharapkan semua menjadi seperti sediakala ataupun sebelum aku mengenalmu. Aku tak akan meminta agar kamu tak membenciku. Jujur saja, aku bahkan tak tahu kenapa aku kembali ke sini." mengumpulkan keberanian sang Hime mengangkat kepalanya dan menatap Toneri. Ia tak tahu apa yang pantas ia katakan karena semuanya sudah sangat terlambat untuk ia katakan.

"Aku rasa apa yang bisa aku katakan hanyalah aku berharap kamu bahagia." Toneri mungkin tak bisa melihatnya dari wajah tanpa ekpresi sang Hime tapi di dalam dirinya, jantungnya berdebar jauh lebih cepat. Perutnya terasa kram karena ia merasa takut bahkan malu.

"..." Toneri hanya diam, pikirannya kosong. Ia tak bisa bahkan sekedar mengasihani gadis ini. Apakah berbicara seperti itu adalah hal yang seharusnya atau jika hanya untuk mengatakan hal seperti itu, mungkinkah dia seharusnya tak muncul dan membuat dadanya kembali berdenyut?

Rasanya sang Hime lupa bagaimana caranya bernafas. Toneri memunggunginya dan dia melangkah pergi setelah mengatakan.

"Jika tidak ada kepentingan, pergilah. Istana bukan tempat yang bisa kamu masuki begitu saja." Melihat punggung Toneri menjauh membuat kakinya melemah. Badannya terjatuh ke atas rumput. Ia merasakan air mata mendorong ingin keluar dari matanya tapi ia menahannya dengan cara menarik nafas panjang.

"Aku tak ingin minta maaf." Seberapa besar ia menyakiti lelaki itu? Sikap Toneri membuat dirinya sadar bahwa meninggalkannya dan tak ingin kembali adalah hal yang paling jahat dan tiba-tiba kembali adalah hal yang paling egois. Ia menyakiti lelaki itu bukan hanya sekali tapi dua kali.

"Aku tak ingin katakan aku menyesal." Setelah semua yang telah Toneri lakukan untuknya tapi apa yang bisa ia katakan? Terlalu banyak hal membuat ia mengambil keputusan untuk lari, bahkan akan lebih bagus untuk tetap lari tapi ia malah kembali, dirinya pantas di salahkan, lelaki itu kecewa lagi karena keputusannya yang salah.

"Aku tak ingin berharap agar kau tak membenciku dan jangan memaafkanku." Ia sangat ingin katakan maaf tapi menyadari kesalahan apa yang telah ia lakukan, ia merasa tak pantas. Ia hanya akan merasa sangat tak tahu diri jika ia mengatakan maaf. Dirinya akan sangat egois jika Toneri memaafkannya. Mungkin ini akan lebih baik, Toneri membencinya.

"Aku tak mau minta maaf." Dadanya terasa sangat pedih sekali, ia menekannya dengan telapak tangan. Pipinya terasa jauh lebih dingin karena air mata lolos dari kedua matanya.

"Hiks"

.

.

.

.

BRACCKKK!

"TONERI SIAL!" pintu terbelah dengan kasar tapi apa yang lebih kasar adalah Hinata masuk ke dalam kamar pribadi Toneri dengan langkah kaki yang besar. Dia tampak sangat marah dan kesal, menghiraukan Naruto yang coba meredakan emosinya.

"APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?! APA YANG TERJADI?!" tanyanya menuntut jawaban. Tangannya membuang selembar kertas yang Toneri perhatian.

"Aku kenapa?" Hinata merebut dan membuang kuas di tangannya, membuat Toneri mau tak mau menatapnya.

"APA YANG TERJADI?" tanya Hinata lagi. "Aku sudah membayangkan happy ending tapi dimana Hime? Mengapa kau mengusirnya?!" pekik Hinata penuh dengan kekesalan dan tak percaya. Semua yang ia bayangkan sama sekali tak terjadi, bahkan lebih parah lagi. Gadis itu meninggalkan secarik kertas mengatakan bahwa ia telah membuat keputusan yang sangat egois, jadi dia harus pergi.

"Hinata, kau tak boleh berteriak seperti itu di kamar Toneri." Persetan dengan apa yang Naruto katakan. Fokus Hinata sekarang hanya pada Toneri di balik meja persegi. Ia butuh jawaban dan cerita lengkap!

"Apa aku harus minta maaf karena semuanya tak seperti yang kamu bayangkan?" ketika ia melihat Hime, ia tak bisa. Ia merasa takut dan juga sakit hati. Menatap mata penuh penyesalan itu membuatnya terluka.

"Memaafkan seseorang yang telah mengecewakanmu tak mudah, Hinata. Benar-benar tak mudah." Ia tak menampik fakta bahwa ia masih khawatir pada sang Hime tapi melihatnya jauh lebih sulit daripada merasa khawatir.

"Tapi kau masih perduli padanya. Bukankah kau mencarinya ketika kau tahu dia kembali ke sini?" tanya Hinata memastikan. Bahkan Narutopun yakin bahwa Toneri masih sangat mencintai gadis itu tapi mengapa dia mengambil keputusan ini?

"Aku melakukannya tanpa sadar tapi ketika aku melihatnya, aku merasa lebih baik jika aku tak melihatnya lagi." Rasanya jauh lebih sulit dari apa yang ia bayangkan. Ia terlalu mencintai gadis itu, hingga mendapatkan rasa sakit yang lebih besar juga.

"Tapi" raut wajah Hinata berubah menjadi sedih. "Tapi jika seperti ini, kau akan merasa sedih." Bahkan kesedihan itu sudah tercetak jelas di matanya. Tak perduli sedatar apa wajahnya, Hinata yakin Toneri merasa sedih karena telah membiarkan gadis itu pergi.

"Menjadi kecewa setiap kali melihatnya juga bukan jalan keluar, Hinata." Bahkan sekarang ketika ia memikirkan membiarkan gadis itu terus bersamanya, ia tak bisa.

"Aku selalu mengharapkan dia kembali karena aku merasa akan mudah untuk memaafkannya tapi ketika aku melihatnya, aku merasa sangat bodoh. Bahkan hanya berbicara dengannya saja, hatiku terasa sangat sakit." batu sekalipun akan hancur jika kau terus menghancurkannya.

"Lagipula dia juga tak minta maaf dan tak mengharapkan aku memaafkannya. Dia hanya menyesal karena telah menyakitiku, tak lebih. Aku tak mau lagi berharap." Apakah mengharapkan permintaan maaf dari gadis itu berlebihan? Bahkan jika dia telah melakukan kesalahan yang paling fatal sekalipun, tidakkah harusnya dia meminta maaf? Haruskah dia minta maaf? Atau haruskah dia tidak minta maaf?

"Mengakhiri adalah jalan terbaik."

.

.

.

To be continue

Hm hm lapar jafi ga fokus

Tapi dah terlanjur

Semoga sukaaa

I lope you