Title : Love Me If You Dare

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun slight

Park Chanyeol x Do Kyungsoo

and others

Rating : T / General / Mpreg

(rating bisa berubah sewaktu-waktu)

Length : Chaptered


Chapter 9

Baekhyun menatap kosong pada pantulan bayangannya dicermin. Lalu menghela nafas. Resah.

Semenjak mengetahui kondisinya yang saat ini tengah mengandung seorang bayi, hari-hari Baekhyun selalu diliputi keresahan, ketakutan dan penyesalan yang dalam.

Segala sesuatu tentang kehamilan ini membuatnya tidak tenang. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan tidak pernah memimpikan sebuah pernikahan sampai bisa mengandung seorang bayi?

Sejak awal saat menyusun rencana masa depannya setelah memutuskan untuk hidup mandiri, kedua hal tersebut tidak pernah masuk kedalam list yang ingin Baekhyun jalani dikehidupannya.

Segala hal yang berkaitan dengan pernikahan dan bayi seolah membuatnya alergi, sehingga untuk membayangkannya saja Baekhyun tidak ingin.

Tapi, lihat apa yang terjadi sekarang.

Baekhyun meraba perutnya, menekan pelan titik dimana Dokter-nya biasa mengarahkan alat perekam denyut jantung seolah tengah berkomunikasi dengan janin-nya.

Mungkin hanya Baekhyun yang dapat merasakan hal tersebut, kehidupan yang ada didalamnya memang terasa nyata.

Disana letak bayinya.

Ia berusia enam minggu tepat dihari ini. Dokternya mengatakan janin-nya sudah berukuran seperti buah cherry. Sedikit lebih besar daripada sebelumnya Baekhyun diberi tahu saat janin-nya menginjak usia 'empat' ia hanya seukuran seperti kacang polong.

"Kenapa ia bisa begitu mungil didalam sini." gumam Baekhyun sambil tanpa sadar mengelus lembut perutnya.

DRTT DRTT

Aku sudah sampai.

Sebaris kalimat yang sampai diponselnya berhasil mengalihkan atensi Baekhyun. Ia kembali menarik nafas panjang untuk kesekian kalinya, lalu meraih topi yang telah ia siapkan diatas sofa dan berjalan keluar dari apartemennya.

Setidaknya semua keresahan ini akan segera berakhir, pikirnya sesaat setelah menutup pintu.

.

.

.

Chanyeol memarkirkan mobilnya tepat didepan gedung apartemen Baekhyun, setelah mengirimkan pesan singkat yang mengatakan bahwa ia sudah sampai, Chanyeol mematikan mesin mobilnya sambil menunggu.

Tidak perlu menunggu lama sosok yang ditunggunya telah muncul dari arah lobby utama, sosok itu sempat menarik tinggi topi hitam yang dipakainya untuk memastikan keberadaan mobil Chanyeol sebelum kembali menurunkannya hingga menutupi hampir setengah dari wajah kecilnya yang juga tertutupi masker, sambil berlari kecil ia menghampiri mobil Chanyeol yang terparkir.

Sesaat setelah ia berhasil masuk dan menutup pintu, baru Baekhyun melepaskan topi dikepala dan mulai mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya yang berkeringat.

Cuaca diluar begitu terik hari ini, negara mereka tengah melalui pertengahan musim panas dimana matahari akan bersinar paling cerah tanpa awan-awan yang menghalangi.

Dan tepat hari ini pula Baekhyun memutuskan keluar rumah dengan memakai hoodie panjang hitam, celana kain hitam, topi hitam dan dilengkapi pula dengan masker hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol sambil menaikkan suhu pendingin dimobilnya. Masih binggung dengan penampilan Baekhyun saat ini yang seolah-olah tengah berusaha−

"Bersembunyi." balas Baekhyun sambil mengusak rambut dikeningnya yang basah oleh keringat.

Oh, tebakannya benar.

"Bersembunyi dari siapa?"

Chanyeol menegok keluar dari jendela mobilnya, mengamati area sekitar apartemen Baekhyun dan tidak menemukan alasan yang tepat mengapa Baekhyun harus menyembunyikan dirinya hanya untuk masuk kedalam mobil.

"Kau bertanya karna tidak tahu atau kau benar-benar merasa tidak bersalah atas semua kekacauan yang kau ciptakan dihidupku saat ini?"

Hening beberapa saat.

Baekhyun berdehem setelah mengatakannya, ia tahu ucapannya tadi agak sedikit keterlaluan terlihat dari sorot mata Chanyeol yang berubah meredup seperti baru saja tertampar kenyataan yang menyedihkan dari ucapannya barusan.

Ia memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Chanyeol atas masalah yang terjadi diantara mereka saat ini, karna ia juga memiliki andil−Baekhyun sadar akan hal itu.

Tapi Baekhyun tidak menyesal telah berkata tega seperti tadi, sudah seharusnya ia memperjelas masalah yang tengah mereka alami saat ini bukan hal sepele dan Chanyeol mau tidak mau harus memahami hal itu walaupun mengecewakan baginya.

Ya, Chanyeol kalah telak.

Ia lupa kehamilan ini adalah bencana bagi Baekhyun, wajar saja kalau ia harus menyembunyikannya dari orang lain dan berhati-hati agar tidak ada lagi yang tahu rahasianya tersebut.

Karna mungkin memang hanya Chanyeol saja didunia ini yang bisa menerima dan bahagia akan kehadiran bayi yang ada didalam diri Baekhyun saat ini.

Hanya dirinya pun tidak apa-apa.

"Tunjukkan jalan menuju rumah sakitnya." senyum lebar Chanyeol kembali terlihat dibibir tebalnya saat mengatakannya, walaupun Baekhyun tahu ia memaksakan hal tersebut.

Baekhyun mengangguk walau masih canggung, ia sudah melepas masker yang dipakainya sejak tadi dan bernafas dengan lega. Terima kasih untuk pendingin di mobil mahal Chanyeol sehingga ia bisa merasa mulai nyaman saat ini.

Baru beberapa saat Baekhyun mengatakan ia merasa nyaman, jantungnya malah berdegup kencang sesaat setelah tangan Chanyeol tiba-tiba berada tepat dihadapannya, tangan besar itu melewati pundak menuju kebelakang lehernya dan untuk beberapa saat Baekhyun dapat mendengar deru nafas Chanyeol didepan wajahnya dengan begitu jelas.

Deru nafas yang mengingatkannya pada malam diujung gang yang gelap.

"Kau harus menggunakan sabuk pengaman." suara bass Chanyeol berhasil membuat Baekhyun seolah terhipnotis. Ia hanya menurut saat Chanyeol menarik tali sabuk pengaman tersebut untuk melingkari tubuhnya.

Hingga sesuatu didalam dirinya berdenyut ngilu saat tanpa sengaja tangan Chanyeol menyentuh perutnya yang tertutup hoodie saat berusaha memakaikannya sabuk pengaman.

Baekhyun refleks memegang tangan Chanyeol dan menjauhkannya dari sana. Ia sedikit terkejut dan merasa asing akan perasaan tersebut yang datang secara tiba-tiba didalam tubuhnya.

Apakah itu respon dari bayinya?

Apakah bayinya mengenali itu sentuhan dari Ayahnya?

"Kenapa?" tanya Chanyeol yang khawatir.

Chanyeol menatap tangannya yang bertaut dengan tangan halus milik Baekhyun. Itu adalah kontak fisik pertama yang Baekhyun lakukan sendiri padanya tepat setelah kejadian pada malam itu, sensasinya kali ini benar-benar berbeda mengingat saat ini ada sosok lain diantara mereka yang entah mengapa seolah menciptakan getaran yang aneh−dan hanya mereka berdua yang dapat merasakannya.

Baekhyun yang awalnya seperti terhipnotis akan sentuhan kecil Chanyeol kembali tersadar dan melepaskan genggamannya dari tangan Chanyeol, ia mendorong tubuh Chanyeol menjauh dan mengambil alih tali sabuk pengaman dan memasangkannya sendiri.

"Aku bisa melakukannya sendiri." ujarnya lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karna canggung.

Chanyeol tersenyum tipis melihatnya, sebaik apapun Baekhyun menyembunyikan wajah memerahnya Chanyeol tetap dapat melihatnya, karna sebenarnya bukan hanya wajahnya saja yang memerah tapi telinga mungilnya pun juga menunjukkan reaksinya yang sama.

Sangat manis.

Apapun yang ada di diri Baekhyun sangat manis dimata Chanyeol.

Seandainya mereka tidak berada didalam hubungan yang rumit seperti ini, Chanyeol ingin sekali memuji sosok tersebut dengan terang-terangan. Ia ingin mengatakan semua isi dikepalanya tentang Baekhyun. Mengungkapkan perasaannya tentang bagaimana Baekhyun amat sangat terlihat mempesona baginya.

Ya, seandainya.


.

.

.

Sejak keluar dari dalam mobil, Chanyeol memilih untuk tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menanggapi Baekhyun yang berusaha menjelaskan prosedur apa saja yang harus ia lakukan nanti sebelum pemeriksaan dilakukan.

Firasatnya mendadak tidak enak. Pikiran-pikiran aneh mengisi kepala Chanyeol saat ia mengekori Baekhyun yang berjalan diantara lorong-lorong panjang dengan beberapa ruangan praktek dokter ditiap lorongnya.

Diujung lorong ada ruangan lebih besar dimana meja resepsionis dan ruang tunggu pasien berada. Baekhyun menuju kesana, ia membiarkan seorang perawat mencatat nama dan memeriksa janji temu dengan dokter kandungannya di meja resepsionis.

Sedangkan Chanyeol tidak bisa memfokuskan dirinya untuk ikut mendengarkan saat Baekhyun berkonsultasi dengan perawat tentang pemeriksaan yang akan dilakukannya hari ini.

Ia terlalu takut. Ia ingin menepis pikiran buruknya tentang kemungkinan yang bisa saja akan terjadi.

Tidak.

Itu tidak boleh terjadi.

Atau semua ini akan menjadi semakin rumit.

"Chanyeol." sebuah tangan yang menepuk pelan lengannya mengembalikan kesadaran Chanyeol. "Ada apa?"

"Tidak−tidak ada apa-apa." jawab Chanyeol canggung memaksakan senyumnya. "Bagaimana? Apa yang dikatakan perawat."

"Ia mengatakan untuk menunggu. Saat ini dokter yang akan aku temui sedang bersama pasien lain."

"Hm, baiklah."

Baekhyun terlebih dulu mengambil langkah untuk duduk dikursi panjang ruang tunggu. Disusul Chanyeol yang juga ikut duduk disampingnya. Ia mulai mengamati sekelilingnya. Ini pertama kalinya Chanyeol berada diruang tunggu pasien khusus untuk Dokter kandungan.

Tiga baris kursi panjang yang ada dihadapannya dipenuhi dengan para calon orang tua yang tengah menunggu giliran dipanggil perawat untuk melakukan pemeriksaan atau sekedar berkonsultasi dengan Dokter.

Chanyeol dapat melihat perut-perut membuncit lucu dihadapannya dengan takjub. Dulu ia hanya benar-benar melihatnya dari jauh, Chanyeol tidak pernah berani mendekati para calon orang tua dengan perut membesar karna ia takut tangan cerobohnya dapat menciptakan kekacauan.

Bagi Chanyeol mendambanya dari jauh sudah cukup. Namun ia telah berjanji untuk menyentuhnya nanti secara langsung disaat ia juga diberi kesempatan yang sama yaitu−menjadi calon orang tua.

Ia menatap bagian perut Baekhyun yang telah sibuk dengan ponsel ditangannya.

Disana juga ada bayinya.

Dibalik hoodie hitam oversized yang kenakan Baekhyun saat ini pasti juga ada perut yang akan membuncit lucu nantinya. Chanyeol membayangkannya saat usia kandungan Baekhyun menginjak minggu ke tiga puluh mungkin nanti ia akan terlihat sama seperti calon Ibu yang kebetulan duduk disampingnya.

Si calon Ibu yang dimaksud Chanyeol terlihat mengusap perut membuncitnya dengan kasih sayang, dan disebelahnya itu pasti si calon Ayah yang juga melakukan hal yang sama diatas perut buncit tersebut.

Sang Ibu sempat meringis dan mengatakan bahwa bayinya menendang dari dalam perutnya, sang Ayah yang mendengar hal tersebut langsung mengecup perut istrinya, mengelus-elus dengan lembut dan berusaha membisikkan kata-kata untuk menenangkan bayinya.

Chanyeol tersenyum, ia benar-benar merasa tersentuh dengan apa yang baru saja ia saksikan didepan matanya.

"Kau iri dengan mereka?" tiba-tiba Baekhyun membuka suara.

Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang ternyata tanpa ia sadari juga tengah memperhatian kedua orang tersebut.

"Mereka terlihat bahagia." ujarnya kali ini sambil beralih menatap Chanyeol. "Kau juga bisa melakukan itu nanti."

"Hah?" Chanyeol terkejut dengan perkataan Baekhyun.

Ia juga bisa?

Apa itu berarti−

"Saat nanti kau menikah dengan Kyungsoo dan Kyungsoo mengandung seorang bayi, kalian pasti juga akan terlihat sama bahagianya seperti mereka."

Chanyeol terdiam beberapa saat, hingga ia seperti dapat mendengar retakan baru dihatinya yang sudah terlanjur rusak saat Baekhyun mengatakan hal tersebut. Kali ini retakannya benar-benar lebar sehingga Chanyeol bisa langsung merasakan sakit didadanya.

'Ya, tentu saja itu yang dimaksud Baekhyun. Apa yang kau harapkan Chanyeol.' ujar Chanyeol pada dirinya sendiri.

"Dan kau tau kan hari ini−sudah tepat satu minggu?" Baekhyun menatap ujung sepatu saat mengatakannya−menghindari tatapan Chanyeol.

Chanyeol terdiam. Ia tahu kemana arah pembicaraan tersebut.

"Setelah pemeriksaan hari ini aku akan meminta pada Dokter untuk segera menetapkan tanggal operasinya."

Baekhyun melirik Chanyeol dari sudut matanya. "Aku harap kau sudah bisa menerima keputusan yang aku pilih untuk menyelesaikan masalah ini."

"Kau benar-benar tidak akan berubah pikiran?" lirih Chanyeol tanpa menatap lawan bicaranya.

"Hmm." balas Baekhyun sambil mengangguk. " Sejak awal keputusanku memang hanya satu dan itu tidak berubah sampai saat ini."

Chanyeol memejamkan mata karna tiba-tiba ia merasakan hangat disekitar bola matanya. Ia mungkin akan menangis. "Baiklah."

"Aku harap setelah ini kau bisa bersikap seperti sebelum semuanya terjadi. Aku tidak ingin merasa canggung saat bertemu denganmu apalagi nanti saat dihadapan Kyungsoo. Aku ingin kau melupakan semua yang terjadi sebelumnya−aku juga akan melakukan hal yang sama."

Ah, menyebut nama Kyungsoo benar-benar membuat keadaan semakin canggung saat ini.

Untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam, sibuk dengan isi kepala masing-masing.

Baekhyun yang sibuk dengan perasaanya yang campur aduk antara merasa bersalah dan lega untuk beberapa alasan dan Chanyeol yang sibuk dengan perasaannya yang masih mencoba untuk menerima ini semua.

Tanpa disadari, Chanyeol hampir melupakan kekhawatiran yang ia rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki dirumah sakit tersebut. Ia lupa kalau beberapa saat yang lalu ia sedang mengkhawatirkan sebuah kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Walaupun peluangnya hanya satu persen dari sisa sembilan puluh sembilan lainnya, tetap saja Chanyeol merasa khawatir.

Saat pasangan calon orang tua yang tadi mereka bicarakan berjalan menghampiri sang perawat yang memanggil namanya, Chanyeol kembali mengalihkan perhatiannya pada kekhawatiran yang tadi dipikirkannya.

Kekhawatiran satu persen yang nyatanya bisa membalik sembilan puluh sembilan persen lainnya menjadi sebuah kenyataan yang mengejutkan.

.

.

.

Firasat Chanyeol memang tidak salah, kemungkinan buruk yang sejak tadi ditakutinya akhirnya menjadi kenyataan saat salah seorang perawat membawa mereka kesalah satu ruang praktek dengan nama gelar seorang dokter yang begitu dikenalinya tertera didepan pintu masuknya.

Saat pintu tersebut dibuka pandangannya langsung bertemu dengan bola mata coklat yang sama persis seperti miliknya, seorang wanita paruh baya dengan jas Dokter yang duduk dibalik mejanya segera berdiri saat menyadari sosok yang berdiri dibalik pintu ruang prakteknya saat ini adalah anaknya sendiri.

Ya, benar.

Dokter kandungan yang dimaksud Baekhyun untuk menangani kehamilannya selama ini adalah Ibu kandung dari Chanyeol.

"Chanyeol?" panggil wanita paruh baya tersebut. "Apa yang kau lakukan disini? Eomma masih ada pasien." ucap Dokter yang selama ini memeriksa kandungannya pada sosok pria dewasa yang berdiri disamping Baekhyun saat ini.

Eomma?

Baekhyun menatap kedua orang berbeda usia tersebut secara bergantian, masih mencoba memproses kejadian saat ini. Tidak, lebih tepatnya ia menolak untuk percaya dengan kenyataan didepan matanya.

"Tu−tunggu sebentar." Baekhyun mulai kehilangan kendali. "Jangan katakan kalau Chanyeol adalah anak anda Dokter Park?"

Sang Dokter yang ikut kebinggungan dengan suasana canggung yang tercipta diruangannya hanya menganggukan pelan kepala.

"Ya, Chanyeol adalah anak kandungku." ia membenarkan ucapan pasien yang dikenalnya selama beberapa bulan terakhir tersebut.

Mendengar jawaban Dokter Park, Baekhyun yang awalnya berdiri tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya hingga terbentur kelantai ruangan yang dingin, ia merasakan seolah dunianya kembali runtuh untuk kesekian kalinya sehingga kakinya sendiripun seolah tidak dapat lagi menopang tubuhnya. Wajahnya tertunduk dalam berusaha menyembunyikan air mata yang perlahan keluar dari sudut-sudut matanya.

Ia menangis. Benar-benar menangis saat kenyataan pahit kembali menghantamnya dengan kuat.

Siapa yang mengira kalau dokter yang selama ini memeriksa kandungannya, dokter yang akan membantunya untuk melakukan prosedur pengangkatan janin dan orang ketiga setelah Luhan dan Chanyeol yang mengetahui rahasia terbesar dikehidupannya itu adalah Ibu Chanyeol sendiri.

Bahkan iblis paling jahat didunia pun pasti tengah menertawakan nasib buruk yang terus menerus menimpa hidup Baekhyun saat ini.

Sial.

Mungkin adalah satu kata yang selalu mengambarkan kehidupan Baekhyun.

Dokter Park dengan sigap menghampiri Baekhyun dan merengkuh pundaknya. Ia mengusap-usap pundak Baekhyun berusaha menenangkan pasiennya tersebut yang menangis semakin kencang. Baekhyun bahkan berkali-kali meremas surai-nya dengan kuat seolah tengah menyesali akan pertemuan ketiganya di hari ini.

Walaupun sebenarnya Dokter Park pun masih belum mengerti dengan permasalahan yang sedang terjadi, ia saat ini masih seorang Dokter dan kondisi pasiennya adalah yang terpenting baginya.

Chanyeol yang telah memahami situasi sejak awal hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Ia benar-benar menghancurkan segalanya.

Harusnya ia tidak menerima tawaran Baekhyun kemarin. Harusnya ia tidak tergiur bisa mendengar denyut jantung bayi-nya seperti yang dikatakan Baekhyun kemarin.

Ia memang patut disalahkan atas semua kekacauan dihidup Baekhyun, bahkan untuk merasa menyesal pun Chanyeol tidak pantas lagi.

Ia benar-benar membawa kesialan.

"Chanyeol? Apa yang sebenarnya terjadi?" Dokter Park−yang sebenarnya adalah Ibu Chanyeol− bertanya dengan hati-hati setelah melihat kedua orang dewasa yang datang keruangannya memilih untuk tetap bungkam.

Baekhyun sudah berhenti menangis.

Namun ia tetap diam menatap lantai pualam yang didudukinya saat ini dengan pandangan kosong.

Chanyeol akhirnya menghampiri Baekhyun. Dalam sekali tarikan ia berhasil mengangkat sosok tersebut dari lantai dan membantunya untuk berdiri. Namun Baekhyun tidak memiliki tenaga untuk melakukannya, jadi Chanyeol menarik sosok tersebut kedalam rengkuhannya dan membiarkan Baekhyun menumpukan beban tubuh padanya.

"Aku akan menjelaskannya, tapi sebelum itu−" Chanyeol akhirnya buka suara. "Aku akan mengantarkan Baekhyun pulang terlebih dulu, Eomma."

.

.

.

Sepanjang perjalanan tidak ada yang berani memulai obrolan−atau lebih tepatnya mereka masih terlalu sibuk dengan isi pikiran masing-masing.

Baekhyun ingin menangis lagi−tapi sialnya−air matanya benar-benar tidak dapat keluar disaat seperti ini. Ia terlalu lelah untuk menangisi kehidupannya yang terlampau malang.

Ia mengasihani dirinya sendiri.

Sedangkan Chanyeol masih tidak menyangka bahwa kekhawatirannya malah menjadi kenyataan beberapa saat yang lalu. Awalnya ia hanya menebak-nebak kalau saja Dokter kandungan yang memeriksa Baekhyun adalah Ibu-nya sendiri saat Baekhyun mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit dimana orang tuanya bekerja.

Chanyeol hanya menebak, karna rumah sakit tersebut termasuk salah satu dari rumah sakit besar yang memiliki ratusan tenaga medis−termasuk untuk spesialis Dokter kandungan.

Di tiap lorong yang mereka lalui tadi adalah lorong khusus ruang praktek untuk para Dokter kandungan, jadi Chanyeol mengatakan kemungkinannya hanya satu persen dari sembilan puluh sembilan persen yang ada soal bisa saja Baekhyun selama ini ditangani oleh Ibu-nya.

Hal yang membuat Chanyeol mengatakan hal itu adalah karna ia memang belum pernah masuk ke dalam ruang praktek Ibu-nya, jadi awalnya ia juga sama sekali tidak mengetahui dimana letak ruangan tersebut.

Karna untuk Dokter senior dirumah sakit tersebut biasanya masing-masing memiliki ruang kantor dilantai yang berbeda, dan disanalah biasanya Chanyeol menemui orang tuanya saat berkunjung. Ruang kerja khusus untuk menerima tamu diluar pasien atau tempat pada Dokter saat menunggu jadwal praktek.

Ruang praktek memang hanya dikhususkan untuk Dokter dan pasien yang ditanganinya untuk pemeriksaan dan konsultasi.

Tapi sepertinya takdir sedang mencoba bermain-main dengan kehidupan mereka.

Tidak ada satupun diantara keduanya yang percaya ini semua terjadi adalah karna takdir. Mereka lebih percaya ini adalah sebuah kesialan.

Kesialan yang tidak bisa dihindari.

"Aku akan segera mencari dokter lain." suara parau Baekhyun akhirnya terdengar memecah keheningan.

"Tidak perlu, aku akan bicara pada Ibu ku"

Baekhyun mendengus kesal. "Apa yang akan kau bicarakan?"

"Ibu pasti akan mengerti."

"Mengerti! Mengerti! Chanyeol, kau selalu mengatakah hal itu." Baekhyun kali ini hampir memaki. "Kau pikir aku akan tetap membiarkan Ibu-mu yang membantuku mengaborsi bayi hasil dari kesalahan anaknya sendiri?"

Baekhyun benar-benar meremas kuat rambutnya kali ini. Tidak, ia tidak merasa sakit sedikitpun atas tindakannya barusan, ia hanya tengah menyesali nasibnya yang seolah-olah selalui dihantui kesialan.

Apakah ia perlu menjelaskan berapa frustasi dirinya saat ini?

Bayangkan saja−usianya baru dua puluh sembilan tahun ini, tapi ia sudah berkali-kali memikirkan cara untuk bagaimana mengakhiri hidupnya yang menyedihkan. Baekhyun berkali-kali mencari di mesin pencarian tentang bagaimana cara bunuh diri yang paling efektif atau sekedar tempat yang biasanya dipilih orang-orang untuk melakukan hal tersebut.

Tapi tentu saja, Baekhyun tidak mempunyai cukup keberanian untuk melakukannya, hal-hal seperti bunuh diri memang mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk dilakukan. Dan akibat dari dirinya yang pengecut ini lah, Baekhyun masih terjebak dengan situasi yang semakin rumit−seperti saat ini.

"Ibumu sudah mengetahui semuanya." lirih Baekhyun setelah mencoba untuk tenang sambil menyandarkan kepalanya dijok mobil. "Kau bisa mengatakan yang sejujurnya pada ibumu."

"Maksudmu−kau?"

"Ya, aku sudah menceritakan semuanya pada Ibumu. Walaupun aku tidak menyebutkan namamu dan Kyungsoo, Ibumu sudah mengetahui bagaimana bayi ini bisa hadir didalam tubuhku, alasanku ingin melakukan aborsi dan keputusanku yang sepenuhnya tidak menginginkan bayi ini."

Chanyeol akhirnya menepikan mobilnya dipinggir jalan, walaupun tidak diungkapkan Baekhyun tahu sosok itu pasti juga tengah merasakan keresahan yang sama seperti yang ia rasakan saat ini.

"Ini akan menjadi rumit." sorot matanya yang tajam seolah menggambarkan perasaannya.

"Kau pikir aku juga ingin membuat segalanya menjadi rumit?! Aku juga tidak menyangka kalau dokter yang selama ini aku temui dan aku biarkan mengetahui kisah sialan ini adalah Ibu mu."

"Anak ini adalah sebuah kesalahan."

"Aku tidak pernah menginginkan seorang anak didalam hidupku."

Baekhyun kembali diingatkan oleh ucapannya dulu saat pertama kali melakukan pemeriksaan. Sesuai prosedur rumah sakit tahap konseling adalah tahap pertama yang harus Baekhyun jalani dengan Dokter-nya. Baekhyun ingat sekali wajah teduh Dokter Park saat mendengarkannya dengan seksama, tidak ada tatapan menghakimi atau menyalahkan keputusannya dari Dokter paruh baya tersebut terhadap dirinya.

Untuk pertama kalinya Baekhyun merasa dimengerti dengan kondisinya.

"Tolong beri penjelasan untuk Ibumu. Walau aku mengenalnya hanya sebentar, aku tau dia adalah seseorang yang sangat baik. Dia tidak menghakimiku saat aku mengatakan ingin melakukan aborsi, ia tidak memandangku rendah saat aku mengatakan tidak menginginkan bayi ini dihidupku, aku yakin dia akan mengerti kalau kau menjelaskan padanya."

Chanyeol meremas kuat kemudi, memikirkan harus menghadapi Ibu-nya dan menjelaskan semua ini semakin membuat Chanyeol merasa bersalah.

Karna Chanyeol tahu betul dengan Ibu-nya, ia mengatakan semua akan rumit karna Chanyeol tahu Ibu-nya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ibu dan Ayahnya adalah kedua orang yang paling menghargai sebuah kehidupan. Maka dari itu pula mereka memutuskan untuk berprofesi sebagai seorang Dokter. Bagi keduanya sebuah kehidupan tidak akan bisa digantikan dengan apapun didunia ini, tidak akan ada yang bisa menukarnya apalagi merenggutnya begitu saja.

Ibunya memutuskan untuk menjadi spesialis Obstetri dan Ginekologi karna ia sangat menyukai suara dari seorang bayi yang berhasil ia bantu kelahirannya kedunia. Bagi Ibu Chanyeol bisa mendengar suara tangisan bayi saat pertama kali keluar dari dalam rahim sang Ibu adalah suara yang paling membahagiakan, tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang tua sang bayi yang telah menunggu-nunggu kehadiran kehidupan baru ditengah-tengah mereka.

Kalau bukan karna ia harus mengikuti kebijakan rumah sakit tempatnya bekerja yang juga menerima 'pasien aborsi dengan syarat khusus' Ibu Chanyeol juga sebenarnya tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut.**

Namun ia ingat dengan sumpah yang ia ucapkan saat menerima gelarnya dulu untuk selalu bekerja profesional dan membaktikan hidup untuk pasien, maka mau tidak mau Ibu Chanyeol pun juga harus melakukannya. Walaupun ia selalu sedih untuk melepas satu nyawa yang begitu amat dihargainya.**

Dan Ayahnya yang awalnya seorang Dokter Umum memutuskan untuk mengambil gelar spesialisnya untuk menjadi seorang Dokter Anak. Tidak perlu ditanya lagi alasannya, karna pasti alasannya hanya ada satu−karna Ayah Chanyeol sangat menyukai anak-anak.

Sayangnya setelah melahirkan Chanyeol, istrinya mengalami kelainan serviks dimana hal tersebut membuat Ibu Chanyeol sulit untuk melahirkan seorang anak kembali. Maka dari itu Chanyeol menjadi anak tunggal didalam keluarganya dan Ayahnya menghabiskan waktunya dengan merawat anak-anak dirumah sakit tempat ia dan Istrinya bekerja saat ini untuk mengobati kesedihannya.

Lalu dengan semua itu apa yang akan terjadi kalau kedua orang tua Chanyeol mengetahui mereka sebenarnya memiliki seorang cucu−yang begitu amat ditunggu kehadirannya−namun terancam tidak memiliki kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya terlahir kedunia?

Memikirkan reaksi orang tuanya saja sudah membuat hati Chanyeol sakit.

Ia tidak akan pernah bisa mengatakannya. Tidak sekalipun ia harus mencekik dirinya sendiri.

Chanyeol merasa akan benar-benar gila sekarang.

-To Be Continued-


.

.

.

Holaaaaa~~ Apakah masih ada yang ingat dengan story ini? atau karna kelamaan up nya jadi pada lupa jalan ceritanya? 😂

Maaf yaaa 😄 tapi yang penting aku tetep menuhin janji aku buat update yaa walaupun butuh waktu berbulan2 hehe

Aku tidak akan berkomentar soal jalan ceritanya 😁 jadi kalo ada yg bilang 'kok gini' atau 'kok gitu' aku enggak akan menjelaskan apa2 ya 😚

Karna masih on going dan konflik yang aku rencanakan juga belum keluar semua jadi silahkan nikmati aja jalan ceritanya walau bacanya bisa bikin kesel sendiri yaa haha (karna masih banyak kejutan2 menanti) 😉

Oh iya untuk kalimat dengan tanda baca (**) itu gaperlu dibawa serius ya, aku ngarang aja kok gausah dibandingin sama kehidupan nyata ya takutnya nanti dipermasalahkan 😂

Seperti biasa enggak perlu ditanya kapan chapter selanjutnya update, karna aku sendiri yg nulis pun enggak tau 😌

Jadi aku persembahkan Chapter 9 ini untuk kalian nikmati 😘

Enjoy and see yaa~~~