DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.

RATED: M

PAIR: Naruto X ?

SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.

.

.

~A New Dimension~

.

.

Hujan.

Apa yang kalian rasakan ketika hujan turun?

Hujan seringkali digambarkan sebagai berkah, dimana ketika bumi sudah kering dan panas karena terkena cahaya matahari. Saat itu juga langit memuntahkan isinya berupa tetes-tetesan air yang disebut hujan.

Ketika hujan turun, banyak orang yang merasa senang. Jalanan yang kering dan berdebu langsung menjadi lembab, udara panas menjadi sejuk dan tumbuhan tumbuh subur. Namun tidak banyak juga orang yang membenci hujan.

Seperti Naruto, sejak kecil ia sama sekali tidak suka kalau hujan turun. Menurutnya, setiap hujan turun pasti akan selalu ada kesedihan. Ketika wafatnya Sandaime-jiji saat itu juga hujan. Ketika ia gagal mencegah Sasuke pergi dari desa juga turun hujan. Ketika ia gagal menyusul Sasuke yang yang sudah berhasil membunuh Itachi.

Meski ia tidak tahu tapi ketika Jiraiya mati ditangan Nagato juga turun hujan di Amegakure. Menangisi kepergian salah satu Sannin legendaris.

Kali ini hujan deras kembali turun ketika malam dan disertai oleh kesedihan dan tangisan tanpa suara. Mine menangis diam sambil memegangi lengan kanan. Leone terdiam dengan pandangan kosong. Lubbock menangis sambil menutup matanya menggunakan tangan. Bulat sedang menutup mata meski tangan kanannya mencengkram erat lengan jubah kulit yang ia pakai.

Akame terdiam, ia syok mendengar kabar ini. Tatsumi mengepalkan tangannya hingga berdarah sambil menggigit bibir bawahnya. Najenda menatap kosong ke kotak rokok yang ia pegang. Sedangkan Naruto terdiam juga, topeng anbu yang ia pegang terjatuh.

Mereka semua merasa sedih. Mereka semua merasa kehilangan. Kehilangan rekan yang selalu ada memang sangat menyakitkan. Kali ini, Night Raid harus kehilangan anggota mereka yang pertama kali untuk selamanya. Semua sedih dan merasa kehilangan saat tahu kalau Sheele sudah tiada.

Semuanya berawal saat Akame dan Naruto sudah selesai menyelesaikan misi yang diberikan oleh Najenda. Mereka sampai di markas ketika semuanya sedang berkumpul dihalaman markas. Penasaran dengan apa yang terjadi karena melihat Mine menangis, Akame mulai bertanya apa yang terjadi.

Tetapi jawaban yang diberikan oleh Mine justru membuat Akame ataupun Naruto merasa dirombak tepat dibagian jantung.

"Sheele... hiks... sudah... tiada... hiks." tangis Mine.

Mine melaporkan kalau misi yang diberikan Najenda untuk mengeksekusi Yora sudah berhasil. Namun saat diperjalanan pulang, mereka berdua dicegat oleh satu polisi militer yang bernama Seryu Ubiquitos.

Awalnya Mine meremehkan Seryu karena dengan beraninya mencegah mereka berdua hanya seorang diri. Tetapi tidak bisa dipercaya kalau Mine dan Sheele justru tersudut karena Seryu dibantu oleh teigu miliknya yang bernama Coro.

Mine melawan Coro. Sheele melawan Seryu. Awalnya pertarungan mereka seimbang dan kemenangan mulai berpihak pada mereka berdua. Coro yang sudah tidak bisa melawan karena selalu tertembak dan Seryu yang sudah kehilangan kedua tangannya karena dipotong oleh Sheele.

Namun keadaan langsung berubah 180 ketika Seryu menyuruh Coro untuk menggunakan mode [Berserker]. Teknik tersembunyi milik Coro. Singkat cerita, Mine berhasil selamat dari amukan Coro meski tangan kanannya harus patah. Namun, Sheele justru dimakan oleh Coro hingga tubuhnya terbagi menjadi dua.

Mine hampir saja tidak bisa melarikan diri karena dikepung puluhan polisi militer uang dipanggil oleh Seryu, namun diakhir hidupnya Sheele menggunakan teknik tersembunyi teigu-nya bernama [Extase]. Sehingga Mine langsung lari meninggalkan Sheele yang tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum dikunyah oleh Coro.

Tatsumi mendecih dan segera pergi, sebelum sebuah pertanyaan menghentikan langkahnya. "Mau kemana kau, Tatsumi?"

"Ke Ibu kota." balasnya pelan.

"Mau ngapain? Balas dendam?"

"Sudah jelas, Aniki!" Tatsumi menoleh. "Aku akan memba-"

Buah!

Sebuah bogem mentah diterima oleh Tatsumi hingga terpelanting dengan pipi kiri yang membengkak. Bulat, pelaku pembogeman itu berjalan dan langsung menarik kerah baju Tatsumi.

"Tenangkan pikiranmu, Tatsumi! Kau pikir pergi ke Ibu kota saat ini untuk membalas dendam itu akan membuat keadaan menjadi lebih baik!? Yang ada justru bertambah buruk karena kami harus kehilanganmu juga!" bentak Bulat dengan suara yang bahkan mengalahkan derasnya hujan.

"Tapi aniki, apa kita harus diam begitu saja!? Apa kita tidak membalas kematian Sheele?!" tanya Tatsumi.

"Yang dikatakan oleh Bulat itu benar, Tatsumi. Kau hanya akan mati sia-sia jika kau pergi ke Ini kita sekarang." ujar Najenda dengan tenang.

"Tapi bos..."

"Tenanglah, kami semua tidak ingin ada yang pergi lagi. Cukup Sheele saja, jangan kau juga ikut tiada karena bertindak gegabah, Tatsumi." tambah Leone.

Tatsumi menatap tidak percaya sebelum mendecih dan kembali menangis meski hujan menggantikan air matanya, pipi kirinya juga terasa sakit.

"Sialan..." umpat Tatsumi disela-sela tangisnya.

Menyimpan rokoknya, Najenda melihat semuanya satu-persatu. "Kematian Sheele adalah kekalahan pertama bagi Night Raid. Kematian Sheele juga merupakan kemenangan pertama Kekaisaran. Dengan begini, Kekaisaran tahu kalau untuk menghadapi pengguna terigu juga harus menggunakan teigu. Berhati-hatilah karena kita tidak tahu kapan akan melawan pengguna teigu yang berasal dari Kekaisaran ataupun pihak lain, mengerti!"

"Mengerti!!!"

Semuanya menjawab dengan sangat lantang bahkan mengalahkan suara hujan. Mine kembali menangis dan tatapannya menahan sekaligus penuh akan kebencian.

'Seryu Ubiquitos. Aku, aku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!!' jerit Mine didalam hatinya.

--o0o--

Fajar menyingsing memperlihatkan indahnya sinar sang surya. Tumbuh-tumbuhan tampak menghijau setelah hujan turun semalam. Disalah satu tebing yang menghadapi kearah Ibu kota, mendarat seekor Danger Beast tipe naga yang ditunggangi oleh seseorang.

Orang tersebut ternyata seorang wanita yang memakai pakaian militer, wanita berpangkat Jendral di Kekaisaran dan namanya adalah Esdeath. Ia menatap kearah Ibu Kota sambil tersenyum tipis.

"Akhirnya, aku kembali lagi." gumamnya.

Sedangkan di pegunungan yang berjarak 10 km dari Ibu kota kearah utara, lebih tepatnya di markas Night Raid. Saat ini hanya ada tiga orang saja yang berada diruang makan.

"Ittai!" Mine merintis sakit.

"Mine, buka mulutmu." pinta Akame sambil menyodorkan sumpitnya.

Mine menoleh. "Huh, itu tidak perlu Akame, aku masih bisa makan sendiri."

"Tapi..." Akame menatap Mine dengan lembut. "Dengan keadaanmu yang belum sembuh, kau akan kesulitan untuk makan, Mine."

Mine terlihat ragu sebelum menghela nafas, perkataan Mine ada benarnya juga. "Baiklah, kau boleh menyuapiku."

Akame tersenyum tipis dan mulai menyuapi Mine yang dengan lahapnya mengunyah makanan yang disuapin oleh Akame. Menghabiskan minumannya, Naruto memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh mereka berdua.

'Padahal baru semalam kematian Sheele tapi Akame sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.' batin Naruto.

'Gadis itu menutupi perasaannya.' timpal Kurang didalam pikiran Naruto.

Naruto mengangguk. 'Benar Kurama, pasti dia menutupi perasaannya supaya tidak membuat yang lain khawatir.'

'Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang, gaki? Langsung membunuh gadis yang menolongmu?'

'Tidak, jika aku mengeksekusinya sekarang bisa-bisa terjadi keributan di Kekaisaran. Lagipula aku masih harus melatih Tatsumi sedikit lagi.'

Kurama sama sekali tidak bisa menjawab karena Naruto telah memutuskan koneksinya. Ia mendengus sesaat sebelum menaruh kepalanya diatas lipatan tangannya dan mulai tidur kembali.

Dreet!

Suara gesekan kursi masuk kedalam pendengaran Akame dan Mine. Mereka menoleh dan melihat kalau Naruto sedang memakai jaket hitamnya. Mereka berdua bingung saat Naruto memasang sebuah tas kecil dibelakangnya setelah mengecek sebentar.

"Naruto, kau mau kemana?" tanya Akame.

"Hm?" Naruto menoleh kearah Akame. "Aku mau pergi ke Ibu kita sebentar saja, ada urusan disana."

"Apa kau lupa, Naruto? Poster buronanmu sudah Keluar, bisa-bisa kau ditangkap oleh pihak Kekaisaran." jelas Mine.

"Apa kau juga lupa, Mine?" Naruto tersenyum mengejek. "Aku kalau menjalankan misi selalu menggunakan topeng untuk menutupi identitas ku beserta aku menggunakan nama samaran."

Mine mendecih ketika ia kalah bicara Sehingga membuat Naruto dan Akame terkikik melihatnya. Menghentikan tawanya, Naruto merogoh tas kecilnya dan menaruh dua benda diatas meja.

"Akame-chan, Mine, ambillah kedua ku mau ini. Jika kalian dalam bahaya yang tidak bisa kalian hadapi sendirian, goyangkan saja kunai itu dan aku akan langsung datang." jelas Naruto.

Akame dan Mine mengambil masing-masing satu kunai tersebut. Bisa mereka berdua rasakan kalau kunci yang memiliki tiga cabang dan rangkaian kanji rumit dipegangnya itu, lebih berat dibanding belati yang pernah mereka pegang.

""Arigatou Naruto."" ujar keduanya bersamaan.

Naruto tersenyum tipis. "Kalau begitu, aku pergi dulu dan bilang pada Tatsumi saat dia pulang nanti, kalau aku akan menunggunya disungai nanti sore."

"Tentu dan berhati-hatilah, Naruto." ujar Akame.

Ia Tersentak sesaat ketika Akame mengucapkan itu, Naruto tersenyum tipis -sangat tipis- sebelum menghilang dari pandangan mereka berdua meninggalnya kilatan kuning. Mine mengalihkan pandangannya kearah Akame.

"Akame, apa kau menyukainya?" tanya Mine dengan tatapan menyelidik.

"Apa maksudmu, Mine? Aku sama sekali tidak mengerti." balas Akame, enggan melihat kearah Mine.

"Jangan berpura-pura bodoh, Akame." Mine menatap tajam, jari telunjuk kiri mengarah pada Akame. "Dari sifat dan kelakuan mu sudah kelihatan sekali kalai kau menyukainya. Bahkan bos dan Bulat tahu kalau kau menyukainya."

Akame terdiam sesaat dan tatapannya menjadi sendu. "Aku, aku tidak tahu. Terkadang aku sangat khawatir kalau dia pergi ke Ibu kota sendirian dan aku menjadi sangat panik jika lihat saat dia terluka. Rasa panik dan khawatir yang sangat berbeda pada Tatsumi yang sudah kuanggap sebagai adik."

"Tapi aku sangat penasaran, apa dia itu memang manusia asli atau bukan." ujar Mine.

Akame menoleh. "Maksudmu?"

"Apa kau tidak merasa aneh padanya?" Mjne menatap lurus Akame. "Laporanmu saat selesai melawan Zank mengatakan kalau Naruto mendapat luka didadanya akibat ditebas oleh Zank menggunakan Murasame. Seharusnya Naruto saat ini sudah mati karena racun kutukan Murasame."

"Ucapanmu ada benarnya juga, Mine. Akan aku tanyakan soal ini padanya dan sekarang kau harus makan lagi, Mine." ujar Akame kembali menyodorkan makanan yang sudah ia jepit menggunakan sumpit.

"Ha'i, ha'i." Mine pasrah saja dan memasukan makanan itu kedalam mulutnya.

--o0o--

Kantor Hokage di siang hari saat ini kelihatan lebih rame. Roky 12 -kecuali Neji, Sasuke, Kiba- sedang berkumpul setelah sekian lama mereka disjbukkan aktivitas masing-masing. Mereka semua berada disana karena dipanggil oleh Rokudaime, bahkan Sai yang bukan bagian dari roky 12 juga ikut dipanggil.

Rokudaime Hokage yang tidak lain adalah Kakashi memperhatikan mereka semua satu persatu. Tidak jauh darinya ada Tsunade yang sedang berdiri memandangi mereka juga sambil ditemani oleh Shizune.

"Apa kalian tahu kenapa dipanggil kesini?" tanya Kakashi.

"Tidak, Hokage-sama." ucap semuanya secara bersamaan.

Kakashi menunjukkan eye smile andalannya. "Kalau begitu sama, aku juga tidak tahu kenapa kalian dipanggil."

...1 detik...

...3 detik...

...5 detik...

"Kalau begitu, kenapa anda memanggil kami!!?"

"Apa Kakashi-sensei lupa dengan pekerjaanku dirumah sakit!!?"

"Padahal toko bungaku sedang ramai-ramainya!"

"Kakashi-sensei, anda mengganggu jadwal latihan ku!"

Kakashi hanya bisa tertawa gugup saat mendengar teriakan protes itu. Tsunade hanya menghela nafas, kenapa ia duli menobatkan Kakashi sebagai Jokage, sedangkan Shizune terkikik geli.

"Tenanglah kalian, tidak usah menyalahkan Kakashi, aku yang menyuruhnya untuk memanggil kalian semua kesini." ujar Tsunade.

Semuanya menoleh, melihat kearah Tsunade. Sakura justru heran mendengarnya. "Ada hal apa sehingga Shisou menyuruh Kakashi-sensei memanggil kami?"

Tsunade menatap semuanya, tatapannya menahan menandakan kalau dia sedang serius. "Apa yang ingin kukatakan ini berkaitan dengan sisi lain kehidupan Naruto yang tidak kalian semua ketahui, bahkan Hinata juga tidak mengetahuinya."

Sontak semuanya terkejut saat mendengar perkataan Tsunade. Bahkan Hinata juga ikut terkejut saat ada sesuatu tentang Naruto yang tidak ia ketahui. Mereka semua bertanya-tanya didalam pikiran dengan pertanyaan yang sama.

'Sisi lain kehidupan Naruto?' batin semuanya.

"Maksud anda apa, Tsunade-sama?" bahkan Kakashi juga tidak mengetahuinya.

"Kakashi." Tsunade melihat Kakashi dan seluruh roky 12. "Serta kalian semua pasti tidak akan menduga kalau Naruto memiliki sebuah rahasia besar."

"Rahasia apa, Godaime-sama?" tanya Shikamaru.

"Apa yang disembunyikan oleh Naruto dari kami, Godaime-sama?" tambah Sai.

"Saya mohon, Godaime-sama. Tolong beritahu kami?" mohon Hinata.

"Benar Shisou." ujar Sakura membenarkan perkataan semuanya.

Bukannya menjawab, Tsunade malah menoleh kepada Shizune. "Shizune, cepat ambilkan berkas anu Kitsune."

"Ha'i, Tsunade-sama."

Tap! Tap! Tap! Cklek! Kriet!

Blam!

Mengalihkan pandangannya dari pintu untuk melihat Tsunade, Kakashi bertanya dengan nada bingung. "Kitsune? Apa hubungannya anbu misterius itu dengan Naruto?"

"Kau akan segera tahu, Kakashi."

Beberapa saat kemudian, Shizune masuk kedalam sambil membawa dua gulungan berukuran sedang dan beberapa berkas didalam gendongannya. Mereka bisa lihat kalaimu Shizune menaruh gulungan beserta berkas itu diatas meja kantor.

"Ini semua berkasnya, Tsunade-sama." ujar Shizune.

"Arigatou Shizune." Tsunade berterima kasih, ia memilah berkas itu dan melihat kearah roky 12, minus Kakashi. "Aku bertanya, apa kalian akan percaya dengan apa yang aku katakan?"

"Tentu saja, Tsunade-sama!!" ucapan mereka secara serentak.

"Bagus." Tsunade mengangguk, Merasa puas. "Percayakah kalian semua kalau Naruto adalah seorang anbu? Shikamaru, percayakah kau kalau Naruto adalah kapten anbu? Kakashi, apa kau pernah berpikir kenapa Kitsune adalah anbu yang misterius? Hinata, percayakah kau kalau Naruto adalah seorang pembunuh?" Tsunade menatap tajam.

Ucapan Tsunade justru mengundang tatapan tidak percaya, terkecuali Sai yang justru tatapannya menajam. Naruto, teman mereka yang bego dan selalu bikin keonaran itu adalah seorang anbu, bahkan kapten anbu? Itu sangat mustahil!!

Itulah yang berada didalam pikiran mereka semua, kecuali Hinata dan Sai.

'Naruto-kun... seorang pembunuh?' pikiran Hinata terasa kacau.

'Naruto adalah Kitsune? Anbu yang hampir saja membunuhku saat itu.' batin Sai tidak percaya.

Tsunade tersenyum tipis ketika melihat reaksi yang diberikan oleh roky 12. "Jika kalian semua tidak percaya, silahkan baca berkas-berkas ini, kalian berdua juga harus membacanya, Kakashi, Shizune."

Mereka semua membaca berkas yang diberikan oleh Tsunade, tidak lama kemudian ekspresi mereka semua menjadi sangat terkejut, bahkan Shino juga menampakkan raut wajah terkejut.

"Jadi, benar kalau Naruto itu seorang anbu." (Tenten)

"Terlebih dia adalah kapten anbu." (Ino)

"231 misi!? Naruto sudah melakukan misi sebanyak itu." (Chouji)

"Tidak mungkin..." (Hinata)

"Kenapa dia menyembunyikannya?" (Shikamaru)

"Tsunade-sama?" Kakashi melihat Tsunade, tatapannya menjadi serius. "Kenapa saya selalu senseinya tidak mengetahui ini dan kenapa selama saya menjadi Hokage sebelum Naruto, anda tidak memberitahu hal ini?"

Meski sedang ditatap tajam, Tsunade dengan tenangnya menjawab pertanyaan itu. "Karena Naruto sendiri yang memintanya."

Jawaban Tsunade justru membuat semuanya bingung. "Maksud anda, Naruto-kun sendiri yang meminta dirahasiakan status anbunya?" tanya Shizune.

"Benar." Tsunade mengangguk kecil. "Yang tahu Naruto adalah anbu hanya 5 orang, yaitu Jiraiya, ketiga tetua desa dan aku. Naruto juga bukan menjadi anbu yang biasa, melainkan dia adalah anbu khusus."

Deg!

Jantung Shizune dan Kakashi seakan berhenti berdetak saat mendengarnya. Mereka berdua tahu betapa berbahayanya anbu khusus itu. Roky 12 justru bingung mendengar kata 'anbu khusus'.

"Tsunade-sama, a-apa anda tidak berbohong tentang Naruto-kun adalah anbu khusus?" tanya Shizune dengan nada ragu.

"Aku tidak berbohong, Shizune. Naruto memang anbu khusus, lebih tepatnya dia adalah anbu khusus pengawalku." jawab Tsunade, suaranya tampak tenang.

"Tsunade-sama, sejak kapan Naruto menjadi anbu khusus pengawal anda?"

Tsunade melirik kearah Kakashi dan mulai menjawab. "Sejak Naruto mengalahkan Kakuzu, anggota Akatsuki. Sejak saat itulah Naruto diangkat menjadi anbu."

"Lalu untuk apa anda memberitahukan ini kepada kami, Godaime-sama?"

"Pertanyaan yang bagus, Shino." Tsunade menjentikkan jarinya. "Aku memberitahukan ini kepada kalian untuk berhati-hati."

"Berhati-hati?" beo semuanya.

"Benar, aku ingin kalian berhati-hati jika bertemu dengan Naruto ketika dia menggunakan topeng anbunya." ujar Tsunade.

Perkataan Tsunade justru mengundang banyak pertanyaan dan wajah yang penuh rasa bingung, kecuali Shikamaru dan Sai.

"Apa maksudnya, Shisou?" tanya Sakura.

"Seperti yang aku katakan, ketika Naruto menggunakan topeng anbunya, sifatnya akan langsung berubah drastis 180 derajat. Sifatnya yang ceria dan berisik langsung berubah menjadi dingin dan tenang. Siapapun yang dia anggap musuh akan segera mati ditangannya." jelas Tsunade.

Deg! Deg!

Jantung mereka semua berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar penjelasan Tsunade. Shizune dan Kakashi tidak menyangka kalau sosok adik dan murid mereka itu tidak akan sebab membunuh. Mereka semua juga tidak menyangka kalau Naruto akan langsung menjadi kejan saat menjadi anbu.

Terkecuali untuk Hinata.

"Tidak!"

Teriakan keras Hinata sukses membuat semuanya terkejut. Mereka semua melihat kearah Hinata yang sedang menundukkan kepalanya. Poni rambutnya menutupi wajahnya sehingga tidak ada yang tahu ekspresinya.

Hinata mengangkat kepalanya dan menatap tajam Tsunade. "Saya tidak percaya dengan semua ucapan anda, Godaime-sama. Saya tidak percaya kalau Naruto-kun adalah seorang pembunuh."

Ucapan Hinata membuat pikiran awal mereka semua tentang Naruto langsung berubah. Tsunade juga hanya menatap santai Hinata yang membalasnya dengan tatapan tajam.

"Ucapan Hinata ada benarnya, Shisou pasti bercanda, kan?" (Sakura)

"Naruto itukan orangnya baik dan naif, tidak mungkin Naruto itu membunuh orang." (Choji)

"Betul, betul, Naruto tidak mungkin membunuh." (Ino)

Tsunade tetap diam meski ucapan dari roky 12 mulai menganggap perkataannya sebagai kebohongan. Namun ia justru tertarik melihat kearah Shikamaru yang terlihat serius membaca berkas-berkas itu. Lee yang sedari tadi bicara, menoleh kearah Shikamaru yang dari tadi diam.

"Ada apa Shikamaru? Dari tadi hanya kau yang diam terus." tanya Lee.

Shikamaru hanya melihat sekilas sebelum menatap Tsunade dengan serius. "Godaime-sama, apa Naruto sudah melaksanakan semua misi ini selama menjadi anbu?"

"Itu benar." Tsunade menjawab.

"Apa sebagian misi rank S yang ada disini berupa misi pembantaian?"

"Benar."

"Denga kata lain, Naruto sudah melakukan berbagai misi pembantaian selama dia menjadi anbu." tebak Shikamaru.

"Itu benar, sekarang kau sudah menemukan titik terang dari pembicaraan ini, Shikamaru." ujar Tsunade.

Shikamaru memandang bosan sebelum menghela nafas. "Mendokusei."

Semuanya menjadi bingung, kecuali Hinata yang masih senantiasa menatap tajam Tsunade.

"Hey Shikamaru, maksudmu apa!" tanya Tenten.

Shikamaru melirik, ekspresi malas ia tampakkan sehingga membuat Tenteng kesal. "Perkataan Godaime-sama benar, kita harus berhati-hati ketika bertemu dengan Naruto yang sedang memakai topeng anbunya."

"Maksudmu Shikamaru?" tanya Ino dengan nada heran.

"Semua yang dikatakan oleh Godaime-sama memang benar. Kalau kalian semua tidak percaya, baca misi rank S yang ketujuh." Shikamaru memperlihatkan salah satu misi rank S. "Contohnya misi yang ini, misi ini tentang membantai sebuah desa kecil yang merupakan tempat berkumpulnya missing-nin yang berbahaya. Choji, Ino, apa kalian ingat perkataan Asuma saat dia masih hidup? Tentang sebuah desa yang dipenuhi oleh missing-nin dari berbagai desa."

Choji mengangguk. "Mm, aku ingat.".

"Tapi, apa hubungannya desa itu dengan misi yang dilakukan oleh Naruto?" tanya Ino.

"Hubungannya ialah, desa itu langsung lenyap dalam semalam. Bukan lenyap berarti musnah, lebih tepatnya seluruh missing-nin yang ada di desa itu mati." jelas Shikamaru.

Deg! Deg!

Jantung mereka kembali berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar penjelasan tersebut. Shikamaru melihat semua temannya satu persatu.

"Yang kudengar dari ayahku, orang yang membantai seluruh missing-nin yang ada di desa itu adalah seorang anbu. Hanya satu orang anbu saja tetapi bisa membantai seluruh missing-nin yang ada di desa itu." jelas Shikamaru.

Semuanya menatap Shikamaru dengan pandangan tidak percaya. Hanya satu anbu saja tapi bisa membantai seluruh missing-nin yang ada di satu desa. Itu pasti hanya bercanda saja, kecuali Sai yang memiliki pemikiran lain.

"Shikamaru, kau sedang tidak bercanda, kan?" tanya Choji.

Shikamaru menggeleng. "Aku tidak bercanda, memang hanya satu anbu dan kata ayahku dulu, anbu itu berasal dari Konoha dengan nickname Kitsune. Dengan kata lain, Naruto yang sudah membantai seluruh missing-nin ya-"

"Bohong!!"

Lagi-lagi suara teriakan Hinata terdengar.

"Itu pasti bohong! Tidak mungkin kalau Naruto-kun mela-"

"Maaf Hinata-san, tapi saya setuju dengan perkataan Shikamaru."

"Sai-kun, kau mengatakan apa?"

Sai menoleh kepada istrinya, Ino. "Aku berkata kalau setuju dengan perkataan Shikamaru, aku mengatakan ini bukan tanpa alasan sebab aku pernah hampir dibunuh oleh Naruto."

Perkataan Sai justru membuat semuanya terkejut. Bahkan Kakashi, Shizune dan Tsunade juga ikut terkejut. Kakashi segera mengendalikan dirinya dan melihat serius kearah Sai.

"Sai, bisakah kau jelaskan?" pinta Kakashi dan dibalas anggukan oleh Sai. "Baiklah, Rokudaime-sama."

"Dulu, ketika aku masih berada didalam anbu NE dibawah kepemimpinan Danzo-sama. Aku pernah berhadapan dengan Naruto ketika mendapat misi rahasia dari Danzo-sama. Saat itu Naruto memakai pakaian anbu serta topeng bermotif rubah."

"Waktu itu saya tidak tahu kalau anbu itu adalah Naruto. Sedikit adanya percakapan dan akhirnya Naruto mencurigaiku dari bagian anbu NE dan itu memang benar adanya. Disaat bertarung dengan Naruto, beberapa kali saya tersudut dengan trik kecil dari Naruto."

"Futon yang digabung dengan shunsin no jutsu serta kunci yang dialiri chakra, Naruto hampir berhasil membunuhku jika saja waktu itu tidak ada anbu NE yang datang menolongku." jelas Sai.

Semuanya terdiam setelah selesai mendengar penjelasan dari Sai. Tidak mereka sangka kalau Naruto pernah hampir membunuh Sai.

"Setelah mendengar penjelasan Sai tadi, aku ingin kalian berhati-hati jika bertemu dengan Naruto yang sedang memakai topengnya. Bukan bermaksud menyuruh kalian menjauhinya tapi berhati-hati karena Naruto tidak akan memandang kawan. Jika dia anggap musuh, maka dia akan langsung membunuhnya meski yang dihadapannya adalah temannya sendiri." ujar Tsunade.

"Serta terimalah kenyataan ini, Hinata. Naruto itu tetaplah seorang shinobi dan tangan seorang shinobi selalu berlumuran darah." tambah Tsunade sambil melihat kearah Hinata yang sedang menangis.

"Naruto-kun..." isak Hinata pelangi meski ia sedang ditenangkan oleh Sakura dan Ino.

--o0o--

Sebuah kereta kuda yang sedang berjalan pelan, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh kusir yang ada dikereta kuda itu. Dibelakang juga terlibat puluhan prajurit bersenjata yang berjalan mengikuti kereta kuda.

"Akhirnya kita kembali juga ke Ibu kota, Otou-san." ucap riang seorang wanita dewasa yang sangat cantik.

"Padahal sudah banyak prajurit yang mengawalku, tapi kenapa kau juga harus ikut mengawalku." ujar seorang pria tua disampingnya.

"Mau bagaimana lagi, sebagai putri satu-satunya aku harus selalu berada disamping Otou-san. Lagipula sebagai seorang jendral, aku juga harus menjaga Otou-san yang merupakan orang penting didalam Ibu kota." wanita tersebut menepuk dadanya dengan bangga.

"Mungkin karena itu kamu tidak bisa menikah sampai sekarang, hahaha." tawa pria tua itu.

Sontak wajah wanita tersebut memerah total. "O, Otou-san!"

"Hahahaha!"

Tawa pria itu semakin keras dan membuat wajah putrinya semakin memerah. Namun tawa itu seketika lenyap saat mendengar singkirkan kuda dan suara panik kusir.

"Ada apa!?" wanita itu membuka pintu kereta. "Apa ada bandit yang menghalangi lagi?!"

Ia tersentak saat penglihatannya menangkap tiga sosok yang menghadang jalan mereka didepan. Raut wajahnya menjadi serius, dengan sigap ia mengambil senjata miliknya.

"Beraninya kalian menghadang jalan kami! Serang!" komando wanita itu.

"Haaa!"

Puluhan prajurit beserta wanita itu berlari maju, melihat hal tersebut membuat sosok ditengah melirik kearah sosok yang ada dikirinya.

"Daidara." ucapnya.

Sosok laki-laki bertubuh besar yang bernama Daidara itu menyeringai. "Baiklah."

Daidara berlari kearah puluhan prajurit serta jendral wanita yang ada didepan. Tangan kanannya yang berotot meraih sebuah kapak berbilah dua.

"Aku adalah Daidara, dari San-biki No Kemono (Three Beasts)! Kuharap kalian semua kuat!" teriaknya dan mulai mengayunkan kakaknya dengan kuat.

Jrash!

Kapak itu sukses memotong gagang tombak dan merobek perut kanan wanita itu. Namun Daidara tetap berlari kearah puluhan prajurit dan menebas mereka satu-persatu.

Crash! Crash! Crash!

Suara jeritan kesakitan dan suara tebasan terdengar jelas didalam indera pendengaran wanita itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri sedang terduduk sambil menahan sakit.

"Ne Onee-chan." wanita tersebut mendongak dan melihat ada seorang anak laki-laki berambut pirang namun berwajah feminin, sedang tersenyum kearahnya. "Kau hebat juga bisa bertahan dan tebasan Daidara."

"Namun kau akan lebih memilih untuk ditebas saja dibandingkan apa yang akan kuperbuat padamu." ujarnya sambil memperlihatkan sebuah pisau dan tatapan wanita itu menjadi takut.

Sedangkan ditempat kereta kuda yang berhenti tadi, pria tua yang merupakan salah satu orang penting di Ibu kota itu sedang terduduk. Ia mendongak ketakutan melihat orang yang berdiri dihadapannya.

"A-apa maksudnya ini?! Bukankah kalian bagian dari Kekaisaran?! La-lalu kenapa menyerang kami!?" ujarnya.

Sosok pria itu hanya diam saja, rambut perak yang diikat ponytail melambai pelan mengikuti hembusan angin. Tangan kanannya yang dibungkus saring tangan berwarna putih, ia angkat hingga sebatas dada.

"Keinginan Tuanku adalah..."

Crash!

"...perintah bagiku." lanjutnya dengan tatapan dingin dan dibelakangnya ada sebuah kepala yang sedang terjatuh.

Tubuh pria yang merupakan salah satu tokoh politik Ibu kota, tumbang tanpa adanya kepala. Pria berambut perak tersebut hanya melirik sebelum melepaskan sarung tangan yang ada noda darah dan menggantinya dengan yang baru.

Pria tersebut menoleh dan melihat kalau Daidara sudah datang dengan baju berlumuran darah. "Bagaimana?"

Daidara hanya menyeringai kecil. "Masih sangat kurang, tuan River."

Pria yang bernama River hanya mengangguk kecil, sebelum mereka berdua menoleh kebelakang saat mendengar senandung kecil. Anak kecil berwajah feminim berjalan kearah River dan Daidara sambil tersenyum puas.

"River, Daidara, aku berhasil menambah koleksiku." ujarnya senang sambil memperlihatkan sebuah kulit yang berbentuk wajah.

Ditempat yang tidak jauh dari mereka bertiga, terdapat sebuah mayat wanita yang dimana wajahnya sudah dikuliti.

Mereka bertiga menepuk-nepuk kedua tangan setelah melempar beberapa poster ditempat itu. "Sudah saatnya kita kembali, saya akan membuatkan makan malam ketika kita sudah sampai." ucapan River sukses membuat Daidara serta Nyaw terkejut.

"Ano, lebih baik tidak usah membuatnya."

"Benar, benar, masakanmu yang terakhir sudah membuat nona Esdeath pingsan selama dua menit."

"Tenang saja, kali ini aku akan menambahkan resep rahasia, kalian harus mencicipinya terlebih dahulu sebelum kuberikan kepada nona Esdeath."

"Tidak mau!/Tidak akan!"

Mereka pun sudah jauh dari tempat aksi membunuh yang tadi dilakukan dan jika diperhatikan, ada beberapa selembaran yang memiliki logo Night Raid.

'Hukuman dari langit. Night Raid.'

Sudah jelas sekali kalau selembaran itu merupakan aksi sabotase/kambing hitam dengan menggunakan nama Night Raid. Sungguh licik sekali perbuatan Kekaisaran.

--o0o--

Sudah ada lima hari sejak kematian Sheele dan saat ini atmosfer didalam markas Night Raid mulai ceria kembali. Semua personel Night Raid di pagi hari ini sedang melakukan aktivitasnya masing-masing, misalnya Tatsumi yang sedang latihan di pagi hari yang cerah ini.

"Heyaa!"

Trink! Trink!

"Bagus, pertahankan kuda-kuda bawahmu, Tatsumi!"

"Ha'i, Naruto-sensei!"

Trink! Trink! Trink!

Akan memperhatikan latihan dari kedua laki-laki yang menempati posisi didalam hatinya dari pinggir lapangan. Disisi kiri tempat ia duduk ada dua buah botol yang berisi air minum.

Trink!

Percikan api kecil bermunculan ketika pedang hitam yang terbuat dari gedoudama yang dipegang Tatsumi, beradu dengan kunai cabang tiga milik Naruto. Guru dan murid itu saling menunjukkan seringai ganas dengan tatapan mata yang penuh tekad dan semangat.

"Tidak buruk juga, Tatsumi." ujar Naruto disela-sela beradu.

Tentu pujian itu membuat Tatsumi menjadi semakin semangat. "Ini masih belum semuanya." balas Tatsumi.

"Ho~" seringai ganas semakin lebar. "Kalau begitu, tunjukkan."

"Dengan senang hati!"

Trink! Trink!

Percikan-percikan api terus bermunculan ketika kedua senjata mereka saling berbenturan. Suara dentingan lebih dominan menguasai alur duel diantara mereka berdua, dibandingkan suara langkah kaki. Akame bahkan sampai terkagum-kagum.

Tatsumi melompat kebelakang, menjauh dari jangkauan Naruto. Namun dengan cekatan ia menangkis beberapa shuriken yang mengarah kepadanya. Karena lemparan shurikennya gagal, Naruto kembali mengambil satu kunai lagi. Dengan dua kunai dikedua tangannya, Naruto berlari kearah Tatsumi.

Tatsumi memandang Naruto dengan tatapan yang penuh akan semangat. Sambil memegang erat pedangnya, Tatsumi juga berlari kearah Naruto.

Trink! Trink!

Lagi-lagi percikan api bermunculan saat Naruto menahan tebasan yang Tatsumi lakukan. Tatsumi juga kadang membelokkan tusukan kunai milik Naruto. Tusukan, tebasan, dan tangkisan mereka lakukan sehingga suara dentingan logam terdengar nyaring. Kunai dan pedang. Guru dan murid. Siapakah yang akan menang?

Trink!

Menangkis tusukan kunai dan mementalkannya keatas, Tatsumi sukses membuat Naruto terkejut. Tidak hanya sampai disitu, Tatsumi dengan cepat menebaskan pedangnya keatas.

Naruto mundur satu langkah, ia melihat kearah rompinya yang berhasil robek terkena serangan telak tadi. Naruto menatap Tatsumi, senyuman kecil ia berikan kepada pemuda itu.

"Tidak buruk, Tatsumi. Kau sudah semakin berkembang dari hari kemarin." puji Naruto dan ia menunjukkan kunai hiraishin miliknya. "Jika kau bisa memberikan sati bekas robekan lagi dirompiku, maka akan kuberikan kunai ini padamu."

Mendengarnya justru membuat Tatsumi bertambah semangat tanpa menyadari kalau Naruto menyeringai kecil. Melihat seringai itu, Akame lebih memilih menghela nafas dan memandang prihatin kearah Tatsumi.

"Kau akan kalah lagi, Tatsumi." gumam Akame.

Masih menggenggam serta pedangnya, Tatsumi menunjuk kearah Naruto. "Aku harap tepati janjimu, Naruto-sensei."

"Tentu saja akan aku tepati, jadi majulah, Tatsumi!!"

Menekuk kaki kanan, Tatsumi langsung berlari kearah Naruto dengan semangatnya. "Dorrryaaaaa!"

Dug! Cleb!

"Ittai..."

"Cih, padahal tadi pasti akan kena."

Tatsumi segera bangun dan menunjuk orang yang baru saja datang. "Aniki?! Apa-apaan tadi itu?!"

Bulat memandang heran. "Baru kali ini kau sangat bersemangat, ada apa denganmu?"

"Tidak ada, hanya saja aku pasti bisa mendapatkan belati milik Naruto-sensei."

Bulat justru semakin heran sebelum terkekeh sehingga Tatsumi melihatnya dengan tatapan kesal. "Apa-apaan itu? Aniki pasti ketawa, bukan?"

"Tidak, tidak, hanya saja kau akan langsung kalau jika aku tidak menghentikan mu tadi.

"Maksudnya?" beberapa tanda tanya melayang, muncul diatas kepala Tatsumi.

"Lihatlah belati milik Naruto." Tatsumi mengikuti arah yang ditunjuk oleh Bulat kearah sebuah kunai yang menancap dalam di tanah. "Kau akan langsung kalah dan terluka terkena belati itu."

"Ucapanmu seakan-akan aku ingin membunuh muridku sendiri, Bulat." timpal seseorang didalam percakapan mereka berdua.

Bulat dan Tatsumi memandang kearah Naruto yang baru saja mencabut kunai dan berjalan kearah mereka. "Aku tidak mungkin membiarkan murid ku terluka akibat kelalaianku." Naruto memutar kunainya dan menyimpannya satu. "Serta kunaiku tidak akan aku gunakan untuk melukai temanku."

"Aku tahu itu, Naruto." ujar Bulat, terkekeh.

Naruto juga ikut terkekeh sebelum menunjuk Tatsumi. "Meski kemampuan mu sudah menjadi kuat dari sebelumnya, tapi jangan merasa sombong dulu. Diatas langit masih ada langit lagi. Berlatihlah lebih giat lagi, Tatsumi." ucapnya sambil diakhiri senyuman lebar.

"Baik, Naruto-sensei."

Bulat memperhatikan Tatsumi sebelum sebuah ide cemerlang muncul dikepalanya, ia pun menoleh pada Naruto. "Naruto, biarkan aku melatih Tatsumi untuk hari ini."

Sempat heran namun Naruto mengangguk setuju sehingga Bulat tersenyum lebar. Pemegang terigu Incursio itu segera menepuk pelan bahu Tatsumi.

"Ikuti aku, Tatsumi! Akan aku buat menjadi seorang lelaki sejati dari sekarang!" Bulat segera berlari dab dibelakangnya ada Tatsumi yang mengikuti. "Baik!"

Naruto menatap kepergian mereka berdua yang mulai menjauh, merasa hawa seseorang berdiri disampingnya. Naruto menoleh dan mendapati Akame yang sedang menyodorkan sebuah botol air.

"Arigatou Akame-chan." mengambil botol, bujang penutupnya, Naruto langsung meminumnya hingga air yang berada didalam botol tersebut tersisa setengah.

"Bagaimana?" tanya Akame.

"Ini segar sekali, Akame-chan." jawab Naruto.

Akame tersenyum kecil. "Syukurlah." melihat ada banyak keringat didahi Naruto, Akame dengan penuh perhatian melaporkan keringat itu menggunakan handuk yang ia bawa.

Naruto tertegun dan tidak bisa bergerak bagaikan patung ketika Akame melaporkan keringatnya. Karena tinggi Akame hanya sebatas lehernya, Naruto bisa mencium bau harum dari rambut gadis itu sehingga rona merah menghiasi wajahnya.

Selesai melap keringat Naruto tanpa izin, Akame terheran saat wajah pria yang menduduki posisi pertama dalam hatinya itu memerah.

"Naruto, apa kau sedang sakit?" tanya Akame lagi namun ada nada khawatir didalam suaranya.

Naruto tersadar dan langsung salah tingkah. "E-eh?...ah, tidak Akame-chan, ini hanya efek panas saja."

"Sungguh?"

"Sungguh, ini hanya karena panas saja, bukan karena sakit." jelas Naruto.

Akame masih memicingkan matanya, merasa curiga sebelum ia menghela nafas pendek. "Baiklah, aku percaya."

Entah kenapa Naruto merasa lega, ia tersentak saat mengingat sesuatu yang ia lupakan. "Akame-chan."

"Mmh?"

"Aku ingin pergi ke Ibu kota untuk mencari informasi, apa ada yang ingin kau titip di Ibu kota?" tanya Naruto.

Akame terlihat berpikir sebelum Naruto menunggu dan segera masuk kedalam markas. Naruto menunggu sesuai perintah Akame, tidak lama kemudian Akame sudah datang sambil membawa sebuah kertas.

"Ini."

Naruto mengambilnya dan menatap bingung. "Apa ini?"

"Daftar belanja." balas Akame. "Markas sudah hampir kehabisan bahan makanan dan kalau bisa segera beli bahan makanan di Ibu kota."

Naruto mengangguk paham. "Aku pergi dulu, Akame-chan." ia langsung menghilang meninggalkan kilatan kuning.

Akame menatap tempat terakhir Naruto sebelum kembali kedalam markas. "Lorong di markas belum dibersihkan."

--Line Break--

Kita berfokus pada Bulat dan Tatsumi yang saat ini sedang berada diatas salah satu bukit yang masih berada dalam jarak pandang markas. Kenapa mereka berdua ada di bukit itu? Sudah tentu untuk melatih Tatsumi agar semakin kuat.

Ada alasan tersendiri kenapa Bulat melatih Tatsumi di bukit, selain menambah kekuatan untuk menyeimbangkannya dengan kecepatan yang Tatsumi punya, Bulat juga ingin menambah pengalaman pemuda itu dengan cara melawan para monster.

Misalnya monster berbentuk pohon dan batu yang bisa menyamar sehingga mampu membuat Tatsumi kecolongan dan hampir terluka jika saja Bulat tidak menolongnya. Saat ini mereka sedang dikepung oleh puluhan monster itu. Tatsumi memperhatikan sekeliling untuk mencari celah untuk menyerang, pedang gedoudama sudah ada di genggamannya.

"Daya observasimu semakin bagus, Tatsumi." puji Bulat secara tiba-tiba.

"Arigatou, aniki." Tatsumi membalas dan tidak lama tersentak. "Aniki! Jangan bercanda disaat begini dong."

"Hahahaha..." Bulat tertawa lebar. "Jangan terlalu serius jika melawan monster seperti mereka. Latihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuanmu merasakan hawa keberadaan, menambah kekuatan dan memperbanyak pengalamanmu." jelasnya.

"Lagipula kemampuan merasakan hawa keberadaan dan kekuatanmu kurang." ledek Bulat dan membuat Tatsumi merengek, namun laki-laki itu menghiraukannya. "Monster-monster ini juga akan masuk kedalam desa sebelah. Jadi, kenapa kita tidak sekalian berbuat baik sambil latihan? Kau setuju, Tatsumi?" Bulat menoleh.

"Baiklah aniki!" Tatsumi menjawab dengan penuh semangat.

"Jangan khawatir." Bulat menatap sayu Tatsumi. "Jika kau terluka, akan aku rawat sampai sembuh jika sudah sampai di markas." perkataan tersebut suksss membuat Tatsumi merinding.

"KENAPA KAU MENGATAKANNYA SAMBIL WAJAHMU MEMERAH?!!"

--Skip Time--

Pagi hari sudah lewat dan saat ini sedang siang hari. Waktu dimana matahari sedang puncaknya bersinar dengan sangat terang dan suhu bertambah panas.

Jadwal makan siang sudah lewat beberapa menit lali dan saat ini sedang dapat darurat diruang pertemuan. Semuanya ikut dalan rapat tanpa terkecuali dan juga semuanya berdiri sambil menghadap Najenda yang sedang duduk.

Membakar rokok yang ada di mulutnya, menghisapnya sebentar dan membuang asapnya. Najenda menatap serius semuanya. "Aku akan mengatakan tiga kabar buruk yang kuterima dari markas utama." Najenda menjeda sesaat. "Yang pertama, Night Raid dan markas utama berhasil mengontak kembali tim lokal."

Akame dan Bulat tersentak bersamaan dan hal itu tidak luput dari penglihatan Naruto sedang Tatsumi justru bingung mendengarnya.

"Tim lokal? Apa itu?" tanya Tatsumi.

"Wilayah Kekaisaran itu sangatlah luas sehingga ada beberapa tim yang ditugaskan diberbagai wilayah." Akame memandang Tatsumi, menjelaskan. "Night Raid adalah salah satu tim yang ditugaskan di Ibu kota."

"Saat ini markas utama sedang meneliti apa yang terjadi pada tim lokal, namun menurutku mereka semua sudah mati. " Najenda menoleh kearah Lubbock. "Untuk berjaga-jaga, aku ingin keamanan disekitar markas diperketat."

"Baiklah bos, akan kusebar benang-benangku dengan segera."

Najenda mengangguk sebelum menghembuskan asap rokok lagi. "Kabar kedua, menurut pengintaian Naruto di Ibu kota dan istana, Esdeath sudah berhasil menaklukkan suku utara dan kembali ke Ibu kota."

Deg!

"Secepat itu dia menaklukkan suku utara?!" ujar Tatsumi merasa tidak percaya.

"Dia itu, selalu merepotkan kita saja." Lubbock berucap dengan kesal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sepertinya dia lebih memilih meninggalkan semua pasukannya diutara dan kembali sendirian ke Ibu kota." tebak Najenda.

"Mungkin saja dia menyuruh untuk berjaga diutara." Bulat menimpali perkataan Najenda barusan.

"Kalau begitu, Leone dan Naruto, aku ingin kalian pergi ke Ibu kota untuk mengawasi Esdeath." pinta Najenda kepada duo pirang.

"Baiklah." angguk Naruto.

"Oke!" Leone menjawab dengan semangat. "Dari dulu aku sudah sangat penasaran orang seperti apa dia itu."

"Dia itu adalah seorang manusia yang sangat tidak berperikemanusiaan, kalian berdua berhati-hatilah." ujar Najenda.

"Baik/baiklah."

Mematikan rokoknya dengan tangan mekanik, Najenda kembali serius. "Kabar terakhir, banyak sekali kasus pembunuhan pada tokoh politik serta pengawalnya di Ibu kota. Totalnya adalah 4 tokoh politik beserta 127 pengawal yang menjadi korban."

"Namun bukan itu masalahnya, masalahnya adalah poster yang memiliki lambang kita." Najenda berujar sambil menunjukkan sebuah poster.

Poster yang ditunjukkan oleh Najenda hanya poster biasa yang sering ditempat pada beberapa tempat di Ibu kota, namun yang membedakannya adalah adanya sebuah gambar lambang Night Raid beserta satu kalimat dibawahnya.

[Hukuman dari langit. Night Raid]

"Memang benar, jika dilihat dari lambang dan kalimat itu maka tidak diragukan kalau kitalah yang sudah melakukannya." ujar Naruto.

"Apalagi yang menjadi target kali ini adalah tokoh-tokoh politik, sudah pasti Kekaisaran akan langsung berusaha untuk menangkap kita semua." ucapan Bulat.

"Dengan kata lain, perbuatan Kekaisaran kali ini mencoba menjadikan Night Raid sebagai kambing hitam." tebak Leone.

"Benci aku mengakuinya tapi kau benar Leone, aku juga yakin sekali kalau Esdeath yang berada dibalik tuduhan terhadap kita. Dari dulu aku selalu tidak bisa menebak apa yang ia rencanakan." pandangannya melihat serius kearah semuanya. "Jadi, langkah apa yang harus kita ambil dalam kasus ini?"

"Aku memang masih baru dalan dunia yang hitam ini dan tidak mengetahui apapun tentang politik, tapi..." tatapan Tatsumi langsung menahan. "Mencoba untuk mengkambing hitamkan Night Raid dengan tuduhan pembunuhan yang tidak kita lakukan, adalah perbuatan yang sangat kelewatan!"

Mendengar deklarasi Tatsumi membuat semuanya menjadi semangat. Najenda pun menunjukkan seringainya dan ia langsung menyambar jubah hitam miliknya.

"Bagus kalau begitu, Tatsumi! Misi kali ini adalah menghentikan dan mengeksekusi pelaku pembunuhan tokoh politik. Kita tunjukkan kepada mereka bagaimana pembunuh yang asli dan berpengalaman melakukannya!" ucap Najenda.

"Akame dan Lubbock, kalian awasi tokoh politik yang saat ini sedang beristirahat di desa yang ada di arah tenggara Ibu kota!" Akame dan Lubbock menjawab dengan tegas, Najenda pun menoleh kekiri. "Bulat dan Tatsumi, awasilah tokoh politik yang besok akan berangkat dari pelabuhan yang ada ditimur Ibu kota." menerima perintah itu, Bulat dan Tatsumi menjawab dengan tidak kalah tegas.

"Tapi, dia mau pergi kemana, bos?" tanya Tatsumi.

"Target kalian akan berencana pergi ke kota yang ada diseberang sungai. Saking besarnya sungai itu sehingga Kekaisaran membuat sebuah pelabuhan beserta satu kapal yang sangat besar. Nama kapal itu adalah, Ryuusen." jelas Najenda.

Mendengarnya sudah membuat Tatsumi sangat penasaran. Emangnya sebesar apa kapal itu?"

--o0o--

Keesokan harinya, pertanyaan kemarin akhirnya terjawab. Mata coklatnya memandang tidak percaya dengan apa yang ads dihadapannya saat ini.

"Be-besarnya!!" jeritnya.

Dengan pakaian rapi dan bagus bagaikan orang kantoran, Tatsumi berniat menyamar menjadi salah satu pengawal yang menjaga tokoh politik penting. Pedang gedoudama senantiasa ia pasang dibelakangnya

'Didalam kapal ini akan menjadi medan pertempuran.' pandangan Tatsumi menajam. 'Kami pasti akan menghentikan pelaku dari penipu tersebut.'

Tanpa ia dan Bulat (sedang menjadi tembus pandang karena Incursio) sadari, ada tiga orang mencurigakan yang memakai kain tebal untuk menutupi tubuh mereka, sedang berjalan mengendap-ngendap bagaikan pencuri profesional.

"Ayo cepat, kita harus segera naik kedalam kapal." pinta salah satu dari mereka.

--To Be Continued--

Note

: Alhamdulillah, akhirnya selesai juga ini chapter 9. Ane minta maaf jika cukup lama untuk update ni cerita.

Terima kasih untuk yang sudah mau membacanya dan ane harap kalian terhibur dengan cerita ane ini. Ada beberapa yang merasa heran, kenapa disini Naruto terlihat lemah.

Untuk hal itu akan ane jawab lain kali, jika kalian bingung dengan penjelasan Sai diatas. Waktu kejadiannya ialah saat mereka (Shinobi Konoha) gagal untuk menyegel Sanbi. Mungkin itu saja yang ane ucapin, sekali lagi terima kasih sudah mau membaca.

See you later ~

(Next Update: The Fate Of The Heroes)

--Minggu, 07-Februari-2021----Pukul 11:35--