A Recantation
Naruto by Masashi Kishimoto
*
Chapter 9
Pertanyaan
"Bukan karena tidak ada jawaban, mungkin saja, pertanyaannya lah yang salah."
.
.
.
Saat memutuskan pulang ke Konoha untuk memulai kehidupan baru, Uchiha Sasuke tidak pernah berpikir bahwa setiap orang akan menerimanya dengan tangan terbuka. Sesederhana sebuah bangunan rumah tempat kembali adalah hal yang hanya bisa digambarkan olehnya tentang pulang. Tetapi ketika melihat gerbang Konoha tepat di depan matanya, seketika gambaran tentang rumah telah runtuh. Nyatanya, bahkan rumah itu tidak pernah ada lagi untuknya.
Lalu, saat matahari perlahan terbenam dan bayangan mulai terkikis oleh gelapnya langit dan setiap yang pergi telah pulang. Waktu itulah Sasuke mulai kembali melihat bayang rumahnya. Awal dari segala petualangan jauhnya juga akhir dimana dia dapat sejenak beristirahat. Rumahnya. Menanti di ujung gerbang Konoha.
Senyum secerah matahari dan kehangatan yang mengerubungi gelap dan dinginnya perasaannya. Rumahnya lebih dari sekedar dinding batu beratap. Lebih dari yang pernah dibayangkan oleh dirinya. Rumahnya terlalu indah sampai-sampai ia ragu untuk menginjakkan kaki kembali.
Sahabatnya, Naruto, sebagai suara pengingatnya kala kesepian. Sosok guru yang seperti ayahnya sendiri, Kakashi, dengan tangan kasarnya yang akan mengajarinya bagaimana cara mengetuk pintu. Lalu Sakura, yang hadirnya entah mengapa memberi kehangatan bagi hatinya yang dingin.
Mereka lah rumah itu. Awal dari kepergian dan alasan kepulangannya. Rumah yang begitu dirindukan tetapi terlalu menyakitkan untuk pulang. Bahkan ketika kata pulang tak menyapa logikanya, rumah itu selalu menunggunya dengan kokoh di Konoha. Menyebarkan segala suka duka yang penuh rasa sakit dan kenyamanan. Rumahnya, masih ada.
Tadaima.
"Okaeri," suara Sakura menyapanya saat Sasuke membuka pintu rumahnya. Wanita penyandang nama Uchiha itu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya. Sasuke yang mengerti segera melepas jubah hitamnya dan mengikuti Sakura yang lebih dulu berjalan masuk.
Mata obsidiannya menerawang seisi rumah yang baru beberapa hari ditinggalkan olehnya. Di meja makan terdapat secangkir teh hangat serta sepiring dango, makanan manis kesukaan kakaknya.
"Duduk dan minumlah, di luar sangat dingin."
Sasuke menatap istrinya yang sudah berdiri di sampingnya dan menggeser kursi untuknya duduk. Ia hanya menurut dan mulai menyesap teh hangat yang telah disediakan.
"Aku bertemu Naruto pagi ini, dia bilang kau akan datang dan akan memintamu mengambil cuti. Kukira dia hanya bercanda seperti biasa," ujar Sakura yang kini telah duduk di sampingnya. "Kau menungguku?" tanya Sasuke tanpa melepaskan pandangan pada Sakura.
"Aku selalu menunggumu," Sasuke tahu itu hanya candaan tetapi entah kenapa rasanya sedikit menyakitkan. "Terima kasih," ucapnya tanpa sadar.
"Untuk apa? Menunggumu?"
"Hn."
Sasuke beralih kembali pada tehnya dan meminumnya. Matanya menatap sekilas pada sepiring dango dan mengambil satu tusuk untuk dimakannya. Dia memang sedikit lapar karena setengah porsi ramennya diberikan pada Naruto tadi.
"Apa kau baik-baik saja?" Sasuke menaruh sisa dangonya dan menatap Sakura. "Aku— ah tidak, lanjutkan saja makanmu," lanjut Sakura seraya memberi senyum canggung padanya. Dia tidak mengatakan apapun dan kembali melanjutkan makannya.
"Apa akan terlihat berbohong jika aku mengatakan 'aku baik-baik saja'?" Tanya Sasuke saat dia telah menghabiskan tusuk dango terakhirnya.
"Ya."
Tentu saja Sakura mengetahuinya, lebih dari siapapun. Selain Naruto, Sakura adalah orang yang akan memahaminya meskipun dia tidak mengatakan apapun.
"Apa kau ingat, aku seusia dengan Sarada saat kau pergi meninggalkan Konoha." Sasuke menatap nanar pada Sakura, itu adalah hal yang tidak ingin diingatnya saat ini. "Tunggu! Aku tidak bermaksud apapun— hanya saja..."
"Aku mengerti, tidak apa." Tentu itu bermasalah bagi perasaannya, meskipun begitu ia tidak mungkin mencegah setiap orang membicarakan masa lalunya. Terlebih orang itu adalah istrinya sendiri. Saksi sekaligus korban kelemahannya di masa lalu.
"Sasuke, tidakkah itu waktu yang sangat lama. Dari saat kau, Naruto dan kita semua melalui masa itu. Aku pikir tidak perlu ada yang diceritakan dari masa lalu karena kita telah menyelesaikan semuanya."
Sasuke mencondongkan tubuhnya ke Sakura. Dia berusaha mencari sepasang mata emerald yang salalu menatapnya penuh kehangatan, tetapi nihil. Mata itu hanya menatap ke bawah, Sakuranya menolak bertemu pandang dengannya. Kedua tangan yang biasa menyembuhkan orang tersebut terlihat bertaut seperti berdoa di atas meja, menumpu tubuh yang seolah akan jatuh jika tak ada yang menahannya.
"Pagi ini aku bertemu Shikadai, ini waktunya dia melakukan pemeriksaan lanjutan."
"Sakura."
"Saat itu, dia bertanya sesuatu yang bahkan aku tidak tahu harus menjawab apa. Sasuke, bukankah menjadi orang dewasa artinya kau bisa menjawab apapun?"
Dengan satu tangannya, Sasuke meraih kepalan tangan Sakura. Mencoba menenangkan tangan istrinya yang mulai gemetar, hingga akhirnya pandangan mata mereka saling bertemu.
"Sakura-san, apakah anak-anak akan menjadi yang paling terakhir? Kalau iya, kenapa kami menjadi yang pertama merasakan 'sakit'. Apakah dulu juga seperti ini, Sakura-san? Tanpa bertanya apa kami siap atau tidak, orang dewasa telah mengambil keputusan."
Sasuke melihatnya, apa yang dikatakan oleh putra klan Nara tersebut. Sesuatu yang tiba-tiba saja mengusik pikiran Sakura. "Kau tidak seharusnya melakukan itu," dia tahu ini salah. Menggunakan sharingan untuk mengetahui apa yang terjadi pada Sakura sehingga membuatnya harus mengingat lagi kata-kata itu.
"Aku—."
"Ini membuatku takut, apa yang dikatakan Shikadai memang benar." Sasuke menggeleng pelan, mencoba menyanggah segala pemikiran buruk di kepala Sakura.
"Tanpa bertanya siap atau tidak, orang dewasa telah mengambil keputusan."
Tidak, bukan itu tujuan Sasuke. Bukan untuk meyakinkan kebenaran perkataan seorang anak kecil. Dia hanya...
"Anata, aku mengerti. Tapi lebih dari itu, apa kau tahu pertanyaan apa yang membuatku begitu ketakutan?"
Diamnya adalah jawaban dan Sakura tahu hal itu. Ketika Sakura memeluknya, Sasuke membalas pelukan itu. Tanpa suara atau isak tangis, mereka berbagi kata dalam diam. Saling bertanya dalam sunyi. Ketika pelukan semakin erat, mereka mulai berbagi rasa sakit.
"Aku mengerti kegelisahanmu, Shikadai-kun. Kami pernah mengalami hal itu. Melihat kalian dan mengingat apa yang kami rasakan— siap dan tidaknya kalian dapat terlihat dari keputusan apa yang kalian ambil."
"Meskipun begitu, tidakkah menjadi dewasa membuat kalian lupa bagaimana menyedihkannya tidak memiliki pilihan Sakura-san."
"Ini bukan tentang kami melupakan rasa sakit, Shikadai-kun. Pilihan adalah kesempatan yang harus kalian cari, bukan sekedar tawaran."
"Tapi mungkin saja kalian memang melupakannya...
... Sebelum menanyakan dan mengambil keputusan untuk kami. Akan lebih baik jika saja orang dewasa menanyakan diri mereka sendiri."
Sasuke tahu, ini bukan sekedar tentang pilihan. Selama ini dia menyadari hal itu. Saat melihat anak-anak itu, banyak pertanyaan muncul di benaknya. Seperti, apakah mereka bisa melewati misi seperti itu? Apakah mereka bisa menerima kenyataan pilu? Apakah mereka siap...
Apakah aku siap mengatakannya?
Ya, benar. Sama seperti dia memutuskan kembali ke Konoha setelah perjalanan penebusan dosanya. Di antara banyak alasan dan ribuan logika yang menyuruhnya untuk tidak pulang. Ada satu pertanyaan yang menggema dan mengetuk ragunya. Pertanyaan yang dia melupakannya.
"Apakah aku siap memulai kembali hidupku dengan mereka?"
.
.
.
*End of Chapter 9*
