Of Omega, Alpha, and White Wristband

Kepingan Akhir: Pengorbanan Cinta

Sebuah fanfiction

sigmame

oOo

Summary

Baekhyun tahu betul siapa Alphanya dan ia seharusnya menghampiri sang Alpha dan segera mating dengannya untuk menghilangkan sakit yang ia derita saat heat-month. Namun ketika tanda itu ada di pergelangan tangan kirinya, Omega bermata hitam gelap itu justru menutupinya.

Warning

Darah. Kekerasan. YAOI. Typo.

.

Oh, trust me, baby. I'm trembling while I'm typing this.

Enjoy the last 'piece' of this fiction.

oOo

Baekhyun turun ke ruang tengah dengan earphone terpasang di telinganya; wajahnya dibuat seolah-olah tidak peduli dan ia sama sekali tidak melirik pandangan aneh dari keluarganya dari awal ia masuk hingga ia mengambil tempat duduk di kursi yang tersedia. Jemari lentiknya mengambil dua cangkir teh dan menuangkan isi dari teko itu ke dalamnya, ditatanya juga beberapa kue kering ke satu piring kecil – wajahnya damai dan tenang sampai pada saat salah satu penutup telinganya ditarik paksa oleh, well, siapa lagi kalau bukan saudara kandungnya yang menjengkelkan itu. Omega itu memutar mata malas ketika ia menoleh dan mendapati Baekbeom menaik-turunkan alisnya usil.

"Oh, sudah mulai membangkang rupanya..." goda Alpha itu. Baekhyun kembali tidak menjawab tetapi keningnya berkerut sembari menambahkan beberapa sendok teh gula di cangkir tehnya; ia hanya mengisi satu sendok untuk Chanyeol karena ia tahu Alphanya itu tidak terlalu suka minum minuman yang terlampau manis. "Ayolah, Baekhyun – kakakmu ini hanya ingin bertanya tentang—"

"CHANYEOL!" Potong Baekhyun segera berteriak memanggil Alphanya.

Lalu terdengar suara hantaman yang agak keras dari atas sebelum suara kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga, Alpha bertubuh tinggi itu segera masuk ke ruang tengah dengan pakaian yang justru membuat seluruh keluarga Byun; kecuali Baekhyun, itu menahan tawa susah payah. "Ada apa, Baek?"

Dahulu, jika Chanyeol itu adalah Alpha yang sangat tidak peka terhadap Omega dan selalu merendahkan status werewolf jenjang demikian maka sekarang semua bak diputar bagaikan telapak tangan; lelaki ini sekarang malah tampak bingung dan sedikit khawatir mendengar panggilan keras dari pasangan hidupnya itu. Rambutnya yang acakkan jauh lebih enak dilihat daripada kemeja kekecilan yang berusaha ia kancingkan itu, bahkan ujung kemeja itu menjepit tidak elitnya di pangkal lengannya – itulah hasil dari ia yang berusaha memakai baju random yang ia ambil di kamar Baekhyun. Ia terlihat kikuk dan begitu whipped jika berhubungan dengan Byun Baekhyun.

Omega itu awalnya ingin mengadu, mengatakan pada sang Alpha bahwa ia kesal terhadap saudaranya tetapi melihat tampang dan penampilan Chanyeol yang tidak rapi ia lalu melupakan segala kekesalannya dan justru berdiri mendekati si jangkung. Dibenarkannya tatanan rambut merah terang itu sebelum digosokkannya telapak tangannya sendiri di kemeja kusut yang dikenakan Chanyeol, ia berusaha memasangkan kancing itu walau tidak berhasil karena kemejanya terlalu kecil untuk ukuran badan Chanyeol. "Tidak muat, Yeol. Kenapa pilihnya yang ini? Aku carikan baju appa dulu ya..." ucapnya pelan dan segera berjalan menuju tempat dimana ia dan Yoona selalu menyetrika pakaian.

Selepas perginya Omega cantik itu, lepas pulalah tawa Donghae dan juga Baekbeom; Yoona hanya menggeleng-geleng dan Nari terkikik gemas sementara Chanyeol sedikit malu.

"Aish, anak itu—dia bahkan tidak meminta izin yang punya baju." Donghae berkomentar sekaligus bercanda lalu diliriknya Chanyeol yang masih berdiri sambil menggaruk kepala. "Ya sudah, duduk saja, Chanyeol. Lagipula ada yang ingin kita sampaikan, dari pagi tidak sempat karena kau sibuk sekali dengan Baekhyunnie."

Lalu Baekbeom sengaja terbatuk setelah Donghae mengatakan kata sibuk, Chanyeol hanya tertawa canggung melihat tingkah penggoda ulung dari calon kakak iparnya itu. "Duduk saja, Chanyeol – kita ingin membicarakan tentang kehamilan Baekhyun." Ujar Yoona segera membuat Alpha muda itu meraih kursi dan duduk di sana. "Oh iya, itu teh buatmu. Baekhyun tadi sudah menyiapkannya."

Orang tua dari Omega jantan itu lalu membiarkan Chanyeol menikmati teh hangat itu, Yoona bahkan menawarkan beberapa keping kue kering yang diterima oleh Alpha berambut merah terang itu tanpa penolakan. Donghae lalu memulai percakapan dengan sedikit mendehem; ia tidak biasa sekali berunding tentang hal-hal yang sangat serius di depan istrinya namun mengingat sekarang anak bungsunya tengah hamil di usia yang sangat muda ia harus angkat bicara. Biasanya Omega-Omega akan diperbolehkan mengandung ketika mereka selesai sekolah karena kebijakan yang mereka ambil menjadi jalan tengah bersama manusia adalah demikian; bahwasanya werewolf harus membiasakan sedikit memiliki tata krama layaknya manusia dan menghormati norma-norma makhluk mortal tersebut walau sebenarnya ketika rahim seorang Omega matang maka itu adalah sah-sah saja bagi mereka untuk hamil. Ada istilah pil kontrasepsi yang dikenalkan oleh manusia kepada mereka dan semenjak itu beberapa Omega akan menggunakannya ketika mereka sibuk bersetubuh dengan Alpha mereka untuk meredakan heat yang datang – namun hamil dini tidak disalahkan juga di adat mereka; bahkan beberapa keluarga memutuskan untuk tetap membiarkan anak Omega mereka hamil ketika masih di bangku sekolah dan guru pun mengerti.

Donghae tidak akan menuntut apa-apa terhadap Chanyeol; ia sudah sangat bersyukur Baekhyunnya dapat mengandung lebih dari dua pup – jika tebakan dan perasaan dari Omega mungil itu benar, maka Baekhyun adalah Omega pertama dalam tahun ini mengandung anak kembar tiga. "Chanyeol-ah, aku sangat senang mendengar kabar Baekhyun hamil..." buka Alpha dewasa itu menatap mate dari anak keduanya itu lekat. "Kehamilan Omega adalah berkah bagi seorang Ayah sepertiku dan kehormatan untuk pack besar kita; kuyakin Yunho akan senang sekali mendengar kabar ini terlebih setelah munculnya Omega suci di tanah kita."

"Omega suci itu benar-benar muncul di daerah kita?"

"Ya, sekitar jam enam lebih kemarin sore seorang Omega datang melapor ke rumah Yunho – dia begitu muda, matang rahimnya terlalu cepat untuk usianya dan ia menangis dengan tanda di pergelangan tangannya yang hilang. Ia bersumpah melihat tanda itu untuk beberapa menit sebelum ia hilang kembali. Untunglah ia sempat mengambil foto dan mencocokkannya dengan lembaga perkumpulan tanda dan tahu nama dari Alphanya. Sayangnya ia tidak sadarkan diri dan tidak sempat mengatakan siapa nama Alphanya, siapapun dia nantinya akan berusaha mati-matinya bertarung demi Omega itu." Terang Donghae sedikit keluar dari tujuan awal cerita mereka.

"Kenapa disayangkan? Bukannya jika benar ia sudah mengetahui siapa Alphanya tetap saja nanti akan ada ritual yang memperebutkannya?" Chanyeol bertanya bingung; ia sedikit tidak mengerti kenapa dari nada bicara Donghae terdapat kekecewaan dari Yunho.

Alpha dewasa itu agak mendesah berat, pandangannya menatap jauh penuh renungan. "Aku juga tidak mengerti tetapi Yunho hanya khawatir jika nanti akan banyak pertumpahan darah dan kau tau sendiri, seluruh Alpha yang belum mempunyai mate nantinya akan tergoda dan insting untuk mendapatkan Omega Suci itu tidak akan bisa mereka tahan."

Semuanya sedikit terdiam sebelum Donghae kembali mengarahkan pembicaraan ke topik awal mereka yaitu kehamilan Baekhyun.

"Ah, mengenai Baekhyun... begini, Chanyeol. Kau tahu sendiri sekolah mempunyai kebijakan untuk mengeluarkan atau drop out Omega yang hamil pada saat masa sekolah; mereka biasanya memberikan toleransi di bulan pertama namun Omega saat hamil akan mengalami masa-masa rawan dan tubuhnya akan rentan lemah. Baekhyun itu, well... kau pasti juga sudah tahu sendiri, dia memiliki prestasi akademik yang sangat bagus sehingga Kepala Sekolah menghubungiku beberapa jam yang lalu untuk memberi kelonggaran baginya; Baekhyunnie tidak akan mengalami drop out tetapi dia tetap tidak boleh bersekolah selama kehamilan yang menyebabkannya harus ketinggalan satu semester dan tahun depan mengulang.

Sebagai Orang Tua aku dan Yoona khawatir dengan Baekhyun; dia pribadi yang kuat dan pintar hanya saja kami tahu dia ingin menjadi dokter kelak dewasa dan pendidikan adalah nomor satu baginya. Mungkin sekarang dia tidak akan menomorsatukan hal itu karena Omega pada dasarnya akan menyerahkan apapun yang ia punya demi membesarkan anak-anak dan mengabdi pada Alphanya, tetapi aku hanya tidak ingin nantinya Baekhyun kecewa. Yang aku minta padamu, Chanyeol... adalah agar kau membiarkan Baekhyun nantinya melanjutkan sekolahnya. Aku tahu ini adalah keputusanmu, karena Baekhyun sekarang sepenuhnya adalah milikmu dan kami sebagai orang tua telah tidak berhak atas dia."

Chanyeol mendengarkan dengan seksama; ia sedikit membalas dengan senyum simpul sebelum membuka mulut untuk berbicara.

Wajar sekali segala kekhawatiran dari Donghae dan juga Yoona.

Karena dalam dunia mereka, seorang Alpha adalah dominan yang akan menginginkan Omeganya di rumah dan tidak kemana-mana – tetapi Chanyeol bukanlah mereka yang maruk dan menginginkan Baekhyun hidup layaknya di penjara. Jika malaikat kecilnya itu ingin melanjutkan sekolah maka ia akan menyanggupinya. "Aku tidak—"

"Yeollie!"

Lima pasang mata di sana lalu melirik Omega yang sudah kembali dari misi kecilnya mencari baju sang Ayah untuk dikenakan oleh Alphanya; ia tersenyum bangga dan segera duduk di sebelah Chanyeol sembari menyerahkan tiga helai baju yang menurutnya lebih pantas dikenakan daripada baju kekecilannya itu sekarang.

"Aku tidak tahu Yeollie akan suka yang mana, jadinya aku bawa tiga – satu ini warnanya hitam, soalnya aku tahu kau suka yang hitam-hitam tapi agak kekecilan nantinya di perut soalnya appa itu kan pendek tidak setinggi Yeollie—"

"Ehem—Baek, kenapa malah menyebut tinggi appa, sih?" Potong Donghae tidak terima walau ia juga hanya bercanda merajuk pada anak bungsunya yang tidak menghiraukannya itu.

Baekhyun justru melanjutkan celotehnya tanpa berhenti sama sekali. "—jadinya aku pilihkan yang biru muda kotak-kotak ini; ini hadiah dariku untuk appa pas ulang tahun dua tahun lalu dan sedikit kebesaran karena eung—karena aku pas membelinya mengukurnya dengan tubuh Yeollie..." cicit Baekhyun jadi malu sendiri di tengah narasi panjangnya. Chanyeol memperhatikan Omeganya itu lamat-lamat, diraihnya wajah Baekhyun dan dibelainya pipi halus itu lembut. Begitu terenyuh melihat dan mengetahui bahwa rona di wajah cantik itu akan mudah sekali keluar karena dirinya, karena seorang Park Chanyeol, yang ternyata dari lama telah memenangi hati werewolf tersebut. "Jadi Yeollie mau yang mana? Yang ketiga ini warna putih."

"Ya Tuhan! Aku seperti menonton drama secara live saja, kalian berdua benar-benar..." Baekbeom menggeleng-geleng tidak sanggup melihat pemandangan di hadapannya. "Kita masih di sini, Adik Manis. Lagipula appa tadi dan Chanyeol sibuk membicarakan tentang masa depanmu."

"Ah? Masa depanku?" Omega itu lalu membulatkan mata lucu dan memandang kakaknya, ayahnya, lalu Chanyeolnya bergantian. "Masa depanku dengan Yeollie?" Tanyanya berkedip lucu, Chanyeol hanya bisa tersenyum menahan tangannya untuk mencubit pipi itu lalu menciumnya – ia masih tahu malu dengan calon mertua dan juga iparnya kelak.

"Baekhyun sayang, kau itu sedang hamil dan kau masih sekolah, Baek..." ujar Yoona menjelaskan. Baekhyun segera mengangguk mengerti dan membenarkan cara duduknya, ia lalu menatap ayahnya dengan penuh perhatian; siap untuk mendengarkan rencana apa yang dipikirkan oleh orang tuanya.

Donghae menunggu Chanyeol selesai berganti pakaian sebelum melanjutkan diskusi mereka.

"Sebenarnya appa dan eomma telah mendiskusikan tentang sekolahmu dan sebagainya, namun sebelum itu semua appa ingin tahu dulu apa yang kau inginkan."

Seluruh mata kini bertumpu pada Omega jantan yang tengah mengandung itu; mata sipit tersebut hanya membalas dengan kedipan lugu sebelum ia menatap balik pada Donghae, sang Ayah, dan kemudian tersenyum sembari mengalihkan pandangan pada sang Alpha. Park Chanyeol, Ayah dari anak-anaknya, Alpha dari Omeganya, belahan jiwanya – Chanyeol menunggu jawabannya dengan mata teduh yang menenangkan; ia berhak atas segala perintah dan keinginan yang diperuntukkan pada Baekhyun, ia adalah Alpha yang keinginannya adalah kewajiban utama bagi Byun Baekhyun namun sekarang, di rumah keluarga sang Omega, Chanyeol mendengar untuk mengetahui apa yang diinginkannya.

Sejujurnya.

Baekhyun hanya ingin hidup saat ini untuk mendampingi Chanyeol.

Hanya untuk Chanyeol.

Hanya bernapas untuk terus bertahan hidup agar Alphanya tidak sendiri.

Hanya untuk Chanyeol.

Menjadi orang tua yang baik dan merawat pup mereka kelak – Baekhyun hanya menginginkan hal itu.

"Aku..." mulainya sebelum menarik napas dalam. "Aku hanya ingin menjadi Omega yang baik untuk Chanyeol..." jawabnya sungguh-sungguh. Mata cokelat terang itu lantas berbinar seolah menjawab niat tulus Baekhyun dengan senyuman tersirat di dalamnya. Baekhyun bersemu, hatinya berbunga dan bibirnya tidak berhenti berkata. "Aku ingin menemani Chanyeol selamanya, berada di sebelah Chanyeollie saat keadaan apapun dan selalu mendukung Chanyeol saat ia menginginkan sesuatu. Jadi, appa..." kali ini Omega itu kembali menatap ayahnya. "Aku tidak akan menolak jika sekolah mengeluarkanku dari daftar siswa dan tidak bisa lulus nantinya."

Donghae terdiam, ia tidak ingin memaksa namun tampak sekali kekhawatiran di raut mukanya. Namun jika si bungsu hanya menginginkan demikian maka apalah yang dapat ia lakukan; Baekhyun sekarang adalah milik Chanyeol seutuhnya karena ia adalah Alpha yang berhak.

Membaca air muka dari Donghae, Chanyeol segera membuka suara. "Aku mengerti kekhawatiran ahjushi, dan aku juga tidak akan menolak keinginan Baekhyun jika nantinya ia ingin melanjutkan sekolah lagi. Namun jika Baekhyun tidak berkeinginan sama sekali maka aku akan berusaha keras untuk mewujudkan keinginan Baekhyun untuk menjadi Dokter kelak—"

"Chanyeollie, aku tidak ingin jadi Dokter." Potong Baekhyun tidak suka mendengar penuturan dari Apahanya.

"Kau mengatakan itu sekarang, Baek. Sebelum kau menjadi Omegaku, aku adalah sahabatmu dari kecil, Baekhyun. Aku tahu apa yang kau inginkan dan yang tidak kau suka, dan dari segala hal yang kau inginkan aku tahu sekali impianmu menjadi Dokter adalah yang terbesar." Suara berat Chanyeol terdengar serius sehingga membuat batin Omega itu sedikit menciut dan ia segera mengangguk kecil; jauh dalam lubuk hatinya, Baekhyun masih dapat merasakan keinginannya untuk menjadi seorang Dokter – ia dari dahulu sudah sangat gemar belajar tentang anatomi kaum mereka dan begitu kagum dengan Dokter Choi, walau sekarang ini cita-cita kecilnya itu tersamarkan oleh dominan rasa mengabdi pada sang Alpha.

"Yeollie, tapi aku benar-benar tidak ingin..." balasnya sedikit mengerucutkan bibir tidak suka. Baekhyun saat ini bukanlah Baekhyun dahulu, ia sekarang hanya ingin mengasuh anak-anaknya, ia yang sekarang tidak ingin menjadi apapun selain Omega setia untuk Chanyeol. "...untuk sekarang," sambungnya lalu tersenyum pada Alphanya. "Yeollie benar, aku mungkin suatu saat ingin bekerja di rumah sakit kembali – jadi appa, aku siap mendengarkan rencana eomma dan juga appa untukku."

Perlahan lalu Donghae mulai menjelaskan kembali rencananya yang sebelumnya telah diutarakan kepada Chanyeol sebagaian.

"Jadi aku tidak boleh ke sekolah lagi sama sekali?" Tuntut Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Baek, kau itu hamil; akan sangat berbahaya jika kau ke sekolah dengan keadaan hamil. Apalagi jika nanti heat pregnancy-mu datang dan kau akan susah sendiri di sekolah nantinya..." terang Yoona menjelaskan pada anaknya itu.

"Tapi bahkan ke sekolah juga tidak boleh? Bagaimana jika nanti aku ngidamnya ingin sekolah bersama Yeollie? Atau saat aku di rumah dan Yeollie di sekolah dan terjadi sesuatu?" Baekhyun kembali bertanya.

"Nah, karena itulah Baek... Chanyeol diberikan kelonggaran untuk dapat pulang lebih awal dan memilih mata pelajaran yang sangat penting saja agar ia bisa menemanimu di rumah."

Baekhyun lalu diam, matanya lalu melirik Chanyeol seolah bertanya bagaimana dengan pendapat Alpha muda itu. "Aku akan berusaha yang terbaik," ujar lelaki dengan rambut merah itu menatap sungguh-sungguh pada Omeganya, walau ucapannya ia tujukan kepada orang tua dari kekasih hidupnya itu. Ia lalu meraih jemari lentik Baekhyun, menggenggamnya erat sebelum ia benar-benar menatap Donghae dan Yoona beserta Baekbeom secara bergantian dan lekat. "Aku tahu aku tidak begitu baik di Akademik dan sering tidak mendengarkan pelajaran..." akunya membenarkan segala kelengahannya sebagai siswa selama ini.

Tampak sengit tipis di wajah Baekbeom, kekhawatiran di wajah Yoona dan juga ekspresi datar yang berwibawa dari Donghae menunggu ucapannya. "Aku memang tidak mempunyai tujuan yang jelas awalnya karena aku sendiri tidak begitu yakin ingin menklaim Omega; seperti yang kalian tahu sendiri aku menolak Baekhyun di awalnya..." ia berhenti, tangannya meremas cukup kuat jemari Baekhyun sementara Omega itu membalas dengan membelai lembut tangan itu oleh jari-jari tangannya yang satu lagi.

Chanyeol tersenyum pelan.

Ia dapat merasakan detak jantung Baekhyun yang beriringan bersamanya.

"Tapi aku tidak ingin menjadi Alpha yang tidak bertanggung jawab setelah menklaim Baekhyun, dia... dia adalah segala-galanya bagiku sekarang, ahjushi... Aku tahu ini terdengar terlambat tetapi aku akan lebih serius belajar dan mendapatkan pekerjaan yang nantinya akan mampu menutupi kebutuhan rumah tangga kami. Aku yakin selama kehamilan ini Baekhyun akan tinggal bersama kalian, dan aku ingin meminta izin kepada kalian untuk membiarkanku tinggal di sini selama Baekhyun mengandung. Aku akan berusaha mendapatkan pekerjaan tambahan dengan bantuan Kangin hyung nantinya."

"Oh, Chanyeol... kau itu sudah kami anggap anak kami sendiri. Seluruh teman Baekhyun adalah anak kami juga, tentu saja tidak akan masalah sama sekali jika kau tinggal di rumah ini, Yeollie." Yoona lalu membuka suara dengan nada yang sangat lembut, Ibu dua anak itu tersenyum pada mate dari putra bungsunya itu. "Dan kita tidak menuntut kau bisa mempunyai rumah untuk Baekhyun, Chanyeol-ah. Kalian masih sangat muda dan seperti pasangan werewolf remaja pada umumnya, kalian tentu akan sangat boleh tinggal bersama orang tua salah satu pihak. Hanya pastikan saja ini kepada keluargamu, Chanyeol. Sampai saat ini kuyakin kau belum sempat berbicara kepada Ayah dan Ibumu, bahkan kakakmu tentang hal ini, bukan?"

Benar; Chanyeol nyaris saja tersenyum mengejek pada dirinya mengenai fakta yang diucapkan Yoona.

Ada alasan kenapa Chanyeol tidak pernah membawa temannya pulang; karena ia tidak ingin membiarkan salah satu dari mereka menangkap adanya Omega lain yang sering berkunjung ke rumah dan masuk ke dalam kamar Ayahnya. Ia juga tidak ingin mereka tahu jika Ibunya semakin hari hanya dapat terbaring di ranjang akibat perselingkuhan sepihak dari sang Alpha, atau juga kenyataan bahwa noona-nya sendiri sudah jarang sekali pulang ke rumah karena tidak tahan dengan keadaan keluarga mereka.

Seketika Chanyeol tersentak.

Bagaimana nantinya jika ia akan melakukan hal yang sama?

"Yeol? Yeollie?" Suara lembut milik Omeganya lalu segera membuyarkan lamunan terkutuk yang sempat singgah di pikirannya. Baekhyun mengerjapkan mata bingung sebelum ia kembali tersenyum. "Kapan orang tua Yeollie balik dari tempat Yoora noona?"

Chanyeol hanya tersenyum canggung; ia selama ini mengatakan pada orang-orang bahwa orang tuanya tidak di kota dan mengunjungi Yoora. "Aku juga tidak tahu, Baek. Tampaknya mereka sangat nyaman di sana..." ia menjawab. Yang benar saja, ayahnya mungkin memang berada di tempat Omega jantan itu namun keduanya jelas sekali tidak berada di rumah Yoora.

Demi Tuhan, Chanyeol.

Kau itu payah sekali, sampai kapan kau akan menyembunyikan segala fakta yang ada?

Alpha itu mencoba tersenyum untuk menyembunyikan kegelisahannya, bagaimana jika keluarga Baekhyun membencinya jika mereka tahu bahwa ia adalah turunan Alpha khianat? Oh, tapi itu tidak akan membuat ikatan mate Chanyeol dan Baekhyun putus saja – tetapi apa yang akan kekasih mungilnya itu katakan jika ia mengetahui bahwa Alphanya terlahir untuk mendua?

"Chanyeol, ada masalah?"

"Ah, tidak apa-apa, Baek."

"Baiklah, kalau begitu kita dapat akhiri perbincangan ini terlebih dahulu. Nanti dapat kita lanjutkan lagi tentang masalah pernikahan dan sebagainya," Donghae melihat anaknya sedikit bersemu mendengar kata pernikahan sehingga ia ikut tersenyum. "Tetapi tentu kita tidak akan menuntut kalian untuk menikah secara resmi dalam waktu-waktu ini." Imbuh Alpha dewasa itu segera, pernikahan di kaum mereka bukanlah hal yang berarti banyak karena sesungguhnya persatuan hati dan ikatan mereka terjadi pada saat proses mating dan claiming terjadi.

"Kalau begitu ayo lanjutkan makannya, susah sekali mendengar kalian berdiskusi. Aku ingin makan dengan bebas." Canda Baekbeom lalu sedikit mencairkan suasana yang kembali santai. Mereka menikmati waktu santai dengan damai, sesekali Baekbeom bercerita tentang perasaan senang dan tidak sabarannya untuk segera menimang anak sedangkan Nari hanya bisa tersipu malu. Beberapa minggu lagi Nari akan segera melahirkan, ia sudah memasuki minggu ke dua belasnya.

Lalu tiba-tiba saja Baekhyun bersemangat dan bergeser untuk duduk di kursi kosong di sebelah Kakak Iparnya, ia tersenyum lebar hingga gigi rapinya terlihat – menggemaskan dan membuat Omega betina yang tengah hamil itu tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya. "Ada apa, Baekhyunnie?" Tanya perempuan itu lembut.

"Aku boleh menyentuh perut noona, kan?" Tanyanya manis dan penuh harap.

"Tentu saja boleh—"

"Tidak boleh!" Tolak Baekbeom berniat menggoda adiknya. "Buat apa menyentuh perut Omegaku, eoh?" Tanyanya lagi dibuat garang.

"Aku ingin saja!"

"Tidak boleh."

"Yak, Baekbeom hyung! Chanyeol~" rengek Baekhyun kini mengadu pada Alphanya, sementara Yoona lalu tersenyum menggoda ke arah si bungsu keluarga Byun ini.

"Oh, jadi sekarang ketika merajuk melapornya pada Chanyeol bukan eomma lagi?" Yoona terkikik kecil, disusul dengan siulan dari Baekbeom dan juga tatapan penuh rasa tarik dari Donghae. "Anak eomma ternyata manja juga ya pada Alphanya."

"A—aniyo..." tolaknya malu. "Yeollie..." panggilnya lagi, lalu memerah ketika ia sadar bahwa ia baru saja melakukan apa yang dijadikan bahan pembicaraan sang Ibu. Ia lalu menutup wajahnya; berusaha menghalangi mereka-mereka yang akan melihat rona merah muda di wajah cantiknya. "Aku kesal sekali~" sebalnya teredam oleh telapak tangannya sendiri.

"Mereka hanya bercanda, Baek. Ini sentuh saja..." kali ini Nari membiarkan dan tidak ada penolakan dari Alphanya, Baekhyun lalu kembali sumringah – ia membawa satu telapak tangannya menuju perut besar Nari. Omega itu mengandung satu bayi sehingga ia dapat tetap dalam wujud manusianya, rahimnya dapat menampung satu pup dengan mudah. "Bagaimana rasanya?" Tanya Nari memperhatikan ekspresi Baekhyun.

"Aku dapat merasakan gerakan... apa itu wajar?" Ia agak ragu, ia pernah belajar tentang Omega yang nantinya akan merasakan bayi mereka bergerak ketika minggu terakhir menuju persalinan namun ia tidak pernah menyaksikannya secara langsung. Nari dan Baekbeom memang sering berkunjung namun Baekhyun tidak pernah berkeinginan untuk memegang perut Iparnya ini.

"Wajar saya, Baek. Nanti kau sendiri juga akan merasakannya," terang Nari membuat Omega jantan itu tersenyum bahagia.

Ah – iya selalu saja sempat lupa, ia saat ini tengah hamil. Anak Chanyeol, buah hati mereka berdua. Lamunan Omega itu lalu jatuh pada saat-saat ia mengetahui bahwa detakkan di rahimnya terdengar, lalu Chanyeol yang begitu bahagia mengetahuinya dan lalu mereka kembali bercinta.

Ia menggigit bibir bawahnya, membayangkan saat itu sama saja dengan memanggil kembali perasaan saat tubuhnya disentuh sepenuhnya oleh Alphanya itu. Sayangnya lamunan menyenangkannya harus terhenti karena suara kekehan terdengar dari arah kakaknya. "Wajahmu memerah, Adik Manis. Kenapa? Memikirkan hal aneh-aneh, ya?" Goda Baekbeom membuat Baekhyun kembali melirik Chanyeol.

"Chanyeollie!" Adunya kekanakkan.

Lalu pecahlah tawa keluarga Byun, meninggalkan Chanyeol yang hanya bisa tersenyum simpul lalu mengisyaratkan agar Baekhyun kembali duduk di sebelahnya. "Ikut aku ke taman?" Ajaknya melihat kerutan di dahi lelaki cantik itu tidak kunjung hilang, mood dari kehamilannya membuat ia sangat terusik tampaknya.

"Eung! Ayo, pergi!" Ajak Baekhyun tanpa pamit sama sekali dengan keluarganya yang tampak mengerti.

oOo

Semilir angin senja mulai berganti dengan malam yang lebih dingin menusuk tulang; ritual suci nan sakral tersebut segera dilangsungkan dalam waktu tidak lebih dari satu jam dari sekarang. Ketua suku dari pedalaman benua lain itu telah hadir bersama rombongannya yang tidak terlalu banyak; mereka berlima dengan pakaian adat yang sedikit berbeda dengan para werewolf di daerah kekuasaan Yunho tersebut – satu di antaranya, yang paling keras wajahnya, memakai semacam mahkota yang terbuat dari kayu hitam dengan hiasan taring dari buruan terbaik yang ia dapatkan di masa muda. Mereka duduk di depan bersama Yunho di kursi khusus yang menghadap pada penonton, di tengah-tengah terdapat jarak yang nantinya akan terjadi pertunjukan petarung dan juga masuknya Omega yang terpilih itu. Hasil buruan yang telah diawetkan dan dikeringkan berada di dekat perapian, sisanya disejajarkan seperti barisan di sepanjang arena sementara hasil buruan segar berada di tengah-tengah semuanya; beberapa binatang mati tersebut bahkan masih berdarah dan seekor di antaranya masih bergerak-gerak lemah yang beberapa menit setelahnya meregang nyawa. Ketua suku mereka tampak puas; seluruh masyarakat di daerahnya datang dan beberapa dari daerah lain juga ikut menyaksikan – kabar bahwa adanya Omega Suci membuat werewolf dari daerah kekuasaan lain justru mengikuti ritual di sini karena rasa penasaran terhadap ritual suci yang sempurna.

Baris depan penonton diisi oleh mereka yang bersemangat; Sehun dan Luhan berada di baris depan itu – keluarga Oh memang sangat tertarik dengan hal seperti ini dan Luhan pun ikut duduk di sebelah pasangannya itu dengan kepala menyandar di bahu lebar sang Beta. Yifan tidak terlihat; ia mungkin berada di baris belakang bersama keluarga Cinanya sedangkan Jongdae sama sekali tidak berada di sana – Beta itu masih dirawat di rumah sakit. Sementara itu Baekhyun dan Chanyeol datang terlambat; heat Baekhyun kembali datang tiba-tiba setelah mereka makan siang yang sudah petang tersebut – awalnya ia bingung, karena Omega yang tengah hamil tidak akan dilanda heat karena pada dasarnya heat itu adalah keinginan untuk merasakan knot dari Alpha karena ia ingin segera dibuahi; namun setelah mendapat penjelasan dari Dokter Choi, ia menjadi lega dan mengerti bahwa semakin fertile dirinya maka heat akan semakin sering melandanya meski ia dalam keadaan sudah mengandung sekalipun. Terlebih pula ada yang dinamakan dengan pregnancy heat, seperti yang Ibunya sempat sebut saat diskusi mereka namun agaknya saat itu Baekhyun tidak terlalu memperhatikan. Mereka kembali bercinta sore menjelang malam itu sehingga Donghae, Yoona, Baekbeom, dan juga Nari terlebih dahulu menuju lapangan sekolah tempat ritual itu diadakan.

Penuh dengan senyuman dan aura pra-seks, dua werewolf itu lalu bergabung dengan para penonton di barisan tengah – mereka sempat menyapa Jongin yang memilih untuk duduk di bangku paling belakang. Dua-duanya tidak menemukan dimana keluarga Baekhyun, mungkin sudah duduk di bangku terdepan khusus yang menghadap penonton karena Donghae bekerja bersama Yunho dan kawan-kawan yang lainnya. Pasangan itu dapat memperhatikan pembukaan yang memang sudah berlangsung beberapa menit yang lalu itu menemui titik akhir; ada semacam tarian dari beberapa kelompok penari yang merupakan lelaki semua – tari tersebut menggambarkan ritual dan berlangsung selama setengah jam, Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol ketika ia merasa sedikit mengantuk karena tidak terlalu tertarik dengan tari yang sudah sangat sering ia lihat itu.

Tarian pembukaan usai.

Tepukan riuh segera terdengar sebelum mereka kembali diam karena Ketua Suku mereka berbicara, Yunho berdiri beberapa saat dengan petuah dan juga sambutan hangat pada ketua suku yang berasal dari negara lain itu dengan bahasa asing; beberapa penonton tentu tidak dapat mengerti dengan sempurna namun mata mereka terkunci penuh pada wajah tegas dan juga keras dari werewolf asal negeri paman Sam itu. Julius, itu adalah namanya – ia sedikit menunduk membalas penghormatan Yunho ketika ia dipersilahkan untuk membuka suara. Notasi yang berat dan juga dalam, lelaki yang sudah sangat berumur namun terlihat begitu kuat itu menatap tajam beberapa werewolf yang duduk di bangku terdepan; ia berbicara lantang sehingga malam itu terasa semakin mencengkam. Beberapa yang mengerti perkataannya segera menerjemahkan kepada orang di sampingnya dan beberapa bergidik tidak percaya dengan apa yang diutarakan oleh Ketua Suku bernama Julius tersebut.

Lima belas menit lamanya ia berbicara namun bagaikan puluhan jam rasanya, mereka yang mendengar segera lega ketika ia kembali duduk dan ritual tersebut mulai memasuki pertengahan dimana nantinya mereka menyaksikan petarungan Alpha dan Beta fighter yang nantinya mereka akan membawa batu besar dimana Omega terpilih itu berbaring di atasnya. Ritual yang dahulu-dahulu akan selalu melewati ritual puncak, karena mereka tidak memiliki Omega yang suci dan akan langsung kepada akhir acara dengan memakan hasil buruan bersama-sama – tetapi kali ini, tentu saja ritual puncak mereka adalah menyaksikan pertarungan dalam memperebutkan Omega tersebut dan nantinya akan dilanjutkan dengan menonton secara langsung mating dan klaim yang akan dilakukan oleh Alpha terkuat padanya.

Angin malam lalu bergemuruh kencang; seolah menyambut dari Omega Suci yang sekarang dapat disaksikan oleh ratusan mata di sana – ia, yang merupakan seorang laki-laki membuat beberapa orang menganga tidak percaya. Aroma semerbak yang terkuar dari tubuh mungil itu membangkitkan puluhan jiwa, menyebabkan bau maskulin dan begitu kuat dari beberapa Alpha segera bertarung di udara – mereka sudah saling adu dari tingkat ketajaman aromanya.

Tubuh itu berbalutkan pakaian putih yang sangat tipis seperti selimut yang hanya dililitkan di tubuh polosnya; kulit itu berbias kuning dengan hint oranye, rambutnya hitam mengkilat dan jemarinya sangat kecil – Omega itu menutup mata dan berbaring dalam kesengsaraan karena tubuhnya yang dilanda heat hebat. Dirinya tampak tersiksa, namun begitu menggoda di mata ribuan Alpha di dunia. Para fighter yang membawa batu itu lalu segera meletakkannya di tengah-tengah dengan hati-hati; kini seluruh mata dapat memperhatikan dengan begitu seksama – Omega Suci itu bertubuh kecil dan berwajah bersih, bibirnya mungil namun begitu tebal menggoda, kulitnya seperti bercahaya; ia tidak dapat dikatakan cantik namun ia begitu tampan mempesona.

Aroma segar yang hanya dapat dihirup oleh Alpha lajang itu menguar; menyapa indera penciuman para Alpha dengan begitu jalangnya, aroma itu seolah berteriak ingin diperkosa dan iris yang tergoda akan berkabut oleh libido yang berada di puncaknya. Do Kyungsoo, ia memiliki wangi khas bunga liar di hutan belantara yang bercampur dengan wangi jeruk mandarin segar baru dipetik – ada harum yang sangat lembut dan nyaris tidak terasa dari embun pagi yang berada di pucuk rerumputan muda. Alpha tergila-gila karenanya.

Lima detik batu itu berada di sana, lalu terdengar suara ribut dari barisan belakang – disusul dengan geraman beberapa Alpha lainnya; Baekhyun mengeratkan pegangannya pada Chanyeol saat seorang Alpha yang berada dua baris di belakangnya tiba-tiba saja memberontak, menggila karena aroma seorang Omega Suci dan dengan beringas menepuk dada hendak shift di sana. Beberapa werewolf segera terdorong dan Baekhyun merasakan kursi di sebelahnya menampar pundaknya. "Chan—"

"Lihat apa yang kau lakukan!" Potong Chanyeol berang pada beberapa penduduk panik di belakang mereka sehingga kursinya bergeser dan mengenai Baekhyun.

Belum sempat lawan bicaranya itu membalas; Alpha yang dimaksud itu sudah berubah dan suasana menjadi panas karena orang-orang segera berteriak kaget saat ia berjalan ke depan menuju Kyungsoo, si Omega terpilih itu, berada.

Baekhyun terkesiap; tidak menyangka jika ritual suci yang dinantikan itu akan seperti ini rusuhnya – matanya yang kecil hanya bisa bergerak waspada pada arah suara-suara Alpha lainnya yang terpancing dan hendak bertarung untuk mendapatkan tubuh Kyungsoo nantinya. Ia bergidik ngeri, bersyukur karena ia bukanlah Omega Suci yang nantinya akan mendapatkan Alpha yang akan saling bertarung melukai karena terlena oleh aroma tubuhnya semata. Lalu matanya bertemu pandang dengan Ketua Suku yang datang dari Amerika itu; wajah kerasnya segera menjadi intimidasi bagi Omega tersebut – ia tersenyum dengan begitu penuh makna yang menakutkan, Baekhyun lalu meremas erat tangan besar Chanyeol yang tidak pernah lepas dari genggamannya. "Yeollie..." panggilnya lirih.

"Baek? Sayang, ada apa? Kau sakit?"

Ia ingin menjawab, namun matanya terkunci pada arah pandang Julius yang tampak melebarkan mata beberapa detik pada mereka berdua. "Chan—apa kau lihat dia melihat ke arah kita?" Baekhyun segera bertanya pada Alphanya, namun sayangnya Ketua Suku itu kembali berwajah datar dengan senyuman bangga melihat pemandangan dimana Alpha-Alpha siap bertarung di depan matanya.

"Aku tidak melihat apa-apa, Baek. Apa yang—Ya Tuhan?! Apa itu Jongin di depan sana?" Chanyeol menjadi sedikit tidak fokus dengan ucapan awalnya ketika ia melihat salah satu temannya itu berada di depan; dengan pandangan gelap menatap marah beberapa Alpha lain yang sudah begitu bernafsu untuk bertarung memperebutkan si 'berlian'. Baekhyun yang tidak percaya segera menengadah dan mencoba menangkap wajah-wajah dari Alpha yang berada di sana; beberapa orang yang berdiri dan lebih tinggi di barisan di depannya membuatnya agak kepayahan melihat. Ia kesal, namun rasa sebal itu hilang dan beralih dengan malu bercampur semu ketika ia merasakan lengan kokoh Chanyeol meraih pinggang sintalnya dan tubuhnya perlahan terangkat hingga ia dapat melihat lebih leluasa.

"Ya Tuhan..." lirihnya begitu matanya menangkap sosok yang begitu familiar itu di sana. Jongin terlihat menggertakkan giginya dan pandangannya terlihat murka membalas tatapan dari seorang Alpha lain yang Baekhyun tidak kenal sama sekali. Jongin adalah Alpha termuda di sana, atau setidaknya itu yang Omega itu pikirkan karena dari wajah Alpha lainnya yang terlihat begitu dewasa dan begitu tegas – sahabatnya itu justru terlihat seperti bayi saja. "Chanyeol, aku khawatir sekali..." ucapnya jujur. Takut jika ritual ini membuat Jongin terluka.

"Jongin kuat, Baek..." ujar Chanyeol menenangkan walau nada suaranya tidak begitu yakin; Jongin adalah Alpha yang gagah, tidak diragukan lagi – namun usianya masih belia dan melihat beberapa Alpha tandingannya yang Chanyeol kenali itu, Alpha berambut merah itu memiliki rasa takut. Takut jika temannya itu terluka, atau lebih parahnya lagi meregang nyawa hanya karena ritual ini. Alpha dewasa secara alamiah akan lebih kuat; beberapa pemburu hebat juga berada di sana.

Lalu tubuh mungil dalam genggaman Chanyeol sedikit bergetar ketika Alpha yang tampak begitu kuat itu menerjang Alpha lain yang paling dekat dengannya; darah segera keluar dari cabikan di bahu lebar Alpha yang lebih lemah itu membuat beberapa penonton sedikit bergidik dan Baekhyun membeku. Jongin tampak masih siaga dalam wujud manusianya dan tampak mengelak dari beberapa pukulan lawan-lawan; Baekhyun menahan napas, ia lalu memekik agak keras ketika seorang Alpha jatuh terkapar dengan luka menganga besar di lehernya – ia mengerang sakit dan meraung-raung, Yunho tampak ingin membantu walau Julius segera melarang dan membiarkan Alpha terluka itu kehabisan tenaga terakhirnya.

Omega itu takut.

Ia berdebar; jantungnya begitu keras berdebar-debar karena pemandangan beringas di hadapannya.

Alphanya itu lalu menurunkan tubuhnya, tampaknya Chanyeol membaca reaksi yang tidak wajar dari ketegangan Baekhyun – kali ini dibaliknya tubuh mungil itu hingga menghadapnya. Suara-suara geraman dan hantaman keras masih terdengar bersahutan dengan reaksi dari penduduk yang menjadi penonton setia, sementara saat ini Baekhyun justru menatap balik tatapan penuh protektif dari sang Alpha. "Jangan lihat," perintah Chanyeol ketika Omega itu hendak membalik badan. "Perhatikan saja aku jika kau tidak kuat menyaksikannya, Baek."

Baekhyun mengangguk setuju walau debaran jantungnya sama sekali tidak memelan karena saat ini Omega dalam dirinya, yang sebelumnya meringkih takut karena rasa waspada menggelinjang suka ketika wajahnya sekarang begitu dekat dengan pusat aroma tubuh dari sang Alpha – hidungnya dapat menghirup wangi menggoda dari Chanyeol dan wajahnya dapat merasakan deru napas dari kekasihnya itu karena jarak mereka yang begitu rapat. Omega itu tercekat; ditelannya ludahnya payah sebelum jemari lentik nan indah itu bergerak dengan sendirinya untuk menjangkau dada bidang di hadapannya.

Perkelahian hebat dan penuh darah berada di belakang tubuh mungilnya, namun ia merasa begitu aman di hadapan Chanyeol; debaran jantungnya menenangkan jiwa dan tatapan teduh Chanyeol melambungkan angannya.

Ia sangat mencintai Park Chanyeol.

Di titik dimana ia tidak akan peduli lagi jika orang-orang di sekitarnya terluka asalkan Chanyeol akan berada selalu di sebelahnya; begitu gila, tetapi inilah yang para Omega rasakan akibat dari rasa candu ingin dicintai dan rasa sayang yang membuncah oleh sang Alpha.

Lalu suara erangan yang familiar di telinga keduanya terdengar, Baekhyun terkesiap dan segera menoleh ke belakang – Chanyeol sama sekali tidak menahan karena tampaknya Alpha itu juga sibuk memperhatikan pertarungan di hadapannya karena Jongin tiba-tiba mengeluarkan suara seperti ia tengah kepayahan. Tepat di arena dimana pertarungan terjadi, Alpha muda itu memang tampak sedang tersudut; tubuh wolf-nya tersungkur dan taring dari Alpha lain melukai lengan kirinya – di saat yang sama Omega Suci bernama Kyungsoo tersebut menggeliat dengan gerakan yang lebih kentara.

Angin kencang segera menghantarkan aroma Kyungsoo menjadi lebih kental dan semakin membuyarkan nalar Alpha-Alpha yang ada di sana – Jongin segera terlupakan karena hasrat untuk menyentuh Kyungsoo jauh lebih besar; si Alpha dewasa yang menyerang Alpha remaja berkulit eksotis itu lalu beralih dan berjalan ke arah batu besar tempat sang Omega Suci berbaring. Sayangnya Alpha lainnya juga bertujuan sama sehingga pertarungan kembali terjadi akibat rasa beringas dan obsesi untuk memiliki Kyungsoo menjadi lebih tinggi; mereka melempar hantaman dengan jarak yang lebih dekat dengan batu tersebut dan beberapa werewolf yang merupakan terhormat yang berada di baris depan menghadap pada penonton itu sedikit menjaga jarak dan bergeser agar mereka tidak terlibatkan dalam pertarungan tersebut.

Akan sangat buruk sekali jika Tetua ikut terluka akibat gilanya serangan yang dilemparkan oleh Alpha-Alpha yang dimabukkan oleh aroma Omega; mereka tidak akan peduli dengan resikonya. Yunho tampak melirik beberapa wolf yang sudah tampak menyerah karena mereka sudah sangat sekarat di tanah; penonton menatap nanar luka-luka mereka saat Alpha yang kalah itu berubah wujud menjadi manusia kembali – Ketua Suku daerah mereka itu lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memeriksa keadaan mereka dengan hati-hati.

Kangin dan juga Jungsoo tampak mencoba masuk ke arena, mereka menarik tubuh-tubuh Alpha yang tidak berdaya itu dan memeriksa napas mereka; lima di antaranya masih bernapas dengan luka sangat parah sementara satu sisanya sudah tidak bernyawa.

Lolongan dari keluarga sang Alpha yang kehilangan nyawanya itu lalu terdengar dan segera penonton yang ada di sana merasakan tubuh mereka bergidik; satu nyawa telah hilang dan lolongan kepedihan terdengar dari pihak yang ditinggal. Beberapa Omega tampak menitikkan air mata; begitu tidak kuasa mendengar lolongan kepedihan dari werewolf yang mungkin tidak dikenalnya itu, sementara kebanyakan Beta hanya mampu menatap penuh iba sementara para Alpha tidak terusik hatinya. Mereka yang mengenal yang terluka dan juga yang telah tiada itu tentu akan terguncang namun tidak ada yang dapat mereka perbuat kecuali kembali terlelap dalam pertarungan di depan mata.

Melihat tubuh-tubuh yang tengah meregang nyawa tersebut, Baekhyun merasakan kesadarannya nyaris hilang dan lututnya melemah – beruntung Chanyeol memegangnya erat dan mengerti dengan bahasa tubuh yang ia keluarkan. "Tidak apa-apa, Baek. Kita bisa pergi jika kau tidak kuat melihatnya..." ujar Chanyeol menenangkan dengan kecupan lembut di puncak kepala sang Omega.

"T—tapi aku ingin melihat Jongin..." ucapnya sedikit terbata; suaranya terdengar begitu bergetar dan jemari Chanyeol lalu meremas lembut pinggangnya.

"Kalau begitu tahan, Sayangku. Dan jangan takut, kau aman di dekapanku, Baek."

"YA TUHAN!" Lalu perempuan di depan mereka berteriak dan segera Baekhyun begitu juga Chanyeol kembali mendongak dan melihat apa gerangan yang terjadi.

Tubuh Kyungsoo saat ini sudah berada di tanah – seorang Alpha berhasil meraihnya tanpa bertarung terlebih dahulu, jelas sekali melanggar aturan adat yang menyebabkan Tetua berang dan Alpha lainnya merasa dibodohi. Akibatnya Alpha tersebut lalu mendapatkan cakaran dan juga gigitan dari Alpha lainnya secara bersamaan, membuat tubuh Kyungsoo terjatuh di tanah dan menodai gaun putihnya sementara darah dan juga daging dari Alpha yang curang tersebut berceceran di tanah. Pemandangan yang begitu tidak lazim di puluhan lebih mata di sana sehingga beberapa werewolf segera perpaling takut dan Omega-Omega membenamkan wajah mereka di curuk leher Alpha masing-masing. Erangan Alpha yang diserang secara bersamaan itu lalu terdengar semakin pilu dan berubah melemah seiring dengan jantungnya yang mulai berhenti berdetak – gigi-gigi tajamnya terlihat karena mulut lebar itu menganga untuk mengeluarkan segala kesakitan yang ia rasakan, tubuhnya masih sempat mencoba melawan walaupun itu menjadi tindakan sia-sia mengingat tiga Alpha lainnya sudah berhasil merobek kulit tebal di tubuhnya dan satu Alpha lagi menggigit lehernya hingga kerongkongannya lepas.

Lalu kembali terdengar lolongan dari kerubungan penonton; satu Alpha lagi telah jatuh dan sisanya adalah mereka yang kembali akan bertarung untuk memperebutkan posisi Alpha terkuat saat itu. Julius dan juga beberapa temannya tampak puas.

Pertarungan sengit berlanjut.

Wolf Jongin yang memiliki bulu yang sangat distinct dengan yang lainnya membuat ia dapat dengan mudah dikenali oleh mata-mata sahabat yang melihatnya dengan khawatir; tidak ada pilihan lain dari pertarungan ini selain mati atau menang jika ia tidak berniat untuk menyerah. Dan Jongin begitu gigih.

"Menyerah saja, bodoh." Chanyeol bergumam, geram dengan kegigihan Jongin yang sudah memiliki luka-luka kecil di tubuhnya.

"Tidak bisa, Yeol. Kau tahu sendiri dia akhir-akhir ini berkata sering bertemu dengan Omega yang ada dalam mimpinya, mungkin dia itu adalah Omega Suci."

"Kalau begitu dia harus menang. Tidak ada jalan lain."

"Harus." Baekhyun lalu terdiam, matanya tidak berhenti berkilat dalam ketakutan setiap kali Alpha-Alpha di hadapannya menyerang satu sama lain. "Chanyeollie, aku senang sekali kau tidak ikut bertarung di sana."

Aku senang kau adalah Alphaku.

Milikku seorang.

Dirasakannya lengan Alpha di belakangnya itu memeluknya lebih erat. "Tentu saja, Baek. Aku milikmu, Baekhyun. Tidak ada alasan aku akan berada di sana, Sayang..." panggilan penuh cinta itu seketika membuat rambut di leher belakang sang Omega berdiri karena rasa geli di perutnya yang bergejolak senang. Tersenyum lembut, Baekhyun hanya membalas pengakuan Chanyeol dengan remasan lembut di tangan besarnya sementara ia berusaha memusatkan perhatian ke pertarungan kembali walaupun sesekali ia menutup mata saat Alpha lain terluka.

Perasaan takut ini.

Perasaan kegelisahan yang ada di hatinya bukanlah apa-apa, Baekhyun menguatkan hatinya – mungkin ia hanya terpengaruh dengan keadaan yang menegangkan dimana ia tidak setiap hari melihat pertarungan bersimbah darah segamblang ini. Getaran di hatinya adalah rasa pertahanan dirinya melihat Alpha-Alpha dominan yang memperebutkan seorang Omega; Baekhyun bersyukur. Ia tidak ingin menjadi Kyungsoo saat ini, ia tidak mengenal Omega itu namun ia dapat merasakan segala kesusahan dan juga ketakutan yang terkuar dari tubuh mungil tersebut. Ia tidak akan bisa menyaksikannya, terlebih lagi jika Chanyeol ikut bertarung memperebutkan dirinya.

Satu jam lebih pertarungan terjadi dan semakin bertambah korban; Kyungsoo tampaknya mulai semakin tidak sabaran akan rasa sakit yang melanda dirinya – sengit di wajah kecilnya semakin terlihat dan mulutnya mulai bergerak mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak dapat dicerna maksudnya.

Ketika hanya tersisa tiga Alpha di sana, pasangan Alpha-Beta, Luhan dan juga Sehun tampaknya menemukan posisi Baekhyun dan Chanyeol – mereka menarik Baekhyun untuk ikut melihat di jajaran paling depan untuk menyaksikan kelanjutannya. Alpha berambut merah itu menyetujui dan mereka berempat lalu berusaha menuju barisan paling depan dimana Luhan dan Sehun sebelumnya telah mengambil tempat, Baekhyun bertemu dengan Ibunya di baris kedua dan ia melambaikan tangan kecil pada Nari yang berada tepat di sebelah mertuanya itu. Baekbeom dan juga Donghae agaknya berada di belakang panggung karena mereka bekerja bersama Yunho, agaknya mereka bertugas untuk membantu para Alpha yang menjadi korban.

"Aku tidak menyangka Omega Jongin yang ia maksud dalam mimpinya adalah Omega Suci itu!" Luhan histeris, ia tampak begitu sangat takjub dan matanya tidak berhenti melihat dengan seksama pertarungan di hadapannya yang sekarang tampak begitu jelas di hadapan Baekhyun dan juga Chanyeol. "Aku bisa sangat menebaknya dari cara Jongin menatapnya, dia pasti yang di dalam mimpinya!"

"Hmm, namanya Kyungsoo."

Baekhyun lalu melirik Alphanya bingung. "Darimana Yeollie tahu?"

"Ah, aku hanya mendengar dari beberapa bisakan orang sekitar kita tadi, Baek."

"Dan ternyata si tengil itu cukup kuat rupanya," tambah Luhan lagi, tangannya mengepal seru melihat pertarungan dari tiga Alpha yang salah satunya adalah sahabat mereka. "Aku bertaruh dengan Sehunnie, omong-omong."

Sehun lalu menggeram tidak suka. "Sudah kubilang, aku tidak ikut, Luhan. Aku tidak ingin bertaruh tentang hal sebesar ini; Jongin itu sedang bertarung melawan Alpha lain demi Omeganya. Ini bukan bahan yang pantas dipertaruhkan." Tolak Sehun terdengar begitu tenang walau ia jelas sekali sangat khawatir saat itu.

"Bilang saja kau takut kalah," cicit Luhan mencibir.

Perdebatan sepele itu lalu berhenti ketika satu dari tiga Alpha itu terhantam ke arah mereka; melihat itu Jongin tampaknya masih bisa melihat bahwa beberapa temannya ada di barisan depan sehingga ia mencoba menghalangi arah tumbangnya Alpha itu dan menahannya dengan berat tubuhnya. "Jongin masih sadar dengan sekitarnya..." ujar Sehun.

"Maksudmu?" Chanyeol bertanya bingung.

"Alpha yang tergoda dengan aroma Omega Suci tidak akan sadar dengan sekitarnya, bahkan ia tidak akan mengenali Ibunya sendiri ketika mereka terpengaruh oleh aroma memabukkan dari Omega. Tujuan mereka hanya satu, mengalahkan segala yang ingin menyentuh Omega yang ia inginkan dan menklaimnya saat itu juga. Hanya satu Alpha yang masih sadar dengan jati dirinya, yaitu Alpha yang merupakan pasangan mate dari Omega itu. Jongin masih mengenali mereka, maka tidak ada keraguan lagi; Kyungsoo ini benar-benar Omega yang ditakdirkan untuk Jongin."

Luhan menutup mulut dramatis. "Ya Tuhan!"

"Ada apa?" Chanyeol sekarang menuntut Luhan untuk menyuarakan arti keterkejutannya.

"Yang berarti hanya satu, Jongin harus menang atau ia akan mati."

Sehun mengangguk setuju. "Hmm, kau tahu sendiri apa yang terjadi dengan pasangan mate yang satunya jika Alpha lain menklaim Omeganya atau sebaliknya. Jantung mereka akan berhenti berdetak. Dalam artian lain, saat ini Jongin harus mengerahkan segalanya untuk menyelamatkan Omeganya, dan juga dirinya sendiri."

"Ini kejam sekali..." lirih Baekhyun.

"Tenanglah, baby. Semua akan baik-baik saja," bisik Chanyeol.

Kejam adalah sebuah pernyataan yang terlalu dangkal untuk semua ini; sebenarnya setiap individu yang di sana sangat mengetahui bahwa hilangnya nyawa tidaklah sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan nanti. Titisan Alpha terkuat dari rahim Omega terpilih? Oh ayolah, mereka bahkan tidak pernah menyaksikan ritual yang lengkap sebelumnya sehingga sesungguhnya werewolf awam di sana tidak mengerti – hanya saja segala kegigihan Alpha-Alpha di sana membuat mata mereka tidak berhenti melirik. Lagipula siapa yang tidak suka segala hal yang berbau game seperti ini, pertarungan pasti akan ada akhir seorang pemenang dan sudah sifat alamiah dari setiap yang bernyawa untuk mengetahui 'ia' yang mampu mengalahkan 'mereka' yang menyerah kalah. Sehingga sekejam apapun ini dan sebesar apapun nurani mereka yang masih sanggup bersuara lemah di hati masing-masing menolak kenyataan ini, tidak ada satu werewolf pun yang pergi dari sana atau melarang tumpah darah yang semakin beringas terjadi seolah tanpa henti.

Adat adalah adat.

Seratus pun yang mati malam ini maka tidak akan mematahkan terjadinya Ritual Suci.

Dan mereka sejatinya adalah binatang.

Mereka hidup demi kekuasaan, kekuatan, dan harga mati akan menjadi konsekuensi mereka yang ingin memiliki.

Saat ini, harta berharga itu adalah si Omega Suci. Remaja laki-laki bernama Do Kyungsoo yang sekarang terbaring dengan pakaian tipis berwarna putih, yang kini ternoda oleh tanah dan juga darah; dari mereka yang berniat untuk menjamah.

Mereka bukanlah immortal penuh, sehingga lelah tentu dapat singgah – tidak terkecuali pada tiga Alpha yang bertarung tersebut. Salah satu di antaranya, ia yang bertubuh menengah dibanding dua sisanya tampak agak jengah dan terengah sehingga dengan mudah Alpha satunya lagi menghabisinya. Taring tajam itu mengoyak lehernya sebelum ia terhempas jauh menampar pepohonan yang berada seratus meter lebih dari mereka.

Hanya dua yang tersisa dan Jongin di antaranya.

Mereka lalu saling berhadapan.

Wolf Jongin lebih kecil dari Alpa itu, namun bulu hitam legamnya dan wajah garangnya tidak dapat menolak kenyataan bahwa ia cukup kuat hingga bertahan sampai saat ini. Lawannya memiliki taring yang begitu panjang dan runcing, tubuhnya besar dan bulunya berwarna keemasan – sedikit berbeda dengan Alpha kebanyakan. Konon mereka berkata semakin terang warna bulu kepala seorang Alpha maka ia akan semakin lemah dan jika ini benar, maka Jongin yakin ia tidak akan kalah.

Bola mata Alpha dewasa tersebut berselimut warna ungu tua; warna khas ketika Alpha tergoda oleh aroma Omega yang bukan miliknya. Serangan membabi-buta segera Jongin terima ketika werewolf dengan bulu cokelat emas itu mencoba merobohkannya; Jongin bertahan, dilawannya dengan sekuat tenaga hingga kaki-kaki kokohnya menyebabkan tanah di bawah mereka membentuk lubang dangkal. Berat keduanya bertumpu di paha Jongin; erangan wolf remaja itu membuat setiap pasang mata di sana dapat membaca beban yang cukup berat yang ia landa.

Dalam hitungan tiga, Jongin berhasil mendorong tubuh besar itu darinya dan dengan cepat ia mundur untuk mengambil kuda-kuda dan segera berlari untuk melempar tendangan keras di perut Alpha di hadapannya. Lawannya terdorong ke belakang, menghancurkan tumpukan dari kayu bakar yang membarakan api hingga bulunya ikut terbakar – ia tampak kepayahan menghilangkan api-api kecil yang memakan bulunya sehingga ia tidak sadar Jongin menyerangnya kembali. Alpha itu lalu terjatuh dan ia mengaum sakit.

Sudah waktu yang sangat tepat untuk menghabisinya, tetapi Jongin tampak tidak bergerak dan justru sedikit membungkuk setengah. Beberapa warga segera saling berbisik, bertanya apa gerangan sebelum pertanyaan mereka terjawab dengan tetesan darah yang jatuh dari punggung belakang Jongin – luka yang cukup lebar merayap di pundak kanan bagian belakangnya dan dikarenakan tubuhnya tertutup bulu hitam legam maka darah tersebut terlihat samar sebelum cairan pekat itu jatuh ke bawah karena kalah akan gravitasi.

Semua menjadi hening.

Hanya suara bisikan lemah dari beberapa yang menonton juga erangan dari dua Alpha itu yang terdengar, dan angin kembali menyapu dengan lebih cepat hingga aroma menggoda Kyungsoo kembali menyapa keduanya. Bola mata Alpha dewasa tersebut semakin mengabur dan ia terlena dalam keinginan yang hebat untuk bersetubuh, Jongin merasakan dirinya mencoba untuk tidak jatuh – karena ia pasti akan terkapar jika Alpha tersebut kembali bangkit dan menginginkan dirinya terpuruk.

Mereka sama-sama luka; namun bedanya luka Jongin adalah cabikan dari taring Alpha sementara luka lawannya adalah luka dari hantaman-hantaman semata. Tubuh mereka akan bereaksi berbeda, di saat itulah seringaian terbentuk di wajah sang Alpha dewasa. Jongin menunduk, seolah pasrah dan matanya tertutup; kecepatan langkah lari dari Alpha itu semakin bertambah dan beberapa penonton sudah siap memalingkan wajah. Jongin akan kalah, begitu pikir mereka. Si Alpha muda akan kalah karena mereka sejatinya lebih lemah.

Wolf emas itu mendekat, mulutnya terbuka lebar dan taringnya bersiap untuk menerkam – banyak nyawa menahan napas ketika hantaman itu terjadi. Namun ketika mata mereka membulat dengan pemandangan yang terjadi, nyatanya bukan serigala dengan bulu hitam lah yang jatuh ke tanah – Jongin mengaum gagah setelah ia selesai menancapkan taring-taring runcingnya di pinggang sang lawan. Posisinya yang membungkuk dengan kepala tertunduk membuat ia dengan mudahnya meraih area tersebut; dan ketika taringnya masuk menusuk dihisapnya darah yang mengalir di dalamnya hingga jantung dari Alpha di hadapannya menjadi kewalahan dan akan berhenti dengan sendirinya.

Tubuh itu terkapar.

Jongin dengan cepat meludahkan ke tanah darah si Alpha itu dari dalam mulutnya sebelum ia perlahan berubah kembali ke wujud manusianya.

Senyum kebahagiaan dan kelegaan segera muncul di wajah-wajah keluarga dan juga sahabat sang Alpha yang berhak, Yunho lalu mempersilahkankan Julius untuk menghampiri Alpha muda dan menepuk bahunya sebagai tanda salut yang sangat. Mereka lalu memberi jalan dan mempersembahkan seluruh waktu bagi Jongin untuk memiliki Kyungsoo, Omeganya, seutuhnya.

Seketika suasananya berubah menjadi begitu sakral dan mendebarkan; tubuh Jongin yang terluka itu tampak begitu tampan dan anggun di saat bersamaan ketika ia menggendong Kyungsoo ke pangkuannya. Mengangkat sang Omega dari tanah dan membaringkannya dengan hati-hati untuk kembali berada di batu persembahan – jemarinya meraih wajah lugu itu sebelum ia menunduk dan memberikan kecupan lembut di kening Kyungsoo.

Seluruhnya terpana; mereka menyaksikan pertemuan dua jiwa dalam penyatuan sakral.

Perlahan mata Omega itu terbuka; warna terang bola matanya menyapu wajah Jongin dengan seksama, ia tersenyum dan tangan lemahnya lamat-lamat meraih sisi wajah Alpha tersebut.

"A—Alphaku..." ucapnya merdu mendayu, ia lalu tersenyum ketika Jongin menyambutnya dengan tatapan penuh rindu. "C—Chanyeol..." lirihnya membuat tubuh Jongin membeku. "Park Chanyeol... Chanyeol." Panggil suara itu lagi membuat wolf dalam diri sang Alpha terjatuh rentan dan tubuhnya lalu dengan sendirinya melangkah ke belakang.

"Chanyeol hyung." Ujarnya tidak percaya lalu melirik ke belakang; matanya menatap sosok sahabatnya, Alpha yang lebih tua darinya, Chanyeol yang masih merangkul Omeganya, Byun Baekhyun, di barisan paling depan.

Hening mencengkam.

Suara Kyungsoo memanggil lirih nama Chanyeol membuat puluhan pasang mata berbisik semakin kentara; mereka tidak percaya, beberapa dari mereka saling menatap gusar dan Yunho tampak berbicara menjelaskan sesuatu kepada Julius yang tidak mengerti keadaan.

"Chanyeol. Alphaku." Sebut Kyungsoo membuat Jongin terduduk lemah; dirinya yang diterbangkan angan untuk memiliki Omega yang menjadi bunga tidurnya itu lalu sekejap hilang sirna dan Alpha dalam dirinya meredup. Ia melemah dan terjatuh; werewolf lainnya semakin mengeluarkan suara tidak percaya mereka saat sang Alpha pemenang jatuh.

Sementara Julius lalu berjalan mendekat ke arah barisan warga yang menonton; ia menatap Chanyeol lekat dan pandangan matanya lalu jatuh pada pergelangan tangannya yang memiliki tanda sama dengan Omega kecil yang berada di dekapannya.

"He's calling your name." Ucapnya berat. "You are his Alpha."

Beberapa detik setelahnya, mereka menumpukan pandangan pada Chanyeol – bingung dengan kejadian yang tidak terduga. Yunho lalu datang dan menerjemahkan kata-kata dari Tetua. "Tidak." Bantahnya menggenggam erat kepalan tangan mungil Baekhyun. "Aku bukan Alphanya, Baekhyun adalah Omegaku."

Seringaian itu kembali muncul di wajah Julius.

"Come on, Son. I can sense you."

"Chanyeol, aku tidak mengerti apa yang ia maksud. Namun ia bersikukuh bahwa kau adalah Alpha Kyungsoo."

"Aku tidak—"

"Betrayal."

Satu kata.

Chanyeol lalu merasakan napasnya tercekat.

"Khianat." Begitu Yunho mengartikan katanya; matanya menatap Chanyeol penuh tanya. "Chanyeol, tolong katakan padaku kau bukanlah Alpha khianat seperti yang ia katakan."

Baekhyun lalu berbalik badan, ditatapnya Chanyeol ragu. "Yeollie, katakan padanya kau bukan apa yang ia maksud." Ucapnya panik dan penuh harap, bibirnya bergetar dan Chanyeol membenci dirinya saat itu karena ia hanya mampu terpana tanpa suara. "Yeollie, kau bukan Alpha khianat. Chanyeol, katakan pada mereka." Tuntut Omega mungil itu dengan mata yang mulai berkaca.

Oh, Baekhyun.

Bagaimana bisa ia berdusta jika itu adalah hal yang sebenarnya.

Sekuat apapun cinta yang ada di antara mereka berdua namun kenyataan bahwa darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah kotor dan hina tidak akan terpatahkan begitu saja.

Aku minta maaf, Sayangku.

Aku, dari awal memang tidak pantas buatmu.

"Yeollie..." panggil Baekhyun lagi, kali ini Omega cantiknya menggigit bibir khawatir. "D—Dia bukan Alpha khianat, Yunho-nim. Dia Alphaku, aku adalah Omeganya. Chanyeol telah menklaimku..." ujarnya menjelaskan dengan terbata. Yunho mengangguk mengerti, dijelaskannya kepada Julius yang hanya bisa mendengarkan dalam diam – Alpha yang sudah cukup berumur itu lalu memberi kode kepada teman-temannya yang tidak dimengerti dari satupun sisanya yang melihat. "Apa katanya? Apa maksudnya?" Baekhyun bertanya, begitu tidak sabaran menatap Ketua Suku daerahnya.

"Aku tidak tahu, Baekhyun. Dia tidak mengatakan apa-apa."

Satu rombongan dari lain benua itu lalu mendekat ke arah Chanyeol dan juga Baekhyun, Omega itu tampak sedikit tidak suka walau Yunho memberi tanda padanya untuk tenang. Seorang werewolf, Beta, menjangkau tangan Chanyeol dan juga Baekhyun; ia seolah membaca tulisan yang tidak kasat mata di tangan keduanya. Kepalanya menggeleng dua kali. "The same mark. They are both indeed mates." Ujarnya pada Julius yang memberikan kode berikutnya.

"A—apa yang kau lakukan?" Tanya Baekhyun sia-sia karena jemari Beta asing itu kita telah menyentuh perutnya, diam di sana untuk beberapa detik lamanya sebelum ia mundur dan mengatakan sesuatu dengan cukup keras.

"Children of betrayer." Ucapnya lantang; ditatapnya Chanyeol berang. "You are the Son of The Betrayer."

"Titisan-titisan dari pengkhianat," desah Yunho menatap perut Omega cantik itu iba, ia mengangkat wajah dan sekarang melihat penuh pada Chanyeol yang masih belum bersuara. "Kau adalah Anak dari Dia yang Berkhianat." Yunho mendesah berat. "Chanyeol, kumohon katakan yang sebenarnya. Apakah kau bisa menghirup wangi Omegamu?"

Diam.

Chanyeol hanya bisa diam.

"But I can sense the smell of Byson in him." Ujar Beta itu lagi yang segera dibenarkan oleh Yunho, mereka lalu bertukar beberapa informasi sebelum Ketua Suku tersebut menjelaskan pada Chanyeol bahwa tanda dari Alpha yang pasti menklaim Omega Suci adalah ia yang berhasil menangkap Bison.

"He deserves to die but because the Chosen Omega calls for his name then he should claim him. He's clearly the srongest because Byson's been bitten by him. May his curse be gone when the chosen Omega shows him fond. Tell him to claim and live, or die from now on."

Yunho kembali menerangkan. "Chanyeol, satu-satunya cara untuk mematahkan kutukanmu adalah menklaim Omega Terpilih dan mendapatkan cinta darinya—"

"Tidak! Tidak, tidak, tidak!" Potong Baekhyun lalu berdiri tepat di hadapan Chanyeol seakan menghalangi orang lain untuk menyentuh Alphanya. "Chanyeol itu Alphaku, dia milikku. Aku tidak peduli jika dia—"

"Baekhyun..." potong Yunho lembut. "Julius berkata Chanyeol harus menklaim Omega Terpilih, Nak. Jika tidak, maka ia akan mati."

Ucapan itu segera menutup rapat bibir Omega tersebut, ia berdiri di sana melihat sosok Kyungsoo yang tiba-tiba saja menjadi pusat kecemburuan menggebu dalam dirinya; Omega itu adalah kunci penawar untuk kutukan Chanyeol. Jika benar maka Baekhyun bukanlah siapa-siapa, ia bukanlah yang istimewa karena Chanyeol akan tetap menjadi khianat bersamanya.

"Tidak bisa seperti ini! Kalau Chanyeol menklaimnya maka Baekhyun bisa mati!" Luhan berteriak tidak suka sebelum mulutnya ditutup oleh Sehun, takut jika si Cina itu menambah masalah menjadi lebih besar. Julius tampak berbicara kembali dan Yunho mendengarkan dengan seksama, meninggalkan Baekhyun berduka dengan batinnya yang tidak terima.

Ia sungguh mencintai Chanyeol.

Chanyeol adalah hidupnya; ia adalah alasan ia untuk tetap ada – dan jika Chanyeol dapat hidup bersama Omega baru itu, maka ia tentunya akan lenyap setelahnya.

Ia yang egois akan menginginkan Chanyeol tetap bersamanya.

Ia akan memberontak dan memonopoli dirinya saja.

"Chanyeol-ah, aku butuh tindakanmu. Aku akan menghargai apapun keputusanmu namun Julius berkata padaku jika kau tidak berniat untuk menklaim Kyungsoo saat ini juga maka ia akan memusnahkanmu demi kebaikan bersama."

"Do tell him that his little Omega will stay alive after this if that concerns him a lot."

Yunho mengangguk. "Julius berkata Baekhyun akan tetap hidup walau kau menklaim Kyungsoo."

Baekhyun terpaku.

Tidak akan ada alasan bagiku hidup jika Chanyeol tidak ada di sisiku.

Omega itu tersenyum kecut; keberadaannya bukanlah apa-apa, jika pun Chanyeol memilih untuk menolak ia akan ikut tiada juga – hidup Chanyeol adalah hidupnya, jika pun nanti ia bisa bersama anak-anaknya ketika Chanyeol dihabisi mereka maka sisa hidup sang Omega hanya akan berisikan hampa.

"Katakan padanya aku menolak," balas Chanyeol tegas.

Oh, Tidak.

Yeollie, kumohon...

Batin Baekhyun berdebar; Omeganya menunduk takut di dalam ruang tersendiri di hatinya.

"Katakan padanya mereka tidak akan melihatku menklaim Omega itu karena aku tidak akan pernah melakukannya."

Oh, Chanyeol.

"Katakan padanya, aku akan melawan."

Yeol, kau tahu kau akan mati jika kau berkata demikian.

"Karena aku lebih baik mati daripada melakukannya."

Lalu batin Omega mungil itu menangis, ia tidak ingin Chanyeol tersiksa lagi. Baekhyun lalu berbalik kembali, ia menatap Chanyeolnya dengan penuh arti. "Yeollie, aku tidak ingin kau mati. A—aku benar-benar mencintai Yeollie tapi jika takdir berkata lain dan—hiks, Chanyeol. Aku tidak keberatan jika kau—ah tidak! Tidak." Ia menggeleng gusar sendiri. "Tapi a—aku tidak rela jika Chanyeol menklaim Kyungsoo dan—" ia terhenti, bibirnya tidak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri. Ia tertunduk, isakannya terdengar pilu. "Mereka berkata itu caranya untuk memutuskan kutukannya... Tapi aku sangat egois, Yeollie. Aku tidak ingin meninggalkanmu, Chanyeol."

"Baekhyun, aku tidak melakukan itu, Baek. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah melakukannya di depanmu—"

"A—aku tidak bisa melihat Yeollie menklaimnya—"

"Baekhyun! Aku hanya menginginkanmu, Baek. Sampai kapan harus kutekankan padamu bahwa aku hanya mencintaimu, aku mungkin akan terbebas dari kutukan nantinya namun jika kau tiada maka aku sama saja menghabiskan sisa waktuku seperti mayat hidup saja. Kumohon, kasih. Berikan kepercayaanmu padaku, aku benar-benar mencintaimu."

"Yeollie, aku sangat takut. Kumohon jangan tinggalkan aku..."

"Please, Sayang... aku hanya menginginkanmu, Baek. Aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu, Baekhyun."

Baekhyun menggeleng; Omeganya berteriak, meraung, dan mencerca ucapan yang keluar dari bibirnya. Ia yang egois akan menyebabkan Chanyeolnya terluka namun jika ia mengizinkannya maka matinya akan tersiksa namun ia akan jauh lebih bahagia ketika Chanyeol dapat terbebas dari segala keraguan yang membebaninya.

"Time's up." Julius lalu berkata dan dua orang Alpha segera memisahkan mereka, Baekhyun menatap Chanyeol yang diseret untuk mendekat pada Kyungsoo. "Claim!" Ujar salah satu di antara mereka memerintah.

"Apa kau gila?! Aku tidak ingin melukai Baekhyun dan Jongin mati!" Ujarnya menolak; bagaimana pun Jongin adalah sahabatnya, menandai Kyungsoo sama saja dengan membunuh sahabatnya sendiri. Di dalam hatinya ia mendengar suara Baekhyun merintih dan bersiteru dengan dua pilihan pelik yang sekarang mereka terima.

"Oh, Chanyeol. Apa kau gila untuk kehilangan nyawa demi sahabatmu?" Kali ini terdengar suara dari Alpha lainnya, ia adalah salah satu Alpha fighter yang diperintahkan oleh Julius untuk ikut mengawal Chanyeol. Alpha dari daerah mereka, namun tampaknya ia telah berbelok arah dan justru mendukung apa yang diinginkan oleh Julius. "Ayolah, jangan banyak tingkah. Toh kau nantinya akan mendua juga, seperti Ayahmu yang keparat itu."

Chanyeol mengepal tangannya kuat, giginya mulai bergemeletuk tidak suka; amarah Alphanya terpancing seketika.

"Baekhyunmu nantinya juga terlihat tidak menggoda, Chanyeol. Kau akan tergila-gila dengan Omega lainnya karena darah khianat tersebut—" ucapan Alpha itu terputus karena pukulan Chanyeol tepat memberikan luka di hidung bangirnya. Segera dua Alpha lainnya menahan dua tangannya. "Kau akan menyesali ini, Chanyeol."

"He refuses." Ujar dua Alpha lainnya menunggu jawaban dari Julius.

"Torture him until he gives up. If not, then kill him. He's a disgrace to our kind."

"Dengar, Chanyeol. Mereka akan menyiksamu hingga kau menyerah."

Chanyeol tertawa pahit, ditatapnya wajah Alpha yang dulu sempat beberapa kali bertemu dengannya saat berburu itu sengit sebelum diludahinya wajah itu. Lee Jinyeong adalah namanya, sekarang Chanyeol ingat ia adalah Alpha yang dulu merupakan pemburu termuda yang gelarnya digantikan oleh Chanyeol. Amarah membakar Alpha tersebut, dilayangkannya pukulannya untuk membalas tindakan Chanyeol terhadapnya. Kemudian Chanyeol menerima tambahan pukulan lain di tubuhnya dari werewolf-werewolf yang berasal bukan dari Korea tersebut. Teriakan Baekhyun lalu terdengar, Omega itu memohon untuk mereka berhenti menyakiti Alphanya – ia terisak, Chanyeol dapat merasakan hatinya terbakar lebam mendengar pilu yang keluar dari mulut kekasih hatinya.

"Baek, jangan..." ujar Chanyeol lemah begitu melihat kekasihnya itu berjalan ke arah mereka. Sayangnya Omega itu tidak dapat bergerak ketika seorang Beta yang berasal dari Amerika itu menahan tubuhnya; ia memberontak, meminta agar werewolf asing itu melepaskannya sebelum Beta itu tampak kesal dan membawa dua tangan Baekhyun ke belakang tubuh mungil itu dan menahannya di sana. Ia berteriak kecil ketika rasa sakit dirasakannya di pergelagan tangannya. "Jangan sakiti dia!" Berang Chanyeol merasakan matanya memanas melihat tubuh mungil Baekhyun tampak begitu lemah di hadapan Beta tersebut.

"Lihat betapa manisnya Omega yang kau punya, Chanyeol? Begitu egois dan tidak menginginkan keselamatanmu. Memonopolimu yang jelas akan jauh lebih baik bersama Kyungsoo."

Kembali, Jinyeong mendapatkan pukulan tiba-tiba dari si Alpha muda – kakinya yang terbebas ia layangkan hingga menendang tubuh Jinyeong jauh sebelum ia kembali bangkit dan memberi tendangan lagi di perut Chanyeol.

"Bodoh!" Umpatnya lalu menambah pukulan-pukulan lainnya hingga suara Julius kembali terdengar dan Jinyeong berhenti terdiam di tempatnya.

Keadaan menjadi semakin pelik; Donghae tampak berbicara dengan Yunho dan terlihat gusar, Alpha dewasa itu merundingkan sesuatu yang hanya dibalas oleh gelengan dari Ketua Suku mereka tersebut. Baekbeom tidak terlihat dimana-mana sebelum Chanyeol mendengar suara dari Yoona dan juga Nari terdengar dari barisan penonton – dua Omega dewasa itu ditarik keluar dari barisan dan dipaksa masuk ke salah satu ruangan terdekat dari tempat ritual saat itu.

Tidak mengerti apa yang terjadi, Chanyeol hanya dapat melirik Baekhyun yang terlihat pucat dengan mata yang sudah memerah dan air hangat membasahi kedua pipinya.

Yeollie, kemana mereka membawa eomma dan Nari noona?

Suara batin Baekhyun bertanya dalam kebingungan yang bercampur dengan ketakutan, getaran terdengar dari suara lemah itu nan mampu membuat Alpha dalam diri Chanyeol membangkang dan ingin segera menghabisi apapun yang menghadangnya untuk melindungi Omega kecilnya tersebut. Ringkihan suara Baekhyun seolah memanggil sang Alpha untuk memeluk tubuhnya yang lemah; membawa calon Ibu dari anak-anaknya kelak itu dalam proteksi terbaik yang ia bisa persembahkan. Namun ia tidak berdaya; melawan tiga Alpha asing dan juga satu Alpha lagi sama saja dengan bunuh diri yang menghantarkannya pada kematian yang abadi.

Hatinya berkecamuk.

Darah khianat dalam dirinya menyebabkan ia tersudut.

Ia tidak menginginkan semua ini.

Biarpun mereka berkata Byun Baekhyunnya akan tetap berdiri setelah taringnya nanti menandai Omega Suci, namun Chanyeol telah berjanji akan mencintai kekasih hati. Ia lebih baik mati melawan daripada membiarkan Baekhyunnya menyaksikannya ingkar janji.

Julius lalu menghampirinya, Alpha remaja yang sekarang menolak untuk menuruti perintah Tetua – di tangannya terdapat tanduk runcing dari hewan buruan ia dikala muda yang menjadi senjata utama saat ia mencoba untuk mencabik daging hasil buruan di kediamannya sana. Senyumnya terkembang dan diarahkannya senjatanya itu pada bahu Chanyeol, tindakan yang segera diikuti suara Baekhyun yang kembali memohon agar Julius meninggalkan Alphanya. Kata-katanya mengiba tanpa mempedulikan bahwasanya Julius tidak akan mengerti apa-apa.

Penonton mulai ikut terpancing, mereka yang mulai mengerti seorang Alpha dari daerah mereka akan disakiti mulai merasakan amarah yang terlampiaskan dalam geraman-geraman pada Alpha yang tidak setuju. Bagaimanapun ini adalah tanah mereka, melihat serigala dari kawasan lain membuat batin mereka tentantang.

"Yak! Apa yang kau lakukan, Pak Tua bodoh!" Luhan adalah Alpha pertama yang paling tidak tahan melihat kegiatan di hadapannya; ia mengerti maksud dari Julius dan kawan-kawannya untuk menjalankan apapun adat yang benar dalam pikiran mereka namun menyakiti Chanyeol bukanlah jalan keluarnya. Julius menggeleng pelan sebelum ia berbicara kepada Jinyeong yang tampak memanggil beberapa teman-temannya lainnya yang sekarang menahan Luhan untuk bergerak. "Yak, ada apa dengan kalian? Mereka ingin melukai Chanyeol! Saudara kalian! Alpha dari tanah kekuasaan kita!" Pekik Alpha berdarah Cina itu sebelum memberi pukulan pada mereka yang menghalanginya.

"Julius bilang lenyapkan segala yang memberontak."

"Akh!" Luhan melawan dan berteriak, pukulan dua Alpha melukai tubuhnya hingga ia terkapar. "Persetan dengan kalian! Pengkhianat pada saudara sendiri! Kalian harus malu pada diri—argh!"

"Dengar, Luhan. Jangan katakan kami tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Sehun. Kau yang harus malu dengan dirimu sendiri, menjatuhkan harga diri dan menjadi pelacur untuk seorang Beta. Dimana letak jiwa Alphamu, eoh?" Ejek salah satu dari mereka, tanpa melepaskan injakan kakinya di punggung Alpha cantik tersebut.

"Setidaknya aku tidak pengkhianat seperti kalian!"

"Heh, lalu salahkan saja Chanyeol yang merupakan pengkhianat pertama yang membuat ini semua rumit."

"Persetan!"

"Hey, apa yang kalian lakukan! Jangan sakiti Luhan, demi Tuhan – mereka masih remaja dan—argh! Yak! Apa yang—" mulut Donghae lalu ditutup paksa karena tangan dari Alpha lainnya tampak menutupnya dan Alpha lainnya yang tidak dapat ia lihat segera membawanya menunduk untuk menahannya. Alpha dewasa itu berang dan kuku-kuku tajam wolf -nya keluar hingga melukai tangan-tangan yang menghalanginya.

"Donghae! Kumohon tenanglah, ini akan menjadi baik-baik jika Chanyeol menerima keputusan yang Julius buat."

"Lalu membiarkan Baekhyun tersiksa karena kehilangan Alphanya?!" Tuding Dongahe tidak terima, beberapa meter dari arahnya tampak Baekhyun terisak dan memalingkan muka. "Aku tidak peduli jika dia adalah Tetua sehebat apapun, Yunho. Tetapi jika anakku yang jadi korbannya maka aku akan melawannya."

"Kawan, kau dengar sendiri dia berkata bahwa Baekhyun akan tetap hidup jika Chanyeol menandai Kyungsoo. Anakmu akan tetap hidup."

"Ia akan hidup sebagai Omega yang dicampakkan Alphanya?! Itu sama saja dengan sia-sia!"

Yunho mendesah berat. "Lalu apa yang kau sarankan, Donghae? Jika ia melawan maka Julius bersumpah akan membunuhnya dan Baekhyun akan hidup dengan keadaan yang sama saja. Jika ia menerima maka mereka berdua akan sama-sama hidup dan kutukan itu hilang; kau tahu reputasi kita akan sangat buruk setelah Ketua Suku dari daerah lain tahu bahwa di tanah kita hidup seorang Alpha khianat."

Donghae terdiam, ditatapnya bungsunya penuh iba – apa gerangan dosa yang dilakukan oleh Baekhyunnya hingga begitu buruk nasib yang diberikan Dewa-Dewi kepada dirinya. "Baiklah..." putus Ayah dari dua anak itu sebelum ia meminta izin agar dapat berbicara kepada anaknya tersebut.

"Baek..." panggilnya setelah ia di jarak yang cukup dengan dengan anaknya, werewolf yang menahan tangan Omega itu lalu melonggarkan pegangannya ketika Donghae memberi isyarat bahwa ia datang untuk membujuk.

"A—appa..." balasnya penuh harap; mata sipitnya memohon agar Donghae membawa berita baik yang segera dapat ia tebak adalah kebalikannya saat tatapan teduh itu berisikan rasa maaf yang penuh menatapnya sungguh. Ia lalu terisak.

"Baek, kumohon mengertilah, Anakku. Ini demi kebaikan kalian berdua..."

Baekhyun menggeleng dan air matanya semakin mengalir.

"Baekhyunnie, lakukan ini demi appa dan demi Chanyeol – ia akan mati di tangan mereka jika ia tidak mematahkan kutukannya, Baek. Kumohon, jangan membuat keadaan semakin pelik, Baek."

"A—aku mencintai Chanyeol, appa..." isaknya terdengar rapuh. "Sangat mencintainya."

"Appa mengerti."

Omega itu menggeleng, jamarinya mengepal kuat. "Tidak. Appa tidak mengerti! Tidak ada yang mengerti!" Ia berteriak, pegangan di tangannya lalu menguat begitu werewolf yang menahannya dapat mendengar pemberontakkan dari tubuh mungilnya.

"Baek, kumohon—hey, apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku! Aku ingin berbicara dengan anakku!"

"Dia tidak akan bisa dibujuk, lebih baik kau menyingkir saja." Balas Alpha yang menariknya untuk menghindar dari arena dan berkumpul di tempat dimana Yonna dan Nari berada. "Lagipula lebih baik kau temani istrimu yang tidak berhenti menangis iba sedari tadi."

Chanyeol...

Suara batin Baekhyun terdengar, matanya yang merah menatap kekasih hidupnya yang sekarang penuh luka di wajah dan darah mengalir dari pelipisnya. Namun si tampan itu masih dapat tersenyum, seolah berkata padanya bahwa ia tidak apa-apa dan semua akan baik-baik saja.

Ada apa, Sayang?

Aku mencintaimu, Chanyeol...

Senyuman di wajah lelah itu lalu semakin lebar, ia kepayahan namun mendengar kalimat cinta dari Omeganya adalah penawar dari segala rasa sakitnya. Namun tatapan mereka terputus ketika Julius dengan sengajanya menancapkan tanduk lancip itu di bahu Chanyeol, erangan sakit keluar dari kerongkongan sang Alpha berkorelasi dengan aliran darah segar yang keluar dari sobekan kulitnya.

"Tidak. Tidak. Yeol—Chanyeol! Jangan sakiti dia! Jangan sakiti Chanyeollie!" Baekhyun meronta.

"Shut up!" Perintah lelaki di belakangnya.

"Tidak!"

Julius lalu melepaskan dengan kasar tanduk runcingnya, Chanyeol lalu terjatuh dengan dua lututnya menahan berat badannya – tangannya bergantung pada dua Alpha yang menahannya. Ditahannya perih yang terasa di luka sebesar bola tenis meja itu di daerah bahunya. "Claim him or this is going to hurt you even more."

Meskipun tidak mengerti sepenuhnya, Chanyeol dapat mengartikan bahwa ucapan dari Alpha yang hidup puluhan tahun lebih lama darinya itu mengancamnya. Ia hanya tertawa sambil menggeleng. Lalu tangan yang mulai keriput namun masih sangat kuat itu beralih dan menggesek luka segarnya, jemarinya mengorek daging di dalamnya sehingga Chanyeol dibuat berteriak saat kuku-kuku itu membawa denyutan sakit yang hebat di lukanya. Darah merahnya menjadi hitam bercampur dengan kotoran yang melekat di jemari Alpha tersebut, ia tersenyum licik mendengar suara kesakitannya segera diiringi jeritan tidak suka dari Baekhyun.

"Baekhyun..." lirih Chanyeol mencoba bertahan dengan memanggil nama Omeganya. "Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun..." ucapnya setiap kali Julius mengancamnya dan tanduk itu kembali menancap di bagian lain dari tubuhnya.

Tidak dapat ia mendengar apapun lagi; kepalanya berdenyut nyeri akibat rasa sakit yang kini ia rasakan – keadaan Omeganya pun sama dengan dirinya. Mereka terikat sehingga saat ini Baekhyun dapat merasakan apa yang ia rasakan dan Chanyeol membencinya, ia tidak ingin sang Omega merintih sakit merasakan kepedihan dari luka-luka yang ia rasa.

Ketika senjata itu menancap di punggungnya hingga menyentuh tulang belakangnya, Chanyeol menengadah dan mulutnya terbuka lebar untuk berteriak sejadi-jadinya. Seluruh syarafnya terluka. Lolongan khas dari wolf segera keluar dari mulutnya; gigi-gigi dan taringnya keluar – ia melakukan half-shift karena beberapa helai rambut-rambut hitam panjang sudah bermunculan di wajahnya.

Kemeja yang ia kenakan kini telah berubah menjadi warna darah kelam; cairan pekat itu menodai sampai ke bagian bawahnya.

"J—Jangan... kumohon... please, please, please..." iba Baekhyun tidak tega melihat keadaan Alphanya, ia menunduk sebelum Jinyeong datang padanya dan mengangkat wajahnya hingga ia terpaksa melihat pemandangan mengerikan itu kembali. "Lepaskan aku!"

"Apa ini yang kau mau, heh?"

"J—jangan sakiti Chanyeollieku!"

"Oh, manis – apa kau pikir Julius akan mendengarmu?"

Baekhyun menggeleng lemah, matanya menatap murka Alpha di hadapannya; diludahinya wajah menjengkelkan itu persis seperti yang dilakukan Chanyeol beberapa menit lalu padanya. Ia marah dan dengan kasar menampar wajah Omega manis itu hingga darah keluar dari sudut bibir tipisnya. "Rasakan itu, jalang!"

Raungan keluar dari Chanyeol; kali ini ia tidak terdengar seperti kesakitan namun lebih seperti amarah dengan matanya menatap tidak suka saat Omeganya disakiti oleh seorang Alpha. "Jangan sakiti dia!" Ucapnya merasakan seluruh kesabarannya hilang batas ketika Baekhyun mengangkat wajah dan darah segar tampak di wajah kekasih hatinya tersebut.

"Wow, lihatlah... sepertinya kita mempunyai bahan menarik untuk membujuk Alpha keras kepala ini." Jinyeong lalu berbisik pada werewolf yang memegang Baekhyun, ia lalu memberikan kode kepada Julius yang segera membalas dengan anggukan pasti. "Hmm, sepertinya Alphamu menginginkan lebih banyak luka di wajah cantikmu, bukan begitu?" Tanyanya dengan seringai sembari mengarahkan tangannya untuk melukai Chanyeol.

"Tidak! Jangan sakiti dia! Kumohon! Lukai saja aku, kalian tidak ada alasan untuk menyakiti Baekhyun!" Gusar Chanyeol mencoba bangkit dari terpuruknya.

"Kalau begitu claim Omega Suci itu!" Hardik Jinyeong.

Baekhyun menggeleng.

Tidak, Yeollie.

Jangan... kumohon, Sayang. Jangan.

Chanyeol tidak bergerak, ia masih saja bersikeras untuk tidak menandai Kyungsoo. Lalu sebuah tamparan kembali diterima oleh Baekhyunnya. "Tidak! Jangan sakiti dia!"

"Claim him!" Bentak Julius mulai tidak sabar meraih Chanyeol dengan cara menarik dagunya ke atas agar mata cokelat itu dapat menatap balik mata kejamnya. "Claim him!" Ujarnya kembali lalu membuat Chanyeol melirik Kyungsoo yang terlihat lemah berbaring di batu besar tempat pemujaan. Tubuh Jongin sudah tidak terlihat di sana, mungkin Kangin telah mengamankannya.

"NO!"

"Argh!" Teriakan Baekhyun beriringan dengan penolakannya, Chanyeol lalu melihat ekspresi sakit kekasihnya itu. Wajah mungilnya lalu berada dalam genggaman Jinyeong.

"Klaim dia, atau Baekhyun kusiksa."

Chanyeol mulai ragu; tidak ada satupun dalam dirinya menginginkan Kyungsoo namun sel-sel tubuhnya akan mati dalam kesedihan dan kepedihan yang lebih jauh melihat Baekhyun diperlakukan seperti itu. Lalu ketika Jinyeong mendekatkan kuku wolf-nya ke arah wajah sang Omega, Chanyeol segera bergerak mendekat pada Kyungsoo.

"Tidak... tidak... tidak, Yeollie..." suara penolakan lirih Baekhyun menjadi belati yang seolah berada di tanah dan menghalangi apa yang hendak ia lakukan. Diliriknya Baehyun untuk terakhir kali.

Aku tidak bisa melihatmu terluka, Baekhyun...

Baekhyun tidak membalas, wajahnya hanya mampu menampilkan ekspresi sakit saja – tubuhnya bergetar dengan kepala menggeleng-geleng lemah.

Chanyeol berhenti.

Omeganya yang menangis membuat Alphanya terusik; ia terpaku dalam pilihan rumit.

Ia mencintai Baekhyun.

Maka dari itu ia rela berkorban.

"Apakah kau akan melepaskan Baekhyun jika aku menuruti perintah kalian?"

"Tidak! Yeol! Yeollie! Jangan—"

Jinyeong terkekeh. "Tentu."

Chanyeol lalu mengalihkan pandangannya dari Baekhyun, disiapkannya taringnya agar ia dapat meraih leher Omega Suci tersebut leluasa. Matanya tertutup sebelum ia membenamkan wajahnya di curuk leher Do Kyungsoo.

"Tidak! Chanyeol! Chanyeol! Chanyeolku, jangan—Yeollie, hiks... Y—Yeol—"

"Diam!"

"Tidak! Chanyeol—argh! Chanyeol!"

"DIAM!"

"TIDAK! YEOLLIE! Hiks, Chanyeol!"

"Just kill him, already. He carries children with dirty blood."

"Oh, dengar, Baekhyunnie. Julius ingin aku membunuhmu. Kau tentu juga sudah tidak pantas hidup." Ucap Jinyeong merasa menang sebelum ia mengeluarkan taringnya dan menancapkannya di leher Omega yang lebih lemah.

Seluruh mata tidak percaya menatap apa yang mereka lihat.

Teriakan sakit Baekhyun menjadi musik kepedihan dari batin-batin yang melihat; seorang Omega yang menyaksikan sang Alpha menklaim Omega lain di hadapannya, lalu sekarang mendapati kenyataan bahwa taring dari Alpha lain akan membunuh dirinya yang dianggap hina.

Waktu seolah berhenti.

Begitu enggan untuk melanjutkan kenyataan yang menyayat hati.

Dewa-Dewi pun seolah tidak mempunyai hati; mereka hanya terpaku menjadi saksi jiwa suci seorang Omega seperti Baekhyun mengakhiri hidupnya dalam kisah cinta yang menyebabkannya mengakhiri nyawa sendiri. Pancaran mata indah itu meredup, ia masih sempat melihat wajah dari Ketua Suku pedalaman itu sebelum pandangannya tertutup – matanya lalu dapat merasakan senyuman dari sang Ibu menyapa, bergantian dengan suara tangisan pecah dari anak-anaknya yang tidak sempat mengucapkan selamat pagi pada dunia.

Oh, anak-anaknya yang tidak berdosa.

Tidak ada kesalahan yang kalian perbuat sehingga kalian dikatakan tidak berhak untuk menghirup udara di dunia, bahkan menatap wajah dari orang tua tidak akan bisa kalian terima.

Oh, jiwa-jiwa yang malang.

Nyatanya tidak cukup cinta yang ada dari seorang Byun Baekhyun untuk mempertahankan kalian semua.

Maka dengan sangat rendahnya, malam ini, dimana sang Ayah akan menemukan Belahan Jiwa yang jauh lebih berarti, kalian akan hilang bersama Omega yang kalah oleh kekuatan Omega Suci.

Maafkan, aku, anak-anakku.

Bahkan aku belum sempat menyebut namamu.

Namun kalian harus tahu,

Aku mencintaimu.

Seperti cintaku yang tidak cukup kuat untuk mempertahankanmu.

.

.

.

Chanyeol.

Chanyeol.

Chanyeollie.

Selamat tinggal, Sayangku.

Kuharap di kehidupan selanjutnya, aku adalah satu-satunya belahan jiwa yang pantas untukmu.

Kekasihku.

Cintaku tidak akan pernah redup untukmu.

.

.

.

.

.

.

.

"Kubilang jangan sakiti dia, keparat!"

Kecepatan yang diperlihatkan oleh Alpha itu tidak dapat membuat satu jiwapun melakukan apa-apa; mereka terpana dalam keterkejutan menyaksikannya. Seperti tidak dapat dihitung dengan satu detik saja, tubuh itu lalu berlari dengan wolf perkasa dengan gagahnya meraih leher dari Alpha yang berani melukai belahan jiwanya. Matanya menatap garang, giginya berkilat dengan liur menetes, haus akan darah dari si bajingan yang telah melukai Omeganya. Tangannya mencekik leher itu hingga bola mata dari werewolf dalam genggamannya membulat terpana, mulutnya menganga dan lalu hidungnya sesak merasakan oksigen yang begitu kurang di dalam dada.

Chanyeol mengaum.

Ditancapkannya taringnya untuk mencabik leher itu hingga kepala Alpha tersebut lepas dari tubuh, dadanya naik-turun menatap seluruh Tetua Adat, termasuk Julius yang tidak berkedip menatap balik pada dirinya. Dengan kasar dilemparnya tubuh Jinyeong, lalu dengan sangat lembut dibawanya tubuh Baekhyun dalam genggamannya. Ia lalu perlahan kembali berubah dalam wujud manusia, dikecupnya kening sang Omega. "Jika kalian berani menyentuhnya lagi, maka akan kupatahkan leher kedua malam ini!" Ucapnya menatap lekat seluruh yang menentangnya di sana.

Tidak ada yang berani bergerak.

Lalu Chanyeol membawa bibirnya untuk mencium bibir kekasihnya seksama. "Aku mencintaimu, Baekhyun." Ucapnya membuat mata dari kekasihnya itu terbuka, iris gelap nan indah lalu segera disambutnya dengan senyuman sempurna. "Aku tidak pernah menginginkan Omega lain selain dirimu, aku tidak peduli beribu Omega Suci menginginkanku karena hatiku hanya milikmu."

"Chanyeol..."

"Sayangku, Baekhyunku."

Lalu tangis kerinduan segera keluar dari mata sang Omega, seolah bertahun-tahun lamanya ia kehilangan cinta dari Chanyeolnya.

Di saat yang sama, angin malam mengalami puncaknya – semilirnya menjadi begitu kencang, beberapa dedaunan lalu bertebangan. Cahaya putih lalu tampak di pergelangan tangan Baekhyun; seluruh mata lalu menyaksikan bagaimana tanda phoenix di sana menghilang meninggalkan kulit putih bersih yang mengundang tanda tanya mereka. Lalu aroma tubuhnya menguar keluar hingga seluruh jiwa di sana dalam mencium wanginya – wangi yang sangat menenangkan dan menggoda dalam saat yang bersamaan, menyebabkan seluruh jiwa, mempunyai mate atau tidak, Beta atau bahkan Omega, tergoda oleh aroma memikat darinya.

Chanyeol menatap takjub; wajah cantik dari Baekhyun terlihat sangat memukau walau darah menodai kulit bersihnya.

Wangi yang ia dambakan lalu menyapa indera penciumannya dengan begitu syahdu, membelainya, menggodanya, hingga ia tersadar akan satu kenyataan bahwa sekarang ia, seorang Park Chanyeol, untuk pertama kalinya, dapat menghirup wangi dari seorang Omega.

Dengan tidak sabaran, dengan debaran, Chanyeol lalu mengarahkan taringnya di leher Baekhyun – menghapus tanda yang sebelumnya telah ada dan menggantikannya dengan yang baru.

"Engh—Yeol..."

"Omegaku..."

"Yeollie..." panggil Baekhyun menikmati saat jilatan Chanyeol menari-nari di lukanya. Ia lalu berdiri dengan lengan Chanyeol mengalung di pinggangnya, membantunya agar dapat berdiri tegak – mereka yang melihat lalu kembali terpada saat tanda di leher Omega itu lalu bersinar begitu cerah hingga ia meredup dan meninggalkan tanda yang sama dengan tanda yang ada di pergelangan tangan sang Alpha.

Perlahan tanda di pergelangan tangan Chanyeol ikut menghilang dan bias merah muda disana berganti menjalar ke lehernya, membuat tanda yang identikal dengan milik sang Omega. Phoenix besar berada di sisi leher keduanya, kanan untuk Chanyeol dan kiri untuk kekasih hatinya – keduanya larut dalam tatapan mereka untuk menyadari tanda tersebut telah beralih. Mata keduanya bersinar dan ketika para werewolf disana dibuat terlena oleh pemandangan ganjil nan baru di hadapannya, maka mereka kembali dimanjakan oleh perasaan cinta ketika bibir sepasang mate itu bertemu dalam penyatuan lembut bagai lagu merdu.

"Kutukan pengkhianatan akan putus oleh kesetiaan."

Kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulut Yunho; Ketua Suku daerah mereka yang tiba-tiba merasa bersalah sempat setuju untuk mengikuti saran dari Julius.

Hilangnya tanda di tangan Baekhyun adalah tanda tanya bagi mereka.

Namun begitu Yunho melirik tubuh Kyungsoo, ia dapat melihat tanda Alphanya kembali muncul di pergelangan tangan kirinya – sisanya masih terbius dengan pemandangan dimana Chanyeol dengan hati-hatinya membalas ciuman mesra dari sang Omega; Byun Baekhyun, yang sebenarnya adalah seorang Omega Suci, Omega terpilih sesungguhnya. Yunho tersenyum simpul, pantas saja usia Kyungsoo yang begitu muda karena ia bukanlah Omega Suci yang pantas pada ritual mereka saat itu.

Mereka yang tidak mengetahui bahwasanya Omega Tersuci adalah dia yang benar-benar menyerahkan jiwa dan raganya sepenuhnya untuk sang Alpha, lalu apakah kurang segala rasa sakit yang dirasakan oleh lelaki manis itu untuk membuktikan pada dunia bahwa ia adalah yang berhak, merasa malu dengan Dewa dan Dewi hutan yang tengah memperhatikan mereka – jiwa-jiwa bodoh yang justru ingin memusnahkan apa yang Dewa telah tunjuk untuk mereka. Cahaya yang berada di tanda dua pasang jiwa itu di leher keduanya mengolok kembali Tetua yang tidak mengerti, mereka saling memuji dalam penyatuan bibir tanpa peduli.

"He's the One, the real Chosen Omega; the most precious one has to get their mark planted on their neck. Identical with their Alpha." Julius berguman tidak percaya, dan ketika Chanyeol melepas kecupannya lalu menggendong Omeganya untuk pergi dari arena, ia memanggil. "Chanyeol!" Tegurnya membuat Alpha dengan rambut merah tersebut membalik badan dan menaikkan satu alis. "Mate. In front of us." Ujarnya merujuk pada ritual puncak.

Mengerti maksud dari Julius, Chanyeol hanya tersenyum mengejek.

Tidak menyangka jika Alpha sialan yang tadi ingin membunuh dirinya dan juga Baekhyun masih merasa ia punya hak untuk mengatur hidup mereka. "Tidak ada satupun yang berhak melihat kekasihku kecuali aku. Terlebih kalian semua yang menginginkan kami tidak bersatu." Ucapnya sebelum berjalan lurus ke arah hutan daerah mereka, meninggalkan para Tetua Adat yang tidak dapat membantah.

.

Jemari langsing Baekhyun bersentuhan lembut dengan kulit kasar dan keras dari dada bidang Chanyeol; ia yang begitu mungil dapat dengan mudah digendong oleh tangan kokoh sang Alpha. Luka di lehernya yang disebabkan oleh Jinyeong sudah mulai membaik walau masih belum tertutup sama sekali; sementara ia sendiri sibuk menikmati wajah tampan dari Alphanya yang tampak begitu fokus memperhatikan arah jalan.

"Yeollie..." panggilnya mendayu.

"Hmm?" Balas Chanyeol lembut sesekali mencuri pandang pada kekasih hatinya yang tidak berhenti menatapnya dengan wajah lugu.

Bukannya menjawab, Baekhyun hanya melanjutkan senyumnya dan kagumnya melihat wajah Chanyeol – tangannya lalu beralih pada wajah kekasihnya yang dipenuhi luka-luka pukulan dari Alpha yang tidak bertanggung jawab tadi padanya. Ia lalu membawa arah pandangannya pada luka yang disebabkan oleh senjata dari Julius di bahu tegap tersebut, darah di sana tidak berhenti mengalir dan menyebabkan Omega cantik tersebut menatap pahit.

Chanyeol membawanya menuju tempat yang sama ketika ia kembali dari rasanya saat jantungnya berhenti, namun kali ini ialah yang berada dalam gendongan Alphanya – dan kali ini, bagaikan mengalami hal sama namun jauh lebih intim, keduanya tidak bersuara hingga Chanyeol menurunkannya hingga ia duduk di tepi danau. Tidak ada siapa-siapa di sana, jika mereka melakukan Ritual Suci seperti biasanya maka tempat ini tentu sudah akan sangat ramai digunakan untuk berbagai macam hal.

Baekhyun memperhatikan Chanyeol melepaskan seluruh pakaiannya yang tertinggal, celana yang tampak begitu lusuh dan kotor itu sekarang lepas – ia beberapa malam yang lalu akan berbalik karena rasa debar malu namun kali ini matanya tidak berpindah dari segala keterbukaan yang tampak dari tubuh Alphanya, miliknya, kekasihnya, mate-nya. Belahan jiwanya.

Tatapannya yang mengatakan bahwa hanya ialah yang bisa memandangnya.

Katakan ia egois sekali saja, tetapi jika ia bisa maka segala ruang untuk kamar keegoisannya akan dipakai untuk mencintai dan memiliki Park Chanyeol saja.

Matanya menatap hingga ia menangkap senyuman dengan satu arti dari Alphanya, seketika wajahnya memerah – wajah tampak Chanyeol memang sangat bisa membuat ia terlena dan lalu tersadarkan dalam sembraut merah muda yang mendamba. Dialihkannya perasaan itu pada rasa khawatir yang timbul ketika melihat banyaknya luka yang ada di tubuh sang Alpha; menggigit bibir bawahnya ragu, Omega bermata indah itu menatap sendu.

Alphanya terluka begitu banyak.

Namun kegagahannya tidak dapat disangkal walau sebagian kulit di punggungnya telah terkoyak.

Tubuh telanjang Chanyeol dari belakang adalah sempurna, cacat sementara oleh darah dan luka yang menganga – namun selebihnya, birahi si Omega telah mencuat keluar dan mulai mendesirkan darah hangat menuju daerah Selatan di tubuhnya. Diperhatikannya dengan seksama bagaimana air danau yang dingin menyapu luka-luka mulai dari telapak kaki sang Alpha, merayap pada betis hingga pahanya... lalu menghanyutkan darah dan segala kotoran yang hinggap di tubuhnya sampai Baekhyun melihat kepala merah itu menghilang ke dalam danau untuk beberapa detik lamanya. Gelembung udara tampak saling berlomba keluar menuju permukaan sebelum ia terpecah oleh ombak kecil yang timbul dari kembalinya tubuh Chanyeol untuk menghirup udara; kulit putih pucatnya yang terlihat sedikit menggelap diterpa cahaya bulan yang redup itu kini terhilang dari darah kotor dan berganti degan tetesan darah baru yang masih berusaha keluar dari luka-luka yang mulai menutup.

Baekhyun menatapnya dengan senyum.

Bagaikan sihir putih yang tampak seperti benang dan jarum jahit tidak kasat mata dan mengatupkan luka-luka itu dengan sendirinya. Lalu dengan sengaja Chanyeol berbalik untuk menatapnya, Baekhyun segera terkesima melihat wajah basah dari kekasihnya dari kejauhan yang perlahan mendekat menuju tepian.

Napasnya memburu.

Tubuh Chanyeol menyebarkan candu.

Omega itu tidak menolak ketika sang Alpha memberinya pertanda untuk berdiri, tinggi mereka tidak tidak imbang menjadi kesenangan tersendiri – dibawanya yang lebih mungil untuk menjatuhkan dua kakinya di atas yang lebih tinggi sehingga mereka berdiri begitu dekat. Napas bertemu napas dan tangan bertautan. Wajah Chanyeol lalu mendekat pada lehernya, dimana pusat aroma tubuhnya paling kental di sana – ia menghirup bagaikan heroin utama adalah sang Omega. "Aromamu," ucapnya serak. Matanya lalu terbuka dan Baekhyun menelan ludah payah melihat kabut yang menyelimuti iris terang Alphanya tersebut – mate, mata itu seolah berteriak untuk menerkamnya saat itu juga.

"Yeol—ahh..." Baekhyun lalu menengadah dan memejamkan matanya ketika lidah Chanyeol kembali menyapu leher lukanya; dibasahinya lembut berharap agar sang Omega dapat pulih dengan cepat.

"Sialan—aromamu, Baekhyun. Aromamu benar-benar memabukkan, Sayang..."

"Hmm..."

"Seperti citrus segar yang memabukkan..." desah Chanyeol menghirup wangi aroma tubuh Omeganya lebih lama. "...bercampur dengan segarnya angin Musim Semi yang menggantikan Musim Dingin, begitu menenangkan. Oh, Baek... begitu menyenangkan." Chanyeol berusaha menjelaskan bagaimana aroma sang Omega mempengaruhi dirinya. Ia tersenyum suka dan hidungnya semakin menempel di pusat kelenjar di leher Omeganya; mengendus dengan seksama karena dalam setiap detik berlalu, maka ia akan membaui aroma baru. Buah beri liar tanpa nama yang langka, lalu aroma bunga semerbak yang memanjakan setiap indera. "Aku pasti adalah orang paling bodoh dan tidak beruntung tidak dapat menghirupnya sebelumnya."

"Itu karena—ahh!" Ucapan Baekhyun terputus ketika tubuhnya terangkat dan Chanyeol membawanya menuju danau. "Yeol? Kau tahu lukaku tidak akan sembuh walau—yak!" Ia terpekik ketika Chanyeol melemparnya ke danau sebelum tangan besar itu lalu meraihnya dan membawa tubuhnya agar kembali mendekat dengan sang Alpha; seolah-olah ia akan mati jika berpisah barang sesenti saja.

"Baekhyunku..."

"Chanyeolku," balasnya lembut lalu memberikan ciuman singkat di bibir tebal belahan jiwanya. "Alphaku," ucapnya lalu memberikan ciuman yang lebih lama. "Milikku." Putusnya sebelum menempelkan bibir mereka lebih kuat dan mendorong tubuhnya lebih rapat pada sang Alpha.

Mililkku. Hanya milikku.

Milikmu, hanya milikmu.

Mereka saling membalas dalam kalbu dengan bibir saling memagut; kecipak air danau yang tenang menjadi musik pelan yang melantun seirama dengan gerakan pelan mereka. Baekhyun terkikik senang saat Chanyeol melepas ciuman mereka, tangannya mengalung di leher Alpha tercintanya dan Chanyeol hanya bisa membalas dengan senyum penuh rindu yang ia berikan pada sang Omega.

Beberapa menit mereka hanya saling menatap; Baekhyun tersenyum dan Chanyeol merengkuh wajahnya lembut.

Perlahan sekali, jemari Alpha itu turun dan mulai melepaskan kain yang menutupi tubuh sang kekasih hati – Baekhyun meliriknya dengan mata sayu dan wajah bersemu ketika pejantan itu melepaskan segala yang menutup tubuhnya.

Keduanya memadu cinta.

Penyatuannya disaksikan kembali oleh pepohonan dan bebatuan yang juga merupakan teman ketika mereka pertama kali melakukannya; kali ini tidak ada ragu atau lugu di wajah itu – Baekhyun dengan gamblangnya menyerahkan dirinya. Ia dengan sendirinya meraih batang sang Alpha dan memanjakannya dengan tangan, sampai pada mulutnya – ia bahkan berbisik di telinga Chanyeol untuk membiarkannya berada di atasnya saat mereka bercinta.

Tangan kecil itu bertumpu pada perut Chanyeol yang berada di bawahnya saat kejantanan sang Alpha masuk menembus lubang senggamanya; ia mendesah, meneriakkan nama Chanyeol seolah ia yang pantas dipuja. Tubuhnya bergerak dengan irama, matanya tertutup menghayati setiap friksi yang menjadi-jadi.

Chanyeol membawa tubuhnya turun; hingga mereka kembali bercumbu di saat keduanya akan mencapai titik yang dituju. Kalimat 'aku mencintaimu' melantun ketika keduanya dihantam kenikmatan itu.

"Milikku..." bisik Baekhyun merdu.

Terkekeh, Chanyeol membalas dengan mengecup pucuk kepala Omeganya. "Milikmu."

"Milikku..." ucap sang Omega kembali lagi, direbahkannya tubuhnya nyaman di atas tubuh polos Alphanya. "Hanya milikku."

"Aku tidak tahu kau akan seagresif dan seposesif ini, Sayang. Aku menyukainya tapi, Baek – kau tahu aku milikmu."

"Eung – tapi Kyungsoo..."

"Shh, baby. Aku tidak menginginkannya."

"Tapi tadi—"

"Oh, Baekhyun. Aku sama sekali tidak menklaimnya, aku hanya mencoba melakukannya sebagai pengalihan mereka sebelum aku bersiap menyerang Julius tetapi rencana itu buyar karena Jinyeong sialan itu melukaimu. Walau harus kuakui tindakan spontanku tampaknya jauh lebih heroik, haha."

Baekhyun tertawa. "Dasar Alpha suka umbar kata-kata."

"Tapi benar, Baek! Mereka semua terdiam ketika aku berhasil mematahkan si sialan itu lalu—"

"Iya, iya, Yeollie. Aku tahu... tapi kurasa aku tidak ingin mendengar cerita lengkapnya saat ini." Ujarnya sedikit manja dengan jari-jari yang mulai bermain di perut Chanyeol membuat polak acak, menghantarkan denyutan mesra ke seluruh syaraf perasa keduanya.

"Hmm?"

Baekhyun lalu bangkit dan melirik Chanyeol sembari menggigit bibir, ia menggoyangkan pinggulnya hingga penis mereka berdua kembali bergesekan dan saat itulah Alpha remaja itu dapat merasakan cairan yang keluar dari lubang Omeganya membasahi paha dalamnya. "Setubuhi aku lagi?" Ajaknya manis yang tidak akan bisa ditolak sama sekali.

.

.

.

"Hey, Baek?"

"Hmm?"

"Kau tahu alasan kenapa aku selalu membawamu kelinci putih setelah berburu?"

"Hmm?"

"Karena aku melihat senyummu pada mereka dan aku tidak dapat membunuhnya dari kali pertama aku diperbolehkan membunuh mereka. Lalu setelah itu, setiap kali aku merasa marah dan tidak dapat terkendali maka aku akan menjadi kelinci putih di hutan ini karena dengan melihatnya saja bisa membuatku tenang. Karena wajahmu selalu muncul dalam benakku."

"Aku mencintaimu, Yeol."

"Hmm. Aku juga mencintaimu..."

"Yeol..."

"Hmm?"

"Eung, aku tidak mau menghancurkan suasana romantis yang kau buat tapi... maukah kau menyetubuhiku lagi? Kurasa lubangku mengeluarkan cairan lubrikasi kembali."

"..."

"Yeollie~"

"Baek—"

"Yeol, basah sekali... Aku—hmph!"

.

Mencintaimu adalah surga bagiku.

Karena hidup tanpa kehadiranmu adalah neraka terberat untukku.

Maka sentuh aku,

Rengkuh aku sesuka hatimu,

Lalu katakan kau mencintaiku.

Maka aku yakin, seratus tahun lagi, Kasih...

Hati ini masih akan memanggil namamu

Dan jantung ini akan selalu berdetak untukmu.

.

23 Mei 2016, Kantin Sekolah SM

"Sudah berapa lama Chanyeol dan Baekhyun tidak kembali dari hutan?"

"Tidak tahu, yang jelas sudah cukup lama. Apa tidak akan ada yang mencari mereka berdua?"

"Luhan, Jongin... masa-masa knotting bagi kaum kita ketika saat puncaknya akan terjadi lebih dari dua hari. Dan kalian tahu sendiri mereka adalah pasangan terpilih – Chanyeol hyung itu seperti yang sudah dikatakan oleh Yunho-nim dia adalah titisan Alpha yang well, khianat, tetapi darah Alpha terkuat ada di nadinya. Kalian tahu sendiri kuat di sini bisa diartikan dalam banyak hal dan kutukan itu patah karena ia memilih setia untuk Baek hyung, yang kebetulan adalah Omega tersubur dan Omega Terpilih yang sebenarnya. Kurasa mereka tidak akan kembali sebelum Baekhyun hyung hamil, tidak usah khawatir... aku yakin mereka masih hidup sampai saat ini. Banyak binatang di hutan dan sumber air, mereka tidak akan mati kelaparan."

"Tapi ini sudah lebih dari lima hari! Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengan mereka, ah! Kenapa aku harus di rumah sakit malam itu dan melewatkan ritual seru! Lagipula bukannya Baek sudah hamil?"

"Yak, Jongdae hyung. Kau itu bahkan tidak berniat menonton dari awal. Lagipula lima hari terlalu pendek untuk Chanyeol hyung, kau tahu sendiri bagaimana dia. Haha, mungkin mereka bercinta tidak habis-habisnya sekarang. Menambah anak, mungkin? Ah, apa itu mungkin menambah anak dalam rahim yang sudah diisi?"

"Yak, Oh Sehun! Jangan bicara sevulgar itu!"

"Luhan, sampai kapan kau akan selalu berdebat dengan kekasihmu?"

"Sampai kau menemukan mate-mu, Wu Yifan!"

"Oh, bicara tentang mate. Aku masih tidak percaya orang bodoh ini mendaftarkan tandanya di lembaga tanda dengan nama yang salah."

"Hey, kenapa malah mengalihkan masalahmu padaku, Wu Yifan! Aku saat itu gugup, oke? Jadi aku asal berkata nama Chanyeol hyung saja pada petugas di sana! Aku tidak menyangka Kyungsoo akan – yak, kelian seharusnya bersyukur dan bangga aku dapat bertahan melawan Alpha sebanyak itu!"

"Panggil aku 'hyung', bodoh!"

"Terserah!"

"Hmm... jika kau benar-benar menyebutkan namamu dengan benar maka Kyungsoo tidak akan memanggil nama Alpha lain malam itu."

"Benar, Hannie. Dan Jongin, jika kau bisa menjaga hormonmu, rahim Kyungsoo tidak akan matang secepat itu dan membuat tandanya hilang karena terlalu cepat."

"Terserah. Terserah."

"Lalu kapan kau akan berani menjenguk 'Omega Suci'mu, eoh?"

"..."

"Wow, wajahnya memerah!"

"ARGH JANGAN MENGGODAKU!"

fin