Part 9
.
.
November 2019
Bond Street, London, Inggris
Memasuki awal bulan November, cuaca di London terkadang bisa jadi sangat tidak menentu, bisa tiba-tiba hujan atau tiba-tiba cerah tapi dengan cuaca musim gugur yang tetap saja ingin. Ino memandang ke luar jendela dari butik busana mewah milik Ibunya. Hujan begitu deras tengah mengguyur jalan raya di hadapan butiknya. Cuaca yang cukup dingin tidak dia rasakan karena penghangat ruangan di dalam butik yang menyala. Beberapa pegawai milik Ibunya mulai sibuk mondar-mandir di butik untuk melakukan persiapan pembukaan butik busananya pada awal tahun nanti. Sebelum membuka dengan resmi brand busana mewah milik Mitchell Yamanaka, dia akan membantu Ibunya untuk melakukan sebuah pagelaran busana kecil terlebih dahulu. Beruntungnya dia sedang tidak memiliki banyak pekerjaan, jadi bisa dengan leluasa pada waktu luangnya membantu Ibunya, dan juga menjadi seorang perancang busana pada brand milik Ibunya. Menuangkan ide-idenya dan ilmu yang dia pelajari selama sekolah fashion di Paris.
Ino beranjak dari pinggir jendela besar butiknya dan mulai berjalan ke dalam, memasuki bagian tempat dimana para penjahit sedang menjahit pakaian rancangannya dan Ibunya. Ino melihat beberapa baju yang sudah jadi sedang terpampang di beberapa manekin yang ada di sana. Melihatnya benar-benar membuat hatinya menghangat karena hasil karyanya yang akan terpampang di dunia fashion yang begitu dia cintai.
"Mademoiselle, ada seseorang yang mencari mu di depan," Camile, asisten pribadi Ibunya datang menghampirinya. Ino mengernyitkan dahinya, bingung dengan siapa yang datang untuk mencarinya bahkan sampai datang ke butik ibunya. Hanya teman-teman terdekatnya saja yang tahu dimana letak butik milik Ibunya.
Ino segera berjalan menuju pintu masuk butik. Gaara berdiri di sana sedang melepas trench coat berwarna beige dari sebuah brand yang sangat terkenal di Inggris karena trench coat-nya.
"Gaara!" Ino memekik senang dan langsung berlari ke arah kekasihnya dan menerjangnya dengan sebuah pelukkan. Gaara yang kaget sedikit tidak siap dengan pelukan Ino yang sangat tiba-tiba, untung dia bisa langsung menyeimbangkan tubuhnya.
"Hai, apa kabar, chérie?" tanya Gaara lalu mencium pipi kanan Ino.
"Trés bien, Monsieur," Ino tertawa kecil. Akhir-akhir ini Gaara senang sekali memanggilnya chérie. "Kenapa kau ke sini? Bukannya kau baru sampai dari Birmingham? Kenapa tidak bertemu besok saja, atau aku kan bisa mendatangi tempat mu," Ino menghujani kekasihnya itu dengan banyak pertanyaan sembari menarik tangan Gaara untuk masuk berjalan menuju ruangan Ibunya di butik, agar mereka bisa bersantai di sana.
"Aku sampai tadi pagi. Jadi aku sudah beristirahat, lagipula aku tidak menyetir sama sekali dalam perjalanan. Dan aku sudah terlalu banyak beristirahat di Birmingham, My Lady."
Saat di depan pintu ruangan Ibunya, Mitchell, secara kebetulan keluar dari dalam ruangannya. Begitu menyadari putri semata wayangnya tengah berada di hadapannya dengan kekasih berambut merahnya yang tengah ia genggam tangannya, ia langsung menyunggingkan senyum lebarnya. "Bonjour mon amour, Ino tidak memberi tahu apa-apa kalau kau akan datang, Gaara."
Gaara maju menghampiri Ibu dari kekasihnya dan memberikan salam berupa pelukan singkat dan ciuman di kedua pipi Mitchell. "Aku datang tiba-tiba, tidak mengabarinya kepada Ino terlebih dahulu, ku harap kau berkenan?"
"Tentu saja. Apapun untuk calon menantu terbaik yang bisa putriku dapatkan," Mitchell tersenyum menggoda ke arah Ino dan Gaara yang langsung dipelototi oleh Ino. Diusianya yang hampir menginjak setengah abad, wajah Mitchell Yamanaka masih sangat cantik dan tidak terlihat seperti tua sekali. Rambut panjangnya yang berwarna coklat ia gelung rapih karena hari ini merupakan hari yang cukup sibuk untuknya. "Kalian bersantai di dalam saja, nanti aku akan meminta Camile untuk membuatkan teh dan kudapan untuk kalian, atau kalian lebih memilih wine?"
"Teh saja, Mum."
"D'accord!"
Ino menarik Gaara masuk ke dalam ruangan milik Mitchell dan mendudukkan dirinya dengan santai di sofa besar yang ada di dalam. "Terkadang aku masih sedikit tidak terbiasa dengan flirty-nya orang Prancis," ucap Gaara sambil menduduki dirinya di sebelah Ino lalu melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Ino dan menarik kekasihnya mendekat padanya. "Tapi kau tidak flirty sama sekali, kau cenderung jutek terkadang."
Ino tertawa, "Mungkin beberapa tahun tinggal di Paris dan terlalu sering pergi ke Paris membawa sedikit sifat orang-orang Paris kepadaku."
"Bukankah Mum juga tinggal lama di Paris?" tanya Gaara sambil memainkan rambut Ino yang pada hari itu dia gerai.
"Tidak juga, sebenarnya Mum sewaktu masih menjadi model lebih sering di New York dan London. Di London karena Kakek ku juga sering melakukan perjalanan bisnis ke sini. Dan Mum menghabiskan waktu masa kecil sampai remajanya di Châteu di Bordeaux, lalu memulai karir modelingnya di New York. Hanya ke Paris kalau sedang Fashion Week. Ketika pulang ke Prancis Mum selalu pulang ke Bordeaux. Jadi sebenarnya aku yang lebih sering menetap di Paris, sih," Ino melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Gaara dan menyenderkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya itu. Oh, betapa Ino sangat rindu untuk memeluk Gaara. Terpisah barang beberapa hari saja sudah membuatnya rindu setengah mati pada kekasihnya ini, bagaimana kalau Gaara harus tur keliling dunia?
"Aku belum pernah ke Bordeaux," kata Gaara.
Ino mendongak, "Aku akan mengajakmu ke sana kalau kita ada waktu kosong nanti. Châteu milik keluarga Mum tidak kalah cantik dari Yamanaka Manor."
"Oke, kedua keluargamu mempunyai sebuah Châteu dan sebuah Manor?" Ino mengangguk kecil, "Wow, kedua keluargamu pasti kaya raya sekali."
Ino meringis mendengarnya, "Tidak juga. Sebenarnya kalau dibanding dengan Namikaze, mereka jauh lebih kaya. Mempunyai sebuah Châteu dan Manor bukan membuatmu otomatis kaya raya, Tuan Sabaku."
"Hey, aku tahu kalau sebuah Châteu dan Manor itu tidak murah untuk dibeli. Dan ku yakin kalau trust fund milikmu sebenarnya jauh lebih banyak dari gajimu sebagai seorang model?"
"Iya," Ino mengangkat kedua bahunya, "Tapi tetap saja aku mencintai pekerjaanku. Dan, hei! Kita tidak akan terus membicarakan mengenai apa saja yang keluargaku punyakan?"
Gaara tertawa kecil, "Yeah, kau benar. Jadi, ada pekerjaan baru?"
"Belum, aku masih sibuk membantu Mum di sini."
Tok! Tok!
"Mademoiselle Ino, votre thé et croissant et crème brûlée!"
Ino berdiri dan membuka pintu, terlihat Camile sedang memegang nampan yang berisi dua cangkir teh, dan seseorang lagi yang memegang sebuah nampan berisi beberapa macaron dan croissant.
"Merci beaucoup," Ino tersenyum lebar kepada Camile dan seorang lagi yang merupakan pegawai pada butik Ibunya.
"Avec plaisir, Mademoiselle," Camile tersenyum kepada Ino, lalu menganggukkan sedikit kepalanya kepada Gaara, "Monsieur."
Gaara membalasnya dengan senyuman kecil dan ucapan terima kasih. Ino beranjak kembali menghampiri Gaara dan duduk kembali di sebelahnya. "Sepertinya aku benar-benar harus terbiasa berbicara bahasa Prancis kalau sedang bersamamu."
"Yah, Camile memang berasal dari Paris, sih. Jadi aku terbiasa berbicara bahasa Prancis bersamanya, Mum dengan Camile juga berbicara menggunakan bahasa Prancis. Jadi yah, kalau sedang bersama Mum memang harus terbiasa berbahasa Prancis, darlin'."
Percakapan antara Gaara dan Ino terus mengalir mengenai liburan Gaara di Birmingham kemarin. Setelahnya bergantian Ino yang membicarakan mengenai pesta Halloween milik Shion.
"Naruto pulang dengan Shion. Kurang ajar sekali kan dia meninggalkanku?! Sepupu macam apa!" seru Ino mengebu-ngebu. Dia bahkan sampai sedikit membanting sendok kecilnya pada crème brûlée miliknya.
"Dan kau pulang dengan siapa?"
"Sasuke dan Tayuya, teman Shion. Dia itu Sasuke Uchiha si aktor terkenal itu loh, Gaara! Kau tahu dia kan?!"
Gaara mengernyit, "Tahu tapi tidak mengenalnya. Baik sekali dia mengantarmu pulang, untung saja masih ada mereka berdua. Naruto benar-benar tidak bisa dipercaya kalau sudah bersama seorang perempuan, heh?" Gaara tertawa.
"Sepertinya hubungan mereka berlanjut deh, bukan hanya sekedar satu malam. Tapi, entah, satupun dari mereka belum membuka mulutnya pada ku, dan ketika aku bertanya via chat, mereka mengelak," Ino menyesap teh miliknya.
Drrt! Drrt!
Ino dan Gaara sama-sama menoleh pada handphone Ino yang bergetar yang kebetulan sedang terletak di samping tumpukkan croissant mereka. Ino melihat nama agency-nya pada Caller ID handphonenya. Gaara memberikan gestur untuk mengizinkan Ino mengangkat telfon tersebut.
"Halo, Mei, ada apa?"
"Halo Ino, kau masih sibuk dengan persiapan butik Mitchell?"
"Ya…. Kenapa memang?"
"Dior ingin kau membintangi iklan parfum terbaru mereka bersama dengan seorang aktor yang sedang mereka tunggu konfirmasinya juga untuk tawaran ini. Tertarik?"
Ino langsung menjerit senang mendengarnya, "Tidak mungkin?! Dior ingin aku membintangi untuk iklan parfum mereka? This is such a big deal!"
"Aku tahu, makanya aku langsung menghubungimu. Setelahnya kita akan bertemu dengan tim marketing Dior di London, karena kebetulan aktor yang mereka inginkan juga tinggal di London, jadi mereka menganggap sekalian bertemu di sini saja tidak usah ke Paris. Kau mau?"
"Tentu saja! Tidak mungkin aku menolaknya!"
"Bagus, kalau begitu aku akan mengirimkan mu email tawarannya. Aku akan mengabari kapan kita akan melakukan rapat dengan pihak Dior. Aku akan langsung mengkonfirmasikannya kepada mereka kalau kau menerimanya."
"Okay! Terima kasih Mei! Semoga hari mu menyenangkan!"
"He'em, kau juga. Sampaikan salam ku pada Mitchell!"
"Pastinya! Bye, Mei!"
Ino tidak bisa berhenti tersenyum lebar setelah mendengar beritanya. Membintangi sebuah iklan merupakan sebuah pekerjaan yang besar, wajahmu akan terpampang pada papan-papan billboard dan memiliki kontrak untuk sebuah brand kosmetik dan parfum merupakan sebuah impian banyak model.
"Mei Terumi?"
Ino sampai lupa kalau Gaara sedang berada bersamanya. Ino mengangguk lalu memeluk Gaara penuh antusias, "Dior ingin aku tampil sebagai model untuk iklan parfum terbaru mereka, hebat sekali! Aku tidak menyangka mereka akan memilihku!"
Gaara tersenyum lebar, lalu mencium bibir kekasihnya singkat, "Selamat kalau begitu, chérie. Aku turut bahagia dengan kabar baik ini."
Ino melepaskan pelukannya dan berjingkrak-jingkrak kesenangan, "Aku harus memberitahu Mum terlebih dahulu. Sebentar ya Gaara!"
Ino berlari begitu saja keluar ruangan Mitchell meninggalkan Gaara sendirian. Gaara terkekeh kecil melihat tingkah kekasihnya yang sangat senang setelah mendapat kabar baru mengenai pekerjaannya. Kali ini giliran handphone Gaara yang menerima panggilan masuk. Nama Naruto Namikaze terpampang di layar handphonenya.
"Halo?"
"Gaara! Bung, apakah kau sedang bersama Ino?"
"Ya, kenapa?"
"Bagus! Kalau begitu malam ini kalian berdua datang ke tempat ku ya! Aku akan mengadakan makan malam bersama dengan Sakura, Shikamaru dan Kiba karena malam ini kebetulan kami semua sedang tidak sibuk. Aku harap kalian berdua juga tidak sibuk."
"Tidak, kami sedang tidak sibuk. Baiklah aku akan memberi tahu Ino mengenai ini, dia sedang menghampiri Ibunya."
"Kau di butik?"
"Yep, aku di butik."
"Ah, baiklah. Kalau begitu sampai nanti, dah!"
Naruto mematikan sambungan telfon sebelum Gaara sempat menjawab salam perpisahannya. Gaara mengangkat kedua bahunya dan memilih berjalan keluar menghampiri Ino, karena dari tempat dia berdiri sekarang dia bisa mendengar teriakan penuh antusias Ino yang menceritakan mengenai tawaran pekerjaan barunya.
.
.
.
.
Chelsea, London, Inggris
Naruto tinggal disebuah gedung apartemen yang terletak dekat dengan sungai Thames. Pemuda itu membeli sebuah unit loft yang sangat besar untuk dirinya. Kedua orang tuanya tinggal di sebuah Town House di Kensington, begitu juga dengan kedua orang tua Ino. Saat memutuskan untuk tinggal sendiri, Naruto memilih tempat tinggal yang masih dekat dengan rumah orang tuanya, yakni di Chelsea, berbeda dengan Ino yang lebih memilih tinggal di Kennington, yang cukup jauh dari Kensington karena harus menyebrangi sungai Thames terlebih dahulu.
Malam ini Naruto sudah memesankan buffet makanan dari restoran Italia kesukaannya di Chelsea. 4 botol wine terbaik dari perusahaan wine milik keluarga Yamanaka juga menemani buffet makanan yang sudah Naruto tata dengan rapih di meja makannya, berkat bantuan dari pelayan restoran yang tadi datang untuk mengantarkan makanan pesanannya.
Naruto memang ingin membuat malam ini menjadi malam berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang cukup sibuk, terlebih Shikamaru dan Sakura. Naruto benar-benar merasa kalau mereka berdua seperti orang yang tidak punya libur. Jadi ketika Sakura mengatakan kalau dia mendapat libur cukup lama karena ikut keluarga Sabaku ke Birmingham dan masih memiliki beberapa hari untuk bersantai sebelum memulai koas-nya lagi, dan Shikamaru yang sedang tidak pada minggu-minggu sibuk karena dia bilang beberapa berkas perkara dilimpahkan ke Partner maupun Associates lainnya, Naruto dengan cepat membuat hari itu menjadi hari berkumpulnya dia dengan sahabat-sahabatnya. Beruntung karena Ino, Gaara dan Kiba yang sedang tidak memilki jadwal apapun hari itu, jadi mereka bisa kumpul dengan lengkap.
Dirinya sudah menelfon Shion juga, untuk ikut bergabung bersama dengan mereka, sekaligus memperkenalkan perempuan itu pada Sakura, Shikamaru, Kiba dan Gaara. Dirinya berniat untuk menjalin hubungan yang cukup serius dengan kawan baik Ino itu. Dan Naruto adalah Naruto yang akan memperkenalkan seorang perempuan yang akan dia anggap cukup serius kepada sahabat-sahabatnya. Meski terkenal sebagai laki-laki pecinta pesta dan wanita, namun, Naruto beberapa kali tetap menjalankan hubungan yang cukup serius dengan sekitar 4 orang perempuan, yang semuanya kandas karena alasan tidak tahan dengan sifat cinta pesta dan genit milik Naruto. Malam ini Naruto tampil cukup santai, hanya memakai sebuah kaus berlengan panjang yang cukup tebal berwarna biru donker dan celana jeans hitam, cukup santai karena dia berada di apartemennya sendiri.
Kiba dan Sakura menjadi yang datang pertama kali. Sakura yang tinggal di Kennington, berdekatan dengan Ino, dijemput terlebih dahulu oleh Kiba yang kebetulan tinggal di Westminster karena karir perpolitikkannya. Tinggal di Westminster yang merupakan pusat pemerintahan sangat memudahkannya untuk berpergian dari satu gedung pemerintahan ke gedung pemerintahan lainnya.
"Yang lain belum datang?" tanya Sakura sambil melepas mantelnya yang berwarna merah muda, seperti warna rambutnya. Gadis itu terlihat mengenakan sebuah sweater rajut berwarna abu-abu dengan sebuah rok selutut berwarna hitam dan stoking hitam melengkapi pakaiannya malam itu. Sakura melepas Oxford Shoesnya dan memilih menggunakan sendal rumahan miliknya sendiri yang ada di apartement Naruto.
"Shikamaru sedang dalam perjalanan ke sini dari kantornya, sementara Ino dan Gaara setengah jam yang lalu baru jalan dari Bond Street. Habis dari butik bibi Mitchell. Lagipula Stratford ke Chelsea cukup jauh, dan jalanan London terkadang suka macet, semoga saja mereka cepat sampai," ungkap Naruto. Kiba begitu melepas mantelnya dan menggantungnya di gantungan mantel yang berada dekat pintu masuk apartement Naruto langsung berjalan menuju balkon milik Naruto yang langsung disuguhi pemandangan sungai Thames pada malam hari. Kiba masih memakai pakaian kerjanya, hanya saja sepertinya pemuda itu melepas jasnya, tetapi celana bahan dan kemeja abu-abunya masih menempel dengan rapih di tubuhnya.
"Naruto, pemantik api mu mana?" ah, pemuda itu ingin merokok rupanya. Naruto menunjuk pemantik apinya yang berada di meja kecil di samping sofa besar yang terletak pada ruang santainya. Sakura sudah duduk dengan tenang di sofa itu sambil bermain dengan tablet milik Naruto.
Naruto duduk di sebelah Sakura, menggonta-ganti saluran televisi miliknya, menghiraukan Kiba yang sedang asik merokok di balkonnya sambil sibuk bermain ponsel.
"Bagaimana Birmingham?"
"Tidak gimana-gimana. Seperti biasa, mengunjungi kediaman Kakek Reto itu sangat menyenangkan," jawab Sakura tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari tablet milik Naruto. Dia sedang membaca sebuah e-book tentang kesehatan dari koleksi e-book milik Naruto yang dia todong untuk membeli dan mengunduhnya di tablet pemuda pirang itu.
"Natal dan tahun baru nanti kami akan merayakannya di Yamanaka Manor, kau ikut kan?"
Sakura menoleh ke arah Naruto yang sedang menatapnya penuh harap, dia menggeleng kecil, "Aku akan pulang ke Tokyo pada pertengahan Desember nanti sampai pertengahan Januari. Jadi aku tidak akan ikut acara Natal dan tahun baru kalian di Manor. Shikamaru dan Kiba juga ikut?"
"Hanya tahun barunya saja, Shikamaru bilang untuk Natal mereka sekeluarga akan pergi ke Edinburgh untuk mengunjungi rumah keluarga Nara. Kiba akan ke Manchester, mengunjungi rumah keluarga Inuzuka. Dua hari sebelum tahun baru mereka baru akan kembali dan langsung ke Yamanaka Manor. Grace dan Henry juga akan ikut."
"Ahh, aku jadi rindu Edinburgh," Sakura tersenyum kecil, "Sayang sekali kali ini aku tidak bisa ikut. Ku pikir Ino akan ke Bordeaux?"
"Neneknya akan ikut bergabung di Manor. Tahun lalu mereka sudah merayakannya di Bordeaux, tahun ini gantian. Lagipula akan lebih ramai jika di Manor, karena seluruh keluarga Cathcart juga akan bergabung, begitupula dengan keluarga Uzumaki," Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dan kau tahu sendiri betapa besarnya Yamanaka Manor, Nenek ku meminta keluarga Ayahku juga ikut merayakan natal di sana. Sepertinya akan sangat ramai suasana Manor saat natal nanti."
"Iya ramai sekali, ah, tapi aku harus pulang ke Tokyo, aku juga merindukan rumah di sana," Sakura tersenyum sendu. Naruto menatap sahabat berambut merah mudanya itu dan tersenyum lebar, tangannya terulur untuk mengusap lembut kepala Sakura.
"Aku mengerti, lebih penting untuk kau pulang ke Tokyo dan menemui keluargamu di sana."
Ting! Tong!
Sakura mengernyitkan dahinya, "Siapa?" karena kalau itu Shikamaru atau Ino dan Gaara, mereka pasti akan langsung masuk karena sudah mengetahui pin keamanan apartemen milik Naruto. Kalau begitu orang ini bukanlah salah satu dari mereka bertiga karena lebih memilih menekan bel yang ada di pintu apartemen Naruto.
Naruto tersenyum lebar, lalu beranjak menuju pintu untuk membukakan dan mempersilahkan tamunya masuk. Ketika ia membuka pintu, benar saja tentang dugaannya, Shion Evans berdiri di hadapannya memasang senyum manisnya. Shion terlihat sangat cantik pada malam hari ini dengan rambut pirangnya yang dia gelung dengan menyisakan anak-anak rambut dan poni depan ratanya membingkai wajahnya. Sebuah mantel berwarna beige dengan gaun sederhana selutut dengan potongan off-shoulder berwarna lilac dan sebuah high heels berwarna nude turut menyempurnakan penampilannya.
"Hai! Akhirnya kau datang, maaf aku tidak bisa menjemputmu," Naruto maju selangkah untuk merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan memberikan ciuman di kedua pipi Shion.
"Tidak apa-apa, kebetulan aku sedang bersama dengan manusia ini tadi, jadi aku sekalian mengajaknya ke sini. Kau tidak keberatan, kan?" Shion menunjuk seorang laki-laki berambut hitam yang sedang memasang wajah super datarnya yang berada di belakangnya. Naruto mendongak untuk melihat sosok itu. Sasuke Uchiha terlihat memakai sebuah turtleneck berbahan rajut berwarna krem dan celana jeans berwarna senada. Sebuah coklat muda dan sebuah syal berwarna hitam yang menggantung di kedua sisi bahunya, melengkapi penampilannya itu. Oh, tidak tertinggal sepatu boots hitamnya.
"Oh, Sasuke! Tidak apa-apa, semakin banyak orang justru semakin menyenangkan. Masuklah kalian berdua, di dalam sudah ada 2 temanku," Shion masuk terlebih dahulu, lalu Naruto pun menjabat tangan Sasuke dan menarik lelaki berwajah datar itu untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Sakura! Kiba! Lihat siapa yang datang!"
Sakura yang sedang meminum segelas airnya hampir menyemburkannya begitu saja ketika melihat sosok Sasuke Uchiha masuk ke dalam apartemen Naruto. Dirinya juga memincing melihat Shion Evans yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Sakura tentu saja mengenali sosok gadis itu, Shion sama terkenalnya seperti Sasuke. Kiba hanya menolehkan kepalanya, melihat Shion dan Sasuke sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya dan batang rokok keduanya. Terlihat tidak tertarik.
"Sakura, kenalkan ini Shion dan ini Sa–"
"Ya! Shion dan Sasuke kan, aku tahu!" Sakura langsung memotong ucapan Naruto dan dengan antusias berpelukan singkat sambil memperkenalkan dirinya pada Shion. Shion menerimanya dengan hangat, terkejut karena disambut dengan hangat oleh Sakura. Sakura lalu beralih pada Sasuke dan menjabat tangan pemuda itu sambil menyunggingkan senyum lebarnya. Sasuke menyebut namanya dan memberikan senyuman tipisnya.
Saat Sakura ingin membuka mulutnya, terdengar suara cukup gaduh yang sedang berusaha membuka pintu apartemen milik Naruto.
"Ck! Shikamaru yang benar dong!"
"Apalagi salah ku?"
"Banyak! Aku malas menyebutkannya satu persatu!"
"Astaga Tuhan!"
"Hey, sudahlah kalian berdua!"
Pintu apartemen terbuka dengan kasar, menampilkan Ino yang sedang memasang wajah masamnya. Sebuah cape dari Burberry dengan inisial namanya langsung dilepaskannya begitu saja ketika memasuki apartemen Naruto. Menampilkan sweater rajut berwarna coklatnya dan jeans biru nya yang sebagiannya tertutup oleh knee high boots berwarna abu-abunya. Topi beret berwarna hitamnya masih terpakai dengan sempurna di kepalanya.
Kedatangan Ino disusul oleh Gaara dan Shikamaru yang masuk hampir bersamaan. Keempat pasang mata yang berada di dekat ruang santai milik Naruto memperhatikan ketiganya yang masih sibuk melepas mantelnya. Shikamaru bahkan terlihat masih mengenakan jas dan dasinya, sepertinya laki-laki itu sepulang kerja langsung pergi ke tempat Naruto tanpa melepas sehelaipun pakaian kerjanya. Gaara terlihat memakai sebuah kemeja putih yang dibalut lagi oleh sweater berwarna krem dan celana jeans hitamnya. Begitu kontras dengan Shikamaru yang tampil formal dengan pakaian kerjanya.
"Naruto kau jadi pesan dari Scalini?"
Ino langsung berjalan menuju meja makan Naruto, masih tidak menyadari kehadiran dua orang yang tidak dia ketahui akan hadir pada acara berkumpul mereka malam ini.
Shikamaru dan Gaara terlihat bingung dengan kehadiran sepasang dua orang asing yang ada di dekat Naruto dan Sakura. Keduanya sama-sama mengernyitkan dahinya meskipun merasa begitu familiar dengan kedua wajah asing yang ada.
"Eng, chérie, sepertinya kau harus menoleh pada Naruto dulu," panggil Gaara. Ino yang sudah dekat dengan meja makan Naruto langsung menoleh ke arah Naruto yang sedang menatapnya dengan senyum maklum dan sebuah lambaian tangan.
Matanya langsung melotot kaget melihat Shion dan Sasuke yang juga ada di sana. "Loh, Shion, Sasuke, sejak kapan kalian di situ?"
"Dari tadi. Kau yang tidak sadar dengan kehadiran kami," ucap Shion sambil terkekeh.
Ino langsung berjalan cepat dan memeluk Shion, "Astaga! Aku tidak tahu kau akan datang! Si pirang bodoh ini kah yang mengajak mu?" tanya Ino sambil menunjuk Naruto yang sudah melayangkan kilatan kesal padanya.
"Iya, dan kebetulan Sasuke sedang berkunjung ke tempat ku tadi. Jadi aku sekalian mengajaknya," Shion melepaskan pelukannya dengan Ino lalu tersenyum manis kepada gadis itu.
"Hai, Sasuke! Apa kabar?" Ino langsung beralih untuk memeluk pemuda itu.
"Hm, baik. Bagaimana denganmu?" balas Sasuke.
"Sangat baik! Menyenangkan sekali karena akhirnya Gaara sudah di London!" Ino menjawabnya dengan senyuman lebar penuh kesenangan, Sasuke bisa melihat matanya yang berbinar-binar. Membuatnya jengkel juga, dirinya iri, em, cemburu maksudnya. Sungguh. "Oh iya! Gaara sini! Aku ingin memperkenalkan mu pada Shion!"
Gaara dan Shikamaru pun menghampiri perkumpulan orang-orang itu. Tangan Ino langsung menarik Gaara untuk berkenalan dengan Shion. Sasuke menatap datar pemandangan di hadapannya meskipun dirinya kesal setengah mati pada pemandangan itu.
"Nah, Gaara, Shikamaru, ini namanya Sasuke," ucap Naruto. Sasuke tersenyum tipis pada kedua pemuda itu. Shikamaru memasang tampang malasnya sambil sedikit menyunggingkan senyum, Gaara sama saja seperti Sasuke, hanya tersenyum tipis.
Ino langsung menarik Shion dan Sakura untuk bersantai dan mengobrol ria di sofa Naruto. Dirinya mulai bercerita mengenai harinya yang sedari pagi berada di butik membantu Ibunya. Lalu setelahnya mereka heboh dengan hal-hal lain.
Yang laki-laki langsung bergabung dengan Kiba di balkon, dan masing-masing dari mereka mulai menyulut rokoknya kecuali Gaara.
"Kau tidak ikut merokok? Biasanya ikut."
"Sedang bersama Ino. Ino tidak suka kalau aku merokok ketika sedang bersamanya."
Kiba mengangguk-angguk mengerti. Setelahnya mereka semua larut pada percakapan masing-masing.
.
.
.
.
Mereka ber 8 sudah duduk di meja makan Naruto. Di hadapan mereka masing-masing sudah tersaji piring yang berisi makanan yang mereka pilih. Beberapa makanan pembuka sudah mereka santap sambil sesekali tertawa karena celotehan Kiba atau Naruto. Suasana makan malam mereka pada malam itu sungguh hangat dan penuh dengan tawa.
"Sakura, kau akan menetap di Inggris akhir tahun nanti?"
Sakura menoleh pada Ino lalu menggeleng pelan. "Aku akan pulang ke Jepang."
Ino mendesah pelan. "Sayang sekali, tadinya aku berpikir kalau kita bisa berkumpul bersama di Manor."
"Ku pikir kau akan menghabiskan tahun baru mu di Bordeaux, tapi ternyata di Oxfordshire ya," Ino mengangguk menanggapi perkataan sahabatnya.
"Kau ikut saja dengan kami," Naruto menoleh pada Shion yang duduk di sebelah kirinya. Shion yang hendak memakan fusilli miliknya menoleh cepat ke arah Naruto yang tengah menatapnya penuh harap.
"Ikut apa?"
"Pesta tahun baru bersama di Manor milik keluarga Ino di Oxfordshire."
Shion melirik Ino yang tengah menatapnya dengan penuh antusias. "Dengan keluarga Ino?"
"Iya, dan keluarga Namikaze juga. Keluarga Cathcart juga!"
Shion tersenyum kecil, "Aku ingin. Tapi sayang sekali aku akan menghabiskan natal dan tahun baru ku di Sevilla bersama dengan keluarga ku."
"Ah sayang sekali," Ino melanjutkan menatap Sasuke yang terlihat cuek dengan percakapan mereka. "Kau bagaimana Sasuke? Bisa bergabung dengan kami?"
Sontak semua mata langsung beralih pada Sasuke yang duduk di pojok kiri, dengan Shikamaru yang berada di kanannya. Tapi tidak dengan Gaara. Pemuda berambut merah itu melirik sekilas pada Ino lalu mengalihkan pandangannya pada Sasuke dengan cukup tajam.
Sasuke mengangkat kepalanya lalu menatap satu-satu wajah yang tengah menatapnya dengan penuh penasaran. Saat menatap Gaara, tatapan mereka berdua sedikit beradu. Sasuke tahu Gaara menatapnya dengan tajam dan penuh waspada. Tatapannya beralih pada Ino yang berada persis di sebelah kanan Gaara. Gadis itu menatapnya penuh harap.
"Tidak bisa. Keluargaku rutin mengadakan pesta di Mansion Uchiha di Bristol."
Ino menganggukkan kepalanya. Diam-diam Gaara menghela nafas lega. Entah kenapa merasa kalau sosok pemuda berambut hitam dan beriris mata kelam itu seperti menjadi ancaman baginya.
Setelahnya makan malam berjalan dengan tenang. Tidak banyak obrolan dari mereka, meski Ino dan Sakura tipe orang yang suka berbicara, namun jika di meja makan mereka tidak pernah banyak-banyak berbicara kecuali sedang dalam acara formal.
Selesai dengan acara makan malam mereka, Naruto membuka botol-botol wine yang sudah disediakannya dan mereka meminumnya bersama sambil bersantai.
Kiba membuka topik obrolan mengenai pekerjaan mereka masing-masing. Terlebih mengenai Shion dan Sasuke yang baru pertama kali berkumpul bersama mereka.
"Jadi kau bekerja di Pemerintahan?" tanya Shion pada Kiba.
Pemuda berambut coklat acak-acakkan itu mengangguk. "Aku berencana mengambil gelar Master ku terlebih dahulu tahun depan, lalu aku berencana akan bekerja di House of Parliament."
"Kau jadi mengambil gelar Master mu? Dimana?" tanya Sakura.
"Cambridge."
Naruto tertawa, tangan kirinya memegang gelas wine miliknya sementara tangan kanannya merangkul pinggang Shion yang duduk tepat disebelahnya. "Ayahmu benar-benar ingin kau mengikuti jejaknya, ya?"
Kiba menatap Naruto mengejek, "Kau juga begitu kan, pirang bodoh? Bukankah Paman Minato dan Bibi Kushina sudah menentukan perjalanan hidupmu seperti apa, hm?"
Naruto bersunggut-sunggut mendengar penuturan balik Kiba. Meski dirinya tidak bisa memungkiri kalau hal yang dikatakan pemuda berambut coklat itu adalah benar. Untung saja Naruto juga memiliki ambisi dibidang yang sama dengan Ayahnya.
"Kau bagaimana Shikamaru?" tanya Sakura.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau yang bagaimana? Pekerjaanku tidak ada yang spesial, biasa-biasa saja seperti biasanya, merepotkan." Shikamaru memejamkan matanya sembari memijat pelipisnya dengan lelah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pekerjaan menjadi pengacaranya akan benar-benar menyita waktunya.
"Oh iya, kau kan seorang dokter, Sakura. Kau berniat mengambil spesialis apa?" tanya Shion penasaran sekaligus berdecak kagum melihat sesosok gadis berambut merah muda yang duduk di sebrangnya.
"Ah, aku masih menjalankan masa Pendidikan koas ku. Aku berencana mengambil spesialis Syaraf. Sama seperti Ibu ku." Sakura tersenyum ke arah Shion.
"Wow, keren sekali, aku kagum padamu!"
"Terima kasih. Aku juga kagum dengan aktingmu, benar-benar menghayati sekali," puji Sakura balik.
"Yoo, Gaara. Bagaimana album baru mu?" tanya Naruto tiba-tiba.
Sasuke sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan dari Itachi dan Shisui di grup chat mereka yang mengajaknya untuk berkunjung ke kediaman Shisui lalu berangkat bersama ke sebuah pub di Soho.
"Masih sedang proses pembuatan. Mungkin awal tahun sudah bisa mengeluarkan single untuk album baru ku." Yang lain ber-'ohh' ria dan mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendengarnya.
Ino yang sedari tadi bersandar pada lengan kekasihnya segera menegakkan badannya dan berseru dengan antusias. "Dengar! Saat dibutik Mum tadi, Agensi ku menelfon ku dan berkata kalau Dior ingin aku menjadi bintang untuk iklan parfum terbarunya!"
Sasuke yang mendengarnya langsung terdiam. Sementara Sakura dan Shion sudah sama hebohnya dengan Ino ketika mendengar kabar tersebut. Jemari sasuke yang tengah mengetik di ponselnya terhenti begitu saja. Hal tersebut nyatanya luput dari mereka semua karena Shikamaru yang tengah menutup telinganya dengan kesal karena mendengar jeritan ketiga gadis itu. Kiba yang meringis jengkel melihat kelakuan mereka bertiga. Naruto yang ikut bertepuk tangan dan menyelamati sepupunya itu, dan Gaara yang tidak henti-hentinya tersenyum melihat kegembiraan Ino hari ini.
"Eh tunggu!" Shion berteriak tiba-tiba. "Sasuke bukankah kau juga mendapat telfon tadi siang mengenai jadi bintang kampanye untuk sebuah parfum. Untuk apa sih? Armani ya? Atau Hugo Boss?"
Sasuke menoleh pada Shion lalu berkata. "Dior, bukan Armani dan Hugo Boss."
Seketika suasana semakin heboh lagi karena mengetahui kalau Ino dan Sasuke akan membintangi iklan parfum yang sama. Tidak dengan Gaara. Pemuda itu memasang wajah datarnya namun dalam hatinya tentu saja berseru tidak suka dengan pekerjaan ini. Meski dirinya mendukung karir Ino seratus persen, entah kenapa pada kali ini seperti ada yang mengganjal hatinya. Ingin meminta Ino membatalkannya tapi ya masa sih? Meski Ino adalah kekasihnya, dirinya tidak punya kontrol penuh terhadap pekerjaan Ino. Toh Ino sendiri tidak pernah mengusik pekerjaannya, dan selalu mendukung karirnya dengan penuh semangat.
"Wow, kalian akan membintangi iklan yang sama, dong?" Sakura berdecak kagum.
Kiba tertawa keras mendengarnya, lalu tanpa melihat suasana dirinya langsung menceletukkan sesuatu yang cukup sensitif. "Gaara kau jangan cemburu ya dengan pekerjaan Ino, hahaha!" Pemuda itu tertawa terbahak-bahak disusul oleh Sakura, Shion dan Naruto yang tertawa.
Ino melempar bantal sofanya ke arah Kiba. "Apa sih?! Gaara tidak mungkin cemburu, ya! Itukan hanya profesionalitas pekerjaan kami saja!"
Sasuke melirik Pemuda Sabaku itu diam-diam. Gaara terlalu larut pada pikirannya sendiri jadi tidak begitu menghiraukan sekitarnya. Ino dan Kiba sudah kejar-kejaran setelah sebelumnya saling lempar bantal. Sakura dan Naruto yang terkena lempar pun akhirnya ikut acara kejar-kejaran Kiba dan Ino. Shion tertawa senang melihat pemandangan keempat temannya yang tengah berlarian seperti anak kecil. Shikamaru menggelengkan kepalanya jengkel dan lebih memilih merebahkan dirinya di sofa panjang milik Naruto. Sasuke masih pada posisinya, namun diam-diam dia menyeringai kecil melihat Gaara yang melamun.
Bukankah akan menghabiskan waktu syuting bersama dengan Ino –yang dia dengar rencananya mereka akan syuting di Berlin, terdengar begitu menyenangkan?
.
.
.
.
Sasuke pamit pulang terlebih dahulu dari apartemen Naruto. Dirinya langsung menancapkan gas mobilnya dan berkendara menuju sebuah pub di Soho. Dimana Kakak sulung dan Sepupunya yang baru saja mengabari lima menit yang lalu kalau mereka sudah di sana.
Sepanjang perjalanan menuju Soho, Sasuke tidak henti-hentinya menyeringai. Dia sebenarnya juga tidak menyangka kalau pasangan bintang kampanye parfumnya merupakan Ino. Manajernya memang mengatakan sesuatu mengenai pasangan bintang kampanyenya merupakan seorang Model yang terkenal dan tinggal di London. Namun Model yang tinggal di London jumlahnya cukup banyak, dan nama Ino tentu saja sempat terpikirkan olehnya ketika dirinya menerka-nerka siapa yang akan menjadi pasangannya. Namun dia segera menepis harapannya itu, dan berusaha tidak memikirkannya lagi. Hanya saja dirinya tidak menyangka kalau pasangan bintang kampanyenya benar-benar Ino.
Terlebih iklan yang akan mereka bintangi merupakan iklan parfum. Sasuke tidak buta dengan kenyataan kebanyakan iklan parfum yang dibintangi oleh sepasang perempuan dan laki-laki biasanya memiliki adegan yang cukup intim. Memikirkannya membuat Sasuke hampir gila.
Bagaimana kalau dia dan Ino harus mengalami adegan ciuman? Oh, Sasuke tidak bisa membayangkannya.
Setelah 20 menit berkendara, Sasuke telah sampai di pub tujuannya. Setelah memarkirkan mobilnya di dekat pub tersebut, Sasuke beranjak masuk ke dalamnya. Suasananya cukup ramai. Matanya mengedar mencari Kakak dan Sepupunya. Setelah menemukan kedua orang yang dicarinya, Sasuke berjalan menghampiri mereka.
"Nah akhirnya datang juga. Darimana saja kau?" tanya Shisui begitu Sasuke sudah berada di antara dirinya dan Itachi.
"Habis ada acara makan-makan di tempat temanku."
"Siapa?"
"Naruto Namikaze."
Itachi mengernyit mendengarnya. "Sejak kapan kau kenal dengan Namikaze?"
"Sejak pesta Halloween milik Shion. Aku juga kenal dengan sepupunya." Sasuke mengambil tempat duduk yang sudah disediakan oleh kedua pria yang lebih tua darinya itu.
"Ino Yamanaka?" tanya Itachi.
"Oh! Gadis pirang platina yang tidak berhenti kau tatap di pesta Namikaze Enterprise pada September lalu?" goda Shisui.
"Hah?!" Itachi sedikit menaikkan oktaf suaranya begitu mendengar celotehan Shisui.
Sasuke mengangguk. "Dia juga ada di sana tadi bersama dengan teman-temannya. Dan kekasihnya juga ada."
"Oh, si Sabaku itu?" tanya Shisui. Sasuke mengangguk.
Lalu gestur tubuhnya langsung memanggil seorang bartender dan memesan segelas Martini untuknya.
"Aku juga mendapat tawaran pekerjaan tadi siang. Menjadi bintang kampanye parfum Dior. Turns out, Ino Yamanaka juga akan membintanginya bersamaku."
Shisui tertawa lalu menepuk-nepuk bahu Sasuke dengan semangat. "Selamat kalau begitu."
Itachi mengernyit. "Bukankah kau waktu itu bilang padaku kalau kau tidak akan mengejar gadis itu?"
Sasuke terdiam, lalu menatap Kakak sulungnya dengan pandangan senang. "Memang. Tapi ternyata setelah aku mengenalnya sulit untukku kalau tidak bisa mendapatkannya."
.
.
a/n: haaaa setelah demot gak bisa mikir akhirnya bisa updatee! (padahal kemaren sempet update one shot...) iya aneh banget pas mau ngelanjutin cerita ini kebiasaan banget malah gak bisa mikir, eh malah ide-ide buat one shot berdatangan. Jadi kayaknya aku bakal update one shot nanti, tunggu aja one shot lainnya ya.
Terima kasih buat yang tetep dukung cerita ini! Sungguh aku gak bisa berkata banyak, makasih udah mau nunggu aku update cerita ini, aku juga berharap kalau aku bisa kelarin cerita ini, tapi mungkin gak dalam waktu yang dekat, karena aku juga gak mau nulis buru-buru dan gak puas dengan hasilnya:")
.
.
balas-membalas review!
narashikaino: aa udah nunggu sasuino moment banget ya kamuu
guest: Thank you! hayo pilih salah satu
LadychiieL: mari terus berharap tentang kejayaan sasuino!
Kyudo YI: hayo bakal protektif gak ya... iya semoga nextnya aku bisa konsisten bikin long chap ya:") makasih semangatnya!
Minty: cepet sekali ya berpaling dari Gaara ke Sasukenyaa hahaha makasih reviewnya! jadi kita tunggu aja ya kapalnya Ino bakal oleng atau tetep kokoh nih..
Xoxo: stay tune terus ya dicerita ini buat tau konfliknyaa
Saiinojin: MAKASIH LOH YAAA! AKU JUGA NYEMANGATIN DIRI SENDIRI BUAT CEPET LANJUTIN INI WKWKWKWK
BngJy: aaa makasih! kamu juga ya jaga kesehatan mu!
terima kasih semua atas review nonstopnya, terharu banget!:")
