Day 9
Filming x Kidnapping
Being Lost
Chuuya bertanya-tanya, kenapa paman berambut coklat menculiknya ketika perjalanan pulang sekolah di hari hujan. Dari drama dan film aksi yang beberapa kali Chuuya tonton, penculik akan memilih anak orang kaya dan berkuasa agar dapat mendapat banyak uang sebagai tebusan. Sementara Chuuya hanya seorang yatim piatu yang pulang pergi dan menetap di panti asuhan.
Chuuya bahkan tidak pernah percaya bahwa ibu panti tengah mencari sejak awal ia diculik sampai sekarang.
"Kurasa tidak ada yang mencarimu," Paman berambut coklat bersimpuh di hadapan Chuuya. "Sudah seminggu, kau tidak mandi dan hanya makan roti. Kau pasti lapar."
Kaki dan tangan yang diikat tali dibebaskan, Chuuya bahkan tidak punya tenaga untuk duduk dengan baik dan segera limbung ke arah orang itu. "Kau llelah,kan?" katanya, "Aku akan memandikanmu."
Chuuya tidak begitu ingat hal apa yang terjadi di dalam bak mandi selain dari guyuran air hangat serta sapuan sabun di tubuhnya.
"Nah, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku membawamu." Pemuda itu tidak memberikan Chuuya handuk. Ia menarik Chuuya untuk jatuh ke futonnya tanpa busana lalu mengambil sebuah kamera.
"Paman, apa yang akan kau lakukan?" Takut-takut Chuuya bertanya ketika tangan pria itu mengangkat kakinya. Mencoba melihat belahan bokong yang mungil dan liang di dalamnya. "Paman?"
Chuuya mengerjap.
Terhentak ketika merasakan liang perawannya diterobos sebuah benda keras yang begitu besar. "Tidak—" Ia berusaha memutar tubuh untuk pergi tapi gesekan malah membuat analnya lebih perih. "Sakit! Sakit.. Paman— ugh sakit..."
Rasa lemah yang tad melingkupi seakan hilang. Dari balik pemberontakan, fokus Chuuya menangkap lampu kamera yang menyala. Menyorot tepat pada bagian yang tengah digagahi secara ilegal tanpa perizinan. Begitu sesak dan sakit. Seakan sebuah pisau ditanam pada tubuhnya lalu merobek-robek dari dalam.
Chuuya mengerang, merintih, memohon namun begitu lelah untuk marah.
"Ah, lubangmu kecil sekali dan membuatku mulai keluar," Chuuya tidak tahu berapa kali ia dihentak, yang ia tahu hanya perlahan tapi pasti tubuhnya menerima hentakan itu. Mengubah rintih menjadi desah, isak menjadi lenguh. "Suaramu terekam jelas."
Lubang yang ditusuk perlahan meneteskan semen dari si penyenggama. Kamera merekam dengan sorot paling erotis tanpa melewatkan satu pun nada kulit basah yang berdecak.
"Ah paman—" Chuuya kehilangan waras. Rasa sakit yang disebabkan pria itu kini menjadi nikmat pemuas hasrat. Benda besar yang keras menghujam berkali-kali, berbagi panas dan membangkitkan ereksi. "Ha—ahn.. Paman. Ahh—"
"Erotis," Kamera ingin sekali mengabadikan wajah bernafsu si bocah senja, namun pria itu tidak mengambil resiko ditangkap jika polisi melakukan pencarian. Maka, ia melihatnya untuk diri sendiri. Bibir mungil yang terbuka mengucurkan liur, mata biru ditutup awan gairah, lalu pipi yang merona dan ingin ia tampar juga begitu menggoda. "Kau masih SMP tapi sudah seperti ini. Aku khawatir dengan masa depanmu."
"Ahh Paman..."
Pria itu tersenyum, tidak berhenti merekam, tidak berhenti menghujam. Ia mempercepat tempo, membuat kulit anal Chuuya memerah lebih pekat. Desakan di dalam lebih ketat, baik tubuh Chuuya yang melawan juga Si Paman berambut coklat yang hendak lepas.
"Ahh..." Hujaman terakhir membuat Chuuya banjir di dalam bersamaan dengan miliknya yang ikut keluar.
"Dasar bocah. Kau membuatku keluar sebanyak ini.."
Pria itu menarik miliknya perlahan. Membiarkan kamera merekam tetes demi tetes cairan putih yang lolos keluar sebelum tumpahan yang membuat penuh Chuuya kembali kosong.
"Itu cukup untuk hari ini," lampu kamera mati. Chuuya masih melihat pada bayang-bayang hilang akal dan nafsu di langit-langit kamar sementara pria itu mengambil laptop.
Lelah di tubuh, sakit di pinggul, serak di kerongkongan, Chuuya masih bisa melirik layar laptop dan melihat sebuah jendela streaming. Kemudian videonya diputar, Chuuya terlonjak.
"Paman! Paman mau apa?" Ia mengabaikan perih di celah bawah dan menarik-narik lengan pemuda itu. Membuat perbannya sedikit berantakan, namun ia tidak marah. Hanya senyum dan tepukan di kepala Chuuya.
"Aku punya cara lebih baik menggunakan sanderaku untuk mencari uang," ucapnya. Perlahan Chuuya tidak merasakan tepukan itu sebagai hal lembut, karena pemuda itu mulai meremas dan menjambaknya.
"Kau harus berterimakasih padaku," ia tersenyum melihat ringisan Chuuya. "Karena mulai saat ini, aku manajermu dan kau akan jadi artisku. Aku membantumu mengucap selamat tinggal pada hidup miskin, Chuuya."
Being Lost
END
