HATI-HATI, OOC SUDAH DIPANDANG WAJAR DISINI. DAN BANYAK TYPO YANG BERSERAKAN, JUGA EBI YANG KURANG MENJANJIKAN

SELAMAT MEMBACA!

_Lost_

Sebastian meringis sakit. Baru bangun saja, Kepalanya sudah terasa pening luar biasa. Dia menoleh ketika merasa gerakan pelan di kasur sebelahnya. Dan yang dia lihat hanya seorang Iblis tampan berstatus single, bernama Claude.

"Apa yang dia lakukan disini...?" Sebastian meringis sakit sekali lagi, kala pening semakin mendera kepalanya. Dia mengedarkan pandangannya. Bukan ruangan dikediaman Phantomhive. Mata Sebastian mendadak melebar. Dia ingat! Kemarin, dia tidak sengaja meminum ramuan entah apa milik Undertaker

"Whut...?! Apa aku nggak sadar seharian kemarin?" Gumamnya takut sendiri. "Apa aku..." Sebastian menatap Claude lama. Yang ia dapat hanya raut tenang. Oh, tidak bisa dikatakan tenang juga. Alisnya bertaut tak nyaman. "Sepertinya dia kelelahan"

"Tapi... Apa yang bisa membuatnya selelah itu...? Tuan mudanya tak pernah membuatnya selelah itu, menurutku" Sebastian mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang.

"Wajahnya tak buruk... Sangat sempurna kalau aku mau mengakuinya." Sebastian memperhatikan dalam diam.

"Engghh..." Claude mengerang. Wajahnya mengernyit tampak tak nyaman.

Sebastian jadi bingung ditempat. Satu pikiran terlintas di benaknya, "jangan-jangan gara-gara aku kemarin. Seharian nggak ingat apa-apa juga..." Sebastian mengumpat dalam hati. Dia jadi punya firasat buruk mengenai apa yang telah ia lakukan kemarin.

Dia jadi dipenuhi rasa bersalah. 'tunggu. Sejak kapan Iblis terhormat sepertiku punya belas kasihan?'

Tapi tetap saja, Sebastian masih dirundung rasa bersalah dan kasihan yang tinggi. Apalagi melihat wajah Claude yang penuh lelah itu.

Sebastian menghela nafas, dengan gerakan ragu-ragu, dia mengelus lembut dahi Claude, memijat pelan, dan matanya memperhatikan wajah Claude yang makin tenang di tiap pijatan yang Sebastian lakukan.

Sebastian tersenyum, "Mma... Kau suka sekali dipijat ya...?"

Sebastian harus menahan tawa gelinya, ketika dalam penglihatannya, Claude semakin menyamankan diri. Entah pada pijatannya atau pada kehangatan yang tanpa sadar, Sebastian Bagikan.

"Ya... Kurasa aku harus mengakuinya... Kau memang sangat tampan, Claude. Lebih dari apapun." Gumam Sebastian pelan.

Bersamaan dengan ucapan Sebastian, Senyum puas menghiasi wajah tidur Claude.