Author's note: Tumben ya chapternya update agak lama? Oke, biarkan Penulis menyampaikan alasannya. Alasan yang Penulis miliki itu ada dua. Satu adalah mood dan yang kedua adalah ide.

Mood: Penelitian akhir Penulis gagal di tengah-tengah. Terpaksa Penulis harus mengulang dari awal lagi. Mental Penulis benar-benar drop saat itu. Tidak memiliki niat untuk melakukan apapun dimanapun. Rasanya semua harapan hilang. Ingin cepat tamat, namun ada hambatan. Dan ini berlangsung lama, para pembaca. Sekarang memang Penulis sedang di awal penelitian yang mengulang ini. Meski merasa was-was takut mengulang lagi, Penulis akan melakukannya sebaik mungkin.

Ide: Awalnya Penulis sudah mengetik lebih dari setengah di chapter ini, namun Penulis hapus semua. Karena alur ceritanya terlalu datar. Penulis saja merasa tak suka dengan ide ini. Makanya Penulis ubah total. Itupun entah jadi lebih menarik atau tidak, semua tergantung pembaca.

Anyway, tak bosan-bosannya Penulis mengucapkan kepada seluruh pembaca yang menyempatkan hadir disini, atau yang mau menunggu, ataupun juga yang mau meninggalkan komentar. Mungkin bisa dikatakan karena kalian semualah semangat Penulis masih ada. Karena itu, semoga menyukai chapter ini. Tinggalkan komentar, ya.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

BENANG TAK TERLIHAT

Halaman Sepuluh: Tambatan Hati Masa Lalu

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

BENANG TAK TERLIHAT

HALAMAN SEPULUH

TAMBATAN HATI MASA LALU

By Josephine Rose99

.

.

.

Malam yang hening. Tidak, justru terlalu hening.

Tak ada satupun dari ketiga gadis yang berminat menonton TV di malam ini sehingga mengalihkan diri dengan membaca majalah. Ah, tentu saja ini berlaku untuk dua tamu undangan—tepatnya sih dipaksa datang—seperti Ymir dan Hitch. Lalu satu lagi? Leonhart muda ternyata sedang asyik menenggelamkan diri dalam buku jurnal penelitian Armin yang telah dipublikasikan. Hanya satu alasan mengapa dia mau membaca buku yang isinya pasti akan membuat Hitch tertidur dalam tiga detik. Gadis itu ingin tahu apa yang telah ditemukan calon suaminya sampai mendapat julukan 'Ilmuwan Terjenius Sepanjang Sejarah'. Namun inti masalah bukan disitu. Lalu?

Meski Annie mencoba berkutat pada buku jurnal milik Armin, matanya sesekali melirik ponsel yang ada di depannya. Tepatnya di atas sebuah meja kaca kecil di ruang tamu. Bisa dikatakan, mungkin sebenarnya dia lebih berkonsentrasi pada ponsel dibanding buku. Tentu saja Ymir dan Hitch menyadarinya. Majalah fashion bulanan itu tak dapat mengundang selera mereka untuk terus membaca.

"Hei, Ymir." panggil Hitch.

"Apa?" balas Ymir jutek.

"Tebak apa yang sedang terjadi pada nona Kolonel yang berada di depan mataku ini."

Ymir menutup majalahnya, kemudian melirik Annie yang juga sedang menatapnya bingung, "...Maksudmu merasa kesepian karena ditinggal tak sampai 24 jam oleh sang suami?" benar-benar tebakan tepat. Ymir bisa melihat perubahan ekspresi Annie yang datar menjadi sedikit kikuk, "Sepertinya tebakanku benar, ya?" begini katanya lagi yang mengundang Annie untuk buru-buru membalas.

"A-apa yang—ck, dengar, aku—"

"Ya ya ya, kau bisa menghilangkan tomat di wajahmu dulu baru menjelaskan, Annie."

"Tomat? Tomat apa?!"

"Astaga. Apa kau tak tahu maksudku? Padahal kau sendiri jelas-jelas merasakan panas di wajahmu."

Skakmat.

Rona merah di pipinya semakin menjalar. Dan sebelum dia jadi bahan ledekan lagi, Annie menutup wajahnya dengan buku. Ya, dia pura-pura membaca. Namun gagal karena Hitch juga ikut memanasi.

"Kalau kau memang rindu, kenapa tak ditelpon saja?" ucap Hitch dengan nada ledek.

Annie berdeham kecil sebentar. Masih terus pura-pura membaca walau tak ada satupun yang dia mengerti dari buku itu, "Kata Armin, dia akan segera menelponku setelah sampai disana."

Telinga Ymir seolah bisa mendengar suara 'klik' begitu menyadari bahwa secara tak langsung, Annie mengakui dirinya sedang diserang angin rindu, "Ooooh, jadi itu kenapa kau terus melihat ponselmu dari tadi? Tak sabar menunggu kabar dari Romeo?" senyum iblis Ymir muncul lagi, saudara-saudara. Terutama melihat reaksi Annie yang memerah (lagi) dan melengos ke arah lain, "Kuanggap rona di pipimu sebagai iya."

Insting cinta Hitch terpanggil. Tak menyia-nyiakan kesempatan, dia juga ikut menutup majalahnya untuk segera bergabung. Benar-benar langka menyaksikan sang teman dekat yang anti romance itu jadi berubah begini dalam waktu singkat.

Sambil menaik-turunkan alisnya, Hitch meledek Annie lagi dengan suara yang akan mengundang semua orang untuk menaboknya, "Katamu kau takkan jatuh cinta padanya~,"

Annie terpojok!

Benar-benar sial. Inilah kenapa dia mengajukan protes pada Ibunya karena menyuruh duo dedemit ini tinggal disini sampai Armin pulang. Oke, sekarang bagaimana? Menipu mereka pun percuma karena faktanya itu benar!

Annie jatuh cinta!

"Ha-hah!? Siapa bilang aku—"

"Akui," Hitch menunjuk Annie supaya mengaku.

"Aku sudah katakan—"

"Akui, Annie," Hitch menekan kata-katanya lagi. Dan berhasil. Annie langsung terdiam. Dia meneguk ludah canggung.

Sinyal diberikan! Ini saatnya Ymir juga ikut ambil bagian.

"Ayolah, kau itu sudah 29 tahun! Kau bukan bocah SMP yang malu-malu mengakui perasaannya!" Ymir menggunakan alasan paling logis. Alasan yang sering dia gunakan untuk menyatukan dua sejoli di sekitarnya. Maklum saja, dia ahli kalau soal begini. Tapi kalau kalian menyuruhnya menyelesaikan kalkulus, dia pasti angkat tangan tanda menyerah dari awal.

Annie kehilangan kata-kata. Dia tak bisa konsentrasi lagi pada buku jurnal. Perubahan ekspresinya begitu terlihat. Sangat lembut juga sendu. Perkataan Ymir terus berputar berulang-ulang di pikirannya. Terlintas wajah Armin yang tersenyum ramah padanya. Senyum yang selalu dia tunjukkan setiap hari. Senyum yang dia rindukan. Padahal belum sehari ditinggalkan, namun dia sudah merasa rumah ini kosong tanpanya.

Melihat Annie terdiam cukup lama, Ymir serta Hitch saling bertukar pandangan kemudian melirik Annie kembali. Sungguh, sebenarnya apa yang terjadi selama ini? Belum pernah dalam seumur hidup mereka melihat Annie merona beberapa kali. Salah, setiap hari! Setiap nama Armin disebut! Seolah nama itu resmi menjadi mantera baru untuk memancing sisi romantis dalam diri Annie.

"Jadi?" tanya Ymir memastikan. Wajahnya serius sekali layaknya menonton drama cinta konyol kesukaannya.

Tak ada jalan untuk kembali. Ymir benar. Annie tahu itu. Dia nyaris kepala tiga, tapi masih malu mengakui perasaannya? Jadi pangkat Kolonel itu hanya sekadar pangkat? Mau ditaruh mana harga dirinya? Dia berani menghadapi ribuan musuh, namun masih malu menghadapi perasaannya sendiri?

Selain itu, tak masalah, bukan? Kedua dedemit betina ini teman dekatnya. Tak salah jika mengungkapkan perasaannya pada Armin di depan mereka, 'kan?

"...Ka-kalau aku...," ya ampun, Annie tambah malu sekarang. Seperti berkeringat dingin. Jantung berdebar-debar dan dia sangat yakin kalau kulit putih pucatnya itu sudah berubah jadi merah persis bunglon, "...Kalau aku memang jatuh cinta padanya... memangnya ke-kenapa?"

Sebuah pengakuan!

SEBUAH PENGAKUAN! Hal yang sudah ditunggu-tunggu!

Tanpa komando, Ymir dan Hitch tampak begitu sumringah. Wajah mereka berseri-seri! Kedua mata membulat dan mulut menganga. Karena itu, majalah fashion, maafkan mereka. Maafkan mereka yang melemparmu ke sembarang arah karena menemukan topik yang lebih menarik untuk dibahas.

"AWWWWWWWWW~~~!" yup, sesuai dugaan. Kedua gadis ini berhasil memancing emosi Annie naik ke ubun-ubun.

"BERISIK! TUTUP MULUT KALIAN!" Annie membentak sangar meski digubris mentah-mentah.

"Aku harus memberitahu semua rekanmu di batalion kalau pemimpin mereka telah jatuh ke jurang yang disebut cinta~~!" bukan ide buruk, Hitch. Tidak, dia pasti juga akan melakukan ini. Biang gosip sepertinya tak mungkin ketinggalan menyebarkan berita-berita panas. Apalagi ini tentang Annie. Seorang wanita yang luar biasa dingin pada lawan jenis. Dia yakin rekan-rekan tentaranya akan kena serangan jantung jika tahu seorang Annie bisa jatuh cinta.

"Aku akan membunuhmu jika itu benar-benar kau lakukan, Hitch!"

"Oh, dan ini semua akan semakin menarik jika kita mengundang orang-orang terdekat untuk merayakan hari pertama Annie resmi menjadi wanita tulen!" sebuah saran yang mengundang kesalahpahaman dari pihak lainnya dari Ymir.

Annie langsung memberi lirikan membunuh, "Apa aku terlihat seperti pria bagimu, jerawat sialan?"

"Memang, 'kan?" benar-benar tak kenal takut. Ymir bisa-bisanya menjawab santai ala liburan di pantai.

Uh-oh. Setan telah dipanggil. Mari berdo'a semoga nyawa Ymir masih selamat.

Annie meletakkan majalahnya di meja. Kemudian melangkah mendekati Ymir dan berdiri tegak di depannya, "Katakan sekali lagi,"

Ymir menatapnya malas, lalu menunjuk wajah Annie, "Kau 'kan barbar,"

Benar-benar cari mati, saudara-saudara. Hitch saja sudah buru-buru kabur dari sofa dan tiarap. Berlebihan sekali.

"Ada banyak wanita diluar sana yang juga barbar,"

"Ya, tapi tak sebarbar dirimu,"

Wah, wah. Big mistake, girl.

PLETAKKK!

Ouch. Jitakan sakti Annie sukses membuat Ymir terlungkup pasrah di lantai dengan kepala benjol dan berasap. Hitch hanya bisa sweatdrop melihat kejujuran Ymir yang mengundang maut. Sayang sekali dia tak memakai pelindung kepala, meski sudah berjaga-jaga dari jauh hari.

Tertatih-tatih Ymir bangkit dari kubur(?). Sambil mengusap-usap kepalanya yang resmi menjadi kue tingkat, dia melirik Annie dengan jengkel, "Kau tahu, Annie? Kurasa aku harus menyarankan Armin untuk membuat peti mati untuk berjaga-jaga jika kau melakukan ini juga padanya!"

Situasi memburuk. Annie justru mengangkat tinjunya lagi, siap menabok kepala Ymir! Sebuah tanda bahaya! Seketika Hitch langsung melompat ke depan Ymir sambil merentangkan kedua tangan, sementara Ymir meringkuk ketakutan di belakangnya.

"Hei, tenang dulu, kawan. Ini topik yang biasa dibicarakan oleh para wanita. Kau tahu istilahnya, 'kan? Malam gadis! Malam gadis!" ujarnya berkeringat dingin. Ya, wajar saja, 'kan? Dia takut kalau tabokan Annie justru mendarat di wajahnya. Kalau memang itu akan terjadi, dengan senang hati dia menyingkir dari sana. Benar-benar teman pengkhianat.

Tapi itu berhasil. Annie menurunkan tangannya yang membuat mereka berdua menghembuskan napas lega. Si Kolonel termuda itu terdiam sebentar, mencoba menurunkan niat membunuhnya. Tak lama, dia kembali duduk. Menyilangkan dada dan mendengus kasar. Maka, perlahan Hitch juga ikut menurunkan tangannya, merasa aman sekarang. Disisi lain, Ymir sudah berteriak senang dalam hati berkat kini kepalanya tak berubah dari kue tingkat dua jadi tingkat tiga.

Annie tampaknya sudah cukup tenang. Maka Hitch pun segera duduk disampingnya sambil menyeret Ymir yang masih komat-kamit mengucap do'a syukur. Mereka berdua duduk di samping kanan Annie. Meliriknya penuh penasaran sekaligus takut. Ya, karena mereka tidak memakai pelindung kepala sekarang. Siapa juga yang mau dikirim ke rumah sakit malam ini akibat gegar otak?

"Lalu? Bagian mana dari dirinya yang membuatmu jatuh cinta padanya? Ah, kurasa itu sikap perhatiannya padamu, ya?" bagus, Hitch. Basa-basi yang bagus untuk melanjutkan misi pengintaian terhadap perjodohan insting ini.

"Ya ampun, kau benar-benar serius menanyakan ini, Hitch?" ujar Annie malas.

"Sudah, jawab saja. Bagaimana?"

Hening beberapa detik.

"...Kurasa tidak."

Dahi Hitch berkerut, diikuti tatapan bingung dari Ymir. Padahal mereka yakin bahwa itu alasannya. Namun ternyata salah.

"Hah? Kenapa?" tanya Hitch heran. Kalau bukan itu alasannya, lalu apa?

"Kalau kita bicara soal sikap perhatiannya padaku, Bertolt juga bersikap sama dari dulu, 'kan? Tapi aku hiraukan,"

Oop, sebuah perbandingan. Perbandingan yang tak pernah diduga sebelumnya. Hitch mengangguk paham, namun Ymir beda cerita. Bertolt? Siapa itu? Dia tak pernah mendengar nama itu, tapi nama itu diungkit di malam gadis ini. Atas dasar penasaran, dia melongok dari balik Hitch. Bertanya langsung pada orang yang membawa nama pria itu.

"Siapa itu Bertolt?" tanya Ymir langsung ke inti.

Sebenarnya Annie mau menjawab pertanyaan tersebut, tapi Hitch sudah lebih dulu mengambil alih, "Dia itu teman seangkatan kami. Bertolt Hoover. Dia pemimpin pasukan penyergap saat perang dengan pasukan federasi Timur Tengah di perbatasan Kuwait. Karena prestasinya yang berhasil menahan kepala pasukan pengintai musuh sekaligus menyabotase komunikasi mereka, dia naik pangkat dari Kapten menjadi Mayor. Dia diberi kenaikan pangkat sekaligus penghargaan di hari yang sama dengan pelantikan Annie sebagai Kolonel."

Ymir melongo. Penjelasan panjang lebar itu sudah cukup membuatnya tahu seperti apa pria bernama Bertolt ini.

Ternyata di negara Eldia ada juga manusia semacam Annie. Begitu nekat menantang peluru dan maut. Apalagi pria itu ketua tim penyergap yang berhasil mengubah arah perang menjadi sebuah kemenangan. Walau tak sehebat Annie, pria tersebut pasti disegani di kalangan tentara angkatan darat.

"Wow..." gumam Ymir masih terpukau. Kemudian dia menoleh pada Hitch sambil menunjuk wajah Annie, "Apa dia sudah lama menyukai si manusia tidak peka ini?"

Hitch menghela napas berat, "Hhhh, sudah dari dulu. Mulutku sampai robek satu centimeter dan berbusa karena terlalu sering mengingatkan perempuan ini supaya berhenti menghiraukannya," Ymir hanya ber-hmm mendengar penjelasan Hitch lagi. Siapa sangka Annie ternyata populer di kalangan kaum Adam? Pasti laki-laki itu rabun kalau mau menaruh hati pada wanita barbar sepertinya. Yup, sama seperti Armin.

"Berprestasi dan pemberani seperti dia... kenapa kau tidak mau, Annie?" tanya Ymir lagi. Dia bingung ada apa dengan selera teman dekatnya ini. Kalau Ymir jadi Annie, dia pasti akan langsung mau.

Annie hanya menjawab singkat, "Sederhana. Aku tidak tertarik."

"Apa bedanya dia dari Armin? Malah aku yakin pria penyuka buku-buku berusia ratusan abad itu pasti kalah darinya kalau soal penampilan," sangat logis sekali, Hitch. Namun dia lupa jika orang yang sedang jatuh cinta paling tak suka jika pujaan hatinya dibandingkan, bukan?

Maka dari itu, Annie melempar pandangan membunuh, "Hitch, apa maksudmu berkata begitu?"

"Wow wow wow, tahan dulu, Annie. Kenapa kau menatapku seperti ingin memakanku begitu, hah?"

Hiraukan pandangan menusuk itu pada Hitch. Ymir tak peduli jika tabokan sakti Annie mendarat di wajah Hitch, tapi Ymir memilih maju terus menantang hambatan dengan bertanya lebih jauh, "Jadi intinya pria bernama Bertolt ini seperti apa? Aku ingin tahu."

Si Kolonel mendengus. Masih melipat tangannya, dia menatap lantai rumah sang calon suami. Berpikir untuk menemukan kata yang tepat supaya bisa menggambarkan sifat khas Bertolt.

"Dia cerdas," jawab Annie akhirnya.

"Oh, ya?"

"Ya, dia sangat cerdas menyusun strategi perang. Bahkan dia menjadi salah satu prajurit yang mendapatkan nilai tinggi saat pelatihan dulu—tapi, Armin juga sangat pintar," hah? Kenapa mendadak jadi bawa-bawa Armin? Tak apa. Bukan hanya Penulis yang melongo. Ymir dan Hitch juga, "Kalian 'kan tahu sendiri kalau dia sampai mendapatkan penghargaan Nobel tiga kali. Di usia semuda itu pula! Dia menghabiskan waktunya untuk belajar supaya bisa membantu orang lain. Dia tidak menggunakan ilmunya untuk membuat dirinya bisa di posisi puncak dan memperbudak orang-orang. Aku selalu suka mengobrol dengannya. Meski terkadang dia membicarakan teori-teori yang tak kumengerti, dia menjelaskannya dengan bahasa yang mudah kucerna. Selain itu, dia juga suka mendengarkanku membicarakan segala hal tentang prajurit. Bahkan kami juga sesekali berdebat, tapi itu menyenangkan!"

Ummm... oke, ada yang aneh disini. Hanya suara jangkrik paduan suaralah yang menjadi backsound dari keheningan canggung ini.

Dari melipat tangan, Annie beralih memeluk lengannya. Mendadak tatapannya berubah lembut. Meski tertutup poni, tapi mereka berdua yakin melihat rona tipis di pipinya. Ya, mereka tak tahu jika sekarang Annie mengingat sensasi pelukan Armin ketika di bandara, tidak, bahkan hari-hari sebelumnya juga. Sangat hangat dan nyaman. Dia tak keberatan jika Armin memeluknya lagi setelah kembali. Bahkan mungkin justru Annie sendirilah yang memeluknya.

"...Oke..." gumam Ymir pelan, "Jadi, Bertolt ini cerdas. Apalagi?"

"...Baik."

"Ooohh..."

"Bertolt adalah orang yang baik. Dia benar-benar menghargai pendapat juga kerja keras rekan-rekannya. Ya, bisa dikatakan dia seorang gentleman—tapi bukan berarti Armin tidak!"

Hah?

Armin lagi?

"Aku belum pernah bertemu dengan orang yang begitu lugu sepertinya. Apalagi dia sangat baik dan akrab dengan karyawannya. Kau tahu, mungkin Armin adalah satu-satunya pemimpin perusahaan yang sangat dekat dengan pekerjanya seperti sebuah keluarga. Mungkin terkadang dia bisa menjadi begitu naif, tapi dia melakukan semua itu demi kebaikan orang-orang di sekitarnya. Sampai dia jarang memperhatikan dirinya sendiri. Entah kenapa aku tidak membenci sifatnya yang satu itu..."

Oi, oi, oi. Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi disini? Kedua alis dari duo penggosip berkedut. Mereka menatap Annie bak kaget mendengar bunga utang selama tiga tahun dari rentenir. Ekspresi mereka sulit sekali digambarkan karena saking shocknya melihat perubahan yang tak mungkin akan berubah dari Annie. Dua detik kemudian, mereka pun kembali ke aktivitas ala pengintai yang biasanya.

Bisik-bisik.

"Hoi, Hitch. Aku 'kan hanya bertanya seperti apa Bertolt itu. Tapi kenapa dia malah membandingkannya dengan Armin?"

"Iya, 'kan? Anehnya, justru penjelasannya tentang Armin lebih panjang daripada Bertolt,"

"Ternyata singa betina bermata setan ini benar-benar sudah jatuh, kawan."

"Yup, tidak salah lagi! Maklum, Armin itu cinta pertamanya. Dia tak punya pengalaman dengan hal begini."

"Kenapa kalian bisik-bisik?"

Celetukan Annie barusan sukses membuat bulu kuduk mereka merinding.

Perlahan mereka kembali menoleh padanya. Pada seorang wanita yang sekarang mengeluarkan aura membunuh disertai mata setan khasnya. Takut-takut mereka meneguk ludah. Bahkan Ymir sampai meminum segelas air dulu supaya kerongkongannya lebih greget.

Sungguh... tidak penting.

"Tidak, tidak ada apa-apa! Ehehehe..." beginilah jawab Hitch garuk-garuk kepala kikuk.

Namun bukan berarti Annie langsung percaya. Berapa lama dirinya mengenal dua bigos ini? Apalagi kalau sudah masuk mode bisik-bisik, sudah pasti firasat buruk menyertai. Makanya dia terus melototi kedua gadis tersebut seolah siap memakan mereka. Ini gawat! Pelindung kepala dimana!?

Hanya ada satu cara. Harus ganti topik! Hitch adalah orang yang menyadari itu. Jadi, sang Letnan dua ini pun memegang bahu Annie dengan tangan sedikit gemetar. Yup, meski lututnya sudah bergetar ala kekuatan gempa 9,8 saja.

"Umm, omong-omong, Armin berangkat sekitar jam 10 pagi, 'kan? Ini sudah jam 7 malam. Apa dia masih belum sampai?" bagus sekali, Hitch. Membawa nama Armin kembali adalah satu-satunya cara mengubah mood Annie yang buruk jadi baik. Sangat cerdas!

Tapi, itu berhasil. Aura membunuh Annie mendadak lenyap ditelan bumi. Dia kembali ke posisi duduk santainya sehingga kedua temannya bisa sujud syukur. Dalam hati tentunya, "Tidak, kurasa dia sudah sampai. Armin mengatakan padaku butuh waktu sekitar 8 jam perjalanan dari Eldia ke Ghana dengan pesawat."

"Kalau begitu seharusnya dia sudah sampai sejak sejam lalu. Kenapa dia belum menelponmu juga?" tanya Hitch lagi.

"Mungkin ini karena perbedaan waktu juga. Waktu di Eldia lebih cepat sejam daripada di Ghana. Selain itu, kurasa Armin lelah selama perjalanan. Bisa saja dia sedang beristirahat sejenak,"

Oke, itu memang alasan paling logis dari alasan lainnya. Itulah hal yang biasanya terjadi pada siapapun jika pergi antar negara dalam waktu lama.

Namun ada satu tikus kampret yang malah mengubah suasana damai tersebut menjadi suasana siap bantai satu sama lain.

"Beristirahat bersama Historia," inilah celetukan Ymir dengan ekspresi minta ditabok yang memancing pelototan maut dari Annie dan pelototan Hitch yang seolah mengatakan 'UNTUK APA KAU MEMBAWA HISTORIA, BRENGSEK!? KAU INGIN KITA MATI, HAH!?'. Yup, intinya seperti ini.

Ketika nama wanita tersebut dibawa, tak dipungkiri Annie jadi sedikit sensitif. Jadilah dia saling melotot dengan Ymir melalui bahu Hitch, "Bersama Historia DAN rekan-rekan surveynya," ucapnya penuh penekanan pada Ymir yang sekarang menatapnya malas. Tipikal cari mati.

Tak bisakah Ymir melihat Hitch sudah memanjatkan do'a supaya bahunya tetap selamat apapun yang terjadi selanjutnya? Lagipula kenapa harus bahunya? Dia terus mengucapkan jampi-jampi itu hingga akhirnya terdengar genderang kemenangan. Ah, bukan genderang asli tentunya. Melainkan suara dering tanda panggilan masuk dari ponsel Annie. Mari bertepuk tangan pada Dewi keberuntungan yang telah berhasil menyelamatkan nyawa Hitch dan Ymir kali ini.

Annie pun mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Melirik siapa gerangan yang mencoba menggagalkan rencana pembantaian. Diikuti oleh kedua temannya, mereka bersama-sama mengintip nama si pemanggil.

Banci Pirang.

Dia masih belum mengubah namanya, eh? Dasar. Apa dia tak tahu kalau Armin sendiri sudah mengganti nama kontaknya di ponsel? Ternyata memang dirinyalah yang akan melanggar peraturan pertama kali.

Cengiran setan Ymir muncul juga, para pembaca. Dia kemudian berceletuk, "Oh, lihat. Baru saja dibicarakan,"

"...Armin?" gumam Annie sambil meraih ponselnya. Memeganginya saja.

"Tak kau angkat?" tanya Hitch.

"Tentu saja akan kuangkat," jawabnya sambil berlalu dari ruang tamu. Meninggalkan tanda tanya bagi Ymir serta Hitch. Dia tak mengangkat panggilan itu disamping mereka?

"Hei, kau mau kemana?" Hitch yang tentu saja tak mau ketinggalan topik gosip merasa kecewa.

Annie hanya melambaikan tangannya sambil terus melangkah dan berucap, "Aku ingin bicara dengannya."

...

~invisiblestringchapterten~

...

.

.

Lalu kemanakah Annie pergi? Bukan kamar, melainkan duduk di teras samping rumah. Menatap rembulan yang tersenyum dari balik awan. Dia tak mengaktifkan mode pengeras suara. Hanya ingin telinganya mendengar jelas suara pria yang dirindukan. Hanya untuk dirinya sendiri. Tanpa membuang waktu, Annie pun mengangkat panggilan tersebut. Namun aneh. Menerima panggilan dari Armin saja dapat membuat jantungnya berdebar. Dadanya menghangat.

"Halo?"

"Halo, Annie."

Suara yang begitu lembut. Ini benar-benar suara Armin.

"Armin..." gumamnya menyebut nama pria itu. Pipinya merona lagi. Meski rona tipis.

Annie mengutuk dirinya dalam hati. Ini hanya telepon, tapi kenapa dia bertingkah seperti bocah yang baru pertama kali jatuh cinta? Eh, tapi memang benar, bukan? Armin adalah cinta pertamanya.

Terdengar lagi suara Armin dari seberang, "Maaf, aku baru menelponmu sekarang. Sebenarnya kami sudah tiba disini kira-kira sejak sejam lalu. Tapi kami segera berangkat ke hotel untuk memesan beberapa kamar. Aku baru saja selesai menyusun barang-barangku."

"Apa kalian memesan kamar untuk tiap satu orang?"

"Ya, begitulah. Hanya seorang setiap kamar."

"Kau tidak apa-apa? Tidak jet lag atau semacamnya?"

Perhatian chapter satu. Ceklis.

"Tidak. Aku terbiasa berpergian jauh dulu saat meneliti berbagai spesies tanaman di seluruh dunia. Jadi, ini bukan masalah," andai saja Annie melihat senyum kecil Armin ketika mengatakan ini. Tak dapat dielakkan bahwa Armin senang Annie memperhatikannya, "Oh ya, Annie. Sebentar lagi, aku akan pergi makan malam sekaligus rapat kecil,"

"Ah, apa aku mengganggumu? Aku tidak masalah jika kita mengobrol nan—"

"Tidak, tidak! Bu-bukan itu maksudku! A-aku hanya ingin—umm, i-itu... setelah aku selesai rapat, apa tak masalah kita melakukan... panggilan video?"

"Eh?"

"Aku merasa tidak cukup dengan mendengar suaramu saja. Aku ingin melihat wajahmu..."

BLUSH.

Oke, cukup, Armin. Cukup sampai disini. Sudah berapa kali Annie memerah hari ini hanya disinggungnya namamu? Dan sekarang kau malah mengatakan kata-kata manis seperti itu? Annie benar-benar salah tingkah jadinya. Dia menunduk. Menautkan poninya ke belakang telinga. Beruntung hari ini dia menggerai rambutnya. Kalau tidak, pasti terlihat sekali lehernya sampai memerah segala.

Ingin sekali Annie berteriak bahwa dia tentu saja mau, namun kalau begitu dia sangat OOC sekali. Makanya dia hanya menjawab pelan, "...Tidak masalah bagiku..."

Wah, wah. Percakapan yang luar biasa manis. Sampai gunung es di kutub utara meleleh saking romantisnya. Hingga bulan tersipu malu dan bersembunyi di balik awan (halah). Tapi bicara soal bersembunyi, sang Kolonel tak menyadari keberadaan dua tikus got yang entah sejak kapan meringkuk dari balik tembok. Dipisahkan oleh jarak beberapa meter membuat mereka tak bisa mendengar percakapan dua manusia yang diikat perjodohan insting tersebut.

Ymir yang meringkuk dari belakang Hitch dari tadi asyik bercih-cih ria. Kesal akibat dipunggungi oleh Annie. Singkatnya, dia tak bisa melihat ekspresi sekaligus perkataan Armin dari seberang telepon, "Sial! Kalau begini, kita tak tahu apa yang mereka bicarakan!" begini ucapnya frustasi sambil mendorong-dorong bokong Hitch. Tak sopan.

"Jangan mendorong bokong seksiku, bodoh!" Hitch mengumpat Ymir. Susah payah dia merawat bokongnya supaya jadi daya tarik, perempuan jerawat itu seenaknya main dorong. Memangnya bokong Hitch itu gerobak?

"Kau sebut drum kembar lapuk ini bokong?"

Lupakan mereka dan ketidakjelasan mereka.

Kita kembali ke topik.

.

.

"Ne, Annie..."

"Apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan."

"Soal?"

"...Kenapa kau tak menghajarku saat aku mencium pipimu di bandara?"

Mengheningkan cipta dimulai.

Tolong jangan salahkan Annie yang langsung membeku di tempat, saudara-saudara. Jangan salahkan kenapa tiba-tiba terdengar paduan suara katak beserta jangkrik. Dan tentunya, jangan salahkan kenapa kepala Annie rasanya ingin meledak sekarang.

Apa-apaan itu? Kenapa pula Armin tiba-tiba mengungkit sesuatu yang ingin dilupakan Annie namun gagal total itu?

Belum sempat Annie memikirkan jawaban yang tepat, Armin sudah menambahkan lagi, "Padahal, kalau itu benar-benar Annie, pasti aku sudah mati sebelum berangkat ke Ghana. Tapi kenapa?" sangat cerdas, Armin! Tak sia-sia memiliki IQ tinggi. Annie semakin terpojok. SEMAKIN TERPOJOK!

"I-itu..." berpikir, Annie! Teruslah berpikir! Selamilah lautan alibi untuk menemukan yang paling tepat! Ah, percuma! Tak ketemu! Kalau begini, memang tinggal satu cara. Mengulur pembicaraan, "La-lagipula kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu, hah!? Mesum!" teriaknya benar-benar malu sekarang. Ya, secara dia 'kan seorang Annie Leonhart. Dan itu sangat tidak Annie Leonhart sekali jika tersipu akibat ciuman singkat.

Sayangnya, kata-katanya barusan membuat mata Hitch dan Ymir mendelik, nyaris keluar dari tempatnya. Uh-huh, singkatnya mereka salah paham lagi.

"Mesum?" suara batin mereka, para pembaca. Mengingat pada dasarnya otak mereka diisi oleh hal-hal kotor, jadi ya begitulah.

Kembali ke pembicaraan.

"A-apa salah aku menanyakan pada calon istriku soal itu? Itu wajar, bukan? Lagipula, bisa saja setelah aku pulang, aku akan melakukannya lagi!" Annie bisa mendengar suara gelagapan Armin. Menilik dari sifatnya, dia yakin kondisi Armin sama sepertinya. Sama-sama tomat.

Tapi apa maksudnya 'melakukan lagi'? Bisakah dia berhenti membuat Annie gugup? Tangan Annie menjadi gemetar. Jantungnya bahkan sudah maraton kemana-mana, "Ha-hah!? Me-melakukannya lagi, katamu!?" Annie menaikkan sedikit nadanya.

Walhasil itu juga didengar oleh dua tikus. Lalu bagaimana reaksi mereka? pertanyaan bagus. Hitch dan Ymir terkesiap—oh, itu sudah pasti. Raut wajah mereka luar biasa horor sekarang. Telah yakin bahwa kesalahpahaman selama ini bukanlah kesalahpahaman biasa.

Hitch benar-benar nyaris pingsan. Dia menutup mulut dengan tangannya seolah menolak kenyataan, "MELAKUKAN LAGIIIIIII!?" kemudian dia langsung menoleh cepat pada Ymir. Memberikan pelototan terbaiknya.

"Tunggu tunggu tunggu! Berarti... penyebab kenapa kami tak menemukan satupun pengaman di rumah ini... Penyebabnya... Ja-jangan-jangan-!?" yup, mereka memang mencari benda tak masuk akal itu di seisi rumah Armin, namun nihil. Dan sekarang tampaknya Ymir tahu apa alasannya. Dia juga ikut menatap Hitch tak percaya.

"MEMANG TIDAK DIPAKAAAAAAAAAAIII!"

Bukan, bego. Tidak, salah, itu memang benar. Memang tidak dipakai karena mereka tidak sejauh itu. Hhhh... beginilah jika kangkung diberi nyawa(?). Salah paham tiada henti.

BRUUUSSHH!

Sesuai dugaan, hidung Hitch menyemburkan literan darah segar hingga kemudian dia ambruk. Ambruk dalam posisi terlentang dan darah mimisannya masih menghiasi hidung serta bibirnya. Tubuhnya mendadak kejang-kejang persis Nenek-Nenek usia lanjut yang terkena serangan stroke. Benar-benar anak ini. Selalu saja bersikap berlebihan.

"HITCH!" teriak dalam mode bisik-bisik(?) dilancarkan Ymir. Ya, siapa juga yang tak kaget melihat seseorang disampingmu berlumuran darah? Walhasil, gadis ini berjongkok disamping Hitch sambil memegangi bahunya.

Perlahan Hitch mengangkat tangannya ke atas, masuk mode melankolis plus dramatis. Keringat dingin bercucuran dari dahinya supaya menambah kesan akting yang dia lakukan, "Se-selamat tinggal... masa mudaku..."

"Bertahanlah! Misi menguping kita belum selesai!"

"Aku kalah darinya, Ymir... Aku yang punya banyak teman laki-laki daripadanya... bisa dikalahkan dalam waktu beberapa bulan... Uhuk!" Hitch lagi-lagi batuk darah untuk memaksimalkan kesan dari adegan ini.

Hei, dia baik-baik saja, 'kan? Belum mati, 'kan? Maksudnya, perempuan berpangkat Letnan Dua itu sudah mengalami beberapa gejala sebelum dipanggil ajal.

Untungnya pemikiran Penulis sama dengan Ymir. Gadis ini mencolek-colek pipi Hitch supaya—demi apapun! Masa' dia harus mati karena hal seperti ini? "Oi, kau masih bernapas, Hitch?"

"Pingsan dulu," beginilah ucap Hitch sebelum kemudian pingsan sungguhan.

Dilarang sweatdrop.

Sekarang bagaimana, Ymir? Kau tak mungkin membiarkan mayat(?) Hitch tergeletak pasrah disana, bukan? Bagaimana jika ketahuan Annie?

"Cih! Merepotkan saja!" batin Ymir frustasi tingkat Dewa. Kehabisan ide, terpaksa gadis jerawat ini mengangkat kedua kaki Hitch, lalu menyeretnya dengan sangat tidak elit dari sana. Ck ck ck ck. Layaknya seorang pelaku pembunuhan demi menutupi tindak kejahatan.

Baiklah, hiraukan mereka karena misi menguping harus ditunda saat ini. Mari kita alihkan perhatian kita pada duo A yang masih bercengkerama—ehem—mesra.


.

.


Topik belum berganti sampai detik ini. Armin masih terus menjadi pria penuntut jawaban. Jangan salahkan dia. Dia pikir tindakan dia sebelumnya akan mengantarnya ke rumah sakit, namun justru sebaliknya. Gadis yang dia cintai bersikap seolah tak masalah dengan itu. Hanya diam menatapnya serta menikmati apapun yang dia lakukan padanya. Tentu itu meninggalkan sebuah tanda tanya besar bagi sang ilmuwan.

Satu alasan melintas di pikirannya. Satu alasan yang paling tepat untuk menjelaskan semua itu.

Apa mungkin Annie juga mencintainya? Seperti itulah.

"Su-sudahlah. Jawab saja. A-aku hanya ingin tahu apa alasannya. Jadi?"

"I-itu karena—"

"Karena apa?"

"Ka-karena..." oh, ayolah, Armin! Tak mungkin dia mengatakan terus terang bahwa dia suka kau menciumnya, 'kan? Tolong pekalah! Annie belum memiliki cukup keberanian untuk itu, "Argh, itu tidak penting! Jangan membahas itu lagi!"

Dia mengelak. Tentu Armin tak puas, "Ta-tapi—"

"Kalau kau membahasnya lagi, aku akan menghajarmu begitu kau kembali," yup. Lagi-lagi Annie mengandalkan ancaman maut yang biasa dia gunakan. Sangat sukses membuat Armin terdiam seribu bahasa. Pasti bocah itu merinding ketakutan di ujung dunia sana. Ck ck ck ck.

Sayang sekali, Armin. Annie ternyata belum selesai sampai disana.

"Ka-Kalau kau sudah pulang... aku akan katakan alasannya..." ucapnya pelan. Sangat pelan hingga bisa dikatakan itu sebagai nada berbisik. Meskipun begitu, telinga Armin mampu menangkap suara berfrekuensi rendah tersebut.

Benar-benar disayangkan.

Andai Annie bisa melihat wajah memerahnya.

Andai Annie bisa melihat senyum lebar yang terkesan bodoh miliknya.

Andai Annie bisa mendengar degup jantung Armin yang terus berdetak tak menentu.

Namun malam ini, sang Kolonel sudah merasa cukup begitu mendengar suara tawa kecil dari sang ilmuwan muda. Suara tawa manis yang paling dia rindukan. Bibir Annie menipis. Dia tersenyum. Dia yang hampir tak pernah tersenyum benar-benar dibuat berubah oleh pria itu. Dalam sehari, berapa kali dia melakukannya hanya karena mengingatnya? Apalagi sebelum mereka menutup telepon, kedua alis Annie terangkat ketika mendengar gumaman Armin dari seberang.

Sebuah fakta yang Annie juga rasakan.

"...Aku merindukanmu, Annie..."

...

~invisiblestringchapterten~

...

.

.

Pukul 08.07 P.M

Kempinski Hotel Gold Coast. Kota Accra, Ghana.

.

"Armin!" seorang wanita berambut pirang panjang dan bertubuh mungil berlari kecil mendekati Armin yang baru keluar dari ruang rapat. Mendengar namanya dipanggil, Armin menghentikan langkah kemudian berbalik.

Alisnya terangkat saat mengetahui identitas si pemanggil, "Historia..." gumamnya pelan.

Tak memedulikan para ilmuwan lainnya sedang berlalu lalang di sekitar mereka, Historia berdiri di samping Armin. Melempar senyum manis yang tentu saja akan membuat ribuan pria jatuh pingsan, bahkan Ymir sekalipun. Meski ini tak berlaku bagi Armin. Baginya ada seseorang yang punya senyum lebih manis dari Historia, "Hei, bagaimana kalau kita minum-minum sebentar? Di samping hotel ini ada bar. Tadi aku menanyakan itu pada pelayan hotel."

"Minum-minum? Alkohol, maksudmu?"

"Ya! Sudah lama kita tidak minum bir atau cocktail! Ayo!"

Bar, huh?

Tiba-tiba Armin jadi teringat pada kejadian beberapa minggu lalu di rumahnya. Sebuah kejadian yang mengubah pandangannya terhadap minuman beralkohol.

.


FLASHBACK


.

Berkutat pada puluhan dokumen, puluhan cairan kimia, dan puluhan masalah tentu bukanlah hal baik. Armin sekalipun juga takkan sanggup. Karena itulah, terkadang dia menyiapkan sebotol bir di meja kerjanya supaya bisa menghalau semua rasa lelah. Tapi tampaknya ketenangannya minum bir harus terganggu berkat Annie yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya, dan kemudian merebut botol bir itu dari tangannya.

Armin langsung mengajukan protes dengan mode minta dikasihani, "Ah, Annie! Itu jatah bir bulananku!"

Tak mempan sama sekali. Annie justru menatapnya datar dan berkata, "Aku menambah satu peraturan lagi. Dilarang minum minuman beralkohol di rumah ini."

"Aku hanya minum sedikit. Sungguh!"

"Kau sebut dirimu ilmuwan? Aku tak tahu kau punya hobi meminum air konyol yang akan merusak tubuhmu itu. Kau hanya boleh minum teh atau semacamnya. Kalau ingin minum kopi, jangan terlalu banyak. Kafein,"

"HEEEEE!?"

"Bukan 'He'. Aku tak mau tahu, Armin. Aku akan marah jika kau minum ini lagi. Kau mengerti?"

"Kenapa kau melakukan hal setega ini padaku, Annie?"

"Kenapa? Kenapa, katamu?" ucapnya sambil mengambil gelas dari meja kerja Armin. Dia berlalu dari sana, meninggalkan Armin yang sedang menatap punggungnya. Tapi ketika di ambang pintu, Annie berhenti melangkah. Dan sebelum Armin bertanya lagi, Annie melanjutkan kata-katanya.

"...Aku calon istrimu, 'kan? Apa salah jika aku... peduli padamu?"

.


FLASHBACK'S END


.

Ck, dasar pria ini. Disaat seperti ini bisa-bisanya dia melakukan kilas balik dengan sang Juliet. Seketika ekspresi lembutnya berubah jadi terlihat bodoh. Membayangkan wajah Annie yang tersenyum luar biasa manis padanya—yah, sudah pasti ini tidak sesuai realita. Ternyata memang seperti yang dikatakan orang-orang. Di depan cinta, orang jenius pun bisa jadi bodoh. Lima detik kemudian, Armin bangun dari alam bawah sadar. Dia menggelengkan kepala kuat-kuat, mengenyahkan pikiran kotornya. Tingkah gilanya ini membuat alis Historia bertaut. Apakah Armin terlalu banyak berpikir sehingga jadi tidak waras atau memang dia biasanya begini?

"Baiklah, tak masalah. Tapi aku tak minum bir. Aku pesan jus saja nanti," begini jawabnya setelah kembali normal.

"Tumben sekali. Aku tahu kau bukan peminum berat, tapi bukankah biasanya kau akan memesan bir atau Rum atau Vodka?"

"Ada seseorang yang akan marah jika aku minum alkohol."

"Seseorang? Siapa?"

"Ah, i-itu... umm..."

Klik!

Sepertinya Historia sudah tahu jawabannya! Jawaban dari penyebab kegugupan Armin.

"Ha! Aku tahu! Pasti Annie, 'kan?" teriaknya penuh yakin. Armin spontan melongo.

Tunggu dulu! Tahu dari mana? Apa mungkin cuma kebetulan?

Tidak. Pasti ada seseorang yang memberitahunya. Memberitahunya soal perjodohan mereka. Tapi, siapa? Eit, kita sedang membicarakan Historia, 'kan? Kalau bicara soal gadis ini, berarti hanya orang itu yang menjadi satu-satunya pelaku.

"Ka-kau tahu dari mana?!"

"Hahahaha! Ymir memberitahuku kalau kau dan Annie dijodohkan! Bahkan dia bilang kalian tinggal serumah!"

Hm hm. Benar, 'kan? Mulut ember gadis jerawat itu adalah mulut pembohong yang paling bisa dipercaya(?) di dunia ini. Sebenarnya itu sudah jelas. Tak mungkin dia tidak memberitahu Historia yang dia sudah anggap sebagai saudara ini?

"PEREMPUAN JERAWAT ITUUUUUU!" Armin mengirim sumpah serapah pada gadis yang sedang asyik bersin di rumahnya.

Menghiraukan kekesalan Armin, Historia berujar lagi, "Kau harus menceritakan hubunganmu dengannya, Armin. Harus! Kau tahu kalau aku sangat penasaran sekarang. Apalagi aku tahu pasti seperti apa hubungan kalian dulu. Kau dan Annie saling membenci, 'kan? KYAAAAA! Rasanya seperti drama romantis kesukaanku saja! Dari benci jadi cinta!"

"He-hei, tunggu du—"

"Oke, kita berangkat!" potongnya cepat sambil menarik lengan Armin. Benar-benar tak sabar meneguk segelas cocktail malam ini.

Tak semudah itu, Historia. Armin masih punya misi penting, "Se-sebentar, Historia!" katanya menarik lengan Historia sehingga gadis itu berhenti melangkah.

Historia pun berbalik, bingung, "Hah? Ada apa?"

"Kalau kita memang akan ke bar, aku ingin mengirim pesan pada Annie kalau aku akan pulang sedikit lebih lama. Karena aku sudah janji untuk menghubunginya lagi setelah kita selesai rapat,"

"Eh? Apa tak masalah? Ma-maksudku, kalau itu memang penting, tak apa jika kita tidak ke bar malam ini. Kau bicara dengan Annie saja dulu,"

"Tak masalah, Historia. Aku yakin Annie pasti mengerti. Lagipula, kau 'kan dulu juga teman sekelas kami saat SMP."

"Ba-baiklah kalau itu menurutmu."


.

.


BLAMM!

Ymir sampai lompat kambing dari duduknya ketika mendengar Annie membanting pintu kamarnya dengan keras. Bukan hanya Ymir. Hitch yang baru bangun dari pingsannya juga sampai menyemburkan sirup yang dia minum. Ada apa ini? Padahal semua berjalan baik-baik saja. Padahal setelah mereka asyik saling bercengkerama lewat telepon, Annie kembali ke ruang tamu dengan ekspresi sumringah, sampai bersenandung segala. Singkatnya suasana hatinya sedang baik. Tapi kenapa itu semua berubah dalam waktu dua jam?

Hitch memasukkan tisu ke lubang hidungnya lagi. Sempat keluar karena menyembur barusan. Jangan tanya bagaimana cara dia bernapas, karena sekarang fokus masalahnya bukan itu.

"Kenapa dia? Datang bulan?" tanya Hitch kebingungan. Apa gadis itu kerasukan setan atau bagaimana?

Ymir angkat bahu, tak mengerti. Namun dia mencoba mencari tahu, "Oi, Annie! Ada apa denganmu?" teriak Ymir dari ruang tamu. Yakin suaranya terdengar karena kamar Annie di dekat ruang itu. Sayangnya tak ada jawaban, "Ck, dasar wanita aneh!" umpatnya kesal.

Baiklah, ini saatnya mengerahkan mode berpikir. Hitch memangku dagunya, mengingat-ingat semua hal yang telah berlalu selama dua jam. Hingga akhirnya dia menyadari sesuatu.

Benar juga. Sebelum Annie nyaris merusak pintu kamarnya, mereka mendengar nada dering pesan dari ponselnya. Hitch sempat melirik ke arah Annie dan menemukan fakta bahwa raut wajahnya berubah jadi masam. Entah apa isi pesan itu, tapi yang pasti Annie sampai melempar ponselnya ke sofa sebelum berlalu ke kamarnya.

Ya, pasti itu! Hitch menjentikkan jarinya tanda dia telah menemukan jawaban dari kasus.

"Tadi itu nada dering pesan masuk di ponselnya. Aku tahu itu karena kami teman sekamar saat di pelatihan prajurit. Mungkin pesan itu membuatnya kesal?"

"Cih, pesan seperti apa yang bisa membuat moodnya yang awalnya berbunga-bunga mawar itu jadi berbunga bangkai?" balas Ymir. Walau pada akhirnya dia penasaran juga. Karena itulah dia berdiri, berjalan mendekati sofa lalu mengambil ponsel Annie. Membuka folder pesan masuk, terutama pesan yang terakhir diterima. Ymir pun menemukannya dan membuka isi pesan tersebut.

Reaksi darinya adalah sebuah cengiran sweatdrop.

Bibir Ymir sedikit berkedut. Sebelah alisnya terangkat. Kalau benar begini, wajar saja temannya itu kesal, "Ah... pantas saja..."

"Hah? Apa maksudmu?" Hitch menoleh ke belakang. Drama TV yang mereka tonton sudah tak menjadi pusat perhatian lagi.

"Baca ini," ucap Ymir melempar ponsel Annie pada Hitch.

Hitch pun menangkap ponsel itu dengan kedua tangan. Tanpa membuang waktu, dia langsung membacanya. Dan sama seperti Ymir. Dia juga ikut menyengir diikuti kedutan di bibirnya.

"...Aduh... Gawat..."

.


From: Banci Pirang

Time: 09.11 P.M

Subject: None

Annie, maafkan aku. Rapatnya sudah selesai, tapi aku ada sedikit urusan dengan Historia. Kami berdua ingin pergi keluar hotel dulu. Jadi, aku akan menghubungimu lagi nanti.


.

Kau benar, Hitch.

Ini LUAR BIASA gawat.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Bagi kalian yang kurang memahami, biar Penulis jelaskan. Meski Armin berangkat dari Eldia jam 10.15 pagi, dia sampai di Ghana sekitar jam 18.00. Tapi itu waktu Eldia. Kalau mengikuti waktu Ghana, dia sampai disana jam 17.00. Sejam kemudian—tepatnya pukul 18.00, Armin menelepon Annie. Tapi Annie yang berada di Eldia menerima panggilan itu jam 19.00. Kemudian setelah mereka selesai menelepon, Armin rapat selama dua jam. Artinya bagi Armin itu adalah jam 20.00, sementara bagi Annie itu jam 21.00. Rumit, ya? Penulis pernah merasakan ini saat berkomunikasi dengan orang luar.

Oh ya. Soal nama Bertolt juga. Ada yang membuat namanya sebagai Bertol, Berthold, Bertholdt, atau Bertolt. Sumpah, Penulis bingung. Sampai akhirnya harus mengandalkan Wiki dan akhirnya ketemu mana yang benar. BERTOLT HOOVER. Hahaha!

Penulis sadar bahwa chapter ini terlalu panjang. Penulis setengah mampus mengetik ini. Namun, Penulis berharap semua pembaca menyukainya. Sesekali kita beri konflik dalam hubungan mereka, hehehe. Oke, omong-omong, sampai jumpa di chapter selanjutnya! Jangan lupa tinggalkan komentar.

THANKS A LOT, MINNA-SAN!