MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE

When the sun shines so bright, the darkness will fade…

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan

.

.

Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?


.

.

VIII

Habis lemah dan tak berguna, terbitlah kekuatan dahsyat

.

.


"Jangan serang!" pekik Grover. "Kami datang dalam damai."

Oke … aku sedikit terkesan dengan tindakan Grover, tapi ketika kau dihadapkan dengan burung pemarah dan haus darah, lalu kau mengatakan 'jangan serang', sepertinya otakmu harus segera diperiksakan ke dokter terdekat (sayangnya tidak bisa ke tabib dewata, karena ia tengah merengek-rengek di perkemahan).

Bahkan burung itu tidak terkesan sama sekali. Ia menyerang, luput mengenai wajah sang satir semata-mata karena Meg menyabetkan pedangnya. Strix itu langsung menikung, berkelit di sela pedang kembar Meg, dan mendarat tanpa terluka di titian spiral, sedikit lebih tinggi daripada tadi.

NGIIIK! teriak si Strix sambil merapikan bulu-bulunya yang hitam lebat.

"Apa maksudmu 'kau harus membunuh kami'?" tanya Grover.

Meg merengut. "Kau bisa bicara dengannya?"

"Tentu saja," kata Grover. "Dia binatang."

"Kalau begitu kenapa kau tidak memberi tahu kami dia bilang apa?" tanya Meg kesal.

"Karena tadi dia cuma berteriak ngiiik!" kata Grover berusaha berkelit. "Sekarang ngiiik-nya berarti dia harus membunuh kita."

Kucoba untuk menggerakkan kaki, tapi tetap saja rasanya sangat sulit. Tungkaiku serasa bak kantong semen, yang menurutku menggelikan. Lenganku masih bisa digerakkan dan aku juga bisa merasakan sesuatu di dadaku, tapi aku tidak tahu sampai berapa lama lagi hal itu akan bertahan.

"Coba tanyakan kepada si strix kenapa dia harus membunuh kita," saran Sasuke.

"Ngiiik!" kata Grover.

Aku bosan mendengar bahasa strix. Burung itu hanya berkomunikasi melalui serentetan suara mengoak dan memekik.

Sementara itu, di koridor luar, strix-strix lain masih menjerit-jerit dan menghantam jejaring tumbuhan. Cakar-cakar hitam dan paruh-paruh keemasan menyembul, mencacah-cacah tomat. Kuperkirakan waktu kami tinggal beberapa menit sampai burung-burung itu menghambur ke dalam dan membunuh kami semua.

Grover meremas-remas tangannya, ia tampak gelisah. "Kata strix itu, dia diutus untuk meminum darah kita, memakan daging kita dan memburai usus kita, urutannya tidak harus seperti itu. Katanya ia meminta maaf, tetapi ia diberi perintah langsung oleh Kaisar," katanya.

"Kaisar tolol," gerutu Meg. "Yang mana?"

"Entahlah," ujar Grover. "Si strix hanya menyebutkan kata ngiiik."

"Kau bisa menerjemahkan kata memburai, tetapi kau tidak bisa menerjemahkan nama Kaisar?" komentar Sasuke.

Aku pribadi malah senang dengan perkataan Grover. Yah … sekalipun aku memang belum pernah berurusan sama sekali dengan para Kaisar ini, tapi aku bisa merasakan kalau mereka benar-benar berbahaya. Aku mendengar sepak terjang dari Nero dan Commodus selama mengobrak-abrik Amerika bagian tengah dan Timur dari Apollo, dan itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan, apalagi identitas Kaisar ketiga sama sekali belum terungkap.

Tiba-tiba saja, euforia gara-gara racun strix perlahan mulai menguap. Meski begitu, aku belum bisa menggerakkan semua anggota badanku. Tak lama kemudian, strix menukik ke arah Meg. Gadis itu mengelak ke samping, memukulkan mata pedangnya ke bulu ekor selagi burung itu lewat, alhasil menghempaskan sang unggas malang ke dinding seberang. Burung itu menabrak bata, meledak menjadi kepulan debu dan helai-helai bulu.

"Meg!" seru Sasuke. "Sudah kubilang jangan dibunuh! Nanti kau kena kutuk!"

"Aku tidak membunuhnya. Dia bunuh diri karena menabrak dinding," balas Meg.

"Menurutku Moirae tidak akan berpendapat seperti itu," kataku.

"Kalau begitu, jangan beritahu mereka," jawab Meg.

"Teman-teman?" Grover menunjuk tanaman tomat, yang jejalinnya kian menipis dengan cepat gara-gara serbuan cakar dan paruh. "Jika kita tidak boleh membunuh strix, mungkin sebaiknya kita memperkuat barikade?" usulnya.

Dia mengangkat dan memainkan bumbung tiup. Meg mengembalikan pedang sabit menjadi cincin, diulurkannya tangan ke atah tanaman. Tangkai-tangkai menebal dan akar-akar berjuang untuk menancapkan diri ke lantai batu, tetapi hal itu terasa percuma saja. Terlalu banyak strix yang kini menggedor-gedor dari balik sana, mencabik-cabik bagian tanaman secepat tumbuhnya.

"Mereka terlalu banyak." Sasuke menggerutu.

Aku hanya bisa mengangguk kesal. Selama makhluk-makhluk itu masih bersikukuh untuk menerobos barikade itu, lama-kelamaan kami bisa menjadi santapan mereka.

"Tidak bisa." Meg terhuyung-huyung ke belakang, wajahnya berkeringat. "Tanpa tanah dan sinar matahari, yang bisa kita lakukan hanya terbatas."

"Kau benar." Grover menengok ke atas kami, matanya mengikuti titian spiral ke keremangan. "Kita hampir sama, Asalkan kita berhasil sampai puncak sebelum strix-strix itu masuk—"

"Jadi … kita naik saja," Meg mengumumkan.

"Itu boleh juga," sahut Sasuke.

"Halo?" ujarku merana. "Ada demigod malang yang lumpuh di sini."

Grover memandang Meg dan Sasuke. "Selotip?"

Meg dan Sasuke saling memandang sejenak.

"Selotip," Meg dan Sasuke sepakat.

Aku berdecak kesal dalam hati. Apakah otak teman-temanku ini sudah gesrek atau bagaimana? Bisa-bisanya mereka mengikatku dengan selotip seperti ini. Meg mengeluarkan gulungan selotip dari kantong serut di sabuk berkebunnya. Dia mendudukkanku, menyandarkanku ke punggung Grover (karena ia berkaki kuku belah, maka kedua teman demigodku sepakat untuk membiarkan Grover menggendongku), kemudian membelitkan selotip ke ketiak kami sehingga aku menempel ke sang satir seperti ransel.

Dibantu oleh Meg dan Sasuke, Grover berdiri sempoyongan, menggoyangkanku ke sana kemari sehingga aku dapat menikmati sembarang pemandangan seperti dinding, lantai, wajah Meg dan Sasuke, hingga tungkaiku sendiri yang mengangkang di bawahku.

"Anu, Grover?" tanyaku. "Kuatkah kau menggendongku sampai ke atas?"

"Satir piawai memanjat," sengal Grover.

Dia mulai menaiki titian sempit, tungkaiku yang lumpuh terseret-seret di belakang kami. Meg dan Sasuke mengikuti, sesekali menengok ke jejalin tanaman tomat yang kian lama kian menipis.

"Sasuke," Meg menoleh ke arah Sasuke. "Ceritakan kepada kami mengenai strix."

Sasuke menyisir otaknya, mengumpulkan informasi-informasi yang mungkin pernah tertanam di otaknya.

"Setahuku mereka adalah makhluk-makhluk dari dunia bawah," kata Sasuke. "Ketika mereka muncul, terjadilah hal yang jelek-jelek."

"Ya iyalah," kata Meg. "Apa lagi?"

"Ng, mereka biasanya memakan yang muda dan lemah. Bayi, manula, terus orang lumpuh … semacam itu. Mereka juga beranak pinak di lapisan atas Tartarus," jelasnya.

"Bagaimana cara menghalau mereka?" tanya Meg. "Kalau kita tidak boleh membunuh mereka, bagaimana cara menghentikan mereka?"

"Aku—entahlah."

Meg mendesah frustrasi. "Bicaralah kepada Panah Dodona, Naruto. Cari tahu kalau-kalau ada yang ia ketahui, akan kucoba mengulur-ulur waktu," katanya kepadaku.

Dia menuruni titian sambil berlari-lari kecil.

Hari yang sudah payah ternyata masih bisa semakin payah gara-gara keharusan untuk berbicara kepada panah, tetapi aku sudah diberi perintah, dan ketika Meg memberiku perintah, aku tidak boleh membangkang. Aku menggapai ke pundak, meraba-raba wadah panah, dan mencabut misil ajaib dari wadah itu.

"Halo, Panah Sakti nan Bijak," kataku. (Sanjungan selalu merupakan maneuver pembuka terbaik).

LAMA NIAN, si panah bersuara. HARI DEMI HARI KUNANTIKAN KESEMPATAN UNTUK BERBICARA KEPADA ENGKAU, WAHAI PUTRA FAJAR.

"Jangan panggil aku, Putra Fajar," kataku. "Lagipula aku sempat berbicara denganmu tiga hari yang lalu, 'kan?"

ITU PANGGILAN YANG TEPAT UNTUK ENGKAU, WAHAI PUTRA MATAHARI. Panah itu terus menerocos. APA MAU DIKATA, WAKTU SEAKAN MERANGKAK SANGAT LAMBAT BILAMANA KITA TERKUNGKUNG DALAM WADAH PANAH. SILAHKAN ENGKAU COBA SENDIRI AGAR ENGKAU TAHU RASANYA.

"Begitu." Kukekang hasratku untuk mematahkan panah sakti itu. "Apa yang bisa kau sampaikan kepadaku mengenai strix?"

ADA YANG MESTI AKU BICARATUNGGU DULU, STRIX? KENAPA ENGKAU MENYEBUT-NYEBUT STRIX?

"Karena strix akan membina—membunuh kita."

ASTAGANAGA! Si panah mengerang. HENDAKNYA ENGKAU MENGHINDARI BAHAYA!

"Tidak pernah terpikirkan olehku," ujarku. "Kau punya informasi terkait strix atau tidak, wahai Proyektil Bijaksana?"

Panah itu mendengung, tidak diragukan lagi sedang mencoba untuk mengakses Wikipedia. Ia menyangkal pernah menggunakan Internet. Barangkali hanya kebetulan bahwa panah itu lebih informatif ketika kami berada di area dengan Wi-Fi gratis.

Grover menaiki titian sambil menggotong tubuhku yang mengibakan dengan gagah. Dia mendengus dan tersengal-sengal, melangkah sempoyongan dekat sekali dengan pinggir titian. Lantai ruangan kini lima belas meter di bawah kami—lumayan jauh kalau kami ingin jatuh menjemput ajal. Aku bisa melihat Meg di bawah sana, sedang mondar-mandir dan komat-kamit sendiri sambil mengeluarkan beberapa bungkus benih berkebun.

Di atas, titian seolah mengular tak berujung. Apa pun yang menanti di puncak, dengan asumsi bahwa puncak tersebut memang ada, masih tersembunyi di balik bayang-bayang. Menurutku keterlaluan bahwa labirin tidak menyediakan lift atau sekedar pagar pembatas untuk berpegangan. Mana bisa pahlawan berkebutuhan khusus menikmati jebakan maut ini?

Akhirnya, Panah Dodona menyampaikan pendapatnya: STRIX ADALAH MAKHLUK BERBAHAYA!

"Kebijaksanaanmu," ujarku. "Sekali lagi menerangi kegelapan."

TUTUP MULUTMU, lanjut si panah. BURUNG TERSEBUT DAPAT DIHABISI, SEKALIPUN SI PEMBUNUH NISCAYA TERKENA KUTUKAN DAN PERBUATAN ITU JUSTRU MENDATANGKAN SEMAKIN BANYAK STRIX.

"Ya, ya. Apa lagi?"

"Apa katanya?" tanya Grover sambil terengah-engah.

Di antara banyak sifatnya yang menyebalkan, Panah Dodona berbicara hanya ke dalam pikiranku. Apollo sudah mewanti-wantiku semenjak panah itu berpindah tangan kepadaku, hal ini dikarenakan aku telah mengemban estafet ramalan milik Apollo. Oleh karena itu, selain kelihatan seperti orang gila ketika berbicara dengannya, aku harus terus-menerus untuk melaporkan ocehannya kepada teman-teman yang lain.

"Ia masih mencari di Google," tukasku. "Coba pencarian Yahoo saja, wahai Panah. Ketik 'kalahkan plus strix'."

AKU TIDAK SUDI MENGGUNAKAN AKAL BULUS! bentak si panah. Kemudian ia terdiam, cukup lama untuk mengetik kalahkan + strix.

BURUNG TERSEBUT BISA DITANGKAL MENGGUNAKAN JEROAN BABI, ia melaporkan. APAKAH ENGKAU PUNYA?

"Grover," seruku ke balik bahunya. "Apakah kau kebetulan punya jeroan babi?"

"Apa?" Dia menoleh, sekalipun dia tidak bisa menatap wajahku karena aku diselotip ke punggungnya, yang pasti karena dia menoleh, hidungku hampir saja copot karena terkelupas oleh dinding batu. "Untuk apa aku membawa jeroan babi? Aku vegetarian!" serunya.

Aku menoleh ke arah Sasuke. "Sebelum kau berbicara, aku tegaskan kalau aku sama dengan Grover," tukasnya.

Meg menaiki titian dengan terburu-buru untuk menyusul kami.

"Burung-burung itu hampir masuk," ia melaporkan. "Aku sudah mencoba untuk menumbuhkan beragam tumbuhan. Aku juga sudah mencoba untuk memanggil kawanku, Persik, tapi …." Suaranya melirih karena putus asa.

Aku mengangguk pasrah. Aku pernah mendengar hal itu juga dari Apollo, kemampuan Meg selain menumbuhkan tanaman adalah memanggil karpoi atau roh tanaman. Salah satu roh yang berhasil ia panggil adalah Persik, roh dari tanaman persik (yah … namanya juga anak-anak usia sepuluh tahun, penamaannya pasti masih sangat sederhana).

Tapi sejak memasuki Labirin, Meg tidak bisa memanggil roh yang katanya jago berkelahi tetapi hanya muncul semaunya sendiri itu. Aku menduga bahwa sama seperti tumbuhan tomat, Persik kurang menyukai habitat bawah tanah.

"Oi … Panah Dodona, apa lagi!?" teriakku ke ujungnya. "Selain usus babi, pasti ada lagi sesuatu yang bisa menghalau strix."

TUNGGU, kata panah. CAMKAN INI! ARBUTUS TAMPAKNYA DAPAT DIBERDAYAKAN.

"Tunggu dulu … abu apa?" desakku.

Terlambat.

Di bawah kami, sekumpulan strix telah berhasil menerobos barikade tomat dan menyerbu ke dalam ruangan disertai dengan jeritan haus darah yang membahana.


.

~Maelstrom Chronicle : The Burning Maze~

.


"Mereka datang!" teriak Meg

Dasar, kapan pun aku ingin membicarakan hal serius dengan Meg, dia malah bungkam. Namun ketika kami menghadapi bahaya yang amat kentara, dia buang-buang napas dengan meneriakkan 'Mereka datang'.

Grover mempercepat laju, menaiki ririan sambil mengerahkan tenaga dengan heroic untuk menggendong tubuh lumpuhku yang diselotip ke punggungnya, sementara Sasuke dan Meg berlari menyusul kami sambil sesekali berkelit dari terjangan burung-burung hitam yang mulai mencakar kami.

Karena menghadap ke belakang, aku bisa melihat dengan jelas para strix yang berputar-putar keluar dari keremangan. Mata kuning keemasan mereka berkilat-kilat seperti koin di kolam yang keruh. Aku mencoba untuk menghitung kawanan burung itu.

Belasan burung? Lebih? Mengingat aku sudah kerepotan dalam menghadapi satu strix, aku pesimis kepada peruntungan kami melawan sekawanan unggas itu, apalagi karena kini kami berjajar seperti sasaran empuk di titian yang amat sempit dan licin. Aku ragu Meg atau mungkin Sasuke sanggup membantu semua burung itu bunuh diri dengan menghantamkan mereka ke dinding.

"Arbutus!" teriakk. "Panah menyebutkan bahwa arbutus bisa menghalau strix."

"Itu nama tumbuhan." Grover megap-megap karena kehabisan udara. "Rasanya aku pernah menjumpai arbutus sekali."

Aku menatap panah itu kembali. "Panah," ujarku. "Apa itu arbutus?"

MANA AKU TAHU! HANYA KARENA AKUTERLAHIR DI KEBUN, BUKAN BERARTI AKU INI SEORANG PEKEBUN!

Muak karena jawabannya sama sekali tidak membantu, kujejalkan kembali panah itu ke wadahnya.

"Sasuke, lindungi aku." Meg mengubah kembali salah satu pedang sabitnya menjadi cincin dan merogoh-rogoh sabuk berkebunnya sambil sesekali melirik para strix dengan gugup selagi mereka terbang ke atas.

Sasuke mengangguk. Ia langsung menyiagakan pedangnya dan menatap tajam sekawanan burung hitam itu. Genggaman pada pedang miliknya semakin erat meski aku tahu dalam hatinya ia ragu untuk menyerang karena kutukan yang dimiliki oleh makhluk itu.

"Grover!" teriak Meg. "Bisa kita cari tahu arbutus itu tumbuhan jenis apa?"

Dia menyobek sembarang bungkusan dan melemparkan benih ke udara kosong. Benih-benih merekah seperti berondong jagung yang dipanaskan dan membentuk ubi rambat sebesar granat tangan yang bertangkai hijau berdaun-daun. Umbi tersebut berjatuhan di antara kawanan strix, mengenai beberapa dan menyebabkan mereka memekik kaget, tetapi burung tersebut terus berdatangan.

"Itu umbi," sengal Grover "Setahuku arbutus itu tumbuhan yang berbuah."

Meg menyobek bungkusan benih yang kedua. Dia menghujani para strix dengan ledakan semak yang berbuah hijau kecil-kecil, akan tetapi burung-burung itu semata-mata mengitari sesemakan.

"Anggur?" tanya Grover.

"Gooseberry," kata Meg.

"Apa kau yakin?" tanya Grover. "Bentuk daunnya—"

"Grover!" hardik Sasuke. "Mari kita bahas flora militer saja. Apa itu—? AWAS!"

Nah, Pembaca Budiman, silahkan menilai. Apakah Sasuke menanyakan definisi awas? Tentu saja tidak. Memang sekilas terdengar seperti itu sih, bahkan Meg belakangan mengeluh akan hal itu. Tapi Sasuke sejatinya berusaha mewanti-wanti bahwa strix terdekat tengah melaju ke arah wajah Meg yang tampak lengah karena perdebatan itu.

Jadi bukan salah Sasuke jika Meg tidak memahami peringatan Sasuke.

Tanpa sadar, aku merogoh kantong celanaku. mengubah penaku menjadi pedang dan mengayunkannya, berupaya untuk melindungi kawan beliaku. Hanya sabetanku melenceng dan refleks cepat Meg yang mencegahnya terpenggal.

"Hei!" teriak Meg, menepis si strix dengan pedangnya yang satu lagi.

"Maaf!"seruku. "Aku berusaha untuk melindungimu!"

Dia tidak membalas perkataanku karena sekarang ia menjerit kesakitan dan mulai terhuyung-huyung sementara paha kanannya yang tersayat mulai mengeluarkan darah.

Kemudian kami ditelan amukan badai cakar, paruh dan sayap hitam. Meg menebaskan pedang sabit secara membabi buta. Seekor strix menyerbu wajahku, cakarnya hampir mengoyak mataku sampai copot, ketika Grover bertindak tak disangka-sangka: dia menjerit.

Kalian mungkin bertanya-tanya. Mengejutkannya di sebelah mana? Bukannya ketika dikerubuti oleh burung-burung pemakan usus, wajar kalau kita menjerit.

Betul. Namun, suara yang keluar dari mulut satir bukanlah jeritan biasa.

Suara itu berkumandang di seluruh ruangan bagaikan gelombang kejut bom, memencarkan burung-burung, mengguncangkan batu-batu, dan merambatkan kengerian irasional ke dalam hatiku.

Andaikan aku tidak diselotip ke punggung sang satir, aku pasti sudah kabur. Aku bahkan akan melompat dari bibir titian untuk menjauhi suara itu. Karena tidak bisa, aku semata-mata menjatuhkan pedangku dan menutupi kedua kupingku dengan tangan. Meg, yang terkulai di titian dalam keadaan berdarah-darah dan tak diragukan lagi sudah setengah lumpuh gara-gara racun strix bergelung membentuk bola dan memeluk kepalanya sendiri.

Untuk Sasuke, ia jatuh berlutut dan menutupi kedua kupingnya dengan tangan, aku bisa melihat kalau tubuhnya penuh goresan darah dan lebam. Sepertinya ia masih bisa lolos dari cakar strix, meski tubuhnya harus tergores-gores batu pada titian atau bahkan memar.

Para strix langsung terbang menjauh ke kegelapan.

Jantungku berdegup kencang. Adrenalin mengalir deras di dalam tubuhku. Aku mesti menarik napas dalam-dalam beberapa kali.

"Grover," kata Sasuke, "Apa kau barusan berseru Panik?"

Aku tidak bisa melihat wajah Grover, tetapi aku bisa merasakannya gemetaran. Dia berbaring ke titian, berguling ke samping hingga aku menghadap ke dinding.

"Aku tidak berniat." Suara Grover serak, "Sudah bertahun-tahun aku tidak melakukannya."

"P-panik?" tanya Meg.

"I-itu jeritan Pan, dewa alam liar yang hilang," kata Sasuke.

"P-pan?" tanyaku.

Sasuke mengangguk. "Pan adalah sosok dewa yang menaungi para satir dan juga roh-roh alam. Dialah yang menjadi pemimpin dari Tetua Dewan Berkuku belah, para pemimpin yang mengurusi keadaan alam liar. Namun beliau sudah menghilang selama hampir dua milenia lamanya, sehingga para satir memiliki tugas sampingan untuk mencari keberadaan dewa tersebut," jelasnya.

"Tapi bagaimana Grover bisa mendapatkan berkah dari Pan kalau ia benar-benar menghilang?" tanyaku.

Grover mengeluarkan suara setengah terisak setengah mendesah, "Ceritanya panjang."

Meg berdeham. "Setidaknya hal itu bisa mengusir burung-burung itu," katanya. Aku bisa mendengar kalau ia merobek kain, barangkali membuat perban untuk kakinya.

"Apa kau lumpuh?" tanyaku.

"Iya," gumamnya. "Dari pinggang ke bawah."

Aku menoleh ke Sasuke. "Kau bagaimana?"

"Aman," gumam Sasuke. "Hanya sedikit lecet dan memar di sana-sini."

Grover menggeser selotip pemanggul. "Aku masih baik-baik saja, tapi kecapekan. Burung-burung itu akan kembali dan aku tidak akan sanggup untuk menggendongmu hingga ke puncak titian," katanya.

"Dia benar," gumam Sasuke. "Naskah kuno pernah mengatakan kalau setiap kali Pan menggunakan kesaktiannya, ia akan tertidur selama kurang lebih tiga hari. Meskipun jeritan Pan memang ampuh untuk menakuti semua makhluk, tapi tenaga untuk menggunakan sihir itu juga cukup besar."

Aku menimbang-nimbang dalam diam. Di bawah kami, jeritan strix bergema di Labirin. Saat ini saja, nadanya sudah berubah dari ketakutan—Ayo kabur! —menjadi kebingungan: Kenapa kita kabur?

Kucoba menggoyangkan kedua kakiku, yang mengejutkannya, jari kakiku sekarang terasa.

"Grover," panggilku. "Bisa lepaskan aku? Sepertinya efek racunnya sudah berkurang."

Dari posisi horizontal, Meg menggunakan pedang sabit untuk memotong selotip. Kami berjajar berempat sambil menyandar ke dinding—empat umpan strix mengenaskan, bersimbah peluh, dan mengibakan yang menanti ajal. Di bawah kami, jeritan burung-burung maut bertambah keras. Tidak lama lagi, mereka akan kembali dan malah lebih ganas daripada sebelumnya. Kira-kira lima belas meter di atas kami, kelihatan ala kadarnya berkat kilau pedang Meg, tampaklah langit-langit bata berbentuk kubah. Jalan buntu.

"Jalan keluar apanya?" kata Grover. "Padahal aku yakin …. Cerobong ini mirip sekali dengan …." Dia menggeleng, seakan tidak sanggup menyampaikan dugaannya kepada kami.

"Aku tidak akan mati di sini," gerutu Meg.

Meski ia berkata seperti itu, penampilannya berkata lain. Buku-buku jarinya berdarah dan lututnya lecet. Terusan hijaunya, hadiah nan berharga dari Bibi Sally (itu yang ia bilang kepadaku), kelihatan seperti habis dipakai oleh harimau gigi pedang untuk menajamkan cakar. Legging kirinya robek karena dipergunakan untuk membebat luka saya berdarah di paha, tetapi sekarang saja darah sudah merembesi kain tersebut.

Namun mata Meg berkilat-kilat penuh semangat perlawanan. Permata masih berkilat-kilat di ujung bingkai kacamatanya. Aku sudah belajar dari pengalaman untuk tidak meremehkan Meg McCaffrey selama permata-permataannya masih berkilauan.

Dia langsung mengaduk-aduk bungkusan benih sambil memicingkan mata untuk membaca label. "Mawar. Daffodil. Labu. Wortel."

"Bukan …."Grover menggetok-getok dahinya, berusaha untuk mengingat-ingat. "Arbutus itu … tumbuhan berbunga. Aduh, aku seharusnya tahu."

Hm … mungkin aku sedikit bersimpati pada persoalan memorinya. Terkadang hal itu bersifat manusiawi, dimana kita selalu melupakan sesuatu yang seharusnya kita ingat. Apalagi nanti ketika aku sudah berkecimpung di dunia demigod ini dalam waktu yang sangat lama, aku tidak bisa membayangkan betapa banyak hal yang harus kuingat agar bisa bertahan dalam dunia ini.

Tak lama kemudian, aku menggelengkan kepalaku sebentar. Aku harus fokus dengan kondisiku saat ini, karena jika aku lengah, aku modar. Aku melihat Meg masih mengaduk bungkusan-bungkusan benih. "Rutabaga, wisteria, pyracantha, stroberi—"

"Stroberi!" Grover memekik nyaring sekali sampai-sampai kukira dia hendak memekik Panik lagi. "Itu dia! Arbutus adalah pohon stroberi!"

Meg mengerutkan kening. "Stroberi tidak tumbuh di pohon. Genusnya Fragaria, satu suku dengan mawar," katanya.

"Ya, ya, aku tahu!" Grover memutar-mutar tangan seolah ingin mengeluarkan kata-kata secepat mungkin. "Arbutus termasuk suku Ericaceae, tapi—"

"Kalian berdua bicara apa sih?" sergahku. Jangan-jangan mereka berdua berbagi koneksi Wi-Fi dengan Panah Dodona untuk mengakses informasi di . "Kami berdua tidak mengerti sama sekali," kataku sambil menunjuk diriku dan Sasuke.

"Sebenarnya hanya dirimu saja yang tidak paham, dobe," kata Sasuke sambil menyeringai tipis. "Aku paham kok dengan perkataan mereka."

"Diam aja kau, teme," tukasku.

"Tapi Naruto benar, kita akan mati dan kalian malah memperdebatkan genus tumbuhan? Apa kalian sudah gila?" kata Sasuke.

"Fragaria mungkin cukup mendekati!" Grover bersikeras. "Buah arbutus mirip stroberi. Karena itulah arbutus disebut pohon stroberi. Aku pernah bertemu peri pohon arbutus. Kami bertengkar hebat gara-gara itu. Lagipula, spesialisasiku adalah stroberi. Itulah keahlian semua satir di Perkemahan Blasteran!"

Meg menatap benih stroberi dengan ragu. "Masa?"

Di bawah kami, belasan strix menghambur dari mulut terowongan sambil memekikkan koor pengantar aksi pemburaian usus.

"COBA SAJA PERAGA RIA ITU!" teriakku.

"Fragaria," ralat Meg.

"TERSERAH! AYO CEPAT!"

Alih-alih melemparkan biji stroberi ke udara kosong, Meg merobek bungkusan dan menaburkannya ke titian pelan-pelan sekali.

"Cepat." Aku meraba-raba untuk mencabut penaku kembali. "Waktu kita paling-paling tiga puluh detik lagi."

"Tunggu sebentar." Meg mengguncangkan bungkusan untuk mengeluarkan benih-benih terakhir yang tersisa.

"Lima belas detik!"

"Tunggu." Meg melemparkan bungkusan. Dia menangkupkan tangan ke atas biji-biji seperti hendak bermain keyboard.

"Oke," katanya. "Silahkan."

Grover mengangkat bumbung tiupnya dan memainkan lagu-entah-apapun-itu dengan tempo tiga kali lebih cepat daripada aslinya. Aku dan Sasuke hanya bisa menunggu sambil berharap-harap cemas agar kali ini barikade yang kami buat benar-benar ampuh.

Tepat saat kami hendak disambar strix, benih-benih meledak seperti petasan. Julai-julai hijau melengkung ke udara kosong, kemudian menambatkan diri ke dinding seberang dan membentuk sederet sulur yang mengingatkanku pada dawai gambus raksasa. Strix-strix bisa dengan mudah terbang lewat celah-celahnya, tetapi mereka justru menggila, menikung untuk menghindari tumbuhan dan saling tabrak di udara.

Sementara itu, sulur-sulur menebal, daun-daun merekah, kembang putih bermekaran, dan stroberi menjadi matang, alhasil aroma harumnya menyebar ke udara. Ruangan mulai tempat tumbuhan stroberi bersentuhan dengan batu, bata mulai retak-retak dan menyerpih, menyediakan tempat berakar yang lebih lapang untuk stroberi.

Meg mengangkat tangannya dari keyboard imajiner. "Apa Labirin … membantu?" tanyanya.

"Entahlah!" kataku. "Pokoknya, jangan berhenti!"

Dengan kecepatan mencengangkan, tumbuhan stroberi merambat sehingga seluruh permukaan dinding terlalap selimut hijau.

Tiba-tiba saja, Sasuke berseru, "Naruto! Apakah kau bisa menembak langit-langit batu itu dengan panahmu!?"

Aku menengadah ke arah langit-langit. Aku bisa melihat kalau langit-langit itu juga mulai retak. "Untuk apa?" tanyaku.

"Bayangkan saja tumbuhan itu disinari cahaya matahari, bisa seperti apa tumbuhan tersebut," jawab Sasuke.

"Oke deh," balasku. Aku langsung menyiagakan busurku. Ketika aku menarik tali busurku, aku baru saja berpikir, "Bagaimana kalau aku menggunakan pedangku sebagai anak panah, kira-kira bisa tidak ya?"

Tanpa basa-basi, aku langsung memasang pedangku ke busurku. Tiba-tiba saja, pedangku berubah menjadi sebuah anak panah. Mata anak panah itu terbuat dari perunggu langit dan batangnya terbuat dari emas. Pada batang anak panah itu, terukir sebuah gambaran seperti cahaya mahatari.

Aku menarik tali busurku dalam kondisi maksimal, lalu aku melepaskan tali busurku. Proyektil jadi-jadian itu langsung melesat cepat, melewati celah-celah sulur tanaman, dan menembus tepat di tengah langit-langit. Lesatan anak panah (pedang) itu menimbulkan secercah cahaya matahari masuk ke dalam ruangan melalui lubang hasil tembakan.

Ketika cahaya tersebut mengenai jejalin tanaman stroberi itu, tanaman tersebut kembali tumbuh dengan kecepatan yang menggila. Sulur-sulur tersebut semakin mendesak langit-langit sehingga kubah tersebut semakin retak seperti cangkang telur. Bongkahan batu mulai berjatuhan, menghantam butung-burung, mengoyak jejaring sulur stroberi (yang, lain dengan strix, hampir serta merta tumbuh kembali).

Begitu sinar matahari menyorot burung-burung, mereka menjerit dan lebur menjadi debu.

Grover menurunkan bumbung tiupnya. Kuletakkan busurku. Kami menyaksikan sambil terperangah sementara tanaman terus bertumbuh, berkelindan sampai trampoline dari jejalin stroberi membentang searea ruangan di kaki kami.

Langit-langit telah roboh sehingga tampaklah langit biru cerah. Udara gerah terhanyut ke dalam seperti semburan oven panas.

Grover menengadah ke cahaya. Dia mengendus-endus, air mata berkilat-kilat di pipinya.

"Apa kau terluka?" tanyaku.

Dia menatapku. Duka di wajahnya ternyata lebih memerihkan mata daripada sinar matahari.

"Wangi stroberi hangat," katanya. "Seperti di Perkemahan Blasteran."

Aku menepuk pundak Grover. Jujur … aku juga merasakan hal yang sama. Meski aku baru tinggal di sana selama beberapa hari, tapi suasana hangat yang kurasakan selama di perkemahan itu membuatku rindu. Aku ingat saat duduk-duduk bersama saudara-saudaraku dari Kabin Apollo di tepi api unggun, menyanyikan "Ibuku Seorang Minotaurus" sambil makan marshmallow gosong langsung dari tongkat panggangnya. Persahabatan jarang yang sesempurna itu.

Meg bersandar ke dinding. Mukanya pucat pasi, napasnya patah-patah.

Sasuke merogoh saku dan menemukan patahan ambrosia segi empat yang terbungkus serbet. Meski aku putra Apollo, tapi untuk masalah pengobatan, Sasuke yang lebih sigap sehingga ia yang membawa persediaan ambrosia kami. Sekalipun Meg kadang-kadang bersikukuh tidak mau ambrosia bahkan ketika butuh.

"Makan." Sasuke menempelkan serbet ke tangannya. "Supaya kelumpuhan cepat berlalu."

Meg menggertakkan rahang, seolah hendak meneriakkan OGAH!, kemudian rupanya memutuskan bahwa dia ingin tungkainya kembali normal. Digigitnya ambrosia sedikit demi sedikit.

"Ada apa di atas sana?" tanya Meg sambil memandangi langit biru dengan kening berkerut.

Grover mengusap air mata dari wajahnya. "Kita berhasil. Labirin mengantarkan kita tepat ke markas."

"Markas?" Aku senang mendengar bahwa kami punya markas. Kuharap markas berarti keamanan, tempat tidur empuk, dan mungkin mesin espresso.

"Iya." Grover menelan ludah dengan gugup. "Kalau masih berdiri. Ayo kita cari tahu."


.

Bersambung

.


Hai semuanya, kembali lagi bersama no Emperor di sini. Chapter kali ini tergolong cukup panjang karena masih ada bagian lain yang harus kumasukkan sehingga fasenya menjadi cukup cepat. Untuk chapter depan, akan ada satu chara Naruto yang akan muncul. Tokoh yang sangat kuhormati tapi sayangnya ia cuma muncul secara singkat di anime maupun manganya. Penasaran? Tunggu aja chapter depan.

Mungkin itu saja dari aku, semoga chapter ini dapat menghibur readers semuanya.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.