"Aku masih saja tak percaya." Bibir itu bersuara tapi tatapannya kosong ke jalan raya melalui kaca mobil. "Bagaimana mungkin aku tak tahu dia jatuh hati padaku." Ucapnya masih saja tak percaya pada apa yang telinganya dengar.
"Kau sungguh tak tahu?" pertanyaan itu menghadirkan tatapan tersinggung dari Hinata.
"Lihat aku, apakah aku kelihatan seperti berpura-pura bodoh?" Naruto melirik sekilas dan kembali fokus pada jalan raya.
"Wajahmu selalu tampak bodoh." Komentarnya pedas. "Lagipula untuk apa kau terkejut? Memangnya kenapa kalau kau tahu dia menyukaimu? Kau ingin membalas perasaannya, begitu?"
"Siapa yang tahu?" jawaban acuh Hinata menghadirkan tatapan terkejut dari Naruto. Jadi, maksudnya kalau dia tahu Toneri jatuh hati padanya lebih awal, dia berkemungkinan membalas perasaan itu? Begitu?! "Toneri baik, dia sangat perhatian padaku. Dia memperlakukanku seperti tuan putri. Aku menyukai semua tentang dia." kemudian Hinata menatap ke atas untuk berpikir. "Hm tak ada bahkan satupun hal yang aku tak suka darinya." Naruto semakin tak percaya, tidakkah Hinata berlebihan memuji Toneri?
"Kau serius?" Hinata menoleh untuk menatap langsung kedua mata Naruto, mengatakan betapa serius dirinya.
"Kenapa tidak. Aku bisa punya lelaki yang sangat baik padaku tapi lihat aku, di sini dengan manusia sepertimu." Sindirnya yang lebih dari cukup untuk memancing emosi Naruto.
"Lalu apa, Hah? Kau perlu kuantarkan ke rumahnya biar kau bisa bilang 'Jika saya aku tahu kau menyukaiku, aku akan membalas perasaanmu' begitu hah?!" oceh Naruto dikala mobilnya berhenti karena lampu merah. Hatinya panas mendengar semua yang keluar dari mulut Hinata.
"Tidak..." Hinata gugup seketika karena Naruto menatapnya dari jarak cukup dekat. Wajah tampannya tampak manis karena emosi.
"Tidak begitu maksudku" Hinata mendorong wajah itu agar menjauh dari wajahnya yang memerah.
"Aku kan bilang seandainya, lagu pula aku tak ada perasaan sedikitpun padanya." Jelasnya jujur.
"Bahkan jika hanya seandainya, ada beberapa hal yang tak boleh kau katakan padaku. Kau kira kau sedang berbicara dengan siapa?"
"Why? Emangnya kau siapa?" Hinata menatap penuh tanda tanya, tak paham mengapa Naruto mempermasalahkan ucapannya.
"Aku siapa?" ah benar, Naruto terdiam atas pertanyaan yang keluar untuk dirinya sendiri. Siapa dirinya bisa marah pada apa yang Hinata katakan? Ia bukan pacar, bahkan statusnya masih belum bertunangan.
"Kau Naruto." Jawab Hinata dengan polosnya, membuat Naruto menghela nafas.
"Lupakanlah" ujarnya kembali menjalankan mobil.
"Kenapa? Kenapa? Apa kau marah? Apa aku salah ngomong?" tanya Hinata beruntun, ingin tahu apa maksud dari ucapan Naruto tadi dan apa maksud dari wajahnya yang kesal.
"Tak ada." Jawaban Naruto semakin menghadirkan rasa penasaran dari Hinata. Ia mencondongkan badan, mencoba menatap Naruto sedekat mungkin untuk menuntut jawaban.
"Katakan padaku, Hah...!" Hinata menarik nafas panjang karena terkejut pada apa yang ada di dalam pikiran. "Kau cemburu?" pertanyaan itu ikut mengejutkan Naruto.
"Cemburu?"
"Apa kau marah karena seandainya sa"
"Tidak. Aku tak cemburu. Bocah kecil sepertimu yang bahkan tak paham pada ucapannya sendiri, apa yang harus aku cemburukan?" pipi gembul Hinata membulat, tak senang pada Naruto yang mengatainya bocah.
"Bocah-bocah gini, aku akan segera menikah." Langsung saja Naruto tertawa mendengar cicitan kesal Hinata. Apakah Hinata tahu betapa lucu suara kecilnya tadi?
"Kau tak mencintaiku, mengapa tak menolak perjodohan ini?" bibirnya mengerucut, sesekali ia melirik tajam ke arah Naruto.
"Kenapa harus menolaknya?" tanya Naruto ketika mobilnya berhenti di depan pintu tempat tinggal Hinata.
"Huh?"
Ia memutar badan menghadap Hinata, menatapnya langsung ke dua bola mata indah itu.
"Aku bilang aku akan memberimu pelajaran karena kau menyebalkan."
"Cih! Maksudmu kau tak menolak perjodohan ini hanya karena ingin memberiku pelajaran?" sinis sekali mata Hinata menatap. Apa Naruto pikir dirinya akan tunduk hanya karena Naruto memiliki status sebagai suaminya? Jangan harap. Ia tak akan pernah takut apalagi tunduk sebagaimanapun Naruto bertindak.
"Tentu saja. Pelajaran yang sangat spesial tapi sayang, aku tak bisa melakukannya jika aku tak memiliki status 'suamimu'." Tunggu, Hinata sedikit termenung. Mengapa pikirannya jadi kemana-mana? Ia mencoba memikirkan pelajaran apa yang Naruto maksud tapi mengapa ia malah memikirkan hal yang aneh?
Blusshh!
Wajah Hinata mendadak merah.
"Aaahh a-apa! Aku benci pikiranku!" Naruto tertawa melihat Hinata memekik dan mengetuk kepalanya seolah ingin mengeluarkan otak dari dalam sana.
"Apa yang kau pikirkan, hm?"
"Wuaaa diam! Diam!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
WILD KIDDO
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
WILD KIDDO by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 10
.
.
.
.
"Hah!" helaan nafasnya kasar. Kurang dari dua menit, ia kembali menyesali perbuatannya semalam. Ia terlalu terkejut sampai tak bisa mengontrol hatinya. Sekarang ia berharap bisa hanya sekedar berbicara pada pujaan hatinya tapi ia telah terlanjur bersikap seolah memutuskan tali pertemanan mereka.
"Sial, aku pasti sudah gila." Kantung matanya hitam karena tak bisa tidur nyenyak tadi malam. Ia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu, ditambah memikirkannya dijodohkan dengan pria lain sungguh menyiksa kepalanya.
Matanya melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kiri, jam menunjuk pukul 07.35
Kelas akan dimulai setengah jam lagi tapi ia benar-benar mengantuk. Bahkan keramaian di cafetaria tak bisa membuat membuat matanya tak tertutup.
"Hoaaaaam"
.
.
.
.
.
.
"Padahal kita bahkan belum lulus tapi mereka terburu-buru meminta kita bertunangan." Komentar Hinata masih tak habis pikir pada apa yang ada di dalam kepala ayahnya.
"Apa kau mencari Toneri?" Bohong sekali kalau Hinata menjawab tidak. Dia baru saja masuk ke daerah sekolahan tapi matanya sudah menatap kemana-mana dan dari yang Naruto tahu, Hinata hanya memiliki satu teman saja dan namanya Toneri.
"Hm, mungkin." Matanya yang sedari tadi mencari, menoleh ke arah Naruto ketika tangan itu menepuk pelan pucuk kepalanya.
"Jangan macam-macam" Ucapnya sebelum pergi begitu saja meninggalkan Hinata yang sedikit membeku karena tersentak.
Tak lama, senyuman hadir di bibir mungilnya. "Cih, dia pasti cemburu." Gumannya lucu tapi kembali ke tujuan awalnya, yap mencari Toneri. Toneri adalah satu-satunya teman baik Hinata, Hinata tak ingin pertemanannya berakhir.
.
.
.
.
.
.
.
Alisnya berkerut tak nyaman. Ia ingat langsung terlelap setelah berbaring di salah satu kasur di UKS tapi mata terpejamnya tampak tak nyaman. Rasanya seolah ada yang tengah memperhatikannya.
Perlahan mata itu terbuka, langsung saja kesadaran kembali seratus persen ketika matanya melihat siapa yang tengah duduk di kasur yang ada di sebelahnya.
"Astaga jantungku." Lelaki itu, Toneri mendudukkan dirinya dengan cepat menatap gadis yang ternyata bukanlah jelmaan hantu.
"Aku mencarimu kemana-mana tapi kau ada di sini." Hinata mengembungkan pipi, ia mencari dari ujung sampai ke ujung gedung sampai bolos kelas tapi lelaki ini malah nyaman tertidur di UKS yang sengaja ia lewatkan.
"Jangan marah padaku, aku senang berteman denganmu." Kata Hinata to the point, wajahnya sedikit memelas.
"Aku tak mungkin marah padamu." Toneri tersenyum lucu pada tatapan bak kucing Hinata. "Aku sangat menyayangimu." Tambahnya. Hanya dalam waktu satu malam, ia sudah sangat merindukan gadis ini, bagaimana mungkin bisa ia marah padanya? Ia bahkan tak bisa hanya sekedar tak bicara pada gadis ini.
"Aku hanya bingung. Aku tak pernah mau mengungkapkan isi hatiku karena aku tak ingin pertemanan kita menjadi taruhan jika kau tak memiliki perasaan yang sama untukku." Raut wajah Toneri berubah menjadi sendu tapi tak lama kemudian ia mengembalikan senyum manisnya untuk dilihat Hinata.
"Maafkan aku." Sesal Hinata. "Aku pasti sangat egois karena memaksamu untuk tetap berteman denganku." Tapi apa yang harus ia lakukan? Ia serius mengatakan ia tak mau tak berteman dengan Toneri.
"Tidak" dengan cepat Toneri membantah. "Entah mengapa aku terus berpikir jika saja aku kehilangan kau hanya karena perasaanku ini, aku akan sangat menyesal. Aku merasa lega hanya karena kau mau berbicara padaku lagi." Ia tak berbohong bahwa hatinya sakit tapi ia tak ingin merasakan lebih sakit lagi jika ia memilih untuk tetap mendiamkan Hinata.
"Apakah kau sungguh menyukainya?" Hinata tersentak atas pertanyaan Toneri, tak lama kemudian ia menunduk.
"Apa kau sungguh mencintai Naruto?" pertanyaan itu lagi, membuat Hinata memainkan dua jarinya di atas paha, berpikir untuk beberapa saat.
"Aku tak pernah bertanya pada diriku sendiri apakah aku jatuh hati padanya atau tidak." Jawabnya jujur. "Hubungan kami seperti air yang terus mengalir, hatiku berdebar ketika bersamanya dan aku merasa gugup." Tambahnya aneh. "Bahkan jika kau bertanya apa yang aku sukai darinya, aku tak bisa menjawab. Dia menyebalkan sekali, dia tak bersikap manis padaku dan selalu menatapku tajam tapi entah bagaimana aku terus ada di sampingnya." Hinata bahkan tak pernah jatuh cinta, bagaimana ia tahu bahwa perasaan ini adalah cinta?
"Karena kau tak tahu apa alasanmu, kau pasti benar-benar jatuh cinta padanya." Toneri mengulum senyuman. Begitulah kata orang-orang, Jika kau benar-benar jatuh cinta, kau tak akan menemukan alasannya. Kau tak bisa jelaskan apapun. Itukah yang sekarang Hinata rasakan pada lelaki itu?
"Sebagai teman, aku bahagia ketika kau bahagia." Toneri berdiri, ia mengulurkan satu tangannya untuk membelai rambut Hinata. Hinata sedikit mendonggak untuk menatap wajahnya.
"Maka dari itu kau harus selalu tersenyum maka akupun akan ikut tersenyum." Senyumannya begitu tulus, matanya menatap sangat lembut membuat kedua sudut bibir Hinata tertarik kebawah.
"Waaaaaaaaa" Hinata tak sadar air matanya mengalir. Mengapa ia terharu sekali pada perkataan Toneri? Padahal ia tak akan pergi jauh apalagi berpisah tapi entah mengapa ia merasa sedih. Selama ini hanya Toneri yang selalu ada untuknya sampai-sampai Hinata berpikir ia akan menjomblo seumur hidup agar ia bisa tetap berteman baik dengan Toneri tapi sekarang mereka tak akan bisa sedekat dulu lagi. Ia merasa sangat bahagia dan juga sedih melihat betapa sayang Toneri pada dirinya. Kata-katanya sungguh manis menusuk ke dalam hatinya.
"Aku sangat menyayangimu, Neri!"
"Sangat-sangat sangat menyayangimu!"
.
.
.
.
To be continue
