Daylight Daybook

Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu

Fiksi ini ditulis oleh Furaa dengan mengambil prompt "Fantasy"

(Words count: 785)

Warning : Giyuushino! Vampire!AU.

No commercial profit taken.


.

Secara penampilan, Tomioka Giyuu terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Namun, Shinobu tahu jika kekasihnya ini bukan manusia. Tepat kemarin—setelah menjalin hubungan selama dua tahun—lelaki pecinta salmon daikon itu mendeklarasikan rahasianya. Dengan nada santai Giyuu berkata, "Aku vampir".

Pengakuan tersebut sempat membuat Shinobu tak berkutik di tempat. Netra ungu menelisik dalam netra samudra. Sampai akhirnya kedua gigi taring Giyuu menjadi lebih besar dan tajam diiringi dengan perubahan netra samudra menjadi merah darah.

Shinobu memang diam, tapi gadis itu juga tak menampakkan raut takut atau gentar. Justru dengan senyum yang selalu setia menghiasi wajahnya Shinobu hanya berkata "Oh, pantas kalau ngajak kencan selalu malam."

Pada akhirnya Giyuu yang dibuat bingung. Gak mungkin kan, pembicaraan berat nan dalam ini akan berakhir dengan 'Hanya itu saja yang mau kamu akui?'.

Bagi Giyuu pengakuannya soal 'siapa dirinya' adalah kemajuan terpesat dalam hubungan mereka. Giyuu memegang teguh nasihat yang mulia agung Sabito—gurunya dalam masalah percintaan—kalau hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling terbuka.

Tapi sayangnya keterbukaan Tomioka Giyuu tak didukung dengan keterbukaan Kocho Shinobu. Giyuu tahu, ada hal yang Shinobu sembunyikan darinya. Tapi jika sudah dipancing gadis itu tetap memilih bungkam, ya ... apa boleh buat?

Semenjak Giyuu mengakui dan membuktikan bahwa dirinya vampir, hubungan masih berjalan, dengan (sedikit) tak biasa.

Ada saatnya Giyuu berkata pada Shinobu, "Mau darah kamu" pada kekasihnya.

Tapi respon yang Giyuu dapat adalah membekunya Shinobu di tempat. Saat Giyuu tanya "Kenapa?" kekasihnya menjawab dengan tersenyum, "Aku mau, tapi kayaknya gak mungkin". Lalu secepat kilat, Shinobu mengalihkan padangan dari Giyuu. Setelahnya, sisa waktu yang ada dialihkan Shinobu dengan pembicaraan mengenai pekerjaan. Dari situ Giyuu tahu, ada sesuatu yang disembunyikan kekasihnya.

Sampai tiba saatnya rahasia tersebut terbongkar.

Saat itu Giyuu sedang main ke apartemen Shinobu. Pria itu duduk manis di ruang tamu selagi Shinobu menyiapkan minum dan kudapan. Entah karena terlalu lelah atau memang kurang sehat, kekasihnya tak sengaja menjatuhkan gelas berisi kopi yang akan ia beri kepada Giyuu. Mendengar bunyi pecahan kaca dari arah dapur tentunya Giyuu bergegas melihat apa yang terjadi. Namun bukan hanya tumpah, sepertinya sang kekasih juga terkena beberapa pecahan membuat tangannya mengeluarkan cairan merah berbau amis.

Bagaimana pun juga, Giyuu vampir. Walau sudah dilatih untuk tidak liar jika melihat darah tapi untuk yang satu ini adalah pengecualian.

Luka di tangan Shinobu kecil dan tak serius, namun darah yang keluar tak kunjung membeku. Shinobu baru saja akan bergegas mencari lap atau tissu, tapi geraknya dihentikan. Tangannya ditangkap dan tiba-tiba saja jari telunjuk miliknya sudah berada di mulut Tomioka Giyuu.

Kontan, gadis tersebut menjelma jadi kepiting rebus. Apalagi saat dirinya merasakan sensasi panas ketika Giyuu menghisap jarinya.

Keduanya terdiam untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Giyuu berujar "Sudah."

Hal pertama yang Giyuu lakukan adalah mengerutkan kening. Dirinya yakin, ia menghisap darah Shinobu sekitar tiga menit. Waktu yang cukup untuk menghentikan pendarahan. Tapi saat jari telunjuk Shinobu lepas dari mulut Giyuu, cairan merah masih keluar bahkan menetes.

Aneh.

Setelah terlepas dari serangan dadakan Tomioka Giyuu, gadis pecinta kupu-kupu itu bergegas mencari lap atau tissu. Sedangkan Giyuu dengan cepat mengetikan beberapa kata di gawainya.

"Shinobu."

"Ya?"

"Kamu, hemofilia?" Giyuu bertanya sambil menampilkan search engine dengan keyword 'penyakit darah sukar membeku'

Shinobu memilih fokus melilitkan lukanya pada tissu, mengabaikan pertanyaan Giyuu.

Setelah selesai berurusan dengan luka, gadis tersebut angkat bicara, "Kenapa?"

Walau bukan jawaban pasti seperti "Ya" atau "Tidak" Giyuu mengerti. Dengan Shinobu tak mengelak dirinya mengidap Hemofilia, sudah cukup menjelaskan. Kini Giyuu mengerti mengapa kekasihnya tak bisa memberi darah padanya.

Salah satu sifat Shinobu. Ia tak mau membuat orang di sekitarnya khawatir. Menjadikan gadis itu terbiasa memendam segala masalahnya sendiri. Sehingga senyum (palsu) selalu menghiasi parasnya, untuk menguatkan pernyataan bahwa "Aku memang baik-baik saja".

Sambil menghela nafas, entah maksud bercanda atau serius—hanya Giyuu yang tahu—pria itu membalas, "Kalau gitu, gak bisa hisap-hisap dong."


A/N: Hai! Ketemu lagi dengan Furaa! Sebenarnya bisa dibilang fanfik ini remake, karena pernah buat dan post di fb aja (sekedar sepintas ide saja). Maaf ya kalau fantasy-nya kurang berasa. Semoga humornya juga terasa ya. Dan untuk Giyuu, maafkan aku yang selalu menistakan dirimu. Tapi aku senang banget, jadi gimana dong? /minta maaf macam apa ini?

Akhir kata, silahkan nikmati bonus di bawah ini. Sampai jumpa.


Omake

"Jadi, ada masalah apa bro?"

Sabito memulai tugas mulianya—menjadi guru mata pelajaran 'Cara memahami wanita bagian satu'—ketika mendapati Giyuu pulang dengan wajah ditekuk.

"Tadi ngelamar Shinobu."

"Terus?"

"Gagal."

Sabito menatap wajah Giyuu lurus-lurus. "Kok bisa. Ngelamarnya gimana?"

Giyuu menutup mata sebentar, mengingat peristiwa yang sakitnya tuh di sini.

"Shinobu." Giyuu membuka percakapan.

"Kenapa?"

"Kamu mau hemofilia kamu sembuh gak?" Giyuu membuka pertanyaan, sebagai latar belakang dan pendahuluan dari pembahasan berikutnya.

Gadis itu mengecilkan suara tv sebelum memberi jawab. "Tentu saja. Perlukah bertanya padahal jawabannya sudah pasti?"

Giyuu melanjutkan aksi, tanpa peka akan betapa sinisnya jawaban Shinobu, yang mengindikasikan sang gadis mungkin saja sedang memasuki fase PMS (Perempuan Mode Setan)

"Jadilah vampir dengan menikah bersamaku. Niscaya, hemofilia kamu sembuh."

"Jadi kalau aku gak ada hemofilia, kamu gak akan lamar aku?"

Sabito yang menepuk jidat keras-keras membuat Giyuu kembali ke masa kini. Setelah menghirup oksigen banyak-banyak, Sabito mengomentari. "Rasanya gue ingin berkata kasar sama lu."