Hanamiya ingat bagaimana pelatih tim Kirisaki Daiichi dulu marah besar ketika melihat anak-anak didiknya bermain curang hingga melukai lawan. Ia benar-benar marah, seolah melihat anak-anaknya sendiri melakukan tindakan kriminal. Tapi sepertinya, tidak ada banyak kebaikan di hati para anak-anak Kirisaki Daiichi. Tidak ada yang mendengarkan si pelatih dan lebih memihak Hanamiya di mana ia melakukan kecurangan hanya sebatas iseng. Mungkin kutukan otaknya yang jenius. Memikirkan sedikit strategi curang tidak akan pernah cukup sebelum ia benar-benar mempraktekkannya. Makanya, Hanamiya dikenal sebagai si jenius nakal. Banyak yang mengakui kejeniusan Hanamiya. Ia diberkahi otak yang brilian di mana ia hanya perlu mempelajari sesuatu sekali dan ia akan mampu menguasainya.
Hanamiya tidak mengatakan apapun ketika sang pelatih komplain, dan ia tahu bahwa pelatihnya tidak akan menang melawan dia. Hanamiya hanya menjalankan keisengannya, dan teman-temannya menyukai itu. Hanamiya dengan mudah menarik seluruh anggota berada di pihaknya. Sang pelatih kecewa, dan memilih mengundurkan diri. Hanamiya memimpin timnya, sebagai pelatih sekaligus kapten.
Jika ia bisa mengakui, seluruh kecurangannya awalnya karena tidak sengaja. Karena Hanamiya hanya iseng, dan timnya mendapat julukan tim curang, maka Hanamiya sekalian curang selamanya. Toh anggotanya tidak pernah komplain dan malah menikmati itu semua. Anggota yang bersih dan kecewa mengikuti jejak sang pelatih dan memilih mundur. Kirisaki Daiichi hanya berisi pemain-pemain yang menikmati bagaimana mempermainkan lawan.
Hanamiya tidak begitu menikmati mencurangi tim lawan, ia semata-mata hanya menuruti anggota timnya. Tapi tidak ada yang menyangkal bahwa Kirisaki Daiichi terutama Hanamiya begitu perhatian kepada Seirin. Tentu, perhatian dalam hal negatif. Tim inti bahkan rela duduk di bangku penonton hanya untuk menonton pertandingan Seirin padahal mereka seharusnya menghadapi Shutoku.
Hanamiya masih menyembunyikan wajahnya ketika mengingat bagaimana dunia basketnya berjalan. Aneh, dan penuh kebetulan.
Winter Cup seharusnya menjadi tempat Kirisaki Daiichi membawa timnya merusak tim-tim papan atas. Hanamiya bahkan ingin merasakan bagaimana melawan para pebasket individual Touo gakuen, para pemain raksasa Yosen, dan kaisar dari Kyoto Rakuzan. Tapi ia tidak pernah mendapat kesempatan itu. Sebaliknya, Kiyoshi dan teman-temannya lah yang mendapatkannya.
Hanamiya tidak tahu mengapa ia menangis hari itu. Meski ia tidak suka kalah, bukan berarti ia tak pernah mengalaminya dan itu bukanlah hal baru baginya. Lebih dari itu, Kiyoshi si musuh bebuyutannya malah memergoki sisi terlemahnya. Ia menjadi menyebalkan, berusaha mengakrabkan diri padanya, dan memaksakan diri menjadi temannya. Lihat, sekarang bahkan dia belum pergi dan masih berusaha membunyikan bel agar Hanamiya keluar. Seingatnya ia baru saja mengancam Kiyoshi jika si beruang besar itu memaksanya.
"Hanamiya! Oi! Keluar dong, aku mau bicara nih!" serunya keras.
Hanamiya menggigit bibir, kesal bukan main. Apa sih yang ada di otak Kiyoshi. Tidak mau mengambil risiko dikomplain tetangga, Hanamiya memilih membuka pintu dan segera menarik Kiyoshi masuk sebelum tetangga-tetangganya memandanginya dengan tatapan aneh.
"Kau!" Hanamiya benar-benar kehilangan kata-kata, ia mengusap wajahnya.
Sementara Hanamiya berusaha menahan stress, Kiyoshi malah tersenyum lebar—yang lebih tampak seperti senyum idiot. "Woah, ini pertama kalinya aku ke rumahmu, Hanamiya." Kedua bola matanya bergulir, memandangi seluruh isi rumah Hanamiya yang mampu ia jangkau.
"Jaga pandanganmu!" seru Hanamiya ketus.
Kiyoshi menggaruk tengkuknya dan terkekeh. "Maaf…. Maaf…."
"Jadi, untuk apa kau kemari?"
"Boleh aku duduk?"
Hanamiya mengangguk.
Kiyoshi menopang dagu, memasang pose berpikir. "Sebenarnya, aku juga tidak tahu sih, hahaha."
Sebuah perempatan siku-siku bertengger manis di pelipis Hanamiya. Ayolah, kenapa ia harus membawa masuk si raksasa bodoh ini ke rumahnya? Rasanya tidak pernah ada hal baik jika berdekatan dengannya.
"Kalau begitu pulang sana! Kau mengganggu."
Kiyoshi hanya tertawa seolah benar-benar sudah terbiasa dengan nada ketus dan kalimat buruk dari Hanamiya. Lebih dari itu, Kiyoshi bahkan menganggapnya tidak pernah terjadi. Kurang bodoh apalagi dia?
"Cepatlah katakan apa maumu, jangan membuang-buang waktuku."
"Kau tinggal sendiri ya, Hanamiya?"
"Tidak, aku tinggal dengan orang tuaku—HEI! Jangan bertanya macam-macam." Hanamiya sukses merasa malu. Kenapa pula ia reflek menjawab pertanyaan tidak penting dari Kiyoshi.
"Kau susah sekali diajak bicara, Hanamiya."
Hanamiya memutar bola matanya. 'Ya kalau sudah tahu kenapa masih ngeyel, idiot.' Batinnya kesal. Hanamiya tidak merasa ada urgensi yang besar untuk seseorang seperti Kiyoshi menemuinya. Sebelumnya mereka juga tidak pernah berteman. Untuk apa musuh saling bertemu kalau tidak untuk bertengkar?
"Um, tapi tidak apa-apa kok. Mungkin malah aneh kalau melihat Hanamiya tertawa lebar." Kiyoshi meletakkan kedua telapak tangannya di pipi, membuat gestur manis yang tampak menjijikkan di mata Hanamiya.
"Hentikan khayalanmu!"
"Hei, bagaimana kalau aku memanggilmu Makoto? Um… Mako-chan?"
Wajah Hanamiya dirambati warna merah samar. Sungguh ia tidak mengerti kenapa Kiyoshi memiliki ide itu di kepalanya. Hanya orang tuanya yang pernah memanggil seperti itu, dan bahkan itu saat ia masih kecil, astaga.
"Jangan melakukan hal bodoh, kau kira aku gadis kecil?"
Kiyoshi tersenyum lebar. "Tapi namamu memang seperti seorang gadis." Kiyoshi mendekat dan menyibak poni Hanamiya. Mereka bertatapan cukup lama dan itu benar-benar aneh. Aneh karena Kiyoshi hanya diam membeku tanpa berkedip, dan aneh karena Hanamiya tidak segera menepis telapak tangan Kiyoshi yang menempel di dahinya.
Buru-buru Kiyoshi melepaskan tangannya dan berdehem pelan. "Ma-Maafkan aku, um… a-aku hanya…. Rambutmu! Ya, ponimu sudah cukup panjang dan aku tidak begitu jelas melihat matamu. Ya, benar itu."
Hanamiya memalingkan wajah dan menyentuh rambut di pelipisnya. "Pulang sana!"
"Okay deh aku menyerah hari ini. Lain kali kau harus ikut aku jalan-jalan. Okay?"
"Tidak mau!"
Kiyoshi menghela napas. "Tapi aku memaksa." Ia berdiri dan segera menuju pintu keluar. Hanamiya ikut berdiri dan tanpa sadar mengikuti Kiyoshi keluar.
"Terimakasih telah mengantarku, Mako-chan." Seru Kiyoshi ceria.
Wajah Hanamiya bersemu. "Hmmp, aku hanya ingin mengunci pintu, jangan berpikir aneh-aneh."
Kiyoshi tertawa. "Iya…. Iya…."
Hanamiya menutup pintu dengan kasar, dan bodohlah ia yang sama sekali tidak protes dengan panggilan terakhir Kiyoshi kepadanya. Aneh, benar-benar aneh. Hanamiya tahu dirinya jenius, tapi memikirkan soal Kiyoshi sama sekali tidak memberikannya titik terang. Ia selalu mempercayai bahwa segala hal selalu ada sebab dan akibat. Masalahnya, apa yang telah Hanamiya lakukan hingga berakibat Kiyoshi yang mengintilinya seperti seorang stalker. Uh, tidak juga sih. Kiyoshi terang-terangan mengikutinya malahan. Menempelinya lebih sering daripada rekan-rekan setimnya sendiri. Menemuinya untuk urusan basket mungkin masih rasional, tapi apa yang dilakukan Kiyoshi benar-benar berbeda. Aneh, dan Hanamiya sialnya tidak paham mengapa jadi seperti ini.
Hanamiya mengacak surai eboninya. Kulitnya yang seputih ricotta merona samar. Ia bahkan merasa malu melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin. Banyak pengandaian di dalam kepalanya. Soal dirinya yang menangis hari itu, dan kenapa Kiyoshi yang memergokinya.
"Sial…. Sial…. Sial…." Umpat Hanamiya frustrasi.
OooO
A/N: Hehew... finally langsung up 3 chapter :D
sorry for suuuuuper late update. Kuliah online benar-benar menyita waktu dan membuatku tambah mager. :')
Review?
