Makasih banyak untuk Kirinrin, Silent reader yang belum diketahui namanya, Zaleha2005, uyab4869 yang dari awal masih setia nungguin cerita ini, dan ABCOPQRXYZ :DDDDDDDDD
Terima kasih banyaaaaaakkkkkk karena masih mau baca cerita Heart.
Maaf kalau masih banyak kekurangan sana-sini, ku akan berusaha untuk menulis lebih baik lagi!
DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!
WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.
HEART
CHAPTER 9
KONSEKUENSI
NORMAL POV
DRRRTTT…
Suara getar ponsel membangunkan seseorang di tengah lelapnya malam, dia lalu bergerak hati-hati untuk melepaskan pelukan wanita yang juga terlelap disebelahnya ini agar tidak membangunkannya. Kemudian dia mengambil ponselnya dan diliriknya jam di ponselnya tersebut, 'ugh, masih jam dua pagi,' ucapnya dalam hati masih setengah sadar.
'Tunggu, bukan ponselku yang bergetar!' akhirnya dia menyadari bahwa ponselnya tidak memiliki notifikasi apapun. Dilihatnya ponsel disebelahnya. 'Sepertinya dari ponsel Ran' lalu ia mengambil ponsel tersebut dan melihat ada satu notifikasi pesan dengan nama pengirim yang cukup membuat rasa kantuknya hilang.
One New Message From: Shinichi
Oi, Ran! Kau sudah tidur? Ada sesuatu yang harus aku bicarakan kepadamu. Kabari aku jika kau sedang senggang.
'Huh, baro! Tentu saja wanitaku ini sudah tidur! Kau pikir sekarang jam berapa, Kudo? Kalau pun kau berpura-pura sedang di luar negeri harusnya kau memilih waktu yang tepat untuk menghubunginya!' maki orang itu dalam hati.
Orang itu kemudian membaca lagi pesan dari Conan dan mencoba menelaahnya. Apa yang ingin dibicarakan bocah detektif itu dengan Ran? Sepertinya penting sekali. Apakah ada hubungannya dengan kelanjutan hubungan mereka berdua?
"Ugh, mengganggu saja!" dia sedikit melempar ponsel Ran ke atas meja yang tentu saja membuat Ran agak tersentak dari tidurnya.
"Kau sudah bangun, Sayang? Ada apa?" tanya Ran setengah sadar.
"Maafkan aku, Sayang. Aku jadi membangunkan tidurmu," ucapnya merasa bersalah setelah tanpa sengaja membangunkan kekasihnya, lalu ia membelai rambut Ran dengan lembut. "Detektif itu mengirim pesan kepadamu."
"Eh, Shinichi?" Ran terbangun dari posisinya sekarang untuk duduk di sebelah Eisuke, kekasihnya.
"Siapa lagi memangnya? Ayahmu? Hahaha…" Eisuke berusaha menahan kesalnya dengan candaan.
Ran mencoba mengambil ponsel yang tergeletak di meja di sisi kanan Eisuke, tapi Eisuke segera menggamit pinggang Ran agar Ran berada di pangkuannya. Eisuke menggenggam tangan Ran erat dan menatap Ran lekat-lekat.
"Ummm… Ayolah, Sayang. Apa kau begitu cemburu karena pesan itu hingga tidak memperbolehkanku melihatnya sendiri?" tanya Ran sambil tersenyum, menggoda kekasihnya.
Eisuke tidak menjawab pertanyaan Ran karena Ran pun pasti sudah tahu jawabannya. Dia memang masih menyimpan sedikit rasa cemburu jika Ran masih berhubungan dengan lelaki masa lalunya, walaupun ia juga tahu hal seperti ini sia-sia saja karena walaupun tanpa sosok Shinichi, masih ada sosok Conan yang selalu berada di dekat Ran. Ia tidak bermaksud menjadi lelaki egois, tapi kadang-kadang sifat kekanakannya ini mendominasinya hingga menimbulkan kecemburuan yang mendalam walaupun ia juga sadar bahwa ia sendiri yang membebaskan Ran untuk menyelesaikan hubungan dengan detektif itu kapan pun saat Ran sudah siap.
Menyelesaikan hubungan disini bukan lantas mengartikan bahwa hubungan Ran dengannya adalah hubungan terlarang seperti perselingkuhan, tidak, bukan itu. Ran sendiri mengatakan bahwa detektif itu hanya sempat menyatakan perasaannya di London, namun setelah itu tidak ada kepastian apapun tentang kelanjutan hubungan mereka. Menyelesaikan hubungan yang dimaksud adalah bahwa kekasihnya itu sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Shinichi Kudo dan menganggap Shinichi Kudo hanya sebagai sahabat masa kecilnya. Itu saja.
Ran bukan sepenuhnya tidak siap untuk mengatakannya, tapi entah kenapa dia belum menemukan timing yang tepat untuk mengatakannya, hingga tanpa terasa sudah satu setengah tahun Ran menjadi kekasih Eisuke, tapi dia masih belum sempat membicarakan hal itu dengan Shinichi.
"Baiklah, baiklah, katakan padaku! Shinichi mengirim pesan apa kepadaku?" tanya Ran lagi, melepaskan genggaman tangan Eisuke kemudian mengalungkan tangannya di leher Eisuke dan melekatkan dahinya ke dahi Eisuke. Ran tahu cara untuk meredakan sedikit kecemburuan Eisuke adalah dengan bermanja-manja kepadanya dan biasanya itu selalu berhasil.
Wajah Eisuke memerah karena wajah Ran begitu dekat dengannya walaupun masih ada rasa kesal karena mengingat pesan dari Conan. "Sepertinya ada hal yang sangat penting yang ingin dibicarakan denganmu. Entah kenapa aku jadi membayangkan hal penting itu adalah… huh, kau tahu kan detektif itu sering bertindak sesukanya. Mungkin saja dia bermaksud melamarmu! Aku tidak bisa membiarkannya melakukan itu kepadamu! Enak saja dia mau merebut kekasihku!"
Ran menaikkan alisnya, heran, kemudian menegakkan punggungnya, membuat jarak lagi antara wajahnya dengan wajah Eisuke. Melamarnya? Mana mungkin lelaki tidak peka yang sudah jarang menghubunginya ini akan melamarnya. Ran mengenal Shinichi dari kecil dan dia menyadari bahwa akhir-akhir ini hubungannya tidak begitu baik dengan Shinichi. Tidak begitu baik dalam artian intensitas berkomunikasi yang sudah amat sangat jarang. Awalnya Ran memang ingin menghindari Shinichi agar perasaannya tidak tumbuh kembali, hingga dia hanya membalas singkat pesan dari Shinichi, kadang malah tidak dibalas sama sekali, atau ketika Shinichi meneleponnya, kadang-kadang Ran sengaja tidak mengangkatnya. Ran beralasan dia sibuk dengan kegiatan kampusnya dan biasanya Shinichi tetap akan menghubunginya, namun beberapa bulan belakangan ini Shinichi sangat jarang menghubunginya. Ran pikir Shinichi memang sedang sibuk menyelesaikan kasus rumitnya tapi sepertinya Ran mulai menyadari kalau Shinichi juga menghindarinya. Ini baru sebatas asumsi Ran saja, dia belum memiliki bukti kuat mengenai itu. Jikalau memang benar Shinchi menghindarinya, bukankah ini langkah awal yang bagus untuk Ran agar bisa menyelesaikan hubungan mereka? Jadi ketika Eisuke berpikir bahwa Shinichi akan melamarnya, sepertinya hal penting yang dimaksud bukanlah lamaran.
"Oh, ayolah! Mana mungkin dia akan melamarku. Cemburumu berlebihan sekali. Kalau pun dia melamarku, tentu saja aku akan menolaknya! Aku kan sudah memilihmu, Sayang," Ran menggoda Eisuke lagi, kali ini dia meletakkan telunjuknya di dahi Eisuke lalu dengan lembut menelusuri setiap inci kulit wajah Eisuke dari dahi turun ke pangkal hidung, batang hidung, philtrum, bibir dan berakhir di dagu Eisuke, kemudian Ran menarik dagu Eisuke dengan telunjuknya hingga mendekat ke wajahnya dan Ran mencium kekasihnya tepat dibibirnya lalu tersenyum setelahnya.
Siapa yang mengira kalau Ran bisa se-seductive ini di depan Eisuke? Bahkan di depan Shinichi, sahabat kecilnya, Ran masih menyembunyikan sisi dirinya yang ini. Ran tidak berubah, dia masih seorang gadis polos yang baik hati jika berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya, tidak pernah ada kepura-puraan dalam kebaikan hatinya, tapi Ran bisa se "aktif" ini karena dia benar-benar mempercayai Eisuke, Ran bisa nyaman menjadi dirinya yang sebenar-benarnya. Apakah Ran tidak mempercayai Shinichi? Tidak mempercayai sepenuhnya bukanlah jawaban yang tepat, namun Ran masih belum bisa seterbuka itu terhadap Shinichi, seperti ada sesuatu yang menahannya. Memang begitulah sifat manusia, selalu ada sisi misterius yang tersembunyi yang tidak akan diperlihatkan kepada siapapun kecuali orang itu sudah benar-benar mempercayainya.
Eisuke bersyukur Ran percaya kepadanya walaupun dia baru mengenal Ran selama kurang lebih 3 tahun dan tentu saja ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan dari Ran. Walaupun harus menjalani Long Distance Relationship tapi Eisuke setiap hari selalu menghubungi Ran untuk menanyakan keseharian yang dilalui wanitanya ini, setiap ada waktu libur –jika tidak ada tugas menumpuk diperkuliahannya- Eisuke akan menyempatkan pulang ke Jepang untuk menemui kekasihnya. Sebenarnya dia ingin segera melamar Ran dan tentu saja ia sudah membicarakan rencana ini dengan Ran, tapi Ran ingin mereka berdua menyelesaikan studinya dulu atau minimal Ran sudah merampungkan kuliahnya sehingga akan lebih mudah bagi Ran untuk pindah mengikuti Eisuke nantinya setelah menikah.
"Lagipula, sepertinya ini akan menjadi kesempatanku untuk mengakhiri semuanya dengan Shinichi. Kau percaya padaku kan, Sayang? Tenang saja, aku tidak akan kembali kepadanya."
Eisuke tidak menjawab pertanyaan Ran, dia mengecup bibir Ran dengan lembut, itu sudah cukup menjawab pertanyaan Ran. "Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga."
Lalu mereka kembali berciuman, kali ini lebih panas dari sebelumnya. Aura cinta mengudara di dalam kamar itu.
'Hoaaahmmm…' Conan menguap bosan saat mendengarkan penjelasan Ibu Kobayashi tentang materi bangun datar. 'Ugh, harusnya saat ini aku mungkin sedang sibuk menelaah jurnal-jurnal kriminologi di perpustakaan kampus bukan malah mempelajari tentang luas segitiga seperti ini!' rutuk Conan dalam hati.
"Bersabarlah, aku juga sedang berusaha untuk meneliti formula yang tepat untuk penawar racun itu. Nikmati saja proses menghitung luas segitiga ini, siapa tahu akan berguna untuk deduksimu. Mungkin," bisik Haibara dengan wajah pokerface nya seakan bisa mendengar isi hati lelakinya itu.
Conan menoleh ke arah suara itu, takjub. Apakah dia berpacaran dengan seorang cenayang alih-alih ilmuwan? Bagaimana mungkin dia selalu dengan tepat dapat menebak isi hati Conan?
"Apa?" Haibara memberikan death glare andalannya.
"Hahaha… tidak apa-apa, Shiho," Conan hanya bisa sweat drop.
DRRRTTT…
Conan merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya, lalu dengan hati-hati –tentu saja agar tidak ketahuan Ibu Kobayashi- mengambil ponsel tersebut dan meletakannya di kolong mejanya.
'Hah, Ran?'
Conan melihat nama itu dinotifikasinya.
Maaf Shinichi, aku baru membaca pesanmu.
Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu.
Bagaimana kalau hari ini?
Kabari aku ya.
'Ran juga ingin membicarakan sesuatu denganku? Hmmm…' Conan bertanya-tanya dalam hati segala kemungkinan tentang apa yang ingin dibicarakan Ran kepadanya.
Haibara melirik sekilas dari ujung matanya ke arah ponsel Conan, dia sempat melihat nama Ran di layar ponsel Conan. 'Ugh, gadis itu sudah membalas pesannya.'
DONGDENGDENGDONG… DONGDINGDINGDONG… DINGDONGDINGDONG… DONGDENGDENGDONG…
Bel tanda pelajaran hari ini telah usai berbunyi nyaring, anak-anak sudah diperbolehkan pulang kecuali yang hari ini mendapat jadwal piket.
"Oi, Shiho. Kau jangan pulang sendirian, tunggu aku, oke! Piketnya tidak akan lama," perintah Conan saat mereka sedang sibuk memasukan buku ke dalam tas.
"Ai Chan!"
Belum sempat Haibara menjawab Conan, Ayumi datang menghampiri mereka berdua.
"Temani aku ke toko roti di ujung jalan sana ya, Ai Chan," Ayumi memohon kepada Haibara.
Conan sebenarnya hendak protes tapi Haibara memberikan isyarat "sebaiknya kau diam saja, Shinichi!" sehingga Conan mengurungkan niat protesnya.
"Baiklah, sepertinya aku juga akan bosan jika harus menunggu sendirian," ucap Haibara melirik sebentar ke arah Conan.
Conan mendengus kesal, lalu dia bersiap untuk melaksanakan tugas piketnya. Haibara menahan tawanya.
"Eh, memangnya kau sedang menunggu siapa, Ai Chan?" tanya Ayumi bingung.
"Ah, bukan siapa-siapa. Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Jadi kemana kita harus pergi?" Haibara menarik tangan Ayumi keluar kelas.
Conan hanya bisa menatap kepergian Haibara, gadis itu memang tidak pernah bisa langsung menuruti permintaannya.
DRRRTTT…
Ponsel Conan bergetar, ia lalu mengecek notifikasi di ponselnya.
One New Message From: Shiho
Aku hanya sebentar. Akan kubelikan Lemon Pie kesukaanmu nanti.
PS: Muka cemberutmu lucu sekali, Shin!
Conan tersenyum membaca pesan dari Haibara. Gadis itu memang tidak pernah bisa langsung menuruti permintaannya, selalu saja berbelit-belit entah kemana hingga Conan kesal, tetapi pada akhirnya dia tetap akan menuruti Conan.
"Ai Chan, menurutmu bagaimana? Haruskah aku membeli keik cokelat ini atau keik strawberry ini?" tanya Ayumi saat mereka sudah ada di dalam toko roti dan sedang memilih-milih kue apa yang harus dibeli untuk Ayumi.
"Hmmm… Aku rasa jika kau bermaksud memberikan ini kepada ibumu, keik strawberry ini akan terlihat cantik untuknya dan kau ingat kan jika aku tidak terlalu menyukai rasa manis, jadi aku merekomendasikan keik strawberry ini karena manis bukanlah rasa dominan di keik ini. Ada juga rasa asam dari strawberry yang cukup menyegarkan," Haibara memberikan jawabannya.
"Sudah kuduga! Terima kasih, Ai Chan. Aku akan membeli keik strawberry ini untuk ibuku."
Ayumi sibuk berbicara dengan kasir, sementara Haibara berkeliling untuk mencari Lemon Pie untuk Conan dan mungkin beberapa roti untuk cemilan dia dan Hakase.
"Kau membeli apa saja, Ai Chan?" tanya Ayumi ketika melihat Haibara akan membayar pesanannya.
"Beberapa roti untukku dan Hakase dan juga ini," Haibara menunjukkan Lemon Pie untuk Conan.
"Eh, bukankah ini pie kesukaan Conan? Kau membelikan untuknya? Kenapa?" tanya Ayumi lagi, dia penasaran dan mungkin sedikit cemburu, kenapa Haibara yang biasanya enggan membelikan sesuatu untuk Conan –malah biasanya dia yang dibelikan barang ini itu oleh Conan- justru sekarang malah membelikan makanan kesukaan Conan.
"Iya, ini untuknya. Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin memberikan ini kepadanya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah sering memberikanku barang mahal," jawab Haibara santai, dia tahu kalau Ayumi sedikit cemburu kepadanya.
"O-oh, begitu ya? Haha…" Ayumi hanya bisa sweat drop. 'Benar juga, sepertinya aku terlalu berpikir berlebihan' batin Ayumi.
Haibara dan Ayumi sudah keluar dari toko roti dan mereka berpisah di dekat jembatan penyebrangan karena Ayumi harus segera mempersiapkan pesta kejutan untuk ulang tahun ibunya.
DRRRTTT… DRRRTTT… DRRRTTT…
Ponsel Haibara bergetar, Conan meneleponnya.
"Hmmm… Kau sudah selesai?"
"Aku di jembatan penyebrangan."
"Iya, baiklah. Lima menit! Kalau lebih dari itu, aku pergi!"
Haibara menutup teleponnya sambil tersenyum membayangkan Conan sedang berlari kesini karena ancamannya. Senang sekali bisa mengganggunya!
"Haaahhh… Haaahhh… Haaahhh… Empat menit empat puluh delapan detik!" ucap Conan sambil berusaha mengatur napasnya yang sesak setelah berlari. Haibara malah tertawa melihatnya.
"Huh, kau sudah puas, Shiho? Kau tahu kan jarak dari sekolah ke tempat ini sekitar tiga belas menit dan kau menyuruhku sampai disini hanya dalam lima menit?" protes Conan masih sambil mengatur napasnya.
"Hehehe… Gomen, Shin," Haibara yang awalnya hanya ingin bercanda dengan Conan justru jadi merasa sedikit bersalah kepada kekasihnya itu. Yah, mungkin kali ini dia sedikit berlebihan pada Conan. Haibara lalu mengambil tisu dan mengusap keringat di dahi Conan, dia juga memberikan sebotol air mineral untuk Conan.
Conan langsung meneguk hampir habis isi botol air mineral tersebut dan sisanya ia tuangkan ke atas kepalanya yang terasa panas karena efek berlari tadi, lalu ia menggelengkan kepalanya agar airnya tidak terlalu membasahi pakaiannya. Haibara sudah sering melihatnya melakukan itu, tapi efek cahaya matahari yang menyinari Conan ditambah tetesan air yang jatuh dengan anggun di beberapa helai poninya dan mengalir hingga ke wajah Conan, entah mengapa membuat jantung Haibara berdebar tidak karuan dan wajahnya bersemu merah. Menurutnya, Conan terlihat… attractive.
'AKU. SUDAH. GILA!' jerit Haibara dalam hati berusaha mengendalikan ekspresinya.
"Kau kenapa, Shiho? Wajahmu sangat merah. Kau sakit? Astaga, apakah kau terkena heat stroke lagi? Ayo, kita pulang!" Conan yang tidak peka ini salah mengartikan kondisi Haibara dan Haibara bersyukur karena lelakinya ini sedikit bodoh, kalau dia tahu alasan sebenarnya wajah Haibara sampai semerah ini, Haibara yakin Conan pasti akan menggodanya habis-habisan.
"TADAIMAAA…" ucap Conan dan Haibara kompak saat mereka masuk ke dalam rumah Hakase.
"Okaeri, Kudo Kun, Ai Kun," sahut Hakase.
"Hakase, kau sampai rumah jam berapa tadi?" tanya Conan langsung melempar tas ke lantai dan duduk di sofa.
"Jam dua belas tadi, untung saja perjalanannya lancar," jawab Hakase.
"Apa kau sudah makan siang, Hakase?" kali ini Haibara yang bertanya.
"Sudah, tadi aku membeli bento saat di rest area, jadi aku sudah makan siang."
Haibara menatap Hakase penuh curiga. "Kau tidak membeli banyak makanan manis disana kan, Hakase?"
"Eh, a-anu, i-itu…" Hakase menjawab dengan gugup mengingat tadi dia juga makan waffle cokelat dan satu cup eskrim serta membeli tiga buah donat untuk dimakan di perjalanan.
"Tch, kau tidak bisa dipercaya! Padahal aku sudah membelikan roti untukmu! Sepertinya satu minggu ke depan kau harus diet ketat lagi, Hakase!" Perintah Haibara tegas karena Hakase melanggar aturan dietnya lagi untuk mengurangi konsumsi gula berlebih. Hakase tertunduk sedih karena membayangkan aturan diet Haibara yang sangat ketat.
"Astaga, Shiho! Sudahlah, kau tega sekali kepadanya. Kasihan Hakase," Conan sweat drop melihat "kekejaman" Haibara kepada Hakase.
"Kau diam saja, Shin! Lelaki tua ini jika tidak kuperingatkan dengan tegas, huh, kau akan berakhir dengan suntikan insulin setiap hari di tubuhmu, Hakase!" Haibara menatap tajam Hakase, dia bersikap seperti ini karena tidak ingin Profesor yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri harus menderita berbagai macam penyakit akibat gaya hidup yang kurang sehat.
"Iya, Ai Kun. Aku mengerti," ucap Hakase lemah –say goodbye to chocolate and doughnut- "Aku akan istirahat dulu."
"Baiklah, aku akan membangunkanmu nanti saat makan malam," balas Haibara menatap kepergian lelaki tua yang tertunduk lemah itu ke kamarnya.
"Menyeramkan!" ucap Conan setelah menatap wajah lesu Hakase.
"Apa kau bilang?" tanya Haibara dengan death glare nya.
"I-itu, a-anu… Katanya kau membelikanku lemon pie, a-aku mau makan itu," Conan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Haibara masih menatap Conan dengan death glare nya, sementara orang yang ditatap berusaha mengendalikan diri agar tidak terlihat salah tingkah.
"Cuci tanganmu dulu. Tch! Kau jorok sekali! Dan kau baru boleh makan itu setelah kita makan siang!" Haibara akhirnya membuka suara.
"B-baiklah," jawab Conan langsung menjalankan perintah kekasihnya dan sedikit lega karena bisa terbebas dari kengerian barusan.
"Tadi Ran membalas pesanku," ucap Conan membuka percakapan saat mereka sedang menikmati lemon pie setelah makan siang.
Haibara jadi teringat lagi. "Lalu?"
"Dia bilang dia juga ingin membicarakan sesuatu denganku," jawab Conan.
'Gadis itu ingin membicarakan sesuatu padanya, jangan-jangan…' Haibara mencoba menebak dalam hati.
"Menurutmu apa, Shiho?" tanya Conan.
"Mana aku tahu, Shin. Kenapa tidak langsung kau tanyakan saja kepadanya?" Haibara balas bertanya kepada Conan, walaupun mungkin dia tahu apa yang ingin dibicarakan Ran.
"Yah, kau kan wanita. Mungkin saja kau tahu. Aku kan tidak sepeka itu untuk bisa tepat menebak hati wanita," jawab Conan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu, kau sudah membalas pesannya?" tanya Haibara lagi.
"Astaga! Aku belum membalas pesan Ran!" Conan langsung melihat ponselnya dan menunjukkan kepada Haibara. "Jadi, bagaimana menurutmu?"
Haibara membaca pesan dari Ran dan hatinya merasa tidak nyaman, sepertinya dugaan dia benar. Bukankah harusnya Haibara senang karena nantinya sudah tidak ada lagi yang mengganggu pikirannya tentang hubungan dia dan kekasihnya? Tapi kenapa dia takut melihat kesedihan di mata kekasihnya nanti?
"Kau tahu, Shin. Aku rasa kau memang harus menyelesaikan ini secepatnya, walaupun dengan segala konsekuensi yang ada. Kau harus siap!" ucap Haibara memaksakan senyumnya.
Conan sedikit bingung dengan perkataan Haibara. Konsekuensi? Apakah maksudnya nanti Ran akan membencinya dan dia harus siap dengan kemungkinan itu? Yah, dia memang sudah menyiapkan hatinya jika Ran akan membenci Shinichi Kudo, tapi bagaimana nanti dia akan menghadapi Ran dalam wujud Conan Edogawa? Apakah dia siap dengan itu? Kenapa dia tiba-tiba jadi ragu? Tidak, bukan karena dia meragukan perasaannya kepada Shiho ataupun meragukan untuk mengambil keputusan mengakhiri semuanya dengan Ran, tapi dia ragu apakah dia bisa menghadapi Ran setelah ini dalam wujud Conan Edogawa yang sudah menumpang di rumahnya selama hampir empat tahun. Apakah dia juga harus pindah rumah? Tapi, kemana? Apa alasan yang harus dia pakai jika tiba-tiba pindah? Astaga, dia tidak berpikir sejauh ini! Rumit sekali!
"Kalau kau merasa canggung saat berhadapan dengannya, kau bisa tinggal disini dulu untuk sementara sampai kau sudah siap lagi menghadapinya. Aku tahu, kau tidak nyaman tinggal dengan Subaru San walaupun itu rumahmu sendiri," saran Haibara terlihat santai walaupun sebenarnya hatinya juga ikut gelisah.
Conan menggenggam tangan Haibara dan menatapnya lembut, dia hampir lupa kalau wanitanya ini selalu bisa membaca pikirannya. Dia juga hampir lupa kalau Haibara selalu ada di sisinya walaupun dalam situasi terburuk sekalipun, Haibara tidak pernah meninggalkannya. Ah, beruntung sekali Conan memiliki Haibara! Kenapa dia bisa lupa dengan hal ini?
"Maaf aku terlalu memikirkan hal ini sampai aku hampir lupa kalau aku memiliki wanita terbaik di sisiku saat ini," ucap Conan lalu mengecup tangan Haibara yang sedang ia genggam.
"Tentu saja tidak gratis! Dompet Prada koleksi terbaru dan jangan lupa Jaket Fendi yang sudah kau janjikan kemarin!" balas Haibara menyunggingkan senyum liciknya lagi. Dia tidak pernah serius meminta barang mahal, jika dia mau, dia bisa membelinya sendiri –kalaupun lelakinya ini benar-benar membelikannya, yah anggap saja sebagi bonus- Haibara hanya ingin menggoda lelakinya saja. Lagipula dia juga berusaha mengontrol pikiran buruknya tentang wajah sedih kekasihnya nanti jika Ran sudah mengatakan semuanya.
"Huh, kau memang benar-benar perusak suasana!" Conan menghempaskan genggaman tangannya. Haibara tertawa dibuatnya. Wanita ini memang selalu punya banyak cara untuk menghibur Conan, merusak suasana contohnya.
"Sudahlah, cepat kau balas pesan gadis itu! Kau mau membuat dia menunggu lagi?" perintah Haibara.
"Baiklah."
Conan langsung mengetik pesan balasan untuk Ran.
Ok. Aku akan meneleponmu jam delapan malam.
Conan menunjukkan pesan balasannya ke Haibara sebelum dia mengirimnya ke Ran, Haibara membaca pesannya dan menganggukkan kepalanya tanda setuju, Conan langsung mengirim pesan itu ke Ran.
"Lalu, kau mau tinggal disini lagi hari ini? Bahkan kau belum resmi menjadi gelandangan tapi kau sudah sering menumpang disini," tanya Haibara sedikit mengejek.
"Oi! Oi! Apa-apaan maksudmu dengan gelandangan? Aku kesini kan untuk menemui kekasihku!" Conan menopang dagu dengan tangannya, lalu menatap Haibara sebal.
"Oh ya? Sepertinya kau lebih sering minta dibuatkan makanan, kemudian kau menumpang nonton TV, lalu kau tertidur dalam keadaan TV masih menyala, bagian "menemui kekasihku" seperti yang kau bilang itu ada dimana?" ejek Haibara lagi, dia menahan tawanya. Kalau dipikir lagi sepertinya Hakase tidak tinggal berdua saja di rumah ini, tapi bertiga dengan Tuan Detektif ini yang bahkan perilakunya sudah seperti tuan rumah disini, melebihi Hakase.
Conan makin sebal karena perkataan Haibara tepat menusuk jantungnya. Dia bahkan tidak sadar kalau dia melakukan itu disini. Di rumah Ran hanya ada Paman Kogoro yang kalau tidak ada kasus hanya sibuk dengan pacuan kudanya atau bermain mahjong dengan teman-temannya, Ran juga jarang pulang karena sibuk dengan kuliah dan karatenya. Conan jadi terbiasa "kabur" ke tempat Hakase dan menemui Haibara bahkan saat mereka belum berpacaran. Melihat Haibara membuat Conan merasa nyaman. Awalnya dia pikir dia merasa kesepian karena Ran mulai sibuk dengan kegiatannya dan jarang bisa berkumpul, tapi saat Ran ada di rumah dan mereka makan malam bertiga seperti biasanya dengan Paman, Conan tetap merasa kesepian, seperti ada yang kurang dihari-harinya. Setelah beberapa lama akhirnya Conan baru menyadari kalau penyebab kesepiannya bukan karena Ran jarang berkumpul bersama lagi, tapi karena dia merindukan Haibara. Conan menyadari kalau Haibara telah mengisi hari-harinya, hingga saat tidak melihatnya Conan jadi merindukannya. Konyol sekali memang!
"Aku hanya bercanda, Shin! Tapi pertanyaanku tentang apakah kau akan tinggal disini lagi untuk hari ini itu serius. Apa kau tidak ingin pulang dulu menemui Paman Detektif itu?" Haibara mengikuti Conan, dia menopang dagu dengan tangannya dan menatap Conan.
"Kau mengusirku?" selidik Conan masih dengan tatapan sebalnya.
"Tentu tidak! Untuk apa aku mengusir pria tampan di hadapanku ini. Aku hanya merasa kau mungkin akan butuh waktu untuk sendiri nanti, aku tidak akan mengganggumu," jawab Haibara tersenyum penuh pengertian.
Conan mengangkat kedua alisnya, sedikit tersipu saat Haibara mengatakan "pria tampan di hadapannya" tapi kemudian dia berpikir apakah dia ingin sendiri atau dia akan minta ditemani Haibara nanti.
.
.
.
"Aku rasa aku membutuhkanmu, Shiho."
CHAPTER 9 END
PS: Maaf kalau Ran dibuat agak OOC disini, karena yah sekali-sekali ngubah image Ran di depan orang yang bener-bener dia cinta. Kayaknya kalau sama Shinichi kan masih jaim tuh, jadi bikin aja lebih real pas sama Eisuke :p
Btw, bel sekolahnya iramanya bisa di dengar di YT, search aja Japanese School Bell hahahaha hurufnya sudah disesuaikan dengan nada di viedonya
