"Jadi, gini..." Kageyama memotong kalimatnya saat ia menggigit sebatang es krim soda. "Tapi janji jangan ketawa, ya!"
"Nggak bisa! Memangnya aku tahu kau bakalan cerita apa?" Hinata terkikik duluan.
Kageyama yang kesal dengan reaksi Hinata lalu melayangkan tamparan ke kepalanya. Gadis itu merintih dan balas memukul. Mereka mulai sedikit adu jotos sampai akhirnya Hinata dibuat kalah dengan cubitan cakar besi Tobio di kedua pipinya. Kageyama melepaskan cubitannya dan mendengus pelan.
"Jadi gini..."
[Flashback]
Kejadiannya 2 hari sebelum penampilan kuartet di ekskul mukre.
Kageyama ingat sekali ketika cewek-cewek dikelasnya mendadak riuh, berbisik-bisik dengan wajah merona ketika Miya Atsumu melenggang sendirian tanpa dosa ke kelasnya pada jam istirahat. Si senpai kelas 2 dengan angkuhnya duduk menyilangkan kaki di meja Kageyama yang saat itu tengah menyeruput susu kotak dan melamun. Jangan salah, melamun itu menyenangkan. Kapan lagi punya waktu mengosongkan pikiran dan tidak memusingkan apa-apa?
"Tobio-boy, ikut aku sebentar, yuk." Ajaknya sambil mengusap dagu Kageyama dengan gerakan menggoda.
"Kemana?" Jawabnya polos. Kageyama menepis tangan Atsumu, yang malah dibalas dengan kekehan gemas oleh si kakak kelas.
"Ruang musik. Para senpai ada sedikit urusan khusus denganmu."
Urusan khusus? Perkataan Atsumu membuat Kageyama mulai dirundung curiga. Ia mengikuti sang kakak kelas berjalan ke ruang musik dan menemukan seluruh anak kelas 2 dan 3 ada disana. Kageyama disuruh duduk di salah satu kursi kosong sementara Atsumu menyamankan diri duduk di sebelah Kenma yang asyik dengan ponselnya. Dilihat dari gesturnya, tampak gadis dengan warna rambut mirip pudding itu tengah giat-giatnya main game.
"Lho, Sugasen mana?" Tanya Hoshiumi tiba-tiba. "Wakasen juga nggak ada."
"Ushijima-san dipanggil BK untuk talent scouting tahap akhir. Dia bulan depan sudah bisa ikut tes." Shirabu membantu menjawab.
"Diterima dimana dia?" Daichi menyahut.
"Akademi angkatan udara." Shirabu mengulas senyum tipis penuh kebanggaan.
"Kita-senpai juga nggak ada." Atsumu menoleh kesana-kemari. "Apa mereka nananini di perpustakaan, ya?"
"Kenapa harus di perpustakaan?" Tanya Bokuto polos.
"Diliat dari tipe-tipe mereka berdua yang demen belajar, perpustakaan jadi TKP paling mencurigakan." Kuroo menimpali.
"Keburu gitu, mantap-mantap di jam istirahat? Mana puas, bego!" Balas Futakuchi. "Skidipapap enak mantap-mantap wajib semalam suntuk, tahu!"
"Positif tingting aja, siapa tahu Kita-san tipe yang 'cepet keluar'." Oikawa menyeletuk.
"Positive thinking, woy." Iwaizumi mengoreksi.
"Wah, Tooru-paisen udah pernah nyobain Kita-san juga? Luar biasa..." Futakuchi bertepuk tangan. "Sasuga Yuujo-sama."
"Atau jangan-jangan Suga-mama yang sukanya main 'quicky'?" Kuroo membalas nakal.
"Aku nggak cuma pinter jahit baju lho, Kenji-chan. Mau kujahit bibir julidmu juga?" Cibir Oikawa. "Lagian siapa suruh nyeletuk jorok? Kan aku gatel pengen ikutan."
"Kita-san tadi terkilir pas jam olahraga." Yaku akhirnya menjawab dengan kalimat yang benar, karena Kita, Yaku dan Kuroo notabene ada di satu kelas yang sama.
"Kok bisa?" Tanya Oikawa.
"Dia tabrakan sama raksasa anak kelas 2-1 waktu ikutan main basket." Jelas Yaku. "Sahabatnya Korai, tuh."
"Iya, aku lihat dia gotong-gotong Kita-san waktu awal jam istirahat." Balas Hoshiumi. "Kakinya yang terkilir?"
"Pundaknya." Kuroo dan Yaku menjawab bersamaan.
"Aaawww..." anak-anak lain mengernyit hampir bersamaan.
"Suga nggak akan datang kalau gitu." Daichi melengos. "Shirabu, kau jemput Tsukishima sana."
"Dimana kelasnya?" Shirabu beranjak bangun.
"1-4."
"Mau kuantar nggak?" Futakuchi menghampiri. "Takutnya kau nyasar atau takut nyebrang jalan, gitu."
"Kelasnya di sebrang ruang musik." Celetuk seluruh anak kelas 3 bersamaan.
"Terus nggak ada yang jemput dia?" Tanya Shirabu bingung.
"Tadi aku udah kesana. Tapi waktu kuhampiri dia malah melengos." Kuroo memasang tampang sedih sementara Shirabu melenggang tanpa permisi.
"Iyalah kabur. Disamperin buaya darat, sih." Atsumu terkekeh.
"Ih, siluman rubah desa Konoha nyahut-nyahut aja." Balas Kuroo beriring tawa mengejek
"Heh, sebagai sesama jamet kalian tuh harus akur." Iwaizumi melerai.
"Idih. Atsumu tuh jamet! Udah sok tampan, medok, pirang-pirang alay lagi!" Umpat Kuroo tidak terima.
"Weey, bukan sok tampan. Emang beneran tampan kali." Atsumu mendengus. "Rambutku masih kece, lah. Daripada Kurtet-paisen, kucing garong poni ayam!"
"Daripada Iwa-chan, gorilla cyclops!" Celetuk Oikawa.
"Nggak usah ikut-ikutan, Kusokawa!" Iwaizumi menyentil belakang telinga Oikawa.
"Aduh! Nggak boleh kasar sama perempuan!" Omel Oikawa.
"Lho, kirain Tooru-paisen emang suka di BDSM." Futakuchi tertawa. "Iwasen, siksa aja sampe beres!"
"Akaashi, bilang sesuatu biar mereka mau diam." Tutur Kenma.
"Nggak akan ada habisnya." Akaashi mengurut keningnya. "Omi, Korai, siapa saja, tolong bertindak sebelum bunda Yaku murka."
"Hei, masa kalian mau adu hujat di depan Kageyama? Kalau dia mencontoh gimana?" Ujar Daichi.
"Ah padahal lagi seru-serunya. Daichi payah. Kurang berperan dalam mukre! Dasar figuran sinetron!" Sembur Bokuto tiba-tiba.
"Bilang aja nggak berani ikutan karena takut baper, dasar burung hantu tetanus." Desis Daichi.
"WOOOHHH!" Bokuto mulai berdiri dan menopang satu kaki ke meja. "Dasar- umm...dasar..."
"Yappari. Bokuto-san kurang jahat kalau mau ikutan panggung adu hujat Werewolf Heartstring." Sakusa menggumam.
"Setuju." Akaashi, Kenma, Daichi dan Iwaizumi membalas.
"Yang masih ngomong, kugunting lidahnya!"
CRAKK!
Semua orang bungkam seketika melihat Yaku mengacungkan sebilah gunting. Begitu ruangan kembali sunyi, Sakusa mengambil alih gunting yang diacungkan Yaku dan menyembunyikannya demi alasan keamanan. Shirabu dan Tsukishima berdiri di pintu, terkikik geli menonton adegan adu hujat anak-anak mukre senior.
"Lho, kok udahan?" Shirabu terperangah. "Atsumu dan Oikawa-san kan belum jambak-jambakan."
"Hoo, saling menghina itu budayanya anak mukre toh ternyata." Tsukishima tertawa sinis sambil membetulkan kacamatanya.
"Nggak sih, itu sisa-sisa kebobrokan angkatannya bunda. Kalau Kita-san ada disini mereka nggak akan terlalu frontal." Shirabu mempersilahkan Tsukishima duduk di sebelah Kageyama.
"Apa maksud perkataanmu sebagai sisa kebobrokan angkatanku, Shirabu?!" Yaku tiba-tiba berdiri dan menyentak. "Jangan belagu ya, dasar perek sok cantik!"
Shirabu tersentak mendengar ucapan Yaku. Sakusa sigap menghampiri Yaku dan menuntunnya dengan lembut untuk duduk kembali. Sakusa mengacungkan telunjuknya dan menggeleng, mengecam Shirabu yang baru buka mulut hendak membalas.
"Bokuto-san, silahkan." Akaashi berdehem membuka rapat.
"Oke, Kagems, Tsukki...jadi...kalian tahu kenapa kalian berdua ada disini?"
Kageyama dan Tsukishima saling melirik, lalu menggeleng tidak paham.
"Para senpai memutuskan bahwa anak kelas 1 juga harus memiliki conductor. Kita-san dan Oikawa bakalan lulus tahun depan. Atsumu dan Korai akan naik jadi kelas 3 dan jadwal latihan mereka bakal berkurang nantinya. Penerus itu dibutuhkan." Ujar Bokuto lagi. "Sampai sini ada pertanyaan?"
"Kalau begitu, conductor bukan ketua, ya?" Tanya Kageyama.
"Bukan, lebih seperti koordinator latihan." Balas Atsumu. "Ketua dan lain-lain dibutuhkan untuk proses administrasi. Sementara conductor untuk kelancaran latihan mukre."
"Apakah harus 2 orang di setiap angkatan?" Tanya Tsukishima.
"Sebetulnya nggak. Peraturan itu ada semenjak Kita-san nggak naik kelas." Kata Oikawa. "Dan lagi, saat Semi-san nggak ada conductor diharapkan bisa mengajar anak-anak mukre. Kita semua nggak bisa bergantung terus sama Semi-san. Bukan masalah jumlah, tapi kualitas. Atsumu dan Korai beda cerita."
"Aku nggak bisa nyanyi bass, jadi aku nggak bisa mengajari bagaimana nyanyi bass dan bass-baritone." Jawab Hoshiumi jujur. "Dan juga nggak ngerti apa-apa soal beatbox. Kami cuma nggak mau tradisi werewolf punah di angkatan kami, makanya aku mau 'Tsumu membantuku. Dia jadi koordinator latihan untuk anak-anak werewolf."
"Korai, aku padamu~~" Atsumu melayangkan kissbye dan tanda hati ala idol K-pop.
"Nggak gitu ih, jamet." Hoshiumi mendengus jijik.
"Sou..." Kageyama dan Tsukishima bergumam.
"Anak kelas 3 kebanyakan memilih Kageyama. Tapi anak kelas 2 dan sebagian anak kelas 3 juga memilih Tsukishima. Sekarang, kami tanya sama kalian..." Bokuto melanjutkan. "Maunya gimana?"
"Anak kelas 1-nya nggak diajak?" Tanya Tsukishima.
"Ini bukan struktur organisasi. Kami nggak perlu voting anak kelas 1." Timpal Yaku. "Kami menilai kalian berdua punya skill musik yang cukup untuk mengajar teman-teman seangkatan kalian."
Tsukishima mulai duduk lebih santai, berusaha mendengarkan dengan seksama.
"Megane-chan bisa main gitar." Tambah Oikawa. "Bisa main alat musik lain?"
"Gitar aja." Jawab Tsukishima. "Apa aku wajib bisa main piano?"
"Nggak, sih." Futakuchi membalas. "Dulu waktu aku kelas 1, Moniwa-san mengajar alto pakai klarinet untuk tuning pitch."
"Ah, iya. Kaname-chan kesayanganku..." Yaku menggumam manja.
"Dulu waktu aku kelas 1, conductor malah nggak bisa main piano atau alat musik lain." Balas Oikawa. "Tapi dia mengerti teknik vokal. Kurasa itu juga cukup."
"Kalau Kageyama?" Tanya Yaku.
"Piano bisa. Kalau biola aku lebih jago. Aku wakil ketua padus waktu SMP, jadi aku paham soal kepemimpinan di paduan suara." Jawab Kageyama yakin.
"Baguslah. Yang mulia raja aja yang jadi conductor." Celetuk Tsukishima.
"Hei, hei, hei. Kemana semangat juangmu, Tsukki?" Tanya Bokuto. "Masa gitu doang?"
"Kalau ada orang lain yang bisa, kenapa aku harus turun tangan?" Tsukishima tertawa pelan.
"Ah, iya. Kalau aku jadi conductor, aku punya hak membetulkan suara falsmu ya, megane-yaro."
"Mohon bantuannya, ou-sama." Tsukishima memasang wajah ramah yang sangat terasa seperti sindiran.
[End of flashback]
Hinata hanya mengerjap-ngerjap. Ia mencabut stik es krim dari mulutnya dan terkesiap senang. Kageyama cuma memandanginya kembali masuk minimarket. Gadis mungil berambut ginger itu memamerkan hadiah es krim gratis yang baru saja dimenangkannya.
"Oy, dengerin aku nggak?!" Omel Kageyama.
"Denger, kok. Kalau kau ngomongin masalah senpai kita yang suka saling ngatain, aku sih sudah tahu." Balas Hinata. "Jadi, singkat cerita kau kepilih jadi conductor?"
Kageyama mengangguk.
"Masalahnya dimana? Nggak ada bagian yang lucu juga selain ketika Atsumu-san dipanggil jamet." Balas Hinata.
"Bagaimana membuat orang lain mendengarkan aku?"
Hinata terperangah mendengar kata-kata Kageyama. Ucapannya polos sekali. Gadis berambut ginger tersebut melipat lengannya di dada dan berpikir.
"Kau ini tipe orang yang suka teriak-teriak. Gampang marah. Mulutnya menyebalkan juga. Jadi aku paham kenapa kau butuh konsultasi."
Kageyama mendecih, lalu membuang muka.
"Tapi kau kan nggak sendirian." Lanjut Hinata. "Kita kan paduan suara. Kalau kau kesusahan, minta bantuan saja. Aku nggak paham sesulit apa menjadi conductor, tapi kita punya banyak senpai dan teman seangkatan untuk diajak bicara, kan?"
"Memangnya mereka akan mengerti? Kau tahu sendiri seberapa janggalnya hubungan para senpai kita di mukre, kan?" Kageyama menghela nafas.
"Belajarlah mendengarkan." Hinata menepuk lengan Kageyama. "Mungkin membuat mereka mengerti dirimu akan sulit, tapi kalau kau belajar mendengarkan mereka, kau akan lebih mudah mengerti."
"Seperti melihat lebih dekat..." Kageyama berkata. "Seperti yang pernah dibilang Kita-san!"
"Aku nggak bisa membantumu soal musik. Tapi kalau ada masalah lain, jangan sungkan padaku, ya!"
"Seperti jongos untuk fotokopi dan isi air minum, kan?" Kageyama mendecih. "Oh, sekalian ngerapihin partitur dan balikin peralatan latihan juga."
"Mau kupukul kau, hah?" Hinata menyentak sebal.
"Oh, satu lagi." Kageyama menambahkan. "Buatkan grup angkatan. Aku ada pesan lain dari mereka."
"Yaudah, buat." Jawab Hinata praktis.
Kageyama menyodorkan ponselnya pada Hinata. "Aku nggak tahu caranya."
Hinata menepuk jidat. Ia lupa, Shibayama pernah bilang bahwa Kageyama itu gaptek. Ia kira itu cuma mitos sampai ia menyaksikannya sendiri hari ini.
"Silver Tokyo Festival?"
Semi mengangguk. "Yang mengadakan acara ini adalah kedutaan besar Belgia. Ada 10 sekolah yang berpartisipasi; Kalian harus bersyukur aku adalah pelatih kalian. Karena panitia penyelenggaranya adalah kampusku. Aku menunjukkan portofolio berupa video penampilan anak-anak kelas 2 dan 3, lalu mereka meloloskan kita tanpa audisi."
"Kekuatan orang dalam~~~" Oikawa berputar-putar dan berpose seperti sailor moon.
"Selama lima hari, akan digelar berbagai macam pertunjukkan seni mulai dari drama panggung, orkestra, tari dan lain-lain. Untuk orkestra dan paduan suara, pilihan lagunya ada dalam film Les Choristes, Himalaya, L'enfant qui voulait être un ours dan macam-macam lain. Hampir semua lagu-lagunya pakai bahasa Perancis atau buatan komposer Perancis dan Belgia. Kalian akan latihan sama anak dari sekolah lain, dan tidak menutup kemungkinan akan latihan dengan anak kuliahan juga." jelas Semi. "Yang bikin susah, kalian bisa saja dipecah dan dicampur bersama tim dari sekolah atau kampus lain untuk menampilkan judul musical theatre yang berbeda. Bagusnya, kalian bakal dikasih free-pass selama 5 hari, dengan fasilitas bangku penonton, ruangan istirahat, konsumsi, sertifikat keikut-sertaan dan beberapa merchandise."
"Yang artinya..." Bokuto menggerling jahil.
"BOLOS SEKOLAH SEMINGGU!" sebagian besar anak-anak mukre menyahut girang.
"Mana ada? Acaranya dari rabu-minggu. Jadi kalian cuma bolos sekolah 3 hari." Semi mematahkan kegembiraan anak-anak didiknya.
"Semi-san, pertanyaan!" Hoshiumi mengangkat tangan. "Tadi katanya kita bisa dipecah dan dicampur sama tim dari sekolah lain untuk musical theatre yang berbeda, kan? Bagaimana sistemnya?"
"Untuk paduan suara, setiap sekolah membawakan satu atau dua lagu, tergantung kapasitas dan jumlah anggota. Untuk anak orkestra, segalanya berdasarkan jenis instrumen apa yang dimainkan. Biasanya yang selalu jadi rebutan itu pemain windpipes." Semi menambahkan. "Latihannya dimulai akhir pekan ini sampai habis bulan ini. Oikawa, seragam formal untuk anak baru sudah jadi?"
"Besok lusa. Otou-san bilang sudah dalam tahap akhir. Sedang pengecekan ulang." jawab Oikawa.
"Oh, kita nggak akan pakai kaos ini?" Hinata menunjuk dadanya sendiri, memamerkan kaus bergambar wajah serigala dengan logo werewolf heartstring. Kalau mau jujur, kaus latihan ini membuatnya terlihat seperti anggota ekskul olahraga, bukan ekskul mukre.
"Nggak. Kalian diwajibkan pakai seragam sekolah masing-masing. Yang anak kuliahan bahkan wajib pakai almamater." Semi kembali menjelaskan.
"Nggak ada kostum atau tata rias?" tanya Oikawa bingung.
"Ditiadakannya kostum dan tata panggung bagi pagelaran orkestra dimaksudkan untuk memudahkan penampilan dan mempersingkat waktu persiapan." Semi menjawab. "Tapi untuk drama panggung sih lain cerita. Drama panggungnya lebih seperti kabaret."
"Jadi, mulai akhir pekan ini kita akan latihan diluar." Yaku menyimpulkan. "Sabtu ini, kita semua akan berangkat sama-sama ke kampusnya Semi-san, yakni L'ecole D'argeant. Setelah latihan aku akan membagikan surat izin untuk ditandatangani orangtua kalian."
"Apa bunda sudah ngurus bus?" tanya Akaashi. "Akhir pekan ini klub sepakbola pakai bus untuk seleksi Interhigh, lho!"
Yaku terdiam sejenak, lalu mengumpat pelan. "Kuso, kenapa aku sampai lupa?!"
"Kenapa nggak naik kereta ramai-ramai aja?" tanya Lev.
"Atau janjian di kampusnya Semi-san dan kita berangkat sendiri-sendiri?" ujar Shibayama.
"Nggak efektif." Tsukishima menggeleng. "Nggak semua orang rumahnya dekat."
"Kalau gitu janjian di sekolahan aja. Kita berangkat barengan." Koganegawa bergumam. "Aku bawa motor, kan. Akaashi-san juga. Atsumu-san juga. Niro-san juga. "
"Nggak semua anak bawa kendaraan, Kogane." Yachi membalas. "Eh, tunggu. Omi-san punya mobil."
"Bukan ide yang bagus membiarkan bocah-bocah seperti kalian bawa kendaraan. Tapi itu cara yang paling efisien." Semi merenung sejenak. "Siapa yang ke sekolah bawa kendaraan sendiri?"
Akaashi, Sakusa, Atsumu, Koganegawa, Shirabu, Futakuchi, Ushijima, dan Tsukishima mengangkat tangan.
"Mobilnya Omi bisa muat 5." Yaku bergumam. "Mobilnya Ushiwaka muat berapa?"
"Kalau jok belakangnya dibuka bisa muat 7." jawab Ushijima santai. "Mobilmu gimana?"
"Mobilku cuma muat 4." Shirabu membalas.
"Kok gitu?" tanya Semi skeptis.
"Supir." jawab Shirabu blak-blakkan. "Aku nggak bisa nyetir. Diantar jemput terus sama supir keluarga."
"Wuaaaaaaa~~~~" cewek-cewek kelas 1 bergumam kagum.
"Kayak tuan putri di drama TV, ya!" Shibayama berkata.
"Shirabu-san, supirmu pakai jas, nggak?" tanya Hinata penasaran.
Shirabu cuma mengangguk kaku.
"Aku kok dengernya agak dengki, ya?" Kenma menyeletuk sarkas. "Yaaa, bukan salahnya Shirabu juga sih terlahir jadi anak orang kaya..."
''JIWA MISKINKU MERONTA-RONTA!" Hinata memegangi dadanya sendiri.
"Motor ada 4. Mobil, kapasitas 16 orang. Kalian ada berapa banyak, sih?" Semi mulai menghitung satu persatu anak didik mereka.
"27!" Seru Bokuto.
"24." jawab anak-anak lain serempak.
"Bokkun, udah mau lulus SMA tapi menghitung aja nggak beres." Atsumu tertawa. "Ngulang dari TK lagi sana, gih."
"Kan hitunganku beda!" Bokuto membela diri. "Ushiwaka dihitung 2."
"Kalau gitu Yacchan, Yuuki, Saku-chan, Hinata, Hoshiumi-san dan bunda dihitung 3 orang, dong?" celetuk Lev.
"Tipe-tipe kayak begini bahkan naik roller coaster aja pasti diusir." Kageyama mengucek-ucek kepala Hinata. "Dikira anak SD."
Hoshiumi meraung tak terima atas pelecehan soal tinggi badannya. Sementara Lev mendapat tendangan maut dari bunda Yaku karena berani-beraninya membahas soal betapa mungil sang wakil ketua mukre tersebut. Hinata hanya memberengut kesal dan reaksinya dihadiahi cubitan-pipi-sampai-melar oleh Kageyama.
"Bokuto, Sugawara, nanti kalian urus soal pengadaan partiturnya. Begitu aku sudah dapat kabar dari panitia, aku akan mengirimkannya pada kalian." ungkap Semi. "Yaku, aku minta bantuanmu soal perizinan. Kalian banyak banget, aku ragu pihak sekolah bisa mengizinkan."
"Tidak masalah. Acara seformal dan sepenting ini masa sekolah tidak memberi izin? Ini kan kesempatan Karasuno bisa menunjukkan kehebatannya." kata Yaku sambil menepuk dadanya.
"Lalu, yang kedua... " Semi melirik anak-anak kelas 1. "Apa kalian sudah dengar dari kakak kelas kalian soal vocal camp?"
Anak-anak kelas 1 sontak menggeleng.
"Vocal camp adalah kegiatan dimana kita, para anggota Werewolf Heartstring akan menginap di sebuah villa selama beberapa hari, mengasah teknik vokal dan membangun kedekatan sesama anggota melalui kegiatan rekreasi. Singkatnya, seperti camping ditambah latihan vokal." Semi menjelaskan. "Akan ada beberapa orang dewasa yang mendampingi, seperti aku, guru pembimbing ekskul mukre Karasuno, dan lain sebagainya. Dua tahun sebelumnya, aku minta Tanaka Saeko, pimpinan grup taiko sebagai guest coach. Tahun sebelumnya, Sterling alias ibunya Hoshiumi."
"Ibuku pasti mau ikut kalau diajak lagi." Hoshiumi menyeringai.
"Iya, iya. Terima kasih dan maaf sudah merepotkan keluargamu." Semi tertawa. "Vocal camp akan diadakan pada saat liburan musim panas. Kosongkan jadwal kalian begitu tanggalnya sudah ditentukan. Tahun ini, aku berusaha mengajak beberapa kawanku di L'ecole D'argeant untuk menjadi guest coach, jadi kalian bisa belajar lebih banyak."
"Arigato, Semi-san!" Seru anak-anak mukre.
"Santai, santai." Semi menoleh pada Shirabu yang mengangkat tangannya. "Ya, Shirabu?"
"Apa karena kampusnya Semi-san itu sister school dengan L'ecole D'argeant yang di Lyon makanya Silver-Tokyo Festival dijalankan oleh kampusnya Semi-san?"
"L'ecole D'argeant memang institut pendidikan musik yang berasal dari Perancis. Tapi juga ada di Brussel, Budapest, Frankfurt, Rotterdam, Seoul, Beijing, Singapura dan Macau." Semi menjawab. "Ini seperti agenda rutin L'ecole D'argeant untuk menarik minat orang agar mau belajar musik di sana, dan juga mempopulerkan kembali musik klasik sebagai opsi profesi di kalangan orang awam. Kerjasama dengan pihak kedutaan juga membuat acara ini semacam hubungan keakraban Perancis dengan negara yang bersangkutan."
"Sekolah musik kan mahal banget. Siapa yang mau susah-susah berusaha segigih itu untuk cuma sekedar jago?" tanya Tsukishima skeptis.
"Banyak." Semi tertawa. "Shinsuke, contohnya."
Kita yang pundaknya masih dibebat tertawa kecil mendengar penuturan Semi.
"Nah, pada latihan kali ini aku mau mengoreksi kalian semua. Terlebih, mengenai kesalahan-kesalahan dalam teknik menyanyi." Semi berdiri dari kursi pemain piano dan berjalan mengelilingi anak-anak mukre yang berbaris setengah lingkaran. "Aku nggak suka banyak kasih teori soal teknik vokal. Pertama, susah diingat. Kedua, susah dimengerti. Ketiga, saat kalian menyanyi, hal-hal serumit itu nggak akan terlintas di kepala kalian. Jadi, ayo kita pemanasan. Setelah itu aku akan membagi kalian dalam grup."
Semi kembali duduk dan memainkan nada-nada acak di tuts piano sebagai pemanasan untuk dirinya sendiri. Ia meminta anak-anak mukre menyanyikan lagu pelangiku, lalu disusul lagu sound of music dan latihan vibrato, latihan staccato dan selanjutnya mereka disuruh menyanyi lagu twinkle twinkle little star sesuai jenis suara mereka dalam keadaan sikap tobat sampai interval yang ditentukan. Tidak hanya Hinata yang kesulitan, bahkan para kakak kelas dibuat kewalahan dengan latihan kali ini.
"Oke, latihan pertama adalah untuk para gadis-gadis pemalu yang suaranya masih terpendam..." Semi mengayunkan jemarinya pada Shirabu, Kenma, Yaku dan Tsukishima. "Kalian berempat, sini maju. Yang lainnya tetap dalam singing stance."
Keempat nama yang disebutkan melangkah ke depan.
"Shirabu, cari lirik lagunya gurenge. Kenma, cari lirik lagunya Impossible. Yaku, behind these hazel eyes. Tsukishima, kau akan berduet denganku nantinya. Cari liriknya Sine from above. Kalau sudah dapat, dengarkan lagu aslinya dan perhatikan liriknya baik-baik. Lalu kalau sudah paham, angkat tangan dan datangi aku."
Keempat gadis itu mengeluarkan ponsel dan mencari lirik yang diminta Semi melalui internet. Hinata yang tak paham dengan apa yang diperintah Semi, menoleh pada Bokuto yang kebetulan berdiri di sebelahnya.
"Buat apa mereka dikasih lagu yang beda-beda?" tanya Hinata.
"Kalau Semi-san sudah memberikan latihan begini, tandanya dia akan mengoreksi teknik vokal kita. Seperti remedial dalam ujian." bisik Bokuto. "Oikawa dan Korai nggak pernah dapat latihan seperti ini, lho."
"Apa mereka nggak pernah fals dalam hidupnya?" tanya Hinata bingung.
Bokuto cuma mengangkat bahu dengan acuh.
Shirabu adalah orang pertama yang mengangkat tangannya. Anak-anak kelas 1 berdecak kagum begitu melihat Shirabu berjalan dengan anggun mendatangi Semi dan berdiri di piano dengan singing stance.
"Shirabu-senpai cantik banget, ya..." gumam Sakunami. Shibayama dan Yachi mengangguk setuju.
"Dia kelihatannya sombong." Lev menanggapi ucapan Sakunami. "Kadang suka nggak jawab kalau diajak bicara."
"Tapi dia akrab sama Futakuchi-senpai." Sakunami membalas.
"Shirabu-senpai kayaknya baik sama cowok ganteng aja, deh. Aku setiap hari papasan sama dia di kantin atau kalau lagi moving class, dia cuma noleh doang." Koganegawa menggerutu.
"Jangan kecil hati begitu, dong. Mungkin saja dia tipe princess pemalu yang canggung bergaul sama laki-laki, kan?" Sakunami menengahi.
"A...aku nggak pernah juga lihat dia main sama anak perempuan selain Akaashi-san dan Kenma-san yang sekelas sama dia. Kemana-mana sama Ushiwaka-san atau Futakuchi-san." bisik Yachi.
Shirabu yang dingin dan tak tersentuh. Cuma anak-anak sopran yang pernah benar-benar berinteraksi dengannya. Sikapnya selalu acuh, tapi ia bernyanyi dengan cukup serius. Sulit mengatakan kalau suaranya jelek. Hanya saja, di kalangan anak-anak sopran memang Oikawa dan si countertenor Hoshiumi selalu terlihat paling menonjol.
"Nyanyikan bagian reff kedua, lalu interlude dan reff yang terakhirnya saja."
Semi memainkan nada dari bagian yang dimintanya. Shirabu menunduk membaca lirik sambil menyanyikan bagian yang dimaksud.
[Shirabu]:
Ranbou ni shikitsumerareta togedarake no michi mo
Honki no boku dake ni arawareru kara
Norikoete miseru yo
Kantan ni katazukerareta mamorenakatta yume mo
Guren no shinzou ni ne wo hayashi
"Rileks, rileks..." Semi memperingatkan.
[Shirabu]: Kono chi ni yadotteru
"Nafas, nafas. Shirabu, jangan ditembak. Rileks..." Semi kembali memberi instruksi sebelum memasuki bagian interlude. Shirabu cuma mengangguk singkat menanggapinya.
[Shirabu]:
Hito shirezu hakanai chiriyuku ketsumatsu
Mujou ni yabureta himei no kaze fuku
"Heh, heh." Semi menghentikan permainan pianonya. "Straight tone di bagian 'kaze fuku'. Rileks bukan berarti kendor, ya."
"Hai, sumimasen." jawab Shirabu datar.
"Turun."
Shirabu menunduk, mempraktekkan sikap tobat. Semi kemudian menoleh kepada Yaku.
"Bridge-nya aja."
Yaku menundukkan sedikit tubuhnya, lalu mendengarkan permainan piano Semi.
[Yaku]:
Swallow me then spit me out
For hating you, I blame myself
Seeing you, it kills me now
No, I don't cry on the outside
Anymore
Anak-anak mukre berdecak kagum. Yaku yang mungil dan terlihat rapuh itu mampu menarik suara tinggi melengking yang begitu kokoh dan terdengar sangat keren. Namun ekspresi Semi malah menunjukkan sebaliknya. Ia menjauhkan kepalanya, terlihat kesakitan mendengar nada tinggi Yaku.
"Strained." Semi mengerenyit. Lalu ia menghela nafas. "Bagian [anymore...]-nya fals. Turun."
Yaku menggerutu ketika disuruh 'turun'. Semi kemudian meminta Tsukishima untuk maju.
"Verse kedua, yang bagian duet." katanya. "Ready?"
Tsukishima mengangguk seraya memasang singing stance.
[Semi]:
When I was young, I felt immortal
And not a day went by without a struggle
[Semi, Tsukishima, AB-bar]:
I lived my days just for the nights
I lost myself under the lights
When I was young, I felt immortal
"Terusin." ujar Semi sambil terus memainkan piano.
[Tsukishima]:
Yeah, I looked with my face up to the sky
But I saw nothing there, no, no, nothing there
Yeah, I stared while my eyes filled up with tears
But there was nothing there, no, no nothing
I heard one sine from above (Oh)
I heard one sine from above (Oh)
Then the signal split in two
The sound created stars like me and you
Before there was love, there was silence
I heard one sine
And it healed my heart, heard a sine
"Kau masih ragu-ragu dalam menyanyi falsetto." Semi mengoreksi. "Kalau ancang-ancangmu salah dalam transisi dari chest voice dari falsetto atau head voice, kurangi tenaga dari chest voice-mu dan pindah perlahan-lahan. Caramu menembak bagian [I heard one sine, from above] membuatmu terdengar seperti tercekik. Gunakan head resonance dan turunlah dalam tarikan nafas sebelum nada from above habis. Nggak ada yang salah dalam menyanyi falsetto meski kau adalah alto. Hanya saja, kebanyakan suara falsetto alto itu jatuh di not-not flat yang membuatmu rawan fals."
Tsukishima mengangguk paham.
"Shirabu, Yaku, naik." ujar Semi singkat.
"Arigatou, Semi-san!" keduanya berseru lega.
"Kenmaaaaa..." Semi menarikan jemarinya memainkan tuts piano. "Pre-chorus dan reff."
Kenma mendengus pelan. Ia menyibak belahan rambutnya ke belakang dan memasang singing stance yang agak berbeda. Pundaknya tegak tapi tubuh dan kepalanya sedikir merunduk. Satu kakinya maju ke depan.
[Kenma]:
And now when all is done
There is nothing to say
You have gone and so effortlessly
You have won
You can go ahead tell them
Tell them all I know now
Shout it from the rooftops
Write it on the skyline
All we had is gone now
Tell them I was happy
And my heart is broken
All my scars are open
Tell them what I hoped would be
Impossible,
"Hmm. Hmm!" Semi menggeleng. "[You can go ahead and tell them], itu cresendo. Naikkan volume suaramu, bukan notnya yang naik. Bagian itu akan tetap sama sampai kau sampai pada [tell them what I hoped woud be impossible..eell...eeel...]. Staccato. Empat kali kata [impossible], riff-nya dua kali pertama masih sama. Turun di yang [impossible..] ketiga dan keempat tanpa riff. Riff ketigamu masih sama dengan yang pertama. Jadinya, bagian [impossible] yang keempatmu telat masuk karena kau terlambat mentransisinya."
Kenma tampak kurang paham dengan apa yang diterangkan Semi, tetapi ia mengangguk lambat-lambat.
"Shirabu, sekali lagi."
Shirabu memasang singing stance, dan menyanyikan bagian yang diminta Semi.
[Shirabu]:
Hito shirezu hakanai chiriyuku ketsumatsu
Mujou ni yabureta himei no kaze fuku
Dareka no warau kage dareka no nakigoe
Daremo ga shiawase wo negatteru
Gadis berambut coklat panjang itu tersenyum lebar, senang bahwa kali ini semua notnya tepat sasaran. Semi balas tersenyum tipis dan melanjutkan permainan pianonya, membiarkan Shirabu mengeluarkan seluruh kemampuannya.
[Shirabu]:
Dou shitatte
Kesenai yume mo tomarenai ima mo
Dareka no tame ni tsuyoku nareru nara
Arigatou kanashimi yo
Sekai ni uchinomesarete makeru imi wo shitta
Guren no hana yo sakihokore
Unmei wo terashite
Unmei wo terashite...
Anak-anak bertepuk tangan mendengar seberapa keren Shirabu mengeksekusi lagu tersebut. Gadis itu mengibaskan rambutnya dengan angkuh, memasang senyum lebar yang ditunjukkan pada anak-anak kelas 1 yang berdecak kagum, dan pada Ushijima yang meski tak memasang banyak ekspresi, matanya berkilat-kilat. Oikawa mendegus muak. Semi memberi tanda diam, dan wajahnya tampak tidak senang.
"Bisa nggak, setiap lagu di setiap latihan, setiap tampil, kau mengeluarkan minimal tenaga seperti tadi?" ketus Semi. "Kau itu bukan lemah, Shirabu. Kau itu malas. Kau pikir, hanya karena di suara sopran ada Oikawa dan Hoshiumi, serta senpai yang lain, aku tidak mendengar seberapa minim power yang kau keluarkan?"
Shirabu, yang tadinya kelihatan bahagia mendadak dibuat mendung. Gadis manis berponi asimetris itu cuma mengangguk lemah.
"Tsukishima tampaknya sudah paham dimana kelemahanmu, ya." Semi bersidekap dan menoleh pada Tsukishima.
"Hai. Aku nyaman dengan lagu-lagu bernada rendah. Aku lebih sering menyerah menjangkau nada tinggi karena takut fals." jawab Tsukishima apa adanya. "Falsetto dan head voice membuat suaraku terdengar tipis dan tidak megah. Jadi—"
"Shh! Shh!" Semi mendesis, menyilangkan telunjuknya di bibir. "Tsukishima, dan yang lainnya. Dengar, ya! Kalian nggak akan menjadi penyanyi yang hebat kalau kalian takut terdengar jelek. Menyanyi adalah sarana untuk membuat suara kalian berekspresi dengan merdeka. Sementara teknik vokal, adalah sistem untuk melindungi aset kalian, melatihnya agar bisa lebih leluasa bernyanyi tanpa takut cedera. Kalau kalian hanya takut terdengar fals dan terus-terusan menyanyi dalam register yang sama, kalian nggak akan bisa berkembang!"
Tsukishima tercekat mendengar kalimat tersebut.
"Kuroo dan Shinsuke, contohnya." Semi melanjutkan. "Angkatannya Shinsuke dulu nggak punya tenor semenjak senpai mereka lulus. Lalu di angkatannya Kuroo, semua orang bass dan Bokuto nggak mungkin nyanyi dua suara sekaligus. Mereka berdua kupaksa berlatih ekstra agar range mereka lebih luas. Lalu, semenjak angkatannya Kenma datang, Yaku dan Atsumu kupaksa belajar nada-nada alto karena penyanyi alto tetap membutuhkan kuantitas tidak peduli sebesar apa power yang dimiliki Akaashi dan Bokuto; mereka cuma berdua."
"Semi-san terdengar sangat kejam saat bilang begitu." Bisik Hinata pada Kageyama.
"Vocal coach berkualitas biasanya berhati iblis." balas Kageyama.
"Koganegawa, kau bilang kau mau suaramu keren dan bisa menjangkau nada-nada tinggi seperti rocker meski kau ini bass, kan?" tanya Semi lagi.
"HAI!"Jawab Koganegawa, singkat dan lantang.
"Aku bersumpah, selama karirku belajar dan mengajar paduan suara, aku belum pernah bertemu penyanyi yang tidak bisa merubah kualitas vokalnya secara dramatis dan melawan jenis suaranya." kata Semi. "Kalau kau mau bisa menyanyi sekeren itu, latihan! Latihlah dirimu dengan tekun dan serius!"
Hinata mengangkat tangannya.
"Ya, Hinata?" Semi mempersilahkan gadis mungil itu bicara.
"Kalau begitu, buat apa kami diklasifikasikan sebagai sopran, alto, tenor dan bass kalau kami bisa menyanyi sesuai kehendak kita?" tanyanya.
"Oh, sayang. Pertanyaan yang sangat bagus." Semi terkekeh. "Untuk itulah, Werewolf Heartstring menamai dirinya musik kreatif, bukan paduan suara. Anggaplah ekskul kita ini adalah sebuah pasukan. Conductor adalah jenderalnya, dan kalian semua adalah prajuritnya. Suara kalian adalah senjata dan kemahiran dalam bertarung. Ibaratnya, semakin luas range kalian dalam bernyanyi dan sehandal apa kalian mengendalikannya, maka kalian seperti prajurit yang mahir dalam pertarungan jarak dekat, jarak jauh, adu tembak serta jago dengan senjata apapun, kan?"
Para pemain game seperti Futakuchi dan Kenma menyeringai, paham akan analogi Semi.
"Nah, ayo kita latihan lagi."
"Tsu-ki-shi-maaaaa~"
"Tsukishima-nya nggak ada."
Hinata memberengut ketika mendengar jawaban seperti itu langsung dari mulut Tsukishima. Gadis pirang berkacamata itu mendengus ketika Hinata menghampirinya di kantin. Pasti ada maksud terselubung, begitu terkanya. Dan ternyata betul. Hinata memohon dengan iba minta dipinjamkan kalkulator untuk mata pelajaran akutansi, dan dengan berat hati Tsukishima mengangguk enggan.
"Barangnya di kelasku." ujar Tsukishima. "Yaudah, ayo."
"Yeaaay!"
Hinata mengekori Tsukishima berjalan ke kelasnya sebelum ia berhenti karena mendengar suara yang familiar di belokan tangga, dekat lab kimia dan koridor kelas 3.
"Aku berkata seperti ini karena aku sayang padamu! Berhentilah bersikap seolah-olah kau seorang diri di dunia ini. Ada aku, Shinsuke-san! Aku bisa membantumu!"
"Kau tidak mengerti, Sugawara. Ini masalahku sendiri. Aku tidak ingin membebanimu."
"Jadi, selama ini kau menganggap aku ini pacar atau beban?!"
Tsukishima sudah melengos tak peduli, tapi Hinata menangkap tangannya dan mengajaknya menguping. Tidak salah lagi, itu suara Kita dan Sugawara. Dari balik tembok, mereka melihat Kita yang sebelah pundaknya masih di bebat duduk bersandar ke tembok dengan wajah lelah, sementara Sugawara berdiri dan mengguncang-guncang lengannya. Nada suaranya intens sekali. Apa mereka bertengkar?
"Sudah kubilang dari awal kalau aku ini cowok yang sulit, kan? Kau ini benar-benar keras kepala." Kita menghela nafasnya. Ia meraih tangan Sugawara dan memberi kecupan lembut di ruas-ruas jarinya. "Jangan khawatirkan aku. Semuanya akan baik-baik saja."
"Berhenti membohongiku!" Sugawara menepis tangannya. "Sebelah mana kau bilang semua ini baik-baik saja? Kau ini kelewat santai atau tidak peka?! Kenapa tidak kau gunakan kepintaranmu untuk mencari solusi, hah?"
Kita tidak menjawab. Ia membiarkan keheningan diantara mereka, berharap bahwa diam bisa meredakan emosi Sugawara yang berkecamuk saat ini.
"Kau tahu, tidak..." Sugawara tercekat, menahan isak tangis. "Aku benar-benar senang waktu kau bilang kau mau jadi pacarku, Shinsuke-san. Kau tampan dan sangat baik. Bukan tipikal cowok mesum atau cowok tidak berotak seperti teman-temanku yang lain. Kau juga tidak pernah selingkuh, dan juga sangat perhatian. Tapi..tapi...entah kenapa selama aku jadi pacarmu, aku lebih sering sengsara dibanding senang?!"
Kita menengadah menatap Sugawara yang terus menerus menyeka tangis yang sudah tidak bisa dibendungnya. Helaan nafasnya berat. Sugawara juga cantik dan ceria, gadis yang sedikit kocak dan berhati tulus. Kita tidak tahu lagi bagaimana ia harus bersyukur bahwa gadis sesempurna Sugawara mau datang mendampinginya sebagai kekasih. Kita selalu dibuat tidak percaya diri dengan keadaan keluarganya, ambisinya yang selalu terbentur ketidak-mampuan dan ketidak-beruntungan, terlalu banyak hal dalam hidupnya yang membuat Kita Shinsuke menjadi pribadi yang realistis dan dingin. Sugawara sudah berperan besar dalam menghangatkan hatinya dan mencerahkan hari-harinya. Tetapi Kita merasa tidak bisa membalas cinta dan perhatian Sugawara. Ia menyayangi gadis itu, dan rela memberikan segala yang ia sanggup usahakan. Kita mengakui bahwa ia sering membuat gadis kesayangannya khawatir dan tidak tenang. Mereka tidak bisa sering-sering berkencan karena Kita kini hanya hidup berdua dengan neneknya, dan Kita selalu ingin sang nenek sehat dan bahagia. Keputusannya tinggal kelas dan pergi ke Hungaria demi mengikuti festival musik membawa penyesalan yang sangat berat. Selain berkorban finansial, Kita meninggalkan neneknya seorang diri berbulan-bulan. Kita merasakan sendiri betapa menyakitkannya long distance relationship, dan tidak tega jika Sugawara harus menelan pahit-pahit rindu karena tak bisa bersua dan bercengkrama akibat jarak dan waktu.
Sugawara cantik, lembut dan baik. Kita sering didera iri cowok-cowok lain, dia dianggap 'terlalu hambar' dan tidak pantas jadi kekasihnya. Cinta memang sebuah perjuangan, dan tidak pernah ada yang bilang bahwa perjuangan itu mudah. Sugawara sudah membuat Kita sangat bahagia hanya dengan senyuman tulus, waktu dan perhatiannya. Apakah membalas kasih sayang gadis itu jauh melampaui apa yang bisa dia usahakan?
Kita menarik senyum getir. "Maafkan aku, Sugawara. Sungguh. Jangan menangis..."
Sugawara mengangguk sambil mengusap wajahnya. Kita merogoh kantongnya dan memberikan Sugawara sebungkus tisu.
"Aku tidak bermaksud memacarimu untuk membuatmu sengsara." nada bicara Kita begitu halus dan penuh rasa bersalah. "Aku—"
"Daijobu..." Sugawara terisak pelan, menarik nafas dengan kasar demi mengukuhkan dirinya sendiri. "Maafkan aku sudah jadi gadis yang cengeng ya, Shinsuke-san."
"Harusnya kau pacaran saja dengan cowok yang tinggi, yang lebih tampan, yang kaya, yang..." Kita menggigit bibirnya. "Bukan cowok miskin yang cuma bisa membuatmu menangis karena tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa."
"Shinsuke-san..."
"Berbahagialah." Kita mengerjap. "Berbahagialah, Sugawara. Meski tidak bersamaku. Kita sudahi sampai sini saja, ya."
Kita berbalik dan bergegas pergi sebelum wajah sedih Sugawara membuat hatinya remuk berpuing-puing. Hinata dan Tsukishima melihat bahwa si senpai berambut abu-abu itu sekarang setengah berlari dan hilang begitu saja memasuki ruang kelas. Sugawara terhenyak. Ia menghempaskan dirinya ke kursi panjang yang tadi di duduki Kita dan memeluk dirinya sendiri. Pundaknya bergetar hebat. Tsukishima hendak berpura-pura tidak tahu tapi Hinata sudah refleks berlari menghampiri Sugawara dan memeluknya erat-erat.
"Suga-san, ada apa? Kalian bertengkar?!" Hinata berseru panik. "Kita-senpai ternyata bajingan, ya? Perlu kupukul dia karena sudah membuatmu menangis, hah?"
Sugawara tidak menjawab. Ia balas memeluk Hinata dan menangis keras-keras.
"DISKORS?!"
Sugawara mengangguk pelan menanggapi teriakan panik Bokuto, Atsumu, Sakusa, Oikawa dan Hoshiumi. Yaku sudah tahu, tentu saja. Ia diberi kopian surat skorsing Kita Shinsuke karena jabatannya sebagai ketua OSIS sekaligus wakil ketua mukre.
"Kita-san di skors selama seminggu, dan sebulan tidak boleh ikut ekskul." ujar Yaku muram. "Brengsek."
"Kok bisa?" Oikawa dan anak-anak lain terperangah bingung. "Kita yang dimaksud itu Kita Shinsuke-nya kita, kan?"
"Nggak usah over posesif sama pacar orang, Tooru-paisen." Atsumu membalas.
"Diem, ah! Aku lagi nggak mood bercanda!" omel Oikawa.
"Dia ketahuan part time di bar, padahal masih under age." jelas Sugawara. Suaranya pias karena habis menangis seharian.
"Sekolah kita memang nggak memperbolehkan part time di tempat hiburan malam, kan?" Sakusa berpendapat dan Yaku mengangguk membenarkan.
"Memang kenapa? Kita-san nggak jadi lonte, kan?" jawab Atsumu gusar.
Semua mata melotot pada Atsumu.
"...beneran?" Atsumu melongo. "Kita-san emang ganteng, sih. Tapi, masa beneran jadi lonte? Kurasa dia nggak senekad itu."
Yaku menghela nafas kasar. "Awalnya Kita-san kerja di bar sebagai barman. Cuma lap-lap gelas dan mengantar minuman. Terus, manager bar nggak sengaja mendengar Kita-san nyanyi. Dia diajak manggung setiap malam minggu di jazz night bar itu. Sialnya, salah satu pengunjung bar tempat Kita-san kerja itu adalah Anabara-san, si guru olahraga kami."
"Anabara-san menghampiri Shinsuke-san di belakang panggung dan memberi tambahan tips, serta pujian macam-macam. Tadi pagi, Shinsuke-san dilaporkan ke ruang BK." imbuh Sugawara.
"Bedebah. Kukempesin ban mobilnya boleh, nggak?!" Atsumu membunyikan ruas-ruas jarinya.
"Kalau ketahuan kerja di tempat begitu lagi, Kita-san bakalan di blacklist dari daftar ujian nasional." Yaku menggeram kesal. "Padahal dia anak baik, lho. Nilainya bagus terus. Masa sekolah kita tega sekali membiarkannya 5 tahun di SMA? Dia cari nafkah buah dirinya sendiri dan keluarganya, lho."
"Kupikir upahnya jadi tutor bimbel privat dan kerja di kedai udah cukup." Oikawa membalas. "Kenapa dia sampai nekad ambil kerja part-time lagi? Dia ada rencana keluar negeri lagi?"
"Bukan gitu..." Sugawara membela. "Wa...waktu Shinsuke-san mau ke Hungaria, neneknya menggadaikan perhiasan peninggalan mendiang kakeknya. Pernah sekali, neneknya bilang bahwa ia rindu kakeknya. Shinsuke-san merasa ia berhutang pada neneknya, dan ingin menebus kembali benda itu. Ia juga bilang padaku dia nggak akan lanjut kuliah. Ia akan pindah ke Hyogo, menjual rumah milik almarhum orangtuanya dan tinggal dengan neneknya mengurus sawah mereka disana."
"Oh, Kita-san itu orangtuanya udah nggak ada?" tanya Sakusa tak percaya.
Anak-anak kelas 3 yang tahu kebenarannya cuma menggeleng sedih.
"Papanya bunuh diri karena ketakutan dikejar hutang. Mamanya bekerja banting tulang menebus hutang sampai sakit-sakitan dan meninggal. Neneknya datang dari Hyogo untuk mengurus Kita-san karena ia masih sekolah disini." jelas Yaku.
"Dibilang miskin banget juga nggak, sebetulnya." Sugawara melanjutkan. "Neneknya punya puluhan hektar sawah padi dan kebun anggur di Hyogo. Mereka sampai bayar orang juga kok, untuk mengurus kebun. Kalau sedang panen, Kita-san biasa mengantar neneknya ke bank untuk menyetor uang."
"Kenapa hidupnya Kita-san sinetron banget, sih?" Oikawa mengeluh. "Untung ganteng, baik, sama nggak bertingkah."
"Neneknya menjual seluruh kebun anggur keluarga mereka agar Shinsuke-san bisa ke Hungaria. Dan juga menjual beberapa aset keluarga. Shinsuke-san ingin punya tabungan untuk menebus kembali barang-barang berharga milik neneknya, sekaligus berbakti pada keluarganya." ungkap Sugawara. "Dia memintaku meminjamkan satu orangtua atau sanak saudaraku, pura-pura jadi paman atau bibinya untuk datang ke sekolah. Dia nggak ingin neneknya tahu, takut syok katanya. Aku keburu marah karena dia diam-diam part time di tempat begitu dan kena skorsing."
"Karena itu kalian bertengkar?" tanya Oikawa. "Kita-san minta putus, ya?"
"Aku—" Sugawara terdiam. Ia mendengus. "Hinata yang memberitahumu, ya?"
Oikawa mengangguk, dan merentangkan tangannya. Sugawara menghampirinya dan memeluk Oikawa.
"Dia bisa beralasan tidak sekolah karena pundaknya masih cedera, kan? Kalau gitu, neneknya bisa dibohongi." Sakusa bergumam. "Bagaimana cara kita membohongi pihak sekolah?"
Atsumu menyeringai lebar, lalu tertawa sendiri. Semua orang menoleh dan memasang tampang jijik. Sakusa menendangnya sampai terjungkal.
"Pasti Achuumu punya akal bulus." Oikawa mendecih. "Suara ketawanya jahat, soalnya."
"Oh, memang." Atsumu mengusap bekas tendangan Sakusa di lututnya. "Tapi kutanya dulu sama orangnya. Tapi, kayaknya dia pasti setuju!"
PLAYLIST:
LiSA—Gurenge
Kelly Clarkson—Behind These Hazel Eyes.
Lady Gaga ft. Elton John—Sine from Above.
Shontelle—Impossible
BANGSAT (bacotan ngegas tapi santuy dari author):
UWAAA AKHIRNYA OH AKHIRNYA AKU BISA UPDATE! Pekerjaan itu tidak mudah, wahai para readers. Untung Haikyuu seasons 4 udh on air jadi tiap minggu aku punya asupan baru. Kalo belum ada asupan baru ya nonton aja episode-episode lamanya wkwkwkwk. Uuu aku ingin bikin hubungan kita-suga agak angsty tp romantis itu gimanaaa pokoknya yang uwwu uwwu bikin iri gituuuu. Kalo soal kagehina mau aku bikin rahasia ah sampai terkuak dengan sendirinya. CAPEK TAU NGASIH SPOILER TAPI BIKIN PLOTTWIST JUGA! Ibarat bikin tahu gejrot tp tahunya digoreng garing eh abis itu dibanjur kuah lagi. Pokoknya author akan berusaha update kilat karena emang lg seneng-senengnya ada banyak asupan. Ey, author juga lg kepikiran pengen bikin oneshoot. Yang mau request yok DM yok! Kalau authornya sreg dibikinin kooook!
Udah segitu aja bacotannya. Tetap dukung author dengan cara review, fave, follow and ketik reg spasi haikyuu! kirim ke-eh, kok jadi halu...
Yaudah, pokoknya gitu! See you in the next chapter!
