Tuk
Sakura memandangi segala sudut kamarnya sekilas. Sudah beberapa kali bunyi aneh itu terdengar, namun ia tidak juga mendapati sumbernya. Sakura kembali memfokuskan perhatiannya pada buku-buku dan barang-barangnya yang ia tinggalkan di kamar ini, berusaha untuk merapikannya dalam satu tempat.
Tuk
"Ugh! Ada apa sebenarnya?!" desisnya kesal pada diri sendiri. Wajah sembabnya dipenuhi ekspresi tidak suka, lalu ia mulai berjalan memutari kamarnya dan mengecek empat jendela yang ada disana.
Saat itulah ia melihat sepasang tangan mencengkram kuat kusen jendela luarnya, diikuti dengan wajah meringis Kakashi dibawahnya.
"Astaga… kau tidak tahu kalau setiap rumah pasti memiliki pintu?!" ujar Sakura kesal. Ia membukakan jendela kamarnya dan membiarkan Kakashi masuk. Baju pria itu sudah sedikit basah oleh keringat—kalau tidak salah hitung, berarti sudah sekitar lima belas menit ia bergelantungan seperti itu di luar jendela.
Sakura berjalan ke arah lemari dan melemparkan handuk kecil ke arah Kakashi. Kakashi menerimanya, mengeringkan leher dan wajahnya yang sekarang sudah dipenuhi keringat dan juga mengusap-usap rambutnya dengan kasar. Sakura berdecih pelan. Sudah tua masih tetap saja bodoh.
"Serius, Kakashi, kenapa kau tidak masuk dari depan?" tanya Sakura pelan. Ia kembali fokus memasukkan buku-bukunya ke dalam boks besar.
"Aku… mendengar percakapanmu dengan Ibumu."
Sakura tertegun dan berhenti bergerak. Untung saja saat ini ia duduk membelakangi Kakashi jadi pria itu tidak perlu melihat wajah paniknya. Kakashi sendiri menatap dinding kamar Sakura dengan bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Beberapa saat yang lalu orang tuanya memintanya untuk memanggil Sakura, namun ia malah menghadapi situasi tidak enak seperti ini.
"Oh," Sakura angkat suara pada akhirnya. "Kau takut menemuinya sekarang?"
"Begitulah…"
Sakura tersenyum. "Penakut."
Ia bangkit berdiri dan duduk di sebelah Kakashi. Mereka berdua menyandarkan kepalanya ke tempat tidur dan berusaha untuk menenangkan diri masing-masing. AC yang terletak tidak jauh dari tempat mereka duduk sukses untuk mengeringkan kemeja Kakashi sedikit demi sedikit, juga membuai mereka untuk hampir saja terlelap.
"Kakashi?" panggil Sakura pelan.
Kakashi menjawab sekenanya. Matanya teramat berat dan ia bisa tidur kapan saja saat ini.
"Apa kau tahu kalau ayahku akan diangkat menjadi direktur?"
"Ya," jawab Kakashi lirih. "Tadi ayah memberitahuku."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Kakashi membuka sebelah matanya dan melirik Sakura. Gadis itu tengah menengadah, memandang langit-langit kamarnya yang berwarna krem pudar dengan pandangan gelisah. Tangannya bergerak untuk meraih tangan Sakura dan membawanya dalam genggaman.
"Memangnya apa yang harus kita lakukan?" tanya Kakashi, tanpa menjawab.
"Entahlah… semuanya tiba-tiba saja menjadi sangat runyam." Ujar Sakura lirih. Ia menoleh ke kanan dan menatap Kakashi lekat-lekat. "Aku mulai berpikir apakah hubungan kita yang sekarang ini salah."
Kakashi mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. "Tidak, Sakura."
"Kakashi, aku menghancurkan hubunganmu dengan Mei-nee yang sudah berjalan selama… entahlah, sepuluh tahun lebih?"
"Empat belas tahun."
"Oh, yang benar saja..." Sakura menutup kedua matanya dengan kesal. "Aku benar-benar buruk."
Kakashi tersenyum kecil. Ia menegakkan tubuh dan menatap Sakura yang sekarang sedang terpejam.
"Sakura," panggilnya lembut. Ia kembali memberikan senyuman saat Sakura kini tengah menatapnya dengan kalut. "Apa kau ingat saat pertama kali kau datang ke rumahku?"
"Aku tidak tahu… saat aku memberikanmu kincir angin?"
"Bukan," ujar Kakashi, matanya berbinar jenaka. "Saat pertama kali."
Sakura mengingat-ingat sebentar. Ia kemudian menoleh ke arah Kakashi dan tertawa kecil. "Maksudmu, benar-benar saat aku baru pindah ke sini?"
"Ya."
"Aku hanya ingat sedikit… Ibumu memberikanku kue cokelat saat itu," ujar Sakura pelan. "Dan kau menggendongku selama orang tua kita berbicara satu sama lain, mengajakku melihat-lihat koleksi bunga Ibumu di halaman belakang."
"Tepat sekali."
"Lalu?"
Sakura mengerjapkan matanya beberapa saat ketika Kakashi mendekatkan tubuhnya. Ia yakin telah mengatur AC-nya tadi dengan suhu terendah, tapi tetap saja sekujur tubuhnya memans saat kakinya dan kaki Kakashi bersentuhan.
"Apa kau masih berpikir kalau empat belas tahun adalah waktu yang lama?" tanya Kakashi lirih. "Aku bahkan mengenalmu jauh sebelum aku mengenal Mei."
"Tapi saat itu, kau dan aku belum…" ujar Sakura terbata, bingung bagaimana harus melanjutkan kata-katanya. "Kau dan aku belum… mempunyai hubungan khusus."
Kakashi terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya ia tertawa. Sakura di depannya berdecih pelan, menendang Kakashi untuk menjauh dan memunggunginya. Momen kelewat romantis ini jadi hancur total karena tawa menyebalkan Kakashi. Apa yang sudah merasukinya sampai-sampai ia bisa menyukai pria itu?
"Hei, jangan marah dulu." Ujar Kakashi. Ia berbaring di atas karpet bulu tebal Sakura dan memandang gadis itu dengan geli.
"Wajahmu menyebalkan."
"Teman-temanmu tergila-gila pada ini." Kakashi tersenyum bangga sambil menunjuk wajahnya.
"Itu karena… selera mereka aneh." Sahut Sakura kesal.
Kakashi memandang Sakura dan tersenyum kecil. Ia menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga Sakura dengan gerakan pelan.
"Tidakkah kau menyadarinya?" tanya Kakashi. "Hubungan kita sedari dulu… adalah hubungan khusus."
"Ew, apa maksudmu?! Kau sudah menyukaiku sejak umurku tiga tahun?!" desis Sakura kaget.
Pria itu tersenyum jengkel. "Tentu saja aku sudah menyukaimu sejak awal, tapi bukan yang seperti itu." Ujarnya sambil menjadikan salah satu lengannya sebagai bantal. "Maksudku, kalau disuruh memilih, aku pasti akan memilih Mei dan teman-temanku yang lain dibandingkan dirimu untuk dikencani, kau tahu? Karena mereka tentunya akan jauh lebih cocok denganku dan—"
"Berdada lebih besar."
Mereka berdua saling melempar senyum, sebelum akhirnya Kakashi mendapat cubitan keras dari Sakura.
"Hei, kau yang mengatakannya!" ujarnya tidak terima.
Sakura tidak menanggapi. Ia mengalihkan pandangan dan memperhatikan dinding kamarnya.
"Tapi pada saat aku bertengkar hebat dengan Mei di dalam mobil, aku menyadari sesuatu." Ujar Kakashi. "Aku akan selalu mendahulukanmu, Sakura."
Sakura tertegun dan mendapati Kakashi sedang menatapnya. Pikirannya tiba-tiba saja melayang pada momen dimana ia bersedia untuk membantu Kakashi, merelakan seminggu waktu kuliahnya yang berharga untuk mengurus pernikahan, membohongi seluruh keluarganya, menyembunyikan pernikahannya dari Ino dan Hinata, mengakhiri hubungannya yang sama sekali tidak bermasalah dengan Kiba…
Sakura tersadar, ia menyukai Kakashi sebesar itu.
"Terima kasih sudah melakukan yang sama." ujar Kakashi lirih, seakan bisa membaca pikiran gadis itu. "Sekarang kemari."
Sakura menurut dan merendahkan kepalanya. Ia memejamkan mata saat bibir Kakashi yang hangat menyentuh bibirnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menarik diri kembali.
"Kita benar-benar berada dalam masalah." Ujar Sakura sambil tertawa.
"Ya." Kakashi mengangguk-angguk, menarik Sakura sehingga mereka berdua terbaring di atas karpet bulu sekarang. Sakura menyamankan diri di lengan Kakashi dan meletakkan tangannya di atas perut pria itu.
"Berapa lama kau bergelantungan disana tadi, Kakashi?" tanya Sakura. "Aku mencium sesuatu…"
"Begitu, hm? Coba cium lagi."
Kakashi menarik lengannya perlahan dan mengunci Sakura. Baru saja Sakura berpikir Kakashi akan menciumnya lagi, ia membelalak ketika Kakashi malah meletakkan ketiaknya tepat di atas wajahnya, dan sialnya tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
"KAKASHI!" jeritnya kesal. "LEPASKAN AKU!"
.
.
Sakura menyapukan blush on-nya beberapa kali lagi dan tersenyum di depan cermin. Make up sudah, rambutnyapun juga sudah dengan cantik ditatanya. Sakura membuka kancing kemejanya dan memakai gaun merah panjang yang sedari beberapa jam yang lalu sudah digantung Mebuki di dinding kamarnya. Sakura memperhatikan dirinya sendiri selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil gambarnya sendiri.
Ponselnya bergetar beberapa saat kemudian. Sakura terkekeh kecil saat menatap balasan teman-temannya yang heboh melihat gaun yang sedang dikenakannya.
"Sakura?"
Tangannya berhenti mengetik sementara ia menoleh ke arah pintu. "Ya?"
"Sepuluh menit lagi kita berangkat." Ujar Mebuki. Ia masuk ke dalam dan membantu Sakura dengan risletingnya yang berada di belakang punggung. "Cantik sekali."
"Ibu juga cantik sekali." Puji Sakura, memperhatikan Mebuki yang juga memakai gaun berwarna merah. "Terima kasih, Ibu."
Sakura dan Mebuki turun bersama beberapa menit kemudian dan tersenyum ke arah Kizashi yang tampak sudah menunggu mereka. Ayahnya tampak beberapa tahun lebih muda malam itu—sinar bahagia tidak lepas dari wajahnya dan bibirnyapun tidak berhenti tersenyum sedari tadi.
"Sakura, Kakashi sudah pergi terlebih dahulu bersama keluarganya karena ada beberapa hal yang harus diurus," ujar Kizashi saat mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. "Jadi tidak apa-apa, ya, kau pergi bersama Ayah dan Ibu seperti ini."
"Tentu saja tidak apa-apa… ini seperti waktu dulu, 'kan?"
Sakura menyandarkan tubuhnya pada jok hitam mobil tua milik ayahnya. Ia selalu senang untuk duduk disini karena ia bisa merebahkan tubuhnya, atau sekedar meluruskan kaki, karena ia tidak mempunyai saudara untuknya membagi tempat duduk saat ini. Sakura memandangi clutch gemerlapan dalam tangannya dan tersenyum sendiri.
Mereka sampai di sebuah hotel besar yang sudah dipenuhi oleh berbagai karangan bunga. Yang benar saja, bagaimana bisa aku tidak tahu kalau ayahku sendiri diangkat menjadi direktur? Pikir Sakura bingung. Ia tersenyum dan memberikan tangannya pada seorang pegawai hotel yang membukakannya pintu, lalu berjalan tenang di belakang kedua orang tuanya.
Ruangan itu cukup besar namun tidak banyak orang yang berada disitu. Ada sekitar selusin meja dengan taplak krem satin elegan yang menutupinya beserta enam kursi di sekelilingnya, juga tiga tangkai bunga mawar merah di setiap inti meja tersebut. Sakura melirik gaunnya sendiri sekilas. Mungkin ini adalah alasan kenapa Ibunya memilihkan gaun ini untuk mereka.
Sakura tersentak saat seseorang meraih pinggangnya dan membawanya mendekat. Disebelahnya sudah berdiri seorang pria dengan wajah sempurna, lengkap dengan tuxedo hitam yang tidak pernah dilihat Sakura sebelumnya. Ia merasakan pegangan tangan pria itu makin mengerat pada pinggangnya ketika beberapa orang berjalan melewati mereka.
"Genggamanmu sedikit protektif." Gurau Sakura, berbisik ke arah Kakashi.
"Memang sudah seharusnya begitu…" gumam Kakashi pelan. Sebenarnya ia masih harus membantu ayah dan ibunya di ujung ruangan, namun pandangannya tidak bisa lepas dari gadis dalam balutan gaun merah yang baru saja memasuki ruangan. Begitu ia menyadari beberapa orang di sekitarnyapun tidak dapat melepaskan pandangan mereka, Kakashi menyadari kalau ada urusan penting yang harus dilakukannya… bahkan lebih penting daripada membantu ayahnya sendiri.
"Kau sudah disini dari jam berapa?" tanya Sakura. Ia menerima uluran gelas berisi anggur berwarna merah gelap dari Kakashi. "Ugh… tidak enak."
"Benarkah?"
"Rasanya sedikit pahit."
Kakashi tersenyum. "Kalau begitu kenapa kau tidak bergabung dengan mereka saja disana, meminum soda?"
Sakura mengikuti arah mata Kakashi dan membalas senyuman pria itu dengan senyuman lain yang berarti'ya-terus-jahili-aku-maka-aku-akan-menendangmu'.
"Kau memilih gaun ini sendiri, Sakura?" tanya Kakashi beberapa saat kemudian.
"Memangnya kenapa?"
"Jelek."
"Benarkah? Bagaimana kalau kau memberitahunya pada Ibuku?" tanya Sakura dengan ekspresi polos. "Ia yang menggantung gaun ini begitu saja di kamarku, dan bukankah pujianmu tadi bisa memperbaiki hubungan kalian yang sedikit canggung?"
Kakashi tersenyum lebar ke arah Sakura dan menggelengkan kepalanya. "Gaunmu luar biasa."
Mereka berjalan beriringan menuju salah satu meja yang ada di barisan terdepan. Di depan masing-masing kartu, ada sebuah kartu dengan tinta keemasan yang terletak manis. Sakura mencari namanya dan mengerutkan kening ketika tidak menemukannya.
"Aneh, biasanya aku dengan mudah langsung menemukannya." Gumam Sakura bingung.
"Bukankah kau disebelahku?" tanya Kakashi.
Sakura menatap kartu yang terletak tepat di sisi kanan kartu Kakashi. Bibirnya tersenyum masam, dan ia langsung saja mendudukkan dirinya disana. Biasanya namanya akan tertulis sebagai Ms. Haruno, Sakura, namun sekarang kartunya bertuliskan Mrs. Hatake, Sakura.
"Belum terbiasa menjadi nyonya?"
"Tentu saja belum. Tapi kurasa Mei-nee sudah mulai membiasakan diri." Bisik Sakura balik, tersenyum manis ke arah Kakashi yang memandangnya dengan tatapan jengkel. Mereka berdua melemparkan senyuman sopan ketika kedua orang tua mereka datang, mengisi sisi tengah dan kiri meja bulat tersebut.
Seorang pria dan seorang wanita naik ke atas panggung di depan mereka. Bersamaan dengan dibukanya acara, para pelayan yang entah berasal dari mana muncul dan meletakkan segelas air beserta sepotong kue red velvet untuk masing-masing orang. Sakura memandang sekelilingnya dan mengerutkan kening. Jangan bilang ibu yang meminta semua dekorasi… bahkan makanan menjadi merah seperti ini!
Sakura baru saja ingin memotong kuenya saat ibunya berdeham.
Jangan makan kue itu! Kue itu hanya hiasan untuk meja, ujar Mebuki lewat pandangan.
Sakura mengerucutkan bibirnya. Kedua pembawa acara tadi bahkan sudah turun dan sekarang panggung tersebut diisi oleh satu kelompok penyanyi yang sedang bersiap-siap tampil. Sakura menoleh ke arah Kakashi dan memandang pria itu dengan tatapan sedihnya.
"Ada apa?" tanya Kakashi lembut.
"Aku ingin makan kue ini, tapi ibu melarangku." Ujar Sakura setengah berbisik. Ia menggunakan clutch gemerlapnya untuk menghalangi Mebuki membaca gerakan bibirnya ke arah Kakashi. Kakashi melirik Mebuki sekilas, sedikit bingung apakah ia harus berpihak pada Sakura atau Mebuki, lalu menghela nafas.
"Kurasa kau harus menahan dirimu…" bisik Kakashi akhirnya.
Sakura menopang kepalanya dengan lesu. Ia bahkan tidak diperbolehkan untuk makan tadi oleh ibunya agar gaun yang dipakainya ini melekat sempurna. Gadis itu mengutuk dirinya sendiri dengan sangat lirih karena meninggalkan ponselnya di dalam mobil, sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
Ia tertegun pelan ketika mendengar bunyi berdenting halus di sebelahnya. Kakashi sedang mengunyah sesuatu, dan ketika Sakura melihat piring pria itu, kue red velvet-nya sudah tidak sesempurna tadi. Tidak ada seorangpun yang memperhatikannya—hal itu membuat Sakura sangatlah iri.
Ketika Sakura akhirnya menyerah untuk tidak membayakan betapa lembut kue di depannya, sebuah garpu dengan potongan kue red velvet muncul di hadapannya.
Sakura menoleh kaget dan memandang Kakashi dengan tatapan tidak percaya.
"Cepatlah," bisik Kakashi. "Sebelum Ibumu bosan memperhatikan para penyanyi itu."
Sakura dengan cepat memasukkan potongan kue itu ke dalam mulut dan tersenyum senang. Tanpa sadar tangannya terulur dan menarik kerah Kakashi, memberikan kecupan singkat pada pipi pria itu.
Kakashi tersenyum kecil. Ia bahkan tidak menyadari kalau telinganya perlahan-lahan memerah.
Grup penyanyi di atas panggung sudah selesai menyanyikan lagu terakhirnya dan kedua pembawa acara itu memanggil para dewan perusahaan untuk naik ke atas panggung. Sakura, Kakashi, Mebuki dan Rika berdiri sambil bertepuk tangan untuk Sakumo dan Kizashi yang maju ke depan, diikuti oleh sekitar selusin pria di belakang mereka.
"Apa yang akan terjadi setelah ini?" tanya Sakura lirih.
"Akan ada serah terima jabatan, setelah itu kata sambutan." Jawab Kakashi pelan. "Setelah itu makan malam."
"Apakah kau bisa…" gumam Sakura, memandang Kakashi dengan binar jahil di matanya. "Kau tahu, menculikku ke suatu tempat dan mengembalikanku saat makan malam?"
Kakashi merasa dasinya tiba-tiba terlalu ketat dan pria itu membetulkan kerah kemejanya yang sebenarnya baik-baik saja. Ia berdeham beberapa kali dan mengangguk ke arah Sakura, memberikan senyuman sekenanya yang semoga tidak terlihat menyeramkan.
Sakura dengan bangga memperhatikan ayahnya yang sedang berjabat tangan dengan Sakumo. Beberapa wajah terlihat tidak asing di matanya—Sakura mengenali mereka karena mereka datang ke pernikahannya beberapa bulan lalu. Sakura tersenyum ke arah seorang pria paruh baya yang tersenyum ke arahnya, menunjuk Kizashi dengan bangga.
"Benar-benar menjadi keluarga… Aku tahu Sakumo sudah sangat menyukaimu semenjak kita baru masuk ke perusahaan, Kizashi. Ternyata anak kalian berjodoh."
"Ah, paman yang waktu itu." Gumam Sakura pelan saat mengingat perkataannya.
"Siapa?"
"Itu, paman yang tadi menujuk ayahku." Ujar Sakura.
"Oh, Paman Shou." Kakashi memberi tahu, lalu melirik situasi di sekitar mereka sekilas. "Sakura, bagaimana kalau kita pergi sekarang? Sepertinya orang-orang masih cukup sibuk memberikan tepuk tangan pada ayahmu."
"Dengan senang hati…"
Sakura dan Kakashi bangkit bersamaan, dengan kompak pergi perlahan-lahan dari meja tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun pada kedua ibu mereka. Mereka sama-sama mengerti kalau memberikan alasan hanya akan menahan mereka lebih lama disitu. Sakura tertawa kecil ketika mereka berdua sudah berhasil keluar dari ruangan tersebut, berdiri bersisian di depan pintu utama besar berwarna cokelat gelap.
"Ibumu pasti akan sangat membenciku."
"Oh, benar sekali." Ujar Sakura. Ia mendudukkan diri di atas sebuah sofa yang berada tidak jauh dari situ, memperhatikan langit-langit hotel yang teramat tinggi dan sebuah lampu gantung mewah di tengah tengahnya. Ia menoleh saat Kakashi duduk di sebelahnya, tersenyum saat pria itu menyandarkan kepala ke pundaknya.
"Apa saja yang kau lakukan sedari tadi?" tanya Sakura. "Kenapa sepertinya lelah sekali?"
"Ayah memintaku untuk melakukan pekerjaannya karena ia mau fokus pada inagurasi saja." Ujar Kakashi sedikit kesal. "Aku berkutat dengan seorang pria yang bahkan tidak kukenal selama dua jam lamanya, via telepon, membicarakan sepotong kayu dengan ukuran 4 meter yang nantinya akan menjadi meja."
"Ugh. Terdengar menyebalkan sekali."
Sakura meraih tangan Kakashi dan memijatnya pelan. Kakashi sering sekali menyandar pada bahunya seperti ini saat di aparment—tentunya saat Mei tidak ada di sekitar mereka—, dan Sakura akan selalu memijat tangannya, berharap untuk membuat harinya lebih baik. Saat ini Sakura dapat merasakan bau hujan tropis menguar dari jas pria itu, parfum yang sudah dipakai Kakashi entah untuk berapa tahun.
"Bagaimana kalau kita ke pantai?" tanya Sakura pelan.
Kakashi menoleh bingung dan tertawa kecil. "Huh? Kita tidak akan bisa sampai disini saat makan malam."
"Ya… kita bisa makan malam disana, 'kan?"
Pria itu sempat diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tertawa kecil. "Kau benar-benar anak kecil yang suka melanggar peraturan, Sakura…"
Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sebuah stand kecil di depan hotel dengan tulisan valet parking. Setelah membiarkan Kakashi berbicara singkat dengan petugas hotel disana, dua buah mobil berhenti dengan manis di depan mereka. Sakura mengambil ponselnya dari dalam mobil ayahnya dan kemudian berjalan ke arah mobil Kakashi.
"Malam ini biar aku yang menyetir." Ujar Sakura, tersenyum manis.
.
.
Kakashi menyesal karena telah mengabulkan permintaan gadis itu. Ia bersumpah ia tidak pernah menyetir kendaraan apapun secepat ini kalau ia membawa seseorang bersamanya. Sakura tampak tidak mempedulikan itu—ia membuka kaca jendelanya dengan sempurna dan mengenakan kacamata Kakashi yang terlihat kebesaran.
"Sakura, setidaknya lepaskan kacamatanya. Kau tidak akan bisa melihat dengan baik." Pinta Kakashi entah untuk yang keberapa kalinya.
"Apa maksudmu? Penglihatanku sempurna. Aku bahkan memakai lensa kontak sekarang." Ujar Sakura kelewat tenang. "Lagipula, kenapa kau takut sekali, Kakashi? Jalanan ini sepi sekali."
"Tetap saja, masih ingin hidup." Kakashi mencibir halus Sakura, namun gadis itu tidak menghiraukannya. Sakura menekan tombol di dasbor mobil Kakashi dan perlahan-lahan atap mobil hitam tersebut terbuka. Kakashi memutar bola matanya, sudah mengira kalau Sakura pasti akan membuka atap tersebut.
"Kau tidak takut rambutmu kusut?" tanya Kakashi.
"Tenang saja, rambutku kelewat halus." Sakura melirik Kakashi sekilas sambil tertawa kecil. "Kenapa kau tidak rileks sedikit? Kau sedang bersamaku."
Kakashi menghela nafas dan mulai menerima keadaannya sekarang. Ia rebahkan jok mobilnya sedikit kebelakang, menatap langit Tokyo yang kali ini bersih dari awan. Beberapa bintang menatap mereka dari kejauhan dan berkelap-kelip dengan konstan. Kakashi tersenyum lalu menutup matanya.
"Bagus. Jangan terlalu tegang seperti tadi." Gumam Sakura lembut sambil mengusap rambut Kakashi.
Mereka sampai tidak lama kemudian dan Sakura memberhentikan mobilnya tepat di pinggir pantai Odaiba. Gadis itu menepuk pipi Kakashi yang tertidur di jok, lalu melepas high heels kirinya—tadi Sakura hanya melepas sepatu kanannya tentu saja, Sakura harus melepasnya agar bisa menginjak pedal dengan baik—. Kakashi terbangun dan mengikut Sakura yang kini sudah sudah mendahuluinya ke arah pantai.
Sakura membaringkan tubuhnya di atas pasir hangat. Ia tidak peduli pada gaun merah indahnya ini dan apa yang dipikirkan orang tuanya ketika sadar kalau ia kabur dari pesta inagurasi ayahnya—biarlah mereka masing-masing bersenang-senang dengan caranya sendiri. Kakashi datang dan duduk di sampingnya, memandang ke arah garis imajiner dengan pandangannya yang masih setengah mengantuk.
Biasanya, kalau aku bahagia berlebihan seperti ini, akan ada sesuatu yang malang menimpaku…
.
.
.
.
Suara hantaman ombak pada batu karang yang berjarak puluhan meter dari mereka terdengar menenangkan. Langit menjadi lebih trasnparan di pantai Odaiba ini, buktinya ada ratusan bintang di atas sana yang memandangi mereka sekarang. Sakura merapatkan jas Kakashi yang dipinjamkan oleh pria itu dan menghirup nafas dalam-dalam.
"Apa kau menyesal, membantuku seperti ini?"
Sakura menoleh sekilas dan tersenyum. "Ya…"
"Huh?"
Kakashi memandang gadis itu dengan bingung. Ia kira mereka berdua bisa sepakat sekarang, bahwa perasaan suka yang ada diantara mereka bersifat mutual. Bagaimana bisa Sakura tetap merasa menyesal membantunya ketika ia juga mengakui kalau gadis itu menyukainya?
"Tentu akan lebih menyenangkan kalau kita bisa berpacaran terlebih dahulu, kau tahu?" gumam Sakura pelan. "Setelah beberapa tahun, kita mulai merencanakan pernikahan… membagi tugas, siapa yang harus menghubungi event organizer, siapa yang harus memegang pembukuan rumah besoknya… hal-hal seperti itu."
Kakashi termenung selama beberapa saat mendengar perkataan gadis itu. Tiba-tiba saja ia teringat masa-masa super sibuk yang dialaminya bersama Asuma dan Kurenai ketika mereka membantu Anko mempersiapkan pernikahannya. Saat itu Anko menangis tersedu-sedu karena gaun pernikahan yang diinginkannya tidak diproduksi lagi, sementara calon suaminya bersikeras untuk tetap mengadakan pernikahan di tanggal yang sama tanpa mau memberikan sekedar satu bulan lagi bagi Anko untuk menjahit gaun pernikahannya sendiri.
"Kau tahu, Kakashi? Bagi seorang perempuan, pernikahan idamannya sudahlah ia rencanakan sejak umurnya masih empat tahun." Ujar Kurenai saat itu. "Saat ia pertama kali memakai taplak meja atau sarung bantal berwarna putih di kepala, dia sudah merencanakan pernikahannya untuk menjadi sempurna."
Karena itulah ia mati-matian menuruti segala keinginan Mei ketika saat itu mereka sedang kerepotan mempersiapkan pernikahan. Tidak apa-apa kalau Mei memang menginginkan gaun termahal di butik desainer itu, ataupun memesan menu vegetarian komplit dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup… karena ia tahu, hal seperti ini sangatlah sensitif untuk para perempuan.
Yang tidak disadarinya adalah, ketika Mei secara sepihak meminta mereka untuk menunda pernikahan sampai ia selesai belajar dengan Judith di Amerika, ia merebut mimpi yang dimiliki Sakura tentang pernikahan impiannya. Dengan rasa sesal yang membuncah, Kakashi menoleh ke arah Sakura. Gadis itu sedang terpejam sekarang dengan ekspresi yang kelewat tenang—namun bibirnya menyunggingkan sebuah senyum kecil.
Kakashi menahan kepalanya dengan satu tangan. Ia terus memandangi Sakura sampai gadis itu tersadar kalau ada yang memperhatikannya sedari tadi.
"Apa?" tanyanya bingung.
"Apa kau mau menikah denganku?"
Sakura merasakan detak jantungnya berhenti selama beberapa detik. Ia memandangi Kakashi lekat-lekat, mencoba mencari secelah kemungkinan kalau saja laki-laki itu sedang bercanda, lalu tersenyum kecil.
"Maaf, tapi aku sudah mempunyai seorang suami." Ujar Sakura pelan.
"Ayo menikah lagi saat kau sudah lulus." Kata Kakashi, tidak menanggapi jawaban Sakura tadi. "Kita rencanakan semuanya berdua dari awal, Sakura. Semua yang kau inginkan. Kau bisa meminta Yamanaka dan Hyuuga untuk menjadi pendamping wanita, kau bisa mengundang teman-temanmu—"
"Kita perlu mengundang Kiba dan Sasuke juga?"
Mereka berdua kembali melempar senyum sebelum akhirnya Kakashi mencubit hidung gadis itu—tidak dengan gemas, namun dengan kesal. Ia hanya mendengar cerita tentang Sasuke beberapa kali dari Sakura, itu juga sekilas, namun ia tahu ia sangat tidak menyukai Kiba. Meskipun anak itu tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya, Kakashi akan dengan refleks memberikan tatapan sinis padanya tanpa alasan.
"Lalu sampai pernikahan selanjutnya, apakah kita perlu bercerai?"
"Sakura, apa yang kau lakukan? Kenapa kau terus-terusan menyakitiku?"
Sakura tertawa dan bergeser mendekat ke arah Kakashi. Ia membiarkan pria itu memainkan rambutnya yang kini sudah tidak serapi tadi, sementara matanya masih dengan rakus memandangi langit malam yang bertaburan bintang. Jendela apartment mereka memang cukup besar, namun langit kota Shinjuku tidak terlalu bersahabat dengan bintang seperti pantai Odaiba ini.
Kakashi melirik jam tangannya dan berdeham pelan. "Sudah jam 11. Ayo pulang."
"Kemana?" tanya Sakura. Ia menerima tangan Kakashi yang terulur ke arahnya dan membiarkan pria itu membersihkan pasir-pasir yang menempel. "Apartment, rumah orang tuamu, atau rumah orang tuaku?"
Satu jam kemudian mereka memberhentikan mobil di depan rumah orang tua Sakura. Sakura mengangkat pot bunga berwarna putih yang terletak di sudut teras dan meraih kunci rumah dari sana. Mebuki sudah membiasakannya dari kecil untuk meletakkan kunci rumah disitu, karena tidak jarang ia dan Kizashi akan pulang malam sementara Sakura akan pulang sebelum mereka.
"Ugh… kenapa sepatu seperti ini bisa diciptakan." Keluh Sakura sambil meletakkan high heelsnya sedikit kasar di atas rak. "Kau ingin makan sesuatu sebelum pulang?"
"Huh?"
Sakura menoleh bingung, menatap Kakashi yang sedang duduk di atas salah satu kursi bar. "Apa?"
"Apa maksudmu aku pulang? Tentu saja aku tidur bersamamu."
"Ah, benar… atau tidak Ayah akan curiga dan Ibu akan semakin tidak suka padamu." Ujar Sakura sambil terkikik. Ia melemparkan sebotol susu ke arah Kakashi dan mengambil dua potong kue dari dalam kulkas, kemudian berjalan bersama Kakashi menuju lantai atas.
Orang tua mereka belum pulang bahkan saat jarum jam menunjukkan angka setengah dua belas. Sakura sudah menghabiskan kuenya, sementara Kakashi masih terpaku pada tayangan sepak bola yang ditontonnya sejak dua puluh menit yang lalu.
"Aku akan mandi," ujar Sakura sambil menggantung jas Kakashi yang dilempar begitu saja di atas kasur. "Kau juga harus mandi. Tidak mandi, tidak ada kasur."
"Iya… Ibu."
"Hei!"
"Apa? Kau cerewet sekali seperti Ibuku." Cibir Kakashi. Pria itu mengunyah potongan kue terakhirnya dan berteriak kesal saat tim yang tidak didukungnya berhasil mencetak skor lagi. Sakura berdecak pelan dan masuk ke dalam kamar mandi, tidak mempedulikan Kakashi yang masih belum bisa mengalihkan pandangannya.
Bahkan ketika ia keluar dari kamar mandi lima belas menit kemudian, Kakashi belum bangkit juga dari tempat duduknya di atas karpet. Sakura memandangnya tidak habis pikir dan melemparkan selembar handuk ke arah pria itu.
"Mandi." Ujarnya tegas. "Ingat umurmu. Nanti tulangmu sakit."
"Kau berbicara seolah-olah aku berusia tujuh puluh tahun." Cibir Kakashi lagi. Pria itu bangkit berdiri dan melepaskan kancing waistcoat-nya perlahan-lahan karena ia masih terlalu terfokus pada pertandingan sepakbola di televisi.
"Ugh… Kakashi… cepatlah mandi…" ujar Sakura kesal. Ia berjalan ke hadapan pria itu, memukul tangan Kakashi dan membantunya melepaskan waistcoat tadi. Merasa tidak perlu melakukan pekerjaannya lagi, Kakashi meletakkan kedua tangan di samping dan membiarkan Sakura juga melepaskan dasi kupu-kupu hitamnya.
"Sakura?"
"Apa?!"
"Aku… bisa melepaskan kemejanya sendiri."
Sakura tersadar dan wajahnya memerah. Tidak ada niatan apapun didalam hatinya saat ia membantu Kakashi seperti ini, namun sekarang ia baru sadar tangannya terlanjur menyentuh kulit pria itu. Sakura berdeham pelan, menarik dasi Kakashi dari leher dan meletakkannya di atas waistcoat tadi.
"Aku tahu."
"Aku tidak mempermasalahkan bantuanmu, tapi."
"Ugh, sepertinya kau akan diam kalau kutendang." Ujar Sakura kesal. Tanpa disangka oleh Kakashi, Sakura kembali berjalan ke hadapannya dan pada akhirnya melepaskan satu persatu kancing kemeja putihnya.
Kakashi bersumpah, pada saat itu waktu terasa sangat lambat.
Seluruh tubuhnya menegang sementara ia merasakan wajahnya memanas. Yang Sakura lakukan hanyalah membantunya, namun kenapa gerakan gadis itu terasa sangat lambat. Ketika akhirnya kancing terakhir sudah terbuka, Sakura tersenyum dan berjalan ke depan meja riasnya yang terletak di seberang ruangan.
Wow, sensasinya luar biasa, pikir Kakashi sambil mengerjapkan matanya.
Sementara Kakashi melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Sakura sibuk memandangi ponselnya dan gadis itu tidak dapat mengulum senyumnya. Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertamanya dan Kakashi mengambil gambar bersama. Sebelumnya tentu saja ada banyak foto dengan mereka berdua di dalamnya, namun sudah bisa dipastikan akan banyak orang lain di dalam gambar tersebut.
Ingin sekali ia memasang foto profil bersama Kakashi seperti ini, tapi ia tahu ia tidak bisa melakukannya. Apa yang akan dilakukan orang-orang ketika tahu status mereka sebenarnya?
Sakura menghela nafas. Ia meletakkan ponselnya di atas meja rias dan meraih krim malamnya. Baru kali ini ia berhasil pergi dari pesta perusahaan yang sedari dulu selalu didatanginya bersama kedua orang tuanya. Sakura melirik Kakashi sekilas saat pintu kamar mandi terbuka, dan pria itu tersenyum kecil ke arahnya.
"Baiklah, ini sama sekali tidak lucu."
Sakura berusaha menahan tawanya selama beberapa saat sebelum akhirnya menyerah dan menertawai Kakashi selama beberapa menit penuh. Pria itu masih berdiri di tempatnya, tidak tahu harus berbuat apa, dan tampak sangat imut dengan balutan piyama polkadot biru muda milik Sakura. Sakura bangkit dan menarik Kakashi mendekat lalu memintanya duduk di atas ottoman yang berada di depan meja rias.
"Aku tidak menyangka piyamanya akan muat," ujar Sakura sambil menggosok rambut pria itu dengan handuk. "Olahraga yang kau lakukan bersama Asuma-nii sangat membuahkan hasil, ya. Maksudku, badanmu menjadi keras begini." Sakura menepuk-nepuk lengan Kakashi sambil tersenyum.
"Asuma juga sering memukulku seperti itu. Kalian berdua mirip, dan itu menyeramkan." Gumam Kakashi pelan. "Ayolah, Sakura, piyamamu ini bisa robek kapan saja."
Sakura berusaha menahan tawanya lagi saat kancing-kancing pada piyamanya terlihat sangat menyedihkan. Kulit Kakashi terlihat dari lubang-lubang yang ada disana, namun apa yang bisa ia lakukan? Piyama ini adalah piyama terbesar yang ia miliki.
"Kalau kau tidak mau memakainya, kau bisa mengambil bajumu sendiri di rumahmu." Ujar Sakura sambil menghidupkan pengering rambutnya. "Tapi aku tidak menjamin kalau aku akan membukakan pintu untukmu."
"Aku akan—"
"Ataupun jendela."
Kakashi menggeram pelan dan menghela nafasnya. Ia menatap Sakura lewat cermin yang sekarang sedang berkonsentrasi mengeringkan rambutnya—jujur saja, hal ini membuatnya terkejut. Sakura mengusap rambut Kakashi perlahan-lahan dan tersenyum kecil.
"Dulu kau yang sering mengeringkan rambutku." Gumam Sakura pelan.
"Kapan?"
"Setiap aku selesai mandi saat kita liburan bersama di pantai atau kolam berenang." Jawab Sakura. Ia mematikan pengering rambut dan menatap pria itu lewat cermin. "Sudah selesai. Aku bingung kenapa banyak sekali temanku yang menyukaimu, Kakashi. Maksudku, wajahmu tidak terlalu tampan."
Kakashi tertawa kecil sambil menggeleng. "Itu tidak mungkin…"
Percaya dirinya tinggi sekali, gumam Sakura jengkel pada dirinya sendiri.
Sakura menangkup wajah Kakashi dengan kedua tangan dan tersenyum. "Apa kau mau kudandani?"
"Tidak."
"Kakashi…"
Kakashi bangkit dari duduknya dan mengacak rambut Sakura pelan. Ia naik ke atas tempat tidur sementara tangannya meraih remote televisi yang berada di sebelah nakas, lalu menyalakan televisi di depan tempat tidur.
Sakura mengerucutkan bibir. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan menghempaskan diri di sebelah Kakashi.
"Hei, Kakashi," panggil Sakura, menunjukkan layar ponselnya ke arah Kakashi. "Aku ingin sekali makan disini, kapan-kapan. Apakah kau mau pergi bersamaku?"
"Uh? Ya… ya, tentu saja." Jawab Kakashi sekenanya tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
Sakura tersenyum jengkel. Ada apa sebenarnya antara Kakashi dan sepak bola? Laki-laki itu bahkan tidak bisa bermain sepak bola, pikir Sakura geram. Ia kembali memfokuskan perhatian pada layar ponselnya sebelum akhirnya menoleh lagi ke arah Kakashi.
"Lihat ini, Kakashi. Aku terlihat cantik disini, 'kan?"
Kakashi menoleh singkat dan tersenyum. "Ya. Tentu saja."
"Aku penasaran respon apa yang akan kudapatkan kalau aku mengunggahnya di media sosial." Gumam Sakura. Ia tersenyum kecil saat ekor matanya menangkap pergerakan Kakashi yang sekarang menoleh ke arahnya. "Mungkin saja Kiba ak—hei!"
Sakura tersentak ketika Kakashi merebut ponselnya tiba-tiba. Pria itu mencermati foto yang tadi Sakura tunjukkan dan seketika itu juga matanya melebar.
"Kapan kau mengambil gambar ini?" tanyanya bingung.
"Saat berada di depan hotel, Ibu yang mengambilnya." Jawab Sakura.
"Gaunnya terlalu terbuka, kau tahu," ujar Kakashi sambil mengutak-atik ponsel Sakura. "Kalau kau mengunggahnya seperti ini, sudah dipastikan aku akan melaporkan gambarmu sebagai konten tidak senonoh."
Sakura tertawa pelan mendengarnya. "Itu punggungku, Kakashi, demi Tuhan. Lagipula aku bukannya mengunggah gambar belahan dadaku, 'kan?"
Kakashi menoleh tanpa suara dan sukses membuat Sakura terdiam.
"Aku akan menarik foto ini dari sosial mediamu." Ujar Kakashi tegas. "Lebih baik kau mengunggah foto yang ini."
"Tapi ada kau disana. Kau tidak takut ketahuan oleh teman-temanku?"
Kakashi tersenyum, lalu memberikan ponsel itu ke arah Sakura. "Tidak."
Sakura menatap foto yang baru saja terunggah ke media sosialnya. Foto tersebut adalah fotonya bersama Kakashi di pantai Odaiba tadi, saat mereka sedang menikmati set seafood bakar di pinggir pantai, yang diambil oleh salah satu pelanggan kedai tersebut. Wajah Kakashi dengan sempurna ditutupi pria itu dengan sebuah stiker berbentuk hati berwarna merah besar.
"Oh, aku hampir lupa."
Sakura meletakkan ponselnya di atas tempat tidur dan meraih sebuah botol parfum kecil dari dalam tasnya. Temannya, Keiko, memintanya untuk mencoba parfum yang dijualnya dan memintanya untuk memberikan review produk tersebut dimedia sosialnya. Sakura membuka parfum tersebut dan mengendusnya pelan.
"Bau apa ini?" pikirnya bingung. "Jeruk? Lemon?"
Sakura meneteskan parfum tersebut ke ujung telunjuknya dan mengusapkannya perlahan di lehernya. Setelah menunggu selama beberapa menit, wangi segar parfum tersebut masuk ke indera penciumannya.
"Tapi aku masih bingung ini bau apa," gumam Sakura pada dirinya sendiri. Ia menoleh ke arah Kakashi dan memberikan botol parfum itu ke arahnya. "Menurutmu ini bau apa?"
"Apakah tidak tertulis dilabelnya?"
"Aku ingin memberikan kesan pertama yang spontan…" ujar Sakura, menarik kerah piyama Kakashi. "Ayolah, menurutmu ini bau apa?"
Kakashi pada akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar televisi dan menoleh singkat ke arah Sakura. Sakura segera saja menjauhkan dirinya dari pria tersebut ketika Kakashi bergerak mendekat ke arahnya.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Bukankah ketika menempel di kulit bau yang sebenarnya keluar?"
Sakura menelan ludah dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Baiklah…"
Kakashi mendekat dan menatap leher Sakura di depannya. Gadis itu sudah mengangkat kepalanya sekarang, memberikan akses leluasa bagi Kakashi untuk menghirup aroma parfum yang menempel di lehernya.
Sakura tersentak pelan saat rasa hangat dari bibir Kakashi menyentuh lehernya. Ia menarik diri secara otomatis.
"Kakashi?"
"Citrus..." Bisik Kakashi pelan.
Sakura bergidik saat bibir hangat pria itu menyentuh lehernya. Belum sempat ia bereaksi, Kakashi sudah mendorongnya jatuh ke atas kasur dan kembali menciumnya.
.
.
Hari-hari setelahnya terasa seringan bulu angsa. Menjadi tetangga dan teman bagi satu sama lain memang sudah familier bagi masing-masing Kakashi dan Sakura, namun hidup bersama dengan perasaan saling menyayangi satu sama lain benar-benar cukup baru bagi mereka berdua. Mereka saling menyayangi sebelumnya, tentu saja, namun tidak seperti ini…
"Oh!" Ujar Sakura terkejut, namun sebuah senyuman lebar dengan cepat menutupi rasa terkejutnya sembari ia menyentuh tangan Kakashi di pinggangnya. "Ada apa?"
Kakashi tidak menjawab. Pria itu menenggelamkan wajahnya pada leher Sakura dan mengeratkan pelukannya. Bau daging yang sedang ditumis oleh Sakura masuk ke dalam indera penciuman Kakashi, membuatnya tersenyum lebar.
"Apa yang sedang kau buat?"
"Hanya tumisan biasa…" gumam Sakura, lalu memukul tangan Kakashi yang masih melingkar di pinggangnya. "Sekarang lepaskan aku, karena aku tidak bisa memasak dengan benar kalau kau terus-terusan memelukku seperti ini."
"Bukankah perempuan menyukai pelukan dari belakang seperti ini?" tanya Kakashi.
Sakura berhenti sebentar dan tertawa mendengar hal tersebut. "Kau mendapat referensei seperti itu darimana?"
"Aku diam-diam menonton semua drama di laptop-mu."
Mereka berdua saling berpandangan selama beberapa saat dan tertawa setelahnya. Sakura meletakkan sendok kayunya di atas piring dan memutar tubuhnya, merangkul leher Kakashi yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kau tidak perlu menjadi seperti para pria di dalam drama, kau tahu?"
"Aku tahu, tapi aku pikir kau akan menyukainya."
"Aku akan lebih suka kalau kau mau memasak dan aku bisa tidur saja."
Kakashi tersenyum jengkel dan mencium pipi Sakura sekilas. Kedua mata Sakura menyipit saat bibir hangat pria itu menyentuh kulitnya, membiarkan Kakashi memperhatikannya dari meja makan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
"Hei, Kakashi," panggil Sakura pelan sambil memasukkan garam dan lada ke dalam penggorengan. "Berapa banyak perempuan yang pernah kau kencani?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"…penasaran saja."
Kakashi tersenyum dan menopang dagunya dengan satu tangan. "Mulai ingin banyak tahu, eh?" tanyanya dengan binar mata jenaka. "Entahlah, aku lumayan lupa. Kurang lebih tujuh—enam orang? Tidak, tujuh."
"Aku tahu kau sangat terkenal, Kakashi, tapi aku tidak menyangka sebanyak itu."
"Mulai cemburu?"
"Ha. Bicara soal cemburu, bagaimana kalau kau ingat-ingat kembali sikapmu padaku saat aku mengencani Kiba?"
Mereka berdua kembali melempar senyum sebelum Kakashi kembali bangkit dan memeluk Sakura dengan gemas. Gadis itu tertawa dan menggenggam salah satu tangan Kakashi di pinggangnya, sementara tangannya yang lain memasukkan sayur-sayuran yang sudah direbusnya tadi.
Sakura cukup terkejut karena ia bisa menyelesaikan masakannya ini dengan Kakashi di punggungnya, menempel seperti anak simpanse pada induknya. Ia mengisi dua mangkuk besar dengan nasi dan meletakkan tumisan daging serta sayurannya di atas nasi tersebut, lalu memberikan beberapa sendok saus teriyaki sebagai sentuhan akhir.
"Aku ingat sekali saat awal kau mulai bisa memasak, kau datang ke rumah setiap hari membawa berbagai jenis masakan." Ujar Kakashi sambil mengunyah makanannya. "Masakanmu selalu enak…"
"Oh, berhentilah berbicara seperti itu. Kau berusaha menyanjungku atau apa?"
Kakashi tersenyum dan menggigit buncisnya. Ia memperhatikan Sakura yang tampak berkonsentrasi pada makanan di depannya. Gadis itu bahkan belum melepas kacamatanya—yang biasanya hanya dipakai Sakura saat ia belajar saja—dan ia tidak banyak bicara saat ini.
"Ada apa?"
Sakura mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening. "Apa?"
"Apa yang terjadi? Kau banyak diam hari ini." gumam Kakashi.
Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari orang ini, pikir Sakura sedih. Ia tersenyum ke arah Kakashi dan menggenggam tangan kiri pria itu yang bebas.
"Kau tahu kalau aku sangat menyayangimu, 'kan?" tanya Sakura. Melihat pria itu mengangguk, Sakura tersenyum dan menarik kembali tangannya. "Bukannya bagaimana, Kakashi… hanya saja, aku mohon dengan sangat, tolong tolak permintaan ketua himpunan jika ia memintamu untuk mendampingi acara angkatanku… ya?"
Kakashi mengerjapkan matanya beberapa kali dan memperhatikan Sakura yang sekarang meringis ke arahnya. Kedua tangannya mengatup, menyatakan permohonannya yang terlihat sungguh-sungguh, membuat pria itu mengulum senyumnya.
"Maafkan aku, Sakura," ujar Kakashi, mengusap kepala gadis itu dengan sayang. "Aku sudah menyanggupinya."
"Hah?! Yang benar saja!" Sakura setengah memukul meja dengan kesal, menatap Kakashi yang sekarang tersenyum puas ke arahnya. "Kau pasti sengaja menerimanya, 'kan? Kenapa, Kakashi? Aku tahu betul kau tidak pernah menyukai acara seperti ini!"
"Lalu apa? Kau pasti ingin mabuk-mabuk dan menggoda teman-temanmu, 'kan?"
Ugh, bagian mabuk-mabuknya memang benar, tapi bukannya aku akan membuka bajuku dan menggoda siapapun yang kulihat, gumam Sakura kesal pada diri sendiri. Kakashi tidak pernah membiarkannya minum bir atau sake jika hanya ada mereka berdua di apartment, dan Sakura hanya bisa melakukannya jika mereka berada dalam pesta-pesta formal atau saat sedang pergi bersama Hinata dan Ino. Sakura mengalihkan pandangan dan memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.
"Apa kau ingat kalau kau pernah menciumku saat masih di sekolah menengah dulu?"
Sakura mengangkat kepala cepat-cepat. Ia memandang Kakashi tidak percaya.
"Apa?"
"Ya. Kau menciumku, di depan rumahku, selama lima menit lebih." Ujar Kakashi sambil tersenyum kecil. "Tanya saja Anko kalau kau tidak mempercayaiku. Ia masih menunggu pacarnya untuk datang menjemputnya saat kau datang, sangat mabuk, dan melompat ke arahku."
"Melompat ke arahmu?!"
"Ya. Benar-benar melompat. Kau melingkarkan kakimu di pinggangku, menatap Anko dengan kesal selama beberapa saat, sebelum akhirnya menciumku."
Sakura menutup wajahnya yang sukses memerah. Sial, aku benar-benar tidak mengingatnya. Jika hal tersebut benar terjadi, tidak heran kalau Kakashi menerima permintaan Sai untuk ikut acara jurusan. Ia pasti ingin memastikan Sakura tidak melakukan tindakan bodoh disana. Sakura memandang Kakashi dengan malu, ia merasakan seluruh tubuhnya lemas sekarang.
"Maafkan aku." Ujar Sakura menyesal. "Aku benar-benar mempermalukanmu."
Kakashi tersenyum dan mengacak rambut Sakura. "Tidak apa-apa. Tapi aku akan tetap datang."
"Ugh, Kakashi… ayolah, aku bukan anak berusia 16 tahun lagi…"
Tentu saja bukan. Aku hanya tidak bisa tahan untuk berdiam diri disini, sementara kau mungkin saja secara tidak sadar melompat ke arah laki-laki pertama yang kau lihat, ujar Kakashi dalam hati. Ia tersenyum dan meninggalkan Sakura sendirian di meja makan, tidak memberikan jawaban setelahnya.
.
.
Tenten, Shino dan Dei berjalan ke depan kelas dengan membawa perlengkapan presentasi mereka. Minggu ini adalah minggu terakhir perkulihan sebelum ujian semester yang akan diadakan dua minggu lagi, dan kelompok mereka adalah satu-satunya kelompok yang belum melakukan presentasi di kelas discourse Kakashi.
Sakura memperhatikan Kakashi yang duduk di kursi Tenten, dua baris di belakangnya. Gadis itu kembali meluruskan pandangan saat Dei berbicara di depan kelas. Semenjak hubungannya dan Kakashi membaik—catatan; Kakashi tidak lagi cemburu buta pada siapapun itu—pria itu kembali menghindari celana jeans. Sakura tersenyum sendiri karenanya.
"…faktor sosial yang perlu diperhatikan diantaranya adalah latar belakang, kepercayaan, norma dan juga pengetahuan umum," ujar Dei dengan suara beratnya. "Masing-masing faktor ini bisa lagi dibedah agar menjadi lebih rinci. Untuk latar belakang terdiri dariagama, ras, tempat tinggal dan juga status sosial. Sementara untuk kepercayaan…"
"Sakura."
Sakura menoleh kaget mendengar suara Kakashi disampingnya. Tidak hanya Sakura, Ino dan Hinata yang masing-masing sedang menulis catatanpun sangat terkejut dibuatnya.
"…Haruno."
Kakashi berdeham setelah melanjutkan perkataannya sendiri, lalu tersenyum. "Sakura Haruno?"
"I-iya, sensei."
"Boleh bantu aku sebentar?"
"Ya…"
"Tolong isi tuliskan rangkuman kelompokmu disini," ujar Kakashi sambil memberikan selembar kertas kepada Sakura.
Sakura menerima kertas tersebut dengan gerakan ragu dan mulai menulis. Ia baru sadar kalau kelompoknya memang belum mengumpulkan rangkuman materi karena dramanya dan Kakashi saat itu—demi Tuhan, mereka benar-benar terlihat seperti aktor dan aktris drama sungguhan—. Sakura melirik Kakashi sekilas—pria itu tidak berpindah dari tempatnya dan malah melipat tangan di depan dada, memperhatikan kelompok di depan dari tempatnya berdirinya sekarang.
Gadis itu berhenti menulis lima belas menit kemudian dan Kakashi tampak tidak keberatan untuk berdiri selama itu. Ketika Sakura menyerahkan kertas tersebut pada Kakashi, tangan mereka bersentuhan—tentunya dengan sengaja—, dan Sakura dapat melihat sebuah senyum tipis jenaka yang diberikan Kakashi untuknya.
Oh, Tuhan, pikir Sakura dalam hati, panik. Kakashi benar-benar akan membuatku dikeluarkan dari kampus.
.
.
