-= Missing =-
.
.
.
~ A story by shimizudani ~
.
.
.
Perlahan namun pasti, Kibum melangkah melewati gerbang sekolahnya. Langkah kaki itu pelan dan tak bersemangat seolah tak ada lagi tenaga di sana. Meski mentari belum lama bersinar dan aktivitasnya baru dimulai, raut wajah itu tak menunjukkan antusiasme sama sekali. Kusut dan kosong. Cercah cahaya bahkan tak muncul dalam iris matanya.
Ia menendang pelan kerikil di ujung sepatunya. Suasana hatinya masih buruk—sama buruknya dengan hari kemarin. Belum ada dua puluh empat jam sejak ia kembali ke Seoul dan membawa kembali hasil perjalanannya bersamanya, termasuk seluruh perasaan sakitnya. Kota itu adalah lukanya yang tak pernah benar-benar sembuh.
Kerja otaknya sangat kacau. Ia ingin marah. Kepada mereka. Kepada semua yang telah membuat keadaan ini ada. Dan ia lebih marah ketika tak satupun dari mereka berniat memperbaikinya. Hanya bertukar kabar, bukankah itu tidak sulit?
Kaki Kibum berhenti kala ia menyadari keberadaan Kyuhyun di sana. Berjalan tak jauh di depannya dengan langkah pendek-pendek yang kentara sekali sengaja dilakukan. Ia memperhatikan Kyuhyun dari belakang. Saat itulah bayangan Kyuhyun-nya muncul. Kyu kecilnya yang beranjak dewasa dan berubah menjadi sosok remaja di depannya.
"Kyu."
Lirih, Kibum berucap. Namun, agaknya suara itu berhasil memasuki indera pendengaran Kyuhyun. Atau instinglah yang membuat pemuda itu berpaling sehingga kedua mata mereka dapat saling bertemu pandang. Mata milik Kyuhyun begitu hidup—kontras dengan miliknya.
"Oh, Hyung!" sapa Kyuhyun, riang. Sebuah senyum terkembang di wajahnya.
Melihat senyum itu, entah kenapa, membuat semua keresahan Kibum hilang. Hatinya seperti mendapat ketenangan yang memang ia butuhkan saat ini. Rasa hangat itu perlahan menjalar dalam hatinya. Dan hal itu tanpa sadar membuatnya tersenyum. Sebuah senyum samar, namun hangat.
"Henry mana, Hyung?" tanyanya saat tak mendapati keberadaan temannya bersama Kibum.
"Masih di rumah, mungkin. Aku berangkat duluan."
"Pagi sekali, Hyung."
Kibum tak membalas. Ia hanya tersenyum ketika Kyuhyun membeberkan fakta itu. Ya, terlalu dini baginya berada di sekolah. Ia datang sejam lebih awal dari jam masuk sekolah. Biasanya, ia baru akan mulai sarapan di jam segini. Khusus hari ini, gedung sekolah sudah berada dalam jarak pandangnya.
Ia sudah bilang, bukan, bila perasaannya tak tenang semenjak kembali dari Daejeon? Ia tak mau keluarganya menyadarinya karena ia yakin tak akan pernah bisa mengatakan alasannya. Karena itulah, sendiri adalah pilihan terbaik. Ia butuh waktu untuk menerima semuanya dan memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya, termasuk tentang Kyuhyun yang berdiri di hadapannya. Mau tak mau, ia harus mempersiapkan diri jika kenyataan terpahit itu benar-benar terjadi.
"Bagaimana denganmu? Bukankah masih terlalu pagi juga untukmu berada di sekolah?" tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku pergi bersama Jungsoo hyung."
Kibum mengangguk pelan—seakan paham maksud jawaban tersebut. Ya, apalagi selain, 'Jika aku berangkat sendiri, tidak akan sepagi ini.'
"Hitung-hitung bisa menghemat uang saku," tambah Kyuhyun dengan selipan nada gurau di sana. Kibum pun hanya tersenyum mendengarnya.
Kibum dan Kyuhyun berjalan beriringan. Mereka melangkah dengan irama yang hampir bersamaan—pelan dan tidak terlalu lebar. Kibum tahu betul letak kelas Kyuhyun. Begitu pun Kyuhyun yang sudah lama mengetahui jika seluruh siswa kelas tiga menempati lantai teratas, meski ia belum pernah memasukinya. Buat apa? Tak ada alasan baginya untuk ke sana.
Mata Kyuhyun melirik sekilas pada sosok pemuda di sampingnya. Ia memperhatikan pundak Kibum yang ternyata lebih tinggi darinya. Hanya beberapa senti—mungkin dua atau tiga senti—melihat jaraknya yang tak begitu kentara. Dengan begitu, ia bisa lebih mudah melihat wajah Kibum.
Kibum mengenakan kacamata andalannya. Bentuknya persegi panjang dengan garis hitam menghiasi sisi atas lensanya. Ia tidak tahu seberapa parah minus mata Kibum. Ia hanya tahu jika kacamata itu sangat berguna untuk memperbaiki penglihatan Kibum. Dan kacamata itu selalu membuat sosok Kibum terlihat dewasa di matanya.
Ia mengagumi kedewasaan itu. Meski Kibum tak banyak bicara, ia tahu betapa pemuda itu menyayangi Henry. Ia seperti melihat sosok Jungsoo di dirinya; seorang kakak dengan rasa sayang dan selalu berusaha melindungi adiknya. Bedanya, semua itu tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Butuh kepekaan ekstra untuk mengetahuinya mengingat betapa tertutupnya sifat Kibum.
Ah, sok tahu sekali dirinya ini.
"Apa yang kau lakukan di akhir pekan?"
Kyuhyun sedikit terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Alih-alih berpaling dan menangkap basah dirinya yang sibuk memperhatikan Kibum, pemuda itu memilih bersuara bahkan tanpa mengubah arah pandangnya. "Oh.. Emm, jalan-jalan keliling Seoul," jawabnya, agak gugup. "Bersama Heechul hyung." Ia menambahkan.
Ada jeda dalam percakapan mereka. Kibum seolah membutuhkan waktu untuk mencerna jawaban tersebut. "Sepertinya, kau sangat dekat dengan kakakmu, ya?"
"Tentu saja," jawab Kyuhyun, tanpa ragu. Sebagai saudara, memang sudah seharusnya kan mereka dekat?
Kibum berhenti sejenak. Matanya menatap Kyuhyun yang mulai berjalan selangkah meninggalkannya. Ia melihat senyum itu—sebuah senyum tulus yang hanya akan terulas saat mengingat kenangan bahagia. Dan raut wajah itu pun memperlihatkan hal serupa—hangat dan bahagia. "Kelihatannya mereka juga sangat memanjakanmu," simpulnya. Alih-alih menggunakan kata menyayangi, ia mengucapkan kata itu bisa juga berarti 'terlalu sayang' baginya.
"Memanjakan apa? Heechul hyung sangat jahil, sementara Jungsoo hyung terlalu khawatir padaku. Hanya karena mereka yang menemukanku, terkadang, mereka jadi seenaknya mengaturku."
Kibum terhenyak. Menemukan?
Ah, benar. Kyuhyun tinggal di panti asuhan. Harusnya Kibum sudah tak kaget dengan kenyataan tersebut karena tidak ada yang ingin tinggal di sana atas keinginan sendiri, kecuali mereka yang tak dihargai dalam keluarganya. Apakah Kyuhyun merupakan salah satunya? Atau justru remaja itu sengaja ditinggalkan di sana?
Tiba-tiba perasaan marah menyeruak di dalam dadanya. Dua pilihan itu sama saja. Apapun alasan Kyuhyun tinggal di panti asuhan, tidak bisa menutupi fakta bahwa keberadaan Kyuhyun yang tak diinginkan lagi oleh keluarganya. Remaja itu harus mengalami penolakan dari orang-orang yang sangat dipercayainya dan yang seharusnya menerima keadaannya tanpa syarat.
Ragu, Kibum bertanya, "Kalau boleh tau-" Ia mengambil jeda sejenak dalam kalimatnya. "-kapan mereka menemukanmu?"
.
.
Ryeowook meletakkan sebuah kotak di atas meja Kyuhyun dan Henry. Ukurannya cukup besar dan terdiri dari tiga tingkat. Tanpa diminta, ia mulai membuka tumpukan kotak tersebut dan menyejajarkannya agar dua kawannya dapat melihat jelas isi di dalamnya.
"Wah," ujar Henry, takjub melihat apa yang tersaji di depannya. Kimbap, rice ball, dan sandwich dengan jumlah cukup banyak ada di sana. Seketika, rasa lapar menggelitik perutnya.
"Kau yang membuat semuanya?" sahut Kyuhyun tak percaya. Tanpa sadar, otaknya mulai menghitung jumlah makan tersebut. Satu, dua, tiga, empat, dan... seterusnya.
Ryewook mengangguk dengan antusias. Ia memang tak sepandai Kyuhyun dan Henry dalam pelajaran sekolah. Namun, ia yakin kemampuannya yang satu ini melampaui mereka. Sudah sejak lama ia menikmati kegiatan memasak. Hampir setiap hari ia melakukannya. Tak lupa dengan berbagai eksperimen resep yang sering dicobanya.
"Kita makan bersama," tawarnya lalu menduduki kursi kosong di depan bangku Kyuhyun dan Henry. Ia kemudian mengambil satu sandwich dan mulai menikmatinya.
Mendengar hal itu, tanpa ragu kedua sahabatnya mengikuti jejak Ryeowook. Satu-persatu makanan di dalam kotak itu berkurang. Mereka dengan lahap menikmati bekal buatan Ryeowook.
"Enak," komentar Kyuhyun singkat.
"Kau bisa menjadi chef hebat nanti." Kali ini yang bersuara adalah Henry.
"Begitukah?" Ryeowook terlihat sedang berpikir. "Boleh juga. Nanti aku akan membuka restoran sendiri dan kalian bebas makan di sana," ujarnya. Terbayang dalam benaknya masa depannya nanti jika ia memilih menjadi chef.
"Janji? Kau tidak boleh melupakan kata-katamu barusan."
Ryeowook tertawa lebar. Hebat sekali dirinya karena sudah memberikan janji tentang masa depannya yang belum pasti. Tapi, siapa tahu bisa menjadi kenyataan, bukan? Seperti kakak Kyuhyun yang memiliki kafe sendiri. Jadi, ia bebas mentraktir siapa pun yang ia mau. "Janji," jawabnya mantap.
Mereka bertiga kembali menikmati bekal Ryeowook.
"Oh ya, kalian daftar les tambahan di mana?"
"Tidak ada," jawab Kyuhyun santai usai mengunyah sepotong kimbap di mulutnya. Dari ketiga jenis makanan yang dibawa Ryeowook, ia paling menyukai kimbap. Rasanya tidak jauh berbeda dari yang dijual di minimarket. Terlebih, ini gratis. Oh, siapa yang tak suka mendapat makanan gratis? Pastinya, bukan Kyuhyun.
"Sama," sahut Henry sambil tangannya bergerak menuju kotak berisi rice ball.
Ryeowook membulatkan mata tak percaya mendengar penuturan mereka kedua. "Kalian serius?" tanyanya menyuarakan ketidakpercayaannya.
"Kibum hyung sering membantuku belajar." Henry mengungkapkan alasannya ketika melihat mata Ryeowook yang menatapnya meminta penjelasan.
Ryeowook mengangguk paham. Henry sering bercerita kalau kakaknya jenius dan selalu mendapat ranking terbaik-meski ia belum pernah melihatnya sendiri. Ia pun maklum jika kakak Henry menjadi tutor tambahan kawannya. Bagaimana dengan Kyuhyun? Maka, ia beralih menatap remaja di samping Henry.
Merasa diperhatikan, Kyuhyun pun menghela nafasnya pelan. "Aku malas." Ia berujar singkat. "Lagipula, aku bisa belajar sendiri," tambahnya.
Mulut Ryeowook nyaris terbuka mendengar jawaban tersebut. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tahu Kyuhyun pandai dalam bidang matematika. Mungkin, kepintarannya itu menular pada mata pelajaran lain hingga belajar sendiri lebih mudah baginya. Kini, tersisa dirinya dengan kepandaiannya yang biasa saja yang terpaksa memikirkan kemungkinan untuk mengikuti les tambahan demi mendongkrak prestasi sekolahnya.
"Enak sekali kalian! Tidak perlu ikut les tambahan!" keluhnya dengan bibir mengerucut. Entah bagian mana yang ia keluhkan; kakak Henry yang jenius, Kyuhyun yang bisa belajar sendiri, ataukah kepandaiannya yang biasa saja?
Kyuhyun dan Henry saling berpandangan. Yang bisa mereka tangkap adalah keengganan Ryeowook mengikuti les tambahan. Siapapun tahu les tambahan akan sangat menguras tenaga fisik dan pikiran. Belum lagi dengan biaya yang harus dikeluarkan dan jumlahnya tidak sedikit-tergantung tempat les mana yang dimasuki. Semakin baik reputasinya maka akan semakian mahal biaya yang dibebankan. Benar-benar! Tidak ada yang gratis di dunia ini!
"Kalau kau mau, kita bisa belajar bersama," usul Henry masih dengan mata yang menatap Kyuhyun. "Benar, kan, Kyu?" tanyanya meminta persetuan kawannya.
"Tentu saja," balas Kyuhyun cepat. Ia mengalihkan perhatiannya pada Ryeowook. "Kita bisa belajar bersama."
Senyum sangat lebar terkembang di wajah Ryeowook. "Benarkah? Kapan?" Ia terlihat bersemangat dengan ide itu.
"Sepulang sekolah atau akhir pekan?"
"Lalu, di mana?"
"Kita bisa pikirkan nanti. "
.
.
"Kibum-ah, kakakmu sudah datang." Suara nyaring Ryeowook memecah keheningan kelas di siang hari ini.
Henry yang baru saja selesai mengobrak-abrik lokernya hanya melihat sekilas pada Kibum. "Tunggu sebentar, ya, Hyung. Aku harus membereskan ini dulu," ujarnya merujuk pada barang-barang miliknya yang berserakan di atas meja.
Kibum memperhatikan kegiatan Henry dalam diam. Masih di tempat yang sama-ambang pintu kelas 1 - 6-tanpa berniat masuk ke dalamnya, ia berkata, "Aku tunggu di bawah." Kemudian, ia berlalu pergi dari tempat itu.
"Ne." Henry membalas dengan setengah berteriak agar didengar kakaknya.
Kondisi kelas memang sudah sepi. Bel sekolah telah berbunyi lebih dari sepuluh menit lalu. Hanya ada Kyuhyun, Henry, dan Ryeowook di sana. Siswa lain? Mereka sudah tak terlihat batang hidungnya di menit pertama sejak bel pulang berbunyi.
Lalu, apa yang mereka bertiga lakukan?
Mereka memang sering memilih pulang paling akhir. Selain untuk menemani Henry yang harus menunggu Kibum, mereka juga menunggu suasana sekolah berangsur sepi. Namun kali ini, mereka bertiga tidak langsung pulang ketika Kibum datang. Henry harus merapikan barang-barangnya yang sudah ia keluarkan dari tas dan loker demi mencari sepasang headset putih yang masih tetap belum ditemukan keberadaannya. Sepertinya, barang itu tidak ada di sekolah. Mungkin, terselip di suatu tempat di rumah Henry.
"Kau sedang tidak ada masalah dengan hyung-mu, kan?" tanya Kyuhyun tiba-tiba.
Henry menghentikan sejenak kegiatannya. Ia menatap bingung Kyuhyun. "Tidak. Memang kenapa?"
Canggung, Kyuhyun mengusap tengkuknya. Ia sebenarnya hanya menduga setelah sebuah ingatan mengenai pertemuannya dengan Kibum pagi tadi melintas di benaknya. "Ah, tidak. Aku pikir kalian sedang dalam masalah. Aku lihat Kibum hyung berangkat pagi sekali hari ini," katanya memberi alasan.
"Oh, itu. Katanya ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini dan hyung lupa kalau bukunya ketinggalan di sekolah."
Sebuah kerutan muncul di dahi Kyuhyun. Dalam ingatannya, tak ada kesan itu di sana. Maksudnya, jika memang ada tugas yang belum dikerjakan, normalnya, orang akan terlihat buru-buru. Tapi, Kibum telihat santai berjalan menuju kelasnya. Mereka bahkan bisa mengobrol bersama.
"Selesai. Ayo pulang!"
Kyuhyun tersentak Dengan segera dienyahkannya segala pikiran mengenai Kibum. Ia mengikuti langkah Henry dan Ryeowook; meninggalkan kelas lalu menuruni tangga. Dan ia bisa melihat Kibum di sana-tengah bersandar pada daun pintu yang terbuka. Pemuda itu pun menoleh setelah menyadari kedatangan mereka.
Kyuhyun terhenyak. Ia melihat sesuatu yang lain dari Kibum. Ia melihat... segurat luka dalam tatapan matanya, meski hanya sekilas karena Kibum dengan cepat mengubah arah pandangnya. Namun, ia sedikit ragu. Apakah benar yang ia lihat? Bisa saja ia salah. Kacamata yang dikenakan Kibum sudah cukup mampu membuatnya salah menafsirkan arti tatapan itu.
Tapi jika benar, ia tak yakin pada siapa tatapan itu Kibum tujukan. Henry dan Ryeowook sedang asyik mengobrol saat itu. Praktis, hanya dirinya yang bisa bertemu pandang dengan mata Kibum. Apakah artinya... tatapan itu ditujukan untuknya? Mengapa?
.
- Chapter 6 End -
.
Special Thanks To:
Seluruh pembaca Missing
Ehm... Halo para pembaca Missing ~
Aku baru ingat kalau belum update part ini di FFn. Udah jarang buka juga sih. Jadi terlupakan. Hehe...
Oya, melalui posting kali ini, aku sekalian mau kasih pengumuman kalau seluruh cerita yang ada di akun FFn ini akan aku lanjutkan di platform lain. Aku lumayan aktif coba-coba platform kepenulisan. Kalian browsing aja pakai username sama seperti yang di FFn: shimizudani. Paling sering aktif sih di aplikasi KBM App, Joylada, dan Wattpad. Jadi, ditunggu kunjungannya di sana ya.
Alasan kenapa pindah karena pengen bikin base aja di sana. Sama urusan finansial juga. Maklum, penulis juga butuh uang agar bisa terus menghasilkan karya yang bagus. Makanya, aku tunggu banget dukungan kalian di sana.
Okey, sekian curhat panjangku. Terima kasih sudah mengikuti karya-karyaku selama ini. Sampai jumpa di lain platform.
