UNTITLE

Wiell

Disclaimer :

Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan.

Baekhyun tak menduga jika pertemuannya dengan Chanyeol akan membuat hidupnya jungkir balik. Hal terjadi diluar rencananya dan mengubah perasaannya bagai telapak tangan. Pernikahan dadakan hingga tetek bengek warisan yang memuakkan.

[CHANBAEK]

.


Selepas membersihkan segala kekacauan, Baekhyun segera mengambil ponselnya yang tak tersentuh sejak sore tadi. Ia tak punya waktu untuk mengeceknya dan ia berjengit saat mendapati akun medianya penuh dengan mention dari orang yang tak dikenalnya bahkan followers-nya yang hanya 400-an naik hingga seribuan. Namun yang membuatnya kesal adalah mention dengan jumlah yang tak dapat ia hitung itu adalah fotonya dengan Chanyeol yang berasal dari hasil editan photoshop.

Baekhyun yakin orang-orang tadi yang menyebarkannya. Pasti si mulut ember Yuta.

Yang lebih memuakkan adalah caption yang hampir semua bertuliskan 'tinggal serumah dengan calon suami'.

Baekhyun berniat mengambil cookies dan mengabaikan segala notifikasi, namun ponselnya berdering dan terkejut kalau Jongin yang menghubunginya.

"Ya?"

"Baekhyun, aku melihat beritamu. Apakah itu benar?"

Baekhyun menggigit bibirnya,

"Ya, dan besok hyung diundang untuk makan malam bersama."

"Dengan lelaki bernama Park Chanyeol itu? Kau serius?"

"Ya, besok Ayah dan Ibu Chanyeol juga akan datang."

"Apa kau sungguh mencintainya? Bukankah kau ingin menikah nanti?"

Sebenarnya apa mau Jongin, kakaknya itu menyuruhnya menikah namun kini seolah menghalanginya.

"Aku akan menikah sekarang sesuai permintaanmu, jadi bersiaplah."

Ponsel ditutup begitu saja, tak ingin mendengar kalimat lain dari Jongin. Kembali menghela napas panjang, Baekhyun membuka lemarinya. Memilih baju apa yang cocok untuk dikenakannya besok. Hanya makan malam dan menentukan tanggal pernikahan.


UNTITLE CHAP 9


Chanyeol membuka pintu kamar mandi, jemarinya mengusap helaian rambut yang baru di cat abu-abu pelan. Tubuhnya terlapis sepotong kaos putih dan celana pendek selutut. Menghampiri Baekhyun duduk di sofa, dengan drama kolosal tentang kerajaan yang kini tengah menampilkan adegan ciuman lawan mainnya.

Ia menyeringai saat mendapati lelaki mungil itu menutup matanya namun menyisakan celah kecil untuknya mengintip, tak menyadari Chanyeol yang datang dibelakangnya.

"Hei!" serunya saat pandangannya menggelap. Melempar sesuatu itu dan mendapati Chanyeol yang tertawa di belakang tubuhnya. Handuk basah itu teronggok di lantai, sedang pemiliknya asik tertawa tanpa henti.

"Apa kau sedang berpura-pura polos?"

Baekhyun berlari, menarik rambut Chanyeol yang setengah basah kuat membuat pemiliknya menjerit sakit. Kakinya melingkar pada tubuh tinggi itu, semakin kesal karena lelaki itu malah meremas bokongnya.

"Sakit, Byun!"

"Lepaskan tangan sialanmu itu!"

Tarikan berubah menjadi cekikan dan membuat Chanyeol terhuyung hingga jatuh di lantai.

"Akh!"

"Mati kau, mati!"

Baekhyun hanya sedikit melampiaskan dendamnya, ia jadi bisa menikmati serial favoritnya. Ia harus kehilangan momen berharga dimana si Goblin itu berciuman dengan manusia.

Kekuatan Baekhyun mengendur perlahan, ia melepas sepenuhnya tangan pada leher Chanyeol. Itu bukan cekikan sesungguhnya, hanya main-main kok. Namun yang mengalihkan atensinya adalah sesuatu yang mengganjal dibokong. Terasa 'besar dan keras'.

Baekhyun menatap horor. Ia mundur menjauh.

Menatap Chanyeol yang bangun dan mengusap lehernya. Rambutnya acak-acakkan dan yang membuatnya melotot sesuatu diantara kaki Chanyeol yang entah bagaimana membentuk bukit kecil.

What the fu—

"Kau harus bertanggung jawab, Byun!"


UNTITLE CHAP 9


Jongin telah bersiap-siap, sebuah kemeja biru muda dipadukan celana hitam sewarna dengan pantofelnya. Kyungsoo pun mengenakan pakaian yang senada dengan Jongin, perut buncit menambah kesan pada lelaki carier itu. Mereka telah tiba di restoran sejak 5 menit lalu, menunggu keluarga calon besan yang belum juga nampak.

"Kenapa aku tidak tahu jika Baekhyun punya pacar ya?" tanya kyungsoo heran. Kerutan di dahi Jongin juga menambah kebingungan, karena ia juga tak tahu bagaimana tiba-tiba Baekhyun yang menolak menikah hingga kini tiba-tiba pertemuan keluarga.

"Aku juga tidak tahu, mungkin Baekhyun menyembunyikan hubungannya. Semacam itu."

Sejujurnya Jongin terkejut dengan penerima telpon Baekhyun tempo hari, mungkin memang benar jika itu adalah kekasih Baekhyun. Jadi apakah mereka sudah melangkah sejauh itu? Apa ini yang membuat Baekhyun enggan menikah?

"Maaf, kami terlambat," ujar seorang lelaki setengah baya juga seorang wanita disampingnya yang diperkirakan adalah sang istri.

"Ah, silahkan duduk. Kami juga baru sampai," ucap Jongin tersenyum seraya menjabat tangannya.

Jongin selaku perwakilan ayah dan ibunya mengaku senang, setidaknya Baekhyun akan punya mertua yang menyayangi dan peduli dengannya. Sekali lihat Jongin dapat menerkanya dengan baik. Tapi yang membuatnya ketar-ketir adalah calon Baekhyun, apakah mungkin park Chanyeol yang itu?

"Itu mereka!"

Ah, Jongin menyesal. Mungkin keputusannya untuk menyuruh Baekhyun menikah adalah kesalahan fatal.


UNTITLE CHAP 9


Pertemuan keluarga telah dilaksanakan dan pernikahan akan dilaksanakan dalam 1 minggu kedepan. Awalnya Jongin menolak karena itu terlalu cepat tapi begitu Nyonya Park mengatakan jika mereka telah menyiapkannya terlebih dahulu, Jongin terdiam. Tak tahu harus mengatakan apalagi untuk membantahnya.

Dan hari minggu pagi ini, upacara pernikahan dilaksanakan. Baekhyun meremas tangannya gugup, Hyeri menatapnya sendu. Ia masih tak rela jika Baekhyun jadi kakak iparnya.

"Semoga bahagia, Baekhyun, bertahanlah Chanyeol oppa adalah orang yang cukup rewel," ucapnya pelan, Baekhyun menoleh. Tangannya segera memeluk Hyeri pelan, ini adalah adik iparnya.

"Akan aku usahakan,"

"Mana bisa begitu, ini adalah pernikahan sekali seumur hidupmu. Kau harus bahagia."

Sekali seumur hidup.

"Aku tidak rela kau menikah dengan manusia macam Park Chanyeol," sambungnya lagi. "sekali lagi, semoga kau bahagia, kakak ipar."

Hyeri telah pergi, disusul dengan Jongdae dan juga Xiumin. Kedua orang itu datang dengan sebuah box yang ukurannya lumayan besar, Baekhyun tidak dapat menebak apa isi didalamnya. Menenangkannya dan mengatakan banyak hal positif yang malah membuat takut.

"Setidaknya kau dapat pria kaya, Baekhyun."

"Dan bonusnya adalah wajah yang tampan bak dewa Yunani itu. Jika boleh aku mau bertukar denganmu, tapi sayang aku tidak bisa. Jadi bersenang-senanglah."

Sebuah pelukan dan Xiumin membuat Baekhyun makin lemas saja. Rasa ingin kaburnya mendadak muncul namun dengan segera ia menepis pikiran buruk itu.

"Ayo, upacara pernikahan akan dimulai!" ucap seorang lelaki yang diketahui sebagai calon sepupu Baekhyun itu membuka pintu, membuat ketiganya menoleh.

Ketika Baekhyun keluar, telah banyak kursi terisi, bahkan nyaris penuh. Ada beberapa teman-teman dekatnya juga paman juga bibinya dan banyak orang yang tak Baekhyun kenal, mungkin teman Chanyeol atau kerabatnya

Disini Baekhyun berdiri dengan gugup, berulang kali menarik napas dan menghembuskan dengan harapan akan membuatnya sedikit tenang. Jongin hyung ada di sampingnya, menggandeng tangannya dengan berwibawa menggantikan sang ayah. Sedang seseorang yang Baekhyun yakini adalah Chanyeol sedang berdiri membelakanginya dengan sebuah tuxedo hitam yang membalut tubuhnya erat. Baekhyun sendiri mengenakan tuxedo putih dan sebuah flower crown yang membuatnya banyak kali mengumpat karena merasa terhina. Namun diterimanya pasrah ketika sang mertua datang dan kembali memasangkan dengan apik dikepalanya.

"Kau siap?"

"Hm," jawab Baekhyun pelan, mereka mulai berjalan pelan diatas karpet merah yang halus, membuat sorakan dari sisi kanan kiri yang membuat Baekhyun makin mengecil saja. Gereja ini dihias dengan banyak kelambu juga bunga mawar putih. Altarnya terlihat mewah karena dihiasi dengan banyak mawar, seorang Pastur berdiri di sana menanti Baekhyun dan Chanyeol bersama.

"Hyung, kenapa kau ingin aku segera menikah? Selain karena warisan itu."

Jongin terdiam sejenak, "Aku hanya ingin kau bahagia. Aku tidak yakin bisa menjagamu dengan baik."

Baekhyun menunduk, meremat jemarinya gugup, "tapi aku masih belum siap menikah."

"Tapi sekarang kau menikah, Byun. Sebagai kakakmu aku hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaanmu apapun yang terjadi kedepannya."


Bersambung –


Note Chapter 9 :

Aku tahu cerita ini kurang menarik, tapi terima kasih yang sudah menyempatkan membacanya dari awal hingga di chapter ini sekaligus meninggalkan review yang membuatku semangat, aku ingat nama-namanya loh :) . Aku suka baca review kalian, sangat. Silahkan tinggalkan review atau feedback lainnya yang bersifat membangun ya. Agak sedih karena viewnya banyak tapi feedbacknya kurang.

Terimakasih. Aku akan selalu ucapin ini, jadi jangan bosen ya ...