NCT belong to SM Entertainment
•
•
•
•
•
•
The Forest of Destiny
written by : salka rakes
•
•
•
•
•
•
Happy reading and enjoy!
•
•
•
•
•
•
"Lepaskan adikku, Jeno! Nana tidak seharusnya ada di sini"
"Siapa bilang?"
Sosok bernama Jeno itu melangkah mendekat. Membuat Jeff secara refleks menarik mundur Nana dan menjauh menuju area pinggiran hutan. Memindahkan tubuh Nana yang nampak linglung untuk berada di balik punggungnya. Tidak membiarkan sosok bersurai pirang itu berjalan mendekati Nana.
"Berhenti, Jeff! Selangkah saja Nana keluar dari hutan ini maka ia akan mati"
Jeff menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jeno tajam. Sebelah tangannya yang terbebas terkepal erat di sisi tubuhnya hingga buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Dan ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya saat ini.
"Berhenti mengancam adikku, sialan! Kau tak berhak mengatur Nana"
"Siapa yang mengatakan aku tidak berhak atas wanitaku? Apa nenekmu itu yang mengatakannya padamu?"
"Jeno, dengarkan aku. Nana tidak seharusnya hidup di sini. Kau tahu itu kan?"
"Sialan, Jeff! Kau sama saja dengan nenekmu. Apa kau tak tahu apa yang telah ia lakukan pada Nana?"
Jeff mengangkat sebelah alisnya tinggi. Menatap tak mengerti pada sosok rupawan bersurai pirang di depannya. Tubuh gagahnya ditutupi jubah hitam. Kakinya dibalut sepatu boot tinggi berwarna senada. Ada aura misterius yang melingkupi sosok Jeno dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan Jeff bisa merasakan dengan jelas aura itu.
"Apa maksudmu?"
Jeno mengangkat sudut bibirnya ke atas. Tersenyum miring dan menatap Jeff dengan angkuh.
"Karena Nenekmu membawa Nana pergi dari sisiku ia mati sebelum waktunya di malam pembantaian itu! Apa kau masih tak mengerti?!"
"K-kau.. Bagaimana kau tahu pembantaian malam itu?"
"Kau pikir siapa yang menghidupkannya kembali?"
Nafas Jeff tercekat. Rasanya ada batu besar yang memaksa masuk di kerongkongannya. Fenomena mistis itu kini mulai terdengar masuk akal. Ia ingat bagaimana Nana yang hidup kembali setelah mayatnya disimpan di kamar mayat rumah sakit.
"Tidak mungkin"
Si sulung kehilangan tenaganya untuk berpijak hingga ia sedikit terhuyung ke belakang dan menubruk tubuh adiknya.
Jeff menoleh dan mendapati Nana menatap Jeno lekat di tengah keadaan si bungsu yang linglung semenjak kedatangan Jeno di depan mereka. Lalu Jeff kembali menoleh ke arah Jeno dan ia menemukan tatapan yang sama di netra jelaga sosok yang tidak ia ketahui apa itu.
Kerinduan.
Jeff bisa merasakan kerinduan yang tertahan di antara keduanya. Dan itu membuatnya semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Jika kau ingin menjadi seperti nenekmu, seharusnya kau melakukannya dengan benar. Kau tidak seharusnya membawanya kembali seperti titah nenekmu itu setelah aku berhasil menariknya kembali dari kematian, Jeff"
"Sebenarnya apa yang dilakukan nenekku? Kenapa kau selalu menyebutnya sejak awal?"
Jeno tertawa mendengar pertanyaan polos itu. Ia tidak bisa menyalahkan Jeff sepenuhnya. Karena bagaimanapun si sulung dulu hanyalah bocah berusia 12 tahun disaat Jeno pertama kali bertemu dengan Nana.
Dan para orang dewasa di rumah tua itu berhasil menyembunyikan banyak hal dari kedua kakak beradik itu. Wajar jika Jeff tidak tahu menahu soal apa pun hingga detik ini.
"Nenekmu berusaha mengubah garis takdir seseorang, Jeff. Dan orang itu adalah adikmu"
"Apa maksudmu?"
"Akan ada satu manusia yang terlahir dan menjadi pendampingku selamanya. Satu-satunya manusia yang bisa melihatku dan hidup abadi sampai tugasku di sini selesai"
"Bedebah! Aku bahkan bisa melihatmu, sialan!"
"Tidak. Kau tidak bisa melihat wujud asliku. Kau bahkan tidak akan pernah bisa menyentuhku. Begitupun sebaliknya"
"Lalu kau yang berdiri di depanku ini apa? Tubuh manusia biasa yang kau rasuki? Atau mayat yang kau buat hidup kembali untuk menggantikanmu begitu?"
"Apa kau bisa melihat simbol yang sama seperti milikku di bawah mata kiri adikmu itu?"
Secara refleks Jeff menoleh kembali ke belakang. Menatap wajah adiknya dan melihatnya dengan bantuan senter. Mencoba mencari simbol apa yang sosok itu maksud di bawah mata kiri adiknya. Namun ia tidak menemukan simbol apa pun yang dimaksud oleh sosok itu.
"Kau tidak bisa melihatnya kan?"
Apa yang dimaksud Jeno adalah simbol cross dengan titik kecil yang berada dipertemuan dua garis bersinggungan seperti di bawah mata kanannya.
Letaknya sama-sama berada di bawah mata dan bagai berdiri di depan cermin jika keduanya saling berdiri berhadapan. Hanya mereka berdua yang bisa melihat itu sebagai pembuktian jika mereka telah digariskan untuk bersama dan saling berbagi takdir.
"Persetan! Aku tak peduli dan aku tetap akan membawa adikku kembali"
Jeff berbalik dan menarik Nana untuk ikut dengannya. Dan tubuh linglung itu dengan patuh mengikuti langkah Jeff menuju pinggiran hutan.
Namun tinggal beberapa langkah hingga ia berhasil keluar dari hutan, tubuh Nana yang berjalan di belakangnya tiba-tiba ambruk dan hilang kesadaran.
Dan sebelum ia sempat menyadari apa yang sedang terjadi. Jeno telah menangkap tubuh Nana sebelum gadis itu terjatuh di atas tanah dan membopongnya.
Dan dengan kecepatan yang tidak manusiawi, Jeno telah berpindah tempat hingga berjarak cukup jauh dari tempat Jeff berdiri.
"Brengsek! Kembalikan Nana padaku, Jeno!"
"Tidak, Jeff. Kau harus mengerti jika ini yang terbaik bagi kita semua"
"Terbaik apanya? Meninggalkan adikku bersama makhluk sepertimu yang entah apa itu adalah yang terbaik begitu? Jangan membuatku tertawa!"
"Kita berdua sama-sama menyayangi Nana, Jeffrey"
Si sulung menghentikan langkahnya untuk berjalan mendekat menghampiri Jeno. Ia menatap lekat netra jelaga sosok itu yang memohon padanya. Kesungguhan dari sinar mata Jeno berhasil mencapainya. Entah dorongan darimana Jeff merasakan keyakinan untuk mempercayai sosok yang akan membawa adiknya. Baby Na. Nananya.
"Aku tidak bisa bertemu dengannya lagi jika ia kembali ke dunia atas. Aku akan terjebak seorang diri di sini sampai tugasku menjaga tanah ini selesai. Dan kau pun tidak bisa bertemu lagi dengannya untuk selamanya. Pikirkan baik-baik apa yang ku katakan padamu, Jeff"
Pria itu mematung di tempat.
Memikirkan apa yang dikatakan Jeno padanya. Matanya menatap sendu pada si bungsu. Pikirannya melayang pada kenangannya selama mereka menghabiskan waktu berdua. Bagaimana mereka saling memaki dan bertengkar hingga ia yang membuat adiknya menangis. Lalu mereka akan berbaikan dengan saling berpelukan dan mencium pipi masing-masing.
Pertahanan Jeff runtuh. Ia jatuh berlutut di atas tanah. Menangis kencang dengan kepala tertunduk. Tangannya terkepal menjangkau dedaunan kotor dan merematnya kencang. Menjerit meneriakkan nama adiknya berkali-kali di depan Jeno yang menatapnya dingin.
"Tidak. Aku tetap tidak bisa menyerahkan adikku padamu, Jeno. Nana satu-satunya yang kupunya sekarang. Jangan mengambilnya"
Jeff mengangkat kepalanya dan memohon pada sosok misterius di depannya. Ia tidak bisa kehilangan Nana untuk kedua kalinya. Ia telah kehilangan ayah dan ibunya. Bagaimana bisa ia kehilangan adik satu-satunya yang tersisa di dunia?
Jeno berjalan mendekat dengan Nana yang masih dibopongnya. Ia menatap bengis pada manusia dewasa di depannya.
Mereka berada di situasi yang sama.
Baik Jeff maupun Jeno keduanya hanya memiliki Nana di dunia ini. Bagi Jeno, Nana adalah belahan jiwanya. Cintanya. Segalanya. Serta takdir yang diberikan oleh sang penguasa tertinggi padanya.
Jeno berlutut di depan Jeff. Menyamakan tingginya di atas tanah dan merebahkan Nana yang tidak sadarkan diri di tengah keduanya.
Jeff meraih tangan adiknya yang dingin dan mencium tiap buku jarinya. Menggenggamnya erat di pipi dan mengusap pipi dingin Nana dengan sebelah tangannya yang lain.
"Aku tidak bercanda saat berkata ia akan mati saat melangkahkan kaki keluar dari hutan"
Jeno berkata sembari terus menatap lekat gadisnya. Punggung tangannya menyusuri wajah cantik itu dengan hati-hati. Ibu jarinya mengusap bibir ranum yang memucat. Dan menatap manusia lainnya yang ada di depannya dengan tajam.
"Kau boleh membawanya pergi. Tapi kau hanya akan membawa tubuhnya yang tidak bernyawa seperti ini. Buktikan kata-kataku maka kita berdua akan sama-sama kehilangan"
Jeff meremas rambut basahnya kuat. Merasa bimbang dengan segala pilihan yang ada. Tidak ada pilihan yang menguntungkannya. Tapi ia tidak bisa mengambil resiko dengan nyawa adiknya sebagai taruhan. Ia telah bersumpah di depan makam orang tuanya jika ia akan melakukan apa pun agar adiknya tetap hidup dan melakukan apa pun demi menjaga adiknya.
"Aku tetap tidak bisa, Jeno. Tidak bisa"
Jeno mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Menahan diri agar tidak murka pada manusia di depannya. Ia bahkan tidak perlu untuk memohon seperti ini. Ia bisa saja membawanya pergi begitu saja. Tapi jika ia melakukannya, Jeff yang ditinggalkan akan menyimpan luka yang besar jika masih tidak bisa mengikhlaskan adiknya pergi sesuai takdirnya. Dan itu akan berdampak pada wanitanya.
Jeno tidak mau mengambil resiko jika suatu saat belahan jiwanya memilih untuk meninggalkannya demi Jeff kakaknya.
Ia makhluk yang egois. Jeno sadari itu sejak awal kehadirannya di tanah ini. Tapi gadisnya ditakdirkan untuk memiliki hati yang baik, tidak egois seperti dirinya.
Nananya adalah manusia berempati tinggi yang kehadirannya semakin sedikit di peradaban manusia. Dan Jeno tahu betul hal itu.
"Ia akan hidup selamanya bersamaku di sini. Bahkan hidup lebih lama dari kau atau pun keturunanmu"
Jeff diam, menyimak dengan baik kalimat demi kalimat yang dikatakan sosok rupawan di depannya.
"Kau harus menerima takdir, Jeff. Gadisku adalah manusia yang terberkati"
"Kalau begitu apa aku bisa bertemu dengannya lagi?"
•
•
•
•
•
•
TBC
•
•
•
•
•
•
Kes, 241020
