Querencia Chapter 11 : Behind the cover

Soonhoon Slice of Life Fanfiction

starring: kwon soonyoung; lee jihoon; kim mingyu

Mature

.

.


.

.

Menjadi seorang chaebol alias bagian dari aliansi orang-orang konglomerat itu tidak seenak yang orang duga. Apalagi, kalau status mu itu sebagai chaebol tampan yang masih muda dan segar, duh sungguh tidak mudah menjalani kegiatan sehari-hari tanpa adanya media yang selalu mencoba untuk menginvasi privasi.

Kwon Soonyoung dari Kwon Group terlihat makan siang bersama seorang wanita, Gundik?

Kwon Haneul, Anak dari CEO muda Kwon Soonyoung terlihat di sekolah sendiri, Orangtua nya diduga akan bercerai.

Soonyoung tertawa makin menjadi setelah melihat headline berita kedua-cerai my ass, Soonyoung bahkan bisa meriang satu minggu kalau Jihoon tidak tidur di ranjang yang sama dengan nya, bagaimana bisa mereka mengambil kesimpulan perceraian semudah itu seakan perceraian adalah mainan anak-anak? Soonyoung tidak habis pikir

"Gundik apanya? Apa eommanya Jihoon terlihat terlalu muda sampai-sampai tidak terlihat seperti wajah mertua?"

Akhir-akhir ini media memang semakin gencar berlomba mengeruk informasi pribadi dirinya dan keluarga. Ini semua dimulai ketika publik mengetahui bahwa ternyata Jihoon merupakan seorang dokter anak dan bukan ibu rumah tangga. Mereka cukup terkejut mendengar berita itu sebab sebagian besar pasangan dari para chaebol hanya berprofesi sebagai ibu rumahan yang sukanya merajut dan rumpi sesama orang kaya. Informasi ini sungguh menarik dan pada akhirnya berhasil membawa perhatian umum tentang rahasia apalagi yang mungkin dirahasiakan keluarga ini.

"Aku harus bertemu eommonim dan memberinya berita ini, dia pasti bakal senang karena dianggap masih muda oleh media."

"Kau ini sebenarnya pengusaha atau idol? Kenapa beritamu malah lebih banyak daripada anggota boyband sebelah?" Mingyu menyeruput cerutu nya semakin kuat setelah tadi habis party ketawa bareng bos kwon

Soonyoung hanya bisa geleng-geleng, "Aku menikmatinya, ternyata tidak buruk juga jadi pusat perhatian banyak orang."

Berbeda dengan Soonyoung yang keeping it chill dan cenderung mengikuti arus, Jihoon di sisi lain malah jadi panik sendiri dan khawatir jika keselamatan Haneul terancam karena media. Jihoon bahkan sempat mogok bicara sama Soonyoung karena suaminya itu enggan memberikan solusi. Untung saja lama kelamaan Jihoon jadi semakin terbiasa dan akhirnya jadi bersikap biasa saja dengan kemunculan berita-berita konyol itu. Selama media tidak campur tangan dengan anaknya, Jihoon tidak masalah.

"Ya, coba liat komen ini." Mingyu tiba-tiba saja menemukan sebuah komentar di artikel tentang Jihoon yang cukup menarik untuk dibuat diskusi

Hyenim987

Heol daebak-bahkan penghasilan istrinya sendiri sudah tinggi karena ia seorang dokter spesialis, dipakai untuk apa penghasilan istrinya kalau suaminya saja sudah sekaya itu? gila gila gila aku pengen kaya gitu dengan pacarku nanti

"Aku juga jadi penasaran, Memang selama ini kalian apakan penghasilan Jihoon?"

Meskipun Jihoon bekerja di rumah sakit milik keluarga, namun si mungil itu tetap menerima gaji dan uang tambahan operasi yang nominalnya tinggi

"Kemana Jihoon membawa penghasilannya?"

Soonyoung juga tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Ia tidak tahu dan memang tidak pernah mencari tahu untuk apa gaji Jihoon digunakan-Soonyoung bahkan tidak tahu kapan dan di mana gaji Jihoon disetorkan. Jihoon sendiri juga tidak pernah terus terang selama enam tahun belakangan.

Selama ini keluarga nya memang hanya bertumpu pada penghasilan Soonyoung. Soonyoung yang dulu bersikukuh memberikan istrinya black card tambahan segera setelah mereka melemparkan janji semati di altar gereja. Biaya bantuan panti asuhan dan transfer bulanan untuk orang tua pun juga dirogoh dari kocek Soonyoung seorang. Soonyoung baru sadar kalau ia-yang notabene seorang suami-tidak tahu sama sekali perihal serba-serbi penghasilan Jihoon sebagai dokter

"Memangnya Wonwoo bilang padamu diapakan gajinya dia?"

Mingyu mengangguk mantap, "Tentu saja lah bodoh, Wonwoo mengirim semua gajinya ke adiknya yang masih kuliah di Amerika." Si tinggi itu diam sebentar kemudian memasang wajah heran "Jangan bilang kau selama ini tidak tau menau soal gaji Jihoon."

Soonyoung menganggukan kepala dan Mingyu langsung dibuat kagum setelahnya

"Wah luar biasa memang, uangmu sudah terlalu banyak sampai-sampai gak tertarik punya penghasilan tambahan. Pantas saja keluargamu masuk sepuluh besar keluarga terkaya se korea."

Soonyoung jadi penasaran. Sudah enam tahun semenjak hari pernikahan mereka namun Jihoon tidak pernah memberitahu sekali pun perihal penghasilannya sebagai dokter. Pikiran negatif kemudian datang dan Soonyoung tidak bisa menghindari itu.

Bagaimana jika Jihoon ternyata punya keluarga lain dan ia membiayainya dengan uang itu?

atau bagaimana jika Jihoon selama ini punya pasangan lain dan menghabiskan gajinya untuk hidup bersama ketika Soonyoung tak ada?

Pikiran negatif ini semakin lama semakin menghantui Soonyoung tiga hari belakangan sampai akhirnya mencapai klimaks hari ini sehingga Soonyoung nekat pulang cepat demi mendapatkan jawaban

Soonyoung tiba di rumah ketika rumah sudah ramai dengan Haneul yang ternyata membawa beberapa teman nya dan Jihoon yang sedang sibuk menyiapkan makan malam bersama para pelayan. Ia baru ingat kalau hari ini adalah hari anak sedunia, tentu saja rumahnya akan ramai sebab Jihoon pasti akan mengundang teman-teman Haneul untuk makan bersama. Ini sudah menjadi tradisi lain di keluarganya selain mengundang anak panti sebulan sekali.

"Astaga Soonyoung!"

Jihoon dikejutkan dengan penampakan Soonyoung yang sudah duduk di pantry dapur dengan segelas yoghurt yang entah kapan lelaki itu ambil

Soonyoung hanya bisa menyengir, "Pekerjaanku sedang tidak banyak, aku bisa pulang lebih cepat."

Bohong banget, padahal tumpukan proposal kerja dan perjanjian masih menumpuk di ruangannya tanpa tersentuh

Jihoon yang mendengar penjelasan itu langsung meletakan piring yang baru saja ia cuci kemudian pergi duduk di samping Soonyoung untuk membantu suaminya melepas dasi dan kancing kemeja

"Maaf aku lupa mengabari sayang."

"Apa yang harus kau kabari? Ini bukan sesuatu yang harus banget dikabari terlebih dahulu."

Seperti biasa, Jihoon dengan segala cemooh dan omongan juteknya

Soonyoung mengambil sebuah nugget ayam di meja, "Tahun ini sepertinya tidak terlalu ramai, kemana teman-temanya yang lain?"

"Tidak diperbolehkan orang tua mereka,"

Soonyoung menatap bingung, "Kenapa? Bukankah selama ini mereka selalu memberi izin?"

"Sepertinya karena mereka tahu aku seorang dokter,"

Soonyoung jadi teringat kembali dengan alasannya pulang lebih awal

"Tapi apa hubungannya, sayang?"

Jihoon terlihat sedikit malas menjelaskan dan itu tercetak jelas di kedua mata Soonyoung, "Karena berita waktu itu mereka jadi berburuk sangka kalau keluarga kita terlalu banyak rahasia. Mereka takut anak mereka kita apa-apa kan. Itu yang aku dengar dari supir Hwang."

Tipu muslihat my ass, rumor tidak jelas apalagi itu?

"Tidak usah dipikirkan ya? kamu fokus kerja aja, perihal itu biar aku yang urus."

Jihoon menempeleng kepala Soonyoung, "Urus apanya? kamu malah kesenangan orang-orang mikir yang aneh-aneh tentang kita kan? cih."

Soonyoung tersenyum manis sebelum mengusap pelan rambut Jihoon yang sekarang warna nya hitam pekat

"Aku ingin bersenang-senang dulu sayang, baru nanti aku cari waktu yang tepat untuk membalas mereka semua" Soonyoung menyesap bibirnya sebentar "Kau tau semua hal itu harus dilakukan di momentum yang tepat, kan?"

Jihoon mengangguk kemudian si manis itu meninggalkan Soonyoung untuk bermain bersama teman-teman Haneul. Soonyoung sendiri keasyikan jadi penonton pemandangan gemas Jihoon bermain dengan anak kecil sampai-sampai dia hampir lupa dengan alasan ia pulang cepat

Sehingga Soonyoung diam-diam memasuki ruang kerja Jihoon

Soonyoung dan Jihoon memang mempunyai ruangan mereka sendiri. Hal ini dilakukan supaya mereka bisa melakukan pekerjaan mereka di rumah jikalau pekerjaan mereka sedang tidak menumpuk. Jihoon sendiri sering menghabiskan waktu di ruangan ini untuk belajar dan menganalisis data pasien sebelum melakukan operasi

Keadaan di ruangan kerja Jihoon sekarang sudah seperti adegan-adegan pencurian yang biasanya ditayangkan di film-film. Ruangan nya cukup gelap dengan Soonyoung yang berjalan mengendap-ngendap

Soonyoung harus menemukan buku tabungan pribadi Jihoon

Pria tampan itu membuka lapisan laci-laci yang mayoritas penuh dengan data pasien atau riwayat kesehatan keluarga besar. Soonyoung menghabiskan hampir lima belas menit untuk mencari buku itu namun rupanya tidak kunjung ia temukan

"Jihoon sayang kamu letakan di mana buku tabungan mu itu?"

Hingga akhirnya Soonyoung menemukan sebuah tas hitam kecil di atas lemari. Tas itu diletakan di tempat yang tidak lazim sehingga Soonyoung jadi penasaran dengan isinya. Rasa penasaran Soonyoung berbuah hasil.

"Dia punya tiga buku tabungan?"

Betapa terkejutnya Soonyoung ketika mengetahui bahwa Jihoon tidak hanya memiliki satu buku tabungan melainkan tiga yang semuanya memiliki saldo yang tidak main-main.

"Kenapa penarikan nya selalu besar semua?"

Soonyoung sadar ada sesuatu yang aneh di semua buku tabungan ini. Aktivitas transaksi yang tertera cukup aneh-saldo yang penuh itu selalu ditarik dengan jumlah uang cukup banyak setiap seminggu sekali. Penarikan ini konstan dilakukan seminggu sekali tanpa terlewat satu minggu pun.

Soonyoung tidak terlalu menyukai fakta yang baru ia temukan ini. Dugaan pria itu bahwa Jihoon mungkin menyembunyikan sesuatu di belakangnya semakin kuat dan ini bukan pertanda baik dalam hubungan mereka. Kegiatan seperti ini sungguh menggambarkan kegiatan orang tua yang memiliki keluarga jauh-Soonyoung membawa ketiga buku tabungan itu kemudian pergi tanpa enggan membereskan kembali kekacauan yang ia buat di ruang kerja istrinya.

Haneul akhirnya tertidur dengan dengkuran kecil setelah tiga menit Jihoon membacakan buku dongeng untuk jagoannya yang satu ini. Hari ini melelahkan untuk Jihoon. Tadi pagi ia harus mengurusi lebih dari lima belas pasien dan setelahnya masih harus memasak dan menemani teman-teman Haneul bermain yang surprisingly memakan banyak sekali energi.

"Soonyoung kamu mau minum susu?"

Soonyoung berteriak dari dapur dengan segelas susu murni tanpa gula yang baru saja diteguknya. Jihoon selesai meminum dan mencuci gelasnya namun Soonyoung tidak kunjung memberikan balasan.

"Dia lagi di kamar mandi apa gimana sih"

Oleh karenanya Jihoon kemudian pergi ke kamar mereka dengan segelas susu yang bahaya kalau sampai tumpah ke muka karena masih cukup panas

"Kok gak jawab sih? kamu mulai budek ya?"

Jihoon langsung bete ketika tahu Soonyoung hanya terdiam duduk di pinggir ranjang tanpa membalas pertanyaannya di dapur tadi. Jihoon meletakan susunya di meja kemudian duduk di samping Soonyoung

Aneh sekali, bahkan setelah barusan Jihoon bully, Soonyoung tetap tidak berkomentar apapun

"Kamu kenapa sih Soonyoung?"

Oke sekarang Jihoon mulai khawatir. Si mungil itu mengguncang sedikit tubuh Soonyoung ketika ia sadar bahwa Soonyoung tengah memegang sesuatu

"Ko buku tabungan aku ada sama kamu? kamu masuk ke ruang kerja aku ya?"

Jihoon merebut kembali ketiga buku tabungannya dan menatap Soonyoung sebal

Soonyoung menatap lurus kedua mata Jihoon, "Jihoon, kamu apakan uang-uang yang ada di tabungan mu?"

"Kamu kenapa sih Soonyoung?"

"Jihoon, aku tanya kamu apakan uang-uang yang ada di tabungan mu itu?"

Jihoon bisa merasakan emosi yang sedang Soonyoung tahan habis-habisan dan ia merasakan sesuatu yang tidak baik karena itu

"Maafkan aku tidak pernah mencari tahu kegiatan finansial mu selama enam tahun ini. Minggu lalu Mingyu menyadari aku kalau ternyata selama ini aku tidak tahu menahu soal distribusi gaji kamu. Hari ini aku mencari tahu, dan menemukan buku tabungan itu."

Soonyoung menutup kedua matanya sekilas, "Sudah ku periksa isinya. Isinya banyak, tapi penarikannya juga banyak dan itu semua konstan. Kamu tahu apa yang sekarang sedang aku pikirkan jadi bisa tolong kamu jelaskan kemana selama ini uang-uang itu pergi?"

Jika kalian menduga Soonyoung akan berapi-api dan menggunakan intonasi tinggi dalam berbicara, well kalian salah. Soonyoung itu pria bijaksana dan tentu saja cerdas, meneriaki seseorang yang belum tentu salah itu hanyalah tindakan yang dilakukan orang bodoh dan Soonyoung buka bagian dari kelompok itu.

"Aku tidak bisa menjelaskannya tapi kurasa aku bisa memperlihatkan mu sesuatu."

Jihoon tahu Soonyoung sedang marah besar dan itu sangat wajar mengingat ini semua berkaitan dengan trust issue

Jihoon kemudian pergi sebentar dan kembali dengan tumpukan kertas yang diikat tebal sampai-sampai si kecil itu sedikit kesusahannya membawanya

Soonyoung tidak tahu apa yang sedang Jihoon lakukan ketika mungilnya itu membuka ikatan tali tumpukan kertas dan mulai merapikan isinya

"Nama beliau Ahn Min Soo. Kamu lihat? tiga tahun lalu beliau terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan Intraserebral.. pendarahan otak kalau kamu ga paham. Waktu itu beliau harus segera dioperasi tetapi tidak punya biaya karena ia hanya penjual tteokbokki."

Kemudian Jihoon memperlihatkan kembali lembaran kertas baru

"Nama anak ini Kim Hye Sun. Dia divonis mengidap diabetes di usia 15 tahun. Dia lahir di panti asuhan, biaya sekali pengobatan nya setara dengan jatah makannya selama sebulan."

Soonyoung mulai mengerti kemana arah pembicaraan Jihoon

"Orang ini Kang Hyo Sin. Ia ditemukan dengan kaki membusuk dan penuh belatung."

"Anak ini mengidap kelainan hati sehingga harus menjalani operasi namun orang tuanya hanya seb-"

"Aku mengerti sayang, aku mengerti."

Soonyoung menghentikan kegiatan Jihoon yang terlihat mulai panik. Pria tampan itu tersenyum manis, ia membawa satu tangan Jihoon untuk digenggam

"Maaf soonyoung, maaf aku tidak pernah terus terang sama kamu. Aku takut mereka ikut campur kalau aku melapor padamu…."

Intinya, Jihoon tidak pernah terus terang pada Soonyoung karena ia takut Soonyoung akan ikut campur dan media akan menjadikan kegiatan nya sebagai topik berita yang menguntungkan satu pihak saja

Jihoon sekarang menggenggam tangan Soonyoung lebih erat, "Aku bersumpah tidak pernah menggunakan uangnya untuk yang lain-lain. Aku sudah membuat perjanjian tidak terikat dengan rumah sakit perihal pemberian bantuan dana pasien operasi seminggu sekali. Aku bekerja sama bukan hanya dengan rumah sakit kita tapi juga beberapa rumah sakit lain sehingga penarikan selalu konstan. Aku minta maaf Soonyoung, maaf aku tidak pernah memberitahumu."

Soonyoung terkadang masih tidak mengerti mengapa tuhan rela menitipkan makhluk semulia Jihoon kepadanya. Jihoon itu bukan hanya sekadar laki-laki manis yang cerdas, melainkan juga penuh cita dan kebaikan. Ibarat kan terdapat ladang berlian, maka Jihoon adalah satu-satu nya permata yang tidak berwarna namun bisa memancarkan sinar yang bercahaya.

Soonyoung membawa Jihoon ke pelukannya. laki-laki itu menyesap lembut perpotongan leher Jihoon, menciumi nya sekilas.

"Aku sayang kamu, Jihoon."

Kemudian Soonyoung membawa kedua bibir Jihoon untuk bertemu dengan bibirnya. Soonyoung memberikan ciuman manis yang lembut untuk orang yang sangat ia kasihi. Jihoon tanpa ragu membalasnya, memberikan balasan cinta yang terasa di antara saliva mereka yang saling bertaut.

"Jihoon, kamu tau gak?" Soonyoung mengakhiri ciuman mereka kemudian beralih menatap kedua mata Istrinya

Jihoon menggelengkan kepala karena ia memang tidak tahu apa yang mau Soonyoung bicarakan

"Dulu aku pikir kamu gak bakalan pernah mau nikah sama aku. Dulu aku pikir kamu bakal campakin aku karena aku tau kamu benci orang kaya."

Jihoon malah setuju, "Sama, aku juga masih bingung kenapa aku setuju dinikahin kamu waktu itu. Aku benci banget cowok pecicilan tapi kenapa sekarang aku tidur sekamar sama kamu? duh aku takut Haneul bakal nurunin sifat konyol mu yang satu itu"

Soonyoung ngambek dong, "Wah, kamu lagi pengen ya Ji?'

Maksud Soonyoung di atas adalah: jika Jihoon keasyikan membully dia kaya barusan, tandanya Jihoon lagi mau dimanja alias kepingin berhubungan intim dengannya

"Minum susunya dulu, aku kunci pintu kamar."

Selanjutnya kalian tahu kan akan seperti apa?

Jihoon mengunci pintu kamar dan Soonyoung segera menerkamnya dengan sekali tarikan. Mereka keasyikan sampai pagi datang.

.

.


Gajadi selese ini series, gemes soalnya hihi.

Tunggu chapter selanjutnyaaa.