Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma punya plotnya.
Warning : OOC, bahasa tidak baku, setting AU, typo, mengandung umpatan kasar, dan sebagainya
.
.
.
.
.
daifukuwmochi presents:
Trapped with the Ex : Bad Luck or Good Luck?
Chapter 10 : Mendaki Gunung
A Sasusaku Fanfiction
.
.
.
.
.
Tak terasa KKN hampir usai. Anggota kelompok KKN Desa Oto Uwuu berencana mendaki gunung yang terletak di Desa Oto. Sebagai perayaan selesainya KKN, begitu kata Tenten. Semua anggota menyetujuinya dan tak sabar menunggu hari itu.
"Gimana, Sak? Kau ikut, kan?" tanya gadis bercepol dua itu.
Sakura berpikir sementara teman-teman yang lain memandanginya. "Hm ... gimana ya."
"Ayolah, ikut ya? Masa mau ditinggal sendirian sih. Nggak asik nanti!" bujuk Ino.
Sakura menghela nafas. "Oke deh," sahutnya.
Ino dan Tenten berteriak kegirangan. "Oke, rencananya kita mau kesana bareng karang taruna desa sini. Kan nggak mungkin kalau kita naik sendirian, nggak tau rutenya juga. Jadi, nanti malam mereka mau datang kesini untuk membahas apa saja yang dibutuhkan saat mendaki besok. Jangan lupa, ya!"
Malamnya, mereka dan para anggota karang taruna berkumpul di posko. Diputuskan bahwa lusa mereka akan mendaki gunung dan anggota karang taruna yang akan menyiapkan peralatan yang diperlukan.
Hari pendakian pun tiba. Mereka berangkat pukul delapan malam, agar esok dapat menjumpai sunrise seperti kata Suigetsu, salah satu anggota karang taruna. Seperti biasa, mereka berpamitan terlebih dahulu pada Pak Kakashi dan Bu Rin.
"Hati-hati, ya. Saling menjaga, oke?" pesan Pak Kakashi.
Mereka menuju lokasi dengan berjejalan menaiki pick-up. Sudah kendaraannya kecil, banyak barang, banyak orang pula. Sempit. Tak berapa lama sampailah mereka di pos pemberangkatan. Setelah mengurus registrasi, mereka pun mulai mendaki gunung itu.
"Oke, jadi sebelum mendaki alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa dimulai," ucap Suigetsu.
Mereka pun mulai memasuki area pendakian. Beberapa meter awal jalan yang mereka lalui landai layaknya jalan biasa. Beberapa meter kemudian medan berganti menjadi bebatuan miring yang dibentuk seperti anak tangga. Gunung itu memang tidak terlalu tinggi, ketinggiannya hanya sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, namun karena hari ini Sakura merasa agak tak enak badan, tubuhnya pun lemas. Ia jatuh terduduk di salah satu anak tangga dan terbatuk-batuk. Perutnya terasa sangat mual. Ia merasa tak kuat lagi melanjutkan perjalanan ini.
"Mbak Sakura, kenapa? Minum dulu," perintah salah seorang anggota karang taruna.
Sakura pun mengambil botol air yang dibawanya dan meminumnya.
"Mbak Sakura mau lanjut? Apa mau turun saja?"
Sakura yang merasa pandangannya berkunang-kunang memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan. "Mau turun saja." Ia mencoba berdiri tetapi tubuhnya sangat lemas sehingga ia pun terduduk kembali seperti posisi semula.
"Biar kugendong saja," kata Sasuke yang berjongkok membelakangi Sakura. "Ayo, naik."
Sasuke pun menggendong Sakura kembali menuju pos pemberangkatan ditemani salah satu pemuda karang taruna yang membawakan ransel keduanya. Sasuke mendudukkan gadis itu di atas tikar di dalam pos pemberangkatan. Ia keluar membeli secangkir air hangat lalu mengulurkannya pada gadis itu. "Minum," perintahnya.
Sakura menurut. Ia menyesap air hangat itu perlahan. Sasuke mengamatinya dalam diam.
"Mau makan apa? Roti? Ramen instan?" tawar Sasuke.
Sakura menggeleng. "Nggak, nanti saja. Kau ... nggak kembali lagi ke atas?"
Lelaki itu membaringkan dirinya di samping gadis merah muda itu. "Nggak. Aku mau menemanimu," ujarnya.
"Kenapa?"
"Kok kenapa?"
"Ya ... kan udah jauh-jauh kesini. Percuma dong kalau nggak naik."
"Dan meninggalkanmu sendirian disini, begitu?"
Sakura tercengang dengan jawaban Sasuke yang tak terduga itu. Dulu lelaki itu tak seperti ini. Kalau sudah punya tujuan ya tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai.
"Kau ... berubah ya. Nggak kayak dulu lagi," ujar Sakura akhirnya.
Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Sakura. "Wajar manusia mengalami perubahan," ucapnya.
Emerald dan onyx saling memandangi satu sama lain. Kontak mata itu terputus saat Sakura mengalihkan pandangannya ke samping. Gadis itu kikuk. Rona kemerahan menjalari kedua pipinya.
"Sakura?"
"Hm?"
"Maafkan aku. Karena ... yang dulu itu."
Sakura memahami maksud perkataan Sasuke. Lelaki itu meminta maaf atas sikapnya beberapa tahun lalu saat masih memadu kasih dengannya.
"Nggak papa. Udah lama juga, kok."
"Apa kau ... kita ... kembali ... seperti dulu lagi," gumam Sasuke tak jelas namun gadis itu memahami maksudnya. Lelaki itu sedang memintanya untuk kembali ke pelukannya.
"Sas, kau tahu kan kalau aku baru saja putus dengan Gaara?"
Sasuke agak berjengit mendengar nama lelaki berambut merah itu. Ia mengangguk pelan.
"Aku ... sedang tak ingin menjalani hubungan dengan lelaki saat ini. Aku butuh waktu."
"Aku akan menunggumu hingga kau siap."
Sakura menatap Sasuke. "Kalau saat itu aku sudah menemukan lelaki lain yang kucintai, gimana?"
"Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku."
Keduanya kembali bertatapan sesaat. Gadis itu tertawa geli. "Kepedean sekali kau ini. Yakin sekali kalau aku mau jatuh cinta lagi padamu."
Sasuke tersenyum tipis. "Tak perlu khawatir, kau pasti akan jatuh cinta lagi padaku."
.
.
.
.
.
To be Continued
