—8—
"Share it with me; your burden and pain."
Jika ini adalah dunia komik, Nijimura tentu sudah digambarkan dengan simpang tiga besar di kepalanya.
"Kau mau apa?" Judes.
Tetsuya sudah tidak kaget. Sebaliknya, kini dia amat terbiasa. Dia sendiri tak tahu kemana gerangan rasa takutnya pada Nijimura pergi. Yang jelas ia bersyukur dengan ketenangannya saat ini.
Tenang, ia menjawab, "Nijimura-san tahu kenapa aku di sini. Dan tentu tentang apa mauku."
Tetsuya yang penakut sudah tidak ada. Dia di sini sebagai Tetsuya yang tahu makna dari keberadaanya sendiri. Sebagai satu-satunya yang bisa menolong Seijuurou.
Mata Nijimura menyipit, menatap tajam. "Dia tidak mau bertemu denganmu."
"Bukankah dia sudah menghindar terlalu lama?" Tetsuya bertanya berani. Keyakinan penuh dalam suaranya. Tangan kanan terangkat menunjuk dadanya sendiri.
"Yang ada di sini…"—Tetsuya tertekan, ingin sekali menerobos lorong kuil untuk segera menemui Seijuurou. Berlama-lama di sini sungguh membuang waktu—"… Ingin bertemu. Sangat."
Terdiam. Nijimura tak tahu harus merespon bagaimana. Ini situasi yang membingungkan. Bahkan dengan perannya sebagai penjaga kuil naga, mengambil keputusan tidak serta merta menjadi mudah.
"Kami." Tetsuya sengaja memberi penekanan. "Aku dan 'dia' yang ada dalam diriku, merindukannya."
Karena tidak sepantasnya apa yang ditakdirkan terikat tidak dipersatukan. Apapun alasannya.
Takao yang berdiri di belakang Nijimura bersidekap. Menundukan kepala, memejamkan mata. Pusing. Kenapa takdir mesti begini kompleks?
Yang satu mati-matian tidak mau ditemui. Yang satu keras kepala ingin bertemu.
Apa-apaan?
"Kuroko-kun," Takao menyela lembut, "dia tidak mau bertemu denganmu. Tidakkah kau ingin menghargai keinginannya?"
Di luar dugaan Takao, jawaban Tetsuya adalah gelengan kuat dan mantap.
"Tidak"—katanya. "Aku ingin bertemu dengannya."
"Kau bisa berkata begitu karena kau tidak tahu apa konsekuensinya bagimu. Bagaimana bentuk kutukan itu setelah kalian membaginya sama rata." Sinis. Nijimura yakin benar tidak ada yang merelekan diri menderita, sekalipun atas dasar 'cinta'.
Dia lupa bahwa tidak semua orang seapatis dirinya.
"Jika memang…" Tetsuya menelan ludah. Ia meremas dadanya sendiri yang terasa nyeri. Ia begitu rindu. Dia dan Seijuurou sudah berada pada jarak demikian dekat namun mengapa mereka masih sulit untuk bertemu. "…aku harus hancur karena kutukan itu, maka terjadilah."
Mungkin benar cinta menembus batasan logika. Hancur pun tak mengapa, selama bersamamu.
"Aku ingin menemui dia. Menemui Seijuurou. Kumohon biarkan aku bertemu dengannya."
.
.
Seijuurou cukup pintar untuk menitah Chihiro sebagai penjaga pintu kamarnya alih-alih Reo. Chihiro jauh lebih tegas walau tidak sepatuh Reo. Jika dihadapkan pada situasi ini, Reo tentu luluh. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apapun untuk meringankan penderitaan tuannya.
"Aku tidak tahu kau jatuh ke level serendah ini, Nijimura." Chihiro menatap datar—namun dengan ancaman yang kentara—pada sang kepala kuil. "Kau sudah berani membangkang?"
Nijimura kesal mendengar pertanyaan merendahkan itu. Apa Chihiro pikir mudah baginya memutuskan ini?
Dia yang selalu dididik bahwa sayap timur kuil adalah bagian paling sakral dari keseluruhan bangunan, dia yang dijejalkan paham bahwa tak boleh sembarang orang menginjakkan kaki di kuil bawah tanah. Apa dikiranya mudah, bagi seorang seperti Nijimura untuk mengizinkan Tetsuya masuk? Apa dia terlihat sebagai orang segegabah itu?
"Kalau kau tidak bisa mengatasi bocah ini, biar aku yang melakukannya."
Chihiro melangkah maju. Bersiap menyingkirkan Tetsuya.
Hei, yang barusan sepertinya ide yang bagus. Bukankah Seijuurou menderita setelah bertemu langsung dengan Tetsuya? Seolah sang naga tak terima dipisahkan lagi setelah bertemu mata ke mata dengan mempelainya?
Mungkin jika pemuda ringkih di depannya ini disingkirkan, gairah menggebu sang naga akan mereda dan Seijuurou kembali seperti biasa; menanggung hanya rasa sakit yang sudah akrab dengannya ratusan tahun ini.
"Chihiro!"
Nijimura tak diindahkan. Mata wakizashi diarahkan tepat di atas jantung.
Tetsuya bergeming. Tidak merubah sedikitpun air mukanya.
"Kenapa tidak menghindar?" tanya Chihiro curiga.
Tetsuya dengan berani mengenggam mata pisau yang persis berada di depan dadanya. Sedikit saja ia melangkah, dan dia akan tertusuk.
"Ini bisa meringankan derita Seijuurou-sama, bukan?" Lantang, ia bertanya.
Mata Chihiro melebar ketika genggaman Tetsuya pada wakizashinya menguat. Telapak tangan pemuda itu mengalirkan darah.
"Aku sungguh tidak keberatan mati untuknya," sambung Tetsuya. "Tapi aku yakin kita bisa selesaikan ini dengan cara lebih baik. Kalau kalian mau."
"Ini tidak semudah dalam bayanganmu. Apa kau pikir kenyataan akan berakhir seindah dongeng? Sedang ingin berperan jadi juru selamat?" Chihiro adalah ahli berucap pedas. Seolah variasi kosa kata dalam kamusnya memang sengaja dibuat sarkastik. "Mundurlah kalau hanya ingin jadi pahlawan kesiangan."
Mengigit bibir, Tetsuya sungguh berharap halangan kali ini juga mau menyingkir. Ia malas berdebat. Ia hanya ingin segera berada di sisi Seijuurou. "Aku akan ke dalam. Biarkan aku masuk dan membantunya."
"Dia tidak menginginkan itu."
"Aku tahu. Dan aku tidak peduli."
"Kau pikir aku tidak memberitahunya soal itu?" Nijimura memotong dengan nada emosi. "Aku sudah tidak mengerti lagi dengan semua kerumitan ini. Sialan."
Chihiro memutar bola matanya sebelum menatap sinis pada si penjaga kuil. "Jaga cara bicaramu, Nijimura."
Perdebatan itu dihentikan dengan lolongan sakit yang terdengar amat jelas. "AARGGH!"
Tetsuya secara instingtif berlari, meninggalkan Nijimura dan Chihiro secepat kilat.
Di dalam pikiraanya hanya ada satu hal: Seijuurou!
.
.
Reo dan Himuro sama-sama panik. Mereka berusaha menahan Seijuurou untuk tidak memberontak beringas dan mungkin melukai dirinya sendiri.
Baru kali ini Reo melihat tuannya sekacau ini.
Dengan irama napas yang berantakan. Kulit sepucat mayat yang kontras dengan rona punggung yang begitu merah seperti baru saja dipanggang. Tidak. Seperti dibakar.
Reo berjengit ketika melihat kulit di sekitar rajah naga sang tuan mengelupas. Kini tidak ada lagi noda hitam bercorak naga seperti tato permanen. Yang nampak adalah daging segar berdarah tanpa henti.
Seijuurou mengamuk. Bukan karena emosi. Tidak sama sekali. Murni karena dia merasa sakit. Sangat sakit.
Dia tidak lagi berbaring tenang. Ia menggeliat liar. Jika bisa, ia ingin mencopot daging punggungnya saja dan melemparkannya ke tungku.
Panas. Sakit. Jika dia boleh mati saja, dengan senang hati dia akan memilih jalan itu.
Himuro berusaha menahan Seijuurou. Jika setidaknya sekarang ini dia bisa tenang, Himuro dapat melakukan sesuatu pada luka di punggungnya itu.
"Se-Seijuurou-sama!"
Reo mencoba ikut menahan amukan sang tuan. Gagal. Tangan Seijuurou tanpa sadar melayang, menghantam shikinya sendiri dan juga Himuro. Teriakan sakitnya panjang dan memilukan. Para pendengarnya seolah bisa merasakan ngilu dan perih yang sama.
Dua detik kemudian, pintu geser yang ada di belakangnya terbuka kasar.
Seijuurou tidak tahu apa yang terjadi. Dia disorientasi waktu. Disorentasi ruang.
Segalanya seperti berhenti ketika sepasang lengan kurus memeluknya dari belakang. Begitu cepat dan terburu-buru. Seolah pelakunya hendak menyergap dan meringkus Seijuurou agar tidak lari kemana-mana.
Seijuurou terdiam ketika sebuah suara menenangkan badai dalam dirinya, meredakan sakitnya.
"Sei…"
Semua tertegun. Amukan Seijuurou terhenti instan. Rasa sakit yang sebelumnya eksis menghilang tak berbekas ketika bibir pucat dan mungil mengecup punggung lehernya sayang.
Di dekat telinga wadah sang naga, titisan sang mempelai berbisik, "Jangan tolak aku lagi." Kecupan lain disisipkan. "Kumohon."
Tetsuya sudah tidak peduli dirinya menjadi tontonan. Kepalanya hanya dipenuhi oleh Seijuurou.
Ini salah. Ini tidak benar.
Seijuurou sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menanggung semuanya sendiri. Tapi keberadaan Tetsuya di sisinya terasa seperti sebuah kebenaran yang hakiki. Seperti hukum alam yang digenapkan. Wajar sekali.
"Biarkan aku ada di sini"—karena menghindarimu ataupun dihindari olehmu menyakitiku lebih dari apapun juga—"Seijuurou."
Himuro adalah orang pertama yang memahami keadaan. Tanpa komentar, ia beranjak berdiri dan menggandeng Nijimura keluar ruangan tanpa berkata apa-apa. Nijimura memberinya tatapan penuh tanda tanya. Jawaban Himuro adalah isyarat untuk diam dan mengikutinya.
Chihiro menolak untuk terlibat dalam konflik yang tidak seharusnya ia campuri dan mengikuti langkah Himuro. Reo ditariknya agar tidak membuat kekacauan.
Pintu geser tertutup.
Keheningan sempurna melingkupi Tetsuya dan Seijuurou ketika mereka hanya berdua di dalam ruangan.
Tangan Seijuurou masih gemetar ketika ia menggengam tangan Tetsuya yang kini memeluknya.
"Kenapa?" Ia memejamkan mata. Ini sulit baginya. menolak Tetsuya ketika pemuda itu berada sebegini dekat. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan ini."
"Maka beritahu aku."
"Kau akan menyesal."
"Tidak." Pelukan itu bertambah erat. Seolah Tetsuya benar-benar takut akan kehilangan Seijuurou lagi setelah semua ini. "Satu-satunya yang akan kusesali adalah jika aku tidak ada di sini untukmu. Sekarang."
.
.
"Apa tidak apa?" Nijimura berkali-kali menengok ke belakang—ke arah ruangan Seijuurou. Reo dan Chihiro sudah menghilang entah kemana. Tidak mau menganggu urusan yang mereka tahu hanya bisa diselesaikan oleh Seijuurou dan pasangannya.
"Kau yang membawa dia ke sini. Sekarang kau menyesal?" Himuro bertanya tanpa menghentikan langkah kakinya. "Aku baru saja akan memujimu bahwa kerjamu bagus, Shuu. Syukurlah belum kuucapkan. Ternyata kau bahkan tidak yakin dengan keputusanmu."
"Kukira akan lebih baik bila Seijuurou-sama menolaknya langsung!"
"Shuu…" Himuro berhenti melangkah. Nijimura nyaris menabrak punggungnya bila tidak refleks ikut berhenti.
"Dua abad, Seijuurou-sama menolak mencari reinkarnasi sang mempelai. Dua abad. Kau bisa bayangkan, Shuu? Dia—kita mengenalnya sejak kecil, kita tahu dia selalu bersikap kuat. Seolah segala sakit itu bukan apa-apa. Tapi kali ini berbeda."
Sang naga sudah bertemu dengan kekasihnya langsung. Yang bersemayam dalam tubuh Seijuurou menolak untuk tenang. Jika tidak dipatuhi, mungkin kali ini Seijuurou akan hancur.
"Kau tahu aku egois." Serius, Himuro menambahkan, "jika Seijuurou-sama hancur sekarang, kutukan akan berpindah. Entah pada garis keturunanku, atau keturunanmu. Bukan tidak mungkin juga pada Shigehiro. Dan aku tidak menginginkan itu. Sejujurnya aku senang, kau membawa sang mempelai padanya."
Tercengang. "Siapa sangka kau begitu licik, Tatsuya?"
"Aku tidak pernah bilang aku orang yang baik. Orang lain saja yang berasumsi demikian." Himuro kembali melangkah. Berkonsentrasi ketika mendaki tangga menuju kembali ke kuil permukaan. Sorot matanya sendu. "Menjadi bagian dari keluarga yang dikutuk sudah cukup buruk. Aku tidak mau menjadi protagonis utama yang harus menanggung semuanya. Bukankah kau juga begitu?"
.
.
Tidak ada yang tahu siapa yang memulai.
Tetsuya rebah di atas futon yang berantakan. Rambut tersebar acak di atas bantal, Seijuurou menyisirinya sayang.
Namun demikian, Tetsuya benci melihat tatapan sakit yang ada pada dua mata Seijuurou. Kemilau emas menghilang. Tetsuya hanya mendapati kerjap keragu-raguan.
Tangan terangkat, pipi Seijuurou dielus sayang. "Sang naga… sudah tenang? Apa kau masih merasa sakit?"
Seijuurou menangkap tangan halus itu. Sementara satu lengannya lagi menahan bobot tubuhnya sendiri.
"Tidak"—bisiknya. "Sudah tidak sakit lagi."
"Tapi lukamu…"
Tetsuya meringis. Dia baru menyadari bahwa tindakannya menyerbu Seijuurou dengan pelukan adalah tindakan yang sangat bodoh. Kini darah bahkan menempel pada bagian depan pakaiannya. Ia merasa sangat malu dengan kondisinya yang kacau di hadapan Seijuurou.
Seijuurou tidak menggubrisnya. Ia malah bertanya, "siapa namamu?"
"Tetsuya. Kuroko Tetsuya."
"Tetsuya…" Ia mengulang.
"Aku tahu namamu. Seijuurou bukan?"
Pertanyaanya dijawab dengan anggukan. Lalu mereka terdiam. Hanya saling bertatap. Sampai Tetsuya mengambil insiatif untuk memeluknya, menarik Seijuurou erat dalam dekapan. Begitu dekat, sampai Seijuurou dapat mendengar detak jantung Tetsuya.
Atau jangan-jangan detak jantungnya sendiri? Dia tidak bisa lagi membedakannya.
Mungkin ini semua adalah luapan rindu dari dia yang ada dalam diri Tetsuya. Tapi entahlah.
Tetsuya ingin meyakini bahwa dia menginginkan pria di depannya ini, seperti halnya sang gadis dalam dirinya menginginkan sang naga.
Seijuurou tidak membalas. Namun perlahan ia memisahkan diri. Didorongnya Tetsuya lembut. Ia mendudukan diri di samping Tetsuya namun tidak mau memandangnya.
"Sei-kun?"
Seijuurou memijat pelipisnya. Pening. "Pergilah, Tetsuya."
Lagi-lagi ditolak.
"Kenapa?" Tetsuya menuntut. Ia bangun dari pembaringannya cepat-cepat. "Kau membutuhkan aku bukan?"
Ya, Tetsuya! Aku sangat membutuhkanmu. Terlebih, aku menginginkanmu. Tapi aku lebih tidak ingin menyakitimu.
"Pergilah. Sebelum terlambat."
Selagi sang naga dalam diriku tenang. Selagi sang mempelai dalam dirimu belum mengambul kendali atas akal sehatmu sendiri.
"Jawab aku dulu, Sei-kun." Tetsuya berusaha agar Seijuurou mau menatap matanya.
"Pergi, kataku. Jangan buat aku mengulangi kalimatku lagi!"
"Aku tidak mau!"
Baru sebentar dan aku rasanya sudah tidak ingin berpisah denganmu. Bagaimana kau bisa sekeji itu? Mengusirku padahal tahu bahwa kau penting bagiku.
Seijuurou bangkit. Tetsuya yang terkaget hampir terjungkal karena pergerakan tiba-tiba Seijuurou.
"Pergi, Tetsuya."—Jangan membuat segalanya lebih sulit dari ini. "Sekarang."
Keras kepala. Tapi Tetsuya tidak akan kalah. Dia mungkin dibesarkan sebagai pemuda biasa saja. tapi ia seorang jenius dalam mempertahankan prinsip dan keputusan yang sudah diambilnya.
"Aku pergi sekarang." Polos. Tetsuya beranjak berdiri. Ia membenahi kaus dan rambutnya yang berantakan. "Tapi aku akan kembali."
"?"
"Jangan menghindariku lagi. Kau tidak tahu apa yang membuatku bahagia, Sei-kun. Jangan menebak-nebak sendiri."
Untuk kali ini Tetsuya memutuskan untuk mengalah. Ia melangkah menuju pintu.
"Aku akan kembali lagi nanti."
Setelah Tetsuya berlalu, Seijuurou meninju tatami.
"Sialan…"
.
.
Lonceng angin yang dipasang Nijimura di teras berdenting halus. Diiringi suara kucuran air dari pancuran bambu di kolam yang dipenuhi ikan koi warna-warni.
Biasanya, pada malam setenang ini, Nijimura akan meminta Takao mengeluarkan sake mahal dari gudang penyimpanan. Mereka akan menghabiskan malam dengan berbincang ngalor ngidul mengenai nasib, kondisi dunia pada umumnya, maupun topik absurd lain yang melintas di benak. Ditambah kehadiran Himuro, jika dalam kondisi normal, Nijimura mungkin akan mengeluarkan kiseru1 yang jarang disentuhnya. Pada malam seperti ini, ia akan menghisap tembakau sepanjang malam dan melupakan sejenak posisinya sebagai kepala kuil.
Tapi tidak malam ini.
Tetsuya berlutut dengan dua ujung jari menyatu di hadapan Nijimura, Himuro, dan Tako. Nijimura menatapnya dengan dahi berkerut. Himuro dan Takao hanya bisa saling berbalas pandang.
"Mungkin aku akan merepotkan. Tapi kumohon… Biarkan aku di sini. Sampai Sei-kun mau menerimaku."
Mungkin hanya orang sangat keras hati yang bisa menolak permohonan yang disampaikan dengan amat sungguh-sungguh itu. Nijimura termasuk salah satunya.
"Dia tidak menginginkanmu ada di sini. Apa tidak cukup penolakannya itu?"
"Aku tahu." Tetsuya mengangkat kepalanya. Membalas tatapan Nijimura penuh determinasi. "Tapi itu semua karena dia memikirkan aku."
Tetsuya kurang lebih memahami situasinya. Dari ingatan-ingatan pendahulunya—wadah sang mempelai sebelum dirinya—yang kini diwariskan padanya, ia tahu apa yang menjadi konsekuensi pilihannya.
Ia sudah membuat pilihan mantap untuk tidak lari.
"Pilihanku mungkin menyusahkan Sei-kun. Tapi aku aslinya adalah seorang yang egois, Nijimura-san. Berada jauh darinya membuatku menderita. Dan aku memilih untuk mengejar kebahagiaanku. Kebahagiaan kami yang kini sedang dia ingkari."
Himuro merespon kalimatnya dengan sangat hangat. Ia menepuk pundak Tetsuya. "Tentu kami akan menerimamu di sini, Kuroko-kun."
"Tatsu—!"
"Shuu." Himuro mengerling tajam, membungkam Nijimura dengan satu kalimat telak. "Kita bukan siapa-siapa sampai bisa menghalangi kehendak Kuroko-kun, kehendak mempelai sang naga."
"Ugh!"
Tersenyum, Himuro kembali memerhatikan Tetsuya. Ditepuknya lembut pundak Tetsuya. "Santai saja di sini. Kami mendukungmu. Um, setidaknya aku dan Kazunari. Biarkan saja Shuu. Dia memang kepala batu."
"Terima kasih, Himuro-san."
.
.
"Biarkan aku bertemu dengannya, Seijuurou."
Sejak kecil, Seijuurou akrab dengan dimensi mimpi. Cakrawala bertabur bintang ini adalah tempatnya bermain setiap kali tubuh nyatanya tertidur.
Sudah ribuan kali sang naga memilih jalan ini untuk menemuinya. Pertengkaran mereka sudah tak terhitung. Namun selama ini, sang naga masih mengalah karena tidak bertemu langsung dengan mempelainya.
"Diamlah." Seijuurou memerintah. Persetan posisi dirinya yang hanya keturunan sang naga. Ini tubuhnya. Hanya dia yang berhak menentukan dia akan melangkah ke mana dan melakukan apa.
Di hadapan Seijuurou, sang naga yang mengambil wujud persis dirinya (Seijuurou sungguh merasa seperti sedang bercermin) hanya saja dengan rambut menjuntai panjang, memasang ekspresi sendu.
"Dua abad, nak." Ia berbisik. "Aku mengalah. Aku menurutimu yang tidak mau mencari dia dan lebih memilih menahan sakit daripadaku."
"Aku akan menanggungnya sendiri lagi. Untuk ratusan tahun ke depan."
"Tidak bisa." Sang naga bergumam. "Kau sudah sampai batasanmu."
Seijuurou yang semula tidak mau memandang sang dewa kini memelototinya. "Apa maksudmu?"
"Tubuhmu mulai rusak. Apakah kau tidak sadar itu?" Sang naga mendekat pada Seijuurou. "Dia sadar itu. Ingatan kekasihku bangkit dalam dirinya. Dan kini ia mencarimu—mencari kita."
Seijuurou memandang sang naga. Senyum sendu terlukis di wajah yang identik dengan dirinya. Dia dibawa dalam pelukan. Rambutnya disisir sayang. Harum menengangkan dari sang naga melingkupi sang keturunan. Ia bahkan bisa merasakan sutera halus kimono sang dewa naga menyentuh pipinya.
Sungguh aneh. Dalam dimensi mimpi ini semua terasa amat nyata.
"Aku tidak ingin merusak dirimu."
"Tapi merusak 'dia'?" Pahit. Seijuurou benci semua pembicaraan ini. "Kau sebut dirimu dewa dengan semua kelicikan itu?"
Sang nada terkekeh pelan. Terdengar menyedihkan. "Ini bagian karma 'kami'. Aku tak pernah suka. Tapi aku pun sudah belajar mengakrabkan diri dengan derita."
.
1 Kiseru: : pipa tradisional jepang. Biasanya terdiri atas kuchimoto(mouth piece)—rau (stem)—dan gankubi (neck; leher tempat meletakan tembakau)
