Dance of Love

Karya : Miyuki Kobayashi

Re-Write : JAS

.

.

.

.

.

Selamat Membaca Semoga Suka

.

.

.

.

.

Dance Of Love

Disclaimer : Miyuki Kobayashi, Pt Elex Media Komputindo.

Rate : T (For Teen)

Genre : Romance, Friend Ship, Family

Warning : Typo's

.

Bab 8 : Danau Angsa Putih

"Waktunya sarapan!" suara Ai terdengar lembut.

Kubuka mata perlahan. Eh?! Aku tersentak bangun. Aduh, kesiangan! Dan dari dapur tercium bau yang lezat. Rupanya Tomoya dan Ai telah membuat sarapan.

"Sori, ya, kesiangan."

"Nggak apa-apa, kok! Lagian kami kan sudah diizinkan menginap."

"Kalian sudah tahu tempat penyimpanan peralatan makan?"

"Tahu, dong!"

"Tatsuya?"

"Masih tidur!"

Oh, untunglah!

"Eh, semalam kalian ngapain?"

"Kamu kok tahu?"

"Di tempat cuci piring ada dua cangkir kosong. Kalian kencan tengah malam, ya?" Ai tersenyum penuh arti.

"Bukan!" kataku gugup.

"Nggak apa-apa! Aku mendukung kalian,"kata Ai, lalu bergegas menuruni tangga.

Bau roti panggang menyebar ke mana-mana. Aku memandang ke luar jendela.

"Wah, cerahnya hari ini," teriakku spontan.

"Pagi."

Dengan mengenakan piama, Tatsuya menuruni tangga.

Deg!

"Kak Tatsuya, cepat ganti baju! Kita akan sarapan di beranda," kata Ai lembut

Di atas meja sudah tersedua kopi susu, sup labu manis, roti panggang dengan mentega dan selai, telur mata sapi, serta sosis.

"Hebat! Ini masakan kalian berdua?"

"Ya, gampang, kok!"

"Wah, enaknya sarapan di alam terbuka sambil mendengarkan kicauan burung."

"Hmm, lezat!"

"Sehat lagi!"

Kami berempat makan dengan lahap.

"Oke, hari ini kita akan pergi ke tempat yang berbeda," Tatsuya memberi tahu.

"Apa?" tanya Ai keheranan.

"Aku dan Mebae akan pergi berdua saja. Kita pisah, ya!"

"Oh, begitu," Tomoya dan Ai saling pandang.

"Kita pulang naik shinkansen jam empat sore. Jadi ketemu lagi waktu minum teh! Di Roppontsuji ada kafe bagus. Namanya Lovin dan ramai dikunjungi orang."

"Baiklah, kami akan menunggu di sana."

"Oke, sampai nanti!"

Sisa sarapan segera dibereskan. Setelah beristirahat sebentar, kami berpisah menjadi dua kelompok.

"Ai dan Tomoya mau pergi ke museum," jelasku pada Tatsuya. "Kita mau ke mana?"

"Ke Danau Angsa Putih, yuk!" ujar Tatsuya.

"Eh?"

"Danau Kumoba sering didatangi angsa putih, kan?"

"Oh, iya ya."

"Mungkin di sana cocok untuk balerina!"

Aku dan Tatsuya lalu menuju Danau Kumoba. Angsa putih memang sering datang ke sana. Makanya, Danau Kumoba juga disebut Swan Lake. Jalan-jalan di sekitar danau sungguh menyenangkan.

Author Note : mentemen sekalian saya cuma mau kasih info kalau yang di bukunya itu 'Danan Kumoba'.

"Mebae, kamu bisa nggak seperti ini?"

Tatsuya melempar batu ke atas permukaan air danau. Batu itu menimbulkan riak-riak di air.

"Wah, hebat!"

Plok! Plok! Plok! Aku bertepuk tangan.

"Coba, deh! Pakai batu yang pipih!"

"Seperti ini?"

"Ya, seperti itu!"

Tatsuya menyentuh tangan kananku. Deg!

"Putar pergelangan tanganmu seperti ini!"

Puk… puk… puk… batu kecil itu melompat ke tengah danau. Riak air di permukaan danau meluas.

"Ya, ya pintar!"

Jantungku semakin berdebar-debar.

Pipiku terasa panas. Oh, Tuhan! Kami begitu dekat. Namun, Tatsuya tampak tenang-tenang saja.

Author Note : di paragraph kali ini sy tambahin tanda bacanya ya heheh.

"Wah, itu Teratai kan?" tanyanya.

Aku melihat ke tengah danau.

"Benar, di sini teratai liar bisa tumbuh."

"Oh, ya?! Aku sangat suka Teratai."

"Begitu, ya?"

"Ya, aku juga suka aroma mint, daging, seledri, dan sayur-sayuran."

"Iiih, aku nggak suka daging!"

"Oh, itu sebabnya shiso tempuranya disisain kemarin? Padahal enak, lho!"

"Habiiis, aku nggak suka."

"Kalau ini?" Tatsuya memetik buah bunga teratai dan menyodorkannya padaku.

"Ini! Coba makan!"

"Nggak mau!"

"Sebagai ramaja, mestinya kamu nggak boleh pilih-pilih," nasihat Tatsuya.

"Kyaaa…!"

Dengan kuat Tatsuya menarikku dan memasukkan buah bunga teratai itu ke mulutku.

"Nggak mau! Nggak mau!"

"Ayo coba!"

"Kyaa…!"

Byuuur! Karena asyik bercanda, kami berdua terpeleset ke danau.

"Aaaa…"

Kami jadi basah kuyup.

"Dingiiin!"

"Mebae, rambutmu basah kuyup."

"Kamu kayak tikus kecemplung got!"

"Ha… ha… ha…"

Byuuur… byuuur… Tatsuya mencipratkan air ke arahku.

"Kyaaa… hentikan!"

Air danau bercipratan di sekitarku.

"Dingiiin!"

"Kyaaa… ha… ha… ha…!"

Kami bermain seperti anak kecil dan akhirnya… saling berangkulan.

Perjalanan akhir pekan ini sangat menyenangkan. Ini petualangan besar bagiku. Ya, dua hari yang sangat berarti.

Tatsuya, jika kita pisah nanti, jangan lupakan aku. Walaupun hanya sedikit, ingatlah aku terus. Ingatlah hari ini, karena aku juga tak akan melupakannya.

Dengan badan basah kuyup kami kembali ke vila untuk berganti pakaian.

"Dingin?"

"Dingin sekali."

"Mandi air hangat sana, Mebae."

"Aku duluan, ya!"

Aku mandi lalu berganti pakaian. Ketika menyeka rambut dengan handuk, tiba-tiba pintu vila terbuka, dan … Mama berdiri di sana. Eh?

"Mama?!"

"Mebae?!"

Mama berlari menghampiri dan memelukku erat-erat.

"Mebae, kenapa kamu membuat Mama khawatir?"

"Mama…"

"Untunglah! Mama yakin kamu pasti di sini."

"Ketahuan, ya?"

"Mebae pasti hanya berpikir pergi kemari." Mama tersadar dan menatapku dengan terkejut. "Mebae? Kamu baru mandi? Rambutmu basah."

"Ya!"
"Yah, segarnya!" Tiba-tiba Tatsuya keluar dari kamar mandi sambil menyeka kepalanya dengan handuk.

Mama terbelak kaget. "A… ada apa ini? Kamu siapa? Mebae, apa yang terjadi!?"

Suara Mama semakin meninggi. Dia menguncang-guncang bahuku.

"Mebae! Semalam kamu bersama cowok ini?!" tanya Mama Panik.

"Tidak, Mama keliru!"

Namun, Mama tidak mendengar. Dia jatuh pingsan di atas sofa.

.

.

.

.

.

Bersambung