.

The Interstellar Nation Army Become a Mercenary

Chapter 5

Piña de Lada Saderanova

.

Naruto Point of View (POV)

Kedua mataku melebar oleh fenomena biasa yang berada tepat di hadapanku.

Gadis itu... gadis itu baru saja mengeluarkan cahaya dari dalam tubuhnya. Intersitas cahayanya memang tidak terlalu tinggi, namun itu cukup untuk menerangi daerah di sekelilingnya hingga mencapai jarak kurang lebih 3 meter.

Dari mana cahaya itu berasal? Jika mengacu pada ilmu biologi, memang benar ada beberapa makhluk hidup yang dikatakan memiliki kemampuan untuk menghasilkan cahaya sendiri.

Namun, tak ada satupun reaksi yang sesuai dengan pengetahuan biologi yang pernah kupelajari. Ada juga kemungkinan bahwa gadis itu memiliki semacam organ khusus yang mampu menghasilkan cahaya sendiri layaknya ekor pada kunang-kunang. Namun, dugaanku itu juga ditepis oleh hasil analisa nano-mechine yang berada di dalam tubuhnya.

Tidak ditemukan satu pun organ khusus yang mampu menghasilkan cahaya sendiri. Sebagai gantinya, nano-machine menangkap pergerakan tak biasa dari suatu unsur biokimiawi* yang berada di dalam tubuh gadis itu.

A/N*: Biokimiawi (Biokimia) adalah senyawa kimia yang terdapat di dalam sel atau tubuh makhluk hidup.

Unsur ini benar-benar baru. Tidak ada satu pun catatan yang membahas tentang unsur ini di masa lalu. Ada juga kemungkinan bahwa ini hanya kesalahan tak disegaja yang dilakukan oleh nano-machine karena kurangnya data yang dimilikinya untuk melakukan trial and error.

Jika ada yang harus aku simpulkan dari fenomena ini, maka jawaban yang akan kuberikan adalah 'tidak tau'.

'Wise, yang barusan itu... bisakah kau menganalisanya?'

[Itu dimungkinkan. Namun, saya perlu melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam. Setidaknya, hasilnya akan keluar dalam waktu satu hari lagi.]

'Kuserahkan sisanya padamu.'

[Roger.]

Aku memandang gadis itu dengan dalam. Jika memang ada unsur biokimiawi tak dikenal yang berada di dalam tubuhnya, hal ini tentu akan menjadi bahan penelitian yang menarik untuk dipelajari. Ada juga kemungkinan bahwa unsur tersebut memiliki sifat-sifat bawaan yang mungkin saja lebih dari sekedar apa yang kubayangkan. Namun, hal ini baru akan terjadi di masa depan.

Ini tidak seperti aku ingin membedah gadis itu layaknya tikus yang biasa digunakan sebagai objek penelitian. Namun, keingintahuanku akan sesuatu yang belum pernah dipelajari agak merangsangku untuk menggalih lebih dalam.

Yah, kita kesampingkan hal itu untuk nanti. Yang terpenting sekarang adalah memulihkan tubuh gadis itu dan kemudian mempelajari bahasanya agar aku bisa lebih memahami pola berpikir masyarakat lokal yang tinggal di planet ini.

Kemudian, aku mengambil sebotol air mineral dan dua potong ransum yang sebelum sudah aku simpan di dalam tas.

Masing-masing ransum memiliki rasa yang berbeda, manis dan asin. Ah... aku jadi teringat dengan adik perempuanku yang suka sekali dengan makanan-makanan berkalori tinggi seperti kue dan sejenisnya.

Kira-kira, apakah gadis ini juga menyukai hal-hal yang manis seperti adik perempuanku? Ya, mungkin saja. Lagipula aku memang tidak terlalu suka makan makanan yang terlalu manis. Jadi aku putuskan untuk memberinya ransum itu.

Namun sebelum itu, aku perlu memberinya air minum terlebih dahulu. Sebab, akan susah nantinya jika dia tiba-tiba pingsan hanya karena kekurangan cairan di dalam tubuh.

Aku lalu menuangkan air ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada gadis itu. Dia langsung meminumnya saat itu juga. Setelah isinya kosong, kemudian aku kembali menuangkan air ke dalam gelas itu dan dia kali ini hanya meminumnya sedikit. Untuk sesaat, pandangannya terpaku pada gelas yang berada di tangan kanannya.

Tentu saja, aku juga meminum bagianku sendiri. Lagipula aku benar-benar kehausan setelah semua hal melelahkan yang terjadi selama kurang dari satu hari ini. Jadi aku perlu mengisinya kembali sesegera mungkin.

Setelah puas, aku lalu memberi ransumku kepada gadis itu. Namun, bukannya dia langsung memakannya. Gadis itu hanya menatap ransum tersebut seakan bertanya, 'Apakah ini bisa dimakan?'

Duh... Aku lupa bahwa gadis ini hanya memiliki satu tangan sekarang. Aku benar-benar merasa berdosa karena secara tidak langsung melecehkannya seperti itu.

Aku lalu mengambil kembali ransum itu, menyobek bungkusannya dan menyerahkannya kepada gadis itu. Setelah menatapku sejenak, dia kemudian mengambil satu gigitan.

Setelah itu, dia menghabiskan semua ransum itu seperti orang rakus. Kurasa dia belum pernah makan apapun dengan rasa seperti itu sebelumnya. Sungguh kasihan...

Aku pun mulai menyantap bagianku dengan lahap. Rasanya enak sih, tapi entah kenapa seperti ada yang kurang.

Aku rindu masakan ibuku.

...

Piña POV

Sulit dipercaya bahwa dia akan setenang ini setelah memakamkan semua jenazah teman-temanku, termasuk anggota tubuhku sendiri.

Mungkinkah dia seorang tabib yang sedang menyamar? Ada juga kemungkinan bahwa dia merupakan seorang pengguna sihir medis yang sangat handal. Sebab, jika dilihat dari bekas amputasi yang aku miliki, hampir tidak ada bercak darah yang tertinggal di sana. Aku juga tidak merasakan sakit sama sekali.

Hanya saja, jenis sihir apa yang dia gunakan untuk merawat luka-lukaku?

Dulu, ketika aku masih tinggal di istana kekaisaran. Aku mengenal beberapa orang tabib yang telah mengabdikan diri mereka untuk keluarga kaisar selama puluhan tahun.

Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu menyembuhkan luka bekas amputasi hanya dalam hitungan jam. Bahkan dengan sihir penyembuhan pun, butuh waktu setidaknya 2 hingga 3 hari untuk benar-benar bisa memulihkan luka bekas amputasi.

Seperti yang diharapkan dari seorang dermawan yang telah menyelamatkan hidupku. Aku menyesal karena sempat mengira bahwa dia adalah musuhku.

Ketika aku mengucapkan sumpah kepada dewi, pria itu tampak terkejut oleh sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Biasanya, ritual untuk bersumpah kepada dewi ini hanya bisa dilakukan secara tertutup dan disaksikan secara terbatas oleh pihak keluarga, bangsawan dan sang pendeta agung. Karena status sosialku yang tergolong tinggi, aku diberi banyak kesempatan untuk menyaksikannya secara langsung.

Namun, bagi orang biasa yang bukan berasal dari kalangan bangsawan, pemandangan ini tentu bukan sesuatu yang biasa dilihat oleh mereka. Jadi wajar saja jika dia akan bereaksi seperti itu.

Sesudah itu, aku lalu disodorkan segelas air oleh pria itu. Karena aku merasa sangat haus, aku lalu meminumnya saat itu juga. Setelah isinya habis, dia kembali mengisi gelas tersebut dengan air dan menyerahkannya lagi kepadaku.

Setelah aku menjadi sedikit lebih tenang, aku perhatikan ada sesuatu yang aneh dengan gelas kaca yang berada di tanganku ini.

Gelas ini terlihat cukup tipis dan setelah isinya kosong, gelas ini ternyata sangat ringan, lebih ringan dari apa yang kusangka. Bahkan permukaannya pun juga sangat halus, menandakan cara pembuatannya yang sangat rumit.

Kira-kira, berapa banyak uang yang diperlukan untuk dapat membuat gelas seindah ini?

Selagi aku masih melamun, pria itu kembali mengeluarkan balok logam yang sebelumnya pernah dia sodorkan kepadaku.

Aneh. Menilai dari beratnya, ini tentunya bukan terbuat dari logam. Lalu, untuk apa dia memberiku benda ini? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.

Setelah melihatku ragu-ragu, pria itu lalu mengambil balok logam itu dari tanganku. Di luar dugaan, permukaan metalik yang menutupinya itu tenyata adalah sebuah pembungkus.

Sekali lagi, aku dibuat terkejut olehnya. Yang kukira awalnya balok logam, ternyata adalah sesuatu yang dibungkus oleh pembungkus metalik.

Pria itu kemudian memberi isyarat kepadaku untuk memakannya. Jadi ini makanan?!

Ketika aku mendekatkannya ke mulutku, ada bau harum yang tercium darinya. Penasaran, aku lalu menggigitnya sedikit.

Ini manis! Mungkinkah ini sejenis makanan penutup? Rasanya manis dan memiliki tekstur yang lembut. Tanpa sadar, aku lalu memakannya sampai habis.

Enaknya~ baru kali ini aku memakan kudapan yang seenak ini.

Pria itu juga selesai memakan bagiannya. Kemudian, dia menunjuk dirinya sendiri dan berkata "Na-ru-to". Dia sempat berhenti lalu kembali berkata "Na-ru-to Os-bern".

Apakah itu namanya? Ngomong-ngomong, aku juga belum memperkenalkan diriku dengan benar.

Aku menunjuk pria itu dan berkata "Nar-to". Berhenti sejenak, aku lalu kembali berkata "Na-ru-to Os-bern". Pria kemudian mengangguk senang.

Aku harus memperkenalkan diri juga. Aku menunjuk diriku sendiri dan berkata "Pi-ña". Sejenak aku berhenti kemudian mengungkapkan nama lengkapku. "Pi-ña de La-da Sa-de-ra-no-va."

Pria itu balas menunjuk ke arahku dan berkata "Pi-ña. Pi-ña de La-da Sa-de-ra-no-va" Dia berulang kali menyebutkan namaku selama beberapa detik.

Selagi sibuk mengucapkan namaku, aku fokus pada ekspresi pria itu. Bahkan setelah mendengar nama belakangku, pria ini tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Sesuai dugaanku, orang ini… bukan, Sir Naruto Osbern bukanlah penduduk lokal dari kekaisaran ini.

Tapi meski begitu, apakah sebenarnya dia seorang bangsawan? Sulit dibayangkan bahwa barang-barang seperti gelas kaca dan kudapan lezat itu dimiliki oleh orang biasa.

Aku cukup familiar dengan keluarga bangsawan utama di kekaisaran ini, dan keluarga bangsawan di negara tetangga juga. Tapi aku belum pernah mendengar keluarga bangsawan dengan nama Osbern.

Setelah kenyang, aku tiba-tiba merasa mengantuk. Mungkin itu karena aku merasa lega bahwa kemungkinan Sir Osbern berasal dari keluarga bangsawan.

...

Aku senang atas usahaku memperkenalkan diri berjalan lancar.

Piña de Lada Saderanova, kah?

Ada banyak hal yang masih ingin kutanyakan kepadanya, namun Piña tampaknya sudah sangat mengantuk. Dia memberikan isyarat, dengan lirih mengucapkan beberapa kata dan menjatuhkan dirinya ke atas selimut. Sedangkan aku, sangat kelelahan, namun sekarang masih terlalu dini untuk tidur dan ada sesuatu yang benar-benar harus kulakukan apapun yang terjadi.

'Kita dalam situasi darurat! Kita harus membuat organ buatan untuk Piña sebelum pagi!'

Tidak, bahkan mungkin kita tidak punya banyak waktu lagi.

[Organ buatan seperti apa yang ingin anda buat?]

'Yang dasar saja sudah cukup. Tidak perlu sampai memiliki kegunaan normal. Tapi aku ingin setidaknya memungkinkan dia untuk berjalan beberapa menit. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak stabil dan cepat hancur. Kau hanya diperbolehkan menggunakan material yang tersedia disini. Segera merancang modelnya.'

[Mohon pindai semua materi yang tersedia.]

Selagi melaksanakan apa yang diinstruksikan, aku mengingat kebenaran mengejutkan yang baru kusadari.

Piña baru saja meminum banyak air.

Kemungkinan dia harus 'membuang' sesuatu nanti.

Dia tidak bisa berjalan.

Aku tidak berpikir seorang gadis yang kehilangan tangan dan kakinya bisa menyelesaikan "urusannya" dengan benar.

Itu berarti… aku harus membantunya.

Masa depan mengerikan membuntutiku! Aku sebisa mungkin harus menghindari tragedi tersebut!

Pertempuranku baru saja dimulai.

...