"OI CHIBINASU! NGAPAIN DARI TADI DI KAMAR?! BANTU RESTORAN SINI! KALO NGGA UANG JAJANMU DIPOTONG!"

Sanji tidak menjawab. Sama seperti kemarin, dia langsung ke kamarnya dan menyembunyikan dirinya dibalik selimutnya. Dia tak akan membuat kesalahan yang sama seperti kemarin jadi kali ini dia memastikan untuk mengunci pintu kamarnya.

Manusia lumut jaman purba tanpa otak itu menCIUMnya! Dan dia tidak melawannya! Dia hanya diam, membiarkan dirinya untuk dicium! Ditambah lagi, itu ciuman pertamanya!

Dia sudah lama mebayangkan ciuman pertamanya akan terjadi di hari pernikahannya dengan seorang wanita cantik, ramah, baik hati, tidak sombong, dan suka menabung. Ciuman itu dia simpan untuk ibu dari anak-anaknya sialan!

Tapi, jujur, Sanji tidak membenci ciuman itu. Ciuman tadi tak selembut seperti yang selalu ia bayangkan. Di antara ciuman itu terselip kobaran api dan semangat yang menggebu-gebu. Namun di saat yang sama, sebuah kelembutan yang memeluknya dan melindunginya juga hadir dalam ciuman itu.

Sialaaaannnnnn! Malah inget lagi kan!

Sanji membuka selimutnya dan memandang langit-langit kamarnya.

"AAAARRRRRRRGGGGGHHHHHHHHHHHHH" teriaknya frustasi

"WOI CHIBINASU! KALO NGGA MAU BANTU, NGGA USAH TEREAK-TEREAK! KEDENGERAN SAMPE BAWAH! Terdengar teriakan Zeff dari bawah tapi Sanji memutuskan untuk tidak menggubrisnya sama sekali. Dia masih punya hak untuk menjadi remaja yang moody-an.

Haaahhh... Dia masih harus bertemu ganggang laut itu lagi hari Senin karena hukuman Fullbody masih akan berlaku satu bukan ke depan.

"Iya, emang kalo orang lagi jatuh cinta emang kayak gitu ya ngga jelas." Samar-samar terdengar suara bisik-bisik yang keras dari luar pintu.

"Iya, kasian juga orangnya. Suka sama orang tapi tampangnya buluk kek gitu sapa yang mau ya, prihatin saya itu." Telinga Sanji menangkap suara bisik-bisik lain. Kali ini dengan nada persis seperti ibu-ibu pkk yang sedang gosip.

"NGAPAIN SEH NGGA JELAS DI DEPAN KAMAR ORANG!" Sanji membuka pintu kamarnya dengan cepat dan mengayunkan kakinya segera pintunya dia buka. Namun siapapun yang didepan pintu itu pasti sudah mengantisipasi serangan Sanji.

"BUAHAHAHAHA! YANG LAGI TERJUN CINTA NI YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!" Tawa menggelegar dan ejekan Patty langsung terdengar.

"Gini Dek Sanji, kalo ada ujian cinta tanya aja sana Abang Carne pakar wanita ini~" Carne merangkul Sanji sambil tersenyum lebar.

"JIJIK IH!"

"BUAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Patty dan Carne tertawa terbahak lagi.

Tiba-tiba HP Sanji bergetar dan ia mengangkatnya.

"Nami-swaaaannnnn! Tak kusangka Nami-san akan meneleponku di jam seperti ini" Sanji kembali ke mode perayu wanitanya, sementara Patty dan Carne kehilangan ketertarikan mereka menggoda Sanji. Kalau dalam mode perayu wanita, Sanji tiba-tiba saja berubah jadi seseorang yang mendarah daging mesum.

Oleh karena itu, senangnya bukan main waktu mereka tahu Sanji sedang jatuh cinta. Muka merah Sanji yang lebih merah dari tomat apapun yang ditunjukkan Sanji akhir-akhir ini menunjukkan bahwa Sanji bukan seseorang yang hanya memikirkan lekuk tubuh wanita dan hal-hal dewasa saja. Dia masih remaja labil yang bisa jatuh cinta dengan seseorang sampai mukanya merah padam. Sasaran empuk untuk dibercandain!

"Sanji-kun, kapan kamu rencana beli bahan-bahan untuk konsumsi turnamen kendo?" Suara HP Sanji terdengar cukup jelas. Suasana Baratie yang berisik setiap harinya membuat Sanji terbiasa melakukan panggilan telepon dengan volume yang tinggi.

"Eeemmm... mungkin besok Nami-san atau Minggu. Tapi aku selalu bisa nyesuaiin jadwalmu."

"Nah itu... aku kanyaknya ngga bisa nemenin kayak biasa kali ini. Aku kirimin anggota lain aja ya."

"Eh? Ngga harus besok atau Minggu sih, maksudnya kan Sabtu Minggu sekolah libur. Aku nunggu Nami-san lowong aja."

"Ngga usah repot-repot deh. Ah! Aku kirimin Zoro aja ya! Aku kasih Zoro kontakmu biar kalian bisa diskusiin mau berangkat kapan! Oke bye bye Sanji-kun!" Seketika nama Zoro disebutkan, terasa sensasi hangat yang merayap ke muka Sanji. Sialaaaann! Napa harus jejadian itu?!

"EH? Tapi... Tapi! TUNGGU NAMI-SAN! Kenapa harus sama Marimo itu..." Kenapa nasibnya sial banget woiii?

Sepulang sekolah tadi dia bersyukur hari itu hari Jumat dan ia tidak harua bertemu alga laut itu untuk dua hari kedepan. Cukup waktu untuk memikirkan sebuah cara untuk menghindari Zoro kedepannya. Walaupun kalau dipikir lagi, hukuman membersihkan kantin masih berlaku sampai sebulan lagi...

Arggghhhhhhhhh!

Yang tak disadari Sanji dari tadi adalah Patty dan Carne yang masih ada di dekatnya. Mereka dengan jelas mendengar seluruh panggilan itu dan melihat bagaimana muka Sanji berubah ronanya menjadi kemerahan ketika sebuah nama disebut.

"Jadi..." Patty angkat suara.

Shit! Sanji yang baru sadar akan situasi melihat Patty dan Carne tersenyum lebar seperti telah menemukan bahan ejekan mereka kembali. Tapi, memang benar sih.

"Zoro siapa niiiihhhhhhhh?~~~" Tanya Patty dan Carne secara bersamaan, keduanya merangkul Sanji dan mengusak rambut pirang Sanji.

"Sialan!" Rutuk Sanji dalam hati

Ping!

Terdengar suara notifikasi dari HP Sanji. Sanji berharap itu bukan dari mahkluk hijau, tapi memang seperti itu bukan hari keberuntungannya.

0123XXXXXXX

Alis keriting, gue dapet nomor lo dari Nami

Besok aja belanjanya, jam 11 supermarket ABC

Lo biasa belanja di sana kan kata Nami?

Ngga bisa Minggu gue ada latihan kendo

"CIEEEEEEEEE YANG MAU NGEDATE NIH BESOK!!!" Teriakan Patty dan Carne menggema seketika Sanji membuka pesan itu.

Sepertinya besok akan menjadi hari yang menguras tenaga...