Pelan-pelan, Saburo membuka mata saat tubuhnya terasa kaku.

"Ng..."

Dari buram, perlahan menjadi jelas. Seorang pria dengan manik sky blue balas menatapnya.

"Kau sudah sadar?" Riou mengusap pipi Saburo dan mengecup keningnya.

"Dimana...?" Saburo meringkuk mendekati Riou, menyamankan diri dalam pelukan pria besar itu sembari menyingkirkan selimut yang menutup tubuhnya hingga pinggang. Masih mengantuk dan feromon pria itu membuatnya sangat terlena.

"Dikamar hotel. Kau heat dan kutandai kemarin, ingat?" jemari besar Riou menelusuri kulit punggung kurus hingga berhenti di tengkuk yang berbekas gigitan.

"Mm... Riou..." Saburo memejamkan mata, menikmati elusan Riou dipunggungnya. Nyaris tertidur kembali.

"Tidurlah lagi, aku akan menjagamu." Riou menunduk, mencuri kecupan dari bibir yang akan menjadi candunya. Mulai sekarang bocah ini adalah miliknya. Hanya miliknya.

"Mm..." nafas yang teratur dengan terpejamnya manik heterocome hijau-biru menandakan bahwa pemiliknya baru saja kembali tertidur. Meninggalkan Riou yang masih saja menatapnya tanpa bosan.

"Oyasumi, Saburo-kun."

.

.

Hypnosis Mic bukan punyaku. Mereka punya King Record. Kalo mereka punyaku, udah kubuat SamaIchi rujuk dan JyuJi nikahan-

Lupakan itu.

Kali ini Warningnya biasa saja. Tidak akan ada R18 disini. Tenang saja-mungkin chapter depan ada lagi/heh.

Okay, happy reading,

Jangan lupa vote dan komen^^.

.

.

Jiro bersedekap dada dan menyender pada pintu terkunci dibelakangnya.

Kuning-hijaunya memperhatikan Ichiro yang dengan telaten membersihkan dan memakaikan Saburo pakaiannya juga menyuntikkan supresan pada adiknya itu.

Sebenarnya Jiro kesal, amat sangat kesal.

Bagaimana tidak?

Adik kecilnya kini tengah terbaring lemas dengan kissmark nyaris diseluruh tubuhnya. Terutama leher, punggung, dada dan paha-oke maaf, dia tak sengaja melihatnya tadi.

"Jiro, ayo kita pulang." Ichiro membuyarkan lamunannya. Niichannya itu telah menggendong Saburo dipunggungnya. Jaket merah kesayangannya pun telah disampirkan dipundak Saburo yang terlelap.

Kemana Riou?

Pria itu dibawa pergi oleh teman-temannya, Samatoki Aohitsugi dan Jyuto Iruma. Bagaimana Jiro bisa tahu, itu karena mereka berempat membicarakannya tadi pagi. Sekaligus meluruskan masalah kemarin.

Orang orang yang tokonya mereka rusak kemarin, sebenarnya adalah pengedar narkoba sekaligus senjata ilegal. Kabarnya sih mereka berniat mengurusnya lagi hari ini.

Ichiro dan dirinya tidak diperbolehkan membantu. Ini bukan urusan kalian, kata mereka.

Jadi setelah ia melihat Riou dan kedua temannya pergi tadi, ia segera mengajak Ichiro untuk membawa Saburo pulang.

"Niichan, aku sudah meminta bantuan kenalanku untuk membantu kita bersembunyi. Untuk sementara kita tinggal di Kyoto saja, tidak apa?"

Ichiro hanya mengangguk. Hanya dapat pasrah pada keinginan Jiro untuk membawa pergi Saburo jauh dari alphanya.

Saburo belum legal untuk memiliki alpha. Dan Ichiro sendiri belum siap jika Saburo diambil darinya. Terlebih, mereka tidak mengenal Riou. Mereka hanya mengenalnya sedikit dari cerita kedua temannya. Itupun tidak banyak membantu.

Belum lagi jika Saburo histeris karena merasa kotor, bodoh, dan kemungkinan lainnya. Sebaiknya Ichiro mengikuti keinginan Jiro. Jika dipikir-pikir lagi, itu bukanlah hal yang buruk. Mereka bisa berada disamping Saburo kapan pun dan siap siaga jika Saburo menunjukkan tanda-tanda depresi.

Over protective dan over thingking. Dasar brocom.

"Kenalanmu itu mengirimkan mobil?" Ichiro bertanya saat melihat Jiro mendekati mobil sport warna biru dongker. "Seberapa kayanya dia?"

"Ya, dia seorang letnan dulunya, sekarang bekerja sebagai asisten peneliti teknologi terbaru." Jiro mengetuk kaca, menampilkan pria berkaca mata dengan wajah malas. Dan Ichiro tidak perlu bertanya darimana Jiro mengenalnya. Tentu saja karena Jiro sering bepergian dari kota ke kota hanya untuk mendapat informasi seputar jalanan.

"Kau yang bernama Jiro Yamada?" pertanyaan itupun bernada malas. "Cepat masuk. Kau membuang waktuku."

Jiro membuka pintu belakang dan membantu Ichiro mendudukkan Saburo yang masih pulas. "Ichinii, duduklah didepan, aku akan menjaga Saburo."

Ichiro mengangguk, menutup pintu dan duduk di depan, menyerahkan Saburo pada Jiro yang membiarkan bahunya menjadi senderan Saburo.

"Sudah?"

"Ya, kami siap berangkat. Sebelumnya, bisakah kami pulang kerumah dulu? Aku ingin mengambil beberapa baju." Ichiro memakai sabuk pengaman dan melirik Jiro dan Saburo dibelakang.

"Tsk... Tak perlu. Atasanku sudah menyiapkan segala keperluan kalian."

"Terimakasih, etto... Siapa namamu?" Jiro bertanya dari belakang, tangannya secara tidak sadar mengusap usap puncak kepala Saburo yang bergerak menyamankan diri.

"Zenku." pria itu menyalakan mobil dan menjalankannya.

"Terimakasih, Zenku-san."

Zenku hanya mengangguk, membawa mobil sport atasannya pergi dari wilayah hotel.

Sedangkan Samatoki, Jyuto, dan Riou tampak berjalan melewati mobil yang membawa Yamada bersaudara.

.

.
"Wah, besar sekali." Ichiro terkagum saat mereka sudah sampai.

Villa didepannya benar-benar besar. Tampak asri dengan beberapa pohon buah yang berjejer rapi dan semak bunga yang tertata apik dimana mana. Tak heran, villa ini terletak di pinggiran Kyoto yang dikenal sebagai tempat paling asri di jepang. (Ini aku asal ambil tempat plis.)

Jiro keluar dari dalam mobil dengan membopong Saburo, adiknya itu masih saja tertidur. Mungkin karena pengaruh supresan yang disuntikkan Ichiro tadi dan kelelahannya semalam.

"Selamat datang di villa pribadiku." suara rendah terdengar, mengalihkan perhatian kedua Yamada pada sesosok pria yang memakai yukata. "Lama tidak bertemu, Jiro."

"Daikaku-san! Lama tak jumpa, bagaimana kabar anda?"

Pria yang dipanggil Daikaku tertawa kecil, "kabar ku baik baik saja walau kadang masih sering telat makan. Dan ini... Niichan yang sering kau ceritakan itu?"

Ichiro tersenyum sopan, "salam kenal, Daikaku-san, saya Yamada Ichiro, kakak dari Jiro. Dan dia adik kami, Saburo."

Daikaku tersenyum dan menyalami Ichiro, "aku banyak mendengar tentangmu dari Jiro. Mari, masuk. Aku akan tunjukkan kamar kalian. Jangan khawatir tentang keberadaan kalian, bawahanku sudah mengaturnya agar menghilangkan jejak kalian."

"Terimakasih banyak, kami ingin menjauhkan Saburo dari dunia luar untuk sementara hingga kami yakin mentalnya baik-baik saja." Ichiro mengikuti Daikaku yang masuk terlebih dahulu dengan Jiro yang menggendong Saburo dibelakangnya.

"Jiro sudah memberitahu ku hal itu." Daikaku berjalan seraya menjelaskan seluk beluk villanya, hingga mereka sampai pada sebuah ruangan besar. "Ini adalah ruang santai, kamar kalian ada dilantai 2, lewati saja lorong sebelah kanan hingga menemukan tangga, kamar kalian ada tepat didepan tangga."

Berbalik, Daikaku tersenyum ramah, "sebaiknya kalian beristirahat. Aku akan melanjutkan penelitianku dengan Adolf dan Ichigen. Jika butuh sesuatu, bilang saja pada Kuroh dan Shiro." Daikaku menunjuk pria berambut putih dengan wajah polos dan pria berambut hitam yang membawa katana. "Ah, dan dibelakang ada taman buatan dengan kolam ikan jika kalian ingin bersantai."

Yamada bersaudara membungkuk sopan, "baiklah, Daikaku-san. Kami permisi dulu. Terimakasih banyak."

"Jiro, jangan terlalu formal. Anggap saja ini balas budi karena sudah membantuku dulu." Daikaku berujar hangat sebelum berbalik dan pergi memasuki sebuah pintu lainnya.

"Baiklah, Daikaku-san, sesuai permintaanmu." Jiro balas tersenyum, lalu menoleh pada Ichiro yang memandangnya penasaran. "Dulu aku pernah menolongnya dengan mengembalikan dokumen penting miliknya yang dicuri oleh bawahan musuhnya. Sejak saat itu kami menjadi teman."

"Begitu..." Ichiro menghembus nafas lega, setidaknya Daikaku benar orang yang baik. "Ayo ke kamar, kau pasti lelah karena sudah menggendong Saburo selama itu."

"Niichan, aku tidak akan lelah hanya karena menggendong bocah ini." Jiro tertawa, namun tetap menggendong Saburo menuju kamar mereka.

"Dasar kau ini," Ichiro mendengus kesal, namun pada akhirnya mengikuti Jiro untuk pergi ke kamar. Dia cukup lelah karena kemarin tidak bisa tidur semalaman.

.

.

Dahi berkerut, disusul dengan lenguhan pelan.

"Ichinii... Niichan... mm..." tak lama, kelopak mata terbuka, memunculkan hijau-biru.

Saburo menoleh saat menyadari kedua tangannya tengah digenggam. Jiro ada di sisi kirinya dan Ichiro ada disisi kanannya.

"...ini... Dimana...? Ugh..." Saburo menumpu tubuhnya dengan kedua siku, berusaha duduk namun kedua tangannya masih setia tergenggam kedua kakaknya. Belum lagi rasa sakit yang menusuk pada pinggang dan pantatnya.

Merasakan gerakan, Jiro perlahan terbangun.

"Nn... Oh, Saburo, kau sudah bangun?"

"Seperti yang kau lihat, baka Jiro, lepaskan tanganku." Saburo mendesis sinis, tak ingin Ichiro terbangun. Membuat Jiro tersenyum menyebalkan.

"Tidak mau~"

Saburo gemas ingin menabok wajah menyebalkan itu sebelum tatapan Jiro berubah lembut. "Kau baik baik saja, kan?" tangan lainnya terangkat, mengusap sisi wajah Saburo dengan lembut.

"Apa maksudmu? Aku baik seratus persen seperti yang kau lihat."

Menghela nafas, Jiro menarik tangannya dan beringsut duduk. "Tubuhmu, keadaanmu, perasaanmu. Apa kau baik baik saja?"

Ah, Saburo tidak suka arah pembicaraan ini. "Kita bicara diluar." dengan lembut ia melepas ganggaman Ichiro pada tangannya yang lain dan merentangkan tangan pada Jiro. Kode minta digendong.

Jiro membisu, mengikuti keinginan adik kecilnya dengan mengangkat Saburo dengan lenganna dan membawanya keluar dari kamar.

.

.

"Kita ada dimana?" Saburo akhirnya membuka suara saat mereka memasuki taman belakang yang ternyata sangat luas. Nyaris seperti hutan mini buatan.

"Dirumah kenalanku. Kau mau duduk disana?" Jiro menunjuk bangku panjang dengan danau buatan didekatnya. Saburo pasti tidak nyaman karena harus digendong lama-lama.

"Kenapa kita tidak pulang ke rumah saja? Apa Ichinii punya pekerjaan disini?" Saburo tidak menggubris pertanyaan Jiro. Membuat Jiro sendiri berinisiatif mendudukkan Saburo di bangku panjang dengan sangat hati-hati.

"Tidak, kami hanya ingin liburan bersamamu."

"Apa ini ada hubungannya dengan heatku kemarin?"

"Kau tidak mengenalnya, Saburo. Kami tidak mengenalnya. Kami tidak ingin melepaskanmu begitu saja dengan orang asing. Bagaimana jika pria itu ternyata jahat? Dia mantan tentara, Saburo. Dan dia musuh kita."

"Tapi dia sudah menandaiku!" mendadak Saburo menjerit, tangannya menyentuh tengkuk yang masih berwarna biru keunguan, membekas gigitan. "Mau tidak mau, dialah yang akan menjadi pasanganku! Alphaku! Padahal... Padahal..."

Jiro sigap memeluknya dan mengusap usap kepalanya, saat airmata mulai tumpah. "Sudah, sudah, tidak apa-apa..."

"Hiks... Padahal dia adalah musuh divisi kita... Padahal aku hiks tidak mengenalnya... Aku hanya mengenalnya lewat hiks data-data yang ku kumpulkan... Tapi... Tapi... Hiks... Aku malah dengan mudahnya hiks memberikan diri padanya... padahal... padahal aku belum hiks bertemu dengan soulmate-ku."

Saburo meremas jaket Jiro dan mengusapkan ingusnya di baju depan Jiro.

"Aku mengecewakan Ichinii... Aku kotor.. Hiks... aku menjijikkan. Aku benci diriku sendiri! Hiks... Aku tidak ingin. Tapi aku lebih tidak ingin hiks Ichinii makin kecewa padaku karena menolak hal yang hiks kudapat setelah aku melakukannya."

Kacau, Saburo bahkan tidak tau lagi apakah kalimatnya benar, ataukah Jiro mengerti maksudnya. Ia hanya ingin berteriak.

"Mau tak mau, sekarang aku telah memiliki alpha. Jiro, aku tak tau lagi apa yang harus kulakukan. Ichinii pasti kecewa berat padaku. Ia pasti jijik padaku! Kau juga begitu kan? KATAKAN! KAU JUGA JIJIK PADAKU KAN?!" Tangis Saburo makin pecah, ia memukuli dada Jiro dengan lemah.

"Sssh, Saburo, dengar, jika kami jijik padamu, kami pasti meninggalkanmu sendirian bukan? Dasar, kau terlalu overthinking." Jiro memegang kedua tangan Saburo, menghentikannya. "Tenanglah, jika kau belum siap untuk kembali ke Ikekuburo, katakanlah. Jika kau ingin bertemu alpha itu, katakan. Kami akan mendukung semua keputusanmu. Kami ada bersamamu, Saburo. Katakan apa yang ada di hatimu, kami siap mendengarkan."

Saburo terdiam, namun matanya menyiratkan harapan. Ia tak lebih dari takut. Saburo sedang ketakutan, mencoba menutup takutnya dengan bersifat biasa. Mencoba tetap kokoh.

Jiro merusak hal itu. Jiro membuatnya cukup merasa baikan.

Saburo mengelap ingusnya dengan kasar, cemberut manis, "Sejak kapan kau jadi bijak?"

Jiro hanya tertawa menanggapinya. Ia mengusap pipi Saburo yang masih dipenuhi air mata dan mengecup pipinya dengan sayang. "Begini-begini juga aku itu kakakmu. Kau aman. Kau memiliki dua kakak yang selalu bisa kau andalkan."

Pipi Saburo memerah samar, penampilannya pasti sangat kacau sekarang. Sialan, ia tak bisa membiarkan Jiro bersifat sok keren begini terus menerus.

"Baka. Biasanya juga kau yang mengandalkanku. Dan kakakku itu hanya Ichinii!" Saburo memukul dada Jiro pelan, ia tersenyum. Yah, setidaknya hatinya lega. "Tapi, terimakasih, Jiro... Nii."

"Heh, sama sama. Ayo kembali. Sebaiknya kau mandi. Kami membawamu tanpa persiapan-"

"Terimakasih sudah meminjamkan baju untuk ingusku." Saburo terkikik pelan dan memeletkan lidah pada Jiro yang kini memandang jijik baju depannya yang basah-dan penuh ingus.

"Cih! Awas kau Saburo! Rasakan ini! Kugelitiki kau!" Jiro memegang pinggang Saburo dan menggelitikinya, hingga Saburo tertawa seperti anak kecil.

"Ahahaha! Hentikan! Aduh, ahahaha, Jiro hentikan!"

"Rasakan! Siapa suruh kau mengelap ingus ke bajuku?!"

"Salahmu yang membenamkan wajahku ke dada datarmu! Ah! Berhenti! Berhenti!"

"Hei! Aku ini cowok! Sudah pasti dadaku datar!"

"Setidaknya aku ingin dipeluk diantara dada empuk, Jiro!"

"Saburo? Kau belajar dari mana kalimat itu?"

Ups.

Pelan pelan Jiro dan Saburo menoleh, mendapatkan Ichiro berdiri dengan tangan terlipat disana.

"N-niichan.../i-ichinii..."

"Kau nonton romance, Saburo? Umurmu belum cukup!"

"I-ichiniii... Aku.. Tidak! Aku tau karena Jiro pernah nonton! Aku hanya tak sengaja melihatnya!"

"Jiro?"

Jiro langsung mengelak, sialan Saburo, pasti dia sengaja. "Tidak Niichan! Aku hanya melihatnya sekali di anime yang baru booming kemarin!"

"Dia bohong, Ichinii!"

"Kau juga berbohong Saburo!"

"Kalian..." Ichiro bersiap mengeplak, tapi urung dan beralih mengusak kedua rambut adiknya. "Dasar. Sudahlah, ayo mandi, nanti kita akan makan malam bersama Daikaku-san dan rekan-rekan penelitinya."

"Aaah! Ichinii! Rambutku berantakan!"

"Oi Saburo! Rambutmu sudah berantakan sedari tadi!"

Sedangkan Ichiro sang pelaku pemberantakan rambut adiknya hanya tertawa dan mengecup pipi adik adiknya.

"Ayo, sebelum makin malam. Saburo, kau mau digendong Niichan atau Jiro?"

"Mau digendong Ichinii!"

Saburo tidak tahu, baik Jiro maupun Ichiro, merasa cukup lega karena Saburo mau terbuka pada mereka.

"Mau mandi bersama?"

"Kalau sama Ichinii aku mau!"

"Oii! Lalu bagaimana denganku?!"

"Baka! Kau sudah tua, tidak malu sama Ichinii?"

"Kau juga Saburo! Dasar!"

"Hahaha, ayo mandi bersama. Toh kita bersaudara. Sudah lama sekali sejak terakhir kita mandi bersama."

.

.

3 bulan kemudian.

Kota Yokohama.

Kediaman Samatoki Aohitsugi.

"Hueeek!" terdengar suara orang muntah dari arah kamar mandi. Membuat kedua temannya mau tak mau merasa khawatir.

"Riou, kau benar-benar tak apa?" Jyuto bertanya seraya melongok kedalam kamar mandi yang terbuka pintunya.

"Mungkin karena kau salah makan, aku akan menghubungi Jakurai-sensei." Samatoki menghisap nikotin dari rokoknya dalam dalam, mematikannya diatas asbak dan menelfon nomor Jinguji Jakurai.

"... Shoukan baik-baik saja." Riou keluar dengan handuk ditangan dan wajah lesu. Badannya terasa lemas.

"Setidaknya periksa ke dokter dulu." Jyuto mendesah, "kau merasa lemas? Perlu kubelikan vitamin?."

"Gejala Riou-san seperti gejala morning sick saja." Nemu yang baru keluar dari kamarnya memandangi Riou yang tampak pucat, "apa Riou-san merasa mual saat mencium bau makanan?"

"... Shoukan merasa mual saat mencium bau yang menyengat."

"Kau merasa lemas, kah?"

"Shoukan merasa lemas karena tidak bisa makan belakangan ini."

Nemu menjentikkan jari, dengan senyuman. "Fix, Riou-san memiliki gejala morning sick."

Samatoki melongo, handphonenya bahkan sampai jatuh. Jyuto tampak berpikir dan Riou duduk dengan tangan menutupi mulut.

"Darimana kau tau itu, Nemu?"

"Itu ada dibuku kedokteran, Oniisan."

"Biar begitu kita tak bisa langsung mengambil kesimpulan begitu saja, Nemu-chan." Jyuto menggaruk kepala, meringis dalam hati karena kepolosan Nemu.

"Benar. Shoukan tidak mungkin hamil." Riou menyanggah. Ia tidak pernah melakukan hubungan badan selain dengan bocah manis itu. Selain itu, dia adalah alpha. Tidak mungkin ia dapat hamil.

"Hm~ mungkin Riou-san punya seseorang yang kini sedang mengandung anak Riou-san?"

"Eh?" ketiga pria lainnya terdiam seketika.

"Morning sick juga bisa terjadi pada calon ayah. Walau hal itu sangat jarang terjadi."

Samatoki dan Jyuto berpandang pandangan, sedangkan Riou terdiam ditempatnya.

Hamil, katanya?

Apakah sekarang Saburo tengah mengandung anaknya? Apakah ia akan menjadi ayah? Astaga, dimanakah bocah itu? Apakah sebegitu bencinya Saburo padanya karena telah mengambil keperjakaannya? Kenapa bocah itu tak mencarinya? Bahkan rumah Yamada sekarang kosong.

Kedua kakaknya juga seolah-olah menghilang ditelan bumi. Mereka sudah mencoba melacak jejak mereka, namun tidak menemukan apapun.

"Astaga! Samatoki, jika itu benar, itu berarti kita harus secepatnya menemukan Buster bros!"

"Tapi kita sudah mencarinya kemana-mana! Mereka hilang begitu saja tanpa jejak!"

"Riou-san, kau baik baik saja?" Nemu bertanya khawatir. Bagaimanapun, ia tau bahwa mantan tentara teman kakaknya itu pernah melakukan bonding dengan seorang omega.

"..." Riou diam membisu. Sekian lama menjadi tentara dan menghadapi keadaan sulit, baru kali ini kepalanya berdenyut sakit dan jantungnya berdebar keras.

"Aku heran, sebesar apa koneksi para Yamada itu. Mereka benar benar tak dapat terlacak."

"Yamada?" Nemu tertarik dengan nama yang dilontarkan Jyuto. "Apa yang kalian cari itu Yamada Ichiro?"

"Kami mencari adiknya. Apa kau mengenalnya, Nemu-chan?"

"Aku hanya mengenal Yamada Ichiro. Dia kenalanku."

"Apakah kau tahu dimana mereka sekarang?" kini gantian Riou bertanya. Wajahnya datar, namun mereka tahu, ada kilau harapan dimatanya.

"Kabar terakhir yang aku tahu, mereka sedang liburan keluarga. Aku tak tahu tepatnya dimana, tapi sepertinya mereka ada di daerah Kyoto."

Samatoki dan Jyuto lagi lagi saling berpandangan, bertukar pikiran. Dan mereka langsung menoleh kearah Riou yang berdiri mendadak.

"Aku akan ke Kyoto."

.

.

"Jiroooo!" Saburo menjerit, membuat Jiro maupun Ichiro yang masih asik main game langsung mendekati adik bungsu mereka.

"Apa apa apa?! Ada apa Saburo?! Apa ada yang sakit? Kau terluka? Ada apa?"

Saburo yang dicerca pertanyaan beruntun, tersenyum manja, langsung memeluk lengan Jiro. "Jirooo, gendong! Ayo kita ke taman!"

Eh?

Baik Ichiro maupun Jiro langsung melongo dengan tidak elitnya. Kenapa Saburo yang biasanya meminta perhatian Ichiro dan selalu bertengkar dengan Jiro malah berubah manja pada Jiro?

"Errr, Saburo kau baik baik saja?" Jiro mengecek suhu tubuh Saburo yang masih memeluk lengannya. Tidak panas.

"Saburo, sepertinya kau sakit, mau Niichan gendong ke kamar?" Ichiro menawarkan. Apakah Saburo salah makan?

Tanpa disangka sangka Saburo malah menangis. Membuat kedua kakaknya benar-benar kelabakan.

"Huu... Jiro gak mau gendong Saburo! Huaaaa!"

"Eh eh eh ehhhh?!"

"Sa-saburo, ja-jangan menangis. Astaga, cup cup cup... Jangan menangis ya... iya Jiro mau menggendongmu kok. Lepaskan dulu tangannya ya, biar Jiro bisa menggendongmu.."

"Hiks... Jiro mau gendong Saburo?" Saburo menoleh, menatap Jiro yang hanya dapat mengangguk dengan linglung. "Yatta! Gendong aku, Jiro!"

Ichiro memperhatikan sikap Saburo yang aneh. Apa ia tak sengaja memakan sesuatu untuk bahan eksperimen?

Jiro menggendong Saburo di punggungnya, mengikuti keinginan Saburo untuk pergi ke taman dengan Ichiro yang mengekor dibelakang mereka.

"Ichinii, Ichinii! Saburo mau eskrim coklat~"

Ichiro mengusap-usap kepala Saburo, bergumam akan meminta Kuroh untuk membelikannya dengan sayang.

"Tumben kau bermanja dengan Jiro, Saburo."

"Ngg... Tidak tahu, Ichinii, aku hanya ingin Jiro memanjakanku. Aku tidak tahu kenapa."

"Haah? Kau ingin aku memanjakanmu?" Jiro menurunkan Saburo, membiarkan dirinya sendiri duduk di bangku panjang dengan Ichiro disebelahnya. Entahlah, Saburo makin hari makin berat rasanya.

Saburo mengangguk polos, ia menggeser Ichiro, membuatnya duduk diapit kedua kakaknya.

"Ichinii, aku rindu rumah."

Aduh, sudah berapa kali Saburo membuat Ichiro dan Jiro jantungan hari ini?

"Apa kau ingin pulang?" Jiro menepuk puncak kepala Saburo, mengusap-usapnya.

"Mm... Aku tidak tahu. Tapi aku rindu rumah. Aku rindu membantu Ichinii di dapur, aku juga rindu bermain game bersama Jiro. Yah, walaupun Jiro selalu bodoh dan mudah kukalahkan."

"Hei!" teriak Jiro tidak terima.

Jeda sejenak, Saburo memilih memainkan jarinya sedangkan kedua kakaknya berpandangan.

"Oh ya, Ichinii, Jiro, apa aku terlihat lebih gendut? Rasanya perutku sedikit menggembung sekarang. Padahal aku cuma makan sedikit sejak kita tinggal disini."

'Sedikit katanya, apa menghabiskan 5 piring nasi dengan lauk pauknya setiap jam makan itu dapat dibilang sedikit?' Jiro dan Ichiro membatin.

"Kurasa kau butuh olahraga.."

"Jiro, Saburo belum boleh olahraga, aku takut fisiknya drop."

"Ah, maaf Ichinii."

"Halo, kalian suka sekali ya, bersantai di taman ini."

Suara rendah mengejutkan mereka, Miwa Ichigen ada disana. Dia adalah rekan penelitian Daikaku.

"Ah, konichiwa, Miwa-san, kami memang suka bersantai disini. Terutama Saburo yang menyukai alam." Jiro menjawab sopan.

"Hmm, tapi menurutku, sebaiknya kalian segera pulang." Miwa mengalihkan pandangannya menuju langit biru diatas sana.

"Maaf, apa kami mengganggu?" Ichiro langsung merasa tak enak telah menumpang begitu lama.

"Oh tidak, tidak sama sekali. Hanya saja... Kurasa adik kalian sedang dalam kondisi rawan."

"Apa maksud anda?"

Miwa Ichigen menatap Saburo, lalu dengan hati hati berkata, "Saburo-kun sedang hamil, bukankah disaat seperti ini, dia membutuhkan alphanya?"

"Ha-hamil?!"

.

.
Update yeeey, SEBELUM PUASA LAGI WKWKWK

Maaf, aku baru ingat Mei itu kalian (bagi yang muslim) puasa, jadinya aku berusaha untuk menyelesaikan chapter ini sebelum Mei.

Hayooo, yang udah nebak kalo Saburo hamil, angkat tangannyaa! Selamat anda beruntung dengan mendapatkan updatean chapter 4 'Takdir'/apaan sih.

See you 2 months again~

Ps: telah di edit pada 9 januari 2021