Haihaiii!

Enjoy ^^

Sorry for typo-


The 2nd Meeting

Chapter 12

.

.

Siang ini, Luhan, Baekhyun, dan Kyungsoo sudah memutuskan untuk makan di kantor saja. Setelah memesan, mereka segera kembali. Namun, anggota mereka bertambah satu.

"Kenapa kau terus mengikuti kami?!" ketus Kyungsoo.

"Aku?" orang tersebut ternyata adalah Jongin, pria yang tadi tiba-tiba muncul di kafe. "Aku tidak mengikuti kalian, aku hanya ingin mampir ke butik di perempatan sana."

Kyungsoo memutar bola matanya jengah, "kami tidak menerima pembeli sepertimu."

"Oh benarkah?" Jongin menoleh pada Baekhyun, "Sajangnim, apa benar aku tidak bisa datang?" tanyanya.

Baekhyun menggeleng, "aniyo, datanglah! Pakai uangmu sebanyak mungkin untuk barang kami."

"Kenapa kekasih Chanyeol hyung ini tega sekali…" protes Jongin. "Tapi, jika Nona manis ini menginginkan sesuatu, aku akan membelikannya." Ucap Jongin menggoda Kyungsoo.

Kyungsoo memalingkan wajahnya, "jangan harap!" Lalu bergegas meninggalkan yang lainnya.

"Luhan, kau baik?" tanya Jongin.

Luhan tersenyum lalu mengangguk, "tentu, waeyo?"

"Anigwaenchanha." Angguk Jongin.

Mereka sampai di tempat tujuan, Jongin benar-benar bergabung dengan mereka. Sebenarnya, Jongin dengan sengaja berkunjung dari yayasan pusat ke sekolah tempat Kyungsoo mengajar. Begitulah bagaimana ia berakhir mengikuti Kyungsoo dan sampai di kafe.

"Kenapa kau membiarkan pria ini masuk, sih?!" protes Kyungsoo pada Baekhyun.

"Dia pelanggan, Kyungii." Kekeh Baekhyun.

"Pelanggan apanya!"

"Nona, kau bisa cepat keriput kalau terus menggerutu." Celetuk Jongin. Kyungsoo tidak mengindahkannya, ia sebisa mungkin menganggap Jongin tidak ada. Mereka berempat pun makan siang bersama dengan banyak obrolan dan sedikit percekcokan Kyungsoo dan Jongin. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pintu yang terbuka keras.

"Se…hun?" gumam Luhan.

Kyungsoo menoleh saat Luhan mengatakannya. Ia cukup terkejut ketika menyadari Sehun sudah berada di antara mereka.

"Bisa…ikut aku?"

"Hm…"

Kyungsoo memerhatikan keduanya, setelah itu ia meletakkan sumpitnya lalu bangkit untuk menyusul.

"Mau ke mana kau?" tanpa disangka Jongin menahan tangan Kyungsoo.

"Bukan urusanmu!" jawab Kyungsoo ketus, ia mencoba melepaskan tangan Jongin darinya. Jongin mempertahankan cengkramannya hingga Kyungsoo menoleh padanya. "Lepas!" kesal Kyungsoo.

"Bisakah kau tidak ikut campur masalah mereka?"

Kyungsoo mendengus, "memangnya kenapa? Aku hanya ingin menyelamatkan sahabatku dari pria-pria seperti kalian–"

"Baekhyun-ssi, boleh aku pinjam sahabatmu ini sebentar?" tanya Jongin tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Kyungsoo.

"Y-ya… si-silakan…" jawab Baekhyun ragu. Ia tidak yakin apa yang terjadi pada keduanya, tapi ia tidak punya hak melarang kecuali Kyungsoo tidak mau.

"Terima kasih, kalau begitu." Jongin membawa Kyungsoo keluar dari ruangan.

Setelah berhasil membawa Kyungsoo keluar, Jongin segera menyudutkan wanita itu ke dinding. Mereka berada di dekat toilet saat ini. "Apasih maumu?!" pekik Kyungsoo sambil mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Jongin.

Jongin menatap wanita di hadapannya lekat-lekat, "apa kau harus menanamkan pikiran burukmu tentang pria pada sahabatmu?"

Kyungsoo mengerutkan dahinya, "apa maksudmu?"

"Aku tahu kau membenci pria, tapi jangan pernah berpikir wanita harus membenci pria karena telah melukainya. Tidak semua wanita sepertimu, Kyungsoo-ssi, yang bisa dengan mudah membenci pria. Ingat, tidak semua pria seperti orang masa lalumu. Lebih dari itu, aku sadar tidak semua wanita seperti orang di masa laluku. Luhan adalah buktinya, meski terasa menyakitkan, ia masih tetap bertahan. Aku jadi merasa buruk untuk para wanita yang pernah aku dekati." Lalu Jongin menundukkan kepalanya, menatap tangannya yang memegangi Kyungsoo.

Kyungsoo mengingat percakapannya dengan Sehun di Hawaii. Ia tahu fakta bahwa masa lalu Jongin tidak jauh darinya. Mereka sama-sama orang yang pernah tersakiti. Kyungsoo tidak lagi mencoba memberontak, tangannya terkulai, masih dengan Jongin yang memeganginya.

"Kalau begitu jangan merasa buruk untukku…" ucap Kyungsoo yang membuat Jongin mengangkat kepalanya, "…aku tidak merasa kau telah mendekatiku."

Jongin tersenyum tipis, "aku memang tidak pernah berniat mendekatimu sebelumnya." Ucapnya seraya melepaskan tangan Kyungsoo.

Kyungsoo mendorong Jongin agar menjauh darinya. Ia melangkah meninggalkan pria itu, tapi berhenti dan mengatakan sesuatu tanpa berbalik. "…dan juga, jangan coba mendekatiku setelah ini." Kakinya kembali melangkah menjauh, namun samar-samar ia masih mendengar balasan Jongin.

"Aku tidak yakin untuk itu, Kyungsoo-ssi."

.

.

Sehun dan Luhan kembali ke ruang makan siang. "Baek, Kyungi dan Jongin-ssi ke mana?" tanya Luhan.

"Ah, entahlah… sepertinya mereka sedang bertengkar di suatu tempat." Jawab Baekhyun sambil mengedikkan bahunya. "Jadi, kalian sudah baikan?" tanyanya.

Luhan tersenyum, "kami tidak bertengkar, Baek."

Baekhyun mengangguk, "yah… baiklah apa katamu saja."

"Kalau begitu, aku pamit dahulu." Ucap Sehun akhirnya.

Baekhyun mengangguk, "hati-hati, Sehun-ssi."

Sehun menatap Luhan, ia ingin mengatakan sesuatu tetapi terlihat ragu-ragu. "Wae?" tanya Luhan.

"Hm… a-aku pergi…"

Luhan mengangguk, "hm, hati-hati."

"Lu-Luhan! I-itu…" Sehun tambah terlihat gugup, Baekhyun dan Luhan jadi bertanya-tanya.

"Ne?" tanya Luhan.

"Bisa ikut aku sebentar?" pinta Sehun.

Luhan tanpa curiga menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Sehun keluar. Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya, "kenapa dia masih canggung begitu?" kekehnya.

"Wae?" tanya Luhan saat keduanya sudah keluar ruangan.

"Emm…" Sehun menatap Luhan ragu, lalu sedetik kemudian sebuah kecupan mendarat di bibir Luhan. "…itu… sampai jumpa."

Luhan mendapat serangan yang tidak adil baginya, jantungnya seakan meloncat keluar. "Sehun…" Luhan menarik ujung jas Sehun hingga pria itu kembali menoleh padanya.

"Mian… kau marah?" tanya Sehun.

Luhan menelan ludahnya sebelum berbcara, 'aku boleh mengatakan ini kan?' pikirnya. "I-itu tidak adil… a-aku belum siap."

Sehun mengerutkan dahinya, apa maksudnya itu? Pikirnya. Sehun masih terdiam menatap Luhan. Setelah memperkirakannya, sepertinya ia tahu maksud wanita di hadapannya. "Lalu… apa sekarang kau sudah siap?" tanya Sehun tiba-tiba.

"Eh?" Luhan mengangkat wajahnya, pipinya bersemu merah. "I-itu…"

Sehun mendekati Luhan dan memegang kedua sisi wajah wanita itu yang terasa panas. Akhirnya bibir mereka kembali bertemu, bukan hanya kecupan singkat, tapi sebuah ciuman yang mendebarkan. Luhan bisa merasakan kelembutan bibir Sehun bergerak menggelitiknya. Setelah itu keduanya hanyut dalam dunia mereka. Sehun menjauhkan wajahnya, lalu menatap Luhan dengan napas yang tidak beraturan. "Sampai jumpa…"

Luhan mengangguk, "hm…" setelah Sehun keluar, Luhan memegang bibirnya yang masih terasa panas. Ia memegang kedua pipinya sambil bersandar di dinding, 'aaaakkk!' pekiknya dalam hati.

..

Dari kejauhan, ternyata ada dua pasang mata yang menyaksikan. "Lihat, mereka baik-baik saja kan? Apa jadinya jika kau mengikuti mereka?" tanya Jongin.

Kyungsoo yang tadinya ingin kembali harus berhenti di tengah jalan karena melihat Sehun dan Luhan yang keluar dari ruang makan. Langkahnya kembali terhenti saat melihat adegan tak terduga yang kedua lakukan.

"Da-dasar tukang intip!" gerutu Kyungsoo pada Jongin.

Jongin tertawa, "dia lucu sekali saat salah tingkah. Padahal dia yang duluan mengintip."

.

.

Sudah tiga hari tepatnya Jongin selalu datang ke sekolah tempat Kyungsoo mengajar. Selama itu pula ia mengganggu Kyungsoo di waktu jam makan siang. "Nona manis… annyeong…" Jongin melambaikan tangannya sambil bersandar di dinding dekat sana. Senyumannya selalu sukses membuat Kyungsoo muak. Kyungsoo hanya mendengus tanpa menoleh, ia sudah tahu siapa pelakunya, jadi ia mengabaikannya.

Jongin dengan cepat mengambil posisi di samping Kyungsoo, mengikutinya berjalan ke luar sekolah. "Mau makan siang?"

"Bukan urusanmu!" ketus Kyungsoo sambil mempercepat langkahnya.

"Boleh aku bergabung?" tanya Jongin lagi yang berhasil menyusul Kyungsoo.

"Bisa berhenti menguntitku? Apa kau pengangguran?!" kesal Kyungsoo sambil menatap dengan menyeramkan.

Jongin menggeleng, "aniyo, aku bukan pengangguran. Lagipula ini jam makan siang, kalau kau menyuruhku tetap bekerja, itu namanya kerja paksa."

Kyungsoo memutar bola matanya, ia benar-benar jengah terus-terusan diikuti pria gila ini. "Percuma saja bicara pada orang sepertimu!" Lalu dengan cepat Kyungsoo melangkah pergi.

"Ya! Do Kyungsoo!" pekik Jongin.

Kyungsoo berhenti, ia menarik napasnya dalam-dalam, emosinya hampir meledak karena pria gila itu meneriakinya dengan tidak sopan. Ia berbalik, "ya?! Apa kau memang orang yang tidak sopan, Tuan?"

Bukannya menyesal, Jongin malah tersenyum, "akhirnya kau melihatku juga."

"Kau tahu, kita bukan dalam hubungan yang bisa saling berkomunikasi dengan banmal! Aku tidak pernah mengizinkanmu berbicara tidak sopan–" Kyungsoo menghentikan omelannya ketika tiba-tiba Jongin menariknya hingga berada di dekapan si pria.

"Hampir saja…" ucap Jongin lalu menghela napas lega. "Ya! Jangan bawa kendaraanmu ke trotoar!" Jongin meneriaki pengendara sepeda motor yang hampir menyerempet Kyungsoo. "Kau baik-baik saja?" tanya Jongin. Ia melihat keadaan wanita yang ditolongnya. Kyungsoo masih mematung dengan jantung yang serasa berhenti berdetak, kepalanya berdenyut saking terkejutnya. "Kyungsoo-ssi?" Jongin mencoba memanggilnya.

"A-ah–" Kyungsoo dengan wajah pucatnya masih terlihat linglung. "…y-ya… aku baik." Menyadari dirinya yang masih didekapan si pria, Kyungsoo segera mendorong Jongin menjauh. "Te-terima kasih, aku berhutang padamu."

"Seharusnya kau lebih hati-hati lagi."

Kyungsoo menatap Jongin lalu mengalihkan pandangannya ketika pria itu menangkap pandangannya. "A-aku akan membayarnya. Aku traktir makan siang, aku tak mau berhutang padamu." Ucapnya lalu berjalan mendahului Jongin. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya sebelum akhirnya menyusul Kyungsoo.

Keduanya makan di restoran tak jauh dari sekolah. "Kau yakin meneraktiku?" tanya Jongin.

"Sudah kubilang, aku tidak mau berhutang." Jawab Kyungsoo lalu menyuap makanannya.

Jongin bergumam disela kunyahannya, "tapi Kyungsoo-ssi, kalau begitu kau masih berhutang satu lagi padaku."

Kyungsoo menatap Jongin dengan tajam, "mwo?"

"Dulu, di Hawaii…"

Kyungsoo lantas mengingat kejadian saat keduanya hampir terjatuh di jurang. Saat itu Jongin menahannya cukup lama agar tidak terjatuh. "Ah, itu..."

"Bercanda!" Jongin tertawa, "kau pikir aku melakukannya agar kau meneraktirku?"

"Tagih saja, aku bisa meneraktirmu lagi. Jangan buat aku berhutang padamu–"

Jongin meletakkan gelasnya cukup keras, hal itu membuat Kyungsoo menoleh padanya. Jongin menghela napasnya sambil melihat ke sekitar, "Kyungsoo-ssi… apa kau benar-benar ingin membuat aku terlihat seperti pria yang buruk? Apa aku memang serendah itu dimatamu sampai-sampai membantu orang pun harus ada imbalannya?"

Kyungsoo bungkam, apa ia baru saja menyinggung pria di hadapannya?

"Apa sekali terlihat buruk, aku akan tetap buruk di matamu?" Jongin menatap lurus pada Kyungsoo dan langsung menusuk ke mata bulat si wanita. "Aku menyesal telah membuatmu beranggapan buruk tentangku…" ucapnya pelan. "Aku akan membayar makan siang ini. Kembalilah ke sekolah dengan aman, perhatikan sekelilingmu. Aku duluan…" ucap Jongin lalu bangkit dari kursinya.

Kyungsoo masih terdiam, "membuatku beranggapan buruk?" gumam Kyungsoo. Tidak memiliki selera lagi, ia hanya mengaduk-aduk makanannya. "Memangnya kenapa aku bisa sebenci itu padanya, memangnya ia pernah berbuat salah?" pikir Kyungsoo.

.

.

"Chan, apa kau tahu ada apa dengan Jongin-ssi?" tanya Baekhyun. Hari ini, Chanyeol dan Baekhyun baru saja pulang dari kencan mereka. Masih belum malam, Chanyeol mengajak Baekhyun ke rumahnya. Di sinilah keduanya, Baekhyun berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya, sementara Chanyeol memeriksa pekerjaan mendadaknya.

"Hm? Memangnya kenapa dengan dia?" tanya Chanyeol tanpa melepaskan jari-jarinya dari keyboard.

"Belakangan ia terus membuat Kyungsoo naik darah. Setiap pulang kerja, Kyungsoo selalu mengeluh kalau ada pria gila yang mengikutinya."

"Pria gila? Kenapa jadi Jongin?" herannya.

"Tentu saja karena Kyungi yang bercerita."

"Benarkah?"

"Aku juga penasaran, apa yang dikerjakan Jongin-ssi memangnya. Kenapa ia terlihat santai sekali…" Heran Baekhyun.

Chanyeol tertawa ringan, "mereka sekali, selalu bertengkar." Pria itu kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Baekhyun mempoutkan bibirnya, perbincangan mereka sudah tidak nyambung. "Ugh! Selesaikan saja pekerjaanmu! Kau menyebalkan!" Chanyeol hanya tersenyum kecil mendengar omelan kekasihnya. Ia memang berniat menyelesaikannya dengan cepat.

Setengah jam berlalu, Baekhyun benar-benar bosan saat ini. Ia sudah hampir membuka semua aplikasi sosial medianya, bahkan berulang kali. Namun, Chanyeol belum juga selesai.

"Chan!" Baekhyun berteriak sampai membuat Chanyeol terlonjak di tempatnya, "…aku mau ke minimarket, mau titip sesuatu?" tanya Baekhyun.

"Sendirian?" tanya Chanyeol.

"Hm, aku ingin es krim."

Chanyeol tersenyum, "baiklah…" ia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan black card-nya. "Ini…" ia menyodorkannya pada Baekhyun.

Baekhyun ingin marahi kekasihnya itu, tapi ia berusaha mengendalikan emosinya. "Kau pikir aku ingin membeli es krim berapa banyak? Aku bawa uangku…"

"Belilah yang lain juga, untuk makan malam kita."

Baekhyun akhirnya mengangguk lalu mengambil kartu milik Chanyeol. "Aku pergi…"

"Hmm… hati-hati."

Sudah 30 menit sejak kepergian Baekhyun, Chanyeol merasa tidak tenang. Ia terus bertanya apakah kekasihnya baik-baik saja, pasalnya wanita itu terlihat kesal sebelum pergi. Ia pun menutup pekerjaannya dan bergegas menyusul Baekhyun.

..

Setelah memenuhi keranjangnya dengan belanjaan, Baekhyun segera menuju ke kasir dan keluar dari minimarket. Ia berjalan menenteng satu kantung plastik dengan es krim di tangan lainnya.

"Oh, Baekhyun-ssi?"

Baekhyun mengerutkan dahinya saat melihat seorang pria berhenti di hadapannya. Samar-samar lampu jalan membuat Baekhyun harus menajamkan matanya.

"Aku, Kim Taehyung. Kau ingat aku? Kita bertemu di–"

"Ah! Kau teman Chanyeol! Annyeonghaseyo." Sapa Baekhyun.

Taehyung tertawa, "kau membuatku sedih… aku pikir kau melupakanku."

"Tentu tidak, sedang apa di sini? Atau kau tinggal di sini?" tanya Baekhyun basa-basi.

"Aku tidak tinggal di sini, hanya saja aku merasa akan bertemu bidadari jika melewati jalan ini. Ternyata memang tidak salah." Jawab Taehyung dengan ringannya.

Baekhyun hanya bisa tertawa canggung. 'Apa pria ini tidak sadar dengan yang dikatakannya?!'

"Sayang?" suara Chanyeol menginterupsi perbincangan tidak sengaja itu. Ia segera menghampiri Baekhyun. Ia menatap Taehyung, "sedang apa kau di sini?" tanya Chanyeol.

"Channiee! Kebetulan sekali–"

"–tidak, sepertinya ini bukan kebetulan, kau tahu itu. Maaf kami sibuk, permisi." Ucap Chanyeol dingin. Ia segera mengambil alih belanjaan dan merangkul Baekhyun. Mereka pun pergi meninggalkan Taehyung yang terlihat kesal.

..

Keduanya sampai di apartemen. Segera saja Baekhyun ke dapur untuk berbenah. Namun, ia tersentak saat tangan kekar Chanyeol tiba-tiba melingkar di perutnya. Pria itu mulai menciumi bahunya yang terekspos.

"Chan… apa yang kau lakukan… aku harus menata belanjaan dahulu,"

"Baek… maafkan aku." Dekapan Chanyeol semakin erat, begitu juga bibir pria itu yang menjelajahi leher hingga belakang telinga Baekhyun.

"Kenapa kau meminta maaf?"

Chanyeol memutar tubuh Baekhyun agar menghadapnya lalu menyudutkan wanita itu ke dinding dapur. Tatapannya terlihat begitu menyesal, "aku mengabaikanmu… mianhae…"

Baekhyun tersentak, apa mungkin Chanyeol cemburu karena ia bersama Taehyung sebelumnya? "Chan, kau tidak–" Kepala pria itu semakin mendesak perpotongan leher Baekhyun. Lidah panasnya mulai menyapu permukaan kulit sensitif Baekhyun.

Mata Baekhyun membulat saat bibir pria itu seperti akan menghisap kulit lehernya. "Chan, ja-jangan berikan tanda! Besok aku masih harus ke butik." Baekhyun sebisa mungkin menahan kekasihnya itu. Chanyeol yang cemburu dan menyalahkan diri sendiri selalu membuat Baekhyun kewalahan.

Chanyeol menjauh dari leher Baekhyun membuat wanita itu bernapas lega. "Maafkan aku… jadi jagan tinggalkan aku…" ucap Chanyeol, matanya terlihat putus asa.

Baekhyun memegang kedua sisi wajah kekasihnya, ia menatap mata itu lekat-lekat. "Aku tidak akan kemana-mana, Chan. Maafkan aku karena membuatmu cemburu. Tidak lagi…" cengirnya.

"Kalau begitu biarkan aku memberimu tanda–"

"Ja-jangan!" pekik Baekhyun. Chanyeol mengerutkan dahinya, sambil menatap Baekhyun heran. "Ma-maksudku jangan ditempat yang terlihat, a-aku tidak mau memakai turtle-neck seharian."

Chanyeol tersenyum miring, "lalu… dimana tempat yang tertutup?" godanya.

Baekhyun mengumpat pada dirinya, kenapa ia malah terlihat memberi kesempatan pada pria yang sedang cemburu di hadapannya ini. "I-itu…"

"Apa ini maksudmu?" Chanyeol menarik turun resleting gaun Baekhyun dan membuat sehelai kain itu merosot ke lantai.

Baekhyun dengan cepat menutupi dadanya, "ya! Kenapa di sini?! Kau membuat gaunku jatuh ke lantai dapur, bodoh!– kyaa!" Tiba-tiba Chanyeol mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di meja dapur.

"Singkirkan tanganmu." Perintah Chanyeol.

"C-Chan, tunggu dulu…"

"Atau aku harus memaksamu, Byun Baekhyun?"

Baekhyun mendesah pasrah, ia meninggalkan dadanya dan membiarkan bra tanpa talinya terekspos. Payudaranya hampir menyembul keluar karena itu.

"Aku menemukan tempat tertutupnya…" bisik Chanyeol lalu menghisap gundukan payudara Baekhyun yang tidak tertutup bra. Satu, dua…. tidak, lebih dari 5 bercak keunguan sudah menghiasi kedua payudara putih Baekhyun. Bra-nya kini sudah tidak lagi ditempatnya.

Chanyeol tersenyum senang, "kau benar-benar milikku… dan, mereka sudah tegang…" jari pria itu menggoda puncak payudara Baekhyun dan menciptakan lenguhan lembut keluar dari bibir mungil kekasihnya.

"Chanh…" Baekhyun menggelinjang saat sentuhan jari kekasihnya menggoda puncak payudaranya berkali-kali. Pria itu kini mulai menjilati bagian tegang itu dan mengulumnya bergantian.

"Hha… ah… hh-Chanh…" Chanyeol melepaskan payudara Baekhyun dan beralih menatap sang kekasih. Wajahnya memerah dengan keringat membasahi pelipisnya.

"Baek… kau keberatan?"

Baekhyun menggeleng, "jika itu bisa membuatmu lebih baik. Gwaenchanha… selama tidak melewati batas."

Chanyeol mencium dahi Baekhyun dengan lembut lalu mengecup bibir yang setengah terbuka itu sekilas. "Aku tahu…" Pria itu mulai menciumi leher Baekhyun tanpa memberikan jejak di sana, tangannya sibuk meremas payudara dengan gemas. Setelah itu ia meninggalkan leher itu dan beralih menatap kekasihnya.

"Aku mencintaimu Baek…" bisik Chanyeol.

Baekhyun tersenyum, "nado…" ia mengalungkan kedua tangannya ke leher kekasihnya. Kemudian kini bibir mereka saling bersentuhan, melumat, dan menghisap. Suara aktivitas bibir mereka pun begitu jelas menggema di dapur yang sepi.

Cukup lama keduanya saling menggoda. Chanyeol dengan sigap mengangkat kekasihnya ke kamar. "Aku tidak akan melewati batas, jadi, maukah kau menginap saja, Baek?" tanya Chanyeol. Baekhyun hanya mengangguk, ia semakin meringkuk ke dekapan kekasihnya dalam perjalanan ke kamar.

.

.

[Apartemen Kyungsoo]

Kyungsoo berkali-kali memencet tombol remot seperti tanpa nyawa. Berkali-kali saluran TV berganti, namun tidak ada juga yang menarik minat wanita bermata bulat itu. Ia menghela napas seraya meletakkan remotnya. Kepalanya ia sandarkan pada sofa.

"Baekhyun sedang kencan…" gumamnya. "…lalu, Luhan juga bisa-bisanya mengunjungi apartemen pria 'tidak bisa dipercaya' itu. Menyebalkan!" Membiarkan TV-nya tetap menyala, Kyungsoo mulai memainkan ponselnya. Baru kali ini ia merasakan kebosanan. Apa karena ini malam minggu? Kyungsoo juga sempat menggerutu ketika melihat pasangan-pasangan mesra menikmati malam minggu mereka. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah peduli tentang malam minggu. Lagi-lagi Kyungsoo menghela napasnya.

Ting Tong.

Suara bel apartemennya terdengar. Melihat jam di ponselnya, Kyungsoo membukakan pintu untuk tamu tak diketahuinya itu.

Kriieet.

"Annyeong, Nona manis." Senyuman menyebalkan dari pria yang paling tidak ingin dilihatnya kini menyapa.

"Oh, Sh*t!" gerutu Kyungsoo pelan, ia hendak menutup kembali pintunya, namun pria itu lebih dahulu menahannya.

"Kasar sekali pada tamumu, Nona." Protes Jongin yang kesusahan menahan pintu.

"Siapa yang tamu… ugh! Pergi atau aku teriak–"

Jongin panik, "–araseo araseo, tunggu sebentar…"

"Aku tidak menerima tamu sepertimu!"

"Astaga…" Jongin mulai kesulitan menahan pintu karena sambil membawa plastik besar berisi belanjaan di tangannya.

"Meoowww~" suara kucing tiba-tiba menyeruak di keheningan sesaat diantara perdebatan mereka. Mata keduanya otomatis melihat pada kucing kecil yang mencoba masuk melalui celah pintu.

Kyungsoo membulatkan matanya, ia menggelengkan kepalanya dan berdoa agar kucing itu tak memasuki kamarnya. Namun, bagai mengejek, kucing itu menoleh pada Kyungsoo dan mengeong sebelum ia lompat ke dalam kamar. "Hatcchhii!" Pertahanan Kyungsoo pada pintu otomatis runtuh. Pintu pun terbuka lebar. Ia mencoba berjarak sejauh mungkin dari kucing itu sambil menutup hidungnya. "Hattchii! Ha–ttchii!"

Jongin yang kebingungan lantas mencoba membaca apa yang sedang terjadi. Kucing kecil itu seperti akan bersiap melompat ke ranjang, hal itu membuat Kyungsoo menggelengkan kepalanya, seperti memohon. Terlambat sudah, Kyungsoo melemas, kucing kecil itu berhasil naik ke ranjang dan meringkuk di dekat bantal.

"Hup!" Dengan sigap, Jongin menangkap kucing kecil itu dan membawanya ke luar. Ia meletakkannya sejauh mungkin, "…sepertinya Nona manis itu alergi padamu. Annyeong~" Jongin kembali, ia melihat Kyungsoo kini berada di luar kamar masih sambil menutup hidung.

"Kau alergi bulu kucing?" tanya Jongin.

"Hm…" jawab Kyungsoo, ia kemudian mengambil kuncinya dan dengan cepat menutup pintu.

"Kau mau ke mana?" heran Jongin.

"Ke mana saja, asal tidak di kamar!"

Jongin menghela napasnya lalu merebut kunci dari tangan Kyungsoo dan membuka kembali kamar tersebut.

"Ya! Mau apa kau?" pekik Kyungsoo kesal.

Jongin mengabaikannya, ia segera menuju ke washtafel untuk mencuci tangannya. Beruntung, di dekat sana terdapat lemari dinding dan terdapat masker. Ia mengambilnya satu lalu keluar untuk memberikannya kepada si wanita yang sedang alergi.

Kyungsoo hanya bisa menatap dengan terkejut ketika Jongin menyodorkan sebuah masker.

"Cepat kenakan!" perintah Jongin. Kyungsoo akhirnya menyambut masker itu dan memakainya. "Di mana alat penghisap debumu?" tanya Jongin.

"Untuk apa?" Kyungsoo.

Jongin berdecak, "jawab saja."

"Di lemari samping washtafel." Jawab Kyungsoo.

Jongin mengangguk lalu bergegas mengambil penghisap debu dan mulai membersihkan tempat yang sekiranya sudah dilewati si kucing kecil.

Kyungsoo dibuat terkejut, ia ingin masuk, tapi berhenti ketika di depan pintu. "Tidak perlu! A-aku bisa meminta tolong Baekhyun atau Luhan nanti." Serunya.

Jongin menoleh pada Kyungsoo, "kau yakin mereka akan pulang? Bagaimana jika tidak? Kau mau tidur di luar?" Pertanyaan pria itu membuat Kyungsoo bungkam. "Lagipula aku tahu bagaimana tersiksanya alergi dengan bulu kucing itu."

"Bagiamana kau tahu?" tanya Kyungsoo refleks.

Jongin tersenyum dengan mata yang redup, "kau memiliki alergi yang sama dengan eomma." Baru akan membuka mulutnya, namun Kyungsoo kembali terdiam. Ia tidak tahu situasi apa ini, rasanya ia tidak cukup lancang untuk bertanya lebih jauh. Kyungsoo diam-diam memerhatikan Jongin yang membersihkan kamarnya dengan cekatan dan hati-hati. Bahkan pria itu sampai melepas seprai dan semua yang ada di ranjang.

Setelah selesai, pria itu kembali menoleh pada Kyungsoo. "Di mana sepraimu?"

"Di lemari sebelah kanan, paling atas." Jawab Kyungsoo tanpa lagi protes.

Baru membukanya, mata Jongin tanpa sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat. Dengan cepat ia menutupnya kembali. Kyungsoo mengerutkan dahinya, 'kenapa?' pikirnya. Namun, sedetik kemudian, Kyungsoo menyadari apa yang terjadi. "Sialan kau, jangan lihat yang macam-macam, Kim Jongin!" geram Kyungsoo dengan wajah yang mulai memerah.

Jongin menggeleng, "aniyo, hanya ada bra dan celana dalammu. Aku akui seleramu hebat, mereka terlihat seksi." Ia malah semakin menggoda Kyungsoo.

"Ya!–"

Jongin tertawa, "araseo, aku tidak lihat lagi. Tapi maaf saja kalau terlihat tanpa sengaja ya…"

Setelah semuanya selesai, Kyungsoo bisa masuk dengan tenang. Maskernya tidak lagi dikenakan. Ia tidak lagi mencoba mengusir Jongin, ia duduk di sofa sambil menatap pria itu. "Ada urusan apa kau kemari?" tanya Kyungsoo. "Ah, sebelumnya terima kasih sudah melakukannya untukku. Bagaimana aku harus membayar–…" Kyungsoo berhenti bicara saat mengingat kejadian di restoran "…lupakan." Lanjutnya.

Jongin tersenyum, "itu bukan masalah. Lalu, apa aku harus ada urusan untuk bertemu denganmu?" tanyanya.

"Mungkin?"

"Mungkin ya? Hmm… kalau begitu aku akan buat urusannya." Jongin keluar dan kembali dengan kantung plastik besar di tangannya. Ia menggoyangkan plastik tersebut, "…aku ada urusan mengenai makan malam. Aku dengar kau pandai memasak." Kyungsoo tidak mengatakan apapun. Ia menghampiri Jongin dan mengambil kantungan tersebut lalu membawanya ke dapur. Jongin terlonjak senang, "kau serius kan?"

"Anggap saja bayaran yang tadi– ah, terserah bagaimana kau mengartikannya." Jawab Kyungsoo.

Jongin mengikuti Kyungsoo lalu membawa kepalanya melewati bahu Kyungsoo untuk melihat apa yang akan wanita itu lakukan. "Apa yang akan kau buat?" tanyanya.

Kyungsoo menoleh dan mendapati kepala pria itu berada tepat di sebelahnya. Dengan gugup, ia kembali menatap ke depan lalu menoyor pelipis pria itu agar menjauh. "Duduk saja sana!" perintahnya.

"Aku bantu…" tawar Jongin percaya diri.

Kyungsoo menatap ngeri pada pria di sebelahnya, "aku tidak mau mati malam ini juga." Ucapnya.

"Eyyy, kau meragukanku? Aku ini paling bisa diandalkan jika urusan dapur. Chanyeol hyung dan Sehun saja mengakuinya."

Kyungsoo menarik lengan Jongin dan membawanya ke sofa. Ia mendudukkan pria itu, "kalau begitu akan semakin tidak percaya. Diam saja kau di sini!"

Jongin tertawa lalu berbalik, bertopang dagu menatap Kyungsoo yang mulai memakai apronnya. "Nona… apa kau tidak bisa memakai apron dengan benar?" serunya.

Kyungsoo berdecak, "diamlah!"

"Ani, maksudku… bukannya lebih baik jika kau memakai apron tanpa bajumu–"

Sebuah wortel melayang dan tepat mengenai kepala Jongin membuatnya mengaduh. "Terus mengoceh! Aku goreng kau jadi camilan malam untuk para kucing di jalan." Kesal Kyungsoo.

"Kau kan alergi kucing, bagaimana–" Jongin mengunci bibirnya rapat-rapat lalu mengangkat kedua tangannya di depan dada tanda maaf karena Kyungsoo hampir melayangkan wortel beserta kentang yang sudah siap luncur.

.

.

Saat ini, waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Sebuah mobil berhenti di depan apartemen yang ditinggali ketiga wanita bersahabat. Seorang wanita keluar, lalu ia merunduk, berbicara pada pria yang mengantarnya. "Pulanglah, terima kasih sudah mengantarku." Ternyata mereka adalah Sehun dan Luhan.

"Lu…" panggil Sehun.

"Hm?"

"Tunggu sebentar…" Sehun segera keluar lalu mengitari mobil, menghampiri Luhan.

Luhan menatap pria di hadapannya dengan penasaran, "wae?"

Sehun meraih tangan Luhan lalu mengenggamnya. Ia berdehem sambil mengalihkan pandangannya. "Aku antar,"

Luhan tersenyum, "gwaenchanha, itu tidak jauh."

"Be-benarkah?" Sehun melepaskan kembali genggamannya, terlihat guratan kecewa dari wajahnya. "Masuklah…" ucapnya.

Luhan bergumam, "apa kau ingin menghangatkan tubuhmu sebelum pulang?"

Seketika wajah Sehun berubah bahagia, "bolehkah?" Luhan mengangguk. Keduanya pun berjalan bergandengan. Saat Luhan mencari kunci apartemennya, ia tak menemukannya.

"Wae?" tanya Sehun.

"Kunciku…" jawab Luhan, ia mencoba mengingat. "Apa tertinggal?" ia bertanya pada dirinya.

"Sudah ku bilang untuk tinggalkan apartemen ini, Luhan. Tinggal saja bersamaku–"

Luhan menatap Sehun tegas, "kita sudah bicarakan ini sebelumnya, Sehun." Ia kembali mencari kuncinya.

"Apa di sini ada toilet umum?" tanya Sehun.

"Tidak ada– ah, kita menumpang di kamar Kyungsoo saja. Kkajja." Ajak Luhan. Keduanya pun bergegas ke kamar sahabat Luhan itu.

..

Ting Tong.

"Kyungii-yaa…"

Dua orang yang masih berdebat malam itu terlonjak saat mendengar suara bel. "Luhan!" seru Kyungsoo.

"Buka saja pintunya," ucap Jongin cuek.

Kyungsoo melotot, "kau gila! Kita bisa ketahuan!"

"Kyungii-yaa… Kunciku tertinggal…"

"Oh astaga!" Kyungsoo dengan cepat mendorong Jongin dan menggiringnya ke kamar mandi. "Kau perlu sembunyi!"

"Mwo?!" protes Jongin.

"Cepat!"

"Kyungi-ya, kau di dalam kan? Sehun butuh ke toilet–"

"Sial!" umpat Kyungsoo. Ia segera menarik keluar Jongin dan mendorongnya masuk ke lemari peralatan bersih-bersih. Jongin hanya pasrah karena didorong ke sana kemari. Sebenarnya ia tidak masalah jika hanya Luhan, tapi Sehun… ia memang harus sembunyi.

"H-hai Lu!" Kyungsoo membukakan pintu sambil tersenyum.

"Kau lama sekali!" protes Luhan, ia menoleh ke dalam, "kau sendirian?"

"Oh, ya… hehe. Memangnya harus bersama siapa?"

"Jongin hyung?" celetuk Sehun.

Mata Kyungsoo membulat, "m-mwo?"

Sehun tersenyum sinis, detik kemudian ia menatap datar pada Kyungsoo. "Bercanda, mana mungkin kan?"

"Sudah sana Sehun, toiletnya ada di sana…" tunjuk Luhan. Sehun pun bergegas ke toilet.

Sembari menunggu Sehun, Luhan sekali lagi mencari kuncinya. "Oh! Ini kunciku!" seru Luhan senang.

Kyungsoo bernapas lega, ia menggerutu. "Kau ini, kebiasaan sekali!"

"Mian…" cengir Luhan.

Setelah Luhan dan Sehun pergi, Kyungsoo mengeluarkan Jongin dan menunggu beberapa saat sebelum mengusir pria itu. Sebelumnya, sudah lebih dari dua jam Kyungsoo mencoba mengusir pria itu, tapi terus saja gagal.

"Terima kasih makanannya, Kyungsoo-ssi." Bisik Jongin, lalu pria itu menghilang di telan gelap.

Saat Jongin keluar pagar, langkahnya terhenti saat merasakan hawa seseorang di sana.

"Kim Jongin-ssi… Apa yang kau lakukan di apartemen Kyungsoo-ssi?" suara itu adalah suara Sehun.

Jongin berbalik, "oh, hai Sehun. Habis mengantar Luhan?"

"Kau…"

"Araseo, aku akan ceritakan. Kkajja masuk ke mobilmu." Final Jongin akhirnya.

..

"Jika kau di sini, apa pertunanganmu batal, hyung?" tanya Sehun saat kesunyian hampir menelan mereka.

Jongin meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, "aaagggghh!" Lalu ia menoleh pada Sehun. "Ani…"

"Michoseo?!" seru Sehun.

"Ani…" jawab Jongin. Sehun hanya bisa mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti dengan sahabatnya itu. "…aku memang ingin membatalkannya, tapi tidak tahu caranya." Ada jeda di kalimatnya, "Sehun-ah, apa ini perasaanmu dulu saat dipaksa menikah hingga kau menjalin hubungan dengan Luhan?"

"Ani," jawab Sehun. "Dulu aku menghindari pernikahan karena berpikir itu merepotkan. Luhan, dia hanya kebetulan saja muncul dan memberiku ide."

"Tapi itu dulu, kan?"

"Hm… itu dulu. Sekarang–"

"–sekarang kau bahkan melamarnya, tapi ditolak!" Celetuk Jongin lalu ia terbahak.

"Sial kau…" geram Sehun.

"Aku akan mengatasinya, jangan khawatir." Ucap Jongin dengan suaranya yang terdengar tenang. Meski begitu suasana hatinya benar-benar tidak tenang.

"Siapa yang khawatir." Balas Sehun.

Jongin menyandarkan kepalanya dengan nyaman lalu memejamkan matanya. Ia kembali memikirkan kejadian saat ia baru saja kembali dari Hawaii.

.

.

to be continued-

.

.


Annyeong annyeong~

Akhirnya bisa juga update tepat waktu hihihi. Gimana dengan chapter kali ini gaiss? Jangan lupa buat terus setia menunggu lanjutannya yakk ;)

..

Balasan review

#poohamelia87: selamat! permintaan kamu gak perlu nunggu lama karena memang saatnya Kaisoo muncul ^^ hihi

#xxizy: hayoo kira" gimana tuh perjanjiannya ahaha! Aku gak mau spoiler :p siippdeh, selalu semangatt ^^

#nanima999: hihihi garang ya kamu

#chan22: 3 luv!

..

Oke! Jadi, itu aja dari chapter ini yah! Selamat menunggu lagi dan jangan lupa reviewnya ^^ makasi udah sempetin review. Pokoknya...

Gamsahamnida

*loveforHUNHAN yeayy!