Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Giniro Tsuki
.
Pair: Hyuuga Hiashi X Haruno Sakura
Genre: Family, hurt/comfort
Rate: M
WARNING : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s)
Summary: Pernikahan ini memang karena kesalahan. Tapi kesalahan itulah yang membuatku menemukan kebahagiaan.
.
Chapter 9
Hiashi-sama, apa kau akan peduli?
.
Chidori yang ditunggunya tidak pernah datang. Sakura tidak mendengar apapun selain geraman marah Sasuke. Pemuda itu terdengar sangat marah dengan apapun yang telah mengintrupsi kegiatan apapun yang dia lakukan.
"Buka matamu, Haruno-san."
Suaranya familiar. Tapi ini bukan Sasuke. Ini suara seseorang yang berbeda. Sasuke tidak pernah memanggilnya 'Haruno-san'. Sakura dengan perlahan membuka matanya. Keponakan suaminya berdiri dengan menghadapkan punggung padanya. Pemuda Hyuuga itu memegang erat pergelangan tangan Sasuke yang berpijar dengan chidori menyala terang.
"Apa yang kau lakukan?"
Neji menyeringai kecut pada apapun yang diucapkan oleh Sasuke. Tampak puas dengan kemarahan sang Uchiha tunggal. "Apa ini yang kau sebut dengan mendapatkannya? Dengan membunuh orang yang kau pikir kau cintai?"
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Neji. "Aku bertanya duluan padamu. Apa yang sedang kau lakukan, Budak!?"
"Bukankan sudah terlihat? Aku sedang menghalangimu menyerang Nyonya Rumah Utama Hyuuga.," Neji menjawab enteng. "Haru... ah... Sakura-sama. Anda harus pergi dari sini. Tolong tinggalkan tempat ini! Hiashi-sama pasti telah menunggu anda."
Sakura menatap Neji tercengang. Terkejut dengan panggilan baru Neji untuknya.
"Cepatlah, Sakura-sama." Dengan itu, Sakura berdiri dengan kepayahan. Kemudian langsung berdiri setelah mengucapkan terima kasih pada Neji.
"Apa kau memiliki hobi untuk mengganggu kegiatan orang lain? Itu tidak sopan menurut standar seorang bangsawan Hyuuga sepertimu, bukan?"
Hanya senyuman penghinaan yang keluar dari wajah datar khas Hyuuga Neji.
"Bukankah aku telah mengatakannya padamu? Apapun yang berhubungan dengam Hiashi-sama dan apalagi yang telah diperintahkan olehnya, itu menjadi urusanku. Meskipun aku tidak benar-benar menyukai gadis itu." Ujarnya tenang.
"Benar-benar tipikal dari seorang budak rendahan."
Neji tertawa pelan. "Lebih rendah mana? Aku yang sedang menjalankan perintah atasan atau kau yang sedang mengejar-ngejar istri orang lain? Kau beruntung, seluruh dunia tidak mengetahui perbuatan menjijikkanmu, Uchiha."
Sasuke menggunakan kakinya menendang perut Neji. Neji langsung terlempar mundur menabrak pohon. Menciptakan jarak dari antara dua hewan buas yang sedang bertarung.
"Tersinggung?" Tanya Neji seraya berdiri.
Sasuke memandang kesal pada Neji. Pemuda itu tidak menjawab, hanya langsung berlari dengan Kusanagi yang entah darimana muncul di tangannya.
.
.
Chapter 9: Hiashi-sama, apa kau akan peduli?
.
.
Sakura berjalan perlahan menuju tempatnya semula. Tempat Hiashi menyuruhnya menunggu. Luka sobekan kunai tadi memang sudah tak mengeluarkan darah. Hanya saja kepalanya berat. Memikirkan apa yang terjadi pada pemuda Uchiha yang dulu disukainya. Dia tidak seperti Sasuke yang dulu dikenalnya, mungkin benar Sasuke pernah hampir membunuhnya. Tapi ini berbeda. Kenapa harus sekarang pemuda itu menginginkannya?
Dia sudah terikat. Pria yang mengikatnya bukanlah orang sembarangan. Pria itu merupakan seorang bangsawan terhormat dan memiliki pengaruh yang tidak sedikit. Apa Tuhan sedang bermain dengan takdirnya? Dengan semua predikat yang melekat pada diri seorang Hyuuga Hiashi, Sakura tak mau melarikan diri darinya. Itu sangat memalukan. Bukan hanya untuk Hiashi, namun terlebih untuknya.
"Hei, kau!" Suara kasar terdengar di seluruh lorong.
Di hadapannya berdiri beberapa orang dengan ciri fisik yang sama menghadangnya. Memberikan tatapan seolah Sakura adalah lalat menjijikkan yang perlu disingkirkan. Oh, Sakura menjerit lelah di batinnya, menerka-nerka kejadian apa lagi yang akan diterimanya kali ini. Intinya hal ini sudah pasti bukanlah hal yang baik. Sakura berani bertaruh, mereka datang bukan untuk memberikan ucapan selamat tahun baru.
Seorang gadis berjalan mendekat ke arahnya. Tidak lupa, gadis itu mendorongnya hingga menabrak pembatas. Lorong ini sepi. Sudah pasti tak akan ada orang yang tahu apa pun perlakuan kumpulan gadis-gadis Hyuuga ini terhadapnya.
"Wanita jalang rendahan sepertimu, tak akan pernah pantas bersanding dengan Hiashi-sama."
Seorang gadis lain menjambak rambutnya kasar. Kepangan rapi yang telah ditata oleh Hinata hancur berantakan.
"Apa sih bagusnya dirimu?" Seorang lagi mencengkram dagunya. Membuatnya mendongak paksa. Jika bukan karena tubuhnya lemah akhir-akhiri ini. Jika bukan karena tekadnya yang bulat untuk bertahan membuatnya anaknya tetap hidup dengan tidak menggunakan cakra dan bertarung. Sudah dapat di pastikan mereka akan babak belur,
"Sudah tak becus menjadi Nyonya kami, kau juga tak menarik."
Gadis pertama mengambil alih jambakan rambutnya kemudian melemparkan tubuhnya ke lantai.
"Apa kau menjual tubuhmu pada Hisahi-sama?"
"Dasar jalang rendahan. Sepantasnya kau berada di bawah kami, bukan bersanding dengan Hiashi-sama." Gadis kedua menariknya berdiri secara paksa.
Gadis pertama menamparnya keras, yang secara bersamaan pegangan si gadis kedua dilepaskan. Sakura langsung berputar dan jatuh. Gadis-gadis itu tertawa. Berganti pada gadis ketiga, dia menarik Sakura berdiri dan mendorong tubuhnya. Tak dapat mempertahankan keseimbangan, Sakura tergelincir ke sisi tangga. Tubuhnya melayang, jatuh terguling hingga mencapai tanah. Kepalanya terbentur menghantam lantai anak tangga. Seketika itu pula di merasakan sakit yang luar biasa. Perutnya terasa menyakitkan dan kepalanya yang bercucuran darah. Kombinasi itu telah mampu membuatnya hilang kesadaran.
Gadis-gadis itu masih tertawa. Barulah tersadar ketika sebuah suara mengalun dengan intonasi kemarahan yang sangat kental. Detik itu juga tubuh mereka bergetar ketakutan.
" Hanabi-sama..."
Hanabi beserta Hinata di sampingnya melangkah lebar menuju tubuh Sakura yang tak sadarkan diri. Hinata berjongkok memeriksa keadaan ibu tirinya yang cukup mengenaskan. Air matanya terurai melihatnya. Amarah menguasai pikiran Hanabi. Berbalik dan langsung mendorong mereka bertiga dengan Jyuuken.
"Apa yang sudah kalian lakukan?!"
Mereka tersungkur. Mereka tahu Nona Muda mereka sedang marah besar. Sekuat apa pun mereka, mereka tak akan mampu menghadapi Hanabi sendirian.
"Ada apa ini?"
Suara berat dan dalam mengalun memasuki indra pendengaran siapapun orang sadar yang ada di sana. Mata pucatnya bergulir pada Hinata yang tengah mengalirkan cakra medis dengan air mata terurai pada Sakura. Istrinya begitu mengenaskan dalam keadaan tak sadarnya. Hiashi mengerutkan kening tak suka.
Hiashi tak tahu kenapa dia harus marah. Dua kali dia merasakannya. Yang pertama ketika Kakashi membawa Sakura padanya dengan kondisinya yang tak bisa dikatakan baik. Dia marah karena merasa tak mampu melindungi wanitanya. Rasa marah itu pula yang dirasakannya sekarang. Namun sekarang dalam skala yang lebih besar.
Berusaha untuk tenang. Hiashi berjalan ke arah mereka bertiga yang masih terduduk di lantai. Hiashi meraih si gadis ketiga. Dia membantunya berdiri dengan lembut. Menimbulkan teriakan tidak terima dari Hanabi. Tapi, Hiashi adalah Hiashi. Ia hanya menganggap protes Hanabi sebagai angin lalu.
"Jika kalian lupa, aku akan menyegarkan ingatan kalian kembali," Hiashi mulai membuka suara. "Orang yang telah kalian buat tersiksa adalah istriku. Istri Hyuuga Hiashi. Nyonya Keluarga Utama Klan Hyuuga. Kalian sama sekali tidak mampu menjaga sikap dan memperlakukan Nyonya kalian sendiri dengan tidak pantas. Apa kalian mengerti dimana kesalahan kalian?"
Tiba-tiba saja mereka merasakan kesakitan luar biasa pada kepala mereka. Hiashi melepaskan gadis yang tadi dibantunya berdiri. Membiarkannya kembali terjatuh ke lantai. Hiashi membuat mereka merasakan kemampuan sang segel di dahi para Bunke. Membiarkan mereka paham siapa orang yang telah sudah mereka lawan. Berani sekali mereka mengusik keluarga Souke. Apalagi mengusik apa yang telah menjadi miliknya.
Hiashi berbalik menuju Sakura. Terdiam sebentar untuk menutup matanya, dan dilanjutkannya mengangkat tubuh istrinya yang sudah sangat lemah dari pangkuan Hinata. Hiashi mempererat pegangannya sembari memandang wajah pucat Sakura.
"Tou-san mau ke mana ?" Tanya Hanabi bingung.
"Rumah sakit," Jawab Hiashi singkat. "Hinata ..."
"I...iya, Tou-san..."
"Panggil Hokage-sama. Katakan padanya kondisi Sakura dan aku akan yang menunggunya di rumah sakit." Hiashi berbalik. "Hanabi, kau urus mereka bertiga."
"Baik, Tou-san."
Dengan jawaban kedua putrinya, Hiashi menghilang membawa Sakura di dalam rengkuhannya, menuju rumah sakit pusat Desa Konoha.
.
.
Chapter 9: Hiashi-sama, apa kau akan peduli?
.
.
Tengah malam menyambut tahun baru seharusnya dipenuhi kebahagiaan. Tapi tidak di lorong rumah sakit sekarang ini. Suasana sedih bercampur mencekam dan kekhawatiran meliputi orang-orang yang berkumpul. Bagaimana cara yang tepat untuk menjelasannya?
Hinata yang terduduk kaku di kursi tunggu, dari raut wajahnya, sangat jelas dia khawatir. Mendekati ketakutan adalah hal yang mungkin terjadi. Sebagai seorang Medic-nin, meskipun pemula, Hinata tahu seberapa parah keadaan ibu tirinya. Hal itu pula yang berhasil menciptakan getaran di kedua tangannya.
Hanabi berbeda lagi. Dia lebih aktif, mata pucatnya terus bergantian menatap lantai dan pintu UGD. Dia tak sungkan-sungkan menunjukkan ekspresi kekhawatirnya. Meskipun pada awalnya dia membenci Sakura, pada akhirnya dia luluh. Sakura tulus padanya, keluarganya. Terutama pada ayahnya. Setidaknya, dengan adanya sakura, wajah ayahnya tak lagi sedatar papan tripleks. Beberapa kali Hanabi menemukan ayahnya tersenyum sendirian. Tipis memang, tapi bagi Hanabi itu sangat terlihat. Ayahnya jauh lebih baik sekarang. Dia bersyukur akan hal itu. Tak semua perubahan itu buruk. Contohnya sekarang.
Sang kepala keluarga mungkin tampak tenang. Tapi dibalik sikap diam sambil menutup mata itu. Hiashi menyimpan kekhawatiran yang sanggup disembunyikan. Serta yang paling membuat Hiashi heran, kenapa dia bisa sangat khawatir ? Kenapa dia harus marah ? Kenapa dia tak yakin, dia tak memiliki perasaan apa pun pada istrinya? Kenapa dia harus merasakan rasa tidak terima? Rasa bersalah karena tak sanggup melindunginya?
Apa hanya karena Sakura itu istri yang sudah menjadi tanggung jawabnya? Jika karena itu, dia tidak perlu merasa gelisah seperti sekarang. Toh, dia sudah menyelamatkannya tadi. Hiashi sadar, ini lebih dari sekedar tanggung jawab.
Namun, meskipun dia memiliki usia yang panjang hingga sekarang, Hiashi tetap belum memahaminya. Atau tak mau mengakui? Ini semua seperti perasaan saat istrinya yang terdahulu kritis dan berakhir meninggalkannya. Hiashi tak mau kehilangan Sakura. Tak mau kehilangan lagi.
"Neji-nii, kenapa denganmu?" Hiashi membuka matanya. Suara Hanabi menimbulkan rasa ingin tahu akan keadaan putra adiknya.
Seperti habis bertarung sengit. Memar, lebam, goresan, luka yang diperban dan luka bakar. Otaknya hanya menangkap satu nama. Si bocah Uchiha. Pemuda yang membuat keadaan mengenaskan pada istrinya malam itu. Penyebab kemarahannya hampir meledak saat itu juga jika bukan karena mengendalikan emosinya, sudah pasti bocah Uchiha itu tidak akan mampu berdiri lagi.
"Apa yang terjadi padanya ?. " Hiashi bertanya.
"Babak belur. Naruto dan Kakashi-san datang membantu saya. Saya rasa dia telah mengetahui letak kesalahannya, Hiashi-sama," Neji menjelaskan. "Keadaannya tak jauh beda dengan saya."
Hiashi menghela napas pendek. "jika begitu, aku tak perlu lagi menangani bocah itu lagi. Kupikir ini sudah cukup baginya untuk mengerti."
Neji mengangguk paham. "Bagaimana keadaan Haru—maksud saya, Sakura-sama?"
"Kritis." Jawab Hiashi.
Neji menoleh pada Hinata seolah bertanya bagaimana kronologinya pada sang Pewaris Hyuuga.
"Kami menemukannya terkapar." Hinata menjawab.
"Dan tiga orang Bunke tak tahu diri yang membuatnya seperti sekarang." Sambung Hanabi.
Detik berikutnya, Kakashi serta Naruto datang dengan langkah memburu. Mereka datang setelah mengurus Sasuke begitu Neji pergi.
"Mungkinkah bocah keras kepala itu mengakuinya?" Tanya Hanabi bingung.
"Kupikir, aku memakai kekerasan yang agak berlebihan." Ujar Kakashi. "Mengingat aku pernah memergokinya hampir melakukan hal yang buruk pada Sakura sebelumnya."
Hanabi menyimak tak bersuara. Berkutat pada pikirannya sendiri.
Tepat ketika itu, Tsunade keluar. Rautnya tampak lelah, tapi sudah cukup menunjukan bahwa dia lega luar biasa. Hokage kelima ini berjalan tenang mendekati Hiashi. Seutas senyum terukir. Dengan senyumannya Tsunade menjelaskan.
"Masa kritisnya telah lewat." Tsunade melihat adanya kelegaan di wajah mereka tapi tidak dengan Hiashi, pria itu masih tegang seolah penjelasan Tsunade masih kurang. Tsunade menepuk pundak Hiashi. Hokage itu mengubah mimik wajahnya. "Tapi kau harus bersabar ..." Hiashi menahan napas. Ketakutannya menghampirinya. "Karena anak kalian juga selamat. Jadi, kau harus bersabar merawatnya."
to be continued
.
.
See you next chapter
.
.
a/n:
Yuhuuuuuu
What's up everybody? Do you guys miss me? Hahaha
Sesuai janji yang aku berikan kepada siapapun yang nanya, kalau bab 4 skripsi udah ACC, aku akan upload bab ... eh bab berapa ini? Ah iya bab 10 dari giniro tsuki.
Duh sedih banget ada yang nanyain aneh-aneh. Bentar aku jawab dulu tuh orang...
"AKU MASIH HIDUP DAN SEHAT YA! GAK USAH NANYA ANEH-ANEH. PLEASE DEH. ITU YANG NANYAIN, KAYAK BOCAH AJA."
Ah klo ada yang nyariin review tuh orang, udah aku hapus, gk baik klo dibaca orang soalnya. Udah gitu nyepam lagi di ceritaku yang lain.
Maaf ya, kehidupanku itu gak sebatas fanfiction. Aku mahasiswa tingkat akhir, dan cukup stres karena adanya Corona ini menghambat banyak hal (yang pasti juga dialami oleh banyak orang), dan Corona membuat proposal skripsiku ditolak oleh perusahaan berkali-kali. Jadi tolong, beri aku sedikit napas. Menulis itu kulakukan untuk mengurangi bebanku di dunia nyata, aku gak mau menulis cerita malah membuatku semakin stres dan terbebani.
Okey udah cukup, yuk balas review...
Andromeda no Rei, Aku suka kecundelean Hiashi juga. Dia aja yang gak mau ngakuin Sakura. Udah tua juga kagak sadar-sadar klo dia suka orang... ckckc iya kemarin aku juga gitu (pas tahun 2018 maksudnya), mau review gk masuk2. Huhuhuhu aku rasa Sasuke itu sadboy gk sih? Apa dia kubuat sama warga sipil aja ya?
BananaZoo, duh kependekan ya? Aih, otakku gak terlalu gerak mungkin hahaha... mau tau kenapa bisa sweet? Karena aku suka permen, makanya suka yang manis-manis, kayak aku hahahaha
Yuzuhira, maaf maaf. Yang kemarin itu salah judul. Seharusnya itu omake bukan bab 9. Ampuni hamba tolong... T.T
Guest1, Hiashi tahu kok. Kan ikatan batin? Eh apa iya ikatan batin #mikir
Hani-chan, tahu, tahu. Hiashi tahu, sayangku...
Cantik, Gapapa, feel itu subyektif kok hahahahaa
MinzakyaRsl, hu'uh, Sasuke jahat ya? Tapi kan dia gak tahu klo Sakura hamil ... T.T
Koalasabo, Duh, gk kok. Aku gak akan nyemprot kamu. Kan aku sayang kamu ... #Kiss
Febrichan2425, iya dunks. Gitu2 Hiashi tetep cowo...
Lian, sekarang
valenwijaya, 15? LIMA BELAS? Duh ya Tuhan aku tersanjung sampai ke langit ke tujuh nih. Duh jangan nanti aku jatuh... #BIGHUG
Mikaella Emillea, Ih senangnya dibilang cakep... tp gak. Ini tetep pendek hahahaa
Febrichan2425, aduh stop spoiler2 nonono
Riskaaa, ini sayang iniii...
Lian, udah ini lo, duh kamu... aku sayang banget deh klo gini...
Guest2, tuh udah ada MinaSaku di List storyku. Silahkan dibaca...
Riskaaa, INI LOOOOO UDAHHHHH
Cha cha, aku gk suka PHP. diPHPin itu sakit...
Indri, Apakah kiranya anda telah berlumut, Nona Indri?
Guest3, Lanjut nihh
Hikanee, Sekarang!
Mirarerurero, Cilukba! Nih kulempar updetnya.
Guest4, Sudah dilanjut #BOW
KyuElf-SooHee, Klo penasaran... nih lanjutannya...
Silverfield100, duh, jadi pengen punya suami yang sweet2 deh ... misyutu sayang-sayangku
Arletta Lou, aku kembali... seperti avatar kembali saat dunia membutuhkannya...
Guest5, now now now...
Silverfield100, Ya Gusti nu Agung, ada yang doakan aku sehat. makasih ... T.T
Ayy, masih setiakah menunggu? Lovyu deh
grace96, Support telah diterima. Aku juga suka crackpair kok, cinta banget sama crackpair malah hahaahaa klo mau, aku buat fic tentang Hizashi dan Sakura nih #promosi
aihimelilyonvalley , makasih... kau membuatku menangis bahagia T.T
Kpopers0906, thankkkkkkk mari kita lestarikan crackpair!
Wahhhh banyak banget yang review yah? But thanks for you all, baik yang review yang mengfav, yang ngefollow... Aku sayang banget sama kalian yang sudah ngereview , yang mau nungguin keleletanku dalam hal aplod mengaplod... kalian adalah semangatku...
Oh iya... hampir lupa...
Special thanks buat Febrichan2425 yang udah bantuin ngetik, tanpa dia fic ini akan apdet lamaaaaa banget hahahaha
Arigatou minna-san…
Sign,
Teratai Putih
.
Omake
.
Hiashi memandang wajah Sakura yang ada dipelukannya. Ini bukan pertama kalinya dia menggendong Sakura. Tapi tidak pernah dalam kondisi seburuk ini. Dulu dia hanya menggendongnya menuju kamar mereka, bukan rumah sakit.
Hiashi menyukai wajah Sakura yang sedang tidur. Istrinya tampak seperti malaikat dan tampaknya, wajah Sakura yang tertidur telah menjadi obat penenang untuk harinya yang sangat berat. Hiashi akan langsung tenang begitu melihat sosok Sakura yang meringkuk di balik selimut futon.
Tapi Hiashi membenci sosok Sakura yang sekarang. Pucat. Kesakitan. Tidak berdaya.
Hiashi membenci dirinya sendiri karena tidak mampu menjaga ketenangan wajah sakura yang tertidur. Benci pada dirinya sendiri karena membuat obat penenangnya memunculkan wajah kesakitan itu.
.
End of Omake
.
