Disclaimer: Semua tokoh dalam "Naruto" adalah milik Masashi Kishimoto dan cerita ini dibuat hanya demi hiburan. Adapun peminjaman nama perusahaan, tidak saya lakukan dengan maksud menyinggung.

MADDENING RIDDLES

o

o

o

o

o

Riddle #20

Pukul sepuluh pagi, Shikamaru masuk ke ruang perawatan Sakura. Sasuke dan sang pasien seperti tak kaget. Mungkin, menjadi detektif telah membuat telinganya menjamak di mana-mana. Sambil menggendong sekeranjang apel, Shikamaru melempar senyum pada mereka. Sasuke tidak bisa lagi bersikap defensif padanya, apalagi sejak kasus Dan sudah terungkap. Sedikit-banyaknya, saran-saran yang ia berikan menginspirasi para polisi.

Sang inspektur NPA menjauhi Sakura untuk menyambut Shikamaru. Keduanya kini saling berjabat tangan sebelum sang detektif menatap pasien dengan prihatin sekaligus kagum. Nyali polisi wanita itu memang besar, hanya kesabarannya yang masih kurang sehingga ia berada dalam situasi seperti sekarang.

"Aku tak menyangka akan kalah cepat," celetuknya.

"Tapi, terima kasih untuk bantuanmu," balas Sasuke.

"Aku tak membantu banyak. Toh, aku tak mengatakan kecurigaanku sepenuhnya."

"Kenapa?" tanya Sakura.

Shikamaru melirik Sasuke. Polisi itu pun langsung paham maksudnya. Alasannya pasti sama dengan alasan Sakura ketika menyembunyikan dugaannya. Awalnya, si detektif berniat "bermain" santai sebab ia pikir, semua perlu direncanakan matang-matang, apalagi ia sudah lama menyadari bahwa dirinya juga dipandang buruk. Jika ia langsung mengikuti permainan, maka posisinya tak akan menguntungkan.

Kedatangannya hari ini juga untuk menyampaikan kabar bahwa kondisi Naruto sudah stabil. Dan seperti dugaan Sakura, tembakan pada kedua lututnya telah menyebabkan kecacatan permanen. Tempurungnya pecah hingga syarafnya mati. Mendengarnya, tak bisa dimungkiri perasaan Sasuke menjadi sakit. Namun, ia tahu, jika Sakura tak melakukannya, maka wanita itu sendiri yang akan lebih celaka.

"Ngomong-ngomong ...," sela Sasuke, "apa kau menunjukkan foto Naruto pada saksi kunci?"

"Salah satunya, ya. Cukup sekali kupelajari runutan kasus ini dan itu diperkuat saat pertemuan pertama kita di pengadilan. Kurasa, Inspektur Haruno juga menyadari ke mana mata saksi kunci terarah sebelum dia ketakutan."

Sasuke mengangguk. Namikaze Naruto. Bodohnya, ia hanya fokus memperhatikan Tsunade. Andai saat itu ia lebih peka ... .

"Lagian, Namikaze pernah ngobrol dengan ayahku," lanjut Shikamaru.

"Kapan? Berapa kali? Tentang apa?" Sakura memberondogi pria itu dengan pertanyaan.

"Wow, tenang, Nona!" gurau sang detektif. "Kejadiaannya sebelum Jiraiya ditangkap. Saat itu, aku sedang di toilet ruangan ayahku. Namikaze datang untuk menyerahkan barang bukti ... kupikir karena komplotan Ao menahannya dan dia tidak sabar lagi."

Akhirnya, kedua sejoli itu mengerti mengapa kepolisian malah lebih fokus pada kasus Jiraiya. Hanya, bahkan Shikamaru tak mengerti apa alasan Naruto melakukan pembunuhan itu. Dari informasi sejauh ini, ia tak menemukan motif seperti menginginkan kenaikan pangkat ataupun penghargaan. Yang ia tahu, pria itu hanya ingin kasus korupsi Jiraiya dan persengkokolannya dengan oknum kepolisian terungkap.

Sasuke yang tadinya terpekur, kini melirik ke arah ketiak Shikamaru. Si detektif sedang mengapit sebuah map dan ia langsung sadar. Ia pun menyerahkannya pada Sasuke. Rupanya, map tersebut berisi hasil penyelidikan Shikamaru tentang infomasi pribadi Naruto. Salah satunya adalah hasil tes psikologi. Tentu, tak sulit baginya untuk mendapatkannya. Dia, kan, anak Nara Shikaku. Ia tinggal mengopi dan memotret hasil pindaian otak pelaku.

Naruto mirip dengan Otsutsuki Hagoromo. Psikopat yang prososial. Itu mengapa, ia diterima di kepolisian. Jika begitu, mengapa Naruto berubah menjadi antisosial? Bahkan, Sakura tak habis pikir.

"Dia ... membunuh manusia seperti sudah terbiasa melakukannya," gumam Sakura.

Shikamaru berdecak-decak. "Anda tentu tahu, ada yang namanya nucture. Proses pertumbuhannya dengan Superintenden berbeda."

Benar. Hagoromo tumbuh di lingkungan yang tepat dan menyenangkan sehingga empati kognitifnya berkembang lebih baik. Naruto hanya dibesarkan oleh orang-orang baik, tetapi jenis kasih sayangnya pasti tetap berbeda. Lagi pula, latar belakang ekonominya juga di bawah keluarga sang superintenden.

Di sinilah mereka memahami bahwa penyebab semuanya adalah multifaktor. Namun ... dengan pengetahuan ini pula Sasuke tiba-tiba menduga satu hal. Jika Naruto memiliki empati, empati itu lebih berat untuk rakyat kecil sebab ia sudah melihat bagaimana kehidupan orang susah. Dan bisa dibilang, orang-orang yang merawat Naruto bukan orang berada. Untuk memastikannya, ia harus mengetahuinya langsung dari kawannya itu.

XxX

Sembilan hari lamanya Matsuri menghabiskan hari-hari di balik jeruji besi. Beberapa kali sudah ia menjalani reka ulang kejadian setelah pengakuan demi pengakuan ia lontarkan. Satu hal, ia amat menyesal, tapi ia tahu bahwa jalan kembali itu tak ada. Apa pun akhirnya, ia pasti akan berakhir seperti ini, kecuali jika kasus pembunuhan Dan selamanya cuma jadi kisah misteri Konoha.

Air matanya belum kering. Air matanya masih menderas manakala ia merenungi keputusan-keputusan hidupnya. Ia amat menyesali keinginannya untuk mencintai Naruto sedemikian besar. Hanya karena pria itulah yang pertama kali menidurinya. Bahkan, di saat seperti ini, ia masih saja merindukan Naruto, sang kekasih yang telah membuatnya menipu semua orang. Pria yang telah membuat temannya mengalami celaka dan bisa saja kehilangan nyawa.

Karena kesalahan ini juga, kedua orang tua dan keluarganya tak sudi menyua. Mereka hanya mengirim perantara untuk berkomunikasi dan pengacara agar nanti ia mendapat keringanan. Begitulah yang diharapkan. Melalui perantaranya, ia juga rutin mendapat kabar tentang Sakura yang tiga hari lalu sudah pulang dari rumah sakit. Keluarganya pun berkali-kali memohon maaf pada keluarga Sakura. Meski demikian, utangnya pada sang kawan seakan tak akan bisa terbayar.

Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba. Seorang petugas mengatakan, Sakura dan Sasuke tengah menunggu di ruangan kunjungan. Dengan perasaan setengah lega dan gamang, ia berjalan untuk menemui mereka. Dan di ambang pintu, kakinya terasa membatu. Hanya tepukan dari si petugas yang menyadarkannya agar meneruskan langkah. Kini, ia duduk dan menunduk. Ia pandangi pahanya yang kini terbalut seragam tahanan berwarna biru tua. Ia tak sanggup untuk sekadar menatap Sakura yang sedang bersedekap dan Sasuke yang berekspresi datar.

Matsuri hampir mati karena merasakan sensasi tenggelam. Ia benar-benar tercekat.

"Kau sudah melindungi orang yang salah. Kupikir ...," ujar Sakura yang kemudian berusaha menahan sesuatu. Mungkin amarah. Jelas.

"Aku ... tak berharap mendapatkan pengampunanmu, Sakura, tapi aku sungguh-sungguh minta maaf," balas Matsuri.

Tak sabar, Sasuke berdeham. "Apa yang sebenarnya Naruto berikan pada Anda? Maksudku, kertas pesan dari Sakura, apa isinya masih sama?"

Pertanyaan itu bagai tombak yang menghujam dan melubangi dadanya. Secara tepat. Jelas, isinya tak sama. Naruto sudah mengubahnya. Pria itu menyuruhnya bersandiwara, mengikuti permainan.

"Aku ... tak menyangka ... dia sengaja mendekatiku karena aku seorang dokter forensik. Kupikir, pertemuan kami di kedai ramen itu murni karena nasib. Takdir yang kutunggu di tengah tuntutan ibuku untuk segera menikah. Minimal punya kekasih," lirih Matsuri.

Jadi, memang begitu rupanya. Matsuri membuat keputusan terburu-buru karena desakan hidup pribadinya. Dan dengan lihainya cara Naruto, ia pun masuk ke perangkap. Seperti umumnya sebuah hubungan, kedua pihak harus dalam keadaan saling membutuhkan. Matsuri butuh Naruto untuk dikenalkan pada keluarganya, sedangkan Naruto butuh Matsuri untuk memuluskan urusannya. Sayang, kebutuhan utama wanita itu tak pernah terpenuhi. Ia cuma mendapatkan janji surga.

Matsuri ... sebagai seseorang yang peduli akan perkembangan politik dan segala macam bentuk kekacauan di negara ini, terbuai oleh kata-kata Naruto. Menurut pengakuan pria itu, ia sangat ingin kasus-kasus korupsi terpecahkan. Naruto bahkan mengumbar rusaknya tatanan dalam kepolisian itu sendiri dan bagi Matsuri, semua cerita itu seperti fiksi-fiksi bertema misteri dan konspirasi. Ia benar-benar dibuat tertarik sampai pada suatu hari, ia sadar ... tujuan sang kekasih hanya bisa dicapai dengan cara biadab.

Air mata Matsuri kian menderas. Tak peduli betapa terpukaunya ia akan ideologi Naruto, ia merasa seperti kelinci yang sudah dalam cengkeraman predatornya. Ia sadar, tapi atas nama cinta ... ia menjadi konyol.

"Kau tahu ... kau selalu takut kehilangan pekerjaanmu karena aku. Ya, aku! Bisa kaubayangkan, berapa kali aku cemas sampai tidak bisa tidur nyenyak? Dan ternyata ...," ujar Sakura. "Kau, Matsuri ... kau tak hanya kehilangan pekerjaanmu, tapi juga hari-hari bebasmu! Cinta? Tahi kucing! Cinta apa yang kaupertahankan?"

Suara Sakura yang makin melengking membuat Sasuke segera meraih tangannya. Pria itu tak ingin mereka membuat keributan sebab para polisi jaga sudah berdiri dengan sikap siaga. Sakura pun menahan diri, lalu mendesah dengan mata terpejam.

"Kapan kau menukar sampel darah itu?" tanyanya.

"Setelah aku menerimanya. Aku sudah menyiapkan sampel darah anjing dari Naruto di kantong jas laboratoriumku ... dan itu yang kuserahkan untuk diteliti. Sedangkan ... sampel darah Dan Kato kubawa pulang dan kubakar di area pantai dekat perbatasan kota," aku Matsuri.

Kini, dugaan siluman anjing yang tidak masuk akal itu sirna. Siapa pula yang mau percaya begitu saja? Tidak, terutama Sasuke dan Sakura. Mereka pun sadar, betapa rapinya rencana Naruto.

"Lalu ... ini juga, 'kan, yang membuatmu tidak pernah ke psikolog dan psikiatar? Karena kau tahu, kau harus jujur saat berkonseling," lanjut Sakura.

Matsuri mengangguk lemah. Sebagai dokter, ia tentu tahu bahwa memang begitulah syarat seorang pasien penderita gangguan jiwa mendapatkan perawatan. Ia harus terbuka. Tanpa itu, selama apa pun pasien menjalani terapi, semuanya akan sia-sia. Dan karena keputusannya pula, ia terancam mendapat pasal berlapis: membantu pembunuhan berencana, penipuan, dan penggunaan zat adiktif berupa antidepresan tanpa resep dokter sebab ternyata ia mengonsumisnya secara berlebihan. Tak hanya itu, apa yang ia putuskan menimbulkan efek domino. Bukan ia saja yang kena masalah, tetapi juga orang yang membantunya mendapatkan obat-obatan tersebut.

Sasuke dan Sakura tahu, pertanyaan-pertanyaan ini pasti sudah diberikan oleh Ibiki. Mereka hanya ingin mendengarnya langsung agar mereka yakin. Agar Sakura selesai dengan kecemasannya tentang Matsuri yang terancam kehilangan pekerjaan gara-gara pencurian sampel.

XxX

Di ruang tengah, Sasuke duduk. Tertegun. Bahkan, setelah tiga jam sejak matahari terbit, ia masih enggan membuka tirai jendela. Biarlah redup. Cahaya dari layar televisi saja sudah cukup terang. Ia tatap televisi itu dengan pandangan hampa. Sudah dua hari semenjak kunjungan mereka di tempat Matsuri, semua berita semakin terpusat pada kasus pembunuhan Dan. Media dan masyarakat geger setelah mengetahui bahwa tersangka pembunuhan Dan Kato tak lain dan tak bukan adalah salah satu anggota NPA yang juga tim investigator itu sendiri. Para pakar kriminologi, psikolog, pemerhati politik, sampai masyarakat bersuara.

Dan nama Sasuke tak luput dari pemberitaan. Ada yang mencelanya karena dianggap kurang tajam dalam melihat; ada pula yang membelanya karena fakta bahwa seorang psikopat adalah orang yang sangat manipulatif. Mereka yang berada di sisi oposisi pun memanfaatkan keadaan untuk mengkritik superintenden yang ujung-ujungnya ingin menurunkannya dari jabatan. Intinya, kasus ini merambat ke hal lain dan beberapa media seakan menjadi sarang opini liar.

"Menjadi tidak sempurna itu wajar," hibur Sakura.

Sejak keluar dari rumah sakit, orang tua Sakura memercayakan putrinya pada pria itu. Bukan mereka tak cemas, tetapi mereka terpaksa sebab paman Sakura meninggal dunia dan mereka lagi-lagi harus pulang kampung.

"Ini adalah ... kegagalan terbesarku," tanggap Sasuke. "Aku bahkan gagal melindungimu."

Sakura yang prihatin kini mengelus pundak kekasihnya. "Kau bukan Tuhan, Sayang."

Tak lama kemudian, ponsel Sasuke berdering. Nama Kakashi muncul dan ia jawab panggilan itu. Kakashi menelepon dengan kabar bahwa hari ini adalah sesi interogasi kedua Naruto. Interogasi pertama dianggap masih jauh dari hasil yang diharapkan. Tersangka selalu menjawab dengan jawaban yang sama, yaitu ia merasa harus membantu negara untuk mengungkap tindak kriminal seorang koruptor terbesar. Herannya, alat pendeteksi kebohongan gagal menangkap adanya kebohongan itu sendiri.

Dikeraskannya gerahamnya. Omong kosong apa lagi yang ia dengar? Paling tidak, seorang penjahat harus punya tujuan pribadi yang menguntungkannya. Hagoromo bahkan berperilaku keras dan terdengar kurang masuk akal (bagi mereka yang berpikiran normal) ketika ia mau tujuannya tercapai. Lalu, apa gerangan yang membuat Naruto justru terdengar "tidak egois"? Maka, untuk memastikannya, Kakashi meminta Sasuke dan Sakura datang.

Setelah mandi ala kadarnya, kedua sejoli langsung melesat ke tempat Naruto. Degup jantung mereka kencang saat berdiri di ruang pengawas. Mereka tidak diperkenankan hadir di ruang interogasi, di mana Naruto, Ibiki, dan dua petugas berada.

Sasuke merasa ngenas dan kesal, marah dan entah apa lagi, saat melihat Naruto duduk santai meski kedua tangannya terborogol. Seragam polisi yang penuh dengan kebanggaan sudah berganti dengan baju tahanan. Miris.

Seorang petugas operator kini memutar tombol pengeras suara agar ketiga polisi di ruang pengawas itu dapat mendengar interogasi. Mereka menunggu-nunggu saat Naruto marah atau bereaksi seperti bayangan mereka. Namun, itu tidak terjadi dan mungkin tidak akan. Naruto memang orang yang terlahir tanpa emosi selayaknya orang normal lainnya.

"Baiklah, Namikaze Naruto. Jelaskan kronologinya!" perintah Ibiki.

"Bukankah saya sudah mengatakannya kemarin?" tanggap Naruto.

"Aku ingin mendengarnya lagi."

Naruto tampak menyerah, lalu memulai "tugasnya". Semua berawal ketika ia baru mendapat kenaikan pangkat. Beberapa hari setelahnya, ia berlibur, tapi ia habiskan hari liburnya untuk mengamati sesuatu. Daerah terdampak pertambangan kedua perusahaan besar itu. Ia sudah tahu, alotnya pengungkapan kasus Dan dan Jiraiya hanya membuat kepolisian makin kehilangan wibawa, itu mengapa ia merasa tertantang. Namun, ia tahu ia tak mungkin bekerja sendirian sebagai polisi.

Rasionya dua banding ribuan. Dua adalah kedua koruptor dan ribuan adalah rakyat. Sama seperti perumpamaan andai ia harus menyelamatkan dua temannya atau ratusan nyawa yang terancam dalam kecelakaan, logikanya memilih yang ratusan. Apa arti dua orang tadi jika dibandingkan nyawa yang lebih banyak? Ia mengasihani mereka dan fakta bahwa jumlah keluarga mereka akan lebih banyak ketimbang yang dua. Itu pula alasannya memilih membunuh Dan agar Jiraiya mati sebagai tahanan, agar ribuan masyarakat tidak menderita.

Ibiki mengernyit. Secara logika, itu sangat masuk akal. Yang membuatnya heran, ketika ia menanyai Naruto apakah ia merasa kasihan dan emosional, tersangka malah menaikkan alis. Seketika itu, Ibiki merasa bodoh. Psikopat jelas tak punya emosi semacam itu. Empati Naruto sebatas empati logika.

"Baiklah, mengapa Anda memilih menjadi penjahat? Mengapa Dan Kato dan mengapa Anda tidak melaporkannya pada yang berwenang, sedangkan Anda juga pihak yang memilik kewenangan? Atas dasar logika itu, harusnya tugas Anda jauh lebih mudah," tanya Ibiki.

Semua polisi sekarang dibuat merinding oleh Naruto yang tertawa rendah, kemudian berdecak-decak. Sasuke mengeratkan cengeramannya pada pinggiran meja. Sumpah, ia belum pernah melihat orang yang tadinya paling ia percayai berekspresi semacam itu. Naruto yang kini ia lihat seperti orang lain.

"Pertanyaannya, pertama," sanggah Naruto sambil mengacungkan telunjuk, "apa jika saya membunuh rakyat kecil atau, minimal, pejabat kecil, kepolisian akan bertindak cepat? Berapa lama kasus-kasus pembunuhan sebelumnya terungap? Kedua, apakah kepolisian kurang menurunkan personel untuk menangani kasus Jiraiya?"

Tamparan itu adalah tamparan keras bagi semua polisi. Ironisnya, demi menampar kepolisian, seseorang justru harus melakukan kejahatan. Bukan kritik, apalagi sekadar saran. Sampai monyet bertelur, rasanya dalam hal ini harapan tadi tak akan terkabul. Namun, kejahatan tetaplah kejahatan. Dunia hukum kadang tidak mengenal zona abu-abu; wilayah relativitas. Nyatanya, dengan sengaja menghilangkan nyawa orang tidak akan pernah bisa dibenarkan.

"Apa Anda memiliki motif pribadi, seperti penghargaan atau jabatan ... ."

"Wah, Anda meremehkan niat mulia saya," potong Naruto, lalu ia mencondongkan badannya ke depan. "Saya pasti akan mendapatkannya jika tidak ketahuan, tapi bukan itu tujuan saya. Bagaimana jika kalian mendengarkannya saat sidang?"

Ibiki geram, tetapi ia tahu bahwa keinginan Naruto sulit disanggah. Mau disiksa pun, pria itu tak akan mengatakan lebih dari apa yang ia katakan hari ini.

XxX

Seminggu setelah interogasi terakhir Naruto, persidangan terbuka digelar. Tsunade akhirnya muncul dan bersedia bersaksi setelah mati-matian berusaha keluar dari cangkang. Dalam sidang kali ini, posisi Sakura bertambah menjadi saksi utama selain Tsunade. Saksi ketiga adalah Matsuri yang juga merupakan terdakwa. Ketiga wanita itu pun kelar memberikan kesaksian yang disusul oleh para saksi dan saksi ahli.

Hakim Ketua mengetukkan palunya berkali-kali saat wartawan dan hadirin menanggapi secara brutal begitu Naruto selesai mengatakan motifnya, tepat seperti apa yang ia ungkapkan dalam sesi interogasi. Lampu-lampu kamera makin menyilaukan mata dan alat-alat perekam siaran televisi difokuskan pada terdakwa, juga orang-orang penting lainnya. Lalu, setelah keadaan tenang, Jaksa Penuntut Umum berdiri dan mendekati Naruto.

"Alasan Anda memang ... heroik, tapi cara Anda tidak manusiawi, Namikaze," ujar jaksa itu. "Saya ingin kita semua tahu bagaimana Anda melakukan semuanya, tapi ... Yang Mulia, bisakah saya ... ."

"Barang bukti?" potong Naruto. "Tidak usah. Untuk apa prosedur ini dilakukan jika sudah ada saksi kunci dan bukti-bukti? Bukankah itu terlalu merepotkan? Atau, kalian memang suka yang repot?"

Ejekan Naruto yang disertai tawa rendah itu kembali menggemparkan seisi ruang persidangan. Rasanya, dalam sekali sidang, tamparan yang ia berikan cukup banyak. Tetapi, nyatanya Naruto malas berdebat. Di samping itu, jalan keluarnya buntu semua. Toh, perkelahiannya dengan Sakura menjadi penutup lubang-lubang tikusnya.

Ya, sudah lama ia muak. Sudah lama juga ia memikirkan rencana, mulai dari siapa yang harus dijadikan umpan sampai siapa yang ia jadikan batu loncatan pertama. Dan Kato dan Matsuri. Ibarat perang, mereka adalah senjata-senjata ampuhnya. Ia hanya perlu menciptakan tempat-tempat pelarian. Dan ada satu orang lagi yang menjadi inspirasi kauflasenya: Aburame Shino. Pria malang itu ia ketahui sering mampir di unit rumah susunnya. Teman Shino menempati kamar di bawah kamar Naruto. Sosoknya yang acap mengenakan pakaian hitam seakan menjadi pencerahan. Kini, Sasuke, Sakura, dan polisi-polisi lain mengerti mengapa investigasi mereka sampai pada Shino.

Sayang, menurut pengakuannya, dua rekannya selalu mengacaukan rencana larinya. Ia cukup yakin bahwa Sasuke tidak akan mencurigainya. Namun, ia sudah meremehkan kedua orang tadi: Sakura dan Gaara. Gaara yang ditugaskan bersama Tenten, lalu Sakura yang selalu ulet dalam pencarian. Kerjasama mereka nyaris tak terbaca. Dan saat ini, dua orang yang disebut namanya tadi terdiam. Mereka tak tahu apakah mereka harus menerima ini sebagai ungkapan dendam atau pujian sekaligus hal yang kemudian seakan menjatuhkan Sasuke.

Dengan ini, selesailah pengakuan Naruto. Sama seperti Jiraiya, ia sama sekali tidak membantah tuduhan-tuduhan. Malah, ia lebih terbuka. Cukup sekali sidang dan misteri terpecahkan.

"Dengan menimbang semua bukti, saksi, dan pengakuan terdakwa, terdakwa Namikaze Naruto dinyatakan bersalah. Terdakwa akan dicopot dari segala hubungannya dengan kepolisian Hi No Kuni dan akan menjalani hukuman tahanan seumur hidup. Dengan ini, sidang dinyatakan bubar!" tegas Hakim Ketua, lalu mengetukkan palunya sebanyak tiga kali.

Naruto ... memutar kursi rodanya sambil menatap semua orang tanpa ragu, seakan apa yang telah ia lakukan memang terjadi atas kesadarannya. Namun, memang begitulah yang ada. Seorang psikopat yang tadinya berprofesi sebagai polisi menjadi penjahat demi meringkus penjahat. Semua dilakukannya atas kesadaran penuh.

Disebut apakah keadaan ini? Siapakah yang hatinya jahat sebenarnya? Namun, sekali lagi, pembunuhan tetaplah tindak kejahatan serius.

Naruto ... meninggalkan ruangan dengan tangan terborgol, diapit para petugas yang salah satunya mendorong kursi rodanya, menerobos lautan manusia, dan menghindari Sasuke. Sasuke hanya terpaku di tempat, sementara Sakura menggamit lengannya. Naruto, orang pernah ia percayai itu kini pergi tanpa penjelasan. Ia hanya butuh penjelasan secara pribadi.

"Ayo, kita keluar!" ajak Sakura.

"Sakura, biarkan Sasuke keluar lewat pintu belakang. Kankurou, temani Sasuke!" sanggah Kakashi.

Tangan kedua sejoli pun lepas. Setelah itu, para wartawan mengerumuni Sakura dan Gaara, dua polisi yang tadi sempat disanjung oleh Naruto.

"Inspektur Haruno, bagaimana kinerja Inspektur Uchiha selama penyelidikan? Mengapa beliau terkesan luput?" tanya salah satunya.

"Kinerjanya ulet dan bagus. Ini memang sudah menjadi rencana kami. Semua pembagian tim kecil, dialah yang menentukan," jawab Sakura secara diplomatis.

"Kami dengar, Anda adalah kekasih Inspektur Uchiha. Apa Anda yakin Anda memberikan jawaban objektif?" tanya jurnalis lain.

Sakura geram. Emosinya hampir meledak, tapi ia tahan. Ia memasang senyum kecil pada mereka.

"Kalau kalian merasa status semacam itu menjadikan saya subjektif, mengapa kalian tidak bertanya pada yang lain saja?" tanyanya.

Seketika itu, banyak dari mereka bungkam. Gaara yang berdiri di sisinya kini meremas tangan Sakura. Pria itu seolah mengingatkan agar tetap menjaga kesabaran.

"Saya harap ... media lebih fokus pada subjek utama," pungkas Sakura sebelum menyeruak dari kerumunan dan membiarkan mereka mengerubuti Gaara.

XxX

Semenjak kasus Dan selesai, Sasuke dan, terutama, Sakura menjalani tes psikologi. Tak heran, keduanya yang paling dekat hubungannya dengan Naruto. Untunglah, mereka dinyatakan baik-baik saja dan semua polisi investigator mendapatkan penghargaan serta promosi kenaikan pangkat. Sementara itu, media masih tenggelam dalam euforia kasus tersebut. Nama lain yang tak kalah kondang adalah Matsuri. Kisah romansa mereka membuat wanita itu menerima hukuman penjara selama dua puluh tahun—sudah termasuk keringanan.

Malam itu, Sakura mendapat telepon dari tiga stasiun televisi. Beberapa program menginginkan kehadirannya untuk diwawancarai tentang kasus itu. Sayang, Sakura enggan menerimanya. Semua karena ia tak ingin keberadaannya nanti malah akan memojokkan Sasuke.

"Kau menolaknya lagi?" tanya Sasuke.

Sakura mengangguk, lalu merebahkan diri di tempat tidur dan menyandarkan kepala pada dada sang kekasih. Alasan lain ia tak mau menerimanya adalah karena ia lelah. Ia butuh privasi.

"Terima saja satu program. Aku ... senang mendengarnya," ujar Sasuke lagi.

"Tidak, tanpamu."

Sasuke terkekeh pelan. "Aku tidak akan jatuh atau merasa tertandingi. Bukankah harusnya aku bangga?"

"Aku akan meremimanya kalau mereka juga mengundangmu. Itu keputusanku, Sasuke," jawab Sakura.

Lalu, dua-duanya diam. Mereka menikmati kebersamaan yang tenang setelah hari-hari sibuk. Meski demikian, mereka masih merasakan perasaan ganjil sejak Naruto selalu menolak kunjungan mereka. Tak lama, ponsel Sakura berbunyi, tanda pesan masuk. Ia pun membukanya sebelum wajahnya tampak sumringah.

"Sasuke, periksalah rekeningmu! Bonusku sudah masuk!" ujarnya.

Pria itu mengangkat alis, lalu menuruti perintah Sakura. Sama halnya dengan sang kekasih, senyumnya tersungging karena senang. Ia langsung menunjukkan isi pesan.

"Kita diberi libur seminggu dan masih tersisa empat hari," celetuk Sakura. "Nah, bagaimana kalau kita berlibur?"

"Ke mana?" tanya Sasuke.

Sakura bergumam panjang. Ia memikirkan nama-nama tempat bagus untuk menghabiskan sisa liburan mereka.

"Shanghai?" usulnya.

"Shanghai. Aku pesankan tiketnya sekarang," balas Sasuke.

Tiket sudah terbeli. Pesawat yang akan membawa mereka ke Shanghai berangkat pada jam sembilan pagi. Kini, rencana tidur mereka berganti dengan kesibukan lain, yaitu mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan mereka bawa besok. Dalam hal ini, mereka punya satu kesamaan. Mereka suka melakukan sesuatu tanpa rencana, terutama liburan. Setelah barang-barang dikemas dalam tas ransel masing-masing, mereka kembali ke kasur. Sasuke yang lebih dulu selesai, lalu dipeluknya sang kekasih.

"Kita harus bangun pagi-pagi. Sekarang, kita tidur," ujar Sakura.

Sasuke mengangguk, lalu mengecup bibir Sakura. Mereka pun tidur pulas setelah itu.

o

o

o

o

o

TAMAT


Catatan Penulis

Akhirnya, cerita ini selesai juga. Maaf kalau lama. Karena satu dan lain hal, aku terpaksa menunda update-nya. Semoga kalian puas. Terima kasih karena kalian selalu menunggi dan baca. Terima kasih buat kalian yang mau memberi masukan. Masukan-masukan saya terima dengan senang hati demi kemajuan, hahaha! Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya!

Dengan cinta,

BananaZoo