Disclaimer!
This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.
This story is for entertainment only and is not part of the official story line.
Happy reading! :)
Drink My Blood by Osaki Luna
"Sasuke!"
Sasuke tersentak siaga, mengacungkan pistolnya ketika Sakura menggoyangkan tubuhnya tiba- tiba. Rasanya baru saja ia memejamkan matanya beberapa detik, namun ia bisa mendengar cicitan burung yang ramai. Sasuke memicingkan mata, menyaksikan langit yang berwarna oranye karena menyambut fajar. Berapa lama ia sudah tertidur?
"Ponselmu bergetar sejak tadi,"kata Sakura menunjuk ponsel dikantong Sasuke yang menonjol. Sasuke menghela napas, menegakkan tubuhnya dari bersandar yang membuat lehernya pegal itu, lalu meraih ponselnya dengan melepaskan genggamannya dari tangan Sasuke. Gaara.
"Hn?"
"Kami sudah dekat. Radius lima meter."
"Hn. Kami dibalik pohon."
Sakura menggigil memeluk tubuhnya yang terekspos itu. Sasuke meliriknya, seketika sadar bahwa Sakura masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin. Pahanya terluka, sepertinya laki-laki vampir itu kemarin benar- benar tak bohong soal mencengkeramnya dengan kuku tajamnya. Sasuke bangkit berdiri.
Ia mengulurkan tangannya pada Sakura. Sakura menerimanya, berusaha bangkit meski ia merasa lemas karena belum tidur. Sakura berjalan terseok- seok dengan memegang tangan Sasuke. Tak lama kemudian, muncullah Kankurou lalu beberapa pasukan polisi lainnya.
"Sasuke! Sakura!"
Sakura tiba- tiba merasa lemas sekali ketika perasaan lega membanjirinya. Mereka akhirnya langsung berbalik, berjalan untuk segera keluar dari hutan itu. Rasanya lega ketika melihat kedunia luar selain hutan, tempat dimana manusia hidup. Sakura memeluk dirinya sendiri, memandangi sekelilingnya dengan lega. Meskipun ini bukan Konoha setidaknya ia melihat pemukiman lagi dipinggir hutan.
Sasuke sudah hendak melepas mantelnya, namun terhenti saat teringat penolakan Sakura sebelumnya. Sasuke menarik tangan Sakura tanpa memberikan aba- aba, membuatnya limbung dan jatuh dalam pelukan Sasuke. Sakura tersentak, hendak protes namun ia terdiam ketika mantel Sasuke menutupi seluruh tubuhnya. Seolah- olah Sasuke menyembunyikannya dari dunia luar dengan mantelnya. Hangat. Entah kenapa, Sakura merasa aman ketika mendengar detak jantung seirama Sasuke yang tenang dan teratur itu. Perlahan- lahan, Sakura memejamkan matanya setelah tidak tidur selama Sasuke tidur dibahunya tadi. Ia mengantuk. Lega. Sekaligus capek.
Seketika ia kehilangan kesadarannya, dengan tangan Sasuke menahan punggungnya yang sudah lemas merosot. Sebuah helikopter mendarat didekat mereka, menerbangkan seluruh benda yang bermassa ringan. Terlihat Naruto yang melongokkan kepalanya dari sana, berseru "Oi! Teme! Kupikir hari ini aku harus menyeret mayatmu pulang. Syukurlah kau masih hidup."
Sasuke hanya melemparkan tatapan tajamnya. Saat ia membuka 'bungkusan'nya, ia mendapati Sakura yang terkulai lemas nyaris jatuh. Sasuke sigap menahan tubuhnya, menggendongnya dalam posisi bridal style. Gaara mendekati Sakura, memastikan keadaannya.
"Speertinya Sakura kelelahan."
"Hn,"kata Sasuke. Ia berjalan menjauhi Gaara, menaiki tangga helikopter yang disediakan tidak untuk dinaiki orang yang menggendong orang lain. "Sisanya kuserahkan padamu di mansion Madara."
"Akhirnya pembalasan dendam ini akan tiba ya,"gumam Kankurou bersemangat. Gaara memandangi Sasuke yang tidak terlihat kesusahan mengangkat Sakura dalam rengkuhannya. Sasuke tidak menoleh sama sekali ketika sudah masuk kedalam helikopter, hanya Naruto yang mengangguk hormat seraya pamit pergi kembali ke Konoha.
Gaara mengangguk pelan, memandangi helikopter yang sudah mulai bergerak melawan gravitasi. Lalu helikopter itu semakin tinggi dari tanah, berbalik lalu berjalan ke arah utara. Konoha.
Gaara mengeluarkan pistolnya. Memberi aba-aba bersiap-siap pada prajuritnya. "Kepung mereka dari segala arah, Madara jangan sampai mati. Dia harus diperiksa."
"Mengerti,"sahut Kankurou paling lantang diantara prajurit lainnya. Mereka pun bergerak.
Sakura mengerjapkan matamya, mendengar suara bising yang menderu seolah- olah mereka sedang menghadapi angin besar. Ia membuka matanya, mendapati dirinya berbaring dipangkuan Sasuke. Tepatnya kepalanya dipaha Sasuke, membuatnya langsung terduduk. Mantel hitam beraroma maskulin yang menutup tubuhnya langsung jatuh ke lantai, membuat Sasuke menoleh.
"Ah, maaf,"kata Sakura meraih mantel itu dan memberikannya pada Sasuke.
Sasuke menggeleng. "Pakailah."
Sakura menggigit bibirnya. Berapa lama ia tertidur? "Kita akan pulang?"
"Ya, sebentar lagi."
"Kau sudah bangun, Sakura-chan?"
Sakura menoleh ketika seseorang memanggil namanya dengan ceria. Seorang pria berambut jabrik berambut kuning menghampirinya dengan membawakan sebungkus pocky. Ia mengulurkannya pada Sakura. "Makanlah, kau pasti lapar."
"Naruto-kun!"Seru Sakura sumringah. "Ternyata kau ada disini juga."
"Tentu saja, aku dan Sasuke ini tidak bisa dipisahkan sama sekali."
Sasuke melirik tajam Naruto, lalu membuang mukanya menatap kejendela samping seolah- olah tidak berminat pada percakapan mereka. Meski sebenarnya ia sedikit heran dengan mereka berdua yang sepertinya sudah kenal sebelumnya. Toh, bukan urusannya.
"Aku tidak tahu kalau kau berteman dengan Sasuke,"kata Sakura jujur seraya merapatkan selubungan mantel itu ke tubuhnya yang terluka.
"Sejak masuk Kepolisian sih,"kata Naruto mengunyah stik pocky yang tadinya ia tawarkan pada Sakura. "Bagaimana kabar Hinata-chan?"
Sakura teringat percakapan sebelumnya. "Ah, kau ini kapan terakhir kali menemuinya?"
"Hmm...Seminggu yang lalu?"
Sakura menghela napas, sudah menduga teman masa kecilnya ini bodoh bukan main. "Hah, kau ini benar- benar deh. Mau sampai kapan kau menggantungi Hinata seperti ini? Setidaknya temui dong sesekali disela-sela kerjaanmu, Naruto-kun."
Naruto nyengir seraya menggaruk kepalanya. "Etto...Bagaimana ya, masalahnya begini Saku-chan. Seminggu yang lalu aku membuat sedikit kesalahan."
"Apa?"
Naruto terlihat malu, lalu salah tingkah kemudian takut. Ia nyengir mencoba untuk tidak memancing amarah sahabat kecilnya itu, namun Sakura sudah menatapnya tajam ingin tahu. "Apakah Hinata tidak bilang apapun padamu?"
"Soal apa?"
"Kami—"
Sasuke bangkit berdiri, menuju bagian depan helikopter meninggalkan pembicaraan yang terdengar pribadi itu. Sakura menatap Naruto tak sabaran.
"Aku kebablasan nyaris melakukannya."
Sakura sudah melayangkan pukulan pada Naruto. Tak dipedulikannya rasa nyeri yang melanda seluruh tubuhnya. Ia sudah melotot kesal pada Naruto, menjambak-jambak rambut pria bermata sapphire itu dengan jengkel. "Tolol! Kau apakan Hinataku yang polos hah? Brengsek!"
"Tapi aku belum memerawaninya kok! Aw, Sakura-chan! Hentikan, ittai-dattebayo!"
"Kau gila."
Sakura masih kesal, sekarang mencubiti badan Naruto habis- habisan. Lihatlah Naruto, sekuat apapun dirinya melawan kejahatan tetap saja dia cuma seorang Naruto yang tak akan pernah bisa melawan apalagi lolos dari pukulan Sakura sejak dulu.
Tiba- tiba mereka limbung, ketika helikopter bergerak dan mendarat disebuah lapangan. Sakura terguling, meringis memegangi paha belakangnya yang terluka itu. Naruto yang keseimbangannya bagus itu untungnya tetap berdiri dengan bertumpu pada sandara kursi. Naruto mengulurkan tangannya membantu Sakura berdiri, lalu mereka berjalan keluar helikopter itu.
"Jadi apa yang harus kulakukan, nih?"
"Segera minta maaf dan temui dia, Brengsek!"Seru Sakura menjitak kepala Naruto lagi.
"Ittai! Hai' Hai'!"
"Kau sampai dengan selamat, syukurlah,"kata Kakashi yang menyambut kedatangan mereka. Naruto membungkuk hormat, diikuti Sakura dilapangan bandara itu. Sasuke berdiri dibelakang mereka, mengangguk pelan pada Kakashi. Kakashi menatap Sasuke dengan pandangan penuh arti. "Kau baik- baik saja, Sasuke."
"Ayo, Sakura. Kau harus ke kantor polisi memberikan keterangan."
Sakura mengangguk. Mereka masuk kedalam mobil bersama- sama. Kakashi melirik Sasuke. "Kudengar kau ke Suna memakai mobil?"
"Sudah kuledakkan."
Sakura tertegun mendengar jawaban tenang Sasuke. Meledakkan mobil mahal itu? Untuk apa? Sasuke memang pria gila yang tak bisa dipahami isi pikirannya. Pantas saja Sasuke tidak membawanya lari kedalam mobil saja.
Sesampainya dikantor polisi, Sakura langsung memberikan seluruh keterangan dan kesaksiannya akan insiden yang terjadi pada Sai yang mencatatnya dengan tenang dan ramah. Setelah pemeriksaan selesai, barulah Sakura merasa lelah semakin merundungi dirinya yang belum mandi apalagi istirahat sejak kemarin.
"Apakah aku sudah boleh pulang?"
Naruto langsung berpandang- pandangan dengan Sai. Mereka memberikan tatapan penuh makna, tidak mau menyampaikan kabar buruk soal kejadian semalam. "Eh, begini Sakura—"
"Aku antar,"kata Sasuke tiba- tiba. Ia berdeham, lalu mengacungkan kunci mobil lain. "Barusan asistenku mengantarkan mobilku kemari."
Orang ini memang orang gila yang kebetulan kaya raya, pikir Sakura. Ia sedang tak mau bersikap ketus pada Sasuke karena ia merasa berhutang nyawa pada Sasuke. Sakura mengangguk saja, berdiri dari kursinya. "Aku pulang dulu. Arigatou, Naruto-kun, Sai."
Sakura akhirnya meninggalkan kantor polisi seraya mengekori Sasuke yang berjalan didepannya dengan tangan didalam kantong. Punggung Sasuke begitu tegap berbalut kemeja hitam. Mengingatkan Sakura akan bentuk sesungguhnya punggung lebar itu setelah mandi.
Sakura memalingkan wajahnya, merasa malu sendiri. Mereka tiba disebuah mobil sport putih dengan tampilan aerodinamis yang memiliki lekukan yang seksi. Pastilah mobil ini jenis VW Scirocco R yang dibilang mobil mahal itu. Gila.
Mereka masuk kedalam mobil yang beraroma sama seperti Mercedes hitam Sasuke sebelumnya. Sakura merapatkan tubuhnya dalam mantel Sasuke. Sasuke sudah memasukkan gigi, menggas mobilnya dengan kencang dijalan yang sudah dipenuhi oleh penduduk yang sibuk dengan aktivitasnya masing- masing dipagi hari.
Sakura melamun, tidak begitu memperhatikan arah jalan mereka. Pikirannya sudah begitu suntuk, sekaligus lelah sekali ingin segera tidur. Namun, dalam waktu sebentar mobil itu sudah berhenti didepan rumah megah yang Sakura tahu bukanlah rumahnya. Sakura menoleh.
"Kenapa membawaku kerumahmu?"
Sasuke tidak menjawab. Ia melepaskan seatbealt lalu membuka pintu mobil. Sakura mengerutkan dahinya, ikut-ikutan keluar dari mobil mengekori Sasuke yang membuka pintu rumahnya. Mereka berjalan masuk, dan seketika Sakura ingat sesuatu. Pakaian dalamnya masih ada disini.
Sasuke naik kelantai atas diikuti Sakura yang bodohnya tidak tahu kenapa mengekori pria dingjn ini. Sesampainya mereka dikamar Sasuke, Sasuke menarik tangannya pelan. Sakura masuk, lalu Sasuke menutup pintunya.
"Aku tidak punya tenaga melawanmu kalau kau mau memperkosaku,"ceplos Sakura.
Sasuke melemparkan handuk yang ia ambil dari lemari ke kepala Sakura. Sakura melepaskan pegangannya pada mantel hitam yang ditubuhnya, mengambil handuk yang bersarang dikepalanya itu. "Ah."
"Mandilah,"kata Sasuke.
Sakura mengangguk, merasa berterima kasih pada Sasuke yang mempedulikannya ini. Sasuke melipat tangannya. "Tak akan ada yang bergairah dengan orang yang belum mandi."
Seketika Sakura cemberut dan mengacungkan jari tengahnya. Ia masuk ke kamar mandi. "Apakah menurutmu aku akan terangsang pada orang yang sama- sama belum mandi?"
Sasuke menyeringai dingin. Ia berjalan ke kamar mandi, menahan pintu yang sudah akan ditutup Sakura. "Apakah kita perlu mandi bersamaan?"
Sakura membelalakkan matanya. "Minggir!"
"Kurasa kau juga kesulitan menggosok badanmu sekarang."
Sasuke memegang pergelangan tangan Sakura yang berada dipintu, mencengkeramnya erat seraya menutup pintu. Sakura sudah akan meronta namun Sasuke langsung mendorongnya kedinding kamar mandi, mencium bibirnya dengan cepat. Sasuke menghisap bibir Sakura bergantian, atas lalu bawah kemudian atas lalu bawah. Sakura hanya bisa memejamkan matanya, tubuhnya mulai bereaksi aneh setiap Sasuke menyentuhnya.
"Hnmmmhhh~"
Sasuke memiringkan kepalanya, menarik bibir bawah Sakura dengan giginya. Lalu ia melesakkan lidahnya kedalam mulut Sakura, membuat Sakura mengerang pelan dalam ciuman itu. Sasuke mengabsen seluruh gigi Sakura dengan lidahnya lalu membelit lidah Sakura.
"Mmmh!"
Sasuke menekan pinggangnya pada Sakura. Sakura meletakkan tangannya didada Sasuke, lemas karena pagutan itu. Sakura mengerang keras ketika tangan Sasuke tiba- tiba sudah ada didalam cropnya, memilin putingnya dibalik bra yang dipakainya.
"Ah! Ngggh! Jangan~ Ahhhhh~"
Sasuke mencium bibir Sakura lagi, menghisap lidah Sakura. Sakura tersedak kehabisan napas, mengerang untuk dilepaskan. Sasuke melepaskan ciumannya, lalu melepaskan tali yang mengikat sisi pakaian yang dikenakan Sakura. Sasuke mengangkat baju itu dari Sakura, menampakkan bra renda merk Victoria Secret yang dibelinya membalut kedua payudara Sakura.
Sasuke langsung menciumi payudara itu beringasan, seraya meraba punggun Sakura untuk melepaskan kaitan bra. Sakura membelalak, tidak bisa memprotes saat bra itu sudah jatuh dari tubuhnya. Ia hendak menutup dadanya namun tertahan ketika tangan kiri Sasuke sudah meremas- remas payudaranya.
"Ah! Anggh! Hah~ Aohhh~ Ah! Sas~ Ah!"
Sasuke menurunkan tubuhnya, menjilati puting payudara yang nganggur. Sakura sudah mengerang tak karuan, tubuhnya bergetar ketika lidah basah itu sudah berputar- putar disekeliling aerolanya yang berwarna merah muda itu.
"Ahhh~ Ssssshhhh~ Janganh~ Ah!"
Sasuke memasukkan puting keras itu kedalam mulutnya, menghisapnya dengan lihai. Sakur sudah mendongakkan kepalanya, tidak mampu menahan serangan kenikmatan ini. Sasuke sudah menahan tubuh Sakura dengan meletakkan lutut kirinya dibawah selangkangan Sakura.
Akibatnya, Sakura berjengit ketika tak sengaja kemaluannya menggesek lutut Sasuke dibawah sana. "Ah!"
Sasuke menjilati telinga Sakura, memainkan kedua puting keras Sakura. Ia menghisap telinga kiri Sakura yang sudah memerah itu. "Kau sudah basah hanya karena ini?"
"Ahhh~ Ngggghhhh..."
"Apakah tubuhmu mendambakanku?"
"Ah!"
Sakura memekik ketika lutut Sasuke menggesek penuh sasaran ke klitorisnya yang sudah menegang. Sakura mencoba menegakkan tubuhnya namun kakinya lemas bukan main karena sentuhan-sentuhan Sasuke. Kepalanya semakin berat akan hisapan Sasuke ditelinganya juga putingnya yang habis- habisan dipelintir.
"Ahhhh~"
Cessssss...Krashhhh...
Sakura membuka matanya, lalu memejamkan matanya saat kucuran air shower sudah menerpa mereka. Ternyata perbuatan Sasuke. Sasuke sudah meraba-raba perut Sakura, lalu ia menghisap bergantian puting Sakura dengan lidahnya yang terus- terusan menggelitik Sakura.
"Ahhhh~ Anggghhhh~ Ah! Oh!"
Sasuke berdiri tegak, lalu ia mencium bibir Sakura lagi. Ia memagut dengan panas, membuat Sakura semakin gila. Sasuke melepaskan kancing- kancing kemejanya yang sudah menjeplak ketubuhnya akibat kucuran air yang menerpa mereka berdua sekarang. Sasuke masih mencium panas Sakura, memainkan lidah Sakura, menggigit bibirnya lalu menghisapnya lagi hingga akhirnya Sakura terduduk lemas hanya karena ciuman itu dengan pinggang bergetar.
Sasuke mengangkat alisnya sebelah, lalu melepaskan kemejanya. Otot- otot perutnya yang sixpack itu terlihat seksi karena basah oleh air, membuat Sakura merona. Sasuke meraih sabun cair yang ada didekat sana, lalu menuangkannya ke telapak tangan. Sasuke berjongkok. Ia memutar tubuh Sakura untuk membelakanginya, menghadap tembok kamar mandi.
Sakura hanya bisa melenguh saat tangan kekar Sasuke sudah menggosok bahunya pelan dengan sabun itu. Sasuke menempelkan bibirnya ke telinga Sakura, seraya menggosok leher Sakura lalu ke bahu lagi lalu ke lengan Sakura. "Kau orgasme hanya karena ciuman?"
Seketika wajah Sakura makin merona ketika Sasuke mengetahui fakta itu. Sungguh memalukan. Ia seharusnya berlari, kabur dari pria mesum ini. Namun tubuhnya seakan- akan menolak untuk melawan apalagi kedua tangan itu sudah mengusap- usap kedua payudaranya yang berukuran kecil itu dengan sensual. Sasuke mengecup- ngecup tengkuk Sakura, seraya memilin-milin puting Sakura dengan sabun ditangannya.
Sasuke menuangkan sabun cair lagi langsung ke perut Sakura. "Ungh~"
Sasuke mengusap- usap perut rata Sakura dengan tangannya, membuat seluruh tubuh Sakura merinding kegelian. Lalu Sasuke menggosok paha Sakura yang tertutup rapat menggesek satu sama lain. "Ah~ Sasu~"
Sasuke menjilat telinga Sakura. Sakura mendongak ketika Sasuke sudah membuka kedua pahanya, sekarang menggosok paha dalamnya. Sakura meringis ketika rasa perih menerpa luka dipaha belakangnya. Sasuke yang mengerti akan hal itu, hanya mengelus- elus paha dalamya saja dengan lembut.
Sasuke kemudian mendorong celana krem yang masih dipakai Sakura turun ke kakinya. Saat ini Sakura hanya memakai celana dalam berenda seksi pilihannya itu. Sasuke menuangkan sabun lagi, tepat diatas klitoris Sakura yang tercetak dari celana dalamnya itu. Kucuran air shower membuat Sakura menggigil diatas lantai kamar mandi itu.
"Ahhhh~ Nggghhh~"
Nyaris saja Sakura menutup kakinya kalau Sasuke tidak menahan paha kirinya dengan tangan satunya lagi. Sasuke akhirnya menekan klitoris itu dari luar celana dalam Sakura, membuat Sakura memekik.
"AAAAHHHHHH!"
Sasuke meremas payudara Sakura, juga menggosok keatas bawah klitoris Sakura dengan bantuan sabun disekitar celana dalam Sakura. Sakura hanya bisa berjengit, membuka kakinya semakin lebar seiring gosokan keras pada klitorisnya itu. Ia cuma bisa menerima rangsangan itu, membuat vaginanya semakin basah menyaingi kucuran shower diatas mereka saat ini. Vaginanya begitu panas, perutnya semakin menegang menerima gesekan keras itu.
"Ahhh~"
Sasuke menarik putingnya. Sakura sudah menggeleng- geleng, merosot dari dada Sasuke karena kenikmatan duniawi ini. Sasuke bisa merasakan panasnya selangkangan Sakura, ditambah cairan lengket yang berbaur dengan air juga sabun.
Sasuke menyingkirkan celana dalam Sakura kesamping, lalu telunjuknya mulai menggesek klitoris Sakura langsung. Sakura memekik. "Ahhh!"
Sakura sudah mendesah tak karuan, seiring gesekan langsung dari telunjuk Sasuke yang sudah berlumur cairan cintanya itu. Sekarang klitorisnya lengket berlumur cairan lengketnya sendiri, memudahkan akses Sasuke bermain- main disana. Sakura mendongakkan kepalanya, pinggangnya bergetar seksi saat telunjuk itu sudah masuk kedalam liangnya.
"Sasuke!"
Sasuke malah menganggap seruan itu sebagai ekspresi kenikmatan dari pemilik tubuh. Ia semakin bersemangat mengocok vagina Sakura dengan telunjuknya, tak lupa jempolnya tetap menggesek klitoris Sakura. Sakura sudah membuka mulutnya, membuat beberapa kali tersedak air shower karena mendongak keenakan.
"Ah! Ssshhh! Nggghhhh!"
"Sakura,"bisik Sasuke.
Sakur berjengit ketika dua jari sudah keluar masuk dengan lancar diliangnya yang sempit itu. Ah, sial. Tubuhnya sudah makin panas, panas itu mengalir dan berkumpul jadi satu ketitik kenikmatannya yang habis- habisan dimainkan Sasuke.
"Ahhhh~ Ohhh~ Ah! Ah! Nggghhh!"
Sasuke bisa merasakan penisnya yang sudah keras bukan main karena gesekan tubuh Sakura yang liar sebagai respon positif rangsangannya. Sial. Sasuke mengangkat tubuh Sakura, membuat Sakura mengangkang diatas tubuhnya. Sakura bisa merasakan tonjolan keras yang mengenai klitorisnya, membuatnya berjengit.
"Ah!"
Sakura menoleh pada Sasuke dengan mata sayu. "Kumohon, jangan masukkan."
Sasuke menurunkan risletingnya tanpa melepas celananya. Dengan susah payah dibawah sana ia mengeluarkan penisnya yang mengacung tegak langsung menyapa paha Sakura. Sakura bisa merasakan panas dan kerasnya penis kekar itu. Sakura bahkan tidak berani melihat penis itu saking ngerinya akan ukurannya yang terasa besar menyapa pahanya.
Sasuke mengocok bagian ujung penisnya yang sudah memerah bengkak karena rangsangan. Ia kemudian menempelkan kepala penisnya ke klitoris Sakura yang sudah basah dan panas itu. Sakura merintih ketika Sasuke mulai menggesekkan kepala penisnya naik- turun ke klitoris Sakura.
"Ah! Angggh! oh! Kh! Sh! Sh! Sh! Ah! Oh!"
Sasuke memberikan sedikit tekanan pada kepala penisnya ke klitoris Sakura, menggesekkannya dengan cepat diklitoris Sakura. Sakura sudah menggelinjang, memaju-mundurkan pinggangnya tiap kali penis Sasuke menggesek klitorisnya dengan hebat. Gila. Gila. Gila. Sungguh panas sekali klitorisnya karena gesekan kepala penis besar itu.
"Ah~"
Sasuke terus melakukannya hingga akhirnya Sakura tanpa sadar ikut bergerak mengarahkan pinggangnya pada penis itu. Gairahnya meletup- letup, berkumpul pada klitorisnya yang makin gatal dan panas itu. Sasuke terus menggesekkannya hingga akhirnya vagina Sakura mulai mengejang lalu klitorisnya berdenyut. Sakura langsung bergetar, ketika gelombang orgasmenya datang begitu saja.
"Mmmmmhhhh~ Ahhhh~"
Sasuke bisa merasakan cairan orgasme Sakura yang mengenai penisnya itu, membuat Sasuke akhirnya mengocok sendiri penisnya dengan kencang. Sakura sudah terkulai lemah, mengangkang tak berdaya seiring gesekan tangan Sasuke yang sesekali mengenai klitorisnya akibat kocokan pada penisnya yang keras itu.
Cairan pre-cumnya sudah menetes keluar seiring kocokannya. Iseng, Sasuke menyodok pelan bibir vagina Sakura, membuat Sakura mendesah lagi. Sasuke mengocok penisnya terus hingga akhirnya testisnya berkedut menembakkan spermanya tepat ke perut Sakura.
"Kh~"
Sakura hanya bisa mendesah pelan ketika tembakan hangat itu sudah bersarang diatas perutnya. Sasuke menghela napas, menikmati ejakulasinya barusan lalu meremas dada Sakura.
Seketika Sakura tak sadarkan diri.
Sakura terbangun diatas ranjang Sasuke, dengan pakaian dalamnya yang ia tinggal kemarin sudah melekat ditubuhnya. Jadi Sasuke mencucinya dan menyimpannya. Sakura membalikkan badannya, mendapati Sasuke yang berbaring disebelahnya tidur dengan tenang.
Jam berapa?
Sakura berani bertaruh saat ini sudah malam karena lampu kamar yang sudah dimatikan ditambah suasana tenang yang melingkupi. Kalian tentu saja paham kan, sesuatu seperti firasat dan perasaan familier kalian soal malam?
Nah, itulah yang dirasakan Sakura.
Sakura merasa tenggorokannya sedikit panas. Lagi- lagi begini. Sakura bahkan merasa haus ketika aroma manis menyengat itu tercium olehnya. Sakura duduk, mengernyitkan hidungnya. Dari mana asal aroma harum ini?
Apakah kau mau minum langsung?
Deg.
Kata- kata Madara langsung membuat jantungnya berdebar- debar. Ah, sialan. Bagaimana mungkin ia lupa insiden malam sebelumnya. Tak bisa ia percaya, ia mendapatkan kabar mengerikan kurang dari dua puluh empat jam lalu soal jati dirinya. Benarkah? Ia seorang vampir?
Sakura menoleh ke Sasuke yang terlihat tidur dengan tenang. Ia merasa wajahnya memerah ketika mengingat Sasuke yang mempermainkannya selama mereka dikamar mandi. Lalu ia tak sadarkan diri. Sakura berani bertaruh, perawannya terancam sudah hilang.
Sakura ingin sekali menghajar wajah yang terlihat damai tertidur itu sebagaimana biasanya ia menghajar Naruto jika main-main padanya. Sakura ingin mencekik Sasuke yang tidur dengan enaknya disebelahnya, tanpa dosa sama sekali. Ugh.
Sakura tiba- tiba mendengar bunyi degukan aneh. Degukan berirama, lalu detak teratur yang begitu mengundang Sakura. Sakura melirik Sasuke. Ia dengan nekad mendekatkan wajahnya pada Sasuke, dan matanya melebar ketika ia mencium arom manis yang memabukkan itu.
Kenapa?
Apakah Sasuke punya darah yang begitu menggiurkan? Sakura menelan ludahnya. Gawat. Ia kan bukan vampir. Kenapa pikirannya sudah macam- macam saja? Sakura mencoba menjauhkan dirinya dari Sasuke. Ia harus segera minggat dari sini sebelum Sasuke sempat memperkosanya. Atau membuatnya gila.
Swosh... bruk.
"Kya!"
Sakura terbanting kekasur tiba- tiba, dengan Sasuke yang sudah berada diatas tubuhnya. Sasuke menatapnya dengan tatapan tajamnya. "Apa yang kau lakukan?"
Sakura yang masih terkejut, ternganga tidak bisa bereaksi setelah menjerit tadi. Sasuke memegang tangan Sakura dengan keras, membuat Sakura tak berdaya sama sekali.
"Aku ingin pulang."
Sasuke melepaskan cengkeramannya saat Sakura berkata demikian dengan pelan. Ia masih menindih Sakura, menatap Sakura tajam. "Ini sudah malam."
"Aku tak mau merepotkanmu lebih lama."
Atau tepatnya aku tidak mau diperkosa lagi, Brengsek.
"Aku tak keberatan."
"Aku tidak bisa tidur."
"Kau nyaris 14 jam tertidur."
"Sekarang aku tidak ngantuk makanya aku harus pulang,"gerutu Sakura, keras kepala.
"Kau bisa melakukan apapun sampai besok. Tapi tetaplah disini."
"Kau kenapa sih?"
Sakura mendorong tubuh Sasuke yang tidak bergeming sama sekali diatasnya itu. Sakura semakin haus ketika aroma manis itu semakin tajam mengusik penciumannya, membuat liurnya berkumpul didalam mulutnya. Sial. Sial. Sakura takut jika ia membunuh Sasuke tanpa bisa ia kendalikan. Makanya, ia harus pulang dan jauh-jauh dari pria aneh ini.
"Kau harus tidur sini."
"Aku ingin tidur dirumahku."
"Jangan buat aku memaksamu tidur."
"Aish!"Seru Sakura kesal seraya menghentakkan kakinya dibawah sana. Ia mengerti betul apa maksud Sasuke barusan. Apalagi kalau bukan hal mesum yang ada diotaknya itu? Heran, kenapa sih pria macam ini bisa jadi wakil pimpinan? "Aku akan naik bus."
"Sudah jam 2 malam. Bus tak akan ada yang beroperasi lagi."
"Aku bisa berjalan kaki."
Sakura membuang muka saat Sasuke sudah akan menciumnya dalam kegelapan itu. Tuh, kan! Apa dibilang, Sasuke ini memang hiperseks kelas kakap. Sasuke menarik pipi Sakura dengan tangannya, membuat Sakura menatapnya. "Kalau kau masih berkeras pulang, akan kuambil perawanmu sekarang juga."
Jadi Sasuke tidak memperkosanya saat ia pingsan. Huft. Syukurlah.
"Jam tujuh pagi, kau antarkan aku kerumahku besok,"kata Sakura akhirnya. Ia memiringkan tubuhnya, membuat Sasuke akhirnya menjauh darinya dan berbaring dibelakangnya sana. Sakura merengut, menarik selimut itu kehidungnya. Ia harus tidur lagi, mengenyahkan hasrat anehnya ini. Ya, ia mesti tidur.
Tunggu sebentar.
Kenapa pula Sasuke harus mengantarnya besok?
Sakura merasa malu bukan main, mengingat lagi kata-katanya yang diucapkan pada Sasuke dengan ketus tadi. Ah, dasar bodoh. Sakura memasukkan wajahnya kedalam selimut itu, meski ia merasakan punggungnya saat ini tak bisa lolos dari tatapan tajam pemilik kamar ini.
Sasuke terbangun ketika merasakan sebuah jilatan dilehernya. Ia langsung menjambak rambut merah muda yang sibuk mengendus- endus lehernya itu. Sasuke menatap kedua emerald yang menyala terang dalam gelap itu, matanya menyiratkan perasaan damba yang begitu mengerikan.
Sasuke langsung membanting Sakura ke ranjang, menahan leher Sakura dengan tangannya. Sakura mengerang, menyeringai memamerkan gigi- giginya dengan garang. Sasuke langsung menarik pistol dibawah bantalnya, menempelkannya ke pelipis Sakura. Menatapnya dingin.
"Kkkkkhhhh..."
Satu tarikan pelatuk, dan semuanya akan selesai. Sasuke menarik napas. Baiklah, ini saatnya—
"Siapa namamu? Kenapa kau sendirian?"
"Mereka bilang aku menakutkan."
"Kenapa? Padahal menurutku kau cukup ganteng kok."
"Kau bohong. Pasti kau kasian padaku."
"Tidaaak. Kau keren. Mau jadi penjagaku?"
—Sasuke tersentak ketika tiba- tiba kelebat masa lalu berseliweran dikepalanya. Kenapa tiba- tiba saja? Sasuke menurunkan pistolnya. Ia akhirnya membuka lemari, mengambil stun-gun yang ada disana lalu menyetrum pinggang Sakura. Sakura menggeliat, meronta-ronta berusaha menggigit lengan Sasuke yang menahan lenernya.
"Kkkkkhhhh!"
Sasuke menekan stun-gun itu keras- keras, membuat Sakura menggeliat lalu lemas. Sasuke melepaskan tangannya, lalu memastikan Sakura sudah tak sadarkan diri. Sasuke bisa melihat wajah damai Sakura kembali membingkai, menandakan Sakura yang sudah masuk fase normalnya lagi. Sasuke menghela napas, lalu memasukkan stun-gun kedalam laci sebelah Sakura lagi dan menyelipkan pistol itu kembali kebawah bantalnya. Sasuke langsung membelakangi Sakura, memejamkan matanya meskipun telinganya tetap waspada mendengar gerak-gerik makhluk dibelakangnya ini.
Tiba- tiba saja Sakura memeluk Sasuke dari belakang, menggumamkan sesuatu seperti dango dan juga ibu. Lalu Sakura menempelkan kepalanya kepunggung tegap Sasuke. Sasuke menegang. Apakah Sakura masih dalam mode berbahaya?
Sasuke menunggu. Lima belas detik kemudian, Sasuke bisa menarik kesimlulan bahwa Sakura sudah tidur lagi dengan nyenyak. Sasuke akhirnya memejamkan matanya, membiarkan posisinya tetap demikian karena Sakura dibelakangnya.
"Sasuke."
Sasuke membuka matanya, memicing waspada saat Sakura memanggil namanya.
"Aku menginginkanmu..."
Sasuke tidak bereaksi apapun ketika Sakura mengigaukan itu. Ia hanya tersenyum sinis, lalu memejamkan matanua lagi. Ia biarkan adrenalinnya sekarang berpacu, bersamaan dengan otaknya yang berputar memikirkan sebuah rencana. Rencana brilian yang akan mengubah hidup Sakura. Yang tanpa ia sadari bahwa hidupnya sudah berkaitan dengan hidup Sakura.
Sakura membuka matanya lagi ketika ia mendengar suara kucuran air samar- samar dikamar mandi. Ia segera bangun, duduk dan menggeliat tak nyaman dengan pakaian dalamnya saja. Memang sih ia tidak merasa kedinginan sama sekali, tapi memikirkan fakta ia tidur seranjang dengan pria tanpa pakaian membuatnya kesal. Apa-apaan sih suasana diantara mereka?
Cklek.
Seperti deja vu, lagi- lagi Sakura bangun diranjang king size itu dengan sarapan disuguhi pemandangan visual dari pemilik tubuh atletis, Sasuke. Sakura tidak bisa memalingkan pandangannua pada otot-otot seksi yang melingkupi perut Sasuke yang basah karena air. Rambut Sasuke masih basah karena belum dikeringkan, menambah kesan seksi.
Sakura menepuk pipinya sendjri dengan keras, menyadarkan dirinya sendiri dari realita yang ada. Sasuke yang melihat perbuatan Sakura hanya mengangkat alisnya, lalu berbalik membelakanginya membuka lemari. Sasuke mengeluarkan sebuah kemeja, melemparkannya ke Sakura.
"A-aku tidak perlu pakai pakaianmu,"kata Sakura gugup ketika menerima kemeja itu. Kemeja itu begitu Sasuke-able, berwarna navy dengan aroma khas Sasuke sendiri. Ia tidak bisa memakai kemeja ini.
Sasuke berbalik, memegang celana bahan dan sebuah kemeja yang rapi. Ia menatap Sakura. "Kau mau masuk ke mobilku telanjang seperti itu saja maksudmu?"
"Bajuku kan ada!"
"Baru saja kuantarkan ke laundry."
"Aku tidak minta dicucikan pakaianku kok! Aku sudah banyak sekali merepotkanmu."Sakura mengucapkan kata- kata itu dengan tulus. Ia menautkan jari-jarinya, menggigit bibirnya.
Sasuke berjalan mendekatinya. Aroma sabun menguar dari tubuhnya, membuat jantung Sakura semakin berdebar- debar. Sasuke menatap Sakura intens. "Kalau begitu, apa bayaranmu padaku?"
"Apa?"
"Bukankah aku sudah kau repoti sejak kemarin?"
Sakura membulatkan matanya, mendongak. Ia langsung menatap kedua onyx tajam itu, membuat perutnya terasa berputar aneh. Kedua mata itu seakan- akan menghisapnya begitu dalam, meleburkan seluruh ruang dan waktu yang melingkupi mereka berdua. Begitu tajam, memikat, dan menawan.
"Aku punya permintaan,"kata Sasuke. Ia menarik dagu Sakura, membuat mereka beradu tatapan. Wajah dingin Sasuke tidak berubah sama sekali, namun ekspresi itu sudah cukup menggambarkan segalanya. Sakura mengepalkan tangannya, ketika debaran jantungnya semakin kuat. "Kencanlah denganku."
Mata Sakura membelalak, mulutnya ternganga ketika kata- kata itu terdengar dari pria poker-face itu. Apa katanya barusan? Berkencan?
"Tak perlu kau jawab sekarang,"kata Sasuke seraya beringsut menjauhi Sakura dan memakai pakaiannya. Sakura masih tertegun, otaknya tak mampu mencerna hal yang baru saja terjadi. Sasuke...dirinya...kencan? "Kau mau dibantu mandi lagi?"
Sakura langsung bangkit berdiri, melepaskan lamunannya ketika kata-kata seduktif nan berbahaya itu terdengar. Ia meraih handuk yang tergantung didekat pintu kamar mandi, masuk kedalam dengan buru- buru dan memguncinya keras. Ia memegang dadanya sendiri, merasakan debaran jantungnya lalu memghela napas.
Ah, sial.
Sepertinya hidupnya makin tak karuan saja sejak Sasuke muncul.
To Be Continued
