LOVE LIVE LONDON
...
..
.
CHANBAEK STORY
..
CAST
Byun Baekhyun / Brian
Park Chanyeol / Richard
..
.
.
Chanyeol sudah berdiri selama bermenit-menit di tangga masuk menuju Katedral, menunggu si pujaan hati menampakkan batang hidungnya. Pandangan mata tak henti melirik kesana kemari, ia cukup cemas jika Baekhyun tak akan datang. Tapi saat mata bulatnya menangkap siluet pria dengan mantel dan syal berwarna coklat sebuah senyum langsung mengembang di wajah tampannya. Dari postur dan warna rambut Chanyeol yakin seratus persen itu adalah pria yang ia nantikan.
Pukul enam kurang beberapa menit. "Kukira kau takkan datang"
"Aku bukan orang yang suka ingkar janji" ucap Baekhyun ketus menatap Chanyeol dari balik poninya yang mulai memanjang.
"Baguslah." Tak memperdulikan wajah bantal pria manisnya, pria jangkung itu tanpa basa-basi menarik Baekhyun masuk kedalam katedral.
Beberapa menit berlalu, pastur dan jemaat lain sudah lama pergi. Menyisakan Chanyeol dan Baekhyun berdua di dalam sini. Si surai perak terlihat asik mengamati Chanyeol yang tengah menundukkan kepala dengan kedua tangan saling bertaut didepan dada.
"Aku tak menyangka jika kau seorang yang religius" ujar Baekhyun sesaat setelah Chanyeol kembali membuka matanya.
Pria itu terkekeh ringan "Tentu saja bukan"
Baekhyun mencibir "Katakan itu pada seseorang yang membangunkanku di pagi buta untuk mengikuti Misa"
Chanyeol memberikan cengiran tak berdosanya "Sebenarnya beberapa hari lalu adalah hari ulangtahunku, ibuku selalu mengajakku ke gereja tiap tahun. Rasanya aneh saja jika tahun ini aku tidak melakukan kebiasaan itu. Yah, meskipun aku datang tidak tepat dihari ulangtahunku."
Tak kunjung mendapat respon Chanyeol kembali menoleh.
"Kau kesal karena ku ajak ke gereja?" tanyanya dengan kedua alis terangkat.
Baekhyun membalas dengan sebuah gelengan.
"Lalu kenapa wajahmu kusut begitu?"
Pria itu menguap, matanya terlihat sayu hampir terpejam "Menurutmu?"
Chanyeol terkekeh melihat tingkahnya, terlalu menggemaskan. "Ah, kau pasti masih sangat mengantuk?" Baekhyun membalasnya dengan tatapan bosan seolah mengatakan jika sudah tahu kenapa bertanya.
"Kalau begitu ayo berkeliling agar kantukmu hilang. Sebenarnya aku juga cukup penasaran dengan kemegahan Katedral yang banyak orang bicarakan ini. Mumpung masih sepi, sebentar lagi akan dibuka untuk para wisatawan"
Baekhyun pasrah saat pergelangan tangannya ditarik oleh Chanyeol, terlalu malas untuk sekedar protes. Membuka mata saja rasanya sangat berat.
"Wah ini benar-benar indah" Chanyeol memekik takjub, kepalanya itu tak bisa diam. Terus mendongak sambil menoleh kesana dan kemari. "Lihatlah!" perintahnya menunjuk langit-langit.
Yang mendengar otomatis mendongak, Baekhyun ikut terkesima dengan yang pria itu tunjuk. Meski lama tinggal di London tapi ini adalah pertama kali si manis Byun itu menginjakkan kaki di St. Paul's. Ia akui jika arsitektur bangunan katedral ini memang sangat luar biasa, begitu megah dan mewah.
"Aku jadi penasaran dengan sosok dibalik bangunan megah ini"
"Sir Christopher wren, dia yang merancangnya" Baekhyun menyahuti,
"Dia salah satu arsitek andal yang juga dipercaya kerajaan Inggris untuk merancang Kensington Palace dan Hamptoun Court Palace" ini memang pertama kali Baekhyun berkunjung kemari tapi soal sejarah dan seluk beluk bangunan ia paham diluar kepala.
Chanyeol menyeringai, sepertinya ia menemukan topik untuk dibahas.
"Wah, dia pasti benar-benar arsitek yang hebat. Ah, aku juga pernah dengar kalau St. Paul's ini adalah katedral yang bersejarah. "
Baekhyun menganggukan kepala cepat "Benar, banyak momentum penting dilakukan disini, salah satu yang paling fenomenal adalah pernikahan mendiang Putri Diana dan Pangeran Charles. Selain itu ini adalah katedral terbesar kedua di Inggris setelah katedral Liverpool, dan kubahnya menjadi kubah terbesar kedua di Eropa setelah St. Peter di Roma." Baekhyun menjelaskan panjang lebar. Topik yang Chanyeol angkat menarik minatnya, membuat kantuk yang sedari tadi hinggap perlahan terkikis.
Setelah puas berkeliling, mereka memutuskan keluar dari sana. Menelusuri deretan pertokoan dan resto, mencari tempat yang kiranya cocok untuk disinggahi. Setelah jauh berjalan melewati beberapa restoran akhirnya Chanyeol menyeret Baekhyun masuk ke sebuah kedai yang terlihat sederhana. Temboknya bercat putih kusam dengan berbagai foto dan figura menghiasi dinding. Chanyeol memesan sesuatu yang nampak enak dan hangat.
Dua porsi Lanchashire Hotpot dan beberapa jenis makanan tambahan seperti bacon, telur, sosis, jamur, hash browns, dan black puding, tertata rapi diatas meja. Pelayan terakhir kembali setelah meletakkan sebuah nampan berisi muffin dan trufle coklat. Baekhyun melongo melihat hidangan yang datang seperti tak ada habisnya.
"Kenapa, kau tidak suka?" tanya Chanyeol seketika membuyarkan kegiatan Baekhyun yang asik memandangi berbagai menu yang tersaji.
"Apa kau mengundang orang lain?" bukannya menjawab pria itu malah balik bertanya.
"Tidak" jawab Chanyeol singkat.
"Kenapa memesan banyak sekali?" tak habis pikir dengan apa yang Chanyeol pesan, terlalu banyak menurutnya.
"Kita membutuhkan sarapan yang cukup, karena hari ini akan panjang" Chanyeol meraih garpunya, mencicipi daging yang ada di piring.
"Cepat makan" Chanyeol menyodorkan potongan bacon di depan mulut Baekhyun ketika pria itu tak kunjung melakukan pergerakan apapun. Baekhyun secara otomatis membuka belah tipis bibirnya menerima suapan Chanyeol berikan.
"Jadi kau ingin disuapi?" ujar Chanyeol sambil menaik turunkan alis main-main.
Baekhyun hampir tersedak mendengar penuturan pria itu. Ia langsung terbatuk-batuk mencoba menghalau makanan yang hendak masuk ke saluran nafasnya.
"I-itu uhukk.. reflek tahu!" sungut Baekhyun masih terbatuk sambil terus menepuk-nepuk dadanya, memalukan sekali pikirnya.
Chanyeol dengan baik hati memberikan minum, memastikan Baekhyun baik-baik saja. Meski dalam hati masih terkikik geli karena berhasil menggoda sosok itu.
Baekhyun menyandarkan tubuhnya dikursi setelah berhasil menghabiskan makanannya hingga tandas, perutnya terasa begitu penuh. Rasanya ia ingin tinggal saja direstoran. Tapi si jangkung kelebihan kalsium itu lebih dulu menariknya pergi.
Mereka meneruskan perjalanan ke jembatan Millenium yang lokasinya tepat disebrang gereja. Menyebrangi sungai Thames untuk kemudian sampai di sebuah Museum.
Kalau boleh jujur sebenarnya Chanyeol tidak terlalu suka berkunjung ke tempat macam ini tapi melihat Baekhyun yang begitu antusias dan terus berceloteh tentang berbagai macam hal saat di Katedral membuatnya mengubah rencana. Ia memutuskan pergi ke 'Museum Tate' dan seperti dugaannya Baekhyun sangat betah berlama-lama disini. Sesekali Chanyeol akan menanyakan sesuatu yang random agar si manis itu tidak berhenti berbicara.
Chanyeol begitu menyukai bagaimana bibir tipis itu terus-terusan mengeluarkan kata yang tak ada habisnya dan juga ekspresinya yang berubah-ubah menyesuaikan topik yang sedang ia bahas. Sangat menarik, membuatnya sekali lagi jatuh dalam pesonanya. Kalau begini bagaimana Chanyeol bisa move on nantinya?
"... Richard?" pria itu mengerjap menyadarkan diri dari lamunannya.
"E-eh? Apa yang kau bilang?"
"Kau tidak mendengarku?" tanya Baekhyun dengan wajah kesal.
"Katakan sekali lagi"
"Tidak mau, aku sudah menjelaskan panjang lebar dan kau mengabaikanku. Dasar menyebalkan!" wajahnya semakin merengut. Jika Chanyeol sudah benar-benar tidak waras mungkin ia akan nekat menciumi seluruh wajah itu tanpa ampun. Bagaimana bisa seseorang dengan usia 25 terlihat begitu menggemaskan sepertinya?
"Baek"
"Hmm" jawabnya malas.
"Kau tahu, kau terlihat berkali-kali lebih cantik dan begitu menarik saat mengoceh tentang hal-hal yang kau sukai." Chanyeol menjeda untuk kembali menyelami sabit berwarna coklat itu "Dan wajah kesalmu itu, kau tak boleh menunjukkannya pada sembarang orang"
"Kenapa?" tanyanya mengabaikan rasa panas yang mulai menjalar dari wajah hingga leher.
"Karena seseorang mungkin tak akan bisa menahan dirinya" jawabnya membuat alis Baekhyun menukik, tak mengerti apa maksud yang Chanyeol bicarakan.
"Maksudmu?"
Chanyeol tiba-tiba mendekat, membuat Baekhyun reflek memundurkan wajahnya "Hanya jangan lakukan" pria itu berbisik tepat ditelinganya, kemudian menjauh meninggalkan Baekhyun dengan debar jantungnya yang menggila.
..
Setelah mengelilingi museum 7 lantai itu. Kini kedua pria berbeda tinggi bertolak menuju Nothing Hill, tujuan utama Portobello Market. Tak sampai disana, Chanyeol juga mengajak Baekhyun mengunjungi Istana. Mengajak berkeliling kesana kemari, ingin melihat bagaimana tempat para bangsawan tinggal katanya.
Chanyeol belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mengajaknya pulang. Padahal hari sudah gelap. Jujur saja tubuhnya sudah sangat lelah, seharian penuh berjalan mengikuti si pria tampan kelebihan kalsium. Dan, sialnya ia tak bisa menolak karena sudah terlanjur berjanji.
"Kita pulang sekarang?" tanya Baekhyun penuh harap.
Chanyeol menggeleng cepat, "Ini masih terlalu awal untuk pulang"
"Astaga, kita sudah pergi seharian. Kau masih belum puas?"
Sekali lagi pria dengan telinga peri itu menggeleng. "Masih ada 3 tempat yang ingin ku kunjungi"
Baekhyun membelalakkan mata tak percaya "Apa? Yah, kau gila? Memangnya kau tidak lelah? Kakiku sudah hampir patah rasanya!"
Tak mau mendengar protesan si mungil, Chanyeol kembali menyuarakan apa yang menjadi keinginannya. "Aku mendengar ada sebuah festival yang rutin diadakan setiap musim dingin di London"
Baekhyun mengernyit "Festival?" mencoba menggali ingatannya tentang festival yang Chanyeol maksud.
"Kalau tidak salah diadakan di Hyde Park"
"Ah! Maksudmu Hyde Park Winter Wonderland?"ujar Baekhyun penuh minat, padahal beberapa menit lalu dia begitu gigih merengek minta pulang.
"Aku tidak ingat namanya"
"Kau mau pergi kesana?" Tanyanya memastikan "Butuh 10 menit jika jalan kaki dari sini"
"Benarkah? Bagus! Kalau begitu kita pergi" Baekhyun menurut, ia lelah tapi juga tidak bisa melewatkan Winter Wonderland, itu tempat kesukaannya.
..
Kerlip lampu warna-warni serta berbagai ornamen natal tersebar menghiasi seluruh taman. Setiap musim natal hingga tahun baru Hyde Park selalu diubah layaknya taman bermain yang megah. Hampir semua ada disini mulai dari street food, berbagai atraksi, pertunjukan musik, pernak-pernik, beberapa stand permainan bahkan ada juga wahana bermain seperti Coursels dan roller coaster.
Baekhyun menatap penuh minat atraksi didepan sana. Matanya berbinar takjub melihat aksi pria yang menyemburkan api dari mulutnya seperti seekor naga.
"Baekhyun ayo!" Chanyeol membawanya kesebuah stand permainan.
"Mau mencobanya?" tanya yang lebih tinggi.
"Tidak, kau saja."
"Mau bertaruh? Siapapun yang menang boleh meminta apapun pada yang kalah, bagaimana?" Entah kenapa kalimat Chanyeol berhasil menyulut gairah bersaingnya.
Setelah membayar beberapa lembar uang, si penjaga stand memberikan sebuah pistol mainan dengan total 10 peluru didalamnya. Chanyeol menyerahkan pada Baekhyun dan diterima dengan senang hati. Pria bermata sabit itu mulai mengambil tempat untuk menembak.
DOR.. tembakan pertama meleset
DORR... DORR... tembakan dua dan tiga juga masih jauh dari sasaran.
"Cobalah untuk fokus" Chanyeol memberi saran.
Baekhyun berusaha lebih fokus
DOR.. Tapi hasilnya masih sama
Chanyeol tertawa mengejek "Kau payah!" dan itu sukses membuat Baekhyun kesal.
DOR... DOR.. Suasana hati membuat tembakkannya semakin jauh dari target.
"Bahkan tembakanmu tak ada yang mendekati target"
"Lebih baik kau diam! suara mu mengganggu konsentrasi!"Kalau tidak ingat sedang berada ditempat umum Baekhyun pasti akan melempar Chanyeol dengan pistol mainannya.
Baekhyun bukan pemarah, tapi tubuhnya yang lelah seharian ini membuatnya jadi sensitif.
"Kau salah memegangnya" Tanpa diduga Chanyeol tiba-tiba mendekat, merapatkan tubuh tingginya pada yang lebih mungil. Tangannya ia arahkan menuju pistol mainan di tangan Baekhyun.
Yang lebih pendek menelan ludah kasar, posisi Chanyeol yang begitu dekat membuatnya menegang seketika. "Kau harus memegangnya begini, lalu tutup sebelah matamu untuk memfokuskan target" suara rendah Chanyeol berbisik tepat ditelinga kanannya. Nafas hangat pria itu menerpa tengkuk dan leher, membuatnya semakin gugup. Perasaan asing itu kembali hadir mengusik ketenangan jantungnya.
"Sekarang tembak"
Baekhyun tersentak, reflek telunjuknya menekan pelatuk pistol mainan ditangan.
DORR
"Ah sedikit lagi. Kau harus lebih fokus, arahkan dengan hati-hati"
Baekhyun menggeleng samar mencoba menjernihkan pikirannya kembali. Memusatkan pandangan menuju target didepan sana dengan menutup salah satu kelopak matanya, seperti yang Chanyeol katakan.
DORR... Berhasil, kali ini ia berhasil menembak target.
Ia melonjak tak percaya, rasa gugupnya tergantikan dengan rasa senang luar biasa "Wohooo aku Berhasil! Lihat aku berhasil" ujarnya penuh semangat. Chanyeol ikut tersenyum, tangannya bergerak mengacak rambut perak yang lebih mungil.
"Sekarang giliranku. Aku akan memenangkan boneka disana untukmu" Ucapnya penuh percaya diri.
"Kau harus mengenai sasaran 10 kali secara beruntun, mustahil bisa memenangkannya. Sepertinya kau hanya berkesempatan mendapatkan balon"
"Jangan meremehkanku" dengan itu Chanyeol mulai menembaki targetnya.
Si manis bermata sabit hampir kehilangan keseimbangan, seluruh target bergerak berhasil Chanyeol tembak. Mulutnya menganga tak percaya.
"Wah! Kau ini sniper atau apa?"
Chanyeol meniup ujung pistolnya sambil menyeringai. "Sudah kubilang jangan meremehkanku"
..
Tangan kanannya memegang sebuah permen kapas berukuran besar dengan bentuk Unicorn sedang kirinya memegang sebuah sosis jumbo dengan lumuran saus yang begitu menggoda.
"Bagaimana bisa kau makan makanan manis dan asin secara bersamaan?" Chanyeol menatap heran sambil sesekali menggiggit hot dog ditangan. Di punggungnya tersampir boneka beruang besar yang tadi ia menangkan.
"Aku hanya tidak ingin kehabisan permen kapas kesukaanku, kau lihat sendiri antriannya begitu panjang"
Chanyeol berdecak samar "Memangnya berapa usiamu?"
"Memangnya kenapa? Apa hanya anak kecil yang boleh memakan permen kapas?" Baekhyun menyuapkan sosis ditangannya dengan rakus sambil menyuarakan protes.
"Tidak, tapi kau terlihat begitu kekanakan" tanpa beban tangan lebar Chanyeol terulur membersihkan saus yang menempel di ujung bibir yang lebih pendek.
"Bahkan cara makanmu sungguh berantakan" lanjut si telinga peri sambil menyesap saus bekas mulut Baekhyun dijempolnya.
"A-aku tidak kekanakan!" beruntung tempat Baekhyun berdiri sedikit tamaram jadi ia tak perlu repot menyembunyikan pipinya yang ia yakini sudah semerah tomat.
Setelah puas dengan semua makanan yang mereka beli dua pasang kaki itu kembali melangkah menuju sebuah komidi putar yang nampak menyenangkan untuk dinaiki.
Baekhyun mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya, membingkai pemandangan London dari atas menggunakan kamera di handphone. Membuat Chanyeol tertarik ingin melakukan hal serupa. Bukan, bukan pemandangan London, tapi sesuatu yang lebih indah.
Setelah berhasil memotret tanpa adanya kecurigaan, Chanyeol berinisiatif melakukan hal lain. "Baek ayo kita mengambil foto berdua. Pemandangannya sangat indah dari sini, sayang jika tidak diabadikan"
Baekhyun tentu saja langsung menyetujui ajakan si tinggi. Chanyeol menempatkan diri duduk disebelah Baekhyun. Satu tangannya memposisikan ponsel didepan mereka, sedang yang lain merangkul pundak sempit disebelahnya. Beruntung Baekhyun tidak keberatan dengan itu, Baekhyun mulai berpose dengan senyum manis dan satu tangannya membentuk v sign. Jujur saja untuk beberapa detik Chanyeol sempat terpesona.
"Satu dua tiga" ucap Chanyeol menekan tombol ditengah sambil tersenyum memamerkan single dimple miliknya.
Mereka mengecek hasil fotonya, dan tersenyum puas setelah itu "Oke, Satu kali lagi" Baekhyun mengangguk tanpa merasa keberatan, Sekarang ia tersenyum lebar unjuk gigi.
"Satu Dua Tiga" tepat pada hitungan ketiga Chanyeol tanpa aba-aba menolehkan kepalanya kesamping, bibir plumnya secara otomatis bertabrakan dengan pipi tembam Baekhyun.
Pupil matanya melebar, terkejut dengan apa yang barusan pria disampingnya lakukan. Dengan dramatis Baekhyun menyentuh pipi kirinya, tepat dimana bibir Chanyeol mendarat.
"A-apa yang kau lakukan?" Jangan tanya kenapa Baekhyun tergagap, karena jantung miliknya sudah hampir jatuh keperut rasanya.
Entah kerasukan apa otak cemerlang Chanyeol, ia sendiri tak habis pikir dengan tindakannya yang begitu agresif. Tapi masa bodoh, ini adalah kesempatan terakhir, setelah ini Chanyeol berjanji takkan mengusik si pria yang menjadi pujaan hatinya lagi.
"Aku hanya ingin foto kita terlihat konyol, hahaha lihat" Tanpa rasa bersalah Chanyeol menunjukkan hasil fotonya, sebenarnya tidak terlihat konyol sama sekali. Karena ponselnya itu berhasil mendapatkan gambar sedetik sebelum Baekhyun membulatkan matanya. Terlihat manis malah, Baekhyun yang tersenyum lebar dengan Chanyeol yang mencium pipinya. "Aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan."
"Kita ke London bridge sekarang, sekalian berjalan-jalan dipinggir sungai Thames" nada bicaranya masih sama, seperti tak pernah terjadi apapun. Sebenarnya Chanyeol tidak buta untuk menyadari perubahan sikap yang lebih pendek. Tapi, ia takkan terpengaruh dengan suasana hati Baekhyun dan menjadikan keadaan semakin canggung.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas lewat, udara bertambah dingin setiap detiknya. Baekhyun sedikit menggigil, semakin mengeratkan mantel dan syalnya. Pria itu masih setia mengekor dibelakang Chanyeol seperti anak ayam dengan induknya.
Chanyeol tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik. Hampir membuat Baekhyun menabrak dada bidangnya, untung pria itu berhasil berhenti di saat yang tepat.
"Jangan berjalan dibelakangku, itu terasa aneh" Chanyeol menarik tangannya, membawa tubuh Baekhyun bersisian dengannya. Baekhyun menghela nafas lelah menuruti apa yang pria tinggi itu katakan. Kemudian melanjutkan langkah dengan tenang.
Ini memang kesekian kali Chanyeol menggandeng tangannya. Tapi baru kali ini pria itu tak kunjung melepaskan belitannya. Baekhyun merasa sedikit tidak nyaman. Dengan perlahan ia berusaha menarik lepas tangannya, namun pria kelebihan tinggi itu justru semakin erat menggenggam.
"Maaf, tapi bisakah kau melepaskan tanganku?"
"Tanganmu dingin" Chanyeol berujar tanpa ada niatan melonggarkan cengkramannya. Pria itu malah semakin berulah dengan menyakukan tautan yang terjalin di mantel miliknya.
Baekhyun bergeming saat Chanyeol kembali melanjutkan langkah dengan tangannya di dalam mantel pria itu. Baekhyun menatap Chanyeol ragu, ia bingung. Semua perlakuan Chanyeol dan apa yang Sehun katakan tiba-tiba memenuhi kepalanya. Jantungnya yang tak berhenti berdebar-debar juga sama sekali tak membantu.
Dalam hati Baekhyun berkali-kali meyakinkan jika Chanyeol hanya bersikap layaknya seorang teman. Membuang jauh-jauh pemikiran jika Chanyeol mungkin menyukainya, karena pria itu normal. Bahkan ia sedang dekat dengan Krystal sahabatnya yang memiliki paras bak seorang dewi.
Tapi sudut kecil di hatinya memberontak, ini terlalu berlebihan. Semua perlakuan Chanyeol padanya sejak awal memang berlebihan. Hari ini perasaannya tak mau mengerti, semua kilasan yang Chanyeol lakukan padanya selama beberapa bulan terakhir ini seolah terus terputar bagai roll film.
Membuat perasaan yang paling ia benci itu kembali hadir. Tidak, ia tak ingin melakukan kesalahan itu lagi. Ia tak ingin perasaannya berkembang semakin jauh. Baekhyun harus mengakhirinya sebelum ia menyesal.
Pria bermantel coklat itu menghentikan langkahnya yang secara tidak langsung menahan langkah Chanyeol juga.
"Ada apa Baek?" tanya Chanyeol sambil membalik tubuhnya, merasa bingung karena Baekhyun tiba-tiba berhenti berjalan.
"Kau tidak boleh melakukan ini padaku" dahi Chanyeol semakin mengkerut dengan yang Baekhyun katakan.
"Apa?" tanyanya meminta penjelasan.
Baekhyun menundukkan kepala dalam. Tak kunjung menjawab pertanyaan yang Chanyeol lontarkan.
Setelah hening menjeda, suara Baekhyun mulai menyapa lagi "aku pernah bilang kalau aku diusir dari rumah karena sebuah kesalahan, benar?" Chanyeol mengangguk menanggapi apa yang Baekhyun katakan.
"Aku ingin memberi tahu apa kesalahanku. Mungkin setelah mengatakan ini pandanganmu terhadapku akan berbeda. Atau malah kau tak akan mau memandangku lagi nantinya. Jadi dengarkan baik-baik."
Baekhyun menarik nafas dalam, ia sempat memejamkan matanya sejenak sebelum memulai.
"Chanyeol, Aku adalah seorang Gay, Orientasi seksual ku menyimpang."
Perlahan wajah manis itu terangkat, menatap Chanyeol tepat di kedua irisnya "Karena itu jangan lakukan hal-hal yang membuatku bingung, jangan lakukan hal yang membuatku salah paham. Agar aku tidak benar-benar jatuh padamu."
Wajah Chanyeol berubah begitu datar tak terbaca, Baekhyun tidak mengerti apa yang pria itu pikirkan. Jantungnya sudah tak karuan didalam sana. Chanyeol hanya terus menatapnya dalam diam, tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Membuat Baekhyun semakin gugup memikirkan reaksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah kebisuan yang panjang akhirnya Chanyeol bergerak, pria itu mendekat kearahnya. Baekhyun reflek memundurkan tubuh beberapa langkah kebelakang. Ia takut Chanyeol tiba-tiba memukul atau meludahinya jijik seperti seseorang dimasa lalu.
Diluar apa yang Baekhyun duga pria itu malah mengulurkan tangan membawanya dalam sebuah rengkuhan.
Membisikkan sesuatu ditelinganya
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Bagaimana jika aku ingin terus membuatmu salah paham?"
...
..
.
TBC
Uhuyy gimana gimana?
