.
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
.
Rating : M (Just for save)
Genre's : Adventure, Supernatural, Half-Humor, Fantasy, Little bit-Romance, School-Magic, Martial Arts, etc...,
Pair : Naruto x Akame, ? x ?
Warn : Always Mainstream idea!, Many more typo, alur acak!, much OC from other anime, OOC Chara, AU, Mix Modern Life and Past Life setting, bad EYD, bahasa kaku dsb, and etc...,
.
Play OP Song : Konomi Suzuki - Redo
.
Chapter 10 : Hellsalem's Lot City
.
"Hellsalem's Lot?" Akame menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar nama dari kota asing yang mereka kunjungi sekarang.
"Aku baru tau kalau ada kota seperti ini." Kirito mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dapat terlihat berbagai masyarakat serta arsitektur bangunan kota ini sangat beragam dan jauh berbeda dari Kerajaan Pendragon.
Naruto menoleh kearahnya dan memandang ke depan. "Kurasa itu wajar, tempat ini hanya di ketahui oleh segelintir orang saja di dunia kita."
Yuuki memasang wajah berpikir dengan telunjuk yang menempel di dagunya. "Dengan kata lain, kita sekarang berada di dunia alternatif?" Ucapnya dengan nada polos.
Menggelengkan kepalanya pelan, Naruto kemudian melirik kearahnya. "Tidak, walau dibutuhkan portal untuk memasuki kota ini. Tetap saja tempat ini masih bagian dari dunia kita, hanya saja terdapat kekkai super kuat yang membuatnya tidak nampak di dunia luar. Jadi, dimata orang awam ini mungkin bisa di bilang dimensi yang berbeda walau kenyataannya tidak seperti itu. "
Gadis berambut ungu itu mengangguk paham. "Begitu." Irina yang berada di sebelahnya sedikit tertawa kecil ketika melihat sikap riang dan polos sahabatnya tersebut.
"Err, aku sedikit canggung ketika melihat ras lain yang hidup berdampingan seperti ini." Ujar Kirito saat melihat seseorang yang berasal dari ras berbeda bercengkrama satu sama lain di pinggir jalan.
Mereka yang mendengarnya kemudian melihat kemana Kirito memandang.
"Emm, kurasa aku tau apa yang kau rasakan." Sambung Irina dengan memasang wajah agak kikuk.
Walaupun di dunia mereka saat ini kondisi masih terbilang damai. Tetap saja permusuhan antar ras tetap ada, mengingat perang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu. Jadi, melihat berbagai ras yang sudah sewajarnya saling membenci terlihat berbicara akrab tentu saja menjadi pemandangan berbeda bagi mereka.
"Ras tidak berlaku di tempat ini, jadi di mata mereka. Semua masyarakat yang ada di kota ini merupakan hal yang sama dan tidak memandang apapun, entah kau manusia, vampire, iblis, atau sejenisnya." Naruto membalas dengan santai lalu berjalan pelan yang kemudian diikuti mereka.
"Fiu, terdengar sedikit menyenangkan bagiku." Kirito sedikit bersiul saat mengetahui itu.
Hidup damai tanpa memandang seperti apa dirimu, tentu saja siapa yang tidak mau hidup seperti itu? Tidak ada orang di dunia ini ingin menghabiskan hidupnya hanya dengan bertarung satu sama lain.
Mungkin ada beberapa maniak di luar sana yang seperti itu, tetapi hei! Dirinya tidak seperti mereka, perdamaian adalah sesuatu yang ia cari mengingat desanya dahulu sering di serang oleh hewan-hewan liar ataupun bandit.
Iris merah Naruto sedikit melirik kearah pemuda berambut hitam itu. "Jika kau ingin tinggal disini sebaiknya kau perlu mempersiapkan dirimu."
Ucapan Naruto sedikit mengundang perhatian mereka, ia lalu terhenti dan melihat kearah sebrang jalan membuat mereka juga ikut terhenti.
"Naru, ada apa?" Tanya Akame saat kekasih pirangnya menghentikan langkah.
Naruto tak menjawabnya, Akame yang melihatnya ingin bertanya kembali tetapi suara ledakan cukup kuat terjadi di depan mereka. Sontak mereka langsung mengalihkan penglihatan masing-masing kepada sumber ledakan.
"A-Apa yang terjadi?" Irina nampak tergagap karena tidak mengetahui apa yang terjadi barusan.
Mereka kemudian melihat seorang wanita dengan telinga dan ekor kelinci serta seorang pria betubuh besar yang memiliki aksen harimau tengah bertarung.
Pertarungan mereka terlihat sedikit membuat keadaan disekitarnya nampak kacau. Bahkan beberapa toko tak bersalah mengalami kerusakan yang membuat sang pemilik berteriak histeris.
"P-Pertarungan? Di tengah jalan seperti ini?" Sebutir keringat muncul di dahi Kirito ketika menyaksikan keduanya.
"W-Wanita kelinci?"
"P-Pria harimau?"
Naruto dan Akame memasang wajah pokerface mendengar perkataan Yuuki dan Irina. Apakah keduanya baru pertama kali melihat ras yang memiliki fitur hewan seperti itu?
Perkelahian keduanya nampak semakin sengit, hingga akhirnya mereka di tengahi oleh seorang yang memakai pakaian seperti petugas keamanan. Akan tetapi, bukannya mengamankan. Petugas itu malah terlihat dalam perkelahian yang membuat mereka sweatdrop.
"Tidakkah ada yang ingin menghentikan pertarungan mereka?" Kirito memandang kejadian di depannya dengan deadpan.
Pertarungan terjadi di tengah jalan, dan tidak ada siapapun yang menghentikannya? Apa mereka yang berada di sekitar tidak merasa terganggu dengan itu? Semua orang terlihat berlalu lalang seolah tak terjadi apapun saat ini.
Naruto mengangkat bahu dengan santai. "Itulah kejadian sehari-hari di kota ini. Pertarung semacam itu sudah menjadi jadwal wajib dalam agenda mereka." Pemuda itu kemudian melanjutkan langkahnya.
"Entah kenapa aku heran mengapa banyak sekali orang yang betah walau itu semua terjadi sepanjang waktu." Balas Kirito.
Akame mengangguk setuju. "Benar, tetapi kalau di pikir-pikir setidaknya lebih baik dari persitegangan yang terjadi di dunia kita." Ucapnya.
Memang, terkadang masalah sepele bisa menyebabkan masalah lain yang lebih besar jika itu terjadi antara 2 kerajaan berbeda di dunia mereka. Karena itulah kerajaan di setiap benua sepakat untuk tidak saling menganggu satu sama lain untuk mencegah perang baru yang mungkin akan tercipta.
"Etto, ngomong-ngomong Naruto-san, kita akan kemana?"
Perkataan Yuuki itu membuat Naruto menghentikan langkahnya kembali menyebabkan Akame menabrak punggung tegapnya, membuat gadis itu mengaduh pelan dan mengusap hidungnya.
"Benar juga, aku hampir melupakan itu." Gumam Naruto sembari mengusap rambutnya. Ia kemudian berbalik dan memandang mereka berempat.
"Kalau begitu, lebih kita segera berpencar. Itu akan memudahkan kita untuk mencari informasi. Kirito, kau bersama Yuuki dan Irina. Sedangkan aku akan bersama Akame. Dalam 1 atau 2 jam kita akan berkumpul lagi disini." Naruto kemudian menyerahkan benda yang sebelumnya pernah ia berikan pada Kirito.
"Untuk berjaga-jaga, aku akan mengetahui lokasi kalian melalui benda itu." Naruto lalu merangkul Akame, mengabaikan keluhan gadis itu dan berbalik pergi serta melambaikan tangannya pada ketiga orang di belakangnya.
Kirito, Yuuki dan Irina berkedip sesaat dan saling memandang setelah kepergian sepasang kekasih tersebut.
"Hah, dia itu memang suka seenaknya." Keluh Kirito dengan helaan napas pasrah.
"Y-Yah, mereka sepasang kekasih bukan?" Irina memakluminya dengan senyuman canggung.
"Mau bagaimana lagi, lebih baik kita segera bergerak. Apa kalian ada saran untuk tempat yang akan kita kunjungi?" Tanya Kirito pada kedua gadis teman sekelasnya. Irina dan Yuuki kemudian saling memandang setelah mendengar itu.
.
Bersama Naruto dan Akame. Keduanya terlihat berjalan berdampingan dengan Akame yang memeluk sebelah lengan pemuda pirang tersebut.
Akame sesekali mengedarkan penglihatannya ke sekitar, sungguh akan sangat menakjubkan jika persatuan antar ras yang ada di kota ini bisa terjadi juga di dunia mereka. Walau sepertinya akan sedikit mustahil dikarenakan mereka semua memiliki sejarah panjang, baik itu menyenangkan atau menyakitkan. Mungkin butuh puluhan atau ratusan tahun agar seluruh ras dapat hidup damai sepenuhnya.
"Menikmati apa yang kau lihat?"
Akame yang mendengar itu mengangguk pelan dan mengeratkan pelukannya. "Kurasa, melihat mereka hidup damai seperti ini terkadang membuatku sedikit iri dan prihatin dengan kondisi di dunia kita."
"Hm, dunia kita tak seburuk itu kau tau? Walau perang pernah terjadi tetapi, beberapa sosok yang memiliki posisi penting di tiap kerajaan lain sebenarnya juga mendambakan perdamaian seperti ini." Balas Naruto.
Tentu saja, setiap raja pastinya menginginkan perdamaian dan kesejahteraan untuk rakyatnya bukan? Kecuali yah, raja bodoh yang hanya memikirkan kekuasaannya saja.
"Eh? Benarkah? Aku baru tau itu." Akame sedikit terkejut dengan fakta itu.
Naruto mengangkat bahunya. "Aku pernah bertemu beberapa dari mereka. Mereka tak seburuk yang dipikirkan."
Beberapa tahun berkelana bersama gurunya, sudah banyak tempat yang ia kunjungi dalam perjalanannya. Bahkan bisa di bilang ia sudah mengunjungi seluruh kerajaan besar yang ada di dunia ini sekaligus bertemu pemimpin mereka.
Mau itu ras iblis, malaikat, atau warbeast seperti rakun, kucing, atau rubah pun. Ia sudah pernah menemui beberapa dari mereka dan bertarung tentunya. Salahkan saja gurunya yang mempunyai banyak kenalan di berbagai penjuru dunia, jadi dirinya pun ikut mengenal beberapa dari mereka.
"Benar juga, aku baru ingat kalau kau dulu berpetualang hampir ke seluruh dunia bersama gurumu itu." Desah Akame dengan lelah. Naruto pernah menceritakan sedikit tentang perjalanannya sebelum ia bergabung dengan Night Raid padanya.
Night Raid sendiri sebenarnya hanya pernah bekerja dengan Kerajaan Celestia yang sebagian besar berisi ras malaikat-ah tidak. Di Celestia juga terdapat malaikat bersayap hitam, mereka memiliki sayap hitam karena pernah melakukan hal tabu atau yang di larang oleh hukum kuno leluhur mereka. Itu menjadikan warna putih dalam sayap mereka digantikan oleh hitam karena noda dalam hidup yang mereka lakukan.
Jadi, di Celestia saat ini terbagi 2 kekuasan antara Angel yang memiliki sayap putih dan Fallen Angel yang bersayap hitam. Biarpun begitu, situasi mereka sebenarnya cukup stabil dan saling menghormati satu sama lain.
Karena, dibanding 2 kerajaan besar lainnya, hanya Celestia lah yang sedikit bersahabat baik rakyat ataupun petingginya kepada Kerajaan Pendragon.
Mereka bertemu dengan ras lain hanya ketika pertarungan saja dalam quest yang sedang mereka laksanakan, seperti vampir, iblis ataupun warbeast.
"Yah, memang beberapa dari mereka menginginkan perdamaian. Tapi tak sedikit juga yang masih menyimpan kebencian kepada ras lain." Pandangan Naruto menjadi datar sesaat ketika mengatakan itu.
Mau di ras apapun, pasti ada 1 atau 2 individu yang masih memiliki kebencian mereka terhadap ras lain, dan itu sudah tak bisa dibantah. Dimana ada orang yang menginginkan perdamaian, pastinya ada juga orang yang menginginkan kekacauan. Tak heran jika gurunya dulu pernah mengatakan jika 'seluruh mahkluk hidup itu menyebalkan'. Mungkin itulah yang membuatnya menutup diri dari dunia.
"Mm, ngomong-ngomong kita mau kemana?"
Naruto memegang dagunya sebentar ketika Akame menanyakan itu. "Berkeliling di sana-sini mungkin akan sedikit melelahkan." Gumamnya berpikir sesaat.
Akame memiringkan kepalanya mendengar itu. "Naru?"
'Ah, aku ingat jika orang itu mendirikan sebuah bar di kota ini. Mungkin ada gunanya kalau aku mengunjunginya.' Pikirnya, lalu berjalan kembali.
"Ayo, aku tau tempat yang cocok untuk mencari informasi." Ajaknya santai, Akame yang mendengarnya hanya menurut saja dan menyandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu.
"Hmm, terserah kau saja." Balasnya singkat, mengingat Naruto pernah mengunjungi kota ini sebelumnya.
Mereka terlihat berjalan berdampingan, menghiraukan tatapan di sekitarnya, yang sebagian besar dari gadis-gadis entah itu manusia ataupun lainnya, terlihat memandang Naruto dengan sedikit rona merah di pipi mereka.
Beberapa menit berjalan bersama, Naruto menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah tempat yang memiliki plang di atasnya, bertuliskan 'Agil's Bar', yang ia tebak merupakan bar dari orang yang di maksudnya.
Akame memerhatikan tempat itu dengan seksama. "Apa ini tempatnya?" Tanyanya yang dibalas anggukan singkat oleh pemuda itu.
Naruto lalu melangkah masuk ke dalam bar itu dengan mendorong secara pelan pintu masuknya.
Di dalam, ia bisa melihat beberapa orang sedang duduk dan berbincang satu sama lain. Adapun jumlah mereka, tidak terlalu ramai sebenarnya. Hanya ada 5 orang termasuk bartender pria bertubuh cukup tinggi yang tengah mengelap sebuah gelas dari tempatnya.
Senyum tipis tersungging di bibirnya ketika mengenal siapa bartender tersebut. Ia kemudian melangkah dan duduk di kursi yang tersedia di sana.
Bartender yang mengetahui seseorang duduk di depannya terlihat tersenyum kecil, orang itu terlihat tersenyum kecil dan masih fokus terhadap gelas yang dibersihkannya.
"Yo! Selamat datang di bar milikku. Sebelum kalian memesan, bisa tunggu aku membersihkan gelasku dulu?" Pintanya dengan santai tanpa menoleh sedikitpun.
Naruto terkekeh kecil melihat itu. "Beberapa tahun tak melihatmu, kau ternyata tak berubah, Agil."
Bartender pria yang di panggil Agil itu sontak membuka matanya dan menoleh ke pelanggan yang baru saja duduk di depannya. Ia dapat melihat seorang pemuda pirang tampan bermata merah yang memasang senyum kecil padanya. Bersama dengan gadis berambut hitam yang memiliki mata sama juga duduk di sebelahnya.
"N-Naruto?!" Kagetnya dengan nada cukup keras.
Naruto mengangkat sebelah tangannya untuk menyapa. "Yeah." Balasnya santai.
"K-Kau sungguh Naruto?!" Ucapnya tak percaya. Membuat Naruto memutar bola matanya dengan malas.
"Kau pikir siapa lagi?" Balasnya dengan bosan. Dirinya cukup yakin bahwa hanya dia lah penghuni tempat ini yang memiliki rambut pirang.
"Y-Yahaha maaf, sungguh mengejutkan bagiku melihatmu lagi setelah cukup lama kau pergi." Agil tertawa renyah lalu meletakkan gelasnya.
Terakhir pertemuan mereka itu terjadi beberapa tahun lalu, saat itu Naruto sedang berkunjung ke kota ini bersama dengannya. Dia saat itu masih bekerja sebagai pelayan dari sebuah restoran. Kesan pertemuan mereka pun terbilang cukup baik mengingat gurunya itu ada bersamanya, tentu saja pemuda pirang ini tak bisa berbuat seenaknya.
"Aku sedikit kaget ternyata kau benar-benar membangun sebuah bar di kota ini." Naruto berbicara dengan tenang sembari melihat sekitar tempat yang di kunjunginya ini. Saat pertemuan pertama mereka, Agil memang pernah berkeinginan untuk membuka tempat usahanya sendiri.
Sedangkan Akame yang duduk di sebelahnya masih diam dan lebih memilih memperhatikan keduanya.
Agil kemudian terkekeh kecil. "Saat itu kupikir daripada aku bekerja di tempat orang. Lebih baik jika aku membuka usaha sendiri, dan istriku pun menyetujuinya."
"Oh, Trish-san kah? Mengingat dia cukup handal mengelola uang, kupikir ini hal yang cocok bagimu." Naruto tersenyum tipis setelah mengatakan itu.
Berbeda dengan Agil yang payah dalam mengelola uang, sebaliknya. Istrinya, Trish, cukup handal dalam mengelola itu semua. Sehingga membangun bar untuknya adalah hal yang tepat, karena Agil juga sebenarnya cukup baik dalam melayani konsumennya.
"Yah, begitulah. Ngomong-ngomong, siapa gadis cantik yang duduk di sebelahmu ini?" Agil bertanya dengan penasaran. Setahunya pemuda pirang di depannya ini selalu bepergian sendirian saja. Kalaupun bersama orang, tentu saja orang itu adalah gurunya.
Naruto menoleh kearah Akame dan tersenyum tipis. "Oh, gadis cantik ini?" Ia mengangkat alisnya dengan penuh arti, Akame memiliki sedikit rona merah di pipinya saat mendengar itu.
Pemuda itu kemudian mengangkat tangannya seolah memperkenalkan Akame. "Dia adalah Akame, seorang gadis galak, sekaligus manja yang sekarang sedang menjadi-"
Sebuah tangan putih terjulur dan menarik dengan keras pipi dari pemuda pirang tersebut. Naruto sedikit meringis ketika merasakan intensitas tarikan itu lebih kuat dari biasanya.
"Naru." Akame berujar pelan dengan wajah tertunduk.
Terkekeh pelan, Naruto mengusap lembut lengan gadis itu yang sedang menarik pipinya. Akame kemudian melepaskan cubitannya dan sedikit menundukkan kepalanya pada Agil serta memperkenalkan dirinya.
"Namaku Akame, aku kekasih dari baka-Naru, senang bertemu denganmu Agil-san." Ia berujar dengan sopan dengan sedikit rona merah ketika melakukannya.
Agil menjatuhkan lap yang ia gunakan, ekspresi membeku dengan pandangan kosong setelah mendengar kata 'kekasih' terucap dari bibir gadis berambut hitam yang memperkenalkan dirinya sebagai kekasih teman pirangnya ini.
Melihat ekspresinya, mau tak mau membuat Naruto kembali memutar matanya. Akame sendiri sedikit terkikik pelan, tentu saja ia paham apa yang di pikirkan oleh bartender pria itu. Jika kau mengenal Naruto, pasti kau akan merasakan hal yang sama dengannya.
"H-Hei Naruto...?" Agil berusaha berkata dengan lancar padanya.
Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
"Aku...baru tau...kalau kau..." Ia terlihat menggantung ucapannya.
"...?"
"...tertarik dengan...seorang gadis." Sambungnya yang membuat pemuda itu memasang wajah datarnya disertai perempatan yang muncul di dahinya, sedangkan Akame hanya tertawa kecil.
Naruto mendengus pelan setelah mendengarnya. "Aku masih normal kau tau?" Ucapnya dengan bosan.
Agil terkekeh mendengar itu. "Maaf, kupikir yang kau pedulikan hanya pertarungan saja, benar bukan Akame?" Agil memandang pada gadis itu yang dibalas anggukan singkat olehnya.
"Tepat sekali, aku sendiri heran mengapa bisa jatuh cinta padanya." Gadis itu terkikik kecil setelah mengatakannya, ia mengecup pelan pipi pemuda saat melihatnya masih mendengus.
"Yah, lupakan itu. Kau mau minum apa? Biar kuberikan secara gratis, berhubung sebagai tanda pertemuan kita setelah sekian lama." Agil lalu berjalan menuju rak-rak yang berisi berbagai minuman alkohol maupun non-alkohol.
Naruto melambaikan tangannya dengan malas. "Aku kurang tau jenis minuman seperti itu, jadi kuserahkan padamu."
"Baiklah, bagaimana dengan-"
"Ah untuk Akame, bisa kau berikan jus atau jenis lainnya selain yang ber-akohol? Dia agak rentan terhadap minuman seperti itu." Naruto memotong ucapannya sebelum Agil berbicara.
Pria itu mengangguk paham. Dia masih terlihat mencari minuman yang tepat untuk di keduanya.
"Tentu, tunggulah sebentar-"
"J-Jangan memperlakukanku seperti anak kecil yang hanya bisa meminum j-jus saja!"
Ucapan Agil harus kembali terpotong oleh Akame yang sepertinya kesal dengan apa yang Naruto katakan.
Naruto menoleh kearahnya dengan deadpan serta keringat di dahinya. Memangnya jus hanya diminum oleh anak kecil saja? Kalau ia tidak salah, jus bahkan terdapat dalam menu wajib di beberapa restoran yang ada di Canaria.
Akame sendiri memandang pemuda di depannya dengan tatapan antara kesal dan juga malu, terbukti dari rona merah tipis yang terlihat di kedua pipi putihnya.
"Jus itu minuman berbagai kalangan usia kau tau-"
"B-Berisik!" Akame berteriak memotong ucapan Naruto yang hanya memasang wajah blank.
"A-Agil! Berikan aku minuman yang sama dengannya!"
Pria itu terlihat berkeringat memandang keduanya. "O-Oke." Ia lalu menatap kearah Naruto untuk meminta persetujuannya.
Pemuda itu hanya melambaikan tangannya membuat pemilik kafe tersebut melanjutkan untuk membuat minuman yang dijanjikan.
Naruto kemudian melirik Akame yang sedang menatapnya dengan kesal. "Tidak perlu memaksakan diri-"
"D-Diam! Itu hanya segelas bir saja! T-Tidak mungkin aku akan mabuk hanya karena meminumnya!" Potongnya dengan sengit. Tetapi pemuda itu hanya terkekeh pelan sebagai jawaban.
"Kata orang yang mabuk hanya dengan setenggak saja." Naruto membalas dengan santai yang sepertinya bertujuan untuk menggoda gadis itu.
"G-Grrr." Akame hanya menggeram kesal dengan tingkah kekasihnya itu lalu memutuskan untuk membuang mukanya dan bersedekap dada membuat Naruto menghela kecil.
Sebenarnya mabuk bukanlah masalah utamanya, tetapi perubahan sikap Akame ketika mabuklah yang menjadi masalah. Terakhir kali gadis itu mabuk, seluruh anggota Night Raid dibuat kesusahan olehnya. Terutama tentu saja dirinya sendiri, mengingatnya kembali membuatnya mendesah lelah.
Dirinya sedikit lupa berapa lama Akame memeluknya ketika mabuk saat itu, di tambah dengan efeknya yang entah kenapa lama sekali hilang. Ia harus merelakan tubuhnya di tempeli selama berjam-jam oleh gadis cantik pemegang gift teigu tersebut.
Tak lama kemudian Agil datang dan meletakkan dua buah gelas untuk mereka berdua.
"Tak perlu khawatir tentang itu, aku memberikan kalian minuman yang ringan untuk diminum." Pria itu berkata dengan tenang lalu mengambil gelas lainnya untuk dibersihkan menggunakan lap.
Naruto mengambil salah satu gelas tersebut dan mencermatinya. "Hmm." Gumamnya pelan.
"Shandygaff, dari tampilannya memang seperti bir pada umumnya, tapi ini sangatlah ringan untuk diminum. Jadi untuk orang mudah mabuk sekalipun, mereka tak akan terlalu mabuk walau meminum ini." Agil menjelaskan mengenai minuman yang ia sajikan untuk keduanya.
"Begitu." Naruto kemudian meminum bir tersebut lalu setelahnya ia memandang gelasnya.
"Hm? Ale jahe kah?"
Agil tertawa kecil mendengar itu. "Aku sudah menduga jika kau akan bisa mengetahuinya."
Naruto hanya mengangkat bahunya dan meminumnya kembali. "Jahe memiliki keunikan sendiri yang pastinya orang akan mengetahui itu walau hanya sedikit merasakannya." Katanya dengan santai.
Dengan Akame, gadis itu tengah memandang segelas bir di depannya dengan ragu dan sepertinya itu tak lepas dari pandangan Naruto.
'H-Hanya seteguk saja, aku pasti bisa melakukannya, o-oke?' Pikirnya dengan penuh keraguan.
Tatapannya kemudian beralih kepada Naruto yang menatapnya dengan senyuman serta alis yang terangkat. Alisnya sedikit berkedut disertai dengan rona merah yang semakin kentara di pipinya, si baka itu pasti sedang meledeknya saat ini!
Melihat kembali segelas bir itu, ia kemudian mengenggamnya dengan penuh keyakinan. Lihat saja, baka-Naru itu akan menyesal telah meremehkannya nanti!
'A-Aku tak peduli lagi!' Dan dengan itu, Akame meminum bir tersebut sampai habis dan meletakkan gelasnya dengan kasar di atas meja lalu terdiam dengan surai rambut yang membayangi wajahnya.
Naruto dan Agil melihat itu dengan setetes keringat. Namun Naruto memilih untuk membiarkannya, lagipula sepertinya Akame baik-baik saja, terlihat dari diamnya gadis itu. Yah, sepertinya.
"Jadi, ada alasan apa kau berkunjung lagi kemari?" Agil langsung bertanya pada intinya.
Tentu tidak mungkin teman pirangnya itu datang tanpa alasan ke Hellsalem's Lot. Mungkinkah ada hal penting yang sedang terjadi? Agil mengangkat bahunya, ia tidak terlalu memikirkan hal yang terjadi di dunia luar sana. Lagipula di tempat inilah dirinya tinggal.
Naruto lalu meletakkan tangan kirinya di atas meja dan menyandarkan wajahnya. "Langsung pada intinya kah, tidak masalah. Lebih cepat lebih baik."
Tatapannya kemudian menjadi sedikit serius. "Hei Agil, apa dalam beberapa hari ini ada pendatang baru yang muncul?"
Cara berbicara Naruto yang datar sekaligus serius itu sedikitnya membuat dirinya sedikit mengeluarkan keringat. Sungguh, dalam sekejap aura bersahabat yang di keluarkan pemuda itu lenyap begitu saja seolah tak pernah ada.
"Pendatang baru kah? Aku kurang mengetahui hal itu karena..., Tentu kau mengerti apa maksudku kan?" Balasnya.
Memang, sangat sedikit orang luar berkunjung ke Hellsalem Lot, karena hanya segelintir saja yang mengetahui tempat ini. Kalaupun ada pendatang baru, kemungkinan ia di ajak oleh salah satu orang ternama di Hellsalem's Lot ini. Adapun kalau tanpa ajakan, mungkin itu karena ketidaksengajaan.
Ini disebabkan karena celah penghalang yang melindungi kota sedikit terbuka dalam beberapa bulan sekali, jadi kemungkinan orang yang tak beruntung sedang berada di dekat celah ini lah yang tertarik ke dalam Hellsalem's Lot.
Namun, sudah beberapa bulan ini penduduk Hellsalem's Lot tidak ada yang berkunjung keluar. Mereka juga tak melihat pendatang baru yang berlalu lalang di kota ini. Mengapa? Hampir seluruh penduduk kota ini sudah mengetahui dan mengenal satu sama lain. Tentunya jika ada pendatang baru, mereka pasti akan menyadarinya.
"Begitu kah, sayang sekali-"
"Tapi, kalau tidak salah aku pernah mendengar sebuah berita. Tidak dapat dikatakan sebuah berita juga sih, hanya desas-desus saja." Tambahnya membuat Naruto meliriknya.
"Desas-desus?"
Ia mengangguk. "Ya, aku juga mengetahui ini dari salah satu pengunjung bar-ku. Isi dari desas-desus tersebut merupakan sebuah pencurian besar yang terjadi di Distrik 13." Sambungnya dan meletakkan gelas yang ia bersihkan pada rak.
"Distrik 13..." Iris merah Naruto sedikit menyipit.
Agil lalu memandang pemuda pirang itu. "Kau tau apa yang ada di Distrik 13 bukan?" Naruto mengangguk sebagai balasan.
"Kalau ingatanku tidak salah, itu tempat dimana pembuatan berbagai alat, entah itu suku cadang, atau sejenisnya diciptakan bukan?"
"Benar, barang-barang elektronik ataupun senjata seperti meriam. Itu semua menggunakan barang yang diciptakan dari Distrik 13." Agil membuang sedikit napasnya.
"Tentu tak ada orang bodoh yang incin mencuri sesuatu di tempat itu, mengingat banyak sekali penjaga yang menjaganya. Tapi, para pencuri ini tidak hanya berhasil menyusup, mereka bahkan mencuri dan mengalahkan sebagian besar penjaga di sana." Agil kemudian mengambil gelas lain kembali untuk melanjutkan kegiatan membersihkannya.
"Dengan kata lain, mereka berkelompok kah." Naruto berbicara dengan pelan. Ia mengenggam gelas bir di depannya dan menggoyangkannya dengan pelan.
"Pemerintah kota sudah menugaskan untuk mencari dan menangkap mereka, tapi tidak ada dari pencarian itu yang menghasilkan titik terang sekecil apapun." Agil berkata dengan tenang seolah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Lagipula ia yakin jika beberapa orang yang terkenal di kota ini akan membereskan itu tak lama lagi.
"Yah, itu hanya desas-desus saja. Kalaupun memang benar terjadi, mungkin para orang ternama di kota ini akan segera mengatasinya." Ucapnya dengan santai.
"Apa ada yang terjadi di luar sana?" Lanjutnya kemudian dengan bertanya.
Naruto menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, hanya masalah kecil saja. Dan kebetulan juga aku yang ditunjuk untuk menyelesaikannya." Balasnya.
"Begitu. Yah, daripada kau bertanya padaku bukankah kau lebih baik bertanya pada orang itu?" Agil berkata dengan mengangkat sebelah alisnya.
Pemilik bar itu yakin jika Naruto pasti sudah mengenal orang yang ia maksud tersebut, tentu jika terjadi sesuatu di kota ini. Pastinya orang itu akan menjadi yang pertama mengetahuinya bukan?
Naruto memejamkan matanya dengan malas. "Siapa yang tau jika ada kemungkinan kau mengetahuinya bukan?" Katanya dengan santai membuat Agil berkeringat dengan tingkahnya yang terlalu santai.
"Ngomong-ngomong, bukankah kekasihmu itu sudah terlalu lama diam?" Agil berujar setelah menoleh kearah Akame sesaat sebelum kembali memandang Naruto yang masih bersandar dengan tangannya diikuti ekspresi bosan diwajahnya.
"Biarkan saja, dia memang seperti itu jika sedang-"
"Naru~"
Naruto tersentak ketika mendengar nada yang di keluarkan oleh Akame. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya kepada gadis itu. Dirinya kemudian dapat melihat Akame yang saat ini memasang wajah sayu diikuti rona merah terang di kedua pipinya.
"Dia...mabuk bukan?" Agil memandangnya dengan sweatdrop. Serius, bahkan bir kelas ringan saja membuatnya mabuk?
Naruto menggaruk rambutnya dengan lelah. "Aku sudah menduga ini." Balasnya, membuat Agil langsung menatapnya.
"Jika kau sudah tau ini akan terjadi, mengapa kau masih membiarkannya?" Tambahnya masih dengan sweatdrop.
Naruto terkekeh pelan. "Biarpun aku menolaknya, kekeras kepalaannya melebihiku kau tau?" Pria yang menjadi lawan bicaranya itu hanya memutar dengan malas.
"Kau juga sama saja dengannya. Hah, pasangan yang sama-sama keras kepala, sungguh ironis sekali." Ucapnya dengan sedikit nada sinis di sana yang membuat perempatan kecil tercipta di dahi Naruto.
"Aku tak ingin mendengar itu dari orang yang tak bisa menghitung dan takut dengan istrinya sendiri." Balasnya santai.
Kini giliran Agil yang memiliki perempatan kecil di dahinya setelah mendengar apa yang Naruto katakan padanya.
Baru saja ingin membalas, kegiatan keduanya terhenti ketika Akame langsung memeluk Naruto dan melingkarkan lengannya pada leher pemuda pirang itu. Gadis itu kemudian menyandarkan wajahnya pada dada kekasih pirangnya.
"Naru~, ayo pulang~" Rengeknya dengan nada setengah sadar.
Naruto mencoba mendorongnya menjauh dengan lembut, namun sepertinya pelukannya terlalu kuat.
"Sebentar lagi oke? Bisa lepaskan aku?" Pinta Naruto masih mencoba melepaskannya. Tetapi Akame malah semakin menguatkan pelukannya.
"Mou~, tidak mau! Ayo pulang sekarang~!" Rengeknya lalu menggesekkan wajahnya seolah memaksa Naruto untuk segera menurutinya.
Agil tertawa kecil melihat keduanya. "Lebih baik kau turuti saja ucapannya. Lagipula aku yakin kalian berdua memerlukan istirahat setelah perjalanan kemari bukan?" Ucapnya.
Naruto nampak memikirkan apa yang dikatakan olehnya, mungkin itu benar. Memang dirinya tak terlalu lelah, tidak lelah sama sekali bahkan. Tapi setidaknya ia perlu membiarkan Kirito, Yuuki dan Irina beristirahat, terutama Akame yang sepertinya saat ini dalam keadaan mabuk berat.
"Kalau begitu, apa kau tau tempat yang menyediakan penginapan di sekitar sini?" Tanyanya.
Agil memegang dagunya sambil berpikir sesaat. "Penginapan ya, tunggu sebentar." Pria itu menunda pekerjaannya lalu mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu. Setelah selesai, ia memberikannya pada Naruto.
"Pergilah ke alamat ini, itu adalah tempat sebuah penginapan dimana Trish bekerja. Aku yakin dia akan langsung mengenalmu disana." Ucapnya dengan senyuman kecil.
Naruto melihat alamat itu sebentar lalu memasukkannya dalam saku baju miliknya. Naruto melihat Akame yang sepertinya sudah berhenti merengek, mungkin telah tertidur. Ia kemudian melepaskan lengan gadis itu yang melingkari lehernya. Pemuda itu kemudian menggendong Akame di punggungnya, dan entah reflek atau apa. Gadis itu langsung menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Naruto dan mengalungkan lengannya.
Naruto menyesuaikan gadis dalam gendongannya ini lalu menatap Agil. "Kau sangat membantu Agil, terima kasih untuk bir itu. Aku akan berkunjung lagi nanti." Pemuda itu lalu berbalik dan melambaikan tangannya untuk meninggalkan bar.
"Ya, berhati-hatilah dan semoga berhasil dengan pekerjaanmu!" Balasnya dengan sedikit keras karena pintu sudah tertutup.
'Yah, lagipula aku cukup yakin jika dia pasti mampu menyelesaikan pekerjaan itu walau sesulit apapun.' Agil berpikir dengan santai, ia sudah mengetahui sedikit kekuatan Naruto setelah melihatnya bertarung, dan harus ia akui pemuda itu memiliki kekuatan yang cukup mengerikan.
Jadi, dirinya yakin jika pemuda itu pasti dapat menyelesaikan sebuah tugas walau sesulit apaan itu. Lama tersesat dalam pikirannya, Agil memutuskan untuk melanjutkan hari-harinya seperti biasa yang ia lakukan di bar miliknya.
.
Selepas pergi dari bar milik Agil, Naruto kemudian memutuskan untuk menuju ke tempat mereka berkumpul sebelumnya. Ia yakin jika ketiganya sudah menunggu, mengingat obrolannya dengan Agil berlangsung cukup lama, ditambah ia merasakan kehadiran Kirito melalui benda yang diberikannya tadi..
"Hmm~"
Naruto merasakan Akame menggeliat pelan dan semakin mengeratkan pelukan pada lehernya. Hal itu membuatnya tersenyum tipis, sangat jarang melihatnya bertingkah seperti ini walau hanya pada saat mabuk saja.
Pemuda itu pun memutuskan untuk fokus pada langkah tujuannya, menghiraukan tatapan orang di sekitarnya yang memandang mereka sebagai pasangan remaja yang romantis.
Beralih ke tempat Kirito, ketiganya sudah berada di tempat yang telah di tentukan sebelumnya. Mereka sudah tiba beberapa menit yang lalu, menunggu Naruto dan Akame tiba kemari.
"Hah, kemana sebenarnya dia itu." Kirito menghela napasnya dengan lelah.
Irina yang berada di sebelahnya hanya tersenyum canggung. "Yah, jika di lihat dari jam saat ini. Kita hanya mendekati waktu dari 1 jam bukan?" Ucapnya sembari mengingat berapa lama mereka tadi berkeliling.
Naruto sebelumnya sudah menentukan bahwa mereka akan berkumpul dalam 1 atau 2 jam kedepan dan mereka hanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit saja. Tentu saja Naruto mungkin masih mencari informasi bukan?
"Umm, mengingat Naruto-san bisa mengetahui kita berada melalui benda itu. Mungkin dia sudah tau jika kita ada disini." Yuuki berujar dengan riang. Seolah melupakan apa yang mereka lalui sebelum tiba di tempat ini.
Kirito sedikit mengangguk ketika mendengar itu. "Benar juga. Tapi, mengingat Naruto itu seperti apa, mungkin dia sedang-"
"Lihat! Itu mereka!"
Perkataannya terpotong ketika Yuuki menunjuk kepada Naruto yang tengah berjalan kearah mereka. Dengan menggendong Akame di punggungnya. Tunggu sebentar, gendongan? Apakah terjadi sesuatu?
Naruto kini telah berdiri di depan mereka yang memandangnya dengan tatapan penasaran dan bertanya.
"Kupikir kalian akan lebih menikmati waktu yang kuberikan." Ucapnya, ia sengaja memberikan waktu lebih agar mereka setidaknya dapat mengenal kota ini. Entah itu berkeliling ataupun berkunjung ke salah satu tempat.
Kirito menggaruk kepalanya. "Biarpun kau berkata seperti itu, tempat ini lebih rumit dari perkiraanku. Kami juga tak ingin merepotkanmu jika seandainya terjadi masalah dengan kami." Terangnya yang disertai anggukan Irina dan Yuuki.
"Ngomong-ngomong Naruto-san, apa terjadi sesuatu dengan Akame?" Irina lalu bertanya mengenai keadaan Akame saat ini, apa mungkin gadis itu telah bertarung atau semacamnya kah?
"Oh, Akame?" Naruto membalas singkat sambil menoleh kearah gadis yang dimaksud, yang saat ini tengah tertidur dengan meletakkan kepalanya di bahunya.
"Apa terjadi sesuatu saat kalian pergi?" Tambah Yuuki dengan nada khawatir.
Naruto tersenyum tipis. "Jangan khawatir, dia hanya mabuk saat ini." Beritahunya.
"Hm~ Ayo pulang Naru~" Rengeknya kembali ketika merasakan Naruto menghentikan langkahnya.
Sontak mereka langsung menatap kearahnya yang terlihat menggesekan wajahnya pada Naruto. Pemuda itu hanya menghela napas kecil dan memutuskan untuk menurunkan gadis itu dari punggungnya.
Akame rupanya tidak tertidur dan hanya setengah sadar saja, terlihat dari cara berdiri tubuhnya yang linglung.
"Jika kau tidak tertidur maka seharusnya kau bisa jalan sendiri bukan?" Naruto berkata dengan setetes keringat ketika melihat kekasihnya itu.
Akame yang mendengar itu cemberut dengan manis lalu kembali menubruk pemuda pirang di sebelahnya walau masih dalam kondisi setengah sadar dan memeluknya dengan erat, tak lupa mengalungkan lengannya pada lehernya.
"Mabuk?" Kirito mengangkat sebelah alisnya.
Naruto memandangnya lalu mengangguk singkat. "Kami mengunjungi bar-hmph"
Ucapan Naruto terpotong ketika Akame menyatukan bibir mereka. Gadis itu terlihat mencium pemuda pirang yang menjadi kekasihnya tersebut dengan ganas, menghiraukan Kirito, Irina dan Yuuki yang memiliki rona merah saat melihat adegan keduanya.
"Err..." Kirito lalu mengalihkan pandangannya ke samping. Sedangkan Irina dan Yuuki hanya terdiam dengan pipi memerah, tak lama keduanya juga ikut memalingkan wajah mereka.
Akame kemudian memisahkan bibir mereka dan menyandarkan wajahnya pada dada pemuda itu. Naruto bisa merasakan deru napas gadis itu yang terlihat tenang dan teratur. Kali ini sepertinya dia benar-benar tertidur.
Ia lalu kembali menggendong Akame di punggungnya dan melingkarkan lengan gadis itu di lehernya. Selesai melakukan itu, Naruto kemudian memandang ketiga teman sekelasnya.
"Hari akan mulai gelap, lebih baik kita segera mencari penginapan, ayo pergi." Ajaknya setelah melihat kondisi langit yang mulai menggelap tanda malam akan di mulai.
Ketiganya terlihat saling memandang lalu memutuskan untuk menyusul. Naruto berjalan karena pemuda itu telah melangkah beberapa meter di depan mereka.
.
"Hah, lelahnya." Kirito mendesah dengan lega setelah membaringkan tubuhnya pada sebuah sofa..
Mereka saat ini tengah berisitirahat setelah menyewa sebuah penginapan yang sepertinya memiliki fasilitas cukup bagus dan luas untuk sekedar penginapan kecil
"Penghuni penginapan ini ternyata tak buruk seperti yang kukira." Ucapnya, membuat Irina dan Yuuki mengangguk setuju.
"B-Benar, sepertinya di kota ini batasan antar ras sungguh tidak terlalu mereka pedulikan." Irina berkata dengan nada lega, pengurus dan beberapa orang yang ikut menyewa penginapan ini ternyata sangat ramah terhadap mereka. Walaupun mereka semua berasal dari ras yang berbeda.
Ia ingat dengan wanita yang memiliki telinga kucing sebelumnya, dirinya berbicara sebentar dengan wanita yang menjadi salah satu pengurus penginapan itu. Dan tak disangka ternyata wanita kucing tersebut sangat ramah padanya, bahkan sempat menceritakan sedikit tentang Kota Hellsalem's Lot padanya.
"Ngomong-ngomong, dimana Naruto-san?" Tanya Yuuki setelah melipat rapih jubah miliknya dan segera mendudukkan dirinya di salah satu sofa, tepatnya di sebelah Irina duduk saat ini.
"Ah Naruto-san? Dia bilang setelah membawa Akame ke kamar, dia akan langsung mandi. Jadi mungkin dia ada di kamar mandi saat ini." Jawab Irina, karena Naruto sendiri yang mengatakan itu padanya.
Mereka kemudian terdiam selama beberapa menit dalam keheningan. Tak lama, munculah Naruto yang memakai pakaian kasual yaitu celana hitam panjang dan baju hitam berlengan panjang dengan handuk yang melingkar di lehernya.
Irina dan Yuuki yang melihatnya memiliki sedikit rona merah pada pipi mereka, tentu dengan pesona pemuda itu, apalagi dengan rambutnya yang masih sedikit basah, memiliki kesan tersendiri bagi para gadis yang melihatnya.
"Kalian mandilah juga, aku akan memesan beberapa makanan di bawah." Naruto berkata dengan santai lalu pergi menuju pintu sambil melambaikan tangannya.
Irina dan Yuuki saling memandang, kemudian mereka menoleh kearah Kirito secara bersamaan.
"Jadi, siapa yang akan mandi selanjutnya?" Tanya Yuuki.
Kirito mengangkat lengan kirinya dengan malas dan melambaikannya. "Terserah kalian saja, aku ingin beristirahat dulu sekarang." Katanya dengan nada lelah.
Mendengar itu, Irina dan Yuuki kembali saling memandang.
"Jadi?"
Irina mengangkat alisnya. "Apa?"
"Mau tentukan ini dengan janken?" Tawar Yuuki dengan senyuman yang membuat Irina terdiam dengan sebutir keringat di dahinya.
"Tentu." Ia memutuskan menerimanya saja ketika melihat binar semangat di mata gadis ungu tersebut.
"Siap?" Irina mengangguk dan menyiapkan tangannya.
"Jan...ken...po!"
Dan singkat cerita, Yuuki harus tertunduk dengan aura suram ketika dirinya kalah oleh Irina yang hanya sweatdrop melihat sahabatnya seperti itu. Setelah itu, mereka kemudian makan malam bersama setelah semua selesai mandi, kecuali Akame yang saat ini masih tertidur.
Skip time
Malamnya, mereka berempat berkumpul di ruangan tengah untuk membicarakan tentang informasi yang didapat.
"Jadi, ada informasi yang kalian dapatkan?" Tanya Naruto sambil memakan sebuah apel.
Kirito menggeleng sebagai jawaban. "Tidak terlalu, kami hanya mendapatkan informasi yang sepertinya tidak terlalu penting."
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Dan apa itu?" Tanyanya.
Kirito memegang dagunya mencoba untuk mengingat. "Kalau tidak salah, mereka mengatakan jika ada beberapa orang memakai jubah hitam yang berdiri di tempat kecil seperti sebuah gang. Tapi aku tidak tau itu benar atau tidak, mengingat warga di kota ini banyak yang berpakaian seperti itu." Ia sedikit membuang napasnya dengan pasrah.
Di kota seperti ini, mencari orang mencurigakan tentunya akan sangat sulit, karena secara teknis di sini terdapat banyak orang yang berbeda jenis dan keragaman. Bahkan jika pertarungan umum saja hal lumrah, mengapa mereka harus peduli dengan pendatang baru?
"Jadi, tak beda jauh kah." Gumam Naruto dengan pelan yang tak terdengar oleh mereka.
"Sepertinya tak ada pilihan lain selain membicarakannya langsung dengan pemimpin kota ini." Desahnya dengan malas.
Mereka bertiga terdiam, sebelum Kirito berkata dengan nada sedikit frustasi dari mulutnya.
"Kalau begitu, kenapa tidak kau lakukan dari tadi?" Keluhnya.
Naruto mengangkat tangan kanannya dengan ekspresi santai. "Aku sengaja melakukan ini agar kalian setidaknya mengetahui sedikit tentang kota yang kalian tempati sekarang." Balasnya.
Kirito lalu sedikit terdiam mendengar itu, memang benar apa yang Naruto katakan. Berkat tadi, mereka setidaknya mengetahui sedikit tentang kota dan beberapa penduduknya.
"Resepsionis itu sepertinya sangat mengenalmu, apa kau pernah bertemu dengannya sebelumnya?" Tanya Kirito mencoba mengubah topik pembicaraan.
Mereka ingat ketika resepsionis wanita pirang bernama Trish itu terlihat senang dan kaget saat melihat Naruto.
Naruto terlihat selesai menghabiskan satu buah apel miliknya, dan mengambil satu lagi dari tempat penyimpanannya. "Begitulah, beberapa tahun lalu aku pernah datang ke tempat ini." Balasnya, yang di balas anggukan oleh Kirito.
"Ano, Naruto-san. Berapa lama Akame akan tersadar?" Irina yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara.
Pemuda itu terlihat berpikir sejenak. "Mungkin besok pagi, aku sengaja membuat tidurnya lebih lama dengan menggunakan sihir. Akan sangat merepotkan jika dia memelukku terus menerus dalam kondisinya saat ini." Naruto menjawab dengan sedikit malas, ia tak ingin merasakan hal merepotkan itu lagi untuk yang kedua kalinya.
Irina hanya tersenyum kikuk mendengarnya. "Begitu."
Naruto menghabiskan apel terakhir miliknya kemudian berdiri dari sofa yang di dudukinya. "Untuk saat ini, kalian beristirahatlah, kita akan melakukan banyak hal besok. Jadi, pulihkan energi kalian untuk melakukannya." Ucapnya.
Yuuki memandangnya dengan tatapan bertanya. "Etto, kau sendiri mau kemana?" Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya saat melihat Naruto menggunakan jubah yang ia pakai saat perjalanan tadi.
Naruto memalingkan wajah kearahnya. "Hanya mencari udara segar. Sampai jumpa." Ia melambaikan tangannya dengan santai lalu menghilang melalui kilatan merah kehitaman dari tempat itu.
Ketiganya memiliki keringat di dahi setelah menyaksikan itu. Irina kemudian menoleh kearah Kirito yang terdiam. "Err, jadi?"
Kirito menghela kecil sambil menguap pelan. "Lebih baik kita menuruti perkataannya saja, lagipula Naruto itu lebih kuat dari kita semua kan?"
Ia lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya berada. "Kita tak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Aku akan pergi tidur, bangunkan aku saat sudah pagi!" Ia melambaikan tangannya dengan lemah.
Mereka berdua terdiam, sebelum Yuuki membuka suara. "Kurasa kita juga harus beristirahat, Naruto-san pasti bisa menjaga dirinya sendiri." Ujarnya yang dibalas anggukan pelan oleh sahabatnya.
Kemudian keduanya pergi menuju kamar tempat Akame berada untuk mengistirahatkan tubuh mereka setelah melakukan perjalanan cukup jauh hari ini.
.
Dengan Naruto, pemuda itu terlihat berjalan di pinggir jalan dengan langkah tenang. Menghiraukan ramainya jalanan walaupun hari sudah menunjukkan waktu larut malam.
"Ramai seperti biasanya." Gumamnya pelan.
Sebenarnya ia ingin mengunjungi bar Agil untuk membicarakan sesuatu kembali tentang yang mereka bicarakan sebelumnya. Tapi ia yakin jika bar itu sudah tutup saat ini, mengingat hari sekarang sudah cukup larut.
Naruto menghentikan langkahnya, iris merahnya terlihat memandang bangunan-bangunan yang memiliki ketinggian cukup tinggi di sekitarnya.
Tatapannya terpaku pada salah satu bangunan yang menurutnya cukup pas untuk di tempati. Dan tanpa di sadari oleh orang di sekitarnya, pemuda pirang itu menghilang tanpa jejak lalu muncul di bangunan yang tuju tadi.
Naruto kemudian duduk di pinggiran tempat tersebut dan menjuntaikan sebelah kakinya, sedangkan sebelah lagi ia biarkan berdiri untuk menopangkan tangan kanannya. Angin di atas sana berhembus cukup kencang hingga membuat rambut pirang dan jubahnya bergerak dengan lembut.
"Jika dilihat dari sudut seperti ini, cukup padat juga penduduk walau malam sudah larut." Ia bergumam pada dirinya sendiri ketika melihat ke bawah. Dimana banyak orang yang masih melakukan aktivitas malam hari, entah itu berdagang, atau yang lainnya.
Lama terhanyut dalam keheningan, terlintas sebuah ingatan saat pertama kali dirinya berkunjung ke kota ini. Mengingat hal itu kembali, mau tak mau membuatnya tersenyum tipis.
'Beberapa tahun ini, cukup banyak yang telah kulalui.' Ia lalu memejamkan matanya untuk menikmati udara dingin yang menerpa wajahnya.
Ia sedikit mengingat kalau dulu dirinya dan gurunya itu pernah melakukan hal ini bersama ketika mereka datang ke Hellsalem's Lot.
Sejujurnya, Naruto sedikit merindukan gurunya itu. Hanya saja ia tidak mengetahui dimana orang itu berada. Mungkinkah dia berada di tempat 'itu'? Nah, siapa yang tau. Selain sangat hebat, gurunya itu juga menyukai petualangan. Sangat sulit untuk menemuinya kembali selain jika gurunya sendiri yang datang menemuinya.
'Apapun itu, mungkin nanti dia sendiri yang akan menemuiku.' Naruto berpikir dengan santai, lagipula yang memerintahkannya berpetualang adalah gurunya.
Pemuda pirang itu kemudian berdiri dan meregangkan tangannya. 'Yah, kuharap kedepannya akan semakin menarik.' Batinnya dengan penuh harap.
Dirinya sudah bosan menjalankan quest itu-itu saja di Night Raid, dan dengan quest yang ia jalani saat ini. Tentu saja pemuda itu berharap yang satu ini akan lebih menarik daripada yang sebelumnya.
Melihat langit sudah semakin gelap dan suhu semakin dingin. Naruto memutuskan untuk kembali ke penginapan tempat teman-temannya berada.
Dan dalam kedipan mata, pemuda pirang itu menghilang seolah tak pernah ada di tempat yang ia pijaki sebelumnya. Hanya meninggalkan udara dingin yang senantiasa berhembus dengan damai di kota tersembunyi ini.
And cut...
.
Play ED Song : Haruka Tomatsu - Yume no Sekai
.
TBC
.
Note :
Well, berhubung gua lagi sedikit senggang + kepikiran mulu sama nih fict, jadi lebih baik gua lanjutin aja.
Err, pertama untuk Hellsalem's Lot. Di sini agak beda dari yang ada di animenya, emang masih cukup maju. Tapi ga terlalu maju, karena gua buat sengaja biar sesuai sama plot ceritanya. Sederhananya, Hellsalem's mungkin beberapa tahun sedikit lebih maju dari dunia luar.
Kedua, chapter ini harusnya sedikit lebih panjang lagi. Tapi karena gua agak mager sedikit, jadi gua potong setengahnya.
Em, mungkin itu aja kali ini. Agak bingung juga gua mau bilang apalagi. Untuk next up, yah, masih ga nentu. Butuh beberapa bulan mungkin karena RL juga dah agak sibuk sekarang.
Seperti biasa, special thanks buat yang udah fav, fol, rev sama keep waiting. Kalau ada yang mau di tanyain, bisa PM gua atau review aja.
See you later...
