#Evan_Corner
Saat awal memasuki Hogwarts, Evan Rosier sama sekali tidak sadar akan ketampanannya.
Hal ini terjadi sekitar tiga minggu setelah Evan Rosier memasuki Hogwarts.
"Itu Evan Rosier!"
Telinga Evan sudah berkedut-kedut dengan lengkingan tertahan seorang gadis Hufflepuff tahun ke-3.
"Dia sangat tampan!" seru gadis di sebelahnya.
Tampan.
Satu kata yang tidak pernah sekalipun dia dengar selama ini.
Dia tahu itu adalah kata yang digunakan untuk mendeskripsikan orang dengan paras yang indah dan enak dilihat. Tapi karena Evan malas berpesta sekaligus bersosialisasi, jadi baru kali ini dia mendengar kata itu ditujukan padanya.
Jangan salah. Ibunya, Callisto Rosier nee Max sering berkata bahwa dia adalah laki-laki paling tampan bahkan mengalahkan ayahnya. Tapi penilaian seorang ibu tentu saja tidak dihitung kan?
Kendati banyak cewek yang memerah atau salah tingkah setiap melihat dirinya tersenyum, Evan selalu menganggap itu hanya karena mereka malu pada seseorang yang tak pernah terlihat (tidak pernah ikut pesta).
Namun sekarang dia jadi memikirkan itu kembali.
Evan menggeleng dan berjalan menuju asrama. Aidos berada di dapur, entah sedang melakukan apa. Pewaris Rosier itu sedang malas mengikuti Aidos yang suka sekali berjalan-jalan seolah Hogwarts adalah miliknya.
Dia tercengang ketika sampai di pintu depan asrama dan mendapati sekelompok gadis Slytherin dan Ravenclaw ada di sana.
Persatuan asrama? Apakah ini kerjaan Hermione?
"Evan Rosier!" Sekelompok gadis itu malah menghampiri Evan yang masih terbengong.
"Terima hadiah kami!" Seorang gadis Ravenclaw berseru.
"Atau kau ingin kami langsung membawanya ke ruang rekreasi?" tawar salah satu gadis Slytherin.
Evan mengerjapkan mata. "Kenapa kalian melakukan ini?"
"Tentu saja karena kami menyukaimu!" Salah seorang gadis disana sudah berseru, senang karena diajak bicara Evan Rosier.
"Kenapa kalian suka?"
"Karena kau tampan," jawab salah satu gadis Slytherin yang tersipu.
"Banyak yang juga tampan kan di Hogwarts?"
"Tapi kau yang paling tampan!" Seluruh gadis berseru serentak.
Pewaris Rosier itu hanya menggeleng-geleng. Dia menerima semua hadiah itu sebelum Slughorn memperingatkan bahwa mereka menghalangi pintu masuk ruang rekreasi, dan berjalan menuju kamarnya sambil mengulum senyum.
Sejak saat itu Evan Rosier sadar bahwa dirinya tampan.
Ini bukan NARSIS. Hanya TAHU DIRI.
Disclaimer:
Dunia Harry Potter adalah milik JK Rowling. Aku hanya menyisipkan OC dan menyumbang sebagian besar detail cerita disini secara nyeleneh.
MATA kedua cowok di depannya membulat.
Tapi berbeda dengan Aidos yang langsung membombardir Hermione dalam kontak batin, Evan hanya terlihat kaget lalu ekspresi wajahnya kembali seperti biasa.
Hermione menyipitkan mata pada cowok yang dianggap sebagai cowok terganteng di Hogwarts saat ini.
"Evan? Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Hermione tersirat.
"Tidak," Suara Evan kedengaran sangat normal. "Pelihat memang sangat langka. Tapi aku tidak kaget jika orang yang menjadi tunangan Derrius adalah orang seperti itu. Keluarga Warrington sendiri juga sangat misterius dan kerap melahirkan Pelihat juga."
"Aku bisa memastikan Warrington merupakan keluarga netral. Tapi aku tidak yakin Warrington termasuk keluarga yang misterius," Hermione menaikkan alis. "Karena bahkan mitos keluarganya saja merupakan pengetahuan umum!"
Evan mengernyit. "Mitos? Maksudmu soal darah unicorn?"
"Ya!"
Cowok berambut emas itu justru menggelengkan kepala dengan geli. "Kau yakin itu mitos?"
"Tentu—"
"Hermione," Aidos yang sedari tadi menyimak kini menatap adik kembarnya dengan bibir menipis. "Hanya karena keluarga kita tidak punya cerita yang sama, menganggap legenda keluarga lain sebagai mitos bisa dikatakan penghinaan."
Hermione meringis, lalu menimbang-nimbang. "Seingatku keluarga Rosier juga punya cerita serupa."
"Kenapa kita jadi membahas legenda keluarga?" Evan terkekeh, lalu menatap gadis di depannya penuh arti. "Pasti ada alasan kenapa kau mengajak kami belajar di perpustakaan."
"Ah ya, begini," Hermione menegakkan duduknya dan menatap Evan. "Aku butuh bantuanmu untuk dapat berteman dengan Severus Snape."
"Snape? Maksudmu si berminyak itu?" Evan tercengang. "Ada apa dengannya? Apa itu tipemu? Padahal yang punya rambut indah berkilau ada banyak sekali! Contohnya aku."
"Kau menjadi narsis semenjak mempunyai groupies yang suka membawakanmu hadiah," Hermione memutar bolamatanya. "Dan... tidak. Aku tidak tertarik secara romantis pada Snape. Aku hanya mencoba berteman. Jadi aku harus memintamu mengawasi Snape sampai aku bisa mencari waktu tepat untuk berkenalan dengannya."
"Jadi maksudmu kau meminta bantuanku untuk mengamankan posisi teman Snape?" Mata biru Evan menyipit.
"Benar."
"Apa keuntungan yang aku dapat jika membantumu?" tanya Evan dengan wajah setengah serius.
"Slytherin!" decih Hermione. "Aku bisa menawarkanmu bekerjasama denganku untuk 'proyek rahasia', yang kujamin akan menguntungkan kita berdua."
Memang. Setelah mengamati tingkah laku Evan Rosier yang canggih dan tidak terduga, Hermione berniat menyelamatkan dan menyeretnya ke pihak gadis itu untuk membantu pemusnahan Voldemort.
Untung di Hermione, karena bisa mencegah keburukan di masa depan. Untung di Rosier, karena bisa saja cowok itu tidak mati jika saat ini memilih berada di pihaknya.
"Aku masih tidak tahu apa proyek itu," gumam Evan. "Tapi aku akan mencoba memanfaatkannya."
Hermione rasanya mau menjitak Evan di depannya yang udah cengar-cengir.
"Kau minta bantuan Evan padahal kau tahu ada kakak yang bersedia menolongmu tanpa imbalan?" Aidos di samping Hermione bertanya sinis.
"Bukan begitu, kakakku sayang," tutur Hermione manis. "Aku minta bantuan yang lain juga padamu. Evan sih hanya kuberi tugas kecil-kecilan saja, tapi udah berlagak minta imbalan."
Evan yang mendengar itu hanya mencibir. Memangnya salah apa kalau dia menginginkan kerjasama yang menguntungkan?
"Aidos, aku minta dirimu untuk mengawasi para Darah Murni kelas lima. Terutama Lucius, Dolohov, Lestrange dan Mulciber. Ah, kau juga bisa menambahkan Derrius."
Mata Aidos menyipit curiga. Di sampingnya, Evan menaikkan alis.
Evan tahu kalau Hermione selalu punya rencana-entah-apa dalam benaknya, tapi kalau sudah menyangkut mengawasi Pewaris Darah Murni, dugaan Evan, rencana itu cukup serius.
Tapi untuk saat ini Evan memilih diam. Melihat dulu kemana arahnya.
"Gak bisa?" Hermione menaikkan alis dengan respon pasif kembarannya.
"Mengawasi para pewaris Darah Murni adalah keahlianku sejak dulu, Hermione," Aidos terlihat terhina. "Aku hanya bertanya-tanya apa motifmu sebenarnya."
Sebagai jawaban, Hermione hanya menghela napas. "Suatu hari aku pasti menjelaskannya pada kalian. Untuk sementara, aku minta tolong ini dulu. Selama kalian membantuku, aku juga punya tugas serupa kok untuk diriku sendiri."
Seperti mendekati Pelihat dan mencari cewek Ravenclaw yang songong itu.
Evan dan Aidos saling bertatapan bingung namun tetap mengangguk.
Tiga hari kemudian, Hermione melihat gadis bernama Pandora itu sendirian di Perpustakaan, tanpa Derrius.
Bukannya Derrius Warrington akan menjadi penghalang, hanya saja saat ini dia belum perlu berbicara dengan cowok itu. Hermione hanya ingin 'menyapa' Pandora dulu, memastikan dia tidak membicarakan soal visinya pada siapapun—yang sepertinya tidak, karena Hermione belum pernah melihat Pandora bersama orang lain, artinya gadis itu gak punya teman.
Biasanya Hermione akan iba dengan penyendiri sepertinya —walaupun dia juga hanya mempunyai Harry dan Ron dulu— tapi keadaan membuatnya menganggap ini...
...kesempatan emas!
Hermione sudah bersiap mendekati Pandora saat ada seseorang yang duduk di depannya.
"Eh..."
"Halo, Hermione," Derrius menyapa manis. "Aku boleh duduk di sini, kan?"
"Tentu saja, Der," Hermione mengatur raut wajah dengan cepat. Padahal dalam hati...
APA-APAAN DERRIUS MENDADAK KEMARI SAAT DIRINYA MAU ACTION?! BIKIN JANTUNGAN AJA TAU GAK?!
"Kau tahu, Hermione," mulai Derrius. "Belakangan ini aku merasa ada seseorang yang mengawasiku. Memang bukan yang terang-terangan begitu sih, aku saja nyaris tidak menyadarinya jika aku bukan seorang Warrington."
Dengan tenang, Hermione membalik halaman bukunya. Bersikap seolah tidak tahu apa-apa walau hatinya sudah gelisah galau merana.
"Kurasa sudah pengetahuan umum, kami para Warringtons dikaruniai bakat observasi yang tinggi secara alami. Dan aku pun secara pribadi sudah mengasah ini dari hari ke hari," tutur Derrius.
Mata keunguan Derrius menatap sekeliling sebelum mendarat tepat di mata Hermione yang berwajah netral. "Jadi... Hermione, bisa kau jelaskan kenapa kau mengawasi aku dan kelima temanku yang lain?"
"Kenapa kau berasumsi itu aku? Bisa saja kan itu memang kemauan orang yang mengawasimu?" balas Hermione, hati-hati dalam merangkai setiap katanya.
"Karena... Aidos Nott lah yang mengawasiku dengan caranya yang halus. Padahal aku tahu dia bukan tipe yang mempedulikan apalagi sampai mengawasi. Jadi aku punya dugaan lain. Seorang kakak akan melakukan apapun untuk adik yang dia sayangi," ungkap Derrius. Dia menghela napas dan melanjutkan, "Sama seperti aku yang akan melakukan apapun untuk orang yang aku sayangi. Apa yang kau inginkan dari Pandora?"
"Pandora?" Hermione menaikkan alis. Menutupi kekaguman karena Derrius mampu menghubungkan dengan sumber keingintahuan Hermione yang sebenarnya, padahal itu cukup jauh. Apalagi jika memang status Pandora sebagai tunangan Derrius di rahasiakan, maka semakin sulit bagi orang lain untuk menghubungkan Derrius dengan Pandora.
"Kurasa kita tidak pernah punya urusan. Dan aku pikir kau sudah mengetahui status Pandora dari Evan, yang akhir-akhir ini memang terlihat bersamamu dan Aidos, sehingga aku berasumsi itu Pandora," Derrius menopang dagu. "Walaupun kubilang status Pandora rahasia, aku tidak keberatan jika kau dan Aidos mengetahuinya. Aku tahu kalian bukanlah tipe orang yang suka membicarakan rahasia orang lain."
Hermione sebenarnya agak lega karena itu berarti Derrius tidak berniat dengan keras mengkonfrontasinya.
"Tapi apa tujuanmu?" Mata Derrius menyipit.
"Sejujurnya aku juga masih bingung," Hermione memilih jawaban aman. "Tapi tunanganmu itu mendadak bicara hal aneh padaku, yang ku sadari adalah sebuah visi. Jadi sebenarnya aku hanya ingin bertanya apa yang terjadi sekaligus ingin tahu visi yang dia lihat menyangkut diriku."
Melihat Derrius yang masih terdiam dengan wajah menimbang, Hermione menambahkan, "Kau tahu, Der. Notts tidak pernah suka mencampuri urusan orang lain bila tidak ada kaitannya dengan diri mereka sendiri. Jadi apapun motif yang kau pikir, itu mengenai diriku dan aku berhak tahu dari Pandora secara langsung. Tentu saja aku harap kau juga membantu."
"Pandora..." Derrius kelihatan ragu ingin bicara. "...tidak suka bicara soal visi-nya. Dia sering melihat hal-hal yang tidak ingin dia lihat dan frustasi karenanya. Bahkan dia yang paling sedih saat melihat visi tidak jelas bagaimana ibuku meninggal, dan tidak bisa melakukan apa-apa sampai hari kematiannya."
Bahu Hermione seketika turun. Ingin sekali dia mendebat dan bertindak egois memaksa Derrius untuk segera mempertemukannya dengan Pandora. Tapi sayangnya, di kehidupan kedua ini, walaupun terlahir sebagai Nott, dia belum sepicik itu.
Derrius menghela napas panjang. "Tapi kurasa ini hakmu. Pandora bukanlah tipe yang menyuarakan visi-nya. Itu berarti kemampuannya meluap di sekitarmu tanpa dirinya sadari. Aku juga sangat mempedulikan dia dan tak bisa mengabaikan kondisi 'tak biasa' ini. Aku janji, akan mencoba bicara dengannya. Tapi sampai saat itu, tolong hormati aku untuk tidak mendekati Pandora lebih dulu. Dia... rapuh."
Tak dapat dikatakan lagi, Hermione mengangguk dengan binaran di mata coklatnya. "Terima kasih! Itu benar-benar berarti bagiku!"
Dan juga masa depan tentunya, tambah Hermione dalam hati.
Derrius memang mengatakan akan mencoba.
Tapi nyatanya sudah lewat seminggu sejak itu dan Derrius masih belum mempertemukannya dengan Pandora.
Jangankan bertemu. Melihat batang hidungnya saja Hermione tidak pernah! Padahal belum beda dunia, tapi ketemu aja susah banget!
Jadi bisa dibilang ini cukup mempengaruhi mood-nya, membuat yang lain mengernyit atau malah sawan sendiri.
Gimana gak sawan kalau mereka ngomong kelibet dikit aja, Hermione langsung meledak? Bahkan Lily yang biasanya tidak sabaran saja terlihat sangaaaat sabar bila dibandingkan Hermione saat ini.
Aidos sudah bertanya, tapi Hermione hanya menggeleng karena berpikir belum waktunya menceritakan rencana ini pada kembarannya. Dengan occlumency dan pengalamannya di kehidupan pertama, dia dengan mudah merekayasa kontak batin antar kembar. Sehingga Aidos tidak punya pilihan lain selain menyerah atau menyindir julid.
Untungnya kebanyakan dari teman-temannya mengerti dan mencoba tidak bertanya lagi.
Tapi sayangnya Hermione lupa kalau tidak semua temannya se-santun itu.
Buktinya James dan Sirius sudah memojokkannya dengan kurang ajar di kelas kosong, karena ingin menginterogasi gadis itu.
Sisi Darah Murni Hermione jantungan dengan perilaku sinting mereka. Kalau Aidos tahu, bisa-bisa mereka berdua sudah jadi kodok!
Tapi sisi Hermione dalam dirinya menganggap kelakuan mereka berdua sangat manis.
Siapa yang bisa marah kalau begini?
"Jadi ada apa, Hermione?" James bertanya khawatir setelah menyeretnya.
"Sudah kubilang—"
Sirius yang sudah menutup pintu menatap tajam Hermione. "Jangan bilang 'tidak apa-apa', Hermione. Kami lebih pintar daripada yang kau tahu."
Sebenarnya selain peduli, faktor terbesar James dan Sirius melakukan ini karena mereka sudah capek dengan kelakuan Hermione. Bukan apa-apa, tapi karena sering berinteraksi, James dan Sirius-lah yang selalu menjadi korban amukan Hermione.
Sirius sih tahan banting (udah biasa dibentak lebih parah sama emaknya). Tapi James yang jiwa sosialnya tinggi malah jadi kepikiran.
Intinya mereka melakukan ini untuk diri mereka juga, kok. Sirius sih karena capek denger ratapan James. Sementara James justru kepo dengan permasalahan Hermione.
Menghela napas, akhirnya Hermione memilih menceritakan kegelisahannya soal Pandora pada James dan Sirius.
Toh mereka berdua agak-agak bego. Jadi gak mungkin bisa menghubungkan ini dengan rencana utamanya.
"Pandora yaa," Sirius keliatan berpikir. "Aku tau orangnya, kelihatannya dia memang aneh. Tapi aku tidak menyangka dia akan mengoceh di depanmu. Apakah dia mengenalimu sebagai sesama orang aneh?"
"Aku memang Putri Darah Murni, tapi aku masih bisa membuatmu bonyok, Sirius," tutur Hermione manis.
Melihat Sirius yang ngumpet di belakangnya, James berseru, "Kita akan membantumu, Hermione! Tenang saja!"
"Kau tau yang mana Pandora, James?" tanya Hermione, karena sejak tadi hanya Sirius mengoceh sok tau.
"Jika yang kau maksud adalah cewek berambut putih yang sering dijahili Xenophillius, maka aku tau."
"Dia sudah aneh. Untuk apa Lovegood mengganggunya lagi? Kasihan!" Sirius berdecak tak habis pikir. "Omong-omong, bagaimana kau tau itu, 'mate?"
James meringis. "Aku pernah membantunya mengambil sepatu yang diletakkan di ranting yang sangat tinggi. Lagipula sebenarnya nenek Xeno adalah semacam 'mak comblang' antara nenek dan kakekku, jadi aku dan Xeno memang sudah saling kenal walau tidak akrab. Jelas aku tau sikapnya yang berbeda pada gadis tanpa marga itu."
Hermione mencatat perilaku aneh ayah Luna pada Pandora. Karena di kehidupan lama-nya, dua orang itu adalah orangtua Luna (Hermione seratus persen yakin karena Pandora sangat mirip Luna). Tapi jika Pandora memang sudah ditunangkan dan hubungannya dengan Xenophillius Lovegood tidak akur, lantas kenapa mereka menikah?
Tapi Sirius berjengit mendengar kalimat terakhir James. "Gadis berambut putih—maksudku, Pandora tidak punya marga?"
Melihat Sirius yang mengernyit, James dan Hermione berpandangan. Keduanya mengangguk atas pertanyaan Sirius.
Sebenarnya hampir saja Hermione keceplosan berbagi berita kalau Pandora adalah tunangan Derrius. Tapi untungnya dia mendadak teringat kalau itu rahasia.
"Ah, tidak apa-apa," Sirius masih mengernyit, tapi menggeleng pelan. "Tidak mungkin."
Hermione menyipit. "Sekarang kau yang bertingkah aneh."
"Katakan saja, Sirius," dorong James.
"Tidak, aku pasti salah," Sirius menggeleng lagi, tapi lebih tegas kali ini.
James dan Hermione memilih membiarkan saja. Jika memang penting, pasti Sirius akan memberitahu pada mereka.
"Jadi bagaimana cara kita menangkap Pandora tanpa-nama-belakang?"
Pertanyaan Sirius ditanggapi dengan geplakan dari Hermione dan James.
Siapa sangka kesempatan itu datang tiga hari setelah deep talk bersama Sirius dan James.
Malah kali ini, Pandora yang menghampirinya langsung!!!
Hermione menahan diri untuk tidak melonjak girang di tempat duduknya. Sebagai gantinya, dia menatap Pandora dengan penasaran.
"Aku sudah bicara dengan Derrius," Hermione memulai hati-hati. "Kupikir kau tidak ingin bicara denganku."
Pandora masih menatapnya bosan. "Memang tidak. Tapi James yang memintaku. Dia sering membantuku, jadi kupikir menuruti permintaannya sekali saja tidak masalah."
Hermione menaikkan alis. Dalam hati tidak menyangka bahwa James bisa se-berguna ini. "Yah walau begitu, terima kasih karena tetap mau bicara denganku."
"Katakan saja yang ingin kau tahu Hermione Nott."
Disindir begitu bikin Hermione mendadak sadar kalau hidupnya sebagai Darah Murni membuatnya sering melakukan berbagai hal dengan protokol yang tidak perlu, seperti saat ini. Padahal di kehidupannya sebagai Granger, dia selalu bicara to the point sampai disangka ngajak ribut.
"Apa maksud perkataanmu di koridor waktu itu?" Hermione bertanya dengan nada tenang. Dia tidak ingin Derrius mendadak demo jika setelah bicara dengannya, Pandora menjadi semakin aneh.
"Tentu saja itu visi."
"Bisa kau jelaskan lebih rinci soal visi itu?" tembak Hermione.
Pandora menatapnya penuh penilaian, walau raut wajahnya masih terlihat bosan. "Kau kelihatan tidak kaget saat tahu aku mengalami visi."
"Tentu saja," sahut Hermione tidak sabar. Menolak mengoceh soal kesimpulan panjang tentang Pandora sebelumnya. "Jadi?"
Setelah menatapnya, Pandora malah terlihat menerawang. "Aku melihat darah dimana-mana. Dan kata-kata itu keluar sendirinya dari mulutku. Sejujurnya aku juga tidak tahu."
Mendengar pernyataan Pandora, Hermione berpikir keras untuk mengetahui bagaimana cara kerja visi Pandora. Dia yakin gadis didepannya itu memang Pelihat, tetapi clue yang diberikan sangat samar alias tidak berguna.
"Satu lagi yang perlu aku sampaikan."
Hermione menoleh cepat pada Pandora.
"Aku mampu membaca aura seseorang. Entah kenapa aku merasa bahwa kau adalah anomali. Hal yang memang ada namun terasa salah disaat bersamaan."
Mata Hermione mengerjap karena tidak sepenuhnya mengerti perkataan Pandora.
Apa mungkin seperti dugaannya, Hermione Nott sebenarnya memang ada?
Sayangnya tunangan Derrius itu menggeleng lemah, wajahnya mendadak sendu. "Alasan lain aku menolak bertemu denganmu adalah karena berada disekitarmu membuatku mendadak sedih."
"Auraku membuatmu sedih?" tanya Hermione pelan. Ini berita baru untuknya, karena setiap orang kelihatan biasa saja bersamanya.
Apa mungkin entah bagaimana Pandora tahu bahwa dia bukanlah Hermione Nott yang asli? Atau...
...Pandora justru berhubungan dengan Hermione Nott sebelumnya?
Tak salah jika gadis Ravenclaw songong itu menyebut salinan Sihir Paling Gelap ini sebagai Buku Iblis.
Hermione sendiri merasa isinya memang benar-benar tak manusiawi.
Cara membuat horcrux hanyalah salah satunya. Buku ini menuliskan lebih banyak ritual sihir gelap menjijikan yang membuat Hermione agak menyesal membacanya.
Tidak tahu kenapa, tapi dia merasa semakin tidak polos.
Namun, Hermione harus membacanya. Bagaimana bisa melawan sesuatu yang kau tidak tahu?
Alasan lain Hermione membaca ini adalah menghindari soal pemikiran aura sihirnya. Hal yang dikatakan Pandora benar-benar janggal, tapi entah kenapa Hermione merasa bisa memercayainya.
Saat ini Hermione berada di sisi perpustakaan 'khusus' yang menghalangi siapapun untuk melihatnya.
Hermione menemukannya saat tahun kedua sebagai Hermione Granger. Dia perlu tempat yang bisa memastikan siapapun tidak menganggu research basilik-nya saat itu dan menemukan saat Harry juga Ron melewatinya begitu saja, padahal mereka mengakui sedang mencarinya.
Satu kesimpulan, spot perpustakaan ini mempunyai semacam mantra notice-me-not alami.
Gadis itu sempat menyelidiki dan berpikir bahwa spot ini dirancang khusus oleh Rowena Ravenclaw, sang pendiri itu sendiri. Karena kebanyakan buku yang berada di sekitar sana adalah buku tua yang lapuk sampai-sampai Hermione takut ketika menyentuhnya, buku itu akan menjadi abu.
Hermione baru sempat mencoba kembali spot ini sekarang.
Dan melihat beberapa orang yang melewatinya tanpa menoleh, membuat Hermione merasa seperti di rumah.
"Aku selalu memergokimu membaca itu. Apa kau sesuka itu dengan Sihir Gelap?"
Bayangkan betapa kagetnya Hermione saat melihat ada orang yang bisa melihat menembus spot khusus-nya.
Dan makin kaget saat tahu itu adalah si gadis Ravenclaw songong.
Cewek yang beberapa bulan ini dicari Hermione tapi seolah menghilang tanpa jejak.
"Kau Si Ravenclaw!" Hermione menahan pekikan. Wajahnya saat ini terlihat seperti habis melihat hantu.
Gadis itu hanya menaikkan alis sedikit dengan respons berlebihan Hermione, lalu mengambil tempat di depannya.
"Bagaimana kau bisa tau tempat ini?" Hermione bertanya penasaran, setelah kekagetannya mereda.
"Tempat ini?"
"Maksudku, bagaimana bisa kau menemukan spot dengan mantra notice-me-not alami. Kau tau, kurasa mantra ini ada sejak zaman pendiri—"
"Alami apanya," Gadis itu mendengus. "Aku yang merapalkan mantra itu disini sejak awal tahun ajaran karena menolak diganggu siapapun."
Hermione menganga dengan perkataan gadis di hadapannya. Pantas saja dia terlihat songong, karena ternyata dia mempunyai kemampuan lebih daripada anak tahun keempat sekalipun!
Maksudnya, ini Hogwarts yang setiap dindingnya mengandung sihir! Bisa-bisanya gadis itu merapalkan sihir permanen yang masih terasa sampai 20 tahun yang akan datang alias di masa Hermione?!
Hermione rasanya ingin sekali memeluk gadis itu karena spot ini sangat berguna baginya di masa depan. Pelariannya kala sedang musuhan dengan Harry dan Ron.
Dia jadi makin penasaran siapa gadis itu sebenarnya.
"Apa maksudmu dengan 'zaman pendiri'?" Gadis itu menyipitkan mata.
Hermione jadi bingung mau menjawab apa. Dia merutuki dirinya yang sifat sok-tau-segalanya masih sedikit terbawa ke dunia ini.
Tidak mungkin kan, dia membeberkan bahwa menduga begitu karena mantra ini masih ada di tahun 1991?!
Bisa aja sih.
Bisa dianggap gila.
Jadi Hermione berdeham dan menjawab, "Aku hanya berasumsi dari banyaknya buku lapuk nan tua disini. Kupikir buku-buku itu setidaknya sudah berusia 300 tahun."
Gadis itu terdiam sesaat, wajahnya yang datar menunjukkan bahwa dia tidak berkenan dengan jawaban Hermione, tapi gadis itu mengangguk, "Memang."
Jawaban singkat gadis di depannya membuat Hermione mengernyit.
"Sebenarnya beberapa malah lebih dari 300 tahun."
Hermione melongo, lalu dia mengirim tatapan curiga pada gadis di depannya yang masih datar, tidak mengalami perubahan ekspresi berarti. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Ravenclaw itu mendengus. "Buku di sekitar sini adalah milikku, milik keluargaku sebenarnya. Keadaan memaksaku mengamankan mereka di Hogwarts sementara."
Dengan penasaran, Hermione menarik satu buku lumayan tebal dan takjub saat menyadari buku itu tidak menjadi abu. Tapi kemudian dia mengernyit saat membaca bahasa yang tidak dia mengerti kecuali satu baris dengan huruf bold dan tulisan latin yang akrab.
"Mahoutokoro...?" Hermione membaca dengan bingung, namun tidak mengerti bahasa Jepang yang tertera disana maupun isi buku. Jadi dia menoleh pada si pemilik buku yang justru sedang mengerjakan esai transfigurasi dengan anteng. "Mahoutokoro adalah Sekolah Sihir Jepang. Kenapa bukunya bisa ada disini?"
Gadis itu menoleh sedikit. "Oh. Itu Rekishi Mahoutokoro, semacam Hogwarts: A History. Edisi lampau-nya. Aku mengamankan itu karena masih banyak informasi soal Mahoutokoro yang tidak ter-filter disana."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku kenapa buku itu bisa ada disini," ucap Hermione tajam.
"Itu sekolah lamaku."
Hermione menghela napas, mencoba menghitung usia gadis didepannya secara mental. "Namaku Hermione Nott."
"Hm? Aku sudah tahu."
"Maksudku, siapa dirimu?" tanya Hermione dengan nada rendah namun mengintimidasi.
Salah satu etiket Darah Murni: Tidak sopan jika seseorang sudah memperkenalkan nama, namun lawan bicara tidak membalas dengan hal yang sama.
Gadis itu menyeringai. Satu-satunya ekspresi yang dia tampilkan selain wajah datar sejak tadi.
"Namaku Mia Carlisle. Murid transfer dari Mahoutokoro. Salam kenal, Hermione Nott."
- to be continue -
~Session Talkshow~
Mia: TARAAAAH! Jadi murid Ravenclaw itu tak lain dan tak bukan adalah AKU! Hehehe! (ditimpuk readers)
Aidos: Bagus! Udah lama gak up, sekalinya up malah ternyata narsis. (sinis)
Hermione: (nyinyir) Udah deh, Mi! Cukup Evan aja yang narsis, kamu gausah ikut-ikutan. Lagian kayak gak ada nama lain aja sih?
Mia: Wkwkwk, yaa sayang dong kalo nama pena aku gak kepake. Jadi sekalian aja masukkin buat karakter. Lagian kalo kalian teliti, namaku muncul kok pas sortir, sebelum nama Lily!
Aidos: (menunjuk gulungan perkamen) Bales review dulu gih, sana.
Mia: HIH, nyuruh! Kamu lah! Aku kan author disini. Kamu mau chapter depan aku buat pacaran sama Violina?!
Aidos: (bergidik dan menggeleng)
Hermione: Mana ada sih author yang ikut masuk cerita bikinannya? (masih sebel)
Mia: Banyak tuh sutradara yang ikut main di film bikinannya, jadi kenapa author gak bol—
Aidos: Jadi balasan review pertama untuk MysteriouSweet, yes i love me too. (digeplak Hermione)
Mia: (memelototi Aidos karena menyela) Oke, teruntuk sunshineu, terima kasih atas review-nya! Aku tetap semangat kok!
Hermione: Halo Kugou, sayang sekali di chapter ini terlanjur Evan Corner, mungkin request-mu di chapter depan yaa! Jangan kapok untuk request!
Aidos: Sepertinya fans-ku cukup banyak. (bergumam narsis)
Hermione: (roll-eyes) Akibat bergaul dengan Evan.
Mia: Yang lainnya juga jangan ragu untuk request corner, saran, atau sekedar tanya yaa!
Aidos: Penjelasan soal corner ada di chapter sebelumnya. (males jelasin)
Hermione: Untuk Jasmine Flo dan MagicStory, terima kasih review-nya! Mia itu orangnya moody, jadi dia kalo dapet semangat gini cepet dapet inspirasi-nya.
Mia: (malu)
Aidos: Kepada Comeback, cahyuu, dan Reminaisce terima kasih review-nya! Kasihan sekali author kacangan kita jadi nge-fly karena review kalian, hiks.
Mia: Aidos... (siap menulis skenario Aidos dan Violina)
Aidos: Cuma bercanda kok, Mia. Jangan baper gitu XD
Mia: (menatap tajam)
Aidos: (mundur ke backstage)
Mia: (tersenyum manis menghampiri Aidos)
Hermione: (menghela napas) Daripada denger mereka yang berantem, jadi sampai disini dulu! Be safe ya semuaa! Sampai jumpa di chapter depan!
