Osamu tersenyum kecil saat manager timnya menghampiri sambil memanggil namanya. Sorakan hatinya bertambah besar ketika gadis itu menyodorkan bungkusan biru muda yang selalu ditunggunya. Tapi, dibilang senang juga, Osamu sendiri teringat bahwa ia sedang berusaha menyortir perasaannya sambil mengingat pendapat Atsumu semalam yang mengatakan bahwa lebih baik ia fokus pada Kaji dibanding gadis rahasianya.

Ia putuskan untuk menikmati rasa senangnya saja sekarang: interaksi sederhana dengan Kaji, serta hadiah dari Rahasia. Tetapi Osamu mengernyit ketika ia mengambil bungkusan dari tangan gadis itu dan menemukan plester luka pada jari telunjuk tangan kanannya. Dengan cepat Osamu meraih tangan itu untuk memastikan bahwa memang itu plester luka.

"Kaji, ini kenapa?"

Gadis itu tampak salah tingkah, tapi tetap tersenyum. "Kegores sedikit tadi, tidak apa-apa, kok."

Tapi Osamu tidak puas dengan jawaban itu. Ringisan kecil Kaji ketika Osamu sempat tak sengaja menyentuh bagian tengah plester itu sama sekali tidak berarti 'tidak apa-apa'. Jadi, asumsinya adalah, luka ini baru.

" … ada yang menjahilimu lagi?"

Osamu tidak perlu mendengar kata 'ya' dari Kaji untuk tahu jawabannya ketika gadis itu bahkan dengan gugup menolak bertemu pandang dengannya.

"Kaji … kasih tahu aku, ini kenapa? Kalau aku gak tahu, aku gak bakal bisa jagain kamu …" tutur Osamu sedih.

Jadi Kaji kembali tersenyum tipis. "Ada yang menaruh silet kecil di sepatu ruanganku. Ketika aku mengambilnya di loker sepatu tadi, jariku kena." Lalu ia terkekeh. "Osamu-san, menjagaku bukan kewajibanmu. Aku tetap bertanggungjawab untuk keselamatan diriku sendiri."

Genggaman tangan Osamu pada gadis itu semakin erat, dan matanya menatap lurus bertemu mata Kaji. Rasanya … Osamu ingin menjaga gadis ini. Ia tidak paham kenapa, padahal mereka baru benar-benar berinteraksi sekitar tiga bulan ini, pun gara-gara Kita-san meminta Kaji ikut training camp saat itu. Osamu tidak paham, tapi tampaknya Atsumu benar.

Mungkin, itulah alasan kenapa dia sering pergi ke perpustakaan setiap habis makan siang.

Mungkin, itulah sebabnya beberapa tahun ini ia sering pesan makanan dari restoran itu di hari Minggu.

Mungkin, itulah kenapa belakangan ini tak pernah sekalipun ia berniat untuk bolos klub sebentar saja.

Ia bukan lagi tertarik pada Kaji. Osamu menyukainya, entah sejak kapan.

Tetapi, bagaimana dengan Rahasia?

.


.

Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: Osamu x OC, berpotensi spoiler manga.

.

.

not another story about love
Keduabelas: Masa lalu

by Fei Mei

.


.

/'Kepada Rahasia,
Hei, aku sedang makan nasi kepalmu loh sekarang ;)
Aku paling suka salmon mayo onigiri buatanmu.
'/

/'Dari Rahasia,
Sungguh? Aku senang membacanya :)
'/

/'Kepada Rahasia,
Jam istirahat siang begini, biasanya kamu makan apa? Bekal? Beli di kantin? Atau sesuatu yang kamu bikin sekalian untukku?
'/

/'Dari Rahasia,
Aku bawa bekal sendiri, dan itu beda dengan yang kuhadiahkan pada Osamu
-san :)'/

/'Kepada Rahasia,
Hei, aku boleh tanya sesuatu yang personal saat ini? Aku luar biasa penasaran, tapi aku janji ini bukan tentang jati dirimu.
'/

/'Dari Rahasia,
Boleh, tapi jangan ngambek jika aku memutuskan untuk tidak mau menjawab ya.
'/

/'Kepada Rahasia,
Oke.
Jadi … apa kamu menyukaiku?
'/

/'Dari Rahasia,
Suka maksudmu seperti cewek suka cowok? Tidak, aku tidak menyukaimu seperti itu.
'/

/'Kepada Rahasia,
Jadi kamu benar hanya penggemarku? Seperti, sering menontonku main voli?
'/

/'Dari Rahasia,
Daripada disebut penggemar, mungkin lebih tepatnya aku mengagumimu. Aku memberimu respek, mungkin sedikit di atas anak Inarizaki yang lain. Dan aku mengagumimu sebagai seorang Miya Osamu saja, tidak peduli kau main voli atau tidak, nyatanya memang Osamu
-san baik padaku.'/

/'Kepada Rahasia,
Kenapa bisa begitu?
'/

/'Dari Rahasia,
Akan kuberitahu malam ini sebagai fakta tentangku hari ini ya :)
'/

Aduh sialan, Osamu penasaran banget. Tapi sejujurnya dia bingung juga dengan Si Rahasia. Ia baru tahu bisa ada orang yang mengagumi lawan jenisnya dengan tulus begitu. Jika ia cerita dengan kakaknya tentang ini, kemungkinan besar Atsumu bakal bilang bahwa mungkin Rahasia hanya manis di kata-kata karena sampai sekarang mereka masih belum tahu identitas dirinya.

Dibilang 'selama ini' juga … yah, nyatanya Osamu baru berinteraksi dengan Rahasia dalam hitungan bulan. Hmm, kalau diingat-ingat, padahal mungkin hadiah pertama dari gadis itu sudah muncul di lokernya dan dianggapnya 'tersasar' pada minggu-minggu pertama mereka resmi menjadi anak SMA. Jika Rahasia dengan tulus mengaguminya, berarti mungkin Osamu telah melakukan suatu hal baik pada seseorang setahun yang lalu, kan? Tapi apa? Seingatnya, ia menjalani hari dengan biasa saja. Bersikap baik, ya, kayaknya pada siapa saja, tidak ada hal spesifik yang bisa membuat orang terutama seorang gadis mengaguminya sampai seperti itu.

.

.

Malam harinya, Rahasia memenuhi janji. Tepat pukul delapan malam, tanpa Osamu perlu mengirim surel duluan, gadis itu mengirimkan ceritanya dengan singkat.

/'Dari Rahasia,
Dulu banyak yang mengejek dan menertawaiku karena kondisi fisikku. Saat Osamu
-san datang, kau malah membelaku. Gara-gara itu, aku jadi mulai menerima tubuhku apa adanya, tetapi tetap berusaha untuk punya tubuh yang lebih baik daripada itu. Osamu-san mengubah cara berpikirku, dan aku bersyukur karenanya.'/

/'Kepada Rahasia,
Tunggu, ini cerita kapan?
'/

/'Dari Rahasia,
Sekitar sepuluh tahun yang lalu :)
'/

Osamu memutar otak. Sepuluh tahun yang lalu. Astaga banget. Osamu sama sekali tidak bisa mengingatnya. Bukan mau jahat, tapi sepuluh tahun itu sudah lumayan lama. Insiden yang dibilang Rahasia ini, berarti kejadiannya saat mereka masih sekitar umur tujuh tahun. Banyak hal yang dilakukan dan dialami saat seorang bocah berumur segitu. Osamu berpikir keras, mencari potongan memori sepuluh tahun lalu tentang ia membela seorang cewek karena kondisi fisik yang entah apa itu.

Lalu Osamu kepikiran, apa jangan-jangan Rahasia salah kenal orang? Maksudnya, sepuluh tahun lalu itu, rambutnya dan Atsumu masih belum dicat seperti sekarang. Dan karena wajah mereka sama … mungkin saja ternyata yang membela Rahasia malah kakaknya, kan?

Seketika itu Osamu merasakan kekecewaan dalam hatinya. Tapi ia masih ingin berharap, karena, yah, siapa tahu saja dia benar-benar lupa.

/'Kepada Atsumu,
Kamu inget gak waktu kita umur tujuh tahun, ada anak cewek seumuran kita yang diejek gara-gara kondisi fisiknya?
'/

/'Dari Atsumu,
Banyak banget, atuh. Lebih spesifik, napa? Kayak, kondisi fisiknya gimana?
'/

Eh iya banyak ya. Osamu menghela, mungkin dia harus mengorek lebih lanjut dari Rahasia.

/'Kepada Rahasia,
Kamu yakin itu aku? Waktu umur tujuh tahun, warna rambut kami serupa loh. Mungkin sebenarnya itu Atsumu?
Dan, kondisi fisikmu saat itu memangnya kenapa?
'/

/'Dari Rahasia,
Aku tahu itu kamu, karena saat Osamu
-san membelaku itu, salah satu yang mengejekku adalah Atsumu-san :)
Osamu
-san bentak Atsumu-san untuk berhenti, lalu kakakmu mendenguskan namamu. Makanya aku tahu yang mana dari kalian yang kukagumi :)
Untuk kondisi fisikku, menurut Osamu
-san saat itu, aku tampak sehat dan tidak ada masalah. Kuingat betul dulu Osamu-san bilang iri dengan usaha keluargaku yang membuatku punya tubuh seperti itu.'/

Osamu terhenyak. Samar-samar potongan memori itu mulai menyeruak keluar ke permukaan. Tidak secara jelas, tapi sepertinya memang ada kejadian seperti itu. Osamu tidak ingat siapa yang diejek, siapa saja yang mengejek, atau apa pun. Tapi ia ingat memang pernah menyuruh Atsumu berhenti membuat gadis kecil itu menangis.

Entah ingatan abangnya bisa diandalkan atau tidak, tetapi Osamu tahu otaknya sendiri tidak bakal mampu mengingatnya. Buru-buru ia screenshot tiga pesan terakhir dari Rahasia itu dan dikirimnya ke sang kakak. Sembari menunggu respon Atsumu, Osamu bahkan tidak mampu mengetik kata-kata untuk dikirimkan pada si Rahasia. Sambil menunggu bantuan dari Atsumu, Osamu berpikir keras, mengingat insiden sepuluh tahun itu.

' … Ayah dan kakakku memang jago masak. Setidaknya seminggu sekali mereka biasa mencoba resep baru, makanya aku yang menjadi kelinci percobaan mereka bisa menjadi gembul begini.'

Terhentak, sepertinya ia pernah punya percakapan yang mirip dengan Rahasia. Tidak sama, tapi—

Ponsel Osamu berbunyi. Kali ini bukan karena ada pesan masuk, melainkan karena ada panggilan. Dilihatnya layar ponsel, telepon itu dari sang kakak.

"'Samu?" sahut yang di seberang.

"Apaan?" balas Osamu.

"Aku gak begitu inget jelas kejadian saat itu sih," ujar Atsumu. "Tapi kalau gak salah, kamu memang pernah marahin aku gara-gara aku ngejek anak cewek yang gembrot itu."

Osamu mengernyit. "Gembrot gimana?"

"Dia gendut, pendek pula. Pipinya chubby sih, tapi kayaknya cuman karena gendut."

"Kamu inget gak, aku belain dia gimana?"

"Eh? Hmmm, aku inget kamu ada ngomong iri-iri gitu. Kayaknya kalau gak salah kamu bilangnya iri karena orang rumah cewek itu jago masak semua, makanya cewek itu bisa makan enak tiap hari sampai tubuhnya sehat begitu."

" … orang rumahnya jago masak," beo Osamu.

"Kalau gak salah, lho ya."

" … 'Tsumu, makasih."

Belum mendapat balasan dari kakaknya, Osamu langsung mengakhiri panggilan telepon itu. Ia kembali masuk ke aplikasi pesan, mengetik sesuatu yang singkat pada Rahasia.

.

.


.

.

Memang baru beberapa bulan, tetapi ketika aku nekad memutuskan untuk memberitahu Osamu nomor telepon keduaku, aku tahu ini tidak akan bisa menjadi rahasia jangka panjang. Butuh keberanian luar biasa bagiku untuk memberitahunya alasanku untuk mengaguminya. Osamu tidak bodoh, jadi walau tidak secepat itu, ia bisa saja mengorelasikan ceritaku sebagai diriku dan ceritaku sebagai Gadis Rahasianya.

Makanya ketika pesan darinya masuk ke ponselku setelah hampir beberapa belas menit absen, aku sudah menyiapkan diri. Dan memang aku tersenyum kecut membaca pesan singkat itu.

/'Dari Dia,
Kaji?
'/

.


.

Bersambung

.


.

A/N: Bagian akhir, saat Osamu kirim pesan cuman nyebut nama OC, itu udah Fei rencanain dari awaaaaal banget, ketika bahkan baru kelar bikin prolog~