Halilintar meneguk ludah saat Amaya masuk ke ruang kepala sekolah dengan langkah pasti.
"Kenapa kalian bertengkar?" tanya wanita itu tanpa basa-basi. Pak Kepsek Retakka diabaikan keberadaannya, seolah hanya pajangan tak berguna di sana.
"Eh, itu … anu, Ma—"
"—Jelaskan sejelas-jelasnya, titik! Mama tidak mau tahu."
"I-iya, tapi itu gunting rumputnya simpen dulu, Ma. Hali ngeri."
"Tenang saja. Pikachu-mu aman, kok!" Amaya tersenyum manis. Halilintar lihat, mata sang mama melirik Fang secara sekilas.
Singkat, berarti, menyampaikan ancaman mati.
RIP Fang.
[Gadis Jamban dan 7 Kurcaci Tampan]
Chapter 8 : Ketika Bucin Menyambar (1)
Hari itu, Amato pulang tanpa membawa keusilan.
Salam yang disampaikan olehnya tak diucapkan dengan nada mengundang tawuran. Bahunya melorot. Dahinya berkerut. Seolah pria yang tadi pagi masih dikatai bermental bocah itu berubah seketika menjadi om-om bau tanah. Hal ini membuat anak-anaknya gelisah.
Apalagi, sang papa langsung meminta Halilintar ke ruang kerjanya untuk berbicara empat mata dan setelah itu mereka membisu total di meja makan.
Mengingat kuncen keributan nomor satu (Taufan) masih menginap di rumah Kakek Aba dan yang nomor dua (Blaze) terlalu sibuk memerhatikan kuncen ribut cadangan (Latarin), tak ada yang bisa mencairkan suasana. Makan malam dipenuhi ketegangan.
"Udah habis, Hal?" Melihat Halilintar tersentak, Amato menghela napas. Apa mungkin ia terlalu keras, ya? "Langsung siap-siap aja."
Halilintar mengangguk kaku. Dia hengkang tanpa kata. Punggungnya dipandang berpasang mata sampai melewati daun pintu. Terlihat lemas, bahkan sampai dia keluar dari jangkauan pandangan semuanya.
Gempa yang tersadar pertama. "Siap-siap? Memang Kak Hali mau ke mana, Pa?" tanyanya. Seingat Gempa, Halilintar tak ada agenda apa pun malam ini.
"Rumah Kakek. Mama dan Papa sepakat Hali sementara tinggal dulu di sana." Amato tertawa sejenak melihat ekspresi kalut dari Gempa. "Bukan diusir, lo. Bukan harus jauh-jauh dari kalian juga. Papa gak akan larang kalian untuk ganggu Hali ke sana."
Lima anak laki-laki saling berpandangan. Tatapan mereka menyuarakan satu pertanyaan yang sama: Kenapa?
"Sebentar lagi Halilintar juga merantau ke luar negeri, 'kan?" Mama Amaya tersenyum menenangkan. "Anggap saja pemanasan buat kalian," imbuhnya.
Itu bukan jawaban yang diminta, tetapi cukup untuk membungkam mereka.
Pemanasan, katanya. Latarin mendengkus. Sudah seperti senam aerobik saja, ada pemanasan segala!
Latarin berani bertaruh, alasan sesungguhnya pasti berkaitan dengan masalah baku hantam yang melibatkan Fang dan Halilintar di sekolah.
Aish, mengingat hal itu membuat Latarin gatal ingin menonjok muka ngeselin keduanya. Apa-apaan coba mereka, baku hantam berdua begitu gara-gara Latarin? Lebih baik mereka maju, sini! Biar Latarin bantai dua-duanya!
Enggak elit banget sumpah, baku hantam dengan alasan bucin. Adu jotos demi memperjuangkan hak rakyat kecil, kek! Kalau begitu 'kan bermanfaat bagi nusa dan bangsa!
Latarin mengerang. Sebenarnya ia masih tidak tahu harus bagaimana menghadapi respon Halilintar yang berlebihan. Terharu? Marah? Rasanya jadi campur aduk karena Latarin tidak yakin alasan apa yang menggerakkan tinju Halilintar tadi pagi.
Penjelasan kronologis dari Mama saja tidak cukup. Latarin ingin mendengar langsung dari mulut sumber kekesalannya.
"Pa, aku mau ngomong dulu sama Bang Hali, boleh?" pinta Latarin.
Amato mengerling. "Jangan dibikin bonyok, ya. Nanti Kakek Aba gak bisa babuin abangmu."
"Ih, Papa! Aku bilangnya ngomong, ya bener ngomong! Gak kaya Kak Blaze!"
Kalau saja Blaze tidak sibuk merasa lega karena Amato sudah kembali "normal", mungkin ia akan memprotes hinaan yang Latarin implikasikan.
"Ya sudah, sana samperin abangmu! Kalau sampai berantem, Papa hukum kamu tidak boleh makan kuaci seminggu."
Latarin meninggalkan kursi sambil menggerutu. Dia sadar dia bukan gadis yang ayu, tapi dia juga bukan gadis barbar tingkat dewa yang menyelesaikan segala masalah dengan cara baku hantam!
Lalu, kenapa harus kuaci yang dijadikan ancaman? Padahal Latarin sudah berencana menampol Halilintar, satu atau dua kali saja sepertinya cukup. Gagal sudah. Kalau diancam begini, Latarin mana berani!
Satu langkah memasuki teritorial target, Latarin mencelos. Halilintar sedang mengemas pakaian dengan tampang mengenaskan.
Apa gerangan yang dibicarakannya dengan Papa Amato sampai terlihat seperti baru mendengar hukuman eksekusi mati begitu?
"Oi, Bang."
Halilintar terlonjak sambil menjeritkan istigfar. Satu potong pakaian yang semula sedang dilipat, ia lempar ke wajah Latarin sebagai pengganti rasa kesal. Dia memberungut. "Kamu mau abang mati jantungan, hah?"
Latarin mendelik. "Aku nyaut pelan. Suruh siapa abang ngelamun gitu?" omelnya sambil melipat pakaian yang dilempar.
Halilintar tidak membalas. Dia melanjutkan kegiatan mengemas, membisikkan terima kasih samar saat Latarin membantunya secara sukarela.
Setelah selesai, Latarin bertanya tanpa banyak cingcong. "Abang jujur sama aku. Nonjok Kak Fang gara-gara sayang sama aku sebagai adik atau sebagai cewek?"
Halilintar menghela napas. Dia melepas beban badan, terlentang di atas kasur. Kalaupun Halilintar terkejut dengan pertanyaan yang diterima, maka ia tidak menunjukannya.
Anak sulung keluarga Amato itu terdiam sejenak memandang langit-langit. Tak lama kepalanya tertoleh ke arah si bungsu. "Pentingkah alasannya yang mana, sementara dua-duanya kurasakan?"
Saat Latarin tak memberi tanggapan selain mata yang melirik tajam, Halilintar menghela napas lagi.
"Seratus persen karena kau adik perempuanku." Halilintar mendudukkan diri, bibirnya tertarik membentuk senyum kecut. "Bonus 75 persen alasan yang kedua."
Oke, setidaknya masih lebih besar persentase yang Latarin harapkan.
"Aku gak suka lihat Abang kalap gitu." Latarin melipat tangan.
"Abang juga gak suka lihat kamu nangis!" Halilintar mengeritkan gigi. Sebelum Latarin memprotes lagi, ia langsung menyambung, "Abang tahu abang sering usilin kamu sampai kesal. Tapi abang gak pernah bikin kamu nangis. Gak pernah sekali pun!
"Kamu ingat? Waktu dulu Taufan pernah bikin kamu nangis. Kamu kalo senyum itu lebar banget, hangat, dan suka nular jadinya. Seharusnya gak ketutup air mata." Halilintar mengusap wajah. Dari bahunya yang naik-turun dengan tempo tertentu, Latarin yakin sang kakak sedang menahan amarah. "Apalagi dengan alasan yang sama sekali bukan salahmu."
"Dah, ah! Yang itu jangan dibahas!" Latarin menggembungkan pipi.
"Kamu yang mulai."
"Kita bahas Abang yang terlalu berlebihan, bukan soal itu!"
"Berkaitan, Dek. Abang juga sampai gak sengaja hajar Fang karena inget apa yang dia katakan padamu."
Latarin menyipitkan mata. "Gak sengaja?" Gak sengaja? Siapa yang mau Halilintar bohongi di sini?
Halilintar meringis. "Awalnya sengaja. Lanjutannya … terbawa suasana."
Sesaat, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Halilintar dengan penyesalannya atas respon yang "terlalu berlebihan". Dia merenung, seharusnya ia bisa lebih bijak. Seharusnya dia bisa menghajar Fang dengan cara yang lebih elegan.
Sedangkan Latarin, dengan keraguan yang … setelah beberapa pertimbangan akhirnya ia suarakan.
"Abang bikin aku bingung, tahu gak?" mula Latarin. Kedua tangannya diangkat untuk menutup wajah. "Aku jadi banyak mikir—"
Halilintar langsung menyahut enteng, "Otakmu tidak apa-apa dipake mikir begitu?"
"—NGESELINNYA PAUSE DULU BENTAR BISA GAK?" Latarin menuding Halilintar dengan jari tengah. Halilintar tertawa pelan menanggapinya. "Ini! Ini yang bikin aku bingung!"
"Apanya?" Halilintar mengangkat sebelah alis.
"Abang!" Latarin berdiri. Dia berjalan mondar-mandir, mungkin berharap yang dilakukan bisa mengurangi kegelisahannya. "Abang baik, perhatian, usil sama aku kaya gini karena rasa sayang ke adik apa gimana? Atau kaya Kak Fang yang ngelakuin ini-itu karena katanya suka sama aku? Aku gak paham bedanya!"
"Kamu ingin tahu perbedaannya?"
"Iya!"
Hoo? Halilintar menopang dagu. Apakah ini lampu hijau tanda kesempatan?
"Oke. Kalau kamu yang minta, nanti abang tunjukkan." Halilintar menggendong tas, lalu berjalan duluan keluar kamarnya.
Seperti biasa, Latarin langsung menyusul mengimbangi langkah Halilintar. "Nanti?" tanyanya, bingung. Kenapa harus nanti?
Halilintar menepuk puncak kepala Latarin, memperlihatkan senyum simpul saat gadis itu menatapnya. "Ya, nanti. Mungkin mulai besok?" Senyum Halilintar sedikit melebar, membentuk seringai yang biasa memancing jeritan kaum hawa di sekolah. "Selama ini abang belum pernah ngelakuin sesuatu yang emang murni karena naksir kamu, sih. Jadi belum ada yang bisa dijadikan contoh."
Latarin berhenti di anak tangga terakhir, terlihat berpikir keras. "Bentar, Bang. Aku masih belum konek."
Apa maksud Halilintar dengan "belum pernah melakukan sesuatu yang murni karena naksir"? Apa maksud nanti ditunjukkan? Mereka akan mengobservasi pasangan-pasangan bucin yang ada di sekolah, atau bagaimana? Atau seperti Prof. Ice, Halilintar berniat memperlihatkan referensi untuk Latarin tonton? Latarin enggak mudeng, serius!
Kenapa ini membingungkan sekali? Lebih baik menghadapi seribu soal trigonometri daripada dipusingkan hal cetek seperti ini, suer!
… Latarin tarik kata-katanya tadi. Bisa modar dia kalau dicekokin seribu soal trigonometri!
"Nanti tanya Ice atau Gempa aja. Jangan dipaksakan. Abang paham, kok," kata Halilintar.
Jujur, Latarin merasa tersinggung lahir-batin atas intonasi yang dipakai abangnya. Pakai tahan-tahan tawa begitu!
Maaf-maaf saja kalau kapasitas otak Latarin tidak termasuk menafsirkan hal-hal berbau bucin! Latarin itu bucin, tapi bukan budak cinta. Bucin versi dia sih budak kuaci nikmat.
Singkat cerita, Papa Amato duduk manis di kursi pengemudi. Siap mengantar Halilintar ke rumah Kakek Aba seperti yang telah disepakati.
Tak ada yang berniat mengucapkan salam perpisahan karena toh mereka akan bertemu lagi besok pagi di sekolah.
"Jangan kangen ya, Jamban," goda Halilintar.
"Abang kali tuh yang kangen aku!" Latarin mendelik. Durasinya singkat, langsung luntur oleh kerutan dahi. "Abang ngomong gitu karena aku adik atau karena naksir, nih?"
"Yang itu karena adik."
Lima bersaudara yang tersisa beserta dua orang tua menganga berjamaah. Sama sekali tidak mengira hasil obrolan dua anak itu tadi—yang entah isinya apa—akan menghasilkan interaksi seperti ini.
Sejak Latarin berhenti denial, dia memang sesekali menggoda Halilintar. Tetapi, biasanya yang digoda merespon kesal atau salah tingkah. Ini kenapa Halilintar malah menyeringai?
Lagi pula, Latarin sama sekali tidak terlihat sedang menggoda. Si maniak kuaci memang murni bertanya.
"Oh ya … Ma, Pa—" Amato dan Amaya reflek menatap Halilintar. "—aku minta izin PDKT-in anaknya, boleh?"
Amato langsung tergelak. Klakson mobil sampai berbunyi dua kali, tak sengaja ditekan. Sedangkan Amaya mengerling jenaka. "Yang mana? Yang paling cantik dan menggemaskan?" tanya sang mama.
Pipi Halilintar merona. Tetapi, anak itu tetap teguh. "Iya," jawabnya sambil menatap Latarin lurus.
Latarin sukses terbelalak dengan mulut terbuka tanpa suara. Anak yang lain heboh bersiul.
"Boleh aja, sih." Amato berdehem. "Asal Latanya mau."
"Oh, soal itu sih justru tadi dia yang minta." Halilintar mengedipkan sebelah mata ke arah Latarin.
Lampu bohlam imajiner menyala di atas kepala, menandakan loading informasi yang tadi akhirnya selesai dilakukan. Latarin merasa terkena jebakan Batman. "AKU GAK MINTA GITU!"
"Iya."
"ENGGAK!"
"Iya."
"ENGGAK! Aku kira Bang Hali mau kasih lihat film atau apa gitu sebagai contoh! Bukannya langsung dilakuin! Kalau misal aku gak jatuh hati gimana? Abang gak akan patah hati, emang?"
"Itu urusan belakangan. Seperti yang abang bilang, kamu gak punya kewajiban buat balas perasaan orang yang naksir kamu. Abang ingin kamu bahagia. Kalau bahagianya sama abang, ya bagus. Kalau enggak, ya udah. Bahagiain kamu gak harus jalan 'bucin', tuh?"
Latarin megap-megap. Dia tidak mengerti. Dari mana semua kata-kata membaperkan itu berasal? Dan lagi … "Kenapa Abang bisa ngomongin itu, santuy kaya lagi ngomongin cuaca?!"
"Ahem." Halilintar memalingkan wajah, merasa ditabok kenyataan. Dia nyaris lupa sedang ada di mana dan bersama siapa. Adik laki-lakinya kini kompak memasang wajah mengundang baku hantam.
Terlanjur basah, ia lanjutkan saja. "Yang tadi itu karena naksir, btw." Setelah mengatakannya, Halilintar langsung masuk mobil dan membanting pintu. Duduk manis di sebelah kursi kemudi, mengabaikan tawa menggelegar dari Blaze.
Akhirnya salah tingkah juga si Thor KW Super.
.
Butuh waktu beberapa menit hingga Amato berhenti tertawa dan bisa fokus mengendarai mobil. "Mulutmu, Nak. Filternya nyangkut di rahim Bunda apa gimana?" Pria itu bersiul melihat Halilintar kelabakan menutup wajah. Malu, eh?
"Shut up!"
Amato mendengkus. "Papa belum cabut restu. Tapi jangan lupa, kamu masih Papa pantau lo."
Halilintar memberi konfirmasi singkat, lalu menyibukkan diri menatap kelap-kelip lampu jalan yang dilewati. Menikmati suguhan malam diiringi siaran radio, perlahan menyambut kantuk.
Setidaknya, sampai Amato tiba-tiba menyeletuk, "Kalau nikah nanti kalian tinggal bareng Papa-Mama, jadinya tinggal dengan orang tua apa mertua?"
Halilintar menepuk jidat.
"Pa, please, aku masih umur 18! Jangan bikin mikir kejauhan! Latanya bakal balik suka aja aku belum tahu!"
"Utututu … kasian amat anak Papa."
Duh Gusti, pengen bejek tapi takut dosa.
.
.
.
Pelajaran olahraga hari ini cukup menyiksa. Lebih parah dari romusa.
Kelas Latarin kebagian jadwal jam olahraga sebelum istirahat makan siang, yang mana kondisi gedung olahraga sedang panas-panasnya. Tambahan, jadwal hari ini adalah tes ragam kebugaran jasmani. Tak heran, menjelang waktu habis, banyak murid yang terlentang pasrah dengan wajah menyedihkan.
Sejujurnya Latarin ingin menertawakan mereka. Sistem tesnya rolling beregu, berisi dua orang yang saling bergantian mencatat hasil kawan. Latarin mendapat giliran terakhir shuttle run. Diminta lari bolak-balik melewati batas daya tahan tubuh di saat energi yang dipakai hanya seuprit sisa-sisa tes sebelumnya? Jangankan tertawa, mengangkat pantat saja sepertinya Latarin tidak akan kuat.
Latarin berlutut di lapangan, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya penuh keringat, sampai-sampai terlihat glowing bin hinyay. Model skincare mihil mah lewat!
"Apaan tuh berhenti? Ayo lanjut! Waktunya masih ada, Lat! Baru gitu doang masa nyerah!" Partner tes Latarin hari ini, Solar namanya, bersorak di pinggir arena-sementara shuttle run.
Baru gitu doang, Solar bilang? Dia yang sudah mengacaukan tempo Latarin sejak awal! Gara-gara ulahnya memanas-manasi di tiap tes yang ada, Latarin jadi lupa pace yang biasa dia lakukan untuk mendapat hasil maksimal di latihan karate. Kalau begini sih Latarin jadi gaspol sampai mampus!
Latarin ingin sekali mengimpit hidung si Laron sialan dengan ketek bau, sungguh.
"Kakiku kebas, Lar!" Latarin tidak berbohong. Dia sudah tremor dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Solar tampaknya belum puas. "Halah. Payah kamu, Lat!" sindirnya.
"Hasilku lebih tinggi darimu!" Latarin menuding Solar dengan tangan gemetaran. Sekali lagi, dia tidak berbohong. Dia sudah kehabisan tenaga. "Kau tidak berhak mengataiku payah!"
Solar tersenyum lebar. "Aku mengalah, biar kau bisa dapat satu skor lebih tinggi dariku. Aku kasihan saja padamu. Pelajaran lain terlalu mustahil, sih."
Latarin menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk berteriak lantang, "PAK TARUNG JADI WASIT, YA! AKU MAU GELUD SAMA SOLAR!"
Solar langsung angkat kaki begitu bel istirahat berbunyi.
.
"Kita tahu kamu itu atlet, Lat. Tapi, hasilmu ituloh … edan! Laki-laki banyak yang kalah!" komentar salah satu teman sekelas.
Solar tersenyum congkak. "Disemangatin siapa dulu, dong!" katanya dengan seenak pantat.
Yang begitu disebut menyemangati?
Latarin menulikan telinga, tak punya energi untuk merasa kesal pada Solar. Ia berbaring di atas lantai, taplak meja guru dijadikan alasnya. Sebelah sepatu teronggok tak jauh dari tangan kiri, sebelah yang lain—sudah ia lempar meleset ke arah teman sekelas yang tadi iseng pura-pura melakukan salat mayat—entah mendarat di mana. Bau keringat yang masih semerbak bahkan tak cukup untuk membuat Latarin beranjak.
Malaikat kematian, di manakah dirimu? Latarin lelah.
"Oi."
Latarin mengerjap. Dia melihat sesuatu menjulang di ujung mata. "Malaikat maut?" bisiknya tak percaya.
Helaan napas terdengar. Saat sesuatu—lebih tepatnya seseorang—itu pindah posisi, berjongkok di sebelah Latarin, barulah sosoknya terlihat lebih jelas.
"Eh, Bang Hali?" Bukan malaikat maut, ternyata. Cuma pentolannya. "Ngapain ke kelasku?"
"Mau cabut nyawa kamu." Halilintar memutar bola mata. Dia meletakkan asal kantong kresek di atas perut Latarin.
Kombinasi beban dan dingin yang datang tiba-tiba dirasakan membuat Latarin terlonjak. Gadis itu duduk, sedikit merasa kesal karena kegiatan rebahannya diganggu oleh makhluk tak diundang.
"Apa sih—" Protesan terputus begitu saja. Latarin mengernyit melihat kantong plastik itu berisi dua minuman kaleng berkafein—masih segar dari mesin pendingin kantin—beserta satu bungkus kuaci jumbo.
KUACI, BRO! KUACIIIII!
Bisa memegang belahan jiwanya di tangan, Latarin tiba-tiba merasa mendapat kiriman energi cadangan tak terbatas. Kuaci memang dabes.
Satu tangan mendarat lembut di puncak kepala, Latarin mau tak mau jadi mengangkat pandangannya untuk menatap sang tersangka. Bukan senyum sinis yang Latarin lihat, melainkan gurat hangat yang jarang diperlihatkan.
"Habis olahraga total, 'kan?" Halilintar mengusap kepala Latarin singkat. "Itu buat nemenin belajar udah ini. Biar gak ngantuk."
Latarin meneguk ludah. Dia tiba-tiba teringat kejadian semalam.
"Um, ini—"
"—bukan adik." Halilintar menukas singkat, lalu memalingkan muka.
Latarin tiba-tiba mendapat dorongan untuk mencubit pipi yang bersangkutan. Tentu saja ditahan. Karena … ayolah! Ini tidak adil! Kenapa Bang Hali terlihat menggemaskan begini?
Terjadi keheningan.
.
Solar tiba-tiba bertanya, memecah suasana canggung yang semakin kental dirasakan oleh seisi kelas. "Buatku mana, Kak?"
Ekspresi Halilintar kembali datar. Dia berdiri, menatap Solar dengan sebelah alis terangkat. "Kamu punya kaki, 'kan? Beli sendiri lah!"
Solar bersiul. "Beda ya, kalau untuk gebetan tersayang."
Halilintar meninggalkan ruangan tanpa berpamit diri. Dari langkahnya yang kaku seperti robot terkena malfungsi, jelas terbaca oleh siapa pun yang melihat kalau dia sedang gugup.
Terjadi keheningan ronde dua. Hening yang ini diputus oleh sorakan heboh penghuni kelas.
"Aku gak salah lihat 'kan, guys? Tadi emang Kak Halilintar?"
Bukan. Itu Kak Taufan yang menyamar. Yakali, woi! Mana mungkin dia berani! Bisa-bisa dijadiin perkedel jagung!
"Ini aku yang kelilipan bola basket apa memang kakakmu salah tingkah, Lar?"
"Bener, ya. Kalau kena virus bucin, yang sangar juga jadi jinak."
Hoaks, ini. Kalau jinak, mana mungkin insiden kemarin bisa terjadi?
"Apakah ini awal mula kisah cinta terlarang antara adik dan kakak?"
Mendengar komentar yang terakhir, Latarin langsung protes. "Ya enggak terlarang juga, dong! Kan gak ada ikatan darah!"
Tak usah ditanya, Latarin seribu persen menyesalinya. Karena setelah itu, teman-teman sekelasnya semakin heboh.
"Uhuk, langsung dibela." Solar bersiul panjang. "Ada yang mau kau akui soal Kak Hali, Lat?"
Mana ada! Latarin membela karena Halilintar sudah memberinya kuaci jumbo!
Jumbo, manteman, JUMBO!
Memangnya salah ya, kalau Latarin membela abangnya? Jangan dibuat jadi ambigu gitu dong!
Lagian Bang Hali ngapain sih sok-sokan ke kelas lagi rame gini? Ada Solar pula?
Malu sendiri 'kan? Makan, noh! Salting di depan banyak saksi mata!
.
Latarin mengipasi wajah.
Kenapa kelasnya terasa semakin gerah, ya?
Bersambung
Halilintar sudah mulai menyambar wkwk.
Not my best work, bc I didn't write in my best condition. Tapi semoga masih bisa menghibur kalian, ya!
Oh, ya, ada yang kaya Hali gak? Karena terlalu biasa ngomong ceplas-ceplos, serasa mulut gak punya filter. Kadang suka malu sendiri pas sadar apa yang udah terucap. Kalau ada, mari kita mengheningkan cipta untuk mengenang rasa malu yang sudah mengenaskan.
Anyway, seperti biasa. Kritik, saran, dan tanggapan sila tinggalkan di kolom komentar! Apalagi kalau ada bagian yang bikin bingung. Biar saya gak kelupaan x')
Sekian terima gaji.
Salam Petok,
Chic White
