.
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Gender Bender
.
Das Vermeiden von Problemen wird sie niemals lösen. Das, was Sie tun müssen, ist Selbstbeobachtung, sich Ihren Problemen zu stellen und nach Lösungen zu suchen. Der letzte, der alles Gott, dem Allmächtigen, übergibt - Shiori Avaron
Avoiding problems will never solve them. What you have to do is introspect yourself, face your problems and look for solutions. The last one to hand over everything to God Almighty - Shiori Avaron
.
16TH November XXXX
Naruto membuka kedua matanya dan tersenyum mencium semerbak bunga yang selalu menghiasi kamarnya. Sepertinya pengirim bunga tersebut tetap setia mengirimkan bunga di sepanjang waktu walaupun Naruto tengah menghindarinya. Naruto bangkit dan bersandar di kepala ranjangnya menatap rangkaian bunga di sekitarnya. Selalu seperti ini, kamarnya penuh dengan rangkaian bunga yang ditata sedemikian rupa. Naruto tidak bisa menampik rasa bersalah yang begitu besar pada Sasuke. Walaupun dia menghindarinya tapi anak ayam itu tidak pergi, justru semakin membuatnya bahagia. Tapi tetap saja, sikapnya tidak adil pada Sasuke.
Naruto merasa rendah diri. Naruto takut akan semakin terlena dan jatuh pada Sasuke. Ketika nantinya dia jatuh pada Sasuke dan Sasuke tahu apa yang sebenarnya telah terjadi padanya, masa lalunya, Sasuke akan pergi meninggalkannya. Lalu apa yang harus dilakukannya? Naruto takut tidak akan bisa bangkit lagi saat itu. Tapi, sikap Sasuke saat ini benar-benar membuatnya bimbang. Naruto kembali menatap rangkaian bunga dengan memo yang menghiasai kamarnya.
Ada yang berbeda dalam rangkaian bunga yang ada di dalam kamarnya saat ini. Rangkaian bunga tersebut bertambah dengan adanya dua buah jenis bunga yaitu Tulip dan Hyacinth di dalamnya. Memo yang terselip dalam setiap karangan bunga yang biasanya berwarna hitam kini beralih berwarna biru laut membuat Naruto heran. Kenapa Sasuke merubahnya menjadi warna biru laut?
Naruto mengambil salah satu memo di dalam rangkaian bunga di nakas samping kanan ranjang. Terdiam memandang memo tersebut, biru laut adalah salah satu warna yang menjadi favoritnya dulu karena "dia". Naruto memejamkan matanya kala bayangan kelam masa lalu kembali menghampirinya.
"Sasuke bukan dia. Kau harus meningatnya Naruto. Sasuke berbeda. Sasuke berbeda." Berulang kali Naruto terus mengucapkan mantra yang selama ini menguatkannya.
Permata sapphire itupun kembali terbuka dan menatap memo berwarna biru langit di genggaman tangannya. Dibukanya perlahan dan tulisan tangan khas Uchiha Sasuke dengan tinta berwarna hitam terlihat.
I am Sorry
Since the last time we saw each other
Since the last time we talked to each other
Till today
I am missing you so much
I am sorry for hurting you
Though I never intended to
Love,
SU
Naruto tersenyum kecil dan mendekap memo tersebut dalam dadanya. Kenapa Sasuke harus memohon maaf atas hal yang tidak dilakukannya. Narutolah yang seharusnya meminta maa atas sikapnya yang malah menghindarinya. Rasa rendah diri yang tidak seharusnya melekat pada dirinya kembali setelah keintiman yang terjadi diantara mereka. Yang semata-mata karena ketakutan Naruto akan masa lalunya yang kembali.
Naruto bangkit dari ranjang dan mendekati karangan bunga di dekatnya dengan memo berwarna biru laut yang belum terbuka. Diambilnya memo tersebut dan terus Naruto melangkah untuk mengambil semua memo yang berada dalam setiap rangkaian bunga. Setelah semua memo terkumpul di kedua tangannya, Naruto membuka bordes yang mengarah ke balkon kamarnya. Ayunan ottoman putih yang berada di teras balkon kamarnya menjadi alas Naruto duduk dan membuka memo-memo yang ditulis oleh Uchiha Sasuke.
I'm wonder in your skies
I'm caught in your eyes
And all that I can see is you, Naruto
Love,
SU
Naruto menggeleng sambil tersenyum membaca salah satu gombalan Sasuke –Uchiha kutub utara yang dapat berubah menjadi Uchiha musim semi. Semua memo telah dibacanya dan memo terakhir berisi sebuah permintaan bagi Naruto untuk menuju ke meja riasnya yang belum sempat tersentuh oleh Naruto. Memangnya ada apa disana?
Naruto menuju walk in closet yang berada di dalam kamarnya, dimana meja riasnya berada. Naruto tertegun di tempatnya menatap dua boneka di atas meja tersebut. Boneka rubah berwarna orange dan boneka ular berwarna ungu yang telah pudar warnanya. Selain dua boneka itu, sebuket bunga mawar merah dengan sebuah memo kembali terselip. Naruto mendekati meja riasnya dan mengambil boneka rubah dan ular itu. Naruto tidak asing dengan boneka rubah itu namun Naruto tidak bisa mengingat alasan dia tidak asing dengan dua boneka itu. Kenapa Sasuke memberikannya padanya? Ia mengambil memo yang terselip di balik buket bunga mawar merah yang harum.
Erinnern Sie beide an etwas? Frühere Ereignisse?
Sie sind meine Geliebte seit meiner Kindheit und ich habe sie dir vor langer Zeit gegeben, erinnerst du dich noch?
Ich war dumm ... Du musst es vergessen haben, Dobedenn das bist du, Dobe, der mich vergessen hatDarf ich Sie heute sehen, um mich zu entschuldigen?
Das Abendessen wird eine fantastische Sache sein1
many things we have to talk about, Naruto. Please, give us a chance and don't avoid me anymore.
Call me please.
Naruto menghela nafas lelah dan kembali memandangi kedua boneka berbeda bentuk yang telah pudar warnanya tersebut. Seharusnya Naruto bisa mengingat dengan jelas masa kecilnya, namun kenangan masa kecilnya telah tergantikan dengan semua kenangan buruk yang susah sekali untuk dihapusnya. Naruto hanya bisa meredamnya namun belum bisa menghapusnya.
Apakah benar dirinya pernah bertemu dengan Sasuke sebelumnya? Kenapa Naruto melupakan itu semua?
Naruto kembali menatap memo terakhir dari Sasuke dan tersenyum kecil, "sikapku memang kekanakan. Seharusnya aku membicarakan semuanya denganmu, bukannya menghindarimu seperti anak remaja."
"Tapi, jika kita nanti membicarakan hal ini apakah kau masih akan di sisiku?" tanya Naruto sambil menatap boneka ular berwarna ungu yang terlihat lucu.
.
Naruto kembali memperhatikan dengan serius penampilannya yang tampak dari refleksi dinding lift perusahaan Uchiha. Wajahnya dihiasi dengan make up minimalis dan lipstick berwarna fuschia yang membuat wajahnya semakin segar. Kotak bekal makan siang di tangannya menjadi sasaran remasan erat tangan Naruto yang gugup saat denting lift semakin mendekati lantai yang ditujunya –lantai 50 sebagai lantai eksekutif.
Pintu lift terbuka dan lantai marmer berwarna hitam dan dinding berwarna putih menyambutnya. Lantai eksekutif tersebut terlihat lengang karena hanya ada satu pintu besar dengan sebuah meja di depannya yang diisi oleh seorang pria berambut kuning kecoklatan. Naruto keluar dari lift dan langsung disambut dengan penuh tanda tanya oleh pria berambut kuning kecoklatan tersebut –yang Naruto yakini sebagai sekertaris ataupun asisten pribadi dari Sasuke. Namun semakin Naruto dekat dengannya, pria tersebut tidak lagi terlihat bingung, justru tersenyum.
"Apakah Uchiha Sasuke ada di dalam?" tanya Naruto dengan wajah yang terlihat sangat gugup.
"Uchiha sama sedang meeting dengan klien di lantai 43, Uzumaki-sama," seru pria tersebut dengan tidak yakin saat menyebut nama Naruto.
Naruto mengangguk dan tersenyum kikuk, "bagaimana bisa kau mengenalku? dan tolong panggil aku Naruto saja, a-"
"Anda dapat memanggil saya Juugo dan saya asisten pribadi Uchiha-sama," tanpa menjawab pertanyaan Naruto sebelumnya Juugo hanya memperkenalkan dirinya sendiri.
Apa mungkin Juugo yang ditugaskan untuk mengirim bunga-bunga yang selama ini Sasuke kirim padanya dan karena itu Juugo bisa tahu tentang dirinya. Naruto sekali lagi memperhatikan Juugo dengan pandangan menyelidik sedangkan subjek pandanganya selidiknya hanya menatap Naruto dengan muka datar tanpa senyum.
Ah sudahlah! Sasuke sendiri juga pernah bilang bahwa dia sendiri yang menyiapkan bunga-bunga itu untukmu. Berhenti berpikir yang tidak-tidak, baka!
Naruto tersenyum memerhatikan asisten pribadi Sasuke –Juugo yang terlihat begitu kaku dan formal. Tidak ada senyum yang terlihat di paras wajahnya yang sebenarnya cukup tampan. Juugo pasti tertular virus kutub utara Sasuke –Naruto terkikik geli dengan pemikirannya tersebut.
"Lebih baik anda menunggu Uchiha-sama di dalam, Uzumaki-sama,"
Naruto tidak nyaman dengan panggilan yang disematkan oleh Juugo tersebut. Pasti ulah Sasuke, sampai asistennya harus memanggilku seperti itu? "cukup panggil aku Naruto saja, Juugo-san,"
Juugo tidak menjawab perkataan Naruto dan lebih memilih membukakan pintu ruangan Sasuke. Naruto menghembuskan nafas lelah dengan sikap Juugo tersebut. Meskipun Naruto bersikeras untuk memintanya mengganti pemanggilan namanya, Juugo tersebut tidak akan pernah mendengarkannya. Mungkin memang dia sudah terprogram seperti itu, seperti robot. Tidak menerima perintah selain dari pembuatnya –si beruang kutub utara Uchiha Sasuke.
Naruto memasuki ruangan Uchiha Sasuke. Ruangan yang didominasi dengan warna dinding yang putih dan perabotan berwarna hitam, termasuk lantai marmer yang berwarna hitam –seperti mata para Uchiha yang berwarna hitam. Sebuah foto keluarga besar Uchiha terpajang di dinding sebelah kanan yang begitu menarik minat Naruto. Sorot mata tegas penuh intimidasi terlihat dari semua pria Uchiha di foto tersebut, namun milik Sasuke dan seorang pria berusia tujuh puluh tahun yang Naruto yakini sebagai kakek Sasuke tersebut yang paling mengintimidasi. Tidak hanya mata yang berwarna hitam namun semua ketuurunan Uchiha memiliki rambut berwarna hitam dan kulit yang begitu putih bagaikan porselen.
Salah satu pria yang berdiri di bagian belakang, di sebelah Itachi terlihat begitu mirip dengan Sasuke –yang membedakan hanya potongan rambut yang lebih rapi. Sekilas pasti banyak orang yang menyangka bahwa keduanya saudara kembar namun sepertinya bukan. Apakah salah satu kakak Sasuke? Tidak mungkin. Sepengetahuan Naruto, hanya Itachi lah kakak Sasuke.
"Aku yang paling tampan kan," seru Sasuke membuat Naruto terkejut dan langsung menatapnya penuh kekesalan. Sasuke tersenyum simpul menatap Naruto yang kini terlihat kesal. Naruto yang terlihat kesal jauh lebih baik daripada Naruto wajah penuh kepedihan.
"Maafkan aku jika mengagetkanmu. Aku kesal melihatmu yang memandangi lukisan itu terlalu lama, lebih baik kau memandangiku saja."
Kekesalan Naruto rasanya menguap mendengar gerutuan Sasuke. Bagaikan anak kecil yang kesal ketika tidak mendapatkan permen. Naruto tersenyum kecil dan kembali menatap Sasuke yang kini menatap lukisan di depan mereka dengan kesal. Naruto mendekat dan menarik lengan kiri Sasuke, meminta Sasuke untuk menatapnya.
"I am sorry." Sasuke menatap Naruto yang mengucapkan tiga kata tersebut dengan wajah memerah. "Seharusnya kita membicarakannya dengan kepala dingin. Seharusnya aku memberitahumu dan bukannya menghindarimu –"
"Sst," Sasuke menghentikan ucapan Naruto dan langsung menariknya dalam dekapan. "Its okay, We'll talk about that later. Now, we have more serious problem, stay still cause I miss you badly,"
Naruto tersenyum dalam pelukan hangat Sasuke dan semua perasaan gelisahnya seakan-akan menguap entah kemana. Pelukan Sasuke begitu terasa begitu aman dan Naruto yakin inilah rumahnya. Jikapun Sasuke nanti meninggalkannya setelah mereka membicarakan semuanya, Naruto berjanji tidak akan pernah melepaskan Sasuke.
Citation
1. Do you remember something when seeing them? Something in the past?
Both of them were my favorite since my childhood and I gave it to you a long time ago. Do you remember? I was stupid... You must have forgotten it, Dobe
Because that is you, Dobe, who has forgotten me. As apologize, may I see you today? Dinner will be great.
